"Jongin kekasihku." Jawab Kyungsoo cepat membuat kedua pria itu membulatkan matanya.
Chanyeol merasa ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Entah kenapa terasa sangat sesak saat Kyungsoo mengatakan kalimat itu. Sementara Jongin masih ternganga tidak percaya dengan jawaban Kyungsoo. Kenapa tiba-tiba Kyungsoo menerima perasaannya? Kyungsoo sendiri merutuki kebodohannya, karena berkata tanpa berfikir terlebih dulu.
"Aigo! Jongin. Ternyata kau masih malu-malu. Kenapa tadi tidak kau katakan kalau Kyungsoo kekasihmu." Nyonya Park menepuk lengan Jongin pelan.
Kyungsoo hanya menunduk, menghindari tatapan Chanyeol.
"Ah, itu-" Jongin mengelus tengkuknya, bingung.
"Baiklah baiklah, bibi mengerti." Nyonya Park tertawa karena ekspresi Jongin. "Bibi ingin menemui tamu yang lain. Kalian nikmati pestanya ya." Nyonya Park berlalu pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Dobi! Are you okay?" Chanyeol mengalihkan tatapannya dari Kyungsoo saat Jongin memanggilnya.
"Huh? Eum, i'm okay. Aku tinggal sebentar. Kalian duduk saja disana nanti aku menyusul." Chanyeol menunjuk ke sebuah mini bar.
"Baiklah." Jongin menarik tangan Kyungsoo menuju mini bar. Mereka duduk di bagian tengah.
"J-jongin aku-"
"Kau bisa jelaskan nanti. Sekarang nikmati saja pestanya. Waktuku hanya 2 jam, dan sekarang sudah semakin berkurang." Jongin tersenyum mengerti dengan apa yang akan Kyungsoo katakan.
Kyungsoo juga tersenyum lega, setidaknya Jongin tidak langsung menginterogasinya. "Aku merasa pengap disini. Aku ingin keluar sebentar."
"Eum, cepat kembali." Kyungsoo hanya mengangguk.
Kyungsoo berjalan menuju sebuah taman di hotel tersebut. Dia duduk di sebuah bangku. Tempat ini sepi, hanya ada Kyungsoo dengan fikirannya. Sungguh, bertemu dengan Chanyeol membuatnya kembali merasa sesak.
"Teman lama? Cih!" Kyungsoo tersenyum miris mengingat saat Chanyeol menyebutnya sebagai teman lama. "Semua yang pernah kita lalui sepertinya memang tidak pernah berarti untukmu, Chanyeol."
.
.
"Kyung?" Chanyeol mengelus kepala Kyungsoo yang sedang bersandar di bahunya
"Hmm."
"Apa kau mencintaiku?"
Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol."Kau meragukanku?"
"Bukan, aku hanya ingin mendengarnya. Selama ini kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku."
Kyungsoo menggenggam tangan Chanyeol lembut. "Park Chanyeol. Meskipun aku tidak pernah mengatakan aku mencintaimu, tapi percayalah aku sudah memberikan seluruh hatiku untukmu."
Chanyeol memegang sebelah pipi Kyungsoo dan mengusapnya lembut. Menatap setiap inci wajah Kyungsoo. Dan..
CUP
Chanyeol mengecup lembut bibir Kyungsoo. Membuat pipi Kyungsoo bersemu merah. "Aku sangat mencintaimu, Do Kyungsoo. Aku mencintaimu dengan segenap jiwaku. Sejauh apapun jarak dan waktu memisahkan kita, percayalah aku akan selalu mencintaimu."
Kyungsoo terkekeh mendengar kata-kata Chanyeol yang terdengar cheesy. "Kau bicara seolah akan pergi jauh saja."
Hening.
"Jangan katakan kau akan pergi meninggalkanku?" Kyungsoo menatap Chanyeol penuh selidik. Chanyeol hanya menundukkan kepalanya. "Chan?"
"Aku akan berangkat ke Amerika besok." Kyungsoo membulatkan matanya saat mendengar pernyataan Chanyeol.
"Aku di terima sebagai trainee di label ternama di sana. Kau tau kan ini impianku sejak dulu?" Chanyeol menatap Kyungsoo dan di balas dengan tatapan dingin. "Kyung-"
"Sejak kapan?" Kyungsoo menahan genangan di matanya. "Sejak kapan kau berencana pergi?"
"Satu bulan ini."
"Dan kau memberitauku saat kau akan berangkat besok? Wah, Park Chanyeol!" Jeda. "Aku ini apa untukmu?" Sebutir kristal bening jatuh dari mata bulat Kyungsoo dan langsung dia hapus dengan punggung tangannya.
"Kyung, bukan seperti itu. Percayalah aku ingin memberitaumu lebih awal. Tapi setiap melihat senyummu, aku tidak ingin mengusiknya dengan kabar seperti ini." Chanyeol menggenggam tangan Kyungsoo.
"Jadi kau bermaksud tidak memberitauku, begitu?" Kyungsoo menepis tangan Chanyeol. Kyungsoo sedang di kuasai oleh emosi saat ini. Dia kecewa. "Jika aku memintamu untuk tidak pergi, apa kau akan tetap pergi?"
"Kyung, aku mohon jangan seperti ini."
"Kau tau, kau sangat egois Chanyeol! Mungkin kau selalu menganggap perasaanku sebagai candaan. Apa aku pernah berarti untukmu?"
"Kyung, jangan berkata seperti itu. Kau segalanya untukku." Chanyeol menatap dalam mata Kyungsoo. Jelas Chanyeol melihat kekecewaan di sana.
"Setelah kedua orang tuaku meninggalkanku, dan sekarang kau juga akan pergi meninggalkanku?"
"Kyungsoo, aku-"
"Baik, pergilah. Dan jangan temui aku lagi." Kyungsoo beranjak pergi meninggalkan Chanyeol yang masih mematung mendengar pernyataan Kyungsoo. Terasa seperti anak panah yang menancap tepat di dadanya.
.
.
Tanpa sadar Kyungsoo menitikan air matanya saat mengingat kejadian 2 tahun yang lalu. Chanyeol bahkan tidak berusaha mengejarnya saat itu. Dan itu Kyungsoo asumsikan bahwa Chanyeol benar-benar ingin melepaskannya. Kata cinta yang Chanyeol ucapkan menguap dengan cepat. Dia sangat membenci Chanyeol. Mungkin dia pernah sering merindukan Chanyeol. Namun egonya selalu berhasil menepis kerinduannya.
Kyungsoo menutupi wajahnya dengan telapak tangannya, bahunya naik turun. Kini dia menangis. Entah menangis karena kebencian yang semakin menjadi, atau menangis karena lega akhirnya dia bisa melihat sosok yang sangat dia rindukan. Entahlah Kyungsoo tidak mengerti.
"Aku membecimu, Park Chanyeol." Seru Kyungsoo di sela isakannya. "Aku merindukanmu."
.
.
Chanyeol mengusak rambutnya gusar. Dadanya masih terasa sesak oleh pernyataan Kyungsoo. Secepat itukah Kyungsoo melupakannya? Okay, 2 tahun memang tidak sebentar. Tapi apa Kyungsoo tidak bisa menunggunya sedikit lebih lama lagi? Chanyeol tau ini semua adalah kesalahannya. Murni kesalahannya. Meninggalkan Kyungsoo di saat-saat sulitnya. Chanyeol menyesali semuanya, sungguh. Tapi percayalah, 2 tahun tidak membuat perasaannya pada Kyungsoo berubah satu persenpun. Dia masih sangat mencintai Kyungsoo.
Chanyeol disini sekarang. Dia tidak akan melakukan kesalahan bodoh lagi dengan meninggalkan Kyungsoo. Namun sekarang keadaannya sudah tidak sama.
"Apa aku benar-benar terlambat, Kyung?" bisik Chanyeol lirih.
Chanyeol merapikan rambutnya dan bermaksud kembali ke dalam. Sejak tadi dia berdiri dan merenung di dekat taman yang ada di hotel. Sampai dia melihat gadis duduk sendiri di bangku taman yang sedikit agak jauh dari tempatnya berdiri.
"Kyungsoo?" Chanyeol ingat saat di dalam tadi Kyungsoo menggunakan gaun selutut berwarna hitam dengan bahu terbuka. Cantik sekali. Sungguh, Chanyeol sangat merindukan gadis mungil itu.
Di luar sangat dingin dan Kyungsoo akan kedinginan jika menggunakan pakaian seperti itu. Chanyeol melepas jas hitamnya.
Chanyeol baru saja akan melangkah untuk meghampiri Kyungsoo. Namun langkahnya terhenti saat melihat Jongin sampai lebih dulu dan menyampirkan jasnya di pundak Kyungsoo. Lalu.. memeluk Kyungsoo. Darah Chanyeol memanas melihat Kyungsoo berada di pelukan Jongin. Sungguh Chanyeol ingin menarik Kyungsoo dari posisinya saat ini. Chanyeol segera berbalik pergi meninggalkan mereka yang tidak menyadari keberadaannya.
"Chanyeol, kau kemana saja? Para tamu mencarimu." Nyonya Park menghampiri Chanyeol saat pria itu tiba di dalam.
"Ibu, aku sedang tidak dalam keadaan baik. Aku ingin pulang ke apartemen." Ya, Chanyeol memang terlihat kacau, sangat kacau.
"Ya, kau memang terlihat tidak baik. Ada apa?"
"Tidak apa-apa bu, aku hanya-."
"Karena Kyungsoo?"
"Huh? B-bagaimana ibu-"
"Aku ibumu. Saat ibu melihatmu menatap Kyungsoo seperti itu, ibu yakin Kyungsoo bukan hanya sekedar teman lamamu. Kau juga selalu menulis nama Kyungsoo di setiap kertas-kertas lagu yang kau buat dan ibu selalu penasaran dengan nama itu." Nyonya Park mengelus pipi anaknya dan tersenyum lembut. "Istirahatlah!" Chanyeol hanya tertegun mendengar kata-kata ibunya. Bagaimana ibunya bisa mengerti sampai sejauh itu.
.
.
Jongin melirik arloji di tangannya. Sudah hampir 30 menit sejak Kyungsoo pergi dan belum kembali. Jongin mulai khawatir. Pasalnya, Jongin merasakan badan Kyungsoo bergetar saat bertemu Chanyeol tadi. Dia juga menangkap tatapan Chanyeol kepada Kyungsoo yang sulit di artikan. Jongin tidak tau apa hubungan Kyungsoo dan Chanyeol sebelumnya. Yang pasti dia yakin bukan hanya sekedar teman biasa.
Jongin melihat ke sekitar. Dia tidak menemukan Kyungsoo. Lalu dia putuskan untuk mencari Kyungsoo.
Jongin melihat gadis itu sedang duduk sambil menyembunyikan wajahnya di telapak tangannya. Ini sangat dingin. Bagaimana bisa Kyungsoo bertahan dengan bahu terbuka seperti itu. Dia harusnya mengambil mantelnya di tempat penitipan.
Jongin menghampiri Kyungsoo. Dia melepas jas biru tuanya dan menyampirkan di bahu Kyungsoo. Tunggu, Kyungsoo menangis?
"Kyung, kau baik-baik saja?" Tidak ada jawaban, Kyungsoo larut dalam isakannya. Jongin duduk di samping Kyungsoo dan memeluknya. Menepuk-nepuk punggungnya pelan, mencoba untuk menenangkan Kyungsoo.
Setelah beberapa menit, Kyungsoo melepaskan pelukan Jongin dan menghapus jejak air mata di pipinya. Dia sudah lebih tenang sekarang.
"Aku ingin pulang."
"Baiklah. Kau tunggu di mobil, aku akan menemui Bibi dan Chanyeol dulu." Kyungsoo hanya mengangguk. Jongin kembali ke dalam mencari Chanyeol dan Ibunya.
.
.
"Jongin, kau pasti memiliki banyak pertanyaan untukku kan?" Kyungsoo membuka suara setelah hening di sepanjang perjalanan. Mereka baru saja sampai di depan rumah Kyungsoo sekarang.
"Eum. Tapi aku tidak akan bertanya apapun. Aku akan menunggumu mengatakannya padaku." Jongin tersenyum tulus.
"Maafkan aku."
"Untuk?" Jongin mengerutkan dahinya. "Ah, benar. Kau tidak memenuhi 2 jam yang kau janjikan. Tentu saja kau harus meminta maaf. Dan kau juga harus menggantinya." Kyungsoo mendongak dan mendengus mendengar jawaban Jongin.
Jongin pria yang sangat baik dan pengertian. Dia pria idaman setiap gadis. Namun Kyungsoo sama sekali tidak merasakan perasaan apapun padanya. Kyungsoo menganggap Jongin hanya seperti seorang adik. Mengingat Kyungsoo yang terpaut satu tahun lebih tua darinya. "Dasar bodoh!"
.
.
Kyungsoo masuk ke dalam rumahnya setelah melihat mobil Jongin berlalu. Sepi. Seperti biasanya. Kakaknya pasti sudah tertidur.
Kyungsoo hendak masuk ke kamarnya, namun urung karena dia teringat dengan mantel yang dia kenakan. Dia akan mengembalikan pada kakaknya.
Kyungsoo mengetuk pintu kamar kakaknya, namun tidak ada jawaban. Kyungsoo meraih kenop pintu kamar kakaknya dan berjalan masuk.
"EONNI!"
TBC
Hai~ makasih yang udah review di chapter 1 kemarin~ Untuk chapter 2 ini juga masih belum banyak Chansoo momennya. Miaaaaană… ă… Entah kenapa aku pengen bikin Chanyeol sakit dulu wkwk *authorsialan* Semoga suka yaaa~ FF ini masih jauuuuh banget dari kata bagus. So, review juseyo~:)
