Chap 2: Awal Cerita

Sasuke hanyalah seorang anak laki-laki yang normal seperti kebanyakan anak laki-laki yang lainnya. Namun dari sinilah dia memulai cerita cinta hidupnya yang benar-benar membuat dirinya tenggelam didalamnya.

Sasuke adalah anak kelahiran 80an tepatnya 23 juli 1989. Terlahir dari rahim seorang wanita cantik yang bernama Mikoto Uchiha. Lahir dirumah sakit yang berjarak satu jam dari rumahnya. Dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan kehangatan. Kisah hidupnya dimulai, saat mereka pulang berlibur dari tempat wisata Jepang, Ueno Park.

Saat itu jam menujukan pukul 1 siang waktu setempat. Fugaku mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal seperti biasanya saat dia mengendarai mobil mahalnya itu.

"Kau tak apa-apa sayang, kanapa wajahmu pucat?" tanya Fugaku saat mencuri pandang kepada istri tercintanya.

"Oh….. Tidak apa-apa. Aku hanya lelah setelah kita selesai berpiknik," jawabnya sambil melihat Sasuke kecil yang tertidur pulas ditempat duduk belakang mereka, "Aku tidur dulu ya. Tolong nanti bangunkan Sasuke. Saat dia bangun, berikan dia minum." kata Mikoto ke suaminya.

Fugaku merasa heran dengan perkataan Mikoto, tapi Fugaku tak mempedulikannya. 2jam perjalanan akhirnya mereka sampai ke rumah.

"Uh… Anak ini ternyata semakin berat saja." kata ayahnya sambil mengendong Sasuke kecil.

Dia masuk ke rumah terlebih dahulu.

"Okay, ini dia ranjangmu. Tidurlah yang nyenyak," kata ayahnya lalu keluar, "Sayang… Sayang…. Apa kau sudah dirumah?" panggil Fugaku lagi. 'Jangan-jangan dia masih tertidur dimobi.' Batin Fugaku.

"Sayang….. Sayang…" panggilnya lagi.

Betul, Mikoto masih tertidur dimobil. Fugaku menghampirinya, membuka pintu mobil, dan dengan cepat menahan tubuh Misa yang tiba-tiba terjatuh kearahnya.

"Sayang…. Mikoto…" panggilnya, "Badanmu dingin sekali." sama sekali tak ada jawaban dari Mikoto. Lalu Fugaku memandang kearah istrinya tercinta, menyentuh pipinya, dan kemudian menangis.

Telah pergi.

.

"Istri anda sudah meninggal dari 2 jam yang lalu, Pak." kata dokter yang berhasil membuat Fugaku terkejut.

"Ada apa dengan istri saya, dokter?" tanyanya sambil menangis.

"Istri anda mengidap kanker paru-paru dan itu sudah stadium akhir. Apakah anda dan istri anda tak pernah memeriksanya?"

Tanpa menjawab pertanyaan dokter, Fugaku berlari keluar.
Menemui badan tak bernyawa istrinya.

"Kenapa tak jujur kepadaku?" bisiknya lembut ke istrinya sambil memeluknya erat, "Kenapa berpura-pura sehat?" sambil duduk disebelah istrinya. "Kanker paru-paru…" sambil mengingat kenangan diantara mereka.

Fugaku pulang ke rumahnya. Pada saat itu, dengan segera Sasuke dititipkan ke neneknya. Fugaku mengotak-atik arsip-arsip yang ada dilemari meja hias. Disana dia menemukan sebuah buku kecil berwarna merah jambu. Dengan judul covernya 'history must go on.'

Fugaku membuka halaman pertama. Terlihat olehnya selembar kertas dengan isi biodata diri pemiliknya.
Nama : Mikoto Uchiha
D.O.B : Jepang, 28 Desember 1969
status : Istri dari Fugaku Uchiha,
memiliki suami yang sangat penyayang dan seorang anak laki-laki yang tampan, Sasuke Uchiha.
I luv u, guys. God bless u.

Itu adalah buku catatan milik Mikoto. Dan disitu tertulis, "semenjak aku menyadari bahwa hidupku sebentar lagi"

Fugaku membaca habis semua catatan yang ditinggalkan istrinya. Satu kalimat yang membuatnya benar-benar terpukul 'aku tak tahu apakah aku harus memberitahu suamiku atau menyembunyikannya saja. Karena aku tahu dia takkan rela melepaskanku'.

Ya, sudah 1tahun belakangan ini Mikoto tampak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ia jadi tampak begitu kurus dan pucat. Ia pernah memeriksakan dirinya ke rumah sakit tapi dari hasil pemeriksaan tak ada tanda-tanda penyakit yang membahayakan.
Sampai saat dia sering batuk-batuk. Itu sekitar 3bulan yang lalu sebelum kematiannya. saat dirinya sedang terbatuk, batuknya sering kali mengeluarkan darah. Tulangnya juga sering terasa sakit. Akhirnya dia memutuskan untuk memeriksakan dirinya ke dokter.

Flashback
"Maaf sebelumnya, apakah nyonya pernah memeriksakan diri nyonya ke rumah sakit?" tanya dokter yang memeriksa keadaan Mikoto.

"Iya, tapi itu sekitar 9bulan yang lalu. Ada apa, Dokter?" tanyanya sambil terbatuk kencang.

"Uh…" helaan napas sang Dokter, "Maaf mengagetkan anda. Anda mengidap kanker paru-paru."

Fugaku sudah mulai mencurigai gerak-gerik istrinya. Tapi karena bukti yang ia dapat tak begitu mendukung akhirnya dia mengubur dalam-dalam niatnya untuk menanyai istrinya dan berhenti mencurigai istrinya.
Flashback end

"Ya, aku yang salah. Maafkan aku…"

Sejak saat itu Fugaku selalu menyalahkan dirinya. Di rumah itu sekarang dia tinggal bersama ibunya dan Sasuke.

Fugaku adalah seorang pekerja keras. Banyak wanita yang bersimpati kepadanya. Fugaku lumayan tampan di usia 25tahunnya. Bosnya sangat mempercayainya untuk mengerjakan pekerjaan yang benar-benar butuh tanggung jawab yang besar.

"Kau tak mencari pendamping hidupmu? Sudah 2tahun, kau tak merasa kesepian?" tanya bosnya.

"Entahlah. Aku belum menemukan…."

"Susah untuk mencari wanita secantik dan sebaik istrimu, Fugaku." cela bosnya yang sudah sangat kenal dengan Mikoto.

"Entahlah, Guy. Jodoh itu akan datang sendiri."

"Ya….ya… Aku akan menunggu undangan darimu saja."

Fugakupun meninggalkan ruangan bosnya.

Saat keluar dari ruangan Guy, tanpa sengaja dia menabrak seorang pekerja wanita yang bukan lain akan menjadi jodohnya kelak.

"Oops….maaf, Pak. Saya tidak melihat bapak saat keluar dari pintu." maaf dari wanita yang kelihatannya lebih tua dari dirinya.

"Oh iya, tidak apa-apa." masih memegangi wanita itu karena dia hampir terjatuh karena menabrak badan jangkung Fugaku.

"Oh… Iya" kata wanita itu sambil perlahan-lahan melepaskan pegangan Fugaku.

Keduanya tampak malu-malu. Wajah mereka memerah. Tanpa diketahui keduanya,ternyata teman-teman yang ada di ruangan itu memperhatikan mereka.

"Wow, beruntung sekali kau bisa memegangnya. Kau tak mengantar makan siang kepadanya?" kata teman kantor Fugaku yang sedang merayunya.

"Apa? Siapa?" tanya Fugaku yang benar-benar tak tahu bahwa teman-temannya melihat kejadian tadi pagi.

"Siapa lagi? Wanita yang kau tabrak waktu keluar dari ruangan si bos."

"Kau melihatnya?" tanya Fugaku yang mulai malu.

"Siapa yang tak melihatnya. So sweet. Dia janda beranak satu. Dulu bekerja dibidang politik, sekarang beralih kesini."

"Apa-apaan si." tampaknya Fugaku benar-benar malu.

Karena tak ingin dirayu lagi oleh temannya, akhirnya dia kembali ke ruangannya.

Iya, dia memang cantik.

"Semua karyawan diharap berkumpul di ruang rapat."
Terdengar suara sekretaris dari pengeras suara yang di pasang di setiap sudut-sudut ruangan.

Wanita itu tersenyum saat melihat Fugaku, begitu pula sebaliknya. Tampak wajah malu-malu diantara keduanya.

"Namanya Fugaku." bisik teman wanita yang ada di sebelahnya yang seakan-akan ingin menyomblanginya kepada Fugaku.
Wanita itu hanya terdiam. Selesai sudah rapat yang selalu dianggap Fugaku sangat membosankan.

"Hai, namaku Kushina." kata wanita itu memperkenalkan dirinya kepada Fugaku.

"Namaku Fugaku, nice to meet you." balas Fugaku.

Kushina pun pergi meninggalkan Fugaku.

"Apa yang salah? Apakah aku membuat percakapan ini jadi tak nyaman?" omelnya sendiri dengan volume suara yang kecil.

"Semangat, bro." semangat temannya yang mengagetkannya dari belakang.

Fugaku merasakan perasaan yang berbeda tiap kali dia melihat Kushina. Dia memutuskan untuk mengenalnya lebih dalam lagi dan akhirnya terjalinlah cinta diantara mereka. Fugaku tak menghiraukan statusnya yang menjanda toh dia juga duda.

"Ini Naruto, anakku. Dia baru berusia 8tahun." kata Kushina memperkenalkan anaknya.

"Anakmu tampan. Wajahnya manis sekali," kata Fugaku sambil mengelus rambut pirang Naruto, "Hai nak, bagaimana keadaanmu?" tanya Fugaku kepada Naruto.

"Dia tidak terlalu suka berbicara."

Mereka bermain ditaman bersama-sama.
Naruto kelihatannya sangat senang bisa bermain bersama Fugaku. Hari mulai larut, Fugakupun memutuskan untuk pulang.

"Yah, ayah…" panggil Sasuke saat melihat ayahnya tiba kerumah.
Fugaku langsung menggendong Sasuke.

Sasuke adalah anak yang cerdas diusianya yang baru 6tahun. Dia selalu mendapat beasiswa dari sekolahnya dan selalu dikirim untuk mngikuti perlombaan-perlombaan antar kota maupun internasional.
Dia sangat dekat dengan neneknya dibandingkan dengan ayahnya.

"Bu, aku ingin menikahinya." kata Fugaku takut bercampur malu.

"Kau yakin? Apa sudah memberitahu Sasuke bahwa kau memacari seorang janda?" tanya ibunya yang sedari Fugaku menjalin kasih dengan Kushina tak pernah menyetuinya.

"Aku belum memberitahunya, tapi aku yakin dia akan menyetujuinya."

"Ya sudah jika itu pilihanmu, ibu bisa berkata apa. Kaulah yang menjalani hidup ini." kata ibunya sambil berjalan menuju kamar tidurnya.

"Mikoto, jika memang dia bisa menemani aku, ijinkanlah." katanya kepada dirinya sendiri.

"Itu kuserahkan kepada anakku saja." terdengar olehnya suara ibunya.

"Em, iya."
Ternyata itu suara ibunya sedang berbicara kepada Kushina.

'Kenapa pagi-pagi sudah ada dirumah?' batin Fugaku.

"Kushina?" menyakinkan diri bahwa itu benar-benar Kushina. "Apa
yang kau lakukan pagi-pagi sudah kesini?"

"Aku hanya ingin bertemu ibumu. Kemarin kau sendiri yang bilang kalau ibumu hari ini akan pulang ke kampung." jawab Kushina tenang.

"Sudah, sudah. Ibu akan siap-siap dulu mungkin mobilnya sebentar lagi datang," terangkat dari duduknya dan berjalan kearah Fugaku, "Jaga dia jika kau benar-benar mencintainya." bisik ibunya kepada Fugaku.

"Hati-hati, bu." Kata Fugaku.

Ibunyapun berangkat.

"Apa anakmu tahu tentang hubungan kita?" tanya Kushina.

"Tidak, aku belum sempat memberitahunya. Tapi ku yakin dia akan menerimamu." Fugaku menghampiri Kushina, memeluknya, dan menciumnya.

"Ayah…" panggil Sasuke kecil.

Dengan cepat Fugaku melepaskan kecupannya dari Kushina.

"Kau sudah bangun. Ayo minum dulu." ajak ayahnya yang menjadi salah tingkah.

Selesai memberi Sasuke minum, Fugaku memperkenalkan Kushina.

"Sasuke, apa Sasuke memberi ijin jika bibi Kushina tinggal bersama kita?" tanya Fugaku kapada Sasuke yang sedang digendongnya.

Sasuke memandang Kushina dengan pandangan yang tak dipahami oleh Kushina, menerimanya atau malah menolaknya. Ekspresi wajah Sasuke sungguh datar saat itu.

"Dimana nenek? Apa sudah berangkat?" tanya Sasuke tak menghiraukan Kushina.

"Iya, sudah. Jadi, jawaban Sasuke apa?" mencoba menanyanya lagi.

"Terserah ayah saja." sambil menurunkan dirinya dari gendongan ayahnya.

Sasuke sudah kelihatan segar setelah selasai mandi.
"Ayo jalan-jalan ke taman. Kau liburkan?" tanya Kushina agak memberanikan diri.
Sasuke hanya mengangguk. Merekapun pergi ke taman.

.
"Kalian haus?" teriak Fugaku kepada Kushina dan Sasuke yang saat sedang bermain-main di taman.

"Ya." jawab Sasuke dan Kushina hanya mengangguk saja.

Fugaku pun pergi mencari minuman untuk keduanya.

"Aku tak tahu kenapa ayahku bisa menyukaimu. Dan aku mungkin tak kan pernah tahu. Orang dewasa terlalu memiliki pikiran yang rumit. Anakmu mungkin akan membenciku akan hal ini. Satu yang pasti aku tak pernah mengharapkan mempunyai sesosok ibu lagi, tapi apa boleh buat. Aku menyayangi ayahku." kata Sasuke tiba-tiba.

Kushina sungguh terkejut mendengar perkataannya-perkataan yang panjang lebar dan ketidaksukaannya memiliki sesosok ibu lagi dari mulut seorang bocah yang baru berumur 10tahun.

"Ya, aku mengerti itu." kata Kushina singkat.

"Mau tak mau kau harus memperhatikanku. Aku memberikan ayahku, jadi kau harus baik padanya dan padaku. Aku tak terlalu berharap banyak darimu, Nyonya Kushina." katanya bak orang yang sudah dewasa sambil pergi meninggalkan Kushina dan berlari kearah ayahnya.

'Anak ini baru berumur 10tahun tapi pikirannya sudah sangat dewasa. Sungguh anak cerdas.' kata Helena didalam hatinya.

Sasuke memang tampak tak ikhlas dengan keberadaan Kushina disamping ayahnya. Kushina maupun Fugaku juga mengetahui akan hal itu. Entah mengapa ayahnya benar-benar terlihat egois kali ini.

Saat bermain-main di taman, berlari-lari, Sasuke tampak sangat menyukai Kushina. Tanpa disadari, mereka bermain bersama tanpa dikawani oleh sang ayah.

"Kau lelah, Sasuke? Kau sudah berkeringat" tanya Kushina.

"Belum. Jangan berpura-pura baik padaku, Nyonya." Katanya dengan nada datar lalu meninggalkan Kushina.

Kushina benar-benar tak menyerah pada Sasuke.

"Teman-teman, hari sudah hampir gelap. Saatnya pulang." teriak Fugaku mengingatkan keduanya.

Keduanya berlari kearah Fugaku.

"Ayo pulang." ajak Fugaku.

Keduanya hanya mengangguk.

Saat diperjalanan mereka tampak saling terdiam. Fugaku yang masih konsen mengendarai mobil juga bisa merasakan hawa panas antara Sasuke dan Kushina. Sasuke hanya melihat keluar jendela sepanjang perjalanan. Sementara Kushina melihat kejalan melalui kaca depan dan tak menoleh kiri kanan.

"Sasuke, ayah mengantar bibi Kushina dulu ya." kata ayahnya meminta ijin kepada anaknya.

"Iya. Hati-hati." sambil melihat datar kearah Kushina.

Benar-benar menginginkan perang.

Karena ditinggal ayahnya sendiri didepan rumah, Sasuke akhirnya bermain ke tetangga sebelah rumahnya yang sudah sangat dekat padanya.

"Ayahmu kemana, Sasuke?" tanya tetangga yang selalu menemani Sasuke sendirian jika ayahnya tak ada dirumah.

"Ayahku sedang mengantar Nyonya Kushina." jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari mainan yang sedang ia main.


Review=mambangun ^^b