Deidara x Ino Yamanaka

Naruto Masashi Kishimoto

HAPPY READING!

"The One Who Bright My Heart"

Redpapillon

CHAPTHER 2

.

.

.

Hari ini Deidara sangat lelah, ia merebahkan dirinya ke atas kasur dengan kasar. Di lihatnya jam digital yang berada di meja, sudah jam 8 malam. Hari ini sangat melelahkan, dan menyenangkan. Deidara tersenyum menatap langit langit kamarnya, membayangkan kejadian tadi saat keduanya saling berpelukan.

Ia memiringkan badannya, mengetik satu demi satu huruf di keyboard handphone-nya

"Tidurlah, un. Besok masih sekolah dan jangan jadi babi saat kau tidur!" Deidara tertawa kecil saat pesannya langsung di balas

"Siapa yang kau bilang babi dasar un-un sialan. Ya, baiklah aku akan tidur. Btw, terimakasih untuk malam ini Dei-senpai. Kau benar benar memberiku kejutan. Selamat malam" Deidara mematikan handphone dan memejamkan mata

Ketukan pintu rumahnya membangunkannya, membuatnya menggerutu kesal karena masih saja seseorang datang saat tiba waktunya dia untuk tidur. Mengganggu.

Dengan malas, ia melangkahkan kakinya menuju pintu. Masih dengan paras yang berantakan, dan setengah sadar, dilihatnya gadis berambut pink berdiri tepat di depannya

"Sakura?!" ia melihat gadis didepannya dengan mata gadis itu yang berkaca-kaca. Gadis itu langsung melesat kedalam rumahnya, Deidara langsung menutup pintunya dengan cepat

"Ada ap— s-sakura..." Gadis itu langsung memeluknya, memeluk Deidara dengan erat, dan menangis tersendu-sendu di dalam pelukannya.

"Dei-senpai... S-sasuke-kun.. Dia, dia mencampakkan ku."

"apa yang bajingan itu lakukan kepada mu?" Deidara melepaskan pelukan Sakura, dan menatapnya.

"Saat aku bilang aku mencintainya, dan.. Dan dia hanya berkata.. A-ku tidak peduli dengan mu. Dan hal bodoh apa yang kau bicarakan? Bodoh. Huaaa itu sakit sekali Dei-senpai" Sakura kembali memeluk Deidara

Deidara membalas pelukannya, namun tak seerat pelukan Sakura.

"Tenanglah, masih ada orang lain yang akan membuatmu bahagia"

Sakura melepaskan pelukannya, dan tersenyum menatap Deidara. "Ya, tentu Dei-senpai. Aku masih memilikinya" kini kedua mata gadis itu menatap Deidara dengan penuh harap dan berbinar "Aku masih memiliki mu" lanjutnya

Mendengar itu membuat Deidara spontan melepaskan pelukan dan menatap Sakura salah tingkah.

"P-permisi sebentar aku harus ke toilet" Deidara langsung masuk ke toilet dengan terburu-buru

Selama di rumahnya, Sakura menyelinap ke kamar Deidara. Ia mencari sesuatu, mencari kamera Deidara tentunya. Ia menemukannya, di sudut lemari kamera itu di letakan. Ia mengambil kamera itu, dan melihat semua koleksi foto yang Deidara punya.

Saat itu, Sakura berhenti menggeser foto. Ia menemukan 8 foto yang membuatnya tertegun. Ia tersenyum kecut, dan membuatnya langsung menghapus foto-foto itu. Hal itu membuat Sakura ingin merencanakan sesuatu. Terutama untuk gadis yang berada di salah satu koleksi foto Deidara, Ino Yamanaka yang jelas adalah sahabatnya.

Sakura buru-buru keluar dari kamar Deidara setelah ia meletakkan kembali kamera ketempat semula. Ia duduk di sofa ruang tamu dengan manis menunggu Deidara di kamar mandi.

Klek

Suara pintu terbuka dan tertutup kembali, Sakura menoleh dan mendapatkan Deidara. Ia menghampiri pria itu dan meraih kedua tangannya

"Dei-senpai..." mata itu menatap lekat mata pria didepannya

"Ada apa, un?" Deidara mengernyitkan dahinya.

Gerakan cepat yang di lakukan Sakura membuat Deidara terkejut. Tidak—lebih tepatnya membuatnya susah bernafas. Tapi, apa yang harus di rasakan Deidara? Seharusnya senang bukan? Tapi hal itu malah tidak membuatnya senang, seperti ada yang mengganjal dirinya.

Sakura melumat bibir Deidara dengan kasar, membuat pria itu terengah-engah kemudian kembali melumat bibir pria itu. Di rasa cukup, Sakura berhenti menciumnya

"Aku mencintaimu, Dei-senpai. Tidak peduli seberapa besar kau mencintai seseorang, atau seseorang itu mencintaimu, aku akan hadir dan selalu mencintaimu. Jaa ne, Dei-senpai" Sakura melambaikan tangan dan berjalan pergi meninggalkan Deidara yang masih terpaku

Entah apa yang dirasakan Deidara saat ini, tapi yang jelas dia benar benar terkejut. Apa Sakura benar benar mencintainya?

oooooo

Hari ini adalah hari selasa, dimana sang Yamanaka menjalani hari harinya dengan bahagia. Semenjak kejadian kemarin, ia lebih optimis dalam menjalani hari harinya. Terutama dalam hal percintaannya, Ia tidak akan membiarkan seseorang merebut apa yang membuatnya bahagia.

"Selamat pagi" sapa perempuan berambut cepol dua, Tenten.

"Selamat pagi, Tenten" senyum Ino mengembang

"Wah, wah.. Kau beda ya.. Tidak seperti biasanya. Ada apa tuh?" Tenten menyenggol bahu Ino dengan bahu miliknya

Dengan masih tersenyum, Ino menggeleng "Tidak ada, tuh"

"Bohong! Ahh ayo lah Ino, ceritakan kepadaku ku mohonnn, ya ya ya" Tenten memelas.

Hal itu membuat Ino tertawa geli, dan akhirnya membuatnya pasrah. Mau tidak mau ia menceritakan nya kepada salah satu temannya

"Ku mohon jangan biarkan orang lain mengetahuinya. Baik itu Sakura, maupun Temari. Berjanjilah padaku, ku mohoon" Tenten mengangguk, Ino menceritakan semuanya. Saat masa masa indah bersama Deidara, yang membuatnya senang hari ini.

"Astaga! Aku tidak menyangkanya... Akhirnya kau memiliki pacar Ino, selamat! Kau akhirnya bisa menyusulku dengan neji yaa"

"heh? Apa? T-tidak, tidak, aku tidak pacaran dengannya"

"Lalu kalimat romantis yang dia lontarkan dalam seninya itu apa?" Tenten menatap Ino penuh tanya, dan Ino hanya mengangkat kedua bahunya.

"Oh astaga, Ayolaahh! Dia menyukai mu, dan aku yakin kau juga menyukainya, iyakan?"

Ucapan Tenten berhasil membuat wajah Ino memanas, dan tak tau apa yang harus Ino ucapkan untuk membalasnya

"Semoga kau beruntung, cepatlah ayo susul aku dan Neji yaaa" Ino hanya mengangguk dan tersenyum

Tak lama kemudian, suara langkah kaki mendekat. Ino menoleh dan mendapati Sakura yang berdiri di belakang Tenten

"Ten, kembali lah ke tempat mu" dengan ketus, Sakura menyuruh Tenten pergi

"Ada apa dengan mu?" Ino menaikan alisnya

"Ya, Sakura. Ada apa dengan mu? Tidak seperti biasanya"

"Tidak apa-apa. Sudah lah, aku sedang tidak ingin di ganggu" Sakura langsung duduk dengan sebal

Yang dilakukan Ino dan Tenten adalah saling bertatap, dan tidak mengerti kenapa Sakura seperti itu.

oooooo

"jadi, dia bilang seperti itu kepada mu?"

Deidara mengangguk, memperhatikan banyak mata yang menatapnya terkejut

"lalu, kau jawab apa?" tanya gadis berambut ungu muda—konan, alias pacar Pain.

"Aku tidak menjawabnya, un."

"Kau ini bagaimana? Sudah jelas ya dia mencintaimu"

Ucapan Sasori membuat Deidara berpikir, entahlah apa Sakura benar benar menyukainya atau bahkan hanya menjadikannya pelampiasan karena tidak mendapatkan Sasuke?

"Entahlah, un. Seperti ada yang mengganjal di hatiku. Seperti nya, aku... Sudah tidak mencintainya" Deidara memperhatikan semua temannya yang memandangnya prihatin.

"Jangan bilang, kau sudah menemukan seseorang yang kau cintai?" mendengar ucapan Pain, membuat Deidara mengembangkan senyumnya

"Ya, kurasa seperti itu,un"

Sekarang adalah waktunya istirahat, untuk mengucapkan terimakasih yang sebesar besarnya kepada Deidara, Ino membawakannya kotak bekal.

Dengan senyum yang masih mengembang dan tak lupa rona merah di kedua pipinya, Ino Yamanaka mencari tangga menuju lantai atas. Langkahnya terhenti begitu mendapati sosok yang sedang berdiri jauh darinya. Dan kali ini, sosok itu tidak sendiri.

Ino Yamanaka terengah-engah, terkejut, dan ingin menangis. Maaf, maksudku bukan ingin, tetapi sudah menangis. Ia berbalik dan berlari menjauhi sosok yang ingin ia temui itu. Sungguh, sekarang hatinya benar benar sedang sakit.

Mendengar hentakan kaki milik seseorang, Deidara mengalihkan pandangannya. Ia mendapati Ino Yamanaka yang telah berlari menjauhi lorong ini. Lantas, Suara lantang miliknya langsung cekatan memanggil nama itu

"Y-yamanakaa! Tungguu! Tch, sialan." baru ingin melangkahkan kaki, Sakura menarik lengan deidara.

"Biarkan saja dia, Dei-senpai. Mungkin sedang terburu-buru" Sakura menunduk dan tersenyum dengan senyuman liciknya.

oooooo

Ino Yamanaka berlari menuju kamar mandi dengan isak tangis yang membuat dadanya terasa sakit. Untuk kali ketiga, Sakura kembali merebut cintanya. Ino memejamkan matanya, dengan bingung dan pusing ia memikirkan ini. Padahal, dia menyukai Deidara juga tidak dia beritahukan ke siapa siapa, hanya Tenten.

Kepalanya pusing, dadanya sakit, ia menoleh ke arah kotak bekal yang berada di samping wastafel. Ia menggenggam kotak bekal itu tepat di depan dadanya, ia merintih begitu menahan perih dan masih menangis.

Ia membiarkan air matanya tetap terjatuh, biar semua orang tau bagaimana perasaannya. Biar semua orang mengerti bahwa jatuh cinta itu menyakitkan.

Ia kembali ke kelas dengan masih memegangi kotak bekal. Matanya masih sembab, tapi tidak ada keinginan untuk mengelapnya.

Sentuhan dan tarikan halus berhasil membuat Ino mundur tiga langkah dan menoleh. Ia mengerjapkan matanya yang sembab, dan menatap penuh kesal kepada sosok yang berada di belakangnya—Deidara.

Dengan satu hentakan, Ino berhasil melepaskan genggaman pria itu. Namun, pria itu kembali berhasil menggenggam pergelangan tangan Ino.

"Lepaskan aku, Dei-senpai." Ino memutar bola matanya, dan memilih tidak menatap Deidara sekalipun

"Lepaskan, ku bilang lepas..."

"Tidak Ino, dengarkan aku. Kenapa kau tiba tiba saja lari? Kenapa kau tiba tiba saja seperti ini? Seolah olah kau tidak mau bersamaku?"

Ino memperhatikan Deidara , ucapannya terdengar samar dan bergetar. Apa yang harus ia lakukan? Hatinya masih sangat sakit saat melihat Sakura yang memberikannya sebuah kotak bekal untuknya, di tambah lagi dia memeluk Deidara dengan manja. Hal ini membuat Ino benar benar pusing

"Dei-senpai, maafkan aku..." air matanya menetes

"Sepertinya, aku tidak ingin bertemu dengan mu lagi... jaa ne, Dei-senpai" Ino menatap pemuda itu sekilas dan kembali menangis. Yang mungkin, Deidara dapat melihatnya.

Memperhatikan gadis bermata aquamarine yang berlalu pergi, Deidara tidak bisa berkata apa apa. Entah kenapa ucapan yang di ucapkan Ino membuatnya seketika mematung. Rasanya ia ingin menangis. Sungguh, ia ingin Ino tau bahwa ia mencintainya.

oooooo

"oi oi, ada apa Dei? Gelisah ya?" tidak di gubris, Pain menghampirinya dan menenangkannya

"Hey, Dei. Sadar bodoh! Kau itu kenapa sih?" Deidara hanya menatapnya datar, lalu langsung bergegas pergi meninggalkan semua temannya.

Dering telfon dari handphone milik Sasori bergetar, ia menjawabnya dan terdengarlah suara di seberang sana—Kisame.

"Sasori, apa kabar?"

"baik, ada apa Kisame?"

"Apa masih ada Deidara disana?" langsung saja Pain mengambil alih handphone Sasori

"Sayang sekali sobat, sepertinya mood dia hancur deh"

"Ini pain? Eh benar kah begitu Pain? Wah wah.. Mungkin dia sedang ribut dengan kekasih barunya" ucapan Kisame membuat semua orang yang berada di sekitar handphone itu terkejut. Tentu saja terdengar karena lewat speaker

"De-de-de-Deidara punya pacar? Sejak kapan?" Tobi menyambar

"Sungguh kalian tidak tau? Payah sekali, tch. Ya, dia punya pacar. Sejak dia berkunjung ke Museum of Art Konoha, ia membawa seorang cewek. Dan sungguh, cewek itu cantik"

"Kira kira seperti apa rupanya, Kisame?" tanya Pain

"umm bagaimana ya menggambarnya... Gadis itu berambut blonde, bermata aquamarine, dan di kuncir kuda" penjelasan Kisame membuat semua teman-temannya terkejut

"Baiklah terimakasih Kisame, kami sudah mengetahuinya" Pain menutup telepon

oooooo

Ino menyesap teh hangatnya di kedai sushi Konoha. Ia masih melamun, dan tentu sakit hati. Baru saja ia yakin tentang percintaannya dan hancur seketika melihat gadis yang merupakan temannya, kembali menyakitinya.

Ino bermain main dengan sushi yang berada di depannya. Tidak di makan, hanya di tusuk dan dimainkan. Sudah lama tidak merasakan sakit hati lagi, dan kini ia harus mengalaminya lagi.

Ino buru-buru menghabiskan makanannya karena teringat ia belum pulang kerumah. Ia memakai sepatu nya dan berlalu pergi. Di perjalanan, Handphone miliknya berdering dan tak kunjung diangkat oleh Ino. Sudah 104 Misscall dari Deidara, dan dia memilih untuk mengacuhkannya

Yang terlintas dalam benaknya adalah... Apa Deidara merasakan hal yang sama? Apa Deidara menyukainya seperti ia menyukai pria itu? Atau Deidara akan kembali mengharapkan cinta Sakura yang dulu sempat sirna? Entahlah... Ino hanya berharap bahwa semua ini tidak akan lama.

Terlalu asyik menatap layar handphone, tidak di sengajanya menabrak bahu seseorang yang lawan arah.

"Ah, maafkan aku..." kedua mata mereka saling beradu, sejenak membuat nafas Ino tercekat.

"Ino? Ino itu kau? Astaga sudah lama sekali aku tidak melihatmu" pria itu menghampirinya dan menggendongnya memutar, tak lupa dengan seekor anjing yang menggonggong senang.

Tindakan pria itu membuat Ino tidak dapat berkutik. Yang Ino rasakan adalah... Dia—benar—benar—rindu.

"K-kiba, sudah lama ya.. Hehe" lidahnya kelu, mengucapkan kalimat itu saja membuatnya awkward.

"Ya, aku senang bertemu dengan mu. Apa kau masih tinggal di daerah sini?" Kiba memperhatikan sekitar, dimana Konoha terlihat asing baginya.

Ino mengangguk "Ya, bagaimana hari harimu di London? Mengasyikan bukan?" Ino tersenyum kecil

"Begitulah, tapi aku sangat sangat merindukan Konoha. Dan entah kenapa, aku merindukan mu"

Ucapan itu seperti ada yang menghantam dada Ino dengan sangat keras. Bagaimana bisa.. Seseorang yang menjadi cinta pertamanya, yang berpacaran dengan sahabatnya, bisa merindukannya? Apa itu wajar?

"Aku ingin main kerumah mu ya, bolehkan? Bersama Akamaru. Aku juga sudah lama tidak bertemu paman Inoichi." Ino hanya tersenyum, dan berjalan mendahului pria itu.

"Kita sudah sampai, masih ingat dengan tempat ini?" Ino terkekeh, melihat reaksi Kiba yang kebingungan

"Dulu ada ayunan disini, sekarang kemana? Cat tembok rumah mu juga sebelumnya berwarna ungu, ya kan?" Ino tertawa begitu mengetahui Kiba yang masih mengingatnya.

"Ya, aku sudah besar tau. Mana mungkin aku main ayunan dan perosotan lagi, ya kan? Ah ternyata kau masih mengingatnya ya" mereka tertawa bersama, satu bunyi decitan yang dihasilkan dari pintu berhasil membuat Ino dan Kiba menoleh

"Inuzuka Kiba? Astaga! Aku sudah lama ya tidak melihat mu" tuan Inoichi sekaligus ayah Ino Yamanaka melangkah keluar dan memeluk Kiba erat

Bagi Ino, rasanya seperti... Entahlah,seperti hal buruk. Dulu dia ingin Kiba kembali dalam genggamannya, Tapi sekarang... Ia sudah tidak lagi membutuhkannya. Rasanya, kali ini berbeda. Setelah Deidara hadir untuk mencerahkan hatinya.

Ino menatap kedua pria yang berada didepannya, ia tertawa kecil. Baginya sekarang adalah... Berbahagia. Walaupun hati dan kesenangannya tidak berada dalam pria yang berada didepannya, pria yang dulu pernah menjadi cinta pertamanya.

.

.

.

To Be Continued

[ gatau kenapa sumpaah, buat FF ini ada semangat tersendiri. Suka pairing nya, dan alurnya, dan gregetannya, ah ini dalam jelang 4 hari kelar loh ya aampunnn! semoga kalian enjoy sama kaya aku yg enjoy dengan ceritanya heheh, JANGAN LUPA REVIEW YA SAYANQ ;* ]