Blank Screen
Kirara mendengus memikirkan kepolosan dirinya di masa lalu.
Dengan dua jari, diapitnya puntung rokok, dan dilepasnya napas berasap.
Dua puluh lima tahun dan ia sudah di titik di mana nikotin tidak bisa memberi kepalanya kelegaan. Tangannya yang satu lagi dengan malas memegangi ponsel, ibu jarinya naik turun, scrolling halaman Facebook dengan sambil lalu.
Konsultan hukum perusahaan itu bukannya pekerjaan yang bisa ditinggal-tinggal untuk hobi. Dan menulis sendiri bukanlah hobi yang bisa dikerjakan lima menit tiap hari atau sepulang kerja untuk melepas penat.
Apa yang waktu kecil ia pikirkan? Ia pikir saat ia tumbuh dewasa, semua ketakutannya akan menghilang, tapi sekarang ia insecure dan peduli akan apa yang dipikirkan orang.
Ia sudah sebulan tidak pulang ke rumah. Namun ia juga malas memikirkan tempat itu; ibunya yang depresi dan histeris, tumpukkan cucian dan piring kotor, sepupu-sepupunya yang masih kecil sibuk dengan diri sendiri tapi tidak punya kesadaran untuk membantu. Sialnya ia butuh pulang. Ia harus mengambil paket yang dikirim ke rumahnya.
Ia bersumpah lain kali ia akan mencantumkan alamat kantornya untuk pengiriman-pengiriman ke depannya.
Lalu ia memikirkan lusa. Dia adalah bagian administrasi, namun atasannya memintanya melakukan dua puluh pekerjaan lain yang semuanya memiliki deadline mengerikan. Padahal si brengsek itu bisa mengerjakannya sendiri. Bukannya pekerjaannya sendiri tidak cukup banyak.
Kirara menatap ponselnya hampa. Akun pen-name fanfiksinya yang berisi 217 karya fiksi, seperempatnya adalah multi chapter yang tidak selesai.
Namun bukan itu masalahnya.
Ia sudah mencoba membawa karya aslinya ke beberapa penerbit, namun hasilnya nihil. Ia sudah gamang antara memang tulisannya tidak menarik, atau memang buku seperti itu tidak diinginkan untuk saat ini.
Tapi ia sudah tidak peduli lagi. Ia tahu bahwa dunia fanfiksi dan penulisan sungguhan tidak sama. Ia memang siap menerima penolakan, kritik, dan pembelajaran, namun ia tidak menerima kritik maupun pembelajaran. Ia menerima penolakan sampai ia buntu.
Mungkin benar kata orang tuanya.
Menulis bukan untuknya.
Tidak ada masa depan dengan menulis.
Tapi ia juga tidak bisa melihat apapun selain kegelapan dengan pekerjaan yang ia miliki saat ini.
Ia ingin menangis dan tertawa.
Ia sudah tidak bisa merasakannya.
Dia stressed out.
Burnt out.
Ia sudah tidak bisa merasakan kesenangan lagi dari menulis. Ia sudah tamat. Melihat ke depan, ke masa depan, ia tidak bisa melihat apa-apa selain kegelapan.
Semuanya terjadi begitu cepat, dan ketika Kirara Hazama menarik suatu momentum untuk berdiam, ia menyadari kenyataan mengerikan;
Ia tidak bisa merasakan apa-apa.
Tangannya dengan marah berusaha menyalakan radio mobil.
"Brengsek…"
Benda itu tidak mau menyala. Meninggalkannya dengan pikiran-pikiran itu.
Ia ingin berhenti berpikir.
~.X.~
Beberapa hari berlalu, dan akhirnya Kirara bisa bertemu dengan teman lamanya, Yukiko.
Wanita berambut hitam panjang itu tersenyum lembut padanya dan memeluknya, mereka berdua pun memasuki kamar hotel.
"Tomohito sibuk sekali ke luar kota...dan anak-anakku sedang ada kemah di sekolah." cerita wanita itu. "Bagaimana kabarmu, Kirara-chan? Merindukanku?" Yukiko menciumi bahunya.
Kirara tersenyum kecil, mengubah posisi mereka dan membaringkan Yukiko di kasur hotel yang bersih.
"Aku suntuk sekali...Kau pilih vodka atau scotch?"
Yukiko terkikik senang dan memeluk Kirara.
Mereka adalah teman SMP. Yukiko seorang suster dengan dua anak, suaminya seorang atlit baseball terkenal, jarang di rumah. Sama seperti Kirara, kehidupan seperti itu kadang membuat suntuk. Namun, Yukiko tidak suka disentuh oleh pria lain; hanya Tomohito Sugino pria yang bisa ia percaya.
Dan wanita. Ya. Yukiko tidak keberatan tidur dengan wanita; malah, ia sejak kecil lebih merasa sebaiknya seperti itu.
Yukiko sangat puas malam itu, namun Kirara terbangun dengan mata lebar. Orgasme Yukiko tampaknya mengesankan, namun Kirara merasa begitu hampa.
"Kau masih mau lagi?" tanya Yukiko dengan suara mengantuk, mengecup bahu Kirara yang kurus.
"Hn...Jujur saja, aku...sepertinya mati rasa. Menurutmu aku ini kenapa, Yukiko?"
Yukiko memandanginya suntuk, dan menghela napas.
"Kirara...kita tidak bicara soal perasaan, ingat?"
Kirara mengangguk dan bergelung ke samping.
"Kau benar. Bagaimana kalau satu ronde lagi?"
Yukiko tertawa kecil dan bangkit, menurunkan selimut mereka dan menahan bahu si keriting hitam.
Namun, setelah malam itu, Kirara menghapus dan memblokade nomor Yukiko.
Bukan apa-apa. Kebetulan saja, ternyata salah satu penerbit menerima naskahnya.
Dan entah kenapa, saat itu, Kirara tidak tersenyum membaca e-mail tersebut.
