unedited
The Suburbia
2
Setelah peristiwa Jongin menyaksikan Sehun di koridor meninggalkan Si Anak Gitar a.k.a 'Chanyeol', ia pernah melihat Sehun satu kali di luar sekolah. Waktu itu malam hari, Jongin dan Seulgi sedang duduk berseberangan menunggu kedua orang tua mereka yang sedang dalam perjalanan ke tempat. Selagi membuka halaman menu makan malam, Jongin kebetulan melihat sebuah figur anak lelaki yang dikenalnya; Oh Sehun. Matanya sungguh jeli bila mengenai Sehun, dan Jongin berusaha untuk tetap tenang di hadapan Seulgi—tidak terlihat gelisah di tempat.
"What's wrong?"
"Huh?"
Seulgi menatap Jongin lama, kemudian berkata, "Kakimu tidak mau diam," kaki Jongin otomatis berhenti dihentak-hentakan, "dan kaucuri pandang ke arah jalanan." Seulgi pun mengikuti arah pandangan Jongin, spontan Jongin menjambak helaian rambut Seulgi keras-keras untuk menjauhkan Seulgi dari pemandangan Sehun. Akibatnya semua perhatian tertuju pada mereka karena anak perempuan tersebut—seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya—sungguh dramatis. "Jongin, what the fuck?!" Seulgi berteriak histeris. Beberapa pelayan di sana menatap mereka seolah ingin mengusir pergi. Ups.
"Uhm, ada—ada serangga di rambutmu." Jongin beralasan, tidak begitu mulus.
"Kau tidak usah menjambak rambutku!" Seulgi menyisiri helaian rambutnya, melihat ke sekitar untuk mencari serangga yang dimaksud.
"Maaf. Aku panik. Serangganya ... serangganya sudah pergi."
"You are so fucking stupid. Aku tahu yang tadi pasti Si Oh Sehun."
"Shut up."
"Artinya aku benar, yang tadi Oh Sehun." Kakaknya perlahan mengukir sebuah senyum. Hih. Mengerikan. Kenapa semua di keluarga ini dilahirkan dengan senyum picik yang mengerikan?
Jongin kemudian menyibukkan dirinya dengan buku menu meski ia amat gatal untuk menoleh memeriksa Sehun yang nampaknya masih tetap berdiri di hadapan sebuah rumah makan. Sekarang sudah hujan besar, jadi mungkin Sehun sedang redanya.
"Ohhh, jadi itu Oh Sehun? He's not bad." Seulgi berkomentar, matanya tidak meninggalkan figur Sehun. "Dia manis."
Ughhh. Jongin berusaha untuk tidak merespon komentar kakaknya, ia tidak ingin menanggapi kakaknya yang pasti akan membuat semuanya jadi panjang. Seulgi ini senang bergosip dan berkata hal yang tidak-tidak. Membuat sesuatu jadi berlebihan, ya begitulah.
"Apa kau berhasil mendekatinya?"
Jongin melirik Seulgi sekilas. Hanya sekilas, ia berpura-pura membaca menunya lagi.
"Hah. Tentu saja. Adikku yang malang, kau ini pasti pecundang di sekolah. Siapa yang mau denganmu?"
Kening Jongin mengernyit. Ia memikirkan respon balas dendam untuk Seulgi, mungkin memanggilnya juga pecundang di sekolah. Tapi dulu Seulgi bukan pecundang di sekolah, Seulgi bahkan cukup populer meski dikenal jutek. Jadi Jongin hanya berusaha membela diri dengan, "Eh? Aku bukan pecundang."
"Pecundang sejati takkan mengaku pecundang. Duh." Seulgi mengerling malas, namun kemudian raut wajahnya jadi sumringah. Pandangannya masih mengarah ke luar jendela, pada Sehun. "Awww, pantas saja kau selalu terlihat menyedihkan. Dia sudah memiliki kekasih, ya?"
Kekasih? Kekasih sungguhan?! "Huh?" Jongin spontan mengalihkan perhatiannya pada Sehun yang kini terlihat dihampiri oleh ... Si Anak Gitar. Uhm. Chanyeol terlihat membawa payung bersamanya, payungnya tidak begitu besar, dan hanya satu. Nampaknya Sehun sedang dijemput oleh Chanyeol yang kini terlihat berusaha untuk menempel pada Sehun karena mereka harus berdesakan di bawah satu payung. Mereka berjalan menjauh dari pandangan Jongin, kemudian menghilang.
"Kau yakin bisa merebut anak itu dari kekasihnya?"
Jongin diam.
"Tuan Jongin, kau harus banyak bercermin. Apa kau tidak lihat bagaimana rupa kekasihnya si Oh Sehun ini?" kata Seulgi, ia menghela napas berat. Menatap adiknya iba. "Dia mungkin bintang sekolah, di klub baseball. Salah satu dari kumpulan anak tampan nan kaya raya yang manja. Aku yakin kau tidak pernah memikirkan ini karena kau terlalu anti-sosial. Do some research."
Kali ini Jongin tidak membalas perkataan Seulgi, ia malah duduk termangu, memikirkan apa mungkin memang Chanyeol ini anak yang populer? Kalau dipikir-pikir, bisa jadi, mengingat anak perempuan tukang gosip kemarin menyebut nama Chanyeol seolah mereka sudah menyebutnya ribuan kali.
Untuk kasus Sehun, ia memang sedikit populer karena keramahannya. Well, itu yang Jongin pikir bila dilihat dari berapa banyak orang yang menyapa Sehun tiap harinya (Jongin tidak menguntit Sehun seharian, okay?! Jongin hanya memperhatikan Sehun lebih lama dari seharusnya hehe.). Tapi Jongin tidak benar-benar tahu seberapa populer Sehun. Ia tidak banyak melihat dunia di luar Sehun.
"Kau ingin memiliki kekasih seperti Oh Sehun? Pft. Not even in your dreams."
.
.
.
Ketika nenek Jongin bercerita bahwa ia memiliki indera keenam, Jongin tidak mempercayainya. Kemudian ketika ibu Jongin mengatakan bahwa mungkin salah satu di antara dirinya dan Seulgi ada yang mendapatkan indra keenam itu, Jongin hanya berusaha untuk tidak mentertawainya.
Tapi holy fucking shit, tiba-tiba saja Jongin percaya hal-hal yang serba super natural.
Bila diketahui Jongin ini anti-sosial dan tidak begitu melihat dunia di sekitarnya, memang benar, tidak mengada-ada atau sedang dramatis. Jongin kini baru menyadari bahwa ya, lihat siapa yang kini ada di lapangan bersama tim baseball sekolah ...
No no, Jongin ada di sini bukan untuk sebuah klub olah raga. Ia ada di sini karena harus mengikuti kelas tambahan olah raga.
Aduh, mungkin Seulgi memang dianugerahi indra keenam, Chanyeol ini benar-benar seperti bintang sekolah. Tipe anak dari keluarga kaya raya yang ambisius. Tampilannya sangat maskulin. Hm, kalau saja tipe Jongin itu anak lelaki maskulin, mungkin Jongin akan lebih memilih Chanyeol dibanding Sehun. Tapi tiap orang tentu memiliki preferensi. Jongin lebih senang dengan yang soft, manis, gemas ingin diayomi huhuhu—Oh, God, Jongin, stop.
Jongin tidak sadar sudah menatap Chanyeol sedari tadi sembari memikirkan Sehun, raut wajah Jongin kan paling tidak bisa dikontrol bila sudah mengenai Sehun. Aduh. Dan benar saja, tatapan mereka bertemu. Fuck. Jongin segera mengalihkan tatapannya, berpura-pura batuk, kemudian melingkarkan tangannya ke anak lelaki di sampingnya.
"Uhm ..." Anak lelaki di samping Jongin mengernyitkan keningnya kebingungan.
I meannn, tidak aneh sih bila Chanyeol ini disebut sebagai bintang sekolah. Kalau rupa wajah yang amat menarik, tidak usah ditanya, Jongin membayangkan berapa banyak orang yang mengejarnya. Kemudian perawakannya, tidak begitu besar, tapi memang amat jangkung sehingga ia tetap saja terlihat jauh lebih gagah dibanding yang lain. Dan anggota tim baseball dikenal dipenuhi oleh anak-anak yang amat kaya raya.
Terdengar sungguh fiktif dari cara Jongin menggambarkan Chanyeol ini, tapi itu kenyataannya. Kalau kalian ada di sini, mungkin kalian bisa melihat sendiri berapa banyak penggemar yang Chanyeol miliki. Kalian dapat menyaksikan sendiri bagaimana Chanyeol ini memiliki aura 'pangeran'. And he looks super cisgender-hetero, indeed. Ada kumpulan anak perempuan di samping lapangan yang tidak berhenti memperhatikan tiap gerak-geriknya. Hih.
Eits! Meski Jongin menyukai laki-laki, bukan berarti dia membenci perempuan. Perempuan itu indah, tapi Jongin hanya lebih menyukai laki-laki hehehe. Namun bukan yang satu ini.
Fokus Jongin tetap pada Chanyeol, ia memperhatikan Chanyeol dari pengelihatan perifernya. Jongin kemudian harus berbasa-basi ketika Chanyeol berjalan melewatinya. Ia mudah terintimidasi oleh orang-orang yang rupawan dan memiliki perawakan yang lebih besar darinya. "Cuacanya bagus." Kata Jongin tiba-tiba.
"I don't know you."
"Aku Jongin."
"Oh. Kim Junmyeon."
Jongin mengerjapkan matanya setelah mendengar anak lelaki di sampingnya bersuara lagi. Butuh beberapa saat untuk Jongin menyadari apa yang baru saja dilakukannya. Jongin menoleh ke samping dan tersenyum. Hey! I made a friend.
.
.
.
Tidak ada lagi update dari kabar mengenai foto dua murid dipergoki di toilet sedang seks oral. Hm. Jongin tahu itu Sehun, tapi ia hanya ingin memastikannya. Dan Lisa juga yakin itu Sehun. Kalau Lisa berkata begitu, berarti memang begitu. Tapi Jongin ingin bukti, dan yang ia dapat malah informasi mengenai Chanyeol. Meski memang Chanyeol ini baru hadir di pikiran Jongin setelah mengetahui kedekatan mereka, tapi Jongin rasanya sudah tahu mengenai Chanyeol cukup banyak. Sungguh kebetulan, baru kemarin-kemarin Chanyeol dan Sehun terlihat bersama, kini Jongin tiba-tiba saja serba-tahu mengenai Chanyeol. Tak lupa juga Sehun dan Chanyeol yang sudah terlihat bersama beberapa kali oleh Jongin. Namun di luar itu, Jongin tidak tahu.
Apakah mereka benar-benar sepasang kekasih? Hm.
Jongin yang tadinya fokus pada lamunannya di kamar, tiba-tiba saja fokusnya buyar seketika oleh notifikasi pesan teks. Of course, it's Lisa.
Lisa: BRO. LOOK. AT. THIS.
Jantung Jongin berdegup cepat, kalau Lisa sudah menggunakan huruf kapital, Jongin tahu apa pun itu akan membuatnya histeris.
Lisa: sends you a photo
Di dalam sebuah gereja, dan Jongin dapat melihat seorang pria dan anak lelaki menjauh dari keramaian, sepertinya sedang membicarakan sesuatu yang amat serius. Anak lelaki itu tidak menatap pria di hadapannya tepat di wajah. Bahkan lelaki itu memalingkan wajahnya—lelaki itu Si Anak Gitar, Chanyeol! Wowie.
Jongin: what,, tf
Lisa: ikr.
Jongin: no. Why tf would u send me this. Dia bisa saja sedang beribadah or sth
Lisa: sends you a voice message; "Bitch, you can't see it, but he's crying!"
Lisa: mungkin ada hubungannya dengan sehun
Jongin: huh?
Lisa: mereka sedang membicarakan sehun, pasti gosip foto toilet itu sudah menyebar ke mana-mana, dan mungkin ayahnya marah
Lisa: and it must hurt chanyeolie's lil gay heart aww
Jongin: bagaimana kau tahu mereka membicarakan Sehun?
Lisa: I have ears. The dad wouldn't shut up. Dia terus menyebut nama tuhan dan dosa dan 'boys cant like boys' shit
Lisa: #confirmed he's gay. or into boys and girls idk.
Wow, Jongin pikir. Jongin membayangkan bagaimana bila dirinyalah yang ada di posisi Chanyeol, mungkin ia takkan tahan berlama-lama berada di lingkungan yang bahkan tidak menerima dirinya apa adanya.
Jongin hendak membalas pesan teks Lisa mengenai Chanyeol dan Sehun ketika ia mengingat sesuatu yang lebih membingungkan.
Jongin: WAIT! WHY TF R U IN A CHRUCH BTW
Lisa: LMAOSDFKGJN lemme explain later son
.
.
.
Akhir-akhir ini, tanpa kehadiran Chanyeol di mana-mana termasuk lapangan, Sehun terlihat terlalu bersedih. Jongin perhatikan bagaimana Sehun akan bergonta-ganti teman, kemudian tidak begitu banyak bicara seperti biasanya.
Hm.
Pada awalnya, kepergian Chanyeol dari hidup Sehun membuat Jongin senang tentunya. Karena akhirnya Jongin tidak harus diingatkan pada kemungkinan bahwa bisa saja mereka memang sepasang kekasih. Huh.
Namun Sehun jadi terlihat tidak seceria biasanya, ia tidak berperilaku begitu ramah. Seperti memang ada yang hilang dari dirinya. Dan hal ini membuat Jongin juga sedih. Selain karena Jongin tidak ingin melihat Sehun bersedih, ia juga merasa sedih karena dirinya yang bukan menjadi alasan di balik keceriaan Sehun.
Jongin takkan pernah memiliki keberanian untuk datang pada Sehun dan berbicara padanya. Sekadar berbasa-basi adalah ketakutan paling besar Jongin. Dia itu benar-benar tidak terbiasa untuk memulai percakapan, hanya Lisa yang paling sabar dengannya.
Baiklah, sudah Jongin putuskan. Bahwa mungkin memang dirinya tidak akan pernah memiliki kesempatan dengan seorang Oh Sehun. Mungkin memang orang-orang seperti Chanyeol-lah yang pantas untuk disandingkan dengannya. Hm, perasaan ini akan hilang dengan sendirinya. Paling hanya small crush.
"Hey, uhm, boleh aku duduk di sini?"
"Huh? Yeah. Tentu saja."
Jongin hendak mengabaikan keberadaan manusia di hadapannya, oh, seperti biasa, menghindari aktivitas sosial hehehe. Ia hendak menyuapkan sendok dengan lauk-pauk ke dalam mulutnya ketika otak idiotnya baru berjalan dan menyadari sesuatu.
Hold the fuck up.
Fokus Jongin spontan pada orang yang kini duduk di seberangnya, saking cepatnya gerakan kepala Jongin, ia bisa saja mematahkan tulang punggung di lehernya.
"Apa makanan di kafetaria ini enak?" Ia lalu terkekeh seperti malaikat meski Jongin tidak pernah melihat malaikat sesungguhnya—uhm, lupakan. Jongin kini sedang melihat malaikat di hadapannya. "Aku sudah lama di sekolah ini tapi belum pernah mencoba masakannya karena rumor yang beredar, tentang serangga yang pernah ada di makanannya atau apalah—oh, ya. Maaf cerewet. Aku Oh Sehun, by the way. Dan kau ini ..., hm—Jongin? Kim Jongin?"
.
.
.
.
.
[akankah penulis mendapatkan motivasi untuk menulis bab selanjutnya? hmm
ditulis karena beberapa readers yg setia. bless those special people. yes, this is for you.]
