SEE YOUR THIRD FINGER
Kim Taehyung x Jeon Jungkook (GS)
BTS and some characters belong to God, their parents, and their agency.
Rated T
Warn: GS! semi-non-baku, Typo(s), boring, etc
Enjoy yas!
"Dek," panggil Taehyung ketika deru mesin sepedanya sudah mati. Tidak ada respon, ia memanggil lebih keras, "Adek!?"
Jungkook terlonjak di belakang Taehyung. "Eh, iya kak?"
"Udah sampai. Gak pengen turun?" tanya Taehyung sambil menatap gadisnya dari kaca spion. Ia sedikit menahan tawa. Ia tahu jika Jungkook menatapinya sepanjang jalan.
"Oh, iya, kak. Adek turun." Jungkook salah tingkah. Ia lalu beranjak turun dari boncengan.
Sementara Taehyung memarkirkan sepedanya, Jungkook melihat-lihat tenda penjual takjil. Setiap bulan Ramadhan, lapangan kecil di ujung perumahannya selalu ramai. Otaknya dari tadi sudah berusaha membuat list makanan yang ingin dibelinya, tapi ketika sampai di tempatnya Jungkook bingung lagi. Sebenarnya ia ingin semuanya.
"Dek," Jungkook menoleh, Taehyung tiba-tiba di sampingnya melungsurkan lengan kirinya. "Ayo."
Jungkook menautkan alis bingung. Lengan Taehyung bergerak lagi. Ah, Jungkook mengerti.
"Ayooo. Katanya mau beli takjil." Pelan tangan kanannya ia telusupkan ke lengan Taehyung, menyambut gandengannya. Jungkook tersipu. Ia menunduk menahan senyum di bibir tipisnya.
Ah, sudah seperti istri saja.
Mereka berdua menghampiri tenda-tenda yang berjajar rapi.
"Adek mau apa?" tanya Taehyung.
"Umm apa yaa." Taehyung tertawa kecil melihat wajah Jungkook yang dibungkus krudung pastel dan telunjuk yang mengetuk-ngetuk bibir, berpikir.
"Mau minuman dulu apa makanan apa gimana?"
"Adek pengen kue lapis yang warna-warni, kak." Jawab Jungkook akhirnya.
"Yaudah, yuk, cari makanan dulu."
Mereka berdua sampai di tenda penjual kue-kue basah dan beberapa makanan lengkap dengan lauknya.
"Pilih, gih."
Jungkook menimbang lagi. Ia menggigiti bibir bawahnya.
"Adek mau kue lapis yang warna-warni lima, sosis bakarnya empat, pentol bakarnya tujuh tusuk, serabinya tiga, sama brownisnya dua loyang itu."
Ibu penjual kue itu mengangguk dan sigap mengambilkan kue pesenan Jungkook.
"Terus?" kata Taehyung.
"Oh, sama tambah klappertaartnya lima cup yang sedang buat yang di rumah."
"Enam aja, bu."
Jungkook menoleh, ia bertanya pada Taehyung, "satunya buat?"
"Buat papa, dek."
"Kan papa lagi piket hari ini. Pulangnya malam."
"Ya nanti, kan, bisa disamperin bentar."
Jungkook hanya diam dan mengangguk.
"Adek udah?" tanya Taehyung lagi saat kue mereka sudah dibungkus di kotak.
Jungkook mengamati lagi, lalu menoleh ke Taehyung, "Kak, adek pengen sate itu. Tadi kayanya Mama cuma masak ayam, deh. Sama ikan yang dibumbu itu. Tadi ikan yang dari Kak Jimin dibakar sama Mama. Adek lagi gak pengen yang bakar-bakar. Gak apa-apa, ya, Kak?"
Taehyung tertawa kecil. "Iya, sayang. Apapun. Asal adek bahagia."
"Yes!" Jungkook bergumam kecil. Matanya terpaku pada makanan yang terhidang di depannya.
"Yaudah, sekarang adek mau minum apa?" tanya Taehyung setelah ia membayar pesanan Jungkook lalu berjalan ke tenda minuman.
"Adek pengeeen… Ah, adek pengen es buah manado sama es cincau, kak. Tapi adek juga pengen es kepal milo. Gimana dong?" Jungkook bingung memilih es yang mana akan ia beli.
"Yaudah beli aja semuanya." Tapi ia tahu kekasihnya akan mengabulkan semuanya. Taktik Jungkook. Ia akan berpura-pura bingung ingin memilih apa-apa yang diinginkannya, dan pada akhirnya Taehyung akan memberikan semua yang Jungkook inginkan. Akal bulus adek.
Jungkook langsung menghampiri tenda yang menjual es yang diinginkannya.
"Papa dibelikan es apa, ya, dek enaknya?" tanya Taehyung.
"Es cincau aja, kak. Yang murah aja. Papa gak suka macem-macem soalnya."
"Gak dibeliin es buah manado aja?"
"Gak usah, kak." Bukan maksud apa-apa, tapi memang Jungkook durhaka. Ia masih sebal sama papanya. Pasalnya tadi ia diam-diam melihat papanya ke kamar Yoongi setelah sahur sambil membawa boneka kumamon. Beberapa hari yang lalu memang Yoongi minta hadiah kumamon yang ke sekian puluh kalinya pada Namjoon karena Yoongi menyanggupi papanya untuk menyelesaikan kuliahnya dalam tujuh semester. Jungkook tidak habis pikir, kenapa Yoongi yang sudah berkepala dua meminta kumamon. Dan papanya langsung mengabulkan. Jungkook saja minta boneka Judy saat tujuh belas tahun baru satu bulannya lagi dibelikan. Dan kesalnya, saat Jungkook bertemu papanya saat di pintu lengkap dengan seragam dinasnya saat akan berangkat kerja, papanya berkata, "jangan ganggu kakak."
Sudah, dengan begitu saja. Ia sudah dendam dengan Yoongi dan papanya. Jelas sekali. Ia dari pagi buta membantu Mama Seokjin, dan Yoongi bisa tidur nyenyak dengan kumamon dari Papa Namjoon. No no no. Jungkook tidak bisa memandangnya dengan ikhlas pun jika ini bulan puasa.
Setelah mereka memesan es, dengan banyak kantung makanan di tangan kanan kiri, mereka menuju tempat papa Jungkook yang sedang bertugas.
Saat menjelang berbuka puasa begini, biasanya Namjoon sudah berada di pos polisi. Ia sudah menyelesaikan patroli kelilingnya, meskipun tadi ada sedikit ada masalah lalu lintas karena kecelakaan kecil tapi ia sudah bisa bernapas santai sambil menunggu adzan maghrib.
"Papa!" panggil Jungkook saat Namjoon memarkirkan motor Honda Goldwing, salah satu kendaraan operasionalnya sebagai polisi.
"Adek ngapain di sini?" tanya Namjoon.
"Habis berburu takjil sama Kak Taehyung, Pa." Jawab Jungkook. Ia menunjuk Taehyung yang berada di belakangnya, ribet dengan jajan Jungkook.
"Assalamualaikum, om." Sapa Taehyung sambil melungsurkan tangannya untuk mencium tangan Namjoon. Sementara tangan kirinya penuh dengan kantung-kantung plastik takjil.
"Waalaikum salam, Taehyung," Namjoon tersenyum. "Kok banyak banget takjilnya? Mau dibuat buka bareng keluarga, ya?"
"Eh, enggak, om. Ini semua takjilnya adek." Katanya ringan. Sementara mata Namjoon membulat, terkejut. Ia menatap anaknya horror. Sudah ia duga, ia melihat sosok istrinya dalam Jungkook saat baru lahir dulu.
"Astaghfirullah, adek!" ia memelototi bungsunya, "adek kok banyak banget kalo beli takjil!?"
"Eh, hehe. Habis adek pengen semua, Pa. Kan adek udah lama gak makan yang begitu."
"Lama apanya!? Kan setiap hari mama nyediain setiap buka puasa."
"Iya, tapi kan pas buka aja. Kan siangnya adek enggak makan itu karena puasa, makanya lama. Lagian mama kan buatnya terbatas. Adek aja cuma kebagian dua." Bungsunya membela diri.
"Ya Allah, adek. Kamu ini hobi banget makan! Sama kaya mama kamu!" Namjoon masih tidak menyangka makanan sebanyak itu anaknya yang memesan. "Terus ini siapa yang bayar?"
"Kak Taehyung, lah, Pa." jawab Jungkook santai.
"Astaghfirullah, adek! Kamu ini, ya!" Namjoon semakin tidak percaya gadis berkerudung di depannya ini adalah anaknya.
"Salah papa dari kemarin adek ajakin beli takjil tapi papa sibuk mulu!"
Namjoon menghela napas dalam. Ia mengeluarkan dompet cokelat dari saku celananya, mengambil satu lembar uang merah dan berniat mengganti uang Taehyung.
"Eh, om. Buat apa?" tanya Taehyung setelah mengamati drama anak-bapak di depannya.
"Bawa aja, Tae. Buat gantiin makanan kelinci gendut ini." Kata Namjoon. Sementara bungsunya mengerucutkan bibir. Jungkook sudah hapal julukan 'kelinci gendut' dari papanya sejak kecil.
"Tidak usah, om. Saya emang berniat beliin Jungkook, kok, om." Taehyung menolak tentu saja. Sambil tersenyum canggung ia menahan tangan Namjoon.
"Tidak apa-apa, Tae. Terima saja. Permintaan Jungkook banyak sekali, ya ampun."
"Saya juga tidak apa-apa, om. Sudah, saya juga senang, kok, kalau Jungkook gendut. Hehe." Canda Taehyung. Semetara Jungkook semakin mem-pout-kan bibirnya waktu Taehyung ikut-ikutan mengatainya gendut meski secara tidak langsung.
"Aduh, maafin Jungkook ya, Tae." Kata Namjoon tidak enak dengan pemuda di depannya, "Om doakan kamu gak bangkrut pacaran sama anak om. Soalnya dulu waktu om dengan Tante Seokjin juga seperti itu. Jungkook kan turunan murni mamanya."
"Papa!" Jungkook memukul lengan papanya keras, "Papa pahalanya berkurang loh kalau ngatain adek terus."
"Adek itu yang jangan nyusahin Taehyung terus. Kasihan itu pacar kamu."
"Tapi kan Kak Taehyung ikhlas, Pa."
"Sudah, om, tidak apa-apa. Taehyung seneng, kok, beliin Jungkook," ujar Taehyung menengahi. "Ini om, saya bawakan makanan sama takjil buat om nanti berbuka."
"Wah, terima kasih, ya, Tae. Om jadi sangat merepotkan kamu."
"Tidak apa-apa, om. Ngomong-ngomong om keren kalau pakai seragam dinas." Puji Taehyung tiba-tiba.
Namjoon tertawa, "Kamu ini selalu saja seperti itu. Padahal bukan pertama kali kamu lihat om pakai seragam ini."
Itu benar. Taehyung selalu terpesona dengan calon ayah mertuanya. Terpesona dengan sedikit rasa penyesalan yang tertanam. Dulu saat masih SMA, ia sudah digadang-gadang papanya untuk masuk akademi kepolisian, tapi ia dulu masih labil dan pembantah. Sampai lulus Taehyung tidak mempersiapkan apa-apa, akhirnya papanya memasukkannya di universitas karena putranya enggan. Setelah bertemu dengan papa Jungkook yang gagah dengan seragam cokelat dengan segala tanda kehormatannya, Taehyung berubah pikiran, ia ingin menjadi seperti papa Jungkook. Lalu ia berkata pada mamanya, "Ma, tidak bisa, ya, Taehyung masuk akademi kepolisian lagi?"
Mamanya hanya memicingkan mata, "kenapa tiba-tiba? Padahal kamu kabur waktu didaftarkan akpol."
"Ingin saja, Ma. Om Namjoon keren kalau pakai seragam polisi. Taehyung juga pengen keren seperti itu."
"Tuntaskan kuliahmu dulu! Salah kamu dulu tidak nurut sama Papa. Lagian tidak ada polisi yang perutnya bergelambir seperti kamu!" jawaban mamanya membuat Taehyung menggerutu. Hei, perutnya tidak separah itu meskipun ia pemakan berloyang-loyang pizza.
Sementara bagi Namjoon, seragam kebesaran cokelat yang ia kenakan merupakan 'mas kawin maha penting'. Karena dulu tanpa seragam ini, yang menandakan keberhasilan karir Namjoon, ia tidak akan dapat meminang primadona secantik Seokjin dan dengan seragam ini ia dapat menempatkan dirinya di silsilah keluarga istrinya dengan terhormat.
Seragam itu bagi Namjoon seperti sertifikat bahwa ia pantas bersanding dengan Seokjin dan menjadi teladan yang baik dan gagah bagi kedua anaknya, Yoongi dan Jungkook.
Berbicara soal seragam, ia masih ingat saat itu, ketika Jungkook berusia tujuh tahun dan bertanya pada Namjoon, "Pa, katanya warna itu melambangkan sesuatu. Kalau papa, kenapa seragam papa warna cokelat? Terus kenapa tidak warna merah atau pink? Kan jadi lebih kelihatan kalau papa itu pak polisi yang sedang mengatur lalu lintas."
Mengingat pertanyaan bungsunya, ia tertawa. Seokjin yang berada di sampingnya juga. "Bukan begitu, dek. Memilih warna cokelat juga ada sebabnya."
"Kenapa, Pa?"
"Eh, karena cokelat melambangkan tanah negara kita yang subur."
"Kalau misal seragamnya papa warna merah atau pink melambangkan apa, Pa?"
"Eh?" Namjoon berpikir sejenak. Ia menoleh kepada istrinya, "Kalau merah melambangkan bibirnya Mama, dek."
Mendengar itu Seokjin melotot kepada suaminya. Ia langsung mencubiti suaminya sambil berbisik, "Jangan berkata semacam itu di depan anak-anak! Nanti aku menjelaskan apa, hah!?"
Namjoon terkekeh melihat muka Seokjin yang panik dan merah padam.
…
Setelah mengantarkan takjil untuk Namjoon, mereka berdua mampir sebentar ke rumah Taehyung untuk mengantarkan pesanan mamanya, sekalian ijin untuk buka puasa di rumah Jungkook.
"Tante Baekhyun masak apa?" tanya Jungkook saat ia menunggu Taehyung yang pamit ke kamar sebentar.
"Tante lagi masak gado-gado kesukaan kakaknya Taehyung." Jawab Baekhyun sambil tersenyum, "kamu cantik sekali hari ini."
Jungkook tersipu, tidak rugi ia tadi berdandan cukup lama, "Ah, enggak. Cantikan tante, hehe." Kilah Jungkook.
Baekhyun tertawa kecil, "Kamu ini bisa aja. Oh iya, kamu belum ketemu sama kakaknya Taehyung, kan, ya?"
Jungkook menggeleng. "Belum, tante." Bukannya belum ketemu, tapi Jungkook memang tidak tahu. Sekian tahun pacaran dengan Taehyung, ia tidak pernah melihat kakak satu-satunya Taehyung. Yang ia tahu hanya adik Taehyung yang sekelas sama Jungkook, si Mingyu. Kakak Taehyung memang sudah empat tahun tidak pulang karena sekolah di luar negeri, dan Jungkook sendiri tidak pernah melihat album atau foto keluarga mereka. "Memangnya sejak kapan pulang, tante? Jungkook pengen ketemu."
Belum sempat Baekhyun menjawab seorang wanita mungil dan cantik muncul dari balik pintu dapur, "Selamat sore, Mama."
"Halo, sayang. Sudah bangun kamu. Ada yang pengen ketemu, nih." Kata Baekhyun sambil menunjuk Jungkook yang sedang membelakangi wanita itu, "pacarnya Taehyung."
Jungkook membalikkan badan, ia membelalakkan mata, "Kak Taeng!?"
"Oh, hai. Kuki, ya?" wanita itu langsung tersenyum hangat.
"Kalian udah saling kenal, ya?" tanya Baekhyun.
Kakak Taehyung mengangguk, "kenal kemarin, Ma. Waktu Taeyeon tadarusan di masjid."
Jungkook hanya tersenyum. Ia tidak menyangka Kak Taeng yang kemarin di kenalnya itu adalah kakak Taehyung.
"Kuki, lucu, Ma. Dia baik banget." Lanjut Taeyeon.
Tapi Jungkook juga khawatir dengan satu hal jika ternyata kata Taehyung dulu benar, kakaknya hobi bercerita.
"Oh, ya?"
"Iya, Ma. Kemarin aja waktu Taeyeon tanya namanya dia langsung jawab 'kuki, kuki, kuki' sambil aegyeo. Terus Taeyeon nyuruh Kuki buat manggil Taeng juga. Kuki juga yang ngasih takjil ke Taeyeon. Kalau gak ada Kuki, Taeyeon kemarin gak punya temen di masjid, Ma."
Jungkook tidak menimpali. Ia hanya ber-hehe ala kadarnya. Karena ia memang khawatir tentang sesuatu.
"Wah seneng kalau kalian udah akrab tanpa mama kenalin."
"Pertama kali ketemu Kuki kemarin, Kuki udah hobi cerita-cerita, Ma. Sama kaya Taeyeon, hehe."
"Hm? Cerita apa memangnya."
"Cerita tentang pacarnya, Ma. Katanya pacarnya ganteng, baik, suka kasih makanan ke dia, dan juga pacarnya itu alim," Taeyeon bercerita dengan antusias. "Pacarnya itu juga suka imamin sholat tarawih di masjid, Ma."
"Mati kamu, Jungkook!" suara hati Jungkook menjerit.
Sementara Baekhyun tergelak.
Jungkook hanya bisa tersenyum canggung.
"Eh, gak tahunya pacarnya itu si Taehyung." Taeyeon juga tergelak.
Jungkook menggaruk hidungnya yang tidak gatal.
"Kenapa pacarnya Taehyung?" Taehyung menyembul tiba-tiba dari balik pintu.
Jungkook membisu, ia tidak tahu harus bagaimana. Ini sepenuhnya kecerobohannya. Jungkook memang ramah dan bisa klop dengan siapa saja. Tapi satu, kalau sudah klop Jungkook suka cerita-cerita. Sejak kenal kemarin dengan Taeyeon, ia merasa klop saja dengannya. Taeyeon itu juga ramah dan cerewet seperti Jungkook. Maka dari itu ia langsung curcol tentang kekasihnya yang tampan aduhai, alim, dan suka ngimamin sholat di masjid. Jungkook kira Taeyeon adalah orang baru di daerahnya, tapi ia tidak menyangka kalau orang baru itu adalah kakak kekasihnya. Kalau bisa tenggelamkan saja Jungkook. Malu, kan, kalau Taehyung tahu.
"Eh, itu, kak." Taeyeon mencium gelagat Jungkook yang tidak ingin Taehyung tahu. Ia tertawa kecil. Demi apa, pacar adiknya ternyata lucu sekali.
"Gak apa-apa, Tae. Pacar kamu baik banget. Dia yang kemarin ngasih aku takjil."
Taehyung hanya ber-oh sebagai balasannya.
"Yuk, dek. Ke rumah kamu." Kata Taehyung. Ia lalu pamit ke mama dan kakaknya.
Sambil mengambil sepeda yang ia taruh di garasi samping rumahnya sementara gadisnya menunggu di depan rumah, ia tersenyum. Taehyung tahu tadi apa yang kakaknya bicarakan. Ia bersembunyi di balik bilik dapur. Sebenarnya ia tadi menahan tawanya, karena serius, penuturan kakaknya tentang si Kuki itu lucu sekali. Ia tidak menyangka kekasihnya akan membanggakan dirinya seperti itu. Mengetahui sisi Jungkook yang seperti itu, entah kenapa, Taehyung semakin sayang dan membulatkan tekad yang rencananya akan dilaksanakan saat lebaran nanti.
…
Mereka sampai rumah Jungkook sepuluh menit sebelum adzan maghrib. Dan sama seperti Namjoon, Seokjin juga mengomeli bungsunya karena membeli takjil yang kelewatan.
"Kamu ini gembul tapi ya jangan segitunya kalau beli makanan!" omel Seokjin sambil duduk di meja makan sambil menunggu adzan, "kalau tidak habis bagaimana? Kan mubadzir, dek!"
"Pasti adek habisin kok, Ma! Kan ada Kak Yoongi, Kak Jimin, sama Kak Taehyung."
"Habisin sendiri! Dasar Babi!" itu Yoongi yang duduk di depan Jungkook. Kakaknya mulai nyolot.
"Ih, kalau gak mau bantu habisin yaudah! Gak usah ngatain!" Jungkook ikut-ikutan nyolot.
"Ya emang kamu babi, kan, dek!?"
Seokjin menarik napas. Belum adzan tapi dua anaknya sudah menyerukan tanda-tanda akan bertengkar, lagi.
Lalu Jimin memegang bahu Yoongi lembut, sambil bibirnya berkata pelan, "udah."
"Ma, adek mau tanya. Kalau puasa tapi suka mengutuk puasanya bakal sia-sia, kan, Ma?" Seokjin tidak menjawab, tapi Jungkook tetap melanjutkan. Ketika Yoongi diam, adiknya berkobar. "Dari tadi pagi Kak Yoong misu-misu terus, Ma. Gini, Ma, katanya, 'dasar kamu dek, kaya babi!' Terus ngatain adek pake kata depannya huruf B, belakangnya T, hurufnya ada tujuh. Gitu, Ma. Kak Yoong hobi ngatain adek emang." Jungkook mengadu.
"Bangsat!" umpat Yoongi. Oke, Yoongi memang sarkas. Tapi ia tidak akan mengumpat jika tidak ada yang memulai.
"Nah. Itu, Ma. Kak Yoongi dari tadi misu kaya gitu, Ma." Jungkook makin berkobar. Ia tidak mengacuhkan Taehyung dan Jimin yang sudah menggigit bibir.
Yoongi sudah akan menyahut garpu dan mengarahkannya ke Jungkook ketika mamanya berteriak, "Yoongi! Jungkook! Diam atau tidak ada jatah buka puasa!"
Lalu adzan maghrib berkumandang.
Seokjin, Jimin, dan Taehyung lega.
Jimin langsung menggenggam tangan Yoongi di bawah meja, menenangkan.
Sementara Taehyung sudah menggamit pinggang Jungkook. Sambil berbisik, "sabar, dek. Sekarang makan dengan tenang, ya."
…
Setelah mereka berlima menghabiskan menu utama dengan tenang, Taehyung membuka suara dengan semangkuk es buah di depannya yang belum ia sentuh.
"Tante?" panggil Taehyung.
"Iya, Tae?"
"Tante, Taehyung mau ngomong sesuatu."
Seokjin tertawa, "Apa kamu setiap mau ngomong harus ijin dulu?"
Taehyung menunjukkan cengirannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Itu, tante. Taehyung mau ngelamar adek nanti waktu lebaran. Boleh?"
Meja makan itu seketika hening. Tidak ada suara dari tubrukan barang pecah belah. Keempat orang yang duduk tenang itu menghentikan semua kegiatannya ketika mendengar penuturan Taehyung.
Perhatian Seokjin, Yoongi, dan Jimin sepenuhnya beralih ke Taehyung. Kecuali Jungkook yang menunduk menatapi es di depannya.
"Mungkin ini buru-buru, tante. Karena Taehyung sendiri belum lulus kuliah. Maksud Taehyung ngomong gini soalnya Tae udah serius banget sama adek. Taehyung gak nuntut buat nikah, kok. Taehyung cuma minta ijin tante buat tunangan sebagai bukti kalau Taehyung maunya terikat cuma sama Jungkook."
Seokjin masih diam, dan menyimak kekasih bungsunya.
"Tae, udah bilang mama sama papa, kok, Tante. Tinggal Tante dan Om Namjoon aja. Taehyung sebenernya mau bilang kemarin-kemarin. Tapi Om Namjoon sibuk. Tadi ketemu tapi masa iya Tae bilang pas Om Namjoon lagi tugas." Taehyung mengakhiri kalimatnya sambil tersenyum kecil. Ia menatap mata calon ibu mertuanya itu, menunggu respon dan jawaban.
Seokjin menjilat bibir sebentar sebagai respon bangun dari keterkejutan. Ia tidak menyangka, momen ini tiba. Momen di mana ada seorang lelaki yang meminta salah satu dari buah hatinya. Sebagai ibu, ia tahu bagaimana rasanya membesarkan dua anak hingga tumbuh besar, hingga pantas menjadi pendamping seseorang yang memintanya.
Seokjin berdehem sebentar, tersenyum penuh keibuan, "Boleh," jeda sejenak, "Taehyung boleh sama Jungkook."
Singkat. Taehyung dan seluruh yang ada di meja makan mendengarnya dengan jelas. Seokjin merestui Taehyung karena ia sudah mengenal dan percaya Taehyung seperti anaknya sendiri.
"Mengenai Om Namjoon, jangan khawatir. Kalau tante merestui, insya Allah Om Namjoon juga."
Senyum Taehyung mengembang, hatinya membuncah. Ia tidak membayangkan perasaannya akan selega ini setelah mengutarakan sesuatu yang membelenggunya selama ini. Ia pikir ini akan sulit saat meminta ijin pada orang tua Jungkook. Karena saat pertama kali bertemu orang tua Jungkook, ia pikir mereka adalah orang tua yang konservatif dan pemilih. Ternyata Taehyung salah. Mereka seperti kedua orang tuanya juga, sederhana dan terbuka.
Diam-diam Taehyung melirik Jungkook yang membeku di sampingnya. Dari tadi gadisnya hanya menunduk dan mendengarkan. Saat ini, baru ia sadari Jungkooknya tergugu di tempat duduknya. Terlihat jelas sebulir air mata terjun bebas di pipi kekasihnya.
Sekitar pukul sembilan, Jungkook mengantarkan kekasihnya pulang sampai halaman depan. Mereka berhadap-hadapan, Jungkook menunduk. Tangan besar Taehyung menyapu pipi kekasihnya, dingin dan terasa sekali bekas air mata. Ia tahu tadi kekasihnya saat sholat tarawih di rumah sambil menahan isak. Lama, Taehyung masih mengelus pipi kekasihnya.
"Dek." Panggil Taehyung.
Jungkook mendongakkan kepala. Sebelum Taehyung berbicara, ia membuka mulut lebih dulu, "Adek bahagia." Kata Jungkook lirih, lalu air mata itu lolos lagi dari sudut matanya.
Ibu jari Taehyung menghapus air mata itu singkat. Lalu tangan kanannya menggamit tangan kiri Jungkook, "Tunggu kakak sampai sesuatu melingkar di jari manis adek."
END
Hola,
Jungkook rakus, ya? Wkwk.
Ah, aku mau meralat, di chapter awal. Itu Jungkook yang di parkiran ngasih Tae snickers sama apel. Otak aku mah lagi molor waktu itu, habis nulis anggur terus bawahnya apel T.T mianhaeeee.
Jadi aku selesain ff ini dulu dari pada ff aku yang lain. Ya kali ceritanya nuansa Ramadhan tapi publishnya pas habis lebaran:v
Terima kasih yg udah baca, review, fav, follow. Kalian sangat membantu.
Sudah gitu aja, tunggu aja mereka berdua tunangan dan nikah, wkwk.
Semangat yang puasanya tinggal beberapa hari.
Semoga suka,
ED.
