Disclaimer: NARUTO © Masashi Kishimoto

Plot is my own. Terinspirasi dariOST Fureba (Memory For You). Author tidak mengambil keuntungan materil apapun dalam pembuatan ff ini.

.

Tittle : Precious Memories

Genre : Romance, Angst

Rating : M

Pairing: NaruSaku, slight! GaaSaku.

Summary : Sakura tak pernah menyangka bahwa cinta pertamanya akan semenyakitkan ini. Baginya Naruto seperti seekor kupu-kupu yang selalu terbang menjauh darinya. Ia tak ingin terlalu banyak berharap, cukup dengan membuat kenangan berharga bersama Naruto. Sesederhana itu.

Warning! : AU, OOC, typo(s), dan kekurangan lainnya. Don't Like? Don't Read. Please Leave This Page!

Enjoy and Hope You Like It!

.

Chapter : 1

.

Cambridge,United Kingdom.

.

Naruto Allen Namikaze, putera tunggal keluarga Namikaze—keluarga terkaya di Cambridge— sedang menyantap makanannya dengan lesu dan tidak bersemangat. Hari ini—seperti biasanya, rumahnya sangat sepi dan hanya ada beberapa pelayan yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Naruto menghela nafas dan berhenti makan. Ia sangat bosan berada di rumah yang sepi seperti ini. Ia ingin sekali pergi ke luar rumah kalau memang diizinkan. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah mengizinkan puteranya itu untuk menginjakkan kaki ke dunia luar.

Naruto menghampiri Nyonya Mary, Kepala pelayan di rumahnya dan menarik-narik ujung seragam wanita setengah baya itu.

"Ada apa, Tuan Muda?" tanya Nyonya Mary sambil menunduk agar dapat melihat wajah Tuan Muda-nya dengan jelas.

"Bolehkah aku keluar rumah, Bibi Mary?" tanya Naruto dengan wajah polos dan pipinya yang merah.

"Aku sangat ingin mengizinkanmu untuk keluar, Tuan Muda, tapi bibi tidak bisa. Orangtua mu pasti akan sangat marah kalau mereka sampai tahu," Nyonya Mary mengelus-elus kepala Naruto dengan lembut dan mencubit pipinya sekilas. Lalu, ia tersenyum hangat.

"Maafkan Bibi, Tuan Muda," ujarnya lembut dengan tatapan sedih. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa kedua orang tuanya tidak pernah mengizinkan anak ini untuk keluar dari rumah. Tidak ada yang berbahaya di luar sana melainkan banyak sekali hal menyenangkan. Seandainya, anak kecil yang berada di hadapannya ini adalah anaknya, dengan senang hati dia akan mengizinkan anak ini untuk menikmati dunia luar. Betapa kasihannya dia melihat nasib Tuan Muda-nya ini.

Nyonya Mary menghela nafas panjang dan menggandeng tangan Naruto. "Ayo, lebih baik Tuan Muda istirahat saja di kamar! Biar Bibi antarkan ke kamar."

Naruto hanya diam dan mengangguk menurut. Ia tahu persis, ia tak akan mungkin pernah diizinkan untuk pergi keluar dari rumah sepi ini. Yang dapat ia lakukan hanyalah pasrah dan menjalani hidupnya yang membosankan di rumah sepi ini tanpa kedua orang tuanya. Hanyalah dia dan pelayan-pelayannya, serta Bibi Mary yang selalu merawatnya yang seharusnya dilakukan oleh kedua orangtua-nya.

.

.

"Okaa-chan, bolehkah aku main ke luar?" Sakura atau yang di Negara ini lebih dikenal dengan nama Cherry menarik-narik ujung pakaian Ibunya dengan wajah digembungkan.

"Tentu saja, tapi jangan sampai terlalu sore ya!" Ibunya mencubit kedua pipi anak perempuan di hadapannya dengan gemas. Anaknya ini memang memiliki banyak cara untuk membuatnya mengikuti keinginannya.

Sakura mengangguk-angguk dan mencium pipi Ibunya, "Kaa-chan tak usah khawatir. Sakura sudah besar!"

"Iya, iya, baiklah. Ya sudah, sana pergi!" ujar Ibunya seraya mengacak-acak rambut gadis kecilnya dan tersenyum lembut.

"Aku pergi dulu ya, Kaa-chan!" Sakura berlari keluar dari rumah dengan langkahnya yang kecil, meninggalkan rumah kecilnya yang penuh kehangatan.

.

.

Sakura berlari dengan tergesa-gesa menuju halaman rumah tetangganya. Rumah itu sangat besar dan memang milik keluarga terkaya di kotanya. Namun yang membuat rumah itu tidak terlihat nyaman adalah karena suasananya yang sangat sepi, seperti tidak berpenghuni. Itulah yang membuat Sakura sering bermain di halaman rumah tetangganya ini.

Halaman rumah ini sangat luas dan dipenuhi rumput-rumput hijau yang segar juga bunga-bunga yang cantik. Pemandangannya sangat indah dan udaranya sejuk.

Sakura melepas sepatu putihnya yang kusam dan merebahkan tubuh mungilnya di rerumputan hijau itu. Menghirup udara segar seraya memejamkan matanya. Kenyamanan ini sangat menyenangkan. Seandainya saja ia punya teman untuk menemaninya menikmati kenyamanan ini. Namun, sayangnya ia tak punya teman karena letak rumah satu dengan yang lainnya sangat berjauhan. Hanya rumah tetangganya inilah—satu-satunya—rumah yang letaknya terdekat dengan rumahnya. Namun sayang, rumah ini tak ada penghuninya. Sangat sepi.

Tiba-tiba Sakura mendengar suara anjing menggonggong. Ia spontan berdiri dan mendengarkan dari mana asal suara anjing tersebut. Ia mengikuti suara gonggongan anjing itu dan mendapati sebuah jendela di sudut rumah itu. Jendelanya terbuka dan dilihatnya seorang anak laki-laki berambut pirang keemasan dengan mata berwarna sapphire blue sedang mengelus-elus kepala seekor anjing di hadapannya dengan lembut.

'Ternyata rumah ini ada penghuninya juga,' pikir Sakura.

Sakura menghampiri tempat di mana anak laki-laki itu dan kemudian tersenyum manis di hadapannya. Anak laki-laki di depannya hanya mengangkat alis dan menatapnya bingung, lalu dia tersenyum tipis.

"Halo!" sapa Sakura.

.

Naruto mengelus-elus kepala Kyubi—anjing shiberian husky miliknya—dengan lembut. Dia melihat ke sekelilingnya dan menghela nafas berat. Seandainya ia diizinkan keluar, betapa bahagia dirinya. Menghirup udara segar dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

'Ah, seandainya…' batin Naruto.

Saat memperhatikan sekelilingnya, tiba-tiba matanya bertemu dengan mata seorang gadis kecil. Rambutnya berwarna soft pink—entah itu warna rambut aslinya atau sengaja diwarnai—, kulitnya putih, dan matanya berwarna hijau zamrud.

Gadis itu tersenyum manis ke arahnya dan Naruto menelan ludah karena gugup apa yang harus dilakukannya pada gadis aneh yang tiba-tiba muncul di halaman rumahnya itu.

"Halo!" sapa gadis itu dengan suara lembut. Gadis itu kembali tersenyum manis dan menatap Naruto ramah.

Naruto pun—entah mengapa—membalas senyuman gadis itu. "Hai!"

"Aku baru pertama kali melihatmu. Ternyata kau tinggal di sini, ya? Aku kira rumah ini tidak ada penghuninya," kata gadis di hadapannya itu dengan tatapan polos seraya tak lupa untuk tersenyum.

"Ya, aku memang tinggal di sini dan aku juga baru pertama kali melihatmu," Naruto mengangguk sekilas dan tersenyum tipis.

"Oh, begitukah?"

"Ya."

"Kalau begitu, salam kenal. Aku Sakura Haruno. Panggil saja aku Cherry. Rumahku tepat di sebelahmu. Itu yang berwarna cokelat dan kecil," ujar gadis kecil di hadapannya itu seraya menunjuk-nunjuk rumah kecil di samping rumahnya yang luar biasa besar ini.

"Apa kau orang Jepang?" Naruto bertanya dan kemudian tersenyum. "Aku Allen, rumahku tepat di sebelah rumahmu. Aku laki-laki dan berumur 8 tahun. Oh ya, berapa umurmu?"

"8 tahun."

"Sungguh?"

"Ya."

"Kapan ulang tahunmu?" Naruto bertanya dengan tatapan heran karena gadis di hadapannya ini juga memiliki umur yang sama dengannya.

"Aku? 28 Maret. Kalau kau?"

"Aku 10 Oktober."

"Oh…" jawab Sakura dengan santai.

Naruto mengangkat alis dan memerhatikan penampilan gadis di hadapannya yang bernama Sakura itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis itu terlihat kumal dan berantakkan. Tapi, senyuman gadis itu membuatnya terlihat sangat manis.

"Kau orang yang sangat ramah dan manis," ujar Naruto seraya tersenyum ramah. Sontak mata bulat berwarna hijau milik gadis itu menatapnya kaget dan bingung.

"Manis?"

"Ya, aku tidak bercanda. Kau memang terlihat sangat manis," kata Naruto lagi untuk memperjelas karena sepertinya Sakura tidak percaya dengan ucapannya.

"Oh? Terima kasih."

"Sama-sama."

"Uhm, Allen…"

"Ya?"

"Bagaimana kalau kita berteman? Aku tidak punya teman di kota ini. Aku sangat bosan bermain sendirian. Lagipula, kita sudah saling kenal. Apa salahnya kita berteman, iya kan? Kau bisa main ke rumahku. Ibuku dengan senang hati menyambutmu, yah walaupun rumah kami kecil tapi suasanya sangat nyaman. Aku yakin kau tidak akan menyesal. Ayolah, mau kan?" celoteh Sakura panjang lebar.

Naruto hanya tersenyum kecil dan mengangguk-angguk mengerti. Gadis itu hanya tersenyum canggung karena ia tahu, ia terlalu banyak bicara tadi.

"Astaga, kau lucu sekali!" Naruto tertawa kecil dan membuat wajah gadis kecil di hadapannya merona merah.

"Dengan senang hati," Naruto tersenyum ramah dan mengelus kepala Sakura lembut.

Senyum gadis itu merekah dan dia tersenyum hangat.

oOOo

.

.

"Mengapa kau tidak pernah ke luar rumah?"

"Apa?" Naruto tidak mendengar perkataan Sakura dengan jelas karena dia sedang sibuk dengan buku ceritanya.

"Mengapa kau tidak pernah ke luar rumah? Aku selalu datang ke rumahmu setiap hari tapi kau tak pernah ke luar rumah dan bermain denganku," Sakura menatap Naruto bingung dengan wajah cemberut.

"Bukankah kita sedang bermain, sekarang?" Naruto menutup bukunya dan menatap kedua mata bulat Sakura.

"Maksudku bermain di halaman rumah. Yah, semacam itu. Makan bersama dan—oh ya, kau belum ke rumahku kan? Ibuku ingin sekali bertemu denganmu. Kita sudah berteman lebih dari sebulan dan yang kita lakukan hanyalah mengobrol di sini. Kau di dalam rumah dan aku di luar. Kita dibatasai sebuah jendela, itu tidak terlihat seperti bermain layaknya teman, kan?" ujar Sakura panjang lebar.

Naruto hanya menghela nafas dan meletakkan bukunya di sembarang tempat. "Aku tidak diizinkan ke luar rumah."

"Hah?"

"Ya, aku tidak diizinkan keluar dari rumah," ujar Naruto lesu seraya menghela nafas. "Entah mengapa, mereka tidak pernah mengizinkanku?!"

"Oh, begitu ya. Mungkin mereka tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Yah, mungkin mereka sangat khawatir padamu. Mm… atau mungkin kau sakit, makanya mereka tidak ingin kalau kau sampai kelelahan," kata Sakura lembut seraya menepuk bahu Naruto pelan.

Naruto menghela nafas dan tersenyum tipis, "Sakit? Aku tidak sakit! Mereka juga tak pernah ada di rumah. Entahlah kapan mereka akan pulang."

"Oh? Maaf. Mungkin mereka sangat sibuk dengan perkerjaan mereka. Lagipula itu semua juga untukmu, iya kan?" Sakura tersenyum ramah dan menatap Naruto lembut.

"Yah, mungkin."

Sesaat keheningan tercipta diantara mereka berdua. Sakura tidak berbicara satu kata pun begitu juga dengan Naruto. Naruto kembali membaca bukunya dengan hening.

"Ah!" Tiba-tiba Sakura memecah keheningan dan menatap Naruto dengan wajah berseri. Dia menatap Naruto dengan tatapan penuh minat dan Naruto hanya mengerutkan kening dan menatap gadis di hadapannya dengan bingung karena ia sama sekali tidak mengerti apa maksud gadis itu.

"Ada apa sih?" tanya Naruto bingung.

"Kau bilang orangtua mu tidak ada di rumah, kan?"

"Hem, ya."

"Yah, kau keluar saja dari rumah diam-diam."

"Apa?!"

'Gadis ini pasti sudah gila,' pikir Naruto. Mana mungkin ia berani melanggar peraturan kedua orangtuanya. Apalagi pelayan-pelayan rumahnya selalu menjaga pintu rumah dan ia tak akan mungkin bisa menembus penjagaan itu. Sakura pasti sudah gila.

"Itu tidak mungkin! Ada penjaga di pintu rumahku dan aku tak akan mungkin bisa keluar. Percayalah padaku, aku sudah beberapa kali mencoba tapi tidak bisa," kata Naruto. Ia yakin gadis kecil ini tidak akan bisa bicara lagi.

.

"Aku tidak pernah berpikir untuk keluar melalui jendela."

"Kau memang sangat bodoh," Sakura tersenyum mengejek dan menatap Naruto dengan tatapan yang menyebalkan. 'Astaga, anak ini benar-benar bodoh~' batinnya.

"Yah, aku memang sangat bodoh. Baru menyadari bahwa aku bisa keluar lewat jendela. Tapi, nona, kau sangat gila. Kau tahu itu?" ujar Naruto seraya memutar kedua bola matanya dan tersenyum mengejek.

"Hanya orang yang lebih gila yang mau mengikuti ideku."

"Baiklah, aku menyerah."

"Bagus."

"Wah, aku tak pernah menyangka bahwa udara di luar sangat menyegarkan dan—ah! Kau lihat itu? Bagus sekali bunganya. Dunia luar memang benar-benar indah," celoteh Naruto riang dengan wajah berseri.

Sakura dapat melihat dengan jelas betapa bahagia sahabatnya ini. Melihat sahabatnya yang begitu senang, dia pun tersenyum lembut dan menghela nafas. Membuat sahabatnya bahagia terasa begitu damai.

"Terima kasih banyak, Cherry!" Naruto memeluk Sakura dengan lembut. Sontak Sakura kaget. Namun, kemudian dia menghela nafas lega dan membalas pelukan sahabatnya dan tersenyum bahagia.

.

.

"Kamu yang bernama Allen? Astaga, lucunya!" ujar Ibu Sakura seraya mencubit kedua pipi sahabat puterinya itu.

Sakura memandang mereka berdua dengan senyuman di wajah. Sahabatnya itu pasti sangat senang.

"Oh ya, ini Tante buatkan kue kering. Kamu mau coba? Saku-chan, tolong ambilkan di dapur ya!" ujar Ibunya seraya tersenyum. Sakura segera mengambil kue itu dan ditaruhnya di piring kecil lalu membawanya ke ruang tamu.

"Ini."

"Terima kasih banyak," Naruto tersenyum ke arah Sakura dan gadis itu pun membalas senyumannya dengan singkat.

"Oh ya, siapa nama lengkapmu? Kamu blasteran Inggris-Jepang juga kan, sama seperti puteriku? Ya ampun, Tante kira di tempat seperti ini tidak ada orang Jepang selain kami berdua. Iya, kan, Saku-chan?" tanya Ibu Sakura ramah seraya tersenyum lembut. Sakura menatap Ibunya dan tersenyum singkat.

"Yah, kurasa begitu…" jawab Sakura singkat.

"Hem, jadi siapa nama lengkapmu? Mungkin saja ternyata kita memiliki marga yang sama," kata Ibu Sakura lembut dan menatap kedua mata Naruto dengan ramah.

Naruto membalas tatapan itu dengan hangat lalu tersenyum. "Naruto Allen Namikaze."

"Apa?!"

Sakura menoleh saat mendengar nada bicara Ibunya yang sedikit meninggi. Sakura mengerutkan keningnya dan menatapnya Ibunya bingung.

"Kenapa? Ada yang—" perkataan Sakura terpotong.

"Pulanglah, nak! Sudah mulai larut. Nanti kedua orang tuamu khawatir. Ayo, cepatlah pulang biar Sakura yang mengantarmu. Ayo, Sakura," Ibunya menatap anak gadisnya dengan lesu. Terlihat seperti habis berpikir keras dan sangat lelah.

"Tapi Okaa—"

"Ayo, cepat!" suruh Ibunya dengan nada yang meninggi. Sontak Sakura kaget dan mengangguk menurut. Ia menarik lengan Naruto yang terlihat kebingungan dan membawanya pergi dari rumah. Sakura memakai sepatunya, demikian pula Naruto.

"Sebenarnya apa sih yang ter—"

"Sudahlah. tak usah dipikirkan," potong Sakura dingin.

Naruto menelan ludah dan menghela nafas pelan.

Sakura kemudian menggandeng lengan sahabatnya itu dan pergi menuju rumah Naruto melewati halaman belakang. Mereka berdua berjalan dalam keheningan karena tidak ada satu pun yang berani membuka pembicaraan.

Akhirnya, sampailah mereka di depan kamar Naruto yang jendelanya masih terbuka. Lalu, Sakura melepaskan tangannya, tersenyum singkat dan kemudian berbalik badan hendak pulang ke rumahnya.

"Tunggu!"

Sakura berbalik badan dan memandang wajah sahabatnya yang terlihat sangat kebingungan.

"Sungguh aku tak mengerti apa yang terjadi. Maaf karena membuatmu marah dan—"

Sakura menyunggingkan senyuman dengan berat hati, "Maaf."

"Mengapa minta maaf?" tanya Naruto dengan wajah frustasi. Ditatapnya Sakura dengan kerutan kebingungan yang jelas terlihat di wajahnya.

"Maaf atas sikap Ibuku. Aku sungguh-sungguh minta maaf," ujar Sakura dengan susah payah. Dia menatap sahabatnya sedih.

"Entahlah, kita bisa bertemu lagi besok atau tidak. Setelah mendengar nama lengkap mu, Okaa-san terlihat aneh dan aku sangat takut kita tidak bisa bermain bersama lagi," Sakura mengucapkan dengan sesenggukan karena dia sedang menahan air matanya yang mulai tumpah.

"Percayalah padaku, kita pasti bisa bertemu lagi besok."

"Sungguh?"

Naruto mengelus kepala Sakura dan menghapus air mata sahabatnya itu dengan lembut, "Percayalah padaku! Kita pasti bisa bertemu besok. Aku janji. Kamu juga janji, kan?"

Sakura tidak dapat menjawabnya karena ia tidak yakin dapat mewujudkannya. Ia hanya menangis pelan dan mengangguk. Harapannya adalah bertemu dengan sahabatnya itu besok.

.

Naruto masuk ke dalam kamarnya melalui jendela dengan hati-hati agar tidak menciptakan suara. Setelah berhasil masuk ke kamarnya, dia kaget setengah mati dan ingin cepat-cepat pergi dari kamarnya secepat mungkin.

"Dari mana kamu?" tanya Ayahnya dengan suara tinggi dan menatapnya tajam. Naruto hanya dapat menelan ludah dan mengerjapkan mata.

"Dari mana kamu?!" bentak Ayahnya. Sontak Naruto ketakutan melihat tatapan Ayahnya yang menyeramkan.

"Aa… aku… dari… dari luar," Naruto berusaha merangkai kata yang tepat namun apa daya dia sangat ketakutan sekarang dan tidak bisa melakukan apa-apa selain berkata jujur.

"Kamu!" Minato menampar anaknya dan menatapnya tajam. Naruto yang kesakitan dan takut setengah mati hanya dapat memegangi pipinya dan menundukkan wajah.

"Maafkan aku, A—"

"Nyonya Mary!" teriak Minato memanggil Nyonya Mary.

"Ya, Tuan?" Nyonya Mary menunduk sopan dan kemudian tersenyum singkat.

"Kemasi barang-barang! Kita akan pindah ke Jepang," kata Minato tegas dan kemudian meninggalkan kamar anaknya, dimana anak laki-laki itu meringis kesakitan dan ketakutan.

oOOo

.

.

Kagawa - Prefektur Kagawa, Pulau Shikoku - Japan.

"Sakura, sarapan sudah siap!" panggil Mebuki Haruno dari dapur. Sakura segera menghampiri Ibunya dan kemudian mencium pipinya.

"Hari ini sarapan apa, Okaa-san?" tanya Sakura riang.

Ibu Sakura memandang anaknya yang sudah tumbuh dewasa ini dengan haru. Gadis kecilnya sudah berubah menjadi seorang gadis remaja berumur 15 tahun dengan rambut yang kini pendek sebahu, tubuh yang lebih tinggi darinya dan mata hijau yang masih sama seperti dulu. Betapa bahagia dan bangganya dia dapat membesarkan anak ini dengan jerih payahnya sendiri.

"Astaga, anakku sudah sangat besar sekali dan cantik pula," Ibu Sakura mengelus kepala anaknya lembut dan tersenyum hangat.

"Tapi Okaa-san tetap terlihat masih muda ya," ujar Sakura bercanda. Ibunya hanya tertawa kecil.

Sudah 7 tahun lamanya, Sakura tidak pernah bertemu lagi dengan sahabat pertamanya saat mereka masih tinggal di Inggris. Keesokan harinya—setelah janji yang mereka buat—keluarga Naruto pindah rumah entah ke mana dan tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya. Naruto tidak berpamitan dengan Sakura sama sekali. Dia menghilang dengan sekejap tanpa meninggalkan apapun. Hanya sebuah rumah besar yang kosong dan satu janji yang diingkarinya. Ibunya pun juga tidak pernah mengungkit masalah Naruto, entah apa masalah Ibunya tentang nama sahabatnya itu. Namun yang terpenting, ada satu kerinduan yang tak dapat dihindari Sakura bahwa dia—teramat dalam dari hatinya—dia sangat merindukan sosok sahabatnya itu.

"Sakura," panggil Ibunya lagi.

Sakura menoleh dan tersenyum, "Ada apa?"

"Ada kerabat ku yang mau mengajak kita untuk tinggal di rumahnya. Ibu tak bisa menolak, lagipula itu lebih baik, bukan? Itu akan meringankan beban Ibu untuk membiayai hidup kita. Kamu mau, kan? Ibu takut kamu tak mau meninggalkan tempat ini," Ibunya menjelaskan dengan panjang lebar.

Sakura hanya manggut-manggut, mengerti akan keadaan ibunya. Lagipula, itu memang ide yang bagus. Ini juga bukan pertama kalinya mereka pindah rumah. Saat ia berumur 9 tahun pun, Ibunya mengajaknya pindah ke Jepang. Sebenarnya saat itu, Sakura tidak ingin meninggalkan Cambridge karena tempat itu adalah tempat yang paling berharga baginya. Namun, semakin lama tinggal di sana pun akan semakin membuatnya mengingat kenangan saat bersama sahabatnya. Tak ada salahnya menjalani kehidupan baru, jadi saat itu dia setuju dengan keputusan Ibunya. Dan sekarang, untuk kedua kalinya… Ibunya mengajaknya pindah rumah lagi.

"Tentu saja, Okaa-san. Aku sangat setuju. Hem, kali ini kita akan pindah ke mana?"

"Ke Tokyo."

'Tokyo? Setidaknya kali ini kami tidak perlu pindah Benua~'

Kalau dulu mereka harus pindah dari Benua Eropa ke Benua Asia, kini mereka hanya pindah ke daerah timur Jepang saja. Sakura pun tersenyum singkat dan mengangguk. "Baiklah!"

"Maaf ya, kau jadi harus berpisah dengan Gaara-kun, sekarang."

"Ya, memang menyedihkan sih… tapi aku bisa ke sini lagi sesekali!"

"Okaa-san juga sebenarnya suka di sini, tapi yah, mau bagaimana lagi? Kita harus mengucapkan selamat tinggal pada semua orang yang kini kenal di sini."

"Yah, tidak apa-apa. Lagipula, aku sudah bosan tinggal di Kagawa. Yang aku lihat setiap hari hanya laut, dan bau yang sering kucium setiap hari hanya Udon."

Prefektur Kagawa adalah prefektur Jepang yang terletak di Pulau Shikoku. Ibu kota prefektur adalah di Takamatsu. Prefektur Kagawa sebelumnya dikenal sebagai Provinsi Sanuki. Kagawa terletak di sebelah timur laut Pulau Shikoku, berbatasan langsung dengan Prefektur Ehime di sebelah barat dan Prefektur Tokushima di sebelah selatan, serta garis pantai pada Laut Pedalaman Seto yang menjadi batas alam dengan Prefektur Okayama dan Wilayah Kansai.

Kagawa merupakan prefektur dengan luas wilayah tersempit di Jepang. Sebelumnya, Prefektur Osaka adalah yang tersempit sampai Bandar Udara Internasional Kansai di bangun di atas tanah reklamasi pada awal tahun 90-an, yang membuat jumlah luas daratannya sedikit lebih luas dari Prefektur Kagawa. Prefektur Kagawa mempunyai Taman Ritsurin di pinggir kota Takamatsu. Takamatsu sendiri juga dikenal dengan pusat udon di Jepang.

"Kali ini kita akan pindah ke kota besar. Okaa-san harap, di sana kau bisa cepat beradaptasi Sakura!"

"Kota besar, ya? Aku jadi tidak sabar ingin cepat pindah! Kalau begitu Okaa-san, sepulang sekolah nanti… aku mau main sama Gaara-chan dulu, ya? Sekalian berpamitan padanya!"

"Iya. Nah, sekarang habiskan sarapan mu!"

"Ha'i."

.

.

Takamatsu – Prefektur Kagawa, Japan

"Aku tidak menyangka, dia akan mencoba bunuh diri! Kurasa, sebaiknya aku masukan dia ke rumah sakit mental."

Mendengar ucapan suaminya tersebut, sang isteri langsung menunjukkan ekspresi kaget dan tak percaya.

"Putera kita tidak gila! Awas saja kalau kau berani memasukannya ke tempat seperti itu! Yang seharusnya tinggal di sana itu kau, Minato. Kau 'sakit'…!"

"Dia mencoba bunuh diri dan ini juga bukan yang pertama kalinya! Tapi kau masih meragukan kewarasannya?"

"Siapa pun pasti stres jika mempunyai Ayah sepertimu! Kau seorang pembunuh, Minato! Pembunuh! Kau juga manusia rendah. Bisa-bisanya kau selingkuh di belakangku! Katakan padaku, Minato! Apakah wanita itu memiliki anak yang merupakan darah daging mu?"

"DIAAM!" suara Minato semakin meninggi dan tamparannya pun melayang ke arah sang isteri.

Kushina Uzumaki meringis sambil memegangi pipinya yang memerah karena tamparan Minato. Sudut bibirnya bahkan sampai berdarah saking kerasnya tamparan itu.

"Katakan padaku Minato… Apakah kau juga sering memukuli Naruto seperti ini?" sahut Kushina dengan berlinangan air mata.

"Itu bukan urusan mu!"

"Tentu saja itu menjadi urusanku! Naruto adalah puteraku!"

"Dia juga puteraku, jangan lupakan itu!"

"Aku akan membawa Naruto ke Tokyo. Lagipula, dia pasti akan cepat sehat kalau dirawat di Rumah Sakit yang lebih besar, fasilitas di sana pasti jauh lebih lengkap dan canggih. Aku tidak mau kau mengurungnya di pulau terpencil seperti ini," tegas Kushina pula yang kemudian membersihkan noda darah di sudut bibirnya.

"Lakukan sesukamu!" sahut Minato yang kemudian melengos pergi.

Kushina sendiri, jatuh terduduk di lantai yang dingin sambil menangis tersedu-sedu.

oOOo

.

.

Tokyo, Japan.

"Okaa-san, ini kamarku?" tanya Sakura dengan kaget. Matanya berbinar penuh minat. Kamar barunya ini sama sekali tidak seperti yang dia bayangkan. Kamar ini lebih dari cukup. Empat kali lipat lebih besar dari kamarnya di Cambridge dulu. Kamar yang penuh nuansa azure dan tempat tidur double yang terlihat sangat nyaman.

Ibunya berjalan menghampirinya dan menepuk bahu anaknya dengan lembut, "Kau tak suka?"

"Astaga, ini lebih dari cukup, bahkan terlalu bagus. Aku harus berterima kasih pada bibi yang mengizinkan kita tinggal di sini," senyum Sakura merekah bahagia. Semua yang baru saja diterimanya hari ini benar-benar diluar perkiraannya.

Rumah baru yang lumayan besar dan sangat nyaman. Ada halaman belakang yang cukup luas. Kamar yang indah. Bibi dan Paman yang sangat baik. Ini semua lebih dari yang dia inginkan.

"Hem, Okaa-san…"

"Ya?"

"Di mana Bibi yang baik hati itu?" tanya Sakura sambil celingak-celinguk ke seluruh sudut ruangan di rumah ini.

Ibunya mengangkat bahu dan berkata, "Entahlah. Mungkin sedang belanja. Sebentar lagi juga pulang."

"Begitu, ya? Kalau begitu, aku buatkan makanan saja ya untuk mereka. Yah, sebagai ucapan terima kasih. Boleh kan, Okaa-san?" Sakura tersenyum manis kepada Ibunya. Ibunya balas tersenyum dan mengangguk.

"Hem, kira-kira apa, ya? Lobster? Eh, mereka suka makanan Barat, kan? Atau makanan Jepang saja, ya? Astaga, aku bingung. Bagaimana pendapat Okaa-san? Makanan Barat atau Jepang? Tapi….." Sakura terus berbicara tanpa henti.

Ibunya hanya mengangkat bahu dan tersenyum mendengar ocehan anak gadisnya.

.

.

Shikamaru Nara mencoret-coret kertas catatannya dengan bosan. Hari ini—pelajaran Iruka-sensei yang membosankan—membuatnya ingin sekali segera pergi dari ruangan kelas ini, secepat mungkin. Pelajaran Sejarah Jepang dan guru yang satu ini memang terkenal sangat membosankan dan tentu saja, sulit.

Shikamaru merapikan peralatan Sekolahnya dan berdiri dari bangkunya. Iruka-sensei sontak menoleh ke arahnya dan mengerutkan kening. "Mau apa kau, Nara Shikamaru?"

Shikamaru tersenyum singkat dan pergi ke luar kelas dengan santainya. Namun, dia berbalik badan dan mengembuskan nafas. "Aku bosan."

Kemudian, Shikamaru pergi ke luar kelas dan meninggalkan semua teman sekelasnya—dan juga Iruka-sensei—yang melongo memandang Shikamaru yang keluar kelas dengan mulut ternganga.

"Awas saja kau. Shikamaru!" desis Iruka kesal. Lalu, dia kembali menatap murid-muridnya yang masih terlihat setengah sadar itu dengan galak.

"Yamanaka Ino!" panggil Iruka.

"Hai?"

"Kau cukup dekat dengan anak pemalas itu, kan?" tanya Iruka.

"Hai, sensei! Memangnya kenapa?"

"Apakah anak itu tidak pernah diajari sopan santun oleh kedua orangtuanya?"

"Kalau itu saya tidak tahu, sensei!"

"Sebaiknya menjauhlah darinya! Aku tidak mau kau ketularan sikapnya yang kurang ajar itu!"

"Ya, akan saya pertimbangkan, sensei!" kata Ino.

"Ayo, kembali belajar!" perintah Iruka yang kemudian kembali menulis di papan tulis.

Murid sekelas pun serempak menghembuskan nafas.

Selang beberapa detik kemudian, Ino merasakan seseorang menupuk bahunya. Ino pun menoleh ke belakang setelah memastikan bahwa gurunya—Iruka Umino— masih fokus pada papan tulis. Ia kemudian bertanya pada sahabatnya yang baru saja menepuk bahunya tersebut.

"Ada apa, Chouji?"

"Ano, kerabat Ibumu yang kau ceritakan pada aku dan Shikamaru kemarin itu… punya anak, kan?"

"Ya. Memangnya kenapa?"

"Anaknya itu cewek atau cowok?"

"Cewek, dan kudengar dia blasteran."

"Uwaah! Cantik dong kalau begitu?"

"Kalaupun dia cantik, kau pikir dia mau denganmu? Jangan mimpi, Chouji! Dan sebaiknya jangan mengajakku mengobrol saat pelajaran masih berlangsung!" kata Ino yang kemudian kembali menghadap ke depan.

"Dasar, pelit! Aku kan cuma minta dikenalin," gumam Chouji yang masih bisa di dengar oleh Ino.

'Cih, gadis itu! Awas saja kalau nanti dia berani deket-deket Sasuke-kun!' pikir Ino dalam hati.

oOOo

.

.

Ayah Naruto—yang bernama lengkap Minato Namikaze—meminum kopi panasnya dengan hati-hati dengan tatapan kosong. Asistennya—yang bernama Tenzo Yamato—berbicara dengan lancar dan tidak menyadari bahwa direkturnya itu tidak mendengarkan sama sekali.

Langit Tokyo hari ini terlihat cerah, namun hatinya sedang resah dan mendung karena memikirkan perkataan asistennya itu. Dia beberapa kali menghela nafas dan menatap resah ke arah luar jalan di dekat cafenya berada sekarang. Mendengar berita itu membuatnya resah dan gelisah. Dia pun kemudian menghela nafas dan menyesap kopinya dengan malas.

Tiba-tiba Tenzo Yamato berdehem dan tersenyum ramah, "Maaf, Direktur. Tapi, apakah anda mendengar apa yang saya katakan tadi?"

Sontak Minato menoleh ke arah asistennya itu dan memaksakan seutas senyum. "Maaf."

"Mungkin memang sudah takdir, Direktur. Jadi, apa yang akan anda lakukan pada mereka berdua?"

Minato mengangkat alis. "Hem?"

"Yah, mereka berdua. Haruno Mebuki itu dan—sebentar aku lupa—ah ya, Haruno Sakura, anak perempuannya itu. Jadi, apa yang akan kita lakukan pada mereka berdua?" kata Yamato.

Minato mengangkat bahu dan menghela nafas. "Entahlah. Aku tidak bisa berpikir jernih sekarang." Minato memalingkan wajahnya ke arah jalan. "Mendengar nama mereka berdua saja sudah membuatku pusing," ucapnya lirih hampir tak terdengar.

"Apa?"

"Iie~"

"Oh ya, bagaimana kalau kita menjenguk Tuan Muda? Dia sudah boleh dijenguk, kan?" tanya asistennya dengan senyum ramah untuk mencairkan suasana.

oOOo

.

.

Naruto menelusuri jalan setapak yang sepi di kota Tokyo sendirian. Beberapa kali dia menghembuskan nafas, menghela nafas, dan menatap kosong. Sungguh, ia tidak tahu harus melakukan apa hari ini. Kota ini terlihat membosankan baginya. Seandainya saja ia masih tinggal di sana. Cambridge. Tempat yang paling berharga baginya. Yah, seandainya saja.

Naruto menghela nafas panjang. "Aish! Aku kenapa sih?" gerutunya yang ditunjukkan kepada diri sendiri. Untung saja orang-orang di sekitarnya tidak mendengar. Jika mereka tahu, pasti dia sudah dianggap orang gila.

Dia kembali menatap lurus-lurus ke depan dan menelusuri jalan setapak itu dengan malas. Sesaat kemudian, dia melihat bangku taman di pinggir jalan setapak itu dan dia memutuskan untuk duduk di sana. Naruto duduk dan memejamkan matanya. Betapa rindunya dia menikmati udara segar ini. Sudah lama sekali. Mungkin hampir 12 tahun lamanya ia meninggalkan masa kecilnya yang paling bahagia itu.

"Yo, Naruto!" sapa seseorang yang entah sejak kapan sudah duduk di sebelah kanannya.

Naruto membuka matanya dan mengerutkan kening. Mengapa teman satu kampusnya ini bisa ada di sini. Apakah dia juga membolos sama sepertinya.

"Mengapa kau bisa ada di sini, Kiba? Bukannya ini masih jam kuliah?"

"Yah, aku bosan. Kau sendiri mengapa bisa ada di sini? Kau bilang kau sakit, tapi ternyata kau malah santai-santai di taman ini."

"Anemia ku memang kambuh, tahu."

"Alasan! Masa kau sampai membolos cuma karena anemia? Kau kan bisa tidur di ruang infirmary, bukannya malah izin pulang."

"Kau sendiri juga bolos, Kiba!"

"Haha… iya sih! Eh, ke game center yuk!"

"Inget umur, Kiba! Kita ini sudah 20 tahun, sekarang!"

"Lha… emang apa salahnya? Padahal orang rumahan sepertimu juga pasti kerjaannya setiap hari cuma main games atau nonton anime, kan?"

"Kau banyak bicara Kiba, membuatku semakin pusing saja."

"Kau harus banyak makan ati, kawan? Biar anemia mu tidak sering kumat!"

"Ya, ya… nanti akan kucoba."

"Yuk, Naruto! Kita ke game center?" kata Kiba sambil tersenyum lebar.

Naruto pun menghela nafas dan kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Kubilang kepalaku pusing, kau malah mengajakku untuk ke game center. Kalau aku sampai pingsan di sana, memangnya kau mau menggendongku?"

"Oh, ya sudah~ kita ke Café saja, yuk!"

"Ide bagus," kata Naruto yang kemudian mulai berjalan di samping Kiba.

"Lagian kenapa sih, kau punya penyakit anemia? Kau tidak pernah makan ati, ya? Padahal ati ayam and ati sapi itu enak lho…"

"Waktu masih remaja, aku sering melakukan percobaan bunuh diri sampai hampir kehabisan darah," jawab Naruto santai.

"Heh~ kau pasti becanda?"

"Ne, Kiba! Apa menurutmu, aku sudah bisa hidup mandiri?"

"Kenapa? Kau bosan tinggal bersama orangtua mu?"

"Aku ingin kabur dari rumah."

"Geh, macam bocah labil saja! Kalau menurutku, kau tidak akan mampu… soalnya kau sudah terbiasa hidup dalam kemewahan. Kalau kau kabur dari rumah, mungkin Ayahmu akan memblokir semua kartu ATM milikmu. Kalau kau tidak punya uang, bagaimana kau bisa hidup? Mungkin kau juga harus berhenti kuliah!"

"Aku kan bisa kerja sambilan~"

"Nah, kau bahkan belum pernah kerja sambilan. Terus, kau dapat uang dari mana untuk bayar uang sewa rumah, hm?"

"Shikamaru pernah bilang, kalau dia menyewa rumah kecil dari seorang Bibi yang baik hati. Mungkin aku bisa tinggal di sana bersama Shikamaru."

"Itu kalau Shikamaru mau. Lagipula, Bibi itu belum tentu mau menerimamu di rumahnya kan?"

"Kalau mereka tidak mau, aku bisa tinggal di apartemen mu yang sederhana? Biaya sewanya bisa kita bagi dua, bagaimana?"

Kiba meletakkan jari telunjuk dan ibu jarinya di dagu. "Hem, boleh lha… tapi itu kalau Shikamaru dan mereka tidak mau menerima mu."

"Yosh! Arigatou, Kiba! Ah, hari ini aku traktir deh!"

"Serius? Aku boleh memesan apapun yang aku mau?"

"Tentu!"

"Assik, kau memang sahabat yang saja, kalau aku sedang lapar~" kata Kiba antusias, dan dengan itu mereka berdua pun memasuki sebuah café yang tidak jauh dari taman yang baru saja mereka singgahi.

.

.

Sekitar pukul 9 malam, Naruto berpapasan dengan Shikamaru saat ia hendak pulang ke rumah. Rupanya Shikamaru baru saja keluar dari sebuah Restoran Yakiniku bersama kedua sahabatnya—Chouji dan Ino—.

"Yo, Shika! Tak kusangka akan bertemu denganmu di sini, baru saja aku akan menghubungimu."

"Memangnya kenapa Naruto? Apa kau ada perlu denganku?" tanya Shikamaru.

"Ya, begitulah."

Shikamaru pun menoleh pada kedua sahabatnya. "Maaf Chouji, Ino… kalian pulang duluan saja!"

"Ya sudah, toh Ino juga sudah mabuk! Jangan khawatir, aku akan mengantarnya pulang dengan selamat!"

"Sampai jumpa besok, Shika… hick…" kata Ino sambil melambaikan sebelah tangannya pada Shikamaru karena sebelah tangannya yang lain sedang merangkul pundak Chouji.

"Astaga, sampai sempoyongan begitu…" komentar Naruto memerhatikan Ino yang tengah diseret berjalan oleh Chouji.

"Merepotkan, sebaiknya kau gendong saja dia, Chouji!" saran Shikamaru.

"Ah, benar juga!" kata Chouji yang kemudian menggendong Ino yang sudah mabuk berat di punggungnya.

"Sahabatmu itu kenapa lagi?" tanya Naruto, masih memerhatikan Chouji yang menggendong Ino menuju tempat parkir di mana pemuda tambun itu memarkirkan mobilnya.

"Abis diputusin Sasuke!"

"Oh, pantas saja!"

Shikamaru kemudian melihat sekitar sebelum bertanya, "Kau ke sini naik apa, Naruto?"

"Ya, seperti yang kau lihat… aku sedang tidak membawa mobil ku. Sejak tadi siang, aku meninggalkan mobil ku di tempat parkir Apartemen."

"Eh? Mengapa?" tanya Shikamaru sambil mengerutkan kening.

"Aku sedang ingin jalan kaki sekalian menghirup udara segar. Yah, lalu aku bertemu dengan Kiba. Kami menghabiskan waktu di sebuah Café. Kiba kemudian mengajakku ke bar. Eh~ di sana dia malah keassikan main-main sama wanita. Yah, daripada aku main bilyar seorang diri… ya udah, kuputuskan untuk pulang duluan."

"Kau tidak ikut 'main' sama wanita-wanita itu juga?"

"Aku tidak tertarik."

"Kalau kau tidak tertarik dengan para wanita murahan itu, kau kan bisa bersanang-senang di sana… minum-minum, terus menari kayak orang kesetanan, misalnya?"

"Aku tidak kuat minum alkohol, Shikamaru. Minuman keras yang pernah ku minum hanya wine, itu pun aku tidak sanggup minum banyak."

"Lalu sekarang kau mau apa? Kembali Apartemen mu dengan naik kereta?"

"Malas ah, aku sedang tidak ingin pulang."

"Ini sudah larut juga sih, bagaimana kalau kau menginap di tempat ku untuk malam ini? Tidak begitu jauh, kok! Kita hanya perlu naik bus selama 15 menit-an dari sini.

"Boleh juga. Eh tunggu? Kau bilang naik bus?"

"Iyalah, aku kan ke sini nebeng sama Chouji dan karena mereka berdua sudah pulang… tidak ada pilihan lain selain naik bus. Ayo ke halte!" kata Shikamaru menyeret Naruto menuju halte bus terdekat.

.

Mereka akhirnya turun dari bus dan hanya perlu berjalan kurang lebih 10 menit sebelum sampai di rumah yang Shikamaru sewa. Setelah mereka melewati mini market, Shikamaru pun bertanya tentang maksud Naruto menemuinya. Naruto sendiri mulai bercerita bahwa ia sudah muak tinggal satu atap dengan kedua orangtuanya yang bahkan jarang sekali ada di rumah.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Mungkin di beberapa sudut pikiranku aku sudah tahu apa yang akan terjadi jika aku melakukan itu. Apa yang akan kulakukan dan apa yang perlu dilakukan, itu semua sangat sederhana. Tapi mungkin karena begitu sederhana juga begitu sulit~" ujar Naruto panjang lebar.

"Dengar, masalahnya hanya satu! Apa kau bisa melarikan diri dari Ayahmu?"

"Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Saat kami tinggal di Cambridge, dia selalu mengurungku di rumah. Dia tidak pernah mengijinkan aku untuk pergi keluar. Aku tidak tahan dengannya."

"Mungkin ada alasannya, mengapa dia selalu melarangmu pergi keluar. Mungkin kau sakit parah atau semacamnya."

"Awalnya ku pikir juga begitu, tapi kenyataannya aku sehat-sehat saja. Aku tidak mengidap penyakit apapun. Namun entah mengapa, Ayahku selalu bertingkah seperti seseorang yang takut akan kehilangan diriku. Dia selalu mengatakan bahwa dunia luar itu berbahaya, bahkan ketika Ayahku akhirnya tahu kalau aku pernah beberapa kali keluar rumah untuk bermain dengan anak tetangga… dia langsung membawaku pindah ke sini."

"Lalu, apa kau akhirnya tahu apa alasannya?"

"Ya. Aku mengetahuinya saat aku berumur 10 tahun. Kenyataan itu membuatku ingin mati rasanya."

"Eh?"

"Aku bahkan pernah mencoba bunuh diri beberapa kali saat umurku 15."

"Hah? Hey, kau pasti becanda kan?! Haha…"

"Mau lihat pergelangan tanganku? Ada banyak sekali bekas luka sayatan di sana."

"Err… tidak, terimakasih."

"Jangan lupa, sampaikan pada orang yang sudah kau anggap Ibu itu bahwa aku ingin menyewa."

"Okay, akan aku sampaikan."

Tiba-tiba saja ponsel Naruto bergetar. Naruto pun lekas merogoh ponselnya dari saku celana dan membaca pesan singkat yang masuk.

"Naruto, kau ke mana saja? Mengapa belum pulang? Hari ini Okaa-san pulang, kau tidak kangen padaku?"

Naruto memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Lalu, ia menatap Shikamaru. "Sudah ya, aku pulang dulu?!"

"Eh? Kau tidak jadi menginap di tempat ku?"

"Lain kali saja, Shika. Aku baru saja mendapatkan pesan dari Ibuku."

Shikamaru hanya menghela nafas. Sementara Naruto langsung berbalik arah. Tiba-tiba saja seorang gadis tersandung sebuah batu tepat dihadapannya, dan buah-buahan di salah satu kantong plastik yang dibawanya jatuh berserakan. Gadis itu pun lekas mengambil beberapa, mungkin khawatir mereka akan menggelinding lebih jauh lagi.

Naruto sendiri membungkuk di hadapan gadis itu dan lekas membantunya mengambilkan beberapa buah. Tepat saat kepalanya menunduk, topi yang tengah dikenakannya lepas dan jatuh ke tanah.

Gadis itu, entah mengapa terbelalak kaget saat melihat ukiran inisial namanya di topi tersebut.

"N. A. N?" gumam gadis itu pelan.

"Apa kau baik-baik saja? Tunggu, bukankah kau adalah Cherry?"

"Eh? Dari mana kau tahu nama barat ku?"

Saat itu juga dunia Naruto seolah terhenti sejenak dan matanya bertemu dengan mata itu. Mata hijau yang telah sangat lama ia rindukan dari lubuk hatinya yang terdalam.

Gadis itu terpaku untuk sesaat.

"Kau tidak ingat padaku? Aku Allen! Iie, di sini aku lebih dikenal dengan nama Naruto."

Setelah memerhatikan sosok itu dari ujung kaki hingga ujung rambut, gadis itu—Haruno Sakura— tersentak dan kedua matanya membulat sempurna.

Naruto tersenyum tipis. Satu-satunya orang yang membuat dirinya bersemangat menjalani hidup yang sangat membosankan ini. Satu-satunya orang yang teramat ia rindukan, kini berada di hadapannya.

Sementara itu Shikamaru mengerutkan kening dan menatap kedua orang di hadapannya dengan heran.

'Apakah Naruto dan Sakura saling kenal? Kapan mereka berdua bertemu? Seiingatku, aku dan Sakura tidak satu Sekolah dengannya saat SMA. Aku sendiri baru mengenal Naruto sejak kami masuk Universitas dan Jurusan yang sama. Itu dua tahun yang lalu,' pikir Shikamaru dalam hati.

Sakura sendiri hanya tersenyum lega dan menatap Naruto dengan nanar. Satu hal yang terpintas di pikirannya hanyalah sahabatnya itu sepertinya baik-baik saja. Tidak ada yang berubah. Hanya perubahan tinggi badan. Wajahnya masih sama seperti dulu. Masih sama seperti yang ia ingat 12 tahun yang lalu.

"Kau benar-benar Cherry, kan?" Naruto menatap gadis di hadapannya dengan lekat. Takut ia salah mengenali orang. Takut ini hanyalah sebuah ilusi karena ia teramat sangat merindukan gadis di hadapannya ini.

Sakura tidak dapat menahan senyum yang menghiasi wajahnya. Rasa bahagia, sedih, bercampur lega membuatnya tidak dapat mengungkapkan satu kata pun. Ia hanya tersenyum dan meneteskan air mata bahagia karena orang yang teramat ia rindukan, telah berada—berdiri di hadapannya—hari ini.

"Err… ano, apa kalian berdua saling kenal?" tanya Shikamaru.

Naruto pun menoleh pada Shikamaru dan tersenyum sebelum mejawab, "Hn. Dia sahabatku saat aku masih tinggal di Cambridge."

"Oh, begitu. Kalau begitu, aku pulang duluan saja. Aku tidak mau mengganggu reuni kalian."

"Tunggu Shikamaru!" kata Sakura. Shikamaru pun menoleh pada gadis itu,

"Ya?"

"Tolong bawa belanjaanku sekalian dan katakana pada Okaa-san, kalau aku ada urusan sebentar."

"Huh, mendokusai!" kata Shikamaru yang kemudian mengambil kantong-kantong belanjaan itu dari Sakura, sebelum beranjak pergi dari sana.

"Allen, ke Taman, yuk!" ajak Sakura.

"Ah, panggil saja aku Naruto, Cherry!"

"Um, kalau begitu… kau juga panggil saja aku Sakura."

Naruto mengangguk dan mereka berdua pun berjalan beriringan menuju taman yang tidak jauh dari jalan setapak menuju rumah Sakura.

Mereka berdua akhirnya tiba di taman bermain anak-anak tersebut. Sakura bahkan sudah duduk di salah satu ayunan.

"Kau tinggi sekali, sekarang~" komentar Sakura seraya memutar bola matanya.

Naruto hanya tertawa kecil dan berkata, "Benarkah?"

"Ya."

"Kau tidak sedang bercanda, kan?"

"Tentu saja tidak."

"Sungguh?"

"Astaga. Percayalah padaku. Kau memang sangat tinggi—ah, tidak—tinggi sekali," Sakura menatap Naruto dengan kesal. Sahabatnya ini memang sulit sekali mempercayai perkataanya.

"Padahal dulu itu… kau lebih pendek dariku."

Naruto memerhatikan gadis di hadapannya itu dengan cermat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gadis itu masih sama seperti dulu. Manis. Malahan sangat manis sekarang, dan lebih cantik. Betapa ia sangat merindukan sahabatnya itu.

Merasa diperhatikan, Sakura menatap Naruto risih, "Apa?"

"Kau… kau terlihat… lebih pendek."

'Plak!' Sakura turun dari ayunan dan menepuk bahu Naruto dengan keras. Membuat Naruto meringis sedikit.

"Aish, santai saja. Aku kan hanya bercan—"

"Terserah," potong Sakura ketus. Ia menatap pemuda di depannya dengan tatapan kesal setengah mati. Bukannya memujinya atau apalah, malah menyindirnya. 'Cih,' batin Sakura.

"Aku hanya bercanda. Tapi, sungguh kau terlihat sangat pendek~"

Sakura spontan menoleh dan menatap Naruto galak. Naruto hanya menelan ludah sebelum kembali berbicara.

"Maaf, aku hanya bercanda. Sebenarnya, kau sangat cantik. Cantik sekali. Jangan marah lagi, ya?" rayu Naruto. Namun, Sakura malah mencibir kesal. Ia yakin, Naruto tak mungkin serius—dan ia memang tak pernah serius—membuatnya semakin kesal saja.

Sakura hanya memalingkan muka tanpa berkomentar satu kata pun.

Naruto yang merasa risih karena didiamkan mulai membuka pembicaraan. "Maaf, ya. Aku kan cuma bercanda. Jangan—"

Tiba-tiba Sakura menoleh dan tersenyum ramah.

Naruto hanya mengerutkan kening bingung atas sikap sahabatnya yang aneh itu dan bertanya, "Ada apa?"

"Kau tahu cara membuat makanan Korea, tidak? Aku ingin membuat masakan khas Korea untuk Ibuku, tapi ternyata aku hanya bisa membuat masakan barat dan juga masakan Jepang~"

"Ano, Sakura-chan~ kita baru saja bertemu setelah sekian lama dan kau malah menanyakan tentang apakah aku bisa memasak makanan khas Korea atau tidak?"

"Ya, soalnya aku ingin membuat kejutan untuk Ibuku."

Naruto hanya menghela nafas. "Yah, aku tidak begitu pandai memasak masakan selain masakan barat sih, tapi ada sih masakan Korea yang bisa aku buat."

"Kalau begitu… besok aku datang ke tempatmu, boleh?"

"Boleh. Besok datang saja ke Apartemen ku. Kebetulan, besok aku tidak ada jadwal kuliah~"

"Aku juga tidak ada."

Naruto kemudian mengambil dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. Ia pun menyerahkan kartu nama tersebut pada Sakura. Dan Sakura menerimanya dengan wajah berseri.

"Terimakasih Allen, maksudku Naruto. Aku akan datang sekitar jam 10 pagi, okay?"

"Okay."

"Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok, Naruto!" kata Sakura sebelum berbalik badan dan meninggalkan sahabatnya itu.

"Sampai jumpa besok, Sakura-chan!"

.

To be Continued

.

.

A/n : Hello, minna-san! Apa kabar? Akhirnya author bisa update ff ini, maaf ya lama… padahal prolog-nya udah dipublish duluan. Story ini juga bakalan di publish ulang di wattpad karena awalnya ini adalah sebuah Ori-Fic. Nah, kalau yang di wattpad author tetep pake OC. Nama mereka Nakajima Allen and Yamazaki Shiori. So, yang minat baca di wattpad, silakan follow akun wattpad author Maya Kaminaga.

Oh ya, sekalian author juga mau memberi tahu bahwa status author di ffn sekarang adalah semi-hiatus… lagi fokus-fokusnya sama kuliah soalnya, jadi mohon dimaklumi kalau sering nggak konsisten update. Arigatou, untuk kalian semua yang sudah sabar menunggu. See you next chapter! ^^