Ansatsu Kyoushitsu ©Yuusei Matsui
LIFE©Amaya Kuruta
Mengandung ke-OOCan akut, drama sekali, perlu banyak bumbu dan yang pasti banyak ranjau Typonya !
Jangan lupa berdoa sebelum menikmati (?)
Itadakimasu!
Chapter 2
Karma melebarkan matanya saat Koro sensei menyingkirkan lengan Nagisa. Darah. Darah mengalir segar dari lengan kanannya. Nagisa sudah gila! Ia memilih untuk hadir kesekolah dibanding kerumah sakit untuk mengobati lukanya! Apa-apaan itu?
" Nah, Nakamura-san.. apa kau siap? Hayami-san?" Kedua murid itu mengangguk. Kemudian Koro sensei mengambil darah mereka dan menyalurkannya pada Nagisa. setelah beberapa detik, Koro sensei melepas tentakelnya dari tubuh Nagisa dan kedua muridnya.
"Hmm.. sudah selesai. Sekarang tinggal menutup luka Nagisa-kun." Ucap Koro sensei dan mulai bekerja. Para murid yang ada disana hanya menatap tubuh Nagisa dalam diam. Sampai akhirnya Koro sensei mengusap dahinya.
"sukses. Sekarang Nagisa akan baik-baik saja." Ujar koro sensei. Keenam murid diruangan itu menghela nafas lega.
"Syukurlah.." Isogai berucap lirih. Koro sensei tersenyum dan menepuk kepala Isogai, Maehara dan Sugino.
"Nah sekarang, giliran kalian. Apa kalian mau menceritakan yang sebenarnya terjadi?" Tanya Koro sensei. Karma yang tadinya bersandar didinding segera berdiri di depan ketiga temannya. Begitupula dengan Nakamura dan Hayami yang nampak bingung dan penasaran. Ketiga orang itu saling berpandangan.
"Ini tentu untuk kebaikan Nagisa-kun. Dia sampai terluka separah itu, pasti ada alasannya bukan?" ucapan koro sensei membuat ketiganya semakin jengah.
"Hhh.. baiklah.. tapi kurasa kami akan menceritakannya jika pembicaraan ini tidak sampai keluar. Maksudku.. teman-teman yang lain tidak perlu tau." Isogai memberi syarat. Semua kepala mengangguk setuju.
"Nagisa.. dia diserang tadi pagi saat ia berjalan ke sekolah." Karma mengernyitkan matanya mendengar kalimat Isogai.
"Diserang? Siapa yang menyerangnya?" Tanya Nakamura.
"Jangan-jangan.. murid gedung utama." Terka Karma. Maehara menggeleng.
"Kalau memang murid gedung utama yang menyerangnya, pasti Nagisa sudah bisa menghindarinya, Karma." Jawab Maehara. Karma terdiam. Benar juga.
"Jadi, siapa? Apa dia pembunuh bayaran yang sebenarnya mengincar Koro sensei?" Tanya Hayami.
"Kau bisa bilang seperti itu. sebenarnya kami bertiga belum tau apakah dia mengincara Koro sensei atau apa. Tujuannya sangat tidak jelas." Jawab Isogai.
"Jadi? Bisa kalian beritahu sensei siapa pelakunya?" Tanya Koro sensei. Isogai menghela nafas.
"Dia.. Shinigami." Jawab Isogai. Dia bisa melihat ketiga temannya melebarkan matanya.
"Shinigami.. yang pernah menjebak Bitch sensei?" Tanya Nakamura memastikan. Sugino mengangguk.
"Kami tidak tau bagaimana ceritanya Nagisa bisa diserang olehnya. Saat kami sampai ditempat, kami mendengar suara Nagisa yang tengah berbicara dengan seseorang. Saat kami melihat lawan bicaranya, Isogai mengatakan bahwa kami harus bersembunyi. Karena kami tau pasti tubuh tak berwajah itu.. sama persis dengan milik Shinigami." Jelas Sugino.
"Kenapa kalian tidak menolongnya?" Tanya Karma dingin.
"Karma, saat kami tiba, Nagisa sudah terluka. Dan menurutku, akan lebih berbahaya untuknya jika kami muncul secara tiba-tiba. Shinigami berdiri dekat dengannya. Dan kami tak akan tau apa yang terjadi jika kami muncul didepan Shinigami. Salah-salah, kepala Nagisa bisa hilang sekarang." Bela terdiam. Menyadari betapa benarnya tindakan ketiga orang itu.
"Jadi, kalian tidak mendengar apa masalahnya?" Tanya Hayami. Isogai nampak menatap teman-temannya ragu. Apa ia harus menceritakan tentang pilihan Nagisa pada mereka?
"Jadi, jangan katakan apapun sampai aku menang, atau aku kalah. Kalian mengerti?"
"Isogai-kun?" suara Koro sensei memecah lamunannya. Ya, ia harus mengatakannya! Isogai mengangkat wajahnya dan menatap senseinya.
"Sensei.. Nagisa sudah memberi botol berisi antidote kepadamu, bukan?" Tanyanya. Koro sensei mengangguk.
"Botol itu, ia dapatkan dari Shinigami. Sebagai pertukaran, kurasa." lanjutnya.
"Pertukaran?" Tanya Nakamura. Maehara menggeleng.
"Bukan. Menurutku itu pemerasan, Isogai. Shinigami tau tentang perpecahan yang terjadi di kelas 3-E. dan dia memanfaatkan hal ini. yang kami tau, saat kami sampai disana, kami mendengar Shinigami menyebut-nyebut bahwa ia ingin mengambil wajah Nagisa." ujar Maehara.
"Tu-tunggu! jika ia ingin mengambil wajah Nagisa, bukankah itu berarti.." Sugino mengangguk.
"Ia akan membunuh Nagisa." jawabnya. Ruangan itu senyap. Sampai Karma memukul dinding dibelakangnya geram.
"Karma-kun, tenanglah." Koro sensei mengusap kepala Karma.
"Sensei.. si bodoh itu menukarkan sebotol antidote dengan wajahnya. Dan kau bilang aku harus tenang? Kenapa ia begitu bodoh?! Okuda atau siapapun bisa membuat antidote itu jika memang ternyata antidote itu ampuh bukan?!" Ujar Karma marah.
"Karma! Kau tidak tau apa yang terjadi! Kau fikir Nagisa sebodoh itu?" Suara Sugino meninggi.
"Hentikan! Kalian berdua bisakah tidak berkelahi? Kita membutuhkan solusi! Bukan pertengkaran lainnya!" lerai Isogai. Keduanya terdiam.
"Biar kulanjutkan. Saat itu Nagisa bertanya apa yang akan dia lakukan jika ia menolaknya.. dan Shinigami itu mulai menyinggung masalah perpecahan di kelas 3-E. dia.. memanfaatkan situasi ini untuk memojokkan Nagisa. dia mengancam Nagisa.." Isogai menggertakkan giginya. Maehara menghela nafas dan menepuk pundak Isogai.
"Nagisa sudah menolaknya. Ia sudah hendak mengembalikan botol antidote itu. Tapi, menolak hal itu sama saja dengan membunuh ibunya. Entahlah, kami tidak tau apa yang ditunjukkan oleh shinigami itu pada Nagisa. yang pasti kami tau ibu Nagisa sedang berada dalam bahaya jika Nagisa menolak untuk memberikan wajahnya. Karena itulah Shinigami memainkan permainan liciknya."
"untuk memberikan obat itu, Nagisa harus memenangkan pertandingan melawan Karma. Tapi.. jika Nagisa menang, dia harus memberikan wajahnya sebagai imbalan dari obat itu. dan kita semua tidak akan tersentuh oleh Shinigami."
"Jika dia kalah?" Tanya Karma. Maehara menatap Karma beberapa saat.
"Jika dia kalah, shinigami akan mengambil wajahmu. Itulah ancamannya, Karma." Jawab Maehara. Karma terdiam. Dia? Jadi Nagisa sebenarnya bertarung untuk.. dia?
"Bodoh! Dia bisa saja mengalah padaku bukan? Jika aku menang, dia tetap bisa memberikan antidote itu kepada Koro sensei. Dan tentu saja kita semua akan melindunginya!" jawab Karma kesal.
"dan membuat ibunya terbunuh? Karma, Nagisa tak memiliki keuntungan apapun disini. Antidote itu hanya pengalih saja! Kalau Nagisa menang, dia akan mati. Kalau Nagisa kalah, kau akan mati. Dan Kalau Nagisa menolak antidote atau menolak melakukan transaksi ini, ibunya yang akan mati." Jelas Isogai. Karma mengepalkan tangannya. Ia ingin membantah! Tapi.. apa? Apa yang harus ia katakan? Otaknya berkali-kali meneriakinya bahwa apa yang dikatakan Isogai itu benar. Tapi… sebagian dari dirinya tetap tak terima Nagisa harus memilih pilihan yang sangat tak masuk akal itu. kemudian setelah beberapa kali menghela nafas dan mencoba menenangkan dirinya, Karma menatap wajah pucat Nagisa-yang sama sekali tidak tenang- dan menoleh kearah teman-teman dan gurunya.
"Sekarang.. apa?" Tanyanya pelan. Semua orang diruangan itu terdiam. Sekarang apa yang harus mereka lakukan? Tak ada yang tau langkah aman apa yang harus mereka ambil. Salah bergerak sedikit saja, aka nada satu nyawa yang melayang. Meskipun Karma lebih suka membuang nyawa ibu Nagisa, tapi ia tau bahwa sahabatnya itu tak akan membiarkan itu terjadi.
"Ugh.." suara lenguhan dari bibir Nagisa membuyarkan lamunan orang-orang disana. Semuanya menoleh dan melihat kearah Nagisa. Perlahan mata itu membuka dan menerbitkan manik biru milik Nagisa. matanya mengerjap beberapa kali dan mencoba mengenali ruangan di jangkauan matanya itu.
"Nagisa.." Nagisa menoleh dan melihat raut wajah beberapa temannya yang menatapnya Khawatir. Kemudian matanya sampai pada manik pucat milik Karma. Keduanya bertatapan selama beberapa saat. Dan tiba-tiba Nagisa bangkit sambil melebarkan matanya. Ia melihat lengannya yang kini bebas dari luka serta aliran darah. Kemudian ia menoleh horror kearah Isogai, Maehara dan Sugino.
"Apa.." Nagisa kehilangan kalimatnya.
"Nagisa-kun.." Koro sensei mengusap kepala Nagisa lembut. " Kalau kau sebegitu inginnya menyelamatkanku, aku sangat menghargainya. Tapi lain kali, kau harus mempertimbangkan semuanya. Kau hampir mati kehabisan darah loh." Ujar Koro sensei. Nagisa terdiam. Ya, harusnya ia sudah kehabisan darah. Nagisa tau. Ia tau bahwa pertolongan pertama dari Isogai pagi tadi tak mempan. Luka dilengannya tetap mengeluarkan darah. Ia merasakannya meskipun tak sampai melihat sendiri. Kepalanya sangat pening saat bertarung melawan Karma tadi.
"Nagisa-kun.." Nagisa menoleh dan melihat Karasuma sensei tengah menatapnya dalam.
"Karasuma sensei…"
"Kuharap kau tidak keberatan tapi.. aku mengusulkan agar kau tidak tinggal dirumahmu sementara ini." ujar Karasuma sensei. Nagisa terdiam lalu menggelengkan kepalanya.
"Tidak, sensei.. itu hanya akan membuat semuanya bertambah rumit. Aku yakin shinigami pasti akan mengawasiku. Jika dia tau aku tidak tinggal di rumah, dia bisa membahayakan yang lainnya." Jawab Nagisa.
"Jadi kau lebih memilih menjadi korban disini?" Suara dingin Karma membuat Nagisa menoleh kearahnya.
"Bukan begitu, Karma-kun.. aku yakin jika kau tau masalahnya kau akan.."
"Aku sudah tau, Nagisa." Jawab Karma. Nagisa tertegun.
"Aku sudah tau. Dan aku tau kau pasti akan mengatakan andai aku berada pada posisimu. Aku tak akan mengelak jika aku akan melakukan hal yang sama denganmu. TAPI.." Karma menghela nafas perlahan. Nagisa menatap teman merahnya itu.
"Bukan berarti aku akan menjalankan semuanya sendirian, Nagisa.." jawab Karma. Nagisa tertegun. Karma menatapnya tajam. Koro sensei mengedipkan matanya beberapa kali dan meraih semua orang di ruangan itu kecuali Karma dan Nagisa. kemudian melesat keluar ruangan. Nagisa masih menunduk. Karma hanya menatap surai biru didepannya dalam diam. Kemudian Nagisa mengangkat wajahnya.
"Aku.. apa yang harus kulakukan, Karma.." ujarnya lirih. Karma terdiam lalu melangkah pelan. Ia mengangkat tangannya dan menepuk kepala Nagisa pelan.
"Aku.. aku tidak tau. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu, Nagisa." jawab Karma pelan. Kemudian ia mengangkat wajah Nagisa sehingga ia bisa menyelam didalam manik biru milik Nagisa.
"Tapi kau harus tau bahwa.. aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian, Nagisa." lanjut Karma. Nagisa menatap Karma dan mencari kepastian dimatanya. Kemudian ia menangis. Karma meraih kepala biru itu dan mendekapnya erat.
"Aku tidak akan membiarkannya menyentuhmu." Bisik Karma. Koro sensei melihat pemandangan didepannya dengan tatapan sendu. Dalam hati ia bertekad bahwa ia tak akan membiarkan Shinigami melakukan apapun yang menjadi tujuannya itu.
Ansatsu Kyoushitsu
"Ugh.. Karma, kau tidak perlu mengawasiku sampai dirumahku seperti ini bukan?" Tanya Nagisa saat melihat Karma berdiri dibelakangnya. Menunggu Nagisa untuk membuka pintu apartementnya. Dipunggungnya bertengger tas ransel berwarna hitam. Ia tersenyum.
"Oh, kau ingin bilang aku harus mengawasimu dari taman sebelah? Kau tega sekali, Nagisa~" ujar Karma. Nagisa menghela nafas lelah. Ia membuka pintunya dan menatap rak sepatu. Seperti dugaannya, sang ibu belum pulang.
"Kalau begitu masuklah." Nagisa mempersialhkan.
"Permisi~" Karma memasuki apartement milik Nagisa dan memandang sekitarnya.
"Tak banyak berubah.."Pikirnya.
"Karma, kau tak keberatan jika harus terus berada dikamarku kan?" Tanya Nagisa. Karma tersenyum dan menggeleng.
"Tak masalah. Lagipula, jika ibumu tau aku menginap dirumahmu selama seminggu akan jadi masalah bukan?" Karma memakai sandal rumah yang baru saja disediakan oleh Nagisa. Nagisa hanya mengangguk pelan dan berjalan menuju Kamarnya. Karma mengikuti tubuh mungil didepannya sambil bersenandung kecil. Ia tersenyum saat mengingat perdebatan yang terjadi beberapa jam yang lalu.
"Tidak Karma! Kau tak perlu menjagaku sampai dirumah. Aku yakin Shinigami tak akan menyentuhku dirumah. Lagipula kaa-san akan curiga!"
"He? Kukira ibumu sudah menjadi sandera dari Shinigami. Jadi kenapa dia masih harus pulang ke tempatmu?"
"Karma, yang kulihat adalah foto Kaasan tanpa ada tali yang mengikatnya atau selotip yang membungkam mulutnya. Jadi kufikir, Shinigami tidak menahannya." Jawab Nagisa. Karma terdiam sembari menatap surai biru itu tajam.
"Tidak. kita tak tau apa yang akan dilakukan oleh orang selicik itu. jadi, kau mau atau tidak, aku akan tinggal dirumahmu sampai Shinigami itu tertangkap." Tegas Karma. Nagisa menghela nafas.
"Baiklah.. tapi berjanjilah kau tak akan bertindak bodoh. Cukup diam didalam ruanganku, bagaimana?" Tawar Nagisa. Karma tersenyum penuh kemenangan.
"Ok~."
"Karma, tunggu disini.. aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi. Kau harus mandi sebelum ibuku datang." Ujar Nagisa. Karma hanya membalas dengan gumaman tak jelasnya dan berjalan menuju rak buku milik Nagisa. dia mengambil sebuah komik yang tersedia dan menjatuhkan dirinya di lantai. Dia mulai membaca sembari menunggu Nagisa selesai dengan air hangatnya. Lima menit kemudian, Nagisa membuka pintu kamarnya.
"Air panasnya sudah siap, Karma." Ujar Nagisa. Karma meletakkan komik ditangannya dan mengambil handuk yang sudah disediakan Nagisa.
"Nah, kau mandilah. Aku akan menyiapkan makan malam selagi kau mandi. Malam ini pasta.. kau.. tak masalah bukan?" Tanya Nagisa ragu. Tidak, masakan Nagisa sebenarnya termasuk makanan yang sangat bisa dimakan. Rasanya tidak buruk. Tapi tetap saja jika dibandingkan dengan seorang Akabane Karma, masakannya masih berada di bawahnya. Karma melambaikan tangannya. Tanda bahwa ia sama sekali tak masalah dengan menu itu. Nagisa menghela nafas dan tersenyum. Ia segera meninggalkan koridor lantai dua dan turun menuju dapur.
Ansatsu Kyoushitsu
"Hmm.. masakanmu boleh juga, Nagisa." ucap Karma sambil menyuap pastanya. Nagisa tertawa kecil.
"Hentikan, Karma. Masakanmu jelas lebih enak dari ini." elak Nagisa. Karma tak menggubrisnya dan melanjutkan makanannya. Kemudian ia melihat Nagisa meletakkan sendoknya.
"Setelah ini akan kusiapkan futonnya. Kau bisa tidur dikasurku, Karma." Nagisa menawarkan. Karma menggeleng.
"Tidak baik membuat gadis kecil kehilangan istana kasurnya." Jawab Karma. Nagisa menatap Karma datar.
"Ugh.. aku lupa kau bisa sangat menyebalkan." Gumam Nagisa. Karma tertawa kecil.
"Sebelum kau sibuk dengan futon dan yang lainnya, selesaikanlah makanmu. Kau sudah cukup memenuhi kualifikasi istri yang baik, Nagisa. jadi jangan khawatir. Nagisa memerah mendengar jawaban Karma. Jujur saja, ia sangat ingin melempar sisa pastanya kewajah yang tersenyum santai tanpa mengerti situasi dan kondisi itu. beberapa saat mereka asyik menlahap pasta buatan Nagisa. sampai akhirnya piring-piring itu kosong. Nagisa membereskan meja selagi mulutnya menyuruh Karma untuk segera enyah dari ruang makan. Ia tak ingin saat ibunya datang, Karma masih ada disana. Karma menyempatkan diri untuk menggoda Nagisa sebelum menghilang dari ruangan itu. setelah selesai membereskan dapur dan ruang makan serta menyimpan jatah pasta ibunya, Nagisa mengambil futon dari lemari diruang tengah dan membawanya ke kamar.
"Karma, bantu aku." Ucap Nagisa yang kesusahan membuka pintunya. Kemudian pintu terbuka dan Nagisa segera melangkah masuk. Ia menggelar futonnya dan menyiapkan bantal dan guling untuk Karma.
"Nah, sebaiknya kita tidur. Kau akan tidur dima-" kalimatnya tak selesai saat melihat Karma segera merebahkan dirinya di futon yang baru disiapkan Nagisa.
"Nah, sebaiknya kau juga segera mengganti seragammu itu dan tidur, Nagisa." ujar Karma. Nagisa tertawa kecil.
"Akan kulakukan setelah aku mandi. Ingat.. apapun yang terjadi, jangan meninggalkan kamar ini." ujar Nagisa. Karma mengernyit.
"Termasuk jika Shinigami datang untuk mengambil wajahku atau wajahmu?" Tanyanya. Nagisa memutar bola matanya.
"Kau tau apa yang kumaksud, Karma." Ucapnya sembari meraih baju gantinya dan keluar menuju kamar mandi. Karma tersenyum dan kembali meraih komik yang tergeletak disampingnya. Satu buku selesai, dan ia bisa mendengar suara teriakan dari bawah sana.
Ansatsu Kyoushitsu
Nagisa baru saja keluar dari kamar mandi saat suara teriakan ibunya terdengar. Baiklah, apa lagi sekarang? Nagisa bergegas menuruni tangga dan menghampiri ibunya yang menatapnya tajam dari arah pintu masuk.
"Okaeri.. Kaa-san." Sapa Nagisa pelan. Ia tau bahwa ibunya tengah marah kepadanya. Tapi.. apa yang membuat ibunya marah? Kemudian matanya tertuju pada kalung yang digunakan ibunya. Matanya melebar.
"Kaa-san.. kalung itu.."
"Diam Nagisa! diam! Sekarang hanya kaa-san yang akan berbicara disini!" Potong ibunya. Nagisa menatap ibunya tidak mengerti. Kemudian ia mengambil sesuatu dari tasnya dan menunjukkannya kepada Nagisa.
"Kau.. kau tidak tau diri! Kau membuat kaa-san malu!apa yang kurang dari anak ini? lihat, dia tampan, Nagisa! kau menolaknya dengan cara yang sangat tidak sopan!" Hiromi Shiota mulai menaikkan intonasi suaranya. Nagisa melihat foto didepannya dan melebarkan matanya. Itu adalah foto jelmaan Shinigami yang ia temui pagi tadi.
"Kau lihat, bahkan dia mengirimkan perhiasan-perhiasan ini untuk kaa-san.. lihat.." Hiromi memamerkan perhiasan di tangan, jari dan lehernya.
"Kaa-san.. perhiasan itu.. itu berbahaya.. kumohon, lepas perhiasan itu.." Nagisa mencoba meyakinkan ibunya. Namun Hiromi menatap Nagisa dingin.
"Nagisa.. kurasa kau memang harus mendapat pelajaran lebih banyak lagi. Kau menyuruh ibu mengembalikan ini semua agar ibu berhenti menjodohkanmu bukan?" Hiromi tersenyum. Tapi dimata Nagisa, itu adalah hal yang membahayakan.
"TIDAK AKAN, ANAK BODOH! Kau tidak tau bagaimana ibu berusaha memilihkan pria baik untukmu? Kau benar-benar tidak bisa bersyukur! Ikut aku!" Hiromi menarik kasar tangan Nagisa. Nagisa tertatih berusaha melepaskan diri. Namun Hiromi jauh lebih kuat dari Nagisa.
"Kau akan belajar, Nagisa.. kau akan belajar.. dengar, dia bahkan memberitahu kaa-san bagaimana cara mendidikmu.. akan kaa-san tunjukkan kepadamu." Hiromi menghempaskan Nagisa kedalam ruangan kecil yang kemudian Nagisa sadari adalah ruang baca ibunya. Hiromi mengambil sebuah tongkat dan memukul alat pemanas ruangan. Nagisa menatap Hiromi horror.
"Ka-Kaa-san.. itu berbahaya.." Ucap Nagisa. bibirnya bergetar.
"Kaa-san akan mengeluarkanmu jika kau sudah menyesali semua ucapanku. Dan Nagisa, hari minggu nanti, kau akan bertemu dengannya. Kalian berdua. Hanya berdua. Karena itu, jadilah anak yang baik." Hiromi menutup pintu ruangan kecil itu. Nagisa mendorong pintu didepannya. terkunci. Kemudian ia memukul pintu itu.
"Kaa-san, kumohon! Kau membuat alat pemanas ini bocor.. ini bisa membunuhku!" Teriak Nagisa. namun taka da jawaban. Nagisa menggigit bibirnya. Apa yang harus ia lakukan? Terkurung diruangan tertutup dengan alat pemanas yang bocor bukanlah keadaan yang menguntungkan. Gas yang dikeluarkan jelas berbahaya untuk paru-parunya.
"Sial! Apa yang harus kulakukan?" Nagisa berusaha mencari cara untuk keluar dari ruangan itu. tapi ruangan tanpa jendela itu sama sekali tak memberi ide bagi Nagisa. lima menit berlalu dan kepalanya mulai pusing. Dadanya mulai sesak. Nagisa berjalan menjauh dari alat pemanas dan bersender didinding. Saat itulah ia teringat sesuatu. Ia memukul dinding dibelakangnya sekuat tenaga. Berharap Karma belum terlelap dan datang menyelamatkannya.
Ansatsu Kyoushitsu
Karma berusaha mendengarkan pertengkaran anak dan ibu itu dengan seksama. Tak perlu mengetahui semua isi pembicaraan untuk membuatnya mengerti apa yang sebenarnya tengah diperdebatkan keduanya. Kemudian Karma bergegas mencari tempat sembunyi saat mendengar langkah kaki yang berjalan tergesa kearah kamarnya. Ia melihat lemari pakaian Nagisa dan melompat kedalamnya. Kalau saja bukan karena permintaan Nagisa, ia pasti sudah keluar dan menggeret Nagisa dari ibunya. Ia bisa mendengar suara pintu berdebam dari ruangan disebelah kamar Nagisa. jadi Nagisa tidak dibawa ke kamarnya? Lima menit berlalu dan Karma masih berusaha mendengarkan. Ia tau apa yang terjadi. Nagisa belum memasuki kamarnya. Itu tandanya, Hiromi mungkin menyekapnya atau menghukum sahabatnya itu diruang sebelah. Ia membuka pintu lemari dan keluar dari sana. Saat itulah ia mendengar dengan samar suara ketukan dari dinding disebelahnya. Karma mengernyitkan matanya dan berjalan kearah jendela. Ia menjulurkan kepalanya dan melihat kekanan dan kekiri. Sepertinya taka da jendela yang bisa membantu Nagisa untuk kabur. Ia meraih ponselnya dan memencet beberapa nomer.
"Moshi-moshi, sensei?"
Ansatsu Kyoushitsu
Koro sensei hanya butuh waktu 3 detik untuk sampai kerumah Nagisa. tepatnya kekamar Nagisa.
"Ah, Karma-kun.. dimana Nagisa?" Tanyanya.
"Kurasa ia ada diruangan sebelah. Tak ada jendela untuk membantunya kabur." Ujar Karma. Koro sensei berjalan keluar dari kamar Nagisa diikuti Karma. Setelah memastikan Hiromi tak ada, Koro sensei memegang pintu kayu tersebut. Kemudian ia terkesiap. Karma menatap gurunya heran.
"Karma-kun, buka jendela kamar Nagisa lebar-lebar dan siapkan pakaian ganti untuknya! Cepat!" Meski tak mengerti, namun Karma tau ada sesuatu yang tak beres dengan Nagisa. Karma segera menjalankan titah koro sensei. Koro sensei membuka pintu itu dengan tentakelnya, dan melebarkan matanya. Dugaannya benar. Bau dari alat pemanas ruangan yang menyengat itu.. dan ia menangkap sosok biru itu terkulai lemas dilantai.
Ansatsu Kyoushitsu
-TBC
Fufufu.. ingat.. ingat.. ini ANGST! ANGST! Dan saya lagi nafsu banget nyiksa character/woi!
Yamashita Takumi9: fufufu iya.. kayanya*eh*. Saya juga merasakan hal itu.. bagaikan kembang api disiang hari percikannya. Panas-panas ambigu XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Nurmala: Selamat menikmati ^^/. Ternyata cerita ini menggemaskan (?). terimakasih sudah mampir J
Kawaii Neko: kalau karunagi hint bertebaran kok. Saya kan jualan XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Hani Ninomiya Arioka: iyaaa udah lanjuuut. Terimakasih sudah mampir ^^
Shizuka Yomu:Sama aku juga ga bisa nebak alurnya*lah
kalau diatas, genrenya angst-hurt comfort. Tapi seperti biasa lah.. kalau saya nulis alurnya jadi kaya es campur XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Nakamoto Yuu Na: mm… saya putuskan gak mati aja deh.. kalau mati takut tamat ceritanya*plak. Terimakasih sudah mampir ^^
Kiyona: astaga.. biasanya kalian selalu berdua ^^. Eh? Biasanya gimana? Saya ga pernah nyadar sama alur yang penting ketik XD. Terimakasih sudah mampir ^^
Dan untuk semua review, follow, fav, PM.. Terimakasih banyaaak I Love You ^^
Jaa!
