Wanna Be High School

Kang Daniel X Ong Seongwoo

Kwon Hyunbin X Hwang Minhyun

Kim Jaehwan X Jung Sewoon

NielOng - Minhyunbin - Howons

Disclaimer : Setiap member hanya milik tuhan, keluarganya, juga masing masing dari mereka. Author hanya memiliki jalannya cerita.

Gendre :

Fan Fiction - Bromance - Friendship - Action

Warn :

School Life - OOC - AU - Boys Love (BxB)

Ratting : M untuk Action. ( Mohon kebijakannya)

Happy Reading

Sewoon memandang luka luka disekujur tubuhnya. Lagi lagi ia hanya diam saat mereka memperlakukannya semena mena.

Flashback

Setelah jam istirahat kelasnya kosong. Sewoon bosan, dia tidak memiliki teman lain selain minhyun. Sewoon merasa sepasang mata disudut kelasnya terus memperhatikan dia.

"Ck, untuk apa si kim itu memperhatikan ku?" gumam sewoon sambil menangkup wajahnya dan memperhatikan keadaan diluar kelasnya. Sungguh, sekolah ini memang tak bisa lebih buruk lagi dari neraka baginya.

Ah!

Sebuah ide melintas dibenaknya. Kenapa dia tidak keruang musik saja, itu kebiasaannya sejak dulu. Melarikan diri ke klub musik untuk menenangkan diri. Sewoon berjalan keluar kelas, meninggalkan sejenak kegilaan didalam kelas. Beberapa siswa memandangnya heran.

"Mau kemana dia?"

"Paling dia melarikan diri ke kelas XII-1 atau ke klub musik."

Sewoon berjalan keluar dari gedung utama menuju gedung klub eskhul. Cukup jauh dari kelasnya, tapi tak apa. Toh gurunya tidak akan datang sampai jam pulang nanti. Tak akan ada yang mencarinya selain minhyun.

Klub musik kosong. Keberuntungan tersendiri bagi seorang jung sewoon. Sewoon melangkahkan kakinya kedalam, mendekati gitar yang disediakan sekolahnya itu. Ia mulai memetik senar demi senar, menghasil musik yang harmoni dan enak untuk didengar. Sewoon memang menguasi alat musik yang satu ini, sekolah juga sudah mengakui bakatnya yang satu ini. Namun tetap saja, itu tak akan mengubah kehidupannya di Wanna Be High School.

Kret~

Terdengar bunyi pintu yang terkunci. Sewoon menengokan kepalanya kebelakang dan, sial! Itu kwon hyunbin, teman seangkatannya. Dan kim Jaehwan, salah satu kakak tingkatnya.

"Pasti si kim mingyu pelakunya." batin sewoon. Memang benar, mingyu itu selalu menerima perintah dari para berandalan sekolah hanya dengan iming iming game. Dasar maniak game.

"Wah wah wah, hyung. Kau tak takut posisi mu di rebut dia, permainan gitarnya lumayan loh." hyunbin angkat bicara.

"Cih, masih jauh aku kemana mana." jaehwan menjawab sambil sedikit mendelik kearah sewoon yang masih terdiam menatap mereka.

"Hey hyung, aku baru sadar kalau mukanya mirip ponyo."

"Hahaha. Kau benar, mukanya mirip ponyo." sewoon sebenarnya sudah ingin menyumpal mulut dua orang didepannya ini, ia paling tidak suka bila sudah dimiripkan dengan karakter ponyo itu.

"Jung sewoon. Hanya anak dari seorang Supir bis umum dan ibu yang bahkan sudah sekarat. Di terima di Wanna Be High School hanya karna kemampuan bermusik dan olah vokalnya." jaehwan menjambak rambut sewoon hingga dia mampu melihat wajah sewoon dengan jelas. Jaehwan tersenyum miring, senyum dimata semua siswa terlihat seperti psikopat.

"Setidaknya aku bukan pecundang seperti mu." lirih sewoon namun masih dapat dipastikan terdengar dua namja lainnya di dalam ruangan tersebut.

"Hahaha. Dia bilang kau pecundang hyung." tawa hyunbin menggelegar.

Bruk!

Jaehwan membanting tubuh sewoon lewat jambakannya tadi. Membuat tubuh sewoo tersungkur kelantai. Jaehwan menarik kerah yang lebih muda. "Kau bilang apa? Aku? Pecundang? Huh, jangan harap." jaehwan menampar wajah sewoon tanpa perasaan. Kemudian berdiri dan menendangnya beberapa kali.

Sewoon masih diam tanpa sedikitpun memberi tanda tanda akan memberi perlawanan. Jaehwan menarik seragam adik tingkatnya itu hingga mereka sama sama berdiri. "Anak rendahan seperti ku tidak pantas mendapatkan surganya Wanna Be. Kau! Hanya pantas mendapatkan neraka!!" jaehwan berbisik disamping telinga sewoon. Oh? Tunggu. Yang tadi tidak bisa kita sebut berbisik, karna nyatanya jaehwan baru saja berteriak.

Jaehwan memberi beberapa bogeman diperut dan muka sewoon. Meninggalkan berkas biru karna memar dan sedikit bercak darah dibeberapa bagian seragam sewoon.

"Kwon! Aku sudah selesai, kau tak mau melakukan sesuatu?" jaehwan berjalan kearah hyunbin yanh sedari tadi hanya menonton.

"Kita kunci saja dia disini." jawan hyunbin sambil keluar klub musik dan mengunci ruangan itu dari luar. Dari mana dia dapat kuncinya? Dia bisa mendapatkan apa yang dia mau hanya dalam sekejap.

Sewoon merintih menahan rasa sakitnya. Sewoon mendongkak kearah atas sudut ruang klun musik. Oh shit! Kamera disana mati! Sekolah macam apa ini?! Menyebalkan. Bagaimana ia bisa keluar jika begini?!

Bel tanda masuk jam terakhir berbunyi. Sudah dua jam sewoon berdiam diri disini, hanya mengetuk pintu klub musik dari dalam. Tak ada niatan untuk berteriak karna dia sudah lelah menahan rasa sakit disekujur tubuhnya.

Minhyun berjalan kearah ruang musik dengan terburu buru. Dia baru saja dari kelas X-2, mereka mengatakan jika sewoon baru saja keluar kelas. Sial, itu sudah dua jam yang lalu. Jika begini, pasti terjadi sesuatu padanya.

Tok

Tok

Tok

Beberapa meter sebelum benar benar sampai didepan ruang klub musik, minhyun mendengar suara ketukan. Dengan tergesa, ia segera berlari dan mencoba untuk mebuka pintu ruang musik.

Sial!

Pintunya terkunci.

"Sewoon! Jung sewoon! Kau didalam?!" minhyun dengan tak sabaran balik mengetuk ngetuk ruang klub musik.

"I iya, hyung."

"Cih, pasti ini ulah bocah bocah sialan itu." minhyun berpikir sejenak, ia memang anak musik. Tapi dia tak punya kunci ruang musik, ketua dia juga sedang ada ulangan di jam terakhir ini. Tak ada cara lain, ia harus mendobrak pintu ini.

Tapi bagaimana jika rusak? Ia tak punya cukup uang untuk membenarkan pintunya. Arghh! Masa bodo, keadaan sewoon disana pasti sudah tidak baik baik saja, ia tidak akan sempat jika harus minta bantuan.

"Sewoon! Menyingkirlah! Aku akan masuk!!" mendengar intruksi minhyun, sewoon akhirnya bergeser menjauh dari pintu. Sampai di percobaan minhyun yang ke empat, Pintu berhasil terbuka.

"Ck, cepat naik ke punggung ku."

"T tapi hyung?"

"Naik."

End Flashback

"Huh.. Andai aku bisa lebih berani." cicit sewoon.

"Aku akan menunggu minhyun hyung saja." ujarnya entah pada apa, sampai tak lama ia tertidur.

Kelas minhyun memang sedang kosong sekarang. Jadi ia putuskan untuk berdiam diri dikantin dengan segelas cola didepannya. Kantin juga sedang dalam keadaan yang riuh karna hampir semua kelas sedang dalam keadaan yang sama, para ssaem sedah mendiskusikan sesuatu.

Minhyun terduduk sendiri disalah satu sudut kantin yang mengarah langsung kearah gerbang masuk sekolahnya. Gedung kantin memang cukup dekat dengan gedung utama dan gerbang masuk sekolah.

Minhyun sama sekali tak terganggu dengan berisiknya kantin. Justru pikirannya sedang melayang membayangkan nasibnya di Wanna Be. Bagaimana agar ia dapat terbebas dari siksaan ini?

Diteguknya cola tadi guna menetralkan kembali pikirannya. Ugh! Kenapa harus ada makhluk seperti tiga bandit itu di Wanna Be. Mungkin jika tiga makhluk itu musnah, hidupnya tak akan sesengsara ini.

Minhyun kembali memalingkan pandangannya dari kaleng cola ke jendela yang mengarah pada gerbang masuk tadi. Matanya membola seakan minta keluar. Minhyun mengucek kedua matanya, dan hasilnya sama. Sosok yang baru saja memasuki sekolahnya adalah sosok bedebah yang dia kenal semasa di Produce Junior High School.

Mau apa dia kemari? Apa.. Jangan jangan dia akan bersekolah di Wanna Be? Oh shit! Ini gila, jangan sampai itu terjadi. Oh tuhan, lengkap sudah penderitaannya di Wanna Be.

Dengan tergesa, ia segera berlari meninggakan kantin dan menuju ruang kesehatan.

TBC