Awan berarak dengan tenang dilangit yang biru cerah, suara jangkrik mengalun merdu, dan tidak ketinggalan aroma tanah yang terbakar akibat sinar matahari yang begitu panas. Uchiha Sakura hanya bisa berbaring seraya memejamkan mata menikmati dinginnya lantai. Kipas kertas dan minuman dingin tak luput dari kedua tangan mungilnya. Kening lebar gadis berseragam musim panas itu mengkerut kesal dan berkedut menampakan perempatan urat yang besar.

"PANASS,KUSOOOO"

Just my story

Disclaimer : Masashi Kishimoto

By : Al Khayla

Genre : Family, friendship, romance ? dll

Warning : AU, GaJe, Acak Adul, Typo everywhere, dll

.

.

.

.

"Sial, musim panas kali ini panas sekali membuat kepalaku pusing. Seandainya saja tadi aku pergi menggunakan mobil mungkin panasnya berkurang lalu ikut sarapan untuk menghemat bekalku karena aku lupa tidak punya uang untuk membeli roti seandainya tadi rantainya tidak lepas seandainya tadi tidak terlambat seandainya tadi tidak dimarahi si Uban seandainya seandainya seandainya..." Sakura terdiam, ia sadar jika hanya berandai-andai sedari tadi tidak akan mengubah yang telah terjadi toh udang sudah menjadi kerupuk, jadi nikmati saja nanti juga sedap pikir Sakura. Mulai merasa sejuk Sakura mengubah posisi berbaringnya, duduk dengan kedua tangannya ia gunakan untuk mengipasdan menhantarkan cairan dingin ke dalam kerongkongan.

Glek..glek... Sakura tahu posisi minumnya kini lebih terlihat seperti paman pemilik toko roti jika meminum bir dingin, kepalanya yang semakin kebelakang seiring bertambahnya intensitas minuman yang masuk dan diakhiri dengan menundukan kepalanya cepat ke depan sembari menghela nafas puas. Ugghhh... jus jeruk dingin memang pas batin Sakura dengan terkikik. Matanya tak sengaja melihat garisan luka yang lumayan dalam di betisnya, wajahnya kembali sendu. Mulai mengingat kesialan yang ia alami tadi pagi.

"Seandainya..."

.

.

Flashback

"HEEE... PULANG?"

"Iya"

"T..tapi Sarutobi jii-san tidak memberi kabar padaku kemarin" Kata Sakura heran.

"Memangnya dia ada waktu untuk memberimu kabar, dia juga baru memberi salam perpisahan tadi pagi. Dia dijemput cucunya Konohamaru, oh tapi kau tenang saja Sarutobi akan pulang dua bulan lagi."

Dalam kepala Sakura berseliweran praduga negatif, perasaannya sudah tidak karuan. Cemas dan khawatir akan sesuatu yang menimpa Jii-san tersayangnya. Menyadari apa yang ada dipikiran Sakura, Shizuka tertawa pelan.

"Ahahaha...jangan khawatir Sarutobi baik-baik saja, dia pulang untuk menghadiri pernikahan anak bungsunya. Percaya padaku walaupun asmanya nanti kambuh dia tidak akan mudah mati."

Sakura mengela nafas lega raut wajahnya pun kembali ceria. Ya, pamannya akan baik-baik saja walaupun asmanya kambuh ia ingat minggu lalu saat penyakit Pak tua itu kambuh. Sarutobi Jii-san dengan cepat mengatasinya. "Syukurlah, baa-san sendiri tidak ikut kesana? Bukankah kalian tetangga juga disana? Sekalian mudik"

Shizuka mengibas tangannya "Ah tidak tidak, aku tidak mau ikut. Terlalu lama duduk dalam mobil berakibat jelek untuk encokku lagian jika aku pergi siapa yang akan memberimu pakan"

"Aku bukan kucing Shizuka baa-san" protes Sakura kesal.

"Sudahlah aku kan hanya bercanda, cepat kau pergi. Kau sekolah kan?"

Sakura mengerucutkan bibirnya menyadari ia tengah diusir, ia menggiring sepedanya melewati penyebrangan jalan setelah melambaikan tangan pada Shizuka. Kruyukkk... perut Sakura ternyata tidak bisa berkompromi dalam menunda makan, terpaksa ia membeli roti di kedai kue yang berjarak lumayan dari tempat ia sekarang. Apes memang, Sakura tidak menyadari bahwa kedai kue tersebut terlalu mengorek dompet seukuran pelajar termasuk Sakura, tapi Sakura sudah terlanjur masuk dan memesan roti dengan terpaksa ia membayar 5.500 yen untuk roti coklat seukuran kaset cd kecil pupus sudah harapannya untuk membeli roti di depan stasiun kereta favoritnya setelah roti Sarutobi jii-san.

Kesal, Sakura menggoes sepedanya dengan cepat alhasil rantai sepeda terlepas dan membuat Sakura jatuh dengan posisi yang tidak elit, masuk selokan. Beruntung selokan tersebut kering dan hanya menimbulkan luka dibetis Sakura. Sialnya murid-murid yang melihat hanya tertawa tanpa ada niatan menolongnya Sakura semakin gondok saat melihat mobil kakaknya Sasuke lewat begitu saja. Hei apa-apaan itu! Jelas-jelas Hinata nee-sama dan Sasuke nii-sama melihatku melalui jendela mobil. Menyebalkan! Batin Sakura, yah ia tahu mereka tidak akan peduli tapi setidaknya mereka memberikan sedikit perhatian bukan minimal dengan memberi klakson? Haha mimpi. Dengan kepayahan Sakura bangkit dan menggiring sepedanya tanpa memedulikan orang disekitar yang memandang kasihan dan mencemooh. Lalu, bel keras dari sekolah serasa menghujam jantungnya. Seperti kerasukan ia berlari mengabaikan darah yang semakin banyak keluar dari lukanya, tubuh mungilnya terjauh tepat di depan Kakashi yang kini berdiri menghadang Sakura masuk gerbang. Dia hanya menatap datar Sakura yang terjatuh tanpa niat sedikit pun menolong, Sakura yang menyadari tatapan gurunya menengadahkan kepalanya ke atas, nyengir.

"Terlambat lagi Uchiha? Bangun dan simpan sepedamu. Setelah itu pergi ke UKS obati lukamu."

.

.

.

Setelah mendapat wejangan dari gurunya Sakura memutuskan membolos ditemani sekaleng jus jeruk dan kipas kertas yang ia dapat dari UKS, selanjutnya ia melangkahkan kakinya menuju atap sekolah sampai merenung seperti saat ini. Ya, kini ia berandai. Seandainya ia anak emas Uchiha apakah ia akan diperlakukan sama? Seandainya ia berguna apakah saudaranya aka peduli padanya? Dan seandainya semua itu terjadi apakah pandangan mereka akan berubah terhadapnya? Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban di udara. Untuk saat ini biaralah ia berimajinasi memiliki hal-hal tersebut dengan memandang langit biru diatasnya.

.

.

TBC

.

.

.

Kritik dan saran sangat membantu dalam penyempurnaan cerita, itu jika kalian berkenan :D