Begitu senang ketika kulihat bocah kecil

Bagai mekar merekah yang baru tampil

Dengan senyum tersempil tapaki tiap jalan

Dengan tingkah polos pengusir kekesalan

Belum ternoda akan pengaruh cinta kekasih

Bagai kertas putih suci pikiran jernih

.

.

The Epic Of Sina

Shingeki no Kyojin © Isayama Hajime

The Epic Of Sina © Ai Kazoku

Rated : T

Genre : Fantasy, Adventure

Warning : AU, Typo(s), OOC (maybe), bahasa abal, garing mungkin, dan lain sebagainya, saya gaktau mau warningnya kayak gimana, dan yang jelas di luar nalar manusia

.

Enjoy

.

.

.

Chapter 1

~ Erwin Smith The Inventor ~

.

.

Suara hiruk pikuk pasar sudah mulai menghilang. Matahari sore sudah terbenam di ufuk barat. Sudah sedikit orang-orang di pasar untuk menjanjakan barang dagangan mereka. Yang ada hanya pejalan kaki kecil yang akan pulang pada kediaman masing-masing atau para bandit yang bersembunyi di gang-gang sempit, menunggu mangsa yang tepat untuk mereka incar. Sementara Erwin Smith, lelaki berumur lima belas tahun, berjalan dengan kedua orang temannya, Hanji dan Rivaille. Menuju ke rumah mereka yang tepat berada di pinggiran kota ini. Atau kau bisa menyebutnya penampungan.

Hanji tersenyum aneh dengan membaca buku bersampul kusam yang dia curi dari perpustakaan kota. Rivaille berjalan dengan santainya sembari melihat sekeliling, was-was kalau ada orang yang ingin menodong dirinya atau kedua temannya ini. Erwin berjalan diantara kedua temannya, sesekali melirik Hanji atau Rivaille yang sibuk dengan dunia masing-masing.

"Hanji, kau dapat buku itu dari mana?" Erwin menunjuk buku kusam dengan sampul yang sudah mulai sobek termakan usia.

"Aku mencurinya dari perpustakaan." jawab Hanji. Masih tersenyum aneh.

Rivaille dan Erwin menggeleng. Pasrah dengan kegilaan teman wanitanya ini pada buku-buku kuno. Bahkan melakukan apapun untuk mendapatkan buku yang diinginkannya. Salah satunya termasuk mencuri.

"Lalu apa isi buku itu?" tanya Erwin lagi. Membuat perhatian Hanji tertuju pada dirinya.

Hanji tersenyum simpul. "Ini tentang kedua belas titan yang melindungi Tuhan." Hanji melipat ujung halaman yang dia baca dan menutupnya. "Apa kau tahu Kerajaan Rose?"

Rivaille menggeleng. Erwin mengangguk. Kembali Hanji melanjutkan penjelasannya "Dalam buku ini Kerajaan Rose dilindungi oleh kedua belas titan. Mereka Okeanos, Hiperion, Koios, Kronos, Krios, Mnemosine, Tethis, Theia, Foibe, Rea, Lapetos, dan Themis."

"Oh, sama seperti titan yang menjaga Kerajaan Maria bukan?" sahut Rivaille.

"Bukankah itu hanya mitiologi kuno saja?" tanya Erwin.

"Bukan seperti itu Erwin." kata hanji "Kerajaan Rose adalah kerajaan yang menjadi musuh bebuyutan Kerajaan Maria. Sudah sejak ratusan tahun lalu kerajaan itu hancur."

"Dan seseorang mendirikan kuil kuno untuk mendirikan Kerajaan Rose kembali." tambah Rivaille.

Erwin mengangkat sebelas alisnya. "Kau juga tahu tentang ini Rivaille?"

"Tidak, aku hanya tahu sedikit dari ayahku."

"Daripada itu, lebih baik kau baca buku ini saja Erwin." Hanji memberikan buku yang dia curi pada Erwin, tentu dengan senyumannya yang penuh arti.

"AKu pinjam ya." kata Erwin. Menerima buku pinjaman Hanji. Membuat empunya tersenyum simpul tanpa ada maksud apapun.

~ The Epic Of Sina ~

Ditemani sebatang lilin, Erwin membaca buku kuno yang dipinjamkan Hanji tadi. Dengan teliti Erwin membaca setiap kata-kata yang tertulis dalam buku itu. Walau sudah kusam namun masih dapat dibaca dengan jelas, walau dalam kegelapan. Jemari lentiknya membalik setiap lemabaran kertas yang kusam. Senyumnya juga tak lepas membaca buku itu. Mungkin Erwin telah menemukan sesuatu yang menarik dari buku pinjaman Hanji kali ini.

"Apa yang kau baca Erwin?" seorang lelaki tua yang telah beruban berdiri di belakang kursi tempat Erwin duduk. Wajahnya yang tegas meninggalkan kesan menakutkan, yang turun menurun pada cucunya ini.

"Kakek, ini buku pinjaman Hanji. Katanya tentang kedua belas titan yang melindungi Kerajaan Rose." Jelas Erwin, masih terfokus pada bacaannya.

"Kerajaan Rose ya." gumam sang kakek, atau kau bisa memanggilnya Darius Zackly.

Erwin masih sibuk dengan bukunya, tidak mengacuhkan kakeknya yang berpikir keras. Kerutan pada kening Zackly semakin jelas. "Cobalah pergi ke kuil dekat hutan ini, Erwin." kata Zackly.

Erwin mendongak "Memang di sana ada apa?" tanya Erwin.

"Sudah, datanglah ke sana." suruh kakeknya kemudian pergi ke dapur. Membuatkan makan malan untuk dirinya dan Erwin.

Erwin mengangkat bahu. Kembali membaca buku tadi. Dan sampai dia pada halaman terakhir. Terdapat sebuah peta dengan simbol-simbol menarik. Seperti naga, chimeira, harimau, rumah, pohon, dan kuil. Tunggu, kuil? Bukankah ini kuil yang dibicarakannya dengan Hanji dan Rivaille tadi. Dan bukankah kakeknya juga menyuruhnya untuk datang ke kuil di dekat hutan. Mungkinkah itu kuil yang dia pertanyakan sejak tadi?

"Mungkin aku bisa memeriksanya besok pagi." gumam Erwin. Menutup buku itu dan meletakkannya di meja. Pergi membantu kakeknya membuat makan malam untuk mereka berdua.

~ The Epic Of Sina ~

Pagi itu tidak secerah biasanya. Langit mendung dan udara panas. Semua orang di pasar sedang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tidak termasuk Erwin. Sekarang dia sedang berada di hutan dekat kota tempat tinggalnya dengan membawa buku kusam dari kemarin sore. Pohon-pohon raksasa dengan liliran tanaman Ivy menyulitkan jalan Erwin. Namun tekad rasa ingin tahu Erwin tidak menghalangi jalannya. Dia terus mencari kuil tersebut. Kuil yang katanya Rivaille adalah kuil yang dituju untuk kebangkitannya kembali Kerajaan Rose.

"Tuan muda di sana, bisakah kau bantu orang tua di sini?" seorang nenek tua, yang tidak jauh dari Erwin berdiri, melambaikan tangannya lemah pada Erwin.

Erwin berjalan mendekat ke nenek tua itu. Terdapat sebilah pedang dengan corak unik seperti membentuk simbol naga dengan hiasan berlian atau mungkin ruby berwarna hitam, merah, dan ungu. Dengan sarung pedang berwarna hitam sedikit kemerah-merahan berlapis emas dan perak. Bentuknya simple namun elegan. Pola tanda air pada gagang pedang terliahat sakrastik dengan ujung pedang yang meleok membentuk huruf 'J'. Dan juga terdapat dua buah kantong besar yang ditutupi kain kusam berwarba hitam. Nenek atau mungkin kakek itu menggunakan jubah hitam dengan tudung hitam yang melindungi sebagian wajahnya. Tidak, Erwin tidak menganggap orang itu benar-benar tua. Tidak ada kerutan atau lipatan kulit pada pipi orang itu. Senyumnya juga terksean lembut. Tidak ada rambut putih khas orang tua yang sedikit menyembul. Orang itu membawa lentera di tangan kirinya dan pedang unik tadi di tangan kanannya.

"Apakah kau bisa membantuku anak muda?" tanya orang itu dengan suara yang diserak-serakkan.

Erwin mengangguk "Tentu saja, tu-"

"Tak usah memanggilku tuan, panggil aku Kris saja." sahut orang itu, yang menyebut dirinya adalah Kris.

"Ba-baik, Kris." jawab Erwin ragu. "Jadi anda ingin saya membantu apa, tu-maksud saya Kris?"

Kris menunjuk dua kantong besar dengan kain hitam kusam yang berada di bawah pohon besar "Bisa kau bantu aku membawa barang-barangku di sana? Aku sudah tidak kuat mengangkat barang-barangku itu. Aku sudah tidak semuda dulu lagi.

Erwin mengangguk. Berjalan mengahampiri kantong besar itu dan mengangkatnya seperti kantong beras yang biasa dia angkat di pasar. Pekerjaan yang mudah bagi Erwin. "Kita mau ke mana?" tanya Erwin sopan. Takut kalau salah tindakan maka akan membuat nyawanya menghilang. Tidak, sebenarnya Erwin tidak takut. Dia hanya kasihan dengan nasib kakeknya yang ada di rumah menunggu kepulangannya.

"Bisa kau antarkan aku ke kuil yang berada di sekitra sini?"

"Tentu."

Erwin pun mengikuti ke mana arah Kris berjalan. Melihat betapa misteriusnya orang yang meminta tolong pada dirinya ini. Merasa canggung Erwin berusaha memecah keheningan ini. Tapi dengan apa? Tempat asal? Kris mungkin tidak akan semudah itu memberitahukannya. Kenapa Kris mencari kuil yang Erwin sendiri juga mencarinya? Tidak, itu namanya ikut campur urusan orang lain. Dan Erwin benci ikut campur urusan orang lain. Pedang yang Kris bawa? Ah, itu mungkin bisa.

"Maaf Kris, pedang itu milikmu?" tanya Erwin.

Kris tersenyum "Bukan." kata Kris "Pedang ini milik Keluarga Kerajaan Rose."

"Kerajaan Rose?" gumam Erwin. Dalam pikirannya dia bingung, kenapa akhir-akhir ini selalu ada orang yang membicarakan Kerajaan Rose. Mulai dari Hanji, RIvaille, dan berakhir pada kakeknya sendiri. "Kalau boleh aku tahu, Kerajaan Rose itu apa?" tanya Erwin.

"Maaf ini rahasia kerajaan." kata Kris. Menoleh ke arah Erwin dan tersneyum. "Tapi karena kau keturunan terakhir lebih baik kau mencari tahunya sendiri, Erwin Smith."

Erwin terlonjak. Dia berhenti berjalan. "Bagaimana kau tahu namaku? Padahal aku belum memberitahukan namaku."

Kris masih terus berjalan tanpa mempedulikan Erwin yang shock di belakang sana. "Suatu hari nanti, kau akan tahu." gumam Kris pelan. Sangat pelan sehingga tak terdengar oleh Erwin.

Erwin menggelengkan kepalanya. Erwin mungkin salah dengar. Tidak mungkin orang yang baru dikenalnya mengenalnya. Padahal seingatnya dia belum memperkenalkan dirinya pada Kris. Erwin kembali berjalan mengikuti ke arah mana Kris berjalan. Erwin kalut kalau akan ada hal buruk yang akan terjadi. Jadi dia memutuskan diam saja. Erwin memutuskan mengikuti ke arah mana Kris pergi. Mungkin saja dia bisa menemukan kuil yang selama ini dia ingin tahu ini.

"Akhirnya kita sampai." Ujar Kris. Mereka sekarang sedang berdiri di depan sebuah kuil tua.

"Apa benar ini tempatnya?" tanya Erwin ragu.

"Kau meragukannya, Erwin."

Lagi, Kris memanggil namanya lagi. Tapi Erwin tak mengacuhkannya. Sekarang yang Erwin lihat adalah bangunan tua yang disebut Kris adalah kuil. Kuil Kerajaan Rose. Bangunan itu sudah sangat tua dengan akar-akar dan tumbuhan Ivy yang merambat dan menjalar memenuhi dinding tua kuil. Rumput liar yang tumbuh tinggi dan ilalang yang menhalangi jalanan membuat kesan horor. Kuil yang menyerupai kuil Bangsa Yunani ini sungguh mengerikan. Erwin benar-benar tidak percaya kalau ini benar-benar kuil yang selama ini dipertanyakannya.

"Tidak usah kaget begitu." seru Kris. "Taruhlah barang bawaanku di situ. Sebagai tanda terima kasih aku akan memberikan Pedang Damascus* ini kepadamu." Kris dengan terang-terangan memberikan pedang aneh itu pada Erwin.

Dengan mata berbinar, Erwin menerima pedang pemberian Kris. Pedang yang sejak pertemuan pertama telah menarik perhatiaanya. "Apa ini benar-benar milikku?" tanya Erwin ragu.

Kris mengangguk mantap. "Tidak ada yang perlu diragukan, pedang itu seutuhnya milikmu."

Erwin benar-benar senang. Dia menerima pedang pemberian Kris dengan senang hati. "Pedang itu dapat menebas apapun termasuk gelombang air sekalipun." ujar Kris. Erwin raba sarung pedang yang kasar karena corak dan gagang pedang yang kokoh. Dia lepas sarung pedang dan melihat bilah pisau yang asik itu. Pattern riak air yang menyerupai kulit salamander menghiasi pedang bermata satu ini. Silauan bilah pedang benar-benar membuat Erwin.

"Terima kasih Kri-" Erwin kaget. Orang yang baru beberapa detik lalu menemaninya telah menghilang entah ke mana. Dia menoleh ke kanan, ke kiri, dan ke belakang. Dia sama sekali tidak menemukan Kris. Dalan hati Erwin membatin, mungkin Kris sudah masuk ke dalam kuil. Jadi Erwin memutuskan untuk masuk ke dalam kuil. Selain mencari ke mana Kris dia juga ingin tahu, apa yang ada di dalam kuil.

~ The Epic Of Sina ~

Sudah sejak setengah jam tadi Erwin menyusuri lorong kuil kuno ini. Dindingnya sungguh sempit dan gelap. Sama sekali tidak ada hal yang menarik untuk dilihat. Hanya hanya ada akar pohon yang sudah menembus masuk dan membelit dinidng. "Apa benar ini kuil?"

Akhirnya Erwin sampai pada ruangan utama kuil ini. Terdapat empat pilar raksasa yang menompang berdirinya bangunan ini. Tepat di tengah ruangan terdapat lampu lilin yang menggantung dengan tidak ada lilin sama sekai. Tepat berseberangan dengan tempat Erwin berdiri terdapat patung naga. Dilihat dari bentuknya, patung naga itu seperti meraung pada Erwin. kedua sayapnya melebar. Naga ini seperti tidak memiliki tangan, hanya ada kedua kaki kecil yang menjadi penyangganya berdiri. Taringnya tidak begitu besar, namun tajam. Ekornya panjang dengan sesuatu seperti bulatan yang siap menghantam dan mengahncurkan lawan.

"Tidak, bukan." Erwin lebih teliti melihat patung itu yang memiliki tinggi sekitar tiga meter dengan panjang sepuluh meter. Tidak, ini bukan naga. Naga tidak memiliki sayap seperti itu. Sayap itu cenderung seperti kelelawar. Ujung ekornya juga berduri. Mulai dari ujung kepala sampai ekornya berduri. Seingat Erwin tidak ada naga yang berduri. Kepalanya tidak seperti naga pada umumnya. Kepalanya cenderung seperti ular. Dan lagi, tangan makhluk ini menyatu dengan sayap. Tidak bersturktur sendiri seperti naga lainnya. Kesimpulan Erwin adalah, "I-ini, Wyvern*"

KRAK!

Tiba-tiba terdapat retakan pada patung itu. Awalnya kecil, namun semakin lama semakin banyak. Dan sampai pada akhir semua retakan itu hilang. Menampakkan makhluk mengerikan dengan air liur beracunnya.

'Aku harus lari.' Erwin membalikkan badan yang bermaksud untuk kabur. Namun betapa terkejutnya dia mendapati pintu keluar tadi sudah menghilang. "SIal, ke mana pintu itu tadi." umpat Erwin, menggeram entah pada siapa.

"GROOAARR!" Wyvern itu mengaum keras pada Erwin. Seketika Wyvern tersebut mengepakkan sayapnya dan mengahantam Erwin.

Untungnya Erwin memiliki tubuh yang berotot dengan gerakan yang lincah, sehingga memudahkan Erwin menghindari hataman kepala Wyvern. Dia harus berterima kasih pada Rivaille dan kakeknya yang mengajarinya bertarung.

Berkali-kali Wyvern menghantamkan kepalanya tepat ke mana Erwin berdiri. Dan berkali-kali juga Erwin harus menghindari hantaman Sang Wyvern. 'Aku harus menggunakan pedang pemberian Kris.' Erwin menarik sarung Pedang Damascus tadi. Dan mengayunkan pedangnya pada Wyvern yang akan menghantamnya.

Sraat...!

Pedang Erwin berhasil menyayat punggung kepala Wyvern. Membuat Wyvern yang memiliki corak sisik kasar dengan warna hijau lumut ini kesakitan.

Wyvern tersebut menggeram. Membuat air liurnya yang beracun menetes dan melelehkan lantai bata kuil sampai hangus. "Air liurnya beracun." gumam Erwin mulai was-was. Terlihat Sang Wyvern seperti mengambil ancang-ancang. Kaki-kaki besar itu menekan lantai kuil sampai retak. Sang Wyvern itu mendongak dan seperti mengumpulkan sesuatu pada tenggorokannya. Sayapnya mengatup. Seperti sang Wyvern ingin menyemburkan sesuatu.

'Jangan-jangan-' terlambat, Sang Wyvern sudah menyemburkan semacam bola asam ke arah Erwin. Refleks Erwin menghindarinya. Terus menerus sampai mengitari ruangan itu. Sampai Erwin sampai pada pojok ruangan. "Sial, bagaimana caraku mendekat?" umpat Erwin. Seketika Erwin teringat dengan perkataan Kris tadi. Bukankah pedang ini bisa menebas apapun. Bahkan gelombang air juga bisa ditebas. Jadi gumpalan asam itu bisa ditebas. Tapi bukankah gumpalan asam itu bisa melarutkan apapun. Mungkin Pedang Damascus pemberian Kris tidak akan mempan. Tidak, Erwin tidak bisa berpikir seperti itu. Erwin harus percaya kalau pedang pemberian Kris adalah pedang yang kuat, Erwin percaya.

"Jadi sekarang-" Erwin berlari bersembunyi di balik salah satu pilar raksasa. Membelakangi Wyvern yang sudah siap menyemburkan gumpalan zat asam ini. "Jadi sekarang, bagaimana caraku mengalahkan Wyvern ini, aku tak pernah melawan hal semacam ini." Erwin mencoba berpikir. Erwin masih pemula. Dia harus dengan telak membunuh naga ini tepat pada jantungnya. Tapi bukankah itu mencari mati.

Erwin mengintip dari balik pilar raksasa. Mencari tahu apa yang sedang dilakukan Sang Wyvern. Mata tajam Erwin menyipit. Posisi Sang Wyvern masih sama seperti tadi. Siap-siap menyemburkan gumapalan asam tadi. Kemudian Erwin melihat sekeliling ruangan. Ruangan ini sempit dan kecil, tidak mungkin untuk Sang Wyvern terbang. 'Oh, jadi ini alasan kenapa Wyvern itu tidak terbang.' batin Erwin. Ya, memang mustahil untuk Sang Wyvern terbang. Ruangan yang sempit dengan jarak antar pilar yang hampir berhimpitan akan membuat susah Sang Wyvern bergerak.

Erwin memijat kepalanya. Dia berpikir keras bagaimana caranya mengalahkan Wyvern yang satu ini. Karena ini baru pertama kalinya jadi Erwin harus tidak membuat kesalahan. Dia harus bertemu Kris dan mengatakan pada Rivaille dan Hanji kalau dia mendapat pedang unik yang bernama Damascus. Dan dia harus menemui kakeknya kalau dia sudah menemukan Kuil Kerajaan Rose. "Baik, mungkin ini berhasil." Erwin menguatkan genggamannya pada ganggang pedang dan sarung pedang. Bersiap menyerang Wyvern ini.

Erwin dengan cepat berlari dari tempat persembunyiannya menuju Sang Wyvern. Dengan cepat Sang Wyvern menyemburkan zat asamnya pada Erwin. Erwin sudah menduga kalau Sang Wyvern akan menyerangnya dengan zat asam. Seketika dia menggunakan ujung kaki kanannya sebagai poros untuk berotasi dan kaki kirinya untuk mengijak arah lain dan kembali berlalri. Intinya, Erwin berhasil menghindari serangan zat asam Sang Wyvern. Terus menerus sampai membuat Sang Wyvern mengamauk.

Erwin sudah mendekat pada Sang Wyvern. Tangan Wyvern yang menyatu dengan sayap mencoba menangkap Erwin. Namun nihil, karena tubuh Erwin yang lincah membuat dirinya terlihat gesit. Seketika Erwin berjongkok dan memutar. Memotong kedua kaki Wyvern. Membuat Wyvern ini ambruk dan berteriak kesaktian.

Sang Wyvern berusaha bangkit dengan mengepakkan sayapnya. Erwin sudah menduga kalau Sang Wyvern akan terbang. Dengan cepat Erwin memotong sayap kiri Sang Wyverb terlebih dahulu. Kemudian melompati tubuh Sang Wyvern dan memotong sayap kanannya. Dan sekarang, Sang Wyvern sudah tak bisa melakukan apa-apa. Tubuhnya kaku. Semua bagiannya untuk menyerang sudah terpotong.

Tidak habis akal, Sang Wyvern menyerang Erwin dengan ujung ekornya yang tajam dan berduri. Namun, dengan cepat Erwin menebas ekor tersebut. membuat Sang Wyvern menjerit kesakitan.

"Kau." Erwin berjalan mendekat dan mengarahkan ujung Pedang Damascus-nya pada leher Sang Wyvern. Menatap Sang Wyvern dengan nafsu membunuhnya "Matilah."

Craasshh...!

Erwin memotong leher Sang Wyvern. Membuat Sang Wyvern mati seketika. Erwin melihat kondisi Wyvern yang sudah tak bernyawa ini. Tidak utuh, karena Erwin memotong setiap bagian tubuh Wyvern ini. Erwin juga melihat sekelilingnya, hancur lebur karena zat asam Wyvern itu.

"Kau berhasil, Erwin." Erwin menoleh ke asal suara. Dia melihat Kris yang berdiri dengan lentera pada tangan kanannya. "Sudah dipastikan kau adalah keturunan terakhir keluarga Kerajaan Rose."

Erwin berjalan mendekati Kris. Menatap penuh intimidasi pada Kris. "Apa maksudnya ini?" tanya Erwin marah. Erwin merasa belum pernah merasa semarah ini.

"Apa kau merasa dipermainkan?"

"Tentu." jawab Erwin "Kau kira mengalahkan Wyvern itu untuk pertama kali adalah hal yang menyenangkan."

Kris menggeleng "Tentu saja tidak." Seketika Kris menunduk hormat pada Erwin "Tentu saja tidak, Yang Mulia Erwin."

Mata Erwin membulat sempurna. Dia tidak percaya barusan Kris memanggilnya dengan sebutan yang mulia.

"Cepat pulanglah dan temui semua temanmu, mereka pasti akan senang mendengarmu menjadi raja Kerajaan Rose." tukas Kris. Kemudian pergi meninggalkan Erwin sendiri.

"Tu-tunggu." tidak ada jawaban. Erwin mengejar ke mana Kris pergi sampai ke luar kuil. Dia sama sekali tidak menemukan Kris. Bahkan dua kantong besar yang tadi dia pikul sudah tidak ada. Erwin menyimpulkan kalau Kris telah pergi. Dan memberikan segudang pertanyaan pada Erwin.

~ The Epic Of Sina~

Wajah Erwin benar-benar lesu. Dia sudah tidak peduli dengan matahati yang mulai tenggelam. Peluh telah memenuhi tubuhnya. Dia benar-benar lelah karena melawan Wyvern tadi. Sapaan orang-orang di pasar tidak dia indahkan. Yang dipikirkannya hanyalah Kris yang pergi entah ke mana.

"Erwin!" Erwin menoleh ke asal suara. Dia mendapati Hanji dan Rivaille yang membeli makan malam untuk malam ini. Hanji melambai-lambaikan tangannya padanya. Dan Rivaille menatapnya dengan tatapan datar seperti biasa.

Erwin berjalan medekati Hanji dan Rivaille. Masih dengan wajah lesunya "Hei Erwin, kau habis dari mana saja? Kami mencarimu ke mana-mana tahu? Dan, pedang milik siapa yang kau bawa itu?" Hanji menunjuk pedang yang digenggam Erwin pada tangan kanannya.

"Aku mendapatkannya dari temanku di hutan." jawab Erwin.

"Bagaimana bisa?" tanya Hanji lagi. Rasa ingin tahunya mulai keluar kembali.

Erwin pun menceritakan semuanya. Mulai dari awal dia ingin tahu di mana kuil kuno itu sampai dia kehilangan di mana Kris. Oh, dan jangan lupa dangan Erwin yang dipainggil yang mulia.

"Jadi, kau sekarang raja?" tanya Rivaille. Melipat kedua tangannya di depan dada.

"Entahlah." Erwin mengangkat bahu.

"Jadi, gimana kalau kita ke rumahmu dan merayakan keberhasilanmu menjadi raja?" Hanji tersenyum lebar. Sepertinya dia yang paling senang di antara semuanya.

"Terserah apa kalian lah, aku benar-benar lelah karena bertarung tadi." Erwin berjalan meninggalkan kedua temannya. Menuju ke rumah kesayangannya yang ada di penampungan.

~ The Epic Of Sina ~

"Aku pulang." Erwin masuk dengan ditemani kedua sahabatnya, Hanji dan Rivaille. "Kakek!." Erwin memanggil kakeknya. Berharap ada sautan dari dalam sana. Tapi sama sekali tak ada. Semestinya kakeknya sudah pulang saat ini.

"Kakekmu ke mana, Erwin?" tanya Hanji kebingungan.

Erwin mengangkat bahu. Kemudian mencari kakeknya ke penjuru ruangan.

"Aku rasa kakekmu tidak ada." sahut Rivaille.

"Tidak mungkin, semestinya dia ijin padaku." Erwin keluar dari dapur. Mendapati Rivaille memegang selembar surat. "Apa itu?" tanya Erwin.

"Entahlah." Rivaille mengangkat bahu. "Ini."

Erwin meraih surat tersebut dan membacanya. Hanji yang sehabis dari dapur terlihat tertarik dan mendekati Erwin yang membaca sebuah surat. yang mungkin dari kakeknya.

"Apa isinya?" tanya Rivaille.

Erwin masih mengkerutkan dahinya. Menatap kedua temannya secara bergantian "Ayo kita bangun kembali Kerajaan Rose." seru Erwin.

Hanji terlonjak kaget. Sementara Rivaille kaget hanya dengan kilatan mata yang melintas.

"Apa maksudmu Erwin? Bukankah kita harus mencari ke mana kakekmu dulu." tukas Hanji frustasi.

Erwin menggeleng pelan. "Tidak perlu Hanji. Kakekku akan baik-baik saja."

"Memang apa yang ada di dalam surat itu?" tanya Rivaille. Menatap surat yang dipegang Erwin.

"Bukan apa-apa." Erwin membakar surat tersebut dengan santainya.

"Setidaknya jangan dibakar dulu! Aku ingin membacanya!" Hanji Frustasi. Meremas kedua kepalanya.

"Sudahlah Hanji." Rivaille menatap Hanji dengan aura yang mengerikan. "Turuti saja apa kata Erwin."

"Eh?"

"Kita tidak tahu apa yang sedang dipikirannya kali ini." Rivaille menatap Erwin yang sedang menuju ke kamar kakeknya. Tidak tahu apa yang dia baca sampai membuat Erwin ingin membangun Kerajaan Rose kembali.

Hanji mengangkat bahu. Tidak mengerti dengan situasi seperti ini. Dia hanya menuruti kata-kata Rivaille dan Erwin.

Erwin keluar dari kamar kakeknya dengan membawa sebuah buku bersampul hitam legam. "Apa kalian mau menemaniku membangun kembali Kerajaan Maria?" tanya Erwin. Menatap kedua temannya secara bergantian.

Hanji dan Erwin mengangguk. Membuat Erwin tersenyum lega. "Kalau begitu-" Erwin merangkul kedua temannya dan tersenyum. "Ayo kita bongkar rahasia dunia ini yang sesungguhnya."

~ Erwin Smith The Inventor ~

~End~

.

Apa tujuan Erwin? Ke mana Kris dan kakeknya pergi? Apa maksud Erwin dengan membangun kembali Kerajaan Rose? Tidak, itu tidak untuk saat ini dibahas. Karena kita akan beralih pada syair selanjutnya. Yaitu syair yang kedua.

Dia adalah sahabat dari Erwin Smith The Inventor. Seorang lelaki tangguh dengan tubuh yang tingginya di bawah rata-rata. Tidak ada yang aneh pada dirinya. Fisiknya yang kecil membuat semua orang terkecoh dengan dirinya. Tanpa tahu kalau dia adalah seseorang yang memiliki kepercayaan tinggi yang besar dengan kekuatan yang menyamai sang naga emas. Tapi tidak, dia bukan orang baik. Dia seorang pembunuh bayaran yang selama ini disewa orang-orang. Dan sekarang, dia adalah Guardian dari sang raja. Mendapingi rajanya sampai akhir hayatnya. Dengan kesetian bagaikan malaikat bersayap hitam dia akan mengikuti rajanya. Bahkan sampai ke ujung neraka. Dia...

~ Rivaille The Homicide ~

.

.

TBC...

.

.

Apa-apaan fic perang-perangan ini. Aku benar-benar tidak menyangka membuat fic seperti ini. Apa benar ini Fic milikku. Oh tidak, aku sedang berhalusinasi #tembakkepalasendiri

Ngomong-ngomong semuanya mohon ya...

Mind To Review, Please?