Yosh! Chapter 2 sudah update! Setelah berlari-lari di pinggir kuburan dekat rumah mencoba mencari inspirasi, akhirnya Youichi temukan arah fic gaje ini! Ternyata ada yang menerima fic gaje ini. Untung saja tak ada yang menuntut Youichi ke meja hijau. Youichi ngebut buat nih fic. Mumpung idenya masih ada. Takutnya lupa.

Fic ini mengandung unsur berbahaya seperti, OOC, Gaje, Typo, Aneh, Nista, Plot yang terlalu maksa, serta keanehan lainnya yang bisa membuat anda tewas seketika.

Om-Om, Naruto gak betah ama Om, jadi buat Youichi aja ya? *bletak* Oi! Siapa yang berani ngelempar nih batu? *nodongin M-16*

Don't Like, Don't Read!

Youichi Hyourinmaru Presents

"Otou-san"

Enjoy Read

Chapter 2

"Otou-san, terlihat lelah…"

Keenam anak itu kini memandang sesosok laki-laki berambut pirang. Mata sosok itu tertutup rapat. Suara hembusan napasnya tidak bisa dikatakan normal. Napasnya tak teratur. Kadang panjang, kadang pendek. Namun wajahnya terlihat damai. Seakan tak ada beban yang ada dalam pikirannya saat ini. Keenam anak itu hanya bisa menatap wajah Otou-san mereka dengan tatapan hampa. Masing-masing bergelut di dalam pikirannya masing-masing.

"Lebih baik kita tinggalkan Otou-san."

Mereka lalu keluar dari ruangan itu. Di depan pintu, mereka disambut oleh sosok perempuan cantik yang tersenyum ramah pada mereka. Namun mereka hanya diam. Tak menanggapi perempuan itu.

"Otou-san kalian kuat. Kalian sudah mengetahuinya, bukan?" tanya perempuan itu lembut.

"Mengapa?" perempuan cantik itu mengalihkan pandangannya menuju ke asal suara. Seorang anak laki-laki berambut hitam yang diikat ke atas. "Mengapa semua ini bisa terjadi? Ada apa dengan Otou-san?"

Sosok perempuan itu hanya menatap sendu keenam anak itu. Mereka semua menunduk seakan tak mau memperlihatkan wajah mereka pada orang lain. Perempuan itu menghela napas panjang.

"Otou-san kalian pasti memarahiku."

(#(#)#)

Seorang laki-laki berjalan tenang menyusuri lorong gedung itu. Setiap orang yang melihat sosoknya menunduk hormat dan laki-laki itu hanya membalasnya dengan anggukan kepala. Langkahnya kini terhenti di depan pintu kayu besar. Begitu terbuka, laki-laki itu disambut hormat oleh penghuni ruangan. Laki-laki itu duduk di sebuah kursi besar di ujung meja kayu panjang. Setelah dirinya duduk, barulah penghuni ruangan lain yang semula berdiri menyusulnya duduk.

"Kalian pasti sudah mengetahui bahwa pergerakan mereka saat ini semakin gencar," kata laki-laki itu membuka pembicaraan mereka. Sosok penghuni ruangan yang lain menatapnya serius.

"Aku dengar, mereka kembali menyerang salah satu agen kita," seorang laki-laki lain meinimpali kata-katanya.

"Ya. Mereka menyerang Naruto," katanya seirus. Segelintir wajah para penghuni ruangan itu terlihat sedikit terkejut.

"…Lagi? Mereka tak mau menyerah…," timpal sosok lainnya. Wajah mereka kini kembali serius.

"Lalu bagaimana keadaannya, Leader?" tanya salah seorang laki-laki pada sang leader yang tampak berpikir serius di ujung meja.

"Mereka berhasil melukainya. Kondisinya memang sedang tidak bagus saat penyerangan terjadi," jawab laki-laki yang dipanggil Leader itu.

"Jadi… Apa langkah kita selanjutnya, Leader?"

"Naruto sudah memberitahukanku tentang target mereka yang berikutnya. Tunggu sampai sang target menyadari kondisinya dan meminta pertolongan pada kita. Namun sebelumnya kita juga harus mengirim agen lain untuk mengawasi target mereka. Jangan sampai ada korban yang jatuh lagi," jelas sang Leader panjang lebar. Penghuni ruangan itu hanya mengguk mengerti.

"Pertemuan ini kita akhiri sampai disini. Jalankan instruksi yang sudah kujelaskan kemarin. Terima kasih," kata Leader menutup pertemuan itu.

Leader lalu keluar diiringi sosok-sosok lainnya. Kakinya kini berjalan menuju ruangan tempat dirawatnya Naruto.

"Bagaimana keadaanmu, Naruto?" tanya Leader sambil memandang laki-laki yang kini bersandar di tumpukan bantal di atas tempat tidurnya.

"Lebih baik, Leader," jawab Naruto. Matanya tak lepas dari tatapan tajam yang diberikan sang Leader.

"Kau… Marah padaku?" tanya Naruto menatap sedih wajah laki-laki di depannya.

Leader hanya menghembuskan napas panjang. "Kau sudah tahu, Naruto… Aku tak pernah bisa marah padamu," jawab Leader. Leader tak mau memandang Naruto lagi. Matanya menatap lantai yang seakan terlihat sangat menarik untuk dipandang saat ini.

"Kau ceroboh, keras kepala, terlalu terburu-buru. Semua itu membuatku… cemas. Kita semua disini saudara. Aku tak pernah menganggap semua agen-agen disini adalah bawahanku. Kami semua menyayangimu. Tindakanmu untuk tinggal di luar markas sangat berbahaya. Kau adalah agen terbaik yang pernah kumiliki dan kau adalah satu-satunya-,"

"Leader! Maaf menggangu! Ada telepon dari pemimpin Yakuza. Dia ingin berbicara langsung dengan anda," suara dari seorang laki-laki menginterupsi kalimat Leader yang terpotong tadi.

"Pergilah. Ada hal yang lebih penting dari pada menungguku disini," kata Naruto sambil tersenyum hangat.

(#(#)#)

"Ja-jadi Otou-san selama ini bekerja seperti itu?" tanya anak laki-laki berambut coklat berantakan. Suaranya menampakkan bahwa dirinya terlihat terkejut. Begitu pula kelima anak yang lainnya.

"Sudah kuduga. Jadi ini semua alasan dibalik lamanya Otou-san bila pergi bekerja…," kata anak laki-laki berambut coklat panjang.

"Juga alasan mengapa Otou-san meyuruh kita untuk selalu bersiaga menyiapkan pakaian dan barang-barang penting kita setiap hari," sambung anak laki-laki berambut hitam yang diikat ke atas.

"Otou-san tak pernah menceritakannya pada kami," kata anak laki-laki berambut hitam jabrik berkacamata hitam menimpali yang lainnya.

"Dia Otou-san yang baik," ujar anak laki-laki berambut hitam raven, Sasuke.

Hening. Tak ada yang bersuara. Sosok perempuan itu hanya menatap anak-anak di depannya hampa. Tak ada yang berani merusak keheningan di ruangan itu. Hingga akhirnya langkah kaki seorang laki-laki memecahkan keheningan mereka. Mata mereka tertuju pada sosok laki-laki yang datang.

"Konan, siapa mereka?" tanya sosok laki-laki itu yang kini menatap tajam keenam anak yang tengah duduk di sofa.

"Leader, mereka anak Naruto… Kau lupa?" tanya sosok perempuan cantik yang dipanggil Konan itu.

"Enam? Kukira hanya satu. Terakhir, aku bertemu Naruto dan bocah berambut merah itu," jawab Leader tenang. Semua mata anak-anak kini tertuju pada anak yang disebut sang Leader. Sedangkan anak berambut merah hanya diam dengan wajah datar.

"Kapan kau kemari, Gaara?" tanya Leader pada anak berambut merah itu.

"Sore tadi, Rikudo-san," jawab Gaara singkat.

"Panggil saja Pain. Kita sudah pernah bertemu beberapa kali, bukan?" tanya Leader sambil tersenyum. Gaara mengangguk.

"Gaara, jadi kau…"

"Tentu saja. Aku sudah lama bersama Otou-san."

(#(#)#)

"Bagaimana, Kakashi? Kau sudah bisa melacak keberadaannya lagi?"

"Aku tak bisa menemukannya. Sebuah rumah tua di pinggir hutan Otogakure yang diduga sempat ditempatinya, tiga hari lalu ditemukan dipenuhi oleh tiga puluh orang berpakaian mencurigakan. Dan semuanya pingsan. Masing-masing membawa senapan otomatis. Selongsong peluru juga berserakan di halaman rumah itu. Sedangkan penghuni rumah menghilang. Polisi setempat masih menyelididki tentang kejadian itu."

"Saksi mata?"

"Tidak ada. Rumah tua itu terletak jauh dari pusat kota. Tak ada yang menyadari adanya penembakan di rumah itu hingga salah satu polisi yang berpatroli, melewati wilayah pinggir hutan. Selain itu, semua senapan yang digunakan sudah berperedam."

"Bagaimana dengan markas organisasi tempat dia bekerja?"

"Akatsuki sangat sulit dilacak keberadaannya. Walaupun pernah berhubungan dengan mereka sekali, sangat sulit untuk menghubungi mereka kembali. Klien mereka kebanyakan pengusaha dan pejabat pemerintahan dari berbagai Negara. Catatan mereka bersih. Tak pernah ada satupun agen mereka yang pernah membunuh."

"Keadaanku tidak memungkinkan sekarang."

"Ya, aku tahu itu. Mereka juga mulai bergerak. Seorang pengusaha dari Amerika mengalami kecelakaan empat hari yang lalu. Setelah mesin mobil yang dikendarainya diperiksa, polisi tak menemukan adanya keanehan. Tapi setelah salah satu agen dari Akatsuki dimintai pertolongan, ada beberapa kejanggalan dalam mesin mobil tersebut."

"Berarti… Mereka mengerjakannya dengan sangat rapi."

"Tapi tetap saja tak bisa mengelabui agen dari Akatsuki yang sudah terlatih itu."

"Baiklah, Kakashi… Usahakan kau dapat mengetahui kemana arah tujuan perginya bocah itu. Jika berhasil kabari aku. Setelah itu kita harus menyusun rencana agar kita dapat berbicara dengannya."

"Akan kuusahakan, Tuan."

"Tolong jangan mengecewakanku. Kau adalah harapanku satu-satunya agar bisa bertemu dengannya. Jika kita tak bisa menemukannya, usahaku selama dua puluh satu tahun ini akan sia-sia."

"Aku tak mungkin mengecewakanmu, Tuan."

(#(#)#)

Naruto kini terlihat lebih baik. Tiga hari dirawat, telah membuat kesehatannya meningkat. Tiga hari tak dijenguk oleh anak-anaknya. Hanya Konan, Dokter Kakuzu, dan sang Leader, Pain yang mengunjunginya. Dan sekarang, keenam anak-anaknya berdiri di sisi tempat tidur yang ditempatinya. Namun yang membuatnya heran adalah, pandangan menuntut dari kelima anak-anaknya. Hanya lima. Sedangkan anak laki-laki berambut merah yang biasa dipanggil Gaara, hanya diam tanpa ekspresi.

Suasana di ruangan itu kini hening. Namun tatapan tajam menusuk dari anak-anak masih terus berlanjut. Naruto kini mengerti akan apa yang dituntut anak-anaknya. Dia tersenyum lembut. Manatap anak-anak didepannya dengan penuh kasih sayang.

"Kalian marah pada Otou-san?" tanya Naruto ramah. Seyuman masih melengkung di bibirnya.

Tak ada yang menjawab. Suasana masih hening. Anak-anak tak ada yang menjawab pertanyaannya. Naruto menghela napas panjang. Kemudian menatap anak laki-laki berambut merah, Gaara.

"Neechan pasti sudah mengatakannya pada kalian...," kata Naruto. Wajahnya kini tampak serius.

"Apa kau sudah menjelaskannya pada saudaramu, Gaara?" tanya Naruto pada sosok anak laki-laki yang bersandar di dinding ruangan.

"Otou-san saja yang menjelaskannya pada mereka," jawab Gaara datar. Naruto hanya bisa memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing saat mendengar jawaban Gaara.

"Haruskah Otou-san ceritakan pada kalian sekarang?" tanya Naruto. Kelima anak-anak di depannya mengangguk mantap.

Ruangan itu kembali hening. Dalam hati, Naruto berpikir keras mencoba mencari cara untuk menghindari pertanyaan anak-anaknya. Namun tampaknya itu mustahil. Mustahil menghindari pertanyaan anak-anak cerdas di hadapannya. Mustahil pula membohongi kelima anak-anak ini. Mereka terlalu pintar untuk ukuran anak-anak sebaya mereka. Jika dia tidak menjawab, kemungkinan besar anak-anak ini akan marah padanya. Berarti hanya ada satu cara.

"Seberapa banyak Konan-neechan mengatakannya pada kalian?" tanya Naruto.

"Hanya sebatas pekerjaan Otou-san selama ini. Tak ada yang lain," jawab anak laki-laki berambut coklat panjang. Naruto tak bersuara setelah itu. Dia terdiam meikirkan masalah pelik ini.

"Baiklah. Apa ada yang kalian ingin tanyakan selain pekerjaan Otou-san?" tanya Naruto lagi. Dia menoleh pada anak laki-laki berambut hitam yang diikat ke atas. "Bagaimana denganmu, Shikamaru?"

Anak laki-laki yang dipanggil Shikamaru menatap mata Naruto. Dia terdiam seperti memikirkan sesuatu.

"Tidak. Tidak ada yang ingin kutanyakan untuk saat ini. Aku curiga Otou-san akan membohongi kami. Otou-san tampak sedang tak ingin membahasnya," jawab Shikamaru. Naruto tersenyum tipis. Shikamaru sungguh cerdas. Dia dapat mengetahui isi hati Naruto.

"Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Kiba? Shino? Neji? Sasuke? Ada pertanyaan lain?"

"Kurasa tidak ada."

"Tidak."

"Mungkin lain kali."

"Aku tunggu sampai Otou-san mau menceritakannya pada kami."

Naruto tersenyum dalam hati. Anak-anaknya tak akan pernah memaksakan kehendak mereka. Mereka akan menunggu Naruto sampai dia mau menceritakan semua dengan sendirinya tanpa kebohongan yang menutupi.

"Kalau begitu, kita pergi malam ini. Kita ke Sunagakure," kata Naruto sambil bangkit dari tidurnya.

"Apa Otou-san yakin sudah saatnya meninggalkan markas?" tanya Gaara pada Naruto yang kini memakai t-shirt putih miliknya.

"Tentu. Otou-san tidak mau merepotkan orang-orang disini. Dan kau Sasuke, apa kata dokter tentang tanganmu?" tanya Naruto yang kini telah berdiri di depan Sasuke.

"Akan sembuh sekitar satu sampai dua bulan lagi," jawab Sasuke. Naruto tersenyum hangat. Jawaban yang singkat.

"Semoga cepat sembuh," kata Naruto sambil menepuk pelan kepala Sasuke. Setelah itu mereka berjalan keluar dari ruangan itu.

"Kau yakin akan pergi sekarang?" tanya Leader pada Naruto.

"Ya, Leader. Tak mungkin aku membiarkan anak-anak tinggal disini. Aku tak mau mereka mengikuti jejakku. Dan mereka sudah tahu terlalu banyak, semua ini terlalu berbahaya bagi mereka," kata Naruto pelan. Dia tak mau pembicaraannya dengan Leader didengar oleh anak-anak yang kini tengah berbincang dengan Konan.

"Aku mengerti, Naruto. Mobilmu sudah kuganti dan aku sudah membeli sebuah rumah di pusat kota Sunagakure. Ini alamatnya dan berhati-hatilah," kata Leader sambil menyerahkan selembar kertas kecil.

"Arigatou, Leader."

Pain hanya tersenyum kecil melihat reaksi Naruto dan menepuk pelan kepala Naruto.

"Jika ada sesuatu yang kau butuhkan, segera hubungi aku. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membantumu," ujar sang Leader ramah.

(#(#)#)

"Tinggal di pusat kota ternyata sulit…," kata anak laki-laki berambut coklat berantakan yang biasa dipanggil Kiba. Anjing putih bernama Akamaru mendukung kata-kata Kiba dengan gonggongannya.

"Terlalu ramai," ujar anak laki-laki berkacamata hitam, Shino.

"Terlalu berisik," sambung Sasuke singkat.

"Ck… Mendokusei," sahut anak laki-laki berambut hitam terikat, Shikamaru.

"Lebih aman," Gaara menginterupsi pendapat saudara-saudaranya yang kebanyakan memandang tinggal di pusat kota, dari sisi negatif.

"Setidaknya belanja bahan makanan menjadi lebih dekat," kini Neji yang buka suara, mendukung kalimat Gaara. Neji memang pintar memasak. Jika Otou-san mereka tidak ada, maka Neji lah yang memasak makanan untuk saudara-saudaranya. Maka dari itulah dia mengambil sisi positif dari tinggal di pusat kota Sunagakure.

Mereka sudah tinggal di Sunagakure sekitar dua bulan. Dan tangan kanan Sasuke sudah sembuh sepenuhnya. Sekarang mereka tengah bersantai di ruang keluarga. Otou-san mereka, Naruto sudah pergi bekerja sejak tiga hari yang lalu. Siang ini cuaca tak terlalu terik, tapi mereka semua sepertinya enggan pergi keluar rumah. Padahal sang Otou-san sudah sering kali menyuruh mereka bermain di luar dengan anak-anak lainnya.

"Aku bosan," kata Kiba sambil mengelus-elus kepala Akamaru.

Suasana hening. Yang terdengar hanyalah suara televisi dan suara buku yang sedang dibaca Gaara. Gaara tiba-tiba bangun dari duduknya, dan berjalan keluar.

"Mau kemana?" tanya Sasuke. Gaara terhenti di depan pintu.

"Jalan-jalan," jawab Gaara singkat tanpa berbalik memandang Sasuke.

"Gaara dari Sunagakure, mungkin ingin mengenang masa lalu," kata Shikamaru mencoba memberi penjelasan setelah menatap Sasuke yang terlihat penasaran. Neji yang sejak tadi sibuk bolak-balik ke dapur, sepertinya akan menyusul Gaara.

"Aku akan membeli ramen instan untuk Otou-san dan beberapa keperluan lainnya," kata Neji setelah dihujani pandangan mata penuh tanda tanya dari saudara-saudaranya.

"Shino, kau mau pergi?" tanya Kiba yang melihat Shino berjalan menjauh dari mereka.

"Serangga," kata Shino singkat. Shino memang suka serangga. Saat di Otogakure, dia sering ke hutan di belakang rumah untuk mencari serangga. Tapi sepertinya dia akan kesulitan mencari serangga di pusat kota seperti ini.

"Aku ikut! Aku dan Akamaru akan jalan-jalan di taman kota," ujar Kiba. Dia dan Akamaru tampak semangat sekali.

"Aku juga ikut," kata Sasuke pada Kiba dan Shino.

"Lebih ramai lebih bagus!" ujar Kiba semangat. Dia lalu memandang Shikamaru yang masih tidur-tiduran di lantai rumah.

"Ck. Mendokusei," kata Shikamaru malas.

"Baiklah, Shikamaru tidak ikut. Dia terlalu malas untuk berjalan keluar," ujar Kiba. Dia sudah hapal benar sikap saudaranya yang satu ini.

Mereka bertiga lalu pergi. Sekarang, rumah hanya dihuni oleh Shikamaru. Shikamaru hanya tidur-tiduran di lantai sambil menatap langit-langit rumah. Sesekali menguap malas. Benar-benar anak yang malas. Namun tiba-tiba kegiatan malas-malasan anak Otou-san yang satu ini terganggu oleh suara ketukan pintu. Dengan langkah gontai, malas-malsan, dan kaki yang diseret, Shikamaru berjalan lambat sambil sesekali menguap dan mengucapkan kata, "Ck. Mendokusei."

Pasti Otou-san. Tak ada orang lain di rumah ini yang suka mengetuk pintu untuk masuk ke rumahnya sendiri. Kemarin Otou-san juga menelepon akan segera pulang hari ini. Bisa dipastikan, kalau yang datang benar Otou-san, pasti dia akan mengomentari wajah malas Shikamaru seperti biasa. Atau tidak tersenyum dan tertawa kecil. Pintu terbuka, seperti biasa Shikamaru selalu menyambut Otou-san.

"Okae-hmpf!"

"Yang terakhir, sudah tertangkap."

Sosok itu kini mengangkat tubuh Shikamaru yang tak sadarkan diri, ke dalam mobil hitam di depan rumah. Dan tak ada yang mengetahui kejadian itu.

(#(#)#)

"Come on… Angkat, angkat..."

"Sial!"

Naruto kini tengah sibuk menghubungi rumahnya. Mobilnya melaju kencang di jalanan yang ramai. Sekarang sudah saatnya makan malam. Tidak mungkin anak-anaknya pergi keluar rumah. Perasaannya sudah tidak enak. Ada sesuatu yang mengganjal di hati dan pikirannya. Pekerjaan mengharuskannya untuk pergi ke Iwagakure selama tiga hari dan meninggalkan anak-anaknya. Mobil melaju semakin kencang. Naruto seakan tuli, tak menghiraukan suara klakson mobil lain yang disalipnya.

Naruto tiba di rumah. Dia mengetuk pintu seperti biasa. Namun tak ada membuka pintu dan mengucapkan "Okaeri" seperti biasa padanya. Digenggamnya gagang pintu dan diputar. Tak terkunci. Kehampaan dan keheningan menyambutnya setelah membuka pintu.

"Gaara? Neji? Shikamaru?"

Tak ada yang menjawab. Naruto lalu melangkah dari ruang tamu ke ruang keluarga tempatnya dan anak-anak biasa berkumpul.

"Shino? Kiba? Sasuke?"

Hening. Tak seperti biasanya. Naruto mulai panik. Keringat mulai menetes dari dahinya lalu mengalir ke pipi dan berakhir menetes ke lantai. Naruto sudah berkeliling. Naik dari lantai satu ke lantai dua lalu berlari ke lantai tiga. Tapi tak ada seorang pun yang tampak. Naruto memutuskan kembali ke ruang tamu. Matanya menatap tajam sesuatu yang menancap di meja ruang tamu. Seperti kartu, tapi bukan dari kertas melainkan dari besi tipis. Berwarna merah darah.

Naruto tampak sangat marah setelah melihat kartu itu.

"Orang tua itu… Menemukanku…"

To Be Continued

Chapter 2 finish

Kali ini, pendek. Emang sengaja supaya akhirnya kaya' gini. Youichi lagi malas buat Akatsuki jadi peran antagonis. Sekali-sekali boleh, 'kan jadi protagonis? Buat uke Youichi yang protes karena nih fic kagak ada prolognya, gomen ne. Youichi emang sengaja gak buat prolognya. Nanti seiring cerita biar terungkap semua. Maunya sih bikin readers penasaran. Arigatou untuk readers sama senpai yang mau baca dan review fic gaje dan tak bermutu ini.

Buat chapter 3, udah ada idenya. Lalu nasib enam bersaudara yang kagak pantes disebut saudara, bakal ketahuan! Buat yang nyulik tuh anak-anak juga bakal ketahuan di chapter 3. Youichi juga akan usahakan supaya updatenya cepet, asalkan Youichi besok masih hidup dan bisa menatap indahnya matahari pagi. Baiklah, sekali lagi Arigatou Gozaimasu.

REVIEW!