Chapter 2

Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T

Warning: Ooc, Typo(s), dan warning lainnya.
.

Malam semakin pekat. Denting waktu terus berputar. Kerlip bintang bersembunyi di balik awan kelam. Udara yang membeku semakin menambah kesunyian malam. Nyanyian sang katak mulai terdengar bersahutan. Tak kalah, kawanan jangkrik pun ikut bersuara. Tetes demi tetes air mata langit mulai membasahi sang bumi. Rintik hujan yang semakin menderas, tak lupa kilatan petir yang menghiasi riuhnya hujan yang beradu. Angin kencang menggoyangkan pepohonan, bergulung dalam derasnya hujan.

Matsuri menatap derasnya hujan dengan sendu. Tangannya meraba pada dinginnya kaca jendela. Menyentuh, seolah dengan itu ia juga bisa menyentuh hujan di luar sana. Ia termenung menatap guyuran air langit. Sedikit tersenyum, ia menghela nafas panjang. Di saat sendirian seperti ini, entah mengapa ia merasa sedih apabila mengingat penolakan Gaara waktu itu. Mungkin ia bisa menutupinya saat di sekolah, itu pun karna ada teman-temannya yang selalu menghibur dirinya.

Ia berbalik, berjalan menuju ranjang miliknya. Dengan lesu, ia meraih sebuah kotak yang ada di atas meja dekat ranjang miliknya. Ia dudukan dirinya pada tepi ranjang dan memangku kotak itu. Dipandanginya dengan sendu dan mengusap lembut kotak tersebut. Perlahan ia buka penutup kotak itu, dapat ia lihat sebuah boneka teddy bear kecil yang sedikit kusam karna sudah lama tak tersentuh.

Diraihnya boneka itu, diusap dan dimainkan seperti saat ia kecil. Ia tersenyum lebar, sepertinya dengan bermain dengan boneka itu Matsuri sedikit merasa senang. Bermain boneka yang didekapnya, mengingatkan pada kejadian 12 tahun lalu.

Dimana saat ia berusia 5 tahun menangis tersedu-sedan karna boneka miliknya hanyut ke sungai. Ia tidak bisa menghentikan tangisnya karna boneka itu boneka kesayangannya. Sampai...seorang bocah laki-laki berambut merah datang dan menyodorkan sebuah boneka pada Matsuri. Bocah laki-laki yang tak lain adalah Gaara kecil.

Matsuri saat itu bingung dengan tingkah bocah laki-laki asing yang memberikannya boneka.

"Untukku?" Tanya Matsuri kecil dengan wajah polosnya. Isak tangisnya tlah hilang berganti wajah kebingungan.

"Iya, itu untukmu. Suara tangismu membuat telingaku sakit!" Jawab Gaara kecil dengan nada ketus.

"Ah, arigatou," ucap Matsuri girang dan memeluk boneka itu dengan erat. Ia teramat senang karna memiliki boneka kembali. Senyumnya tak pernah hilang dari bibir cherrynya.

Gaara kecil hanya memutar bola matanya melihat tingkah gadis kecil di depannya. Kemudian dia berjalan pergi menjauh dari gadis itu karna memang urusannya telah selesai.

"Eh, tunggu! Siapa namamu?" Teriak Matsuri yang melihat Gaara mulai menjauh.

"Itu tidak penting!" Jawab Gaara berlalu sembari berlari.

"Aku Matsuri. Terima kasih bonekanya," teriak Matsuri kencang melambaikan tangan. Ia menggenggam erat boneka itu dan ia membatin 'Aku harus mencari tahu siapa dia?'.

Sejak itu, Matsuri sangat senang berkunjung ke taman dekat sungai kecil dan menunggu jikalau bocah laki-laki itu datang kembali. Lelah akan penantiannya, ia mencari tahu kepada anak kecil yang seumuran dengannya. Dan info yang Matsuri dapat bahwa bocah itu bernama Sabaku no Gaara. Tapi, ternyata keluarga Sabaku telah pindah dari Suna sejak beberapa hari yang lalu. Berarti pertemuan waktu itu adalah hari terakhir Gaara berada di Suna sebelum berpindah ke Konoha. Tapi Matsuri tidak berputus asa. Ia bertekad saat ia besar ia akan menyusul Gaara. Ia berjanji.

Matsuri terhenyak dari lamunannya tentang masa lalunya. Ia kembangkan senyumnya. Ia mulai membaringkan tubuhnya dengan mendekap boneka miliknya. Mendekap seolah boneka itu adalah Gaara, sang pemberi boneka. Ia mulai memejamkan matanya. Esok hari minggu, ia berencana akan pergi ke sebuah toko tekstil untuk membeli benang woll. Ia berniat membuat sebuah sweater untuk Gaara, karna bulan ini sudah memasuki musim dingin. Yah, malam ini ia harus istirahat cukup untuk esok. Ia naikan selimut merah miliknya dan mulai terlelap.

.

.

.

Pagi yang cerah di hari minggu. Banyak kaum muda lalu lalang untuk berjogging. Dan para orang tua yang ingin melemaskan kaki dengan berjalan kaki santai. Mobil-mobil pribadi tlah keluar dari sarangnya, siap mengantarkan sang majikan menuju tempat liburan. Anak-anak kecil bersorak gembira. Hari minggu bagi mereka sangatlah berarti. Dimana hari itu bebas dari kerjaan yang menumpuk di kantor atau pelajaran yang berjibun untuk para pelajar. Burung-burung berkicau riuh. Benyanyi merdu menyenandungkan keindahan alam. Embun-embun segar menetes dari daun-daun hijau segar. Sang mentari tersenyum hangat menyaksikan semua makhluk bergembira menyambut dirinya.

Di sebuah kamar rumah sederhana milik keluarga Yamanaka, seorang gadis nampaknya baru saja bangun dari mimpinya. Ia mendudukan diri dengan malas. Duduk termangu memandang selimut miliknya dengan sayu. Denting-deting jarum jam terdengar kencang dalam keheningan kamar milik bungsu Yamanaka.

Ino masih duduk terdiam, sesekali ia menguap dan mengucek matanya yang terasa begitu berat. Dengan malas ia menggeser tubuhnya ke tepi ranjang. Kaki jenjangnya ia turunkan menyentuh dinginya lantai kamar miliknya. Bangkit berdiri masih dengan setengah sadar, ia berjalan menuju kamar mandi yang kebetulan menyatu dengan kamar.

Kembali ia termangu di depan cermin wastafel. Menyalakan air keran. Sensasi dingin langsung menyerang kulit tangan Ino, membuat Ino sedikit merinding. Dibasuhnya wajah ayu Ino dan tak lupa membersihkan dengan pembersih wajah yang biasa ia gunakan.

Ino menghela nafas, rencananya hari ini ia ingin berjogging, tapi semalam dengan seenaknya kakaknya, Yamanaka Deidara mengajaknya bermain game hingga pukul 2 dini hari. Wajar saja saat ini Ino masih mengantuk. Seharusnya ia bisa saja tidur hingga jam 10 siang, tapi ia harus memasak untuk dirinya dan kakak semata wayangnya. Mengingat mereka hanya tinggal berdua setelah orang tua mereka meninggal. Berbicara tentang Deidara, ia rasa kakaknya ini pasti masih bergelung di dalam selimutnya.

Ino tersenyum. Meskipun kakaknya ini sibuk bekerja, ia pasti meluangkan waktunya untuk Ino di hari liburnya. Biasanya Deidara akan mengajaknya bermain game, menonton film di rumah atau mengajaknya jalan-jalan ke mall. Ino rencananya akan memasak makanan kesukaan Deidara hari ini. Ia yakin Deidara akan senang sekali bila dirinya memasak teriyaki dan juga sup brokoli. Membayangkan kakaknya yang lahap makan membuat Ino semakin bersemangat. Lalu ia berjalan ke arah bath up yang sebelumnya ketika masuk ia isi. Melepas semua pakaian tidurnya, Ino mencelupkan dirinya ke dalam bath up. Sensasi hangat menelusup ke kulit putih Ino, merilekskan otot-otot yang lesu. Ino memejamkan mata, menyandarkan kepala pada tepi bak. Ia menghela nafas merasakan kenyamanan dari air hangat. Bagi Ino, ini suatu alternatif di saat tubuhnya malas, lemas dan lesu. Setidaknya ini ampuh mengusir rasa malas yang biasa menyerang seseorang di pagi hari. Dan setelah ini, Ino siap bertempur dengan alat dapur dan bahan-bahan makanan untuk menciptakan sebuah magic dalam masakan.

Sementara itu, di depan pintu keluarga Yamanaka, berdiri 2 orang pemuda berambut gelap.

Tok tok tok

Lelaki jangkung berambut panjang diikat satu itu mengetuk pintu bercat kuning gading milik rumah Ino. Sesekali ia berteriak memanggil nama "Deidara", nama sahabatnya itu.

"Deiiiii"

Tidak ada sahutan dari yang empunya rumah. Lelaki itu tetap tak putus asa mengetuk pintu. Sedangkan lelaki yang lebih muda hanya mendengus melihat tingkah kakaknya itu.

"Kau yakin ini rumahnya, baka aniki?" tanya pemuda lebih muda, sedikit menaikan sebelah alisnya.

"Tentu saja, Sasuke. Aku takan lupa rumah kawanku sendiri," jawab lelaki berkucir tadi.

"Hn" guman pemuda yang dipanggil Sasuke itu. Ia tetap berwajah datar dan dingin.

Sedangkan lelaki berkuncir aka Itachi itu hanya menghela nafas mendengar tanggapan dingin adiknya itu.

Lalu ia kembali fokus mengetuk pintu rumah sahabatnya dan memanggil-manggil nama sahabatnya itu.

Lagi-lagi tak ada sahutan. Itachi yang sedikit kesal mencoba memutar knop pintu dan 'klik' pintu terbuka. Ia menatap ke arah adiknya dan mengangguk, lalu ia mulai melangkah masuk diikuti Sasuke di belakangnya.

Itachi mengecek setiap ruang di lantai bawah, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Deidara berada di sana. Ia mulai menaiki anak tangga satu demi satu, begitu pula Sasuke yang masih saja mengekor.

Setelah mencapai lantai 2, Itachi dan Sasuke berjalan menuju sebuah kamar dengan pintu bercat soft purple. Sesampainya di depan pintu, Itachi mengulurkan tangannya memegang knop pintu.

Cklek

"Dei?"

"Kyaaa keriput mesum!"

Ino yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menjerit keras. Ia terkejut dengan kedatangan pemuda asing yang tidak ia kenal. Tangan kirinya memegang handuk yang membalut tubuhnya agar tidak merosot. Karna kalap, Ino melempari pemuda asing itu dengan benda-benda yang bisa teraih tangannya.

"Dasar mesum!"

"Oi oi tunggu! Aku tidak mesum!" Bela Itachi sembari menghindari barang-barang yang dilempar gadis pirang di hadapannya.

"Dasar, sudah mesum! Tidak mau mengaku!" Seru Ino kembali.

"I-ini tidak seperti yang kau kira!" Sahut Itachi sedikit tergagap.

Sasuke yang berada di belakang Itachi sedikit penasaran. Kenapa kakaknya berkata kencang? Di dorong penasarannya, Sasuke menyembulkan kepalanya ke dalam dan 'bugh' sebuah vas bunga kayu mengenai kepalanya. Ia merasakan kepalanya berputar, sebelum akhirnya terjatuh.

"Sasukeee"

Deidara menghela nafas kemudian mendengus kesal. Diliriknya tamu yang mengganggu tidurnya. Tamu yang merupakan teman sewaktu di Elementary High Schooll. Ia juga melirik Ino yang tengah mengobati kening Sasuke yang sedikit benjol akibat ulang gadis itu.

Awalnya, Deidara yang tengah tertidur pulas mendengar suara gaduh dari kamar sebelahnya, tepatnya kamar milik adiknya. Ia pikir itu suara Ino yang tengah memasak, jadi ia tidak begitu ambil pusing dan kembali menaikan selimutnya.

"Sasukee"

Mendengar suara yang bukan suara adiknya, Deidara langsung terlonjak. Dan ia yakin bahwa itu suara laki-laki. Sebagai kakak yang baik, tentunya ia tidak ingin adik perempuan satu-satunya itu terserang virus playboy. Begitu bangkit, ia berlari menuju kamar Ino. Ia tak mempedulikan penampilan hancur bangun tidur itu. Sesampainya, Deidara sudah menemukan dua pemuda asing yang berada di kamar adiknya. Dan salah satunya tengah jatuh pingsan. Amarah Deidara mendidih, ia hampir melayangkan tinjunya ke arah Itachi kalo saja pemuda itu tak mengatakan namanya.

Ino yang telah selesai menempelkan plester di kening Sasuke segera membereskan alat medisnya. Ia melirik Deidara yang masih berwajah masam. Dan Ino pun melirik ke arah Itachi dan Sasuke duduk tenang.

"Jadi? Ada perlu apa kau ke sini pagi buta begini,un?" Tanya Deidara.

"Hei, kenapa kau bertanya seolah tidak senang kalau aku berkunjung? Dan oi ini sudah siang, Dei!" Ucap Itachi dengan santai.

"Kau mengganggu keriput!"

Ctak

Timbulah perempatan urat di keningnya. Setelah adiknya yang mengatai dirinya keriput, kenapa kini sahabatnya juga ikut-ikut? Oh ini sangat menyakitkan. Hei, apa salah keriputnya? Keriputnya ini kan bagian dari SENI (Sentuhan Era Nian Indah). Itachi mendengus kesal melirik tajam sahabatnya itu.

"Kau tetap tidak berubah, Dei. Selalu menjadi gadis cerewet," Itachi menyerigai penuh kemenangan saat dilihatnya Deidara mulai meledak.

"Aku bukan gadis, baka," bentak Deidara kesal. Ia menjitak kepala Itachi keras. "Aku ini lelaki sejati dan tampan!" Sambungnya.

Itachi ingin sekali tertawa terpingkal-pingkal kalau ia tidak ingat bahwa dirinya keturunan Uchiha. Ia menggeleng kepala geli. Tampan? Hei, sahabatnya itu lebih pantas dibilang cantik dan manis. Itachi memperhatikan Deidara dengan intens. Ia yakin jika Deidara mengaku sebagai seorang perempuan, orang lain pasti akan percaya. Rambut pirang, mata biru dan badan yang ramping membuat julukan uke termanis menempel pada dirinya.

"Hei Dei-nii, mereka siapa?" Tanya Ino yang bingung dengan kedua orang asing di hadapannya.

"Kau pasti Ino, hei, kau tidak ingat dengan kami?" Ucap Itachi menatap Ino penuh harap.

Ino hanya menggeleng. Sungguh, ia lupa atau memang sebelumnya tidak pernah bertemu.

"Ya ampun, tega sekali kau melupakan kami," ucap Itachi lagi dengan raut yang seolah terluka.

"Mereka uchiha bersaudara. Itachi dan Sasuke," kata Deidara dengan bosan.

Itachi?

Sasuke?

Ino mencoba menggali ingatannya tentang dua nama itu. Ia merasa tak asing dengan nama itu.

" Itachi, yang dulu suka menggendongmu di punggungku," ucap Itachi antusias, berharap gadis kecil yang dulu disayanginya mengingat dirinya.

Sriiiinggggg

Seperti potongan puzle yang mulai terpasang kembali. Ino ingat! Ia mulai mengingat siapa nama Itachi itu.

"Ah, iya," pekik Ino dengan senang. Itachi mengangguk menunggu kata Ino selanjutnya. "Itachi yang suka mengintip di pemandian air panas itu kan?"Sambung Ino dengan senyum lebarnya.

Doeengg

Itachi sweatdrop. Di antara banyak kenangan, kenapa Ino hanya mengingat tingkah nistanya masa dulu? Rasanya Itachi ingin sekali pundung dipojokan sambil menggaruk tembok. Greget!

"Kemana anak manja yang suka mengekor Ita-nii?"

"Uhuk uhuk" Sasuke terbatuk dari minumnya saat mendengar ucapan Ino. Oh Tuhan, jangan sampai gadis pirang ini mengatakan hal nista di depan kakaknya. Dan juga semoga kakaknya tidak mengatakan bahwa dirinyalah yang dimaksud Ino.

"Maksudnya Sasuke? Itu di sebelahmu,"

Baru beberapa menit ia berharap, tapi detik kemudian justru yang ia takutkan malah terjadi. Ia mendengus kesal dan memalingkan wajahnya dari Ino yang menatapnya intens.

"Ne, benarkah kau cowo manja itu? Yang menangis memanggil-manggil 'Ita-nii tolong aku' sambil menangis karna tidak bisa turun dari pohon,hm?" Tanya Ino dengan wajah polosnya.

Itachi dan Deidara tertawa tertahan. Kalo benar yang Ino katakan, mereka ingin melihat wajah 'menggemaskan' Sasuke. Mereka ingin melihat wajah selain wajah stoic Sasuke.

Sedangkan Sasuke hanya diam dan menguarkan aura hitam pekat. Kalau Ino masih menyerocos tentang dirinya di masa lalu, ia berjanji akan menyumpal mulut Ino dengan kaos kaki Itachi yang bau ikan asin itu.

.

.

.

Matsuri baru saja keluar dari sebuah toko tekstil. Tanganya menenteng sebuah kantung plastik bergambar toko tersebut. Matsuri tersenyum girang. Ia berjalan sembari mengayunkan bawaanya dan sedikit ia bersenandung kecil.

Langkahnya terhenti saat melihat sosok Gaara yang tak jauh darinya tengah berjalan sendirian. Dengan celana jins dan sebuah jaket jeans membuat penampilan Gaara terlihat cool.

Matsuri mengerjapkan matanya, menyakinkan bahwa dirinya tidak salah lihat. Tak lama, senyumnya terkembang kembali. "Hai, Gaara," panggil Matsuri dari kejauhan, tangannya melambai-lambai ke arah Gaara.

Gaara tetap diam dan berjalan santai seperti biasanya. Meskipun ia melihat gadis berambut coklat tengah menghampiri dirinya.

"Hei Gaara, kau membeli apa kemari, hm?" tanya Matsuri basa-basi. Gaara hanya menjawabnya dengan menaikan sedikit lebih tinggi sebuah bungkusan plastik. Matsuri hanya ber'oh'ria.

"Bagaimana kalau kita mampir ke toko es krim?"

Belum sempat menjawab, Gaara sudah ditarik paksa oleh gadis itu. Yang benar saja, ini kan memasuki musim dingin, kenapa gadis itu justru mengajaknya minum eskrim? Harusnya kan minuman yang bisa menghangatkan tubuh di tengah cuaca dingin seperti ini. Tak mau ambil pusing, ia hanya bisa pasrah mengikuti kemana gadis itu mengajaknya.

"Ne Sasuke, ayo temani aku ke toko itu! tadi aku melihat sebuah buku yang menarik," ucap Ino, tanganya menggenggam erat pergelangan tangan Sasuke dan memaksa pemuda stoic itu mengikuti langkahnya. Tadi setelah perdebatan panjang yang dilakukan kakanya dan Itachi akhirnya mereka sepakat untuk berjalan-jalan ke Konoha Square. Dan di sinilah ia berada, berjalan cepat dan terus menggenggam tangan milik Sasuke. Menyeret masuk ke dalam toko buku, ia sudah mengincar sebuah buku yang sangat ia ingini. Sasuke terdiam memandangi jemarinya yang bertautan dengan milik Ino. Ia berjalan mengekor gadis di depannya. Seulas senyum terukir di bibir cherrynya, dan manik onixnya masih betah memandangi tangan yang bertautan dengan milik Ino.

Gaara berusaha untuk tidak mendengus saat Matsuri menyeretnya masuk ke dalam kedai es krim yang terletak berseberangan dengan sebuah toko buku. Ia mengaduk-aduk es krimnya dengan tidak berselera bahkan dia mengabaikan Matsuri yang sedari tadi menyerocos tanpa henti. Manik azurenya ia toleh kan ke arah jendela. Ia sedikit menyipit dan mengernyitkan keningnya saat ia melihat siluet rambut pirang yang tengah berdiri di dalam toko buku seberang tempatnya. Ia terus mengamati gadis itu dan sedikit heran saat ia melihat seorang pemuda yang seumuran dengannya berjalan mendekati gadis itu. Sedikit mendengus ia menolehkan pandangan ke arah Matsuri yang masih saja berbicara.

Tangan Gaara terjulur menyentuh bibir Matsuri dengan jempolnya. Matsuri tersentak kaget mendapatkan perilaku manis Gaara, tanpa ia bisa tahan rona merah menghiasi pipi putihnya. Matsuri sedikit menunduk demi menutupi wajah meronanya. Tapi ia masih tetap merasakan lembutnya tangan Gaara yang mengusap bibirnya.

"Es krimu belepotan,"

Deg

Ino tersentak kaget melihat Gaara tengah memegang pipi Matsuri dengan tatapan lembut. Ada apa ini? Bukankah Gaara sudah menolak Matsuri? Lalu kenapa ia melihat hal ini. Kenapa? Entah apa yang ia rasakan saat ini. Yang Ino tahu bahwa hatinya merasa kesal , sebal dan ingin pergi. Ia tak ingin merasakan lebih dari ini. Gggrr Ino menggeram kesal, lalu ditariknya dengan paksa tangan milik Sasuke.

"Aku mau pulang!"

.

.

.

To be continued….

Yosshh bagaimana chap ini? Pasti mengecewakan yah hiks hiks #nangis_gegulingan biarpun begitu semoga kalian suka. Dan tak lupa tinggalkan jejak. Itupun ga maksa loh #ngacungin_golok..

Yosh.. terimakasih buat riview kalian di chap 1, ga nyangka deh bakal ada yg suka apalagi berkenan nge'fav. Sorry.. sorry.. sorry lagi-lagi ga bisa balas atu-atu.. sekian bacotan cewe imut ini dan terima gaji… hahaha

Salam cinta dari Chimi… #lambai_lambai_pantat