je t'aime'

A SasuSaku fic

by Emi Y.

.

.

.

Disclaimer : Kishimoto Masashi.

Genre : Romance/Tragedy/Angst

Rating : T

Instruments : Tosca, Hana's Eyes and Still Waters—Maksim Mrvica, The Prayer—Celine Dion, Andrea Bocelli, Only Hope—Mandy Moore, Kiss From The Rose—Seal, Iris—Goo Goo Dolls, To You I Belong—B'Witched. A New Day Has Come—Celine Dion.

.

.

.

The End of Capitulo

.

The Eight Day

.

I see a light in the sky

Oh, it's almost blinding me

I can't believe

I've been touched by an angel with love

Let the rain come down and wash away my tears

Let it fill my soul and drown my fears

Let it shatter the walls for a new, new sun…

.

"Payung?"

'Eh?'

Ia berbalik dan menatapku. Kulihat, mata safirnya terlihat sedikit kaget. Maka, aku pun segera memperkenalkan diriku padanya. Alhasil, dia hanya bisa tersenyum.

'kau bersekolah di sekolah seberang sana kan?' tanyanya dengan bahasa isyarat. Aku bisa memahaminya, kalau boleh dibilang aku malah membaca pikirannya.

"Ya." Jawabku singkat, tak ingin memberikan terlalu banyak kata baginya. "Aku melihat lukisanmu tadi. Sangat indah." kataku lagi.

'a-ah? Arigatou…'

"Sama-sama." balasku.

Kami berjalan bersama dengan payung hitamku. Entah kenapa, akhirnya aku bisa mewujudkan satu hal yang tak bisa kulakukan selama hidupku, dan aku merasa sangat hangat di sini. Tepat di sini, di mana jantungku berdetak. Meski hanya tinggal kekosongan berupa ruh, aku masih bisa merasakan kehangatan bila berada di dekat gadis ini. Haruno Sakura…

Ia berhenti tepat di depan sebuah taman. Aku pun juga mengikutinya. Ia memintaku tuk tak lagi memayunginya. Tapi… aku masih ingin bersamanya, masih ingin lebih lama lagi. Jika tidak, hari esok akan menjadi hari kesembilan dari empatpuluh hari yang diberikan Tuhan padaku di dunia ini.

"Kau mau minum coklat hangat?" tawarku—berusaha mengalihkan perhatiannya. "Tepat di ujung jalan sana, aku tahu ada kedai coklat yang sangat lezat"

'Eh anoo—tapi…'

"Tak apa. Kau terlihat begitu kedinginan. Ini hanya sebagai hadiah kecil dari seorang penggemar karena lukisanmu lagi-lagi menang kan tahun ini." ungkapku pelan di saat kata penggemar kuucapkan. Bisa kulihat ada rona merah di kedua pipinya. Aku bersyukur bisa melihatnya dari jarak sedekat ini.

Sesampainya di kedai yang kumaksud, aku sudah yakin takkan ada satu manusia pun di tempat ini yang bisa melihatku. Pandangan mereka hanya tertuju pada Sakura saja, aku tahu itu. Aku hanya bisa tersenyum ramah ke arah para manusia yang masih hidup itu—dengan tubuh mereka yang masih memberikan detak dan desah nafas. Sedangkan aku?

"Kau saja yang pesan."

'Ta-tapi, kamu kan yang akan…'

"Ingat dengan ucapanku tadi. Anggap saja kalau tawaran ini adalah hadiah dari seorang penggemar. Jadi, kaulah yang seharusnya memilih." ungkapku.

'Ngg, ba-baiklah. Hmm…' Gadis itu sudah memutuskan apa yang akan dipesannya. Ia mengangkat tangannya dan meminta seorang waitress untuk membawakan sesuatu yang diinginkannya. Melihat sang pemesan adalah seorang tunawicara, maka si waitress pun memberikan kertas dan bolpoin miliknya ke arah Sakura. Bisa kubaca dari pikirannya, ia memilih hot dark chocolate dua gelas. Hn, sungguh aku bisa menduga apa yang akan diucapkan si waitress itu setelah mengulang kembali pesanan Sakura.

"Hm, maaf. Tapi, apa Anda yakin Anda ingin memesan dua hot dark chocolate, nona?"

Bingo!

Wajah bingung terlihat dari pelayan itu. "Anda yakin, nona?"

'Iya, memangnya kenapa?'

Sudahlah Sakura, kataku. Orang ini takkan mengerti.

"Ehh, ba-baiklah bila itu memang keinginan nona. Permisi."

Sakura sedikit mengernyitkan dahinya saat waitress itu tampak kebingungan dengan pesanannya. Dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya apa ada yang salah dengan pesanannya. Mungkin, ia merasa bahwa ia memang berdua tapi bagi orang-orang di sekitarnya, ia hanya sendiri. Sendiri tanpa manusia lain di hadapannya saat ini.

Aku terus memandangi wajahnya sembari memangku wajahku dengan telapak tanganku. Terus kupandangi ia meski tampaknya ia sedang menatap ke arah lain, tepatnya ke arah jendela di samping kami yang mengabut oleh tetes hujan. Mata onyx-ku tak lelah menginspeksi wajahnya yang begitu cerah dan sangat mulus. Rambut merah muda sebahu miliknya telah begitu sempurna membingkai wajahnya yang lembut, ditambah lagi senyum tipis itu. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku tak mampu berbicara senormal ini dengannya saat aku masih hidup dahulu.

Tuhan… ia memang karya-Mu yang begitu sempurna, ujarku. Terus kupandangi wajahnya hingga waitress itu mendatangi meja kami.

Ia tersenyum lagi dan mulai menatap kedua mataku dengan mata sapphire-nya yang indah. Tapi, pose yang menopang dagu tak berubah dan masih memandangnya lekat-lekat. Rona merah terlihat lagi dari kedua pipinya. Sayang, saat seperti ini takkan bisa kurasakan lebih lama lagi…

Ia mulai menyeruput minuman hangatnya, sedangkan aku? Aku hanya mengaduk-aduknya saja tanpa ingin menyentuhnya. Ia menatapku bingung tapi kubalas dengan senyum saja.

"Kenapa?" tanyaku saat melihat ekspresi bertanyanya.

'Tak minum?'

Aku menggeleng, "nanti." Kataku berbohong.

Aku mungkin akan bersikap lebih berani jika aku tahu bahwa sahabatku, Naruto, juga tidak menyukai gadis ini. Aku sudah tahu, bukan, kami sudah tahu kalau masing-masing dari kami menyukai sosok gadis di depanku ini. Alasannya cukup jelas. Meski ia tak memperlihatkannya secara blak-blakkan padaku, aku yakin perasaannya melebihi diriku saat itu. Ia mengetahui segala hal tentang gadis ini dibanding aku. Dari dasar itulah, aku yakin bila kami menyukai gadis yang sama. Hingga akhirnya, di saat terakhir pun, aku tak bisa mengutarakan semuanya pada Sakura.

'Sasuke-san? Sasuke-san?'

Aku melamun di depannya rupanya.

"Sudah habis?" tanyaku. Ia mengangguk lemah. Kubiarkan minumanku tetap penuh dan tak tersentuh oleh tenggorokanku.

'Ngg, gomen sudah menyusahkanmu. Arigatou… Hontou arigatou…'

Aku tertawa melihat kelakuan lucunya. Ia malah semakin bingung, 'anoo, apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Err, maksudku, sebelum ini. Jauh sebelum hari ini?'

Aku menggeleng pelan. "Tidak. Aku yakin kita baru bertemu hari ini."

Kebohongan itu tetap harus kuucapkan. Tapi, untuk yang terakhir, sebelum ia pulang dan pergi dariku hari ini, aku berharap bila aku bisa menyentuh bibirnya meski sebentar. Maka, aku menicumnya lagi, di angka kedelapan ini—tepat di bawah hujan, bukan, tepat di bawah payungku.

Ia membulatkan matanya kaget. Malu? Kurasa iya. Tapi, aku hanya tersenyum dan memberikan payungku padanya. Jarak rumahnya tak jauh lagi, aku tahu itu. Dan aku pun berlari melewati hujan yang sangat kubenci ini demi ia. Kini, aku telah berhasil melalui hari kedelapan sesuai rencana. Maka, aku pun turut mencoret angka itu dari catatan kecilku.

'Sasuke-san…Dia… Dia itu siapa? Kenapa rasanya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?'

Hujan pun berhenti tepat satu detik setelah aku kembali membasahi tubuhku dengan tetesannya di tengah-tengah titik cahaya yang mulai menerangi langit kota yang penuh dengan cahaya ini…

.

.

.

The Twentienth Day.

Hari keduapuluh adalah hari ini. Aku kembali bertemu dengannya tepat di bawah pohon cherry blossom yang kata para manusia itu sangatlah keramat. Bodoh sekali mereka itu, masih percaya dengan takhayul. Siapa lagi yang mau tinggal di pohon macam begitu selain aku, hm? Ya memang. Akulah yang selama ini menjaga pohon besar milik keluargaku. Ayah dan ibuku tak mau lagi mengurusinya, apalagi aniki.

Aku melihat sosok mungilnya yang terbalut sweater kuning cerah dari bawah sana. Dari atas sini, aku bisa melihat apa saja begitu pula dengan sosoknya untuk pertama kali.

Ia memutar-mutar kepalanya—seperti berusaha mencariku. Aku hanya bisa tersenyum penuh ejekan saja padanya. Padahal sedari tadi—bahkan dari malam sebelumnya—aku sudah berada di atas sini. Sifat jahilku pun keluar. Aku melompat dari cabang paling besar, tempatku selalu berpijak, dan berdiri tepat di belakangnya. Lompatanku takkan membuat suara sebab semuanya bisa kuatur.

"Hei."

Dia memutar kepalanya cepat, sedikit ada kekagetan di balik wajah sayunya. 'kau mengagetkanku, Sasuke-san.'

"Maaf." ujarku singkat. "Kau datang sedikit terlambat."

'Ngg, itu karena aku harus mengantarkan lukisanku ke seseorang.'

"Hn? Siapa?"

'Hatake-sensei'

Entah kenapa aku jadi sedikit cemburu saat aku membaca jawabannya dari dalam pikirannya. Ke seorang pria, eh? Tapi, aku senang karena ia akhirnya memanggilku dengan Sasuke-kun, bukan Sasuke-san lagi.

"Oh, begitu?"

'Maaf, sudah membuatmu menunggu, Sasuke-kun'

"Hm, tak apa. Oh ya, hari ini aku ingin memperkenalkanmu pada seorang sahabatku. Dia terus saja menanyaiku tentang dirimu yang sangat pandai melukis itu. Katanya, ia juga ingin jadi pelukis hebat."

'Siapa?'

"Nanti akan kau lihat orangnya." ucapku sembari menarik pergelangan tangannya dan membawa lari dirinya sejauh mungkin. Hari ini, aku memang ingin menunjukkannya pada Naruto. Sosok sahabatku yang juga sangat menyukai Sakura. Kurasa, ia juga berhak mengetahui Sakura selain aku, meski bedanya, aku sudah mati dan Naruto masih hidup.

Sebuah taman bermain anak-anak adalah tujuanku di hari keduapuluhku ini. Sakura terlihat begitu senang saat dilihatnya ada beberapa anak-anak kecil tengah bermain pasir dengan ember kecilnya kemudian membuat semacam istana pasir, selain itu ada juga anak-anak perempuan yang tampak tengah melukis sesuatu di buku gambar mereka. Tatapan anak-anak perempuan itu begitu fokus, seakan tak ingin melepaskan krayonnya dari buku gambar kecil miliknya. Ada juga yang terus saja berdecak tawa saat melihat temannya terjatuh dari ayunan karena terlalu keras mengayunkan. Prosotan dan juga seasaw tak luput dari pandangan sapphire-nya.

Tapi aku hanya tersenyum tipis saja. Saat Sakura masih tertawa ceria saat melihat kelakukan dan tingkah anak-anak kecil, aku hanya berkonsentrasi pada sebuah suara yang letaknya tidak jauh dariku berpijak saat ini. Melodi violin yang begitu khas mulai meresapi indera pendengaranku. Sungguh syahdu dan membuatku kembali mengingat masa lalu.

Aku kembali menarik pergelangan tangannya. Ia mengikutiku masih dengan senyum cerah yang mengembang di bibirnya yang tipis itu. Tepat di sebuah pohon cemara, aku memintanya tuk sembunyi. Aku meninggalkannya dan mendekati sosok lain tak jauh dari sana. Beberapa anak kecil tampak mengelilingi sosok itu. Aku menarik ujung bibirku dan memasukkan tanganku pada saku jeans hitamku. Kulihat, seperti biasa, si Naruto itu memang bisa menarik perhatian anak kecil, berbeda denganku yang lebih menyukai melodi angst yang memang lebih khusus diperdengarkan dalam konser saja.

Aku yakin ia takkan bisa melihatku. Meski kini aku sudah berdiri tepat di hadapannya, di belakang kumpulan anak-anak yang melingkarinya sambil berjongkok dan meresapi lantunan melodi indah dairnya. Setelah selesai, anak-anak itu tersadar dan bertepuk tangan dengan girangnya. Sekali lagi, aku dibuat kagum oleh sahabatku ini.

"Nii-chan, kau hebat! Ajari aku main biola juga dong~"

"Iya nih! Naruto-nii jago banget! Minta ajarin dong!"

"Ah tidak! Aku dulu! Aku dulu!"

Anak-anak itu tampak merengek minta diajari Naruto. Sungguh tipikal Naruto yang sangat suka dengan anak kecil. Taman bermain saja dijadikannya tempat latihan. Ckck.

"Haha, iya, iya. Nanti Nii-chan akan ajari kalian. Tapi, dengan satu syarat. Kalian harus janji sama mama kalian kalau kalian harus mengerjakan peer kalian ya."

"Yahhh…"

Suara berat dari para anak kecil itu terdengar. Kata tak adil dan sebagainya menjadi komentar dari jawaban seorang Namikaze Naruto saat itu.

"Kau sungguh tak berubah ya, Naruto." ucapku

"Eh?"

Ia mendongakkan kepalanya dan membulatkan mata biru langitnya tepat ke arahku. Aku tahu meski sedikit, ia masih bisa merasakan hawa kehadiranku di sekitarnya. Tapi, jangan khawatir, hanya Sakura yang bisa melihatku sekarang. Baru saja aku mengucapkan namanya, dan ia tiba-tiba muncul dari balik pohon. Hah, padahal aku sudah bilang tunggu saja di sana. Apa boleh buat.

'Sasuke-kun…'

Sepertinya, kau harus berterima kasih padaku Naruto.

"E-eh? Ka-kau kan…"

'Hmm? Siapa orang itu? Dan Sasuke-kun?'

Kulihat, Naruto menoleh dan memandang sosok Sakura saat itu juga. Kumpulan anak-anak itu pun melakukan yang sama. Merasa hal ini bukanlah sesuatu yang pantas untuk diketahui anak kecil, Naruto pun mengusir mereka. Dasar si dobe, begitulah panggilanku padanya.

'Aku?'

"Kau kan… Kau kan…"

Sakura mengalihkan pandangannya dari Naruto menuju ke arahku. Membalas tatapan penuh tanyanya, aku hanya bisa mengangguk saja. "Dia ini sahabatku, Sakura."

"Ah! Kau… Haruno Sa-Sa-Sakura, kan?"

Tentu saja ini dia, dobe. Memangnya siapa lagi sosok gadis yang kita sukai itu?

"Kau itu… benar Haruno Sakura, kan? Sang-sang-sang pelukis dari sekolah khusus anak perempuan itu? Yang, yang, yang—"

Kali ini, kuberi kau kesempatan tuk berbicara padanya, Naruto…

.

.

.

The Thirtyeight Day.

.

Where it was dark now there's light

Where there was pain now there's joy

Where there was weakness, I found my strength

All in the eyes of a boy

.

Sudah hari ketigapuluh ternyata. Dan aku masih belum bisa mengucapkan kata 'je t'aime' itu padanya. Aku hanya takut saat ia mengetahui siapa aku sebenarnya. Maka dari itu, aku membuatnya tuk mengenal Naruto. Sebab, melalui Naruto-lah, ia akan mengerti aku dan hidupku yang sudah berakhir lebih dari sebulan ini.

Aku kembali menatap nanar ke arah langit hitam di kota ini. Hujan semakin membasahi tubuhku dan kekosongan dalam jiwaku entah kenapa telah terisi sedikit demi sedikit olehnya. Aku kini yakin bahwa Tuhan takkan pernah ingkar akan janji-Nya. Dan aku percaya hal itu. Sekali lagi, kubiarkan tetesan air itu memenuhi tubuhku yang tipis.

Tinggal dua hari lagi dan semuanya akan berakhir.

Aku harus membuat Sakura mengenalku melalui Naruto. Untuk itu, aku kembali menjemputnya dari bawah pohon cherry blossom ini dan membawanya berjalan-jalan ke suatu tempat yang mungkin disukainya, yakni pantai. Pantai adalah tempat di mana setiap manusia bisa melihat keajaiban Tuhan di pagi dan sore hari, saat matahari muncul dan menghilang dari arah kejauhan sana. Dan di tempat inilah juga, para malaikat itu bertemu dengan Tuhan.

'Indahnya… Udaranya juga sejuk. Aku jadi ingin melukis…'

"Kalau begitu lukislah."

'Tapi… kau tidak bilang kita akan ke pantai, jadinya… aku tak membawa perlengkapan melukisku'

"Begitu ya? Hmm… bagaimana dengan ini?"

Aku menyodorkan sesuatu kepadanya. Aku memang menyembunyikannya dari tadi, tepat di belakangnya. Sekantung penuh cat dan kuas melukis, tak lupa juga dengan kanvas putihnya kuberikan padanya. Ia tersenyum manis padaku dan memelukku tiba-tiba. Aku merasa begitu hangat saat ini.

'Arigatou, Sasuke-kun…'

"Sama-sama, koi*."

Mendengar kata koi dariku, pipinya memerah bak buah apel. Ia memalingkan wajahnya dariku dan mulai duduk di tengah-tengah daratan berpasir putih itu. Sambil melihatnya melakukan persiapan sebelum melukis, aku pun berdoa pada-Nya agar setelah ia selesai melukis, Naruto bisa datang tepat waktu. Aku ingin hari ini ia bisa tahu akan diriku…

"Kau suka matahari ya?"

Ia mengangguk penuh semangat. Kulihat, di pipinya yang putih itu terdapat noda cat merah. Segera, kuraih tanganku dan memutar dagunya tepat ke arah wajahku. Kugunakan ibu jariku tuk menghilangkan noda cat itu dari pipinya yang seputih porselen.

'ngg…'

"Kau suka melukis tanpa melihat kalau catnya sudah blepotan di wajahmu kan? Hmm…" ujarku dengan nada jahil saat kulihat pipinya kembali memerah malu. "Oh ya, Sakura. Setelah ini, kita berdansa ya."

'Ehh—tapi aku tidak tahu dansa…'

"Tidak apa. Pangeran akan mengajarimu."

'Eh? Pa-pangeran?'

Tak lama, butiran airmata menggenang di ujung matanya. Ia membiarkan lukisannya teronggok begitu saja di sampingnya dan mendekap tubuh kecilnya. Aku bingung dengan sikapnya. Tiba-tiba saja, aku tidak bisa membaca pikirannya saat itu.

"Sakura…" ujarku sambil mendekatinya dan melingkarkan lenganku di sekujur tubuh kecilnya.

'Gomen… a-aku hanya…aku pikir… tak-takkan ada seorang pangeran yang mau… berdansa dengan orang bisu sepertiku…'

"Kau salah, Sakura. Meski tak bisa mendengar langsung dari bilah bibirmu itu, tapi… aku bisa mendengarmu melalui hatimu."

'Eh? Maksudmu?'

Kurasa, saat inilah yang tepat untuk mengungkapkan secuil hal mengenai diriku padanya. Ya.

"Hn. Pertama kali kita bertemu saat hujan di petang itu kan? Kala itu, aku mengajakmu ke sebuah kedai coklat, kau memesan dua cangkir minuman dan pelayan itu menatapmu bingung. Kau tahu kenapa?"

'Ke-kenapa?'

"Itu karena… aku sudah mati…"

Aku melepaskan pelukanku darinya. Aku berdiri dari posisiku dan menatap sendu ke arah dua bola mata hijau yang terlihat seperti batu Kristal emerald itu. Sungguh indah. Ia menatapku bingung dan penuh tanya. Aku menghadapkan wajahku ke arah langit yang menguning itu. Petang akan segera berubah malam dan saat itulah, saat itulah para shinigami itu akan mengelilingiku.

"Aku adalah Uchiha Sasuke. Sosok pria yang selalu diceritakan Naruto padamu, Sakura."

'Tidak, ti-tidak mungkin. Kau-kau… tidak!'

"Ia akan menunjukkan foto itu padamu nanti. Saat itu, aku sudah mati. Dan alasan mengapa pohon sakura itu tetap mekar meski musim gugur sekalipun adalah karena…

aku menyatu dengan pohon itu. Mendapatkan kesempatan tuk bertemu dan mengenalmu lagi dari pohon itu. Bukan, aku salah, tapi Tuhan-lah yang memberiku kesempatan itu."

'Ti-tidak mungkin! Tidak.. Tidak… TIDAKKK!'

Ia berlari sejauh-jauhnya, seakan tak ingin lagi melihat wajahku. Aku menatap sedih. Namun, inilah akhir yang harus aku terima dari sebuah kesalahan yang berasal dari keegoisan diriku saat itu. Aku tak ingin melihatnya menangis lagi tapi... aku jadi semakin membenci diriku sekarang. Ingin rasanya bila Tuhan segera membakarku dalam keabadiannya yang bernama neraka.

.

.

.

"SAKURA-CHAN!"

Akhirnya, dia datang juga. Sesegera mungkin, aku menjauh dari Sakura dan menghilang dari hadapannya.

'Na-Naruto…'

"Hh, hh, maaf aku terlambat. Ng? Matamu basah, Kau habis menangis ya?" tanya Naruto sembari mengusap airmata itu dari pipi Sakura. Aku hanya bisa menatap nanar. "Maaf, tapi aku tidak bisa memberikan penjelasan apapun padamu lebih dari ini. Hanya foto ini saja yang bisa kutunjukkan. Maaf…"

Aku belum sempat mengatakan 'je t'aime' itu padanya dan lagi, aku tahu setelah ini ia akan membenciku. Sangat membenciku.

Ia menumpahkan semua cat lukis itu di hadapanku. Ia menangis dan tak pernah berhenti. Aku tak ingin melihat wajahnya hari ini karena sungguh aku sudah menorehkan luka di hatinya. Ia tak lagi datang ke pohon itu dan aku sangat merindukannya di sana. Malam ini adalah malam ketigapuluhdelapan di mana aku harus kembali ke pemakamanku. Karena di sanalah, aku akan dijemput.

Sore ini dan hari sebelum-sebelumnya adalah hari yang begitu sempurna bagiku dan juga baginya. Ia akhirnya bisa tersenyum lebih dari senyum yang biasa ia torehkan di kesehariannya. Mungkin aku telah begitu egois memasuki kehidupannya yang masih berjalan di dunia ini. Aku sudah begitu kejam merenggut cintanya begitu saja, padahal aku hanyalah sebuah ruh. Ruh yang kosong…

Aku mencoba memperhatikannya melalui jendela kamarnya. Ia terus saja terbaring di atas kasurnya itu dan tak ingin menemui siapa-siapa. Aku berbalik dan kembali ke asalku. Sudah, aku tidak akan mengucapkan kata-kata itu lagi. Memang benar kata iblis saat itu, saat di mana aku membuat perjanjian dengan para malaikat.

Orang yang sudah mati tak berhak merasakan apa-apa lagi…

Aku terlalu egois…

.

.

.

Whenever dark turns to night

And all the dreams sing their song

And in the daylight forever

To you I belong

.

.

.

'Sasuke-kun… Aku…"

"Aku dan Sasuke begitu menyukaimu. Tapi, kami hanya bisa melihat dari jauh saja, sebab kau tahu… kami sangat menghargai perasaan kami masing-masing. Hingga akhirnya, ia pergi lebih dahulu daripada aku. Sejak saat itu, aku tak ingin lagi memendam rasa suka itu untukmu. Sebab, kurasa, ia-lah yang paling berhak tuk mengenal dirimu terlebih dahulu…"

'Sasuke-kun… Gomen… Gomen… Gomennasai…'

"Ap-APA? Ja-jadi… dia…yang selama ini selalu kau bilang sebagai sosok yang sangat kau sukai?"

'Sasuke-kun… Sasuke-kun… Gomen, atashi no koe de… atashi no koe*…'

"Dia sangat menicntaimu, Sakura, lebih dari yang pernah kau bayangkan sebelumnya."

'Sa…'

"Dia menitipkan surat ini padaku. Aku tak berani membacanya tapi aku yakin, ia ingin agar aku menyerahkannya padamu. Hanya saja…"

'…Su…'

"Aku tak bisa bertemu denganmu karena saat melihatmu, aku hanya akan teringat dengan wajahnya saja…"

'…ke. SASUKE-KUN!'

Kaki-kaki itu melangkah tak kenal arah. Meski hujan, ia tetap melangkah cepat. Tak peduli dengan beceknya tanah saat itu, pemilik kaki-kaki ini tetap melangkah maju. Ia tak mengindahkan suara teriakan sang ayah dan ibunya agar ia tak keluar di malam yang begitu dingin dan hujan itu. Lagi, ia tak peduli. Baginya, ia harus segera tiba di tempat di mana ia seharusnya berada.

'Sasuke-kun… tunggulah aku, tunggulah aku, kumohon. Jangan pergi sekarang. TUNGGU AKU, SASUKE-KUN!'

The Forty Day

Kini, aku tahu bagaimana rasanya mati itu yang sesungguhnya. Sakit. Dan perih, begitu perih. Ketika sang ruh tercabut dengan paksa oleh sang malaikat maut, tak ada satupun manusia yang bisa memahami rasa sakitnya. Tak bisa digambarkan dengan apapun juga.

Aku kembali menatap langit hitam itu. Hujan semakin keras saja dan aku tidak paham dengan arti hujan saat ini. Sungguh aku tak mengerti.

Lalu, aku mendengar sebuah teriakan dari ujung pemakaman. Aku berbalik dan mendapatkan sosok seorang gadis berambut merah muda yang sangat basah berdiri terengah-engah di sana. Aku kembali mengalihkan pandangaku, berharap bahwa apa yang kulihat adalah fatamorgana akibat rasa nyeri yang kurasakan saat para shinigami itu mengikat kedua tanganku dengan tali yang penuh jarum.

'SASUKE-KUN!'

Kuharap suara itu hanyalah sebuah memori saja.

'SASUKE-KUN! INI AKU! SAKURA…'

Aku tetap membiarkan suara itu berdengung di telingaku. Saatnya telah tiba, aku harus segera memasuki gerbang menuju alam kuburku segera. Kalau tidak, aku hanya akan mendekam dalam neraka.

cepatlah masuk, manusia.

Ya, jawabku datar.

'SASUKE-KUN! PASTI ADA ALASAN KAN KENAPA KAU MASIH TINGGAL DI DUNIA INI MESKI KAU, MESKI KAU... meski kau sudah mati. Pasti ada alasannya kan? Ada kan?'

Ya. Semuanya ada alasannya. Tentu saja ada, Sakura. Tapi, apakah kau tahu alasanku itu? Tahukah kau?

'Kalau kau masih mengingatku, kalau kau benar menyukaiku, kenapa tak pernah kau ucapkan sebelum kau mati… Kenapa? Padahal, aku… meski tak terlalu mengenalmu, aku tahu kalau kau-lah yang selalu memainkan piano itu dari mansion tua itu. Iya kan?'

Aku lagi-lagi membuatnya menangis. Aku—

'Katakan saja, Sasuke-kun… Katakan… Kumohon…'

Hujan dan airmatanya menyatu. Aku melihatnya begitu menderita. Apakah ini karena aku? Apakah aku—

"je t'aime."

"je t'aime'."

"je t'aime'."

"je t'aime'… Haruno Sakura…"

'Arigatou… Arigatou… ATIGATOU NA, SASUKE-KUN!'

Aku mengucapkannya seakan takkan lagi hari esok. Ya. Esok, di saat mentari terbit di kota ini, aku takkan lagi bisa berada di sampingnya. Menemaninya di bawah pohon cherry blossom itu. Dan menjadi pangerannya yang selalu setia di sampingnya sang putri bisu itu. Takkan lagi ada.

'je t'aime mo, Sasuke-kun… Arigatou untuk semuanya…'

Aku bisa merasakan sebuah sinar dari bawah kakiku. Kini, aku yakin, aku masih bisa mengecap hangat itu meski harus di bawah sana. Arigatou, my cherry blossom…

Mentari pun kembali bersinar bersamaan dengan para malaikat yang bersenandung tepat di hadapan sang Pencipta. Semuanya, sekecil apapun mereka, tentunya akan kembali ke asal mereka, tak terkecuali bagi sang pangeran

.

.

.

I love you but it's not so easy to make you here with me

I wanna touch and hold you forever

But you're still in my dream

And I can't stand to wait 'till nite is coming to my life

But I still have a time to break a silence

When you love someone

just be brave to say that you want him to be with you

when you hold your love

don't ever let it go

or you will loose your chance

to make your dreams come true...

.

.

.

Dénouement

Author's Curcol :

Arrghhh, fic macam apa ini? Geje banget sih? Unyuuu~

Gara-gara dengerin lagu-lagu klasik yang ya ampyun… mendayu-dayu banget, maka jadilah fic aneh bin geje ini. Angst-nya gak berasa. Sigh… =='

Thanks buat semua yang menyempatkan diri untuk membaca TWOSHOT ini. Arigatou Gozaimasu~ *bow*

Sickle cell anemia : jenis anemia di mana sel darah merah si penderita akan berbentuk seperti bulan sabit, bukan bulat oval, sehingga membuat sel darah merahnya itu tak bisa bertahan lama dan akan pecah.

Atashi no koe : suaraku…