.
.
TITLE
Angel
CHAPTER
2
PAIRING
YunJae (Yunho x Jaeoong)
DISCLAIMER
This story is a work of pure fiction
WARNING
OOC :: Typos :: STRAIGHT alias GENDERSWITCH
.
.
Jam 9 aku sudah sampai di kantor. Aku tidak pernah terlambat sedetik pun.
Kantorku terletak di lantai 4 dan 5 sebuah gedung dengan sepuluh tingkat. Benar, kantorku ada di sebuah gedung yang juga ditempati oleh beberapa perusahaan lainnya alias gedung bersama.
Setelah mengabsen, aku segera menuju ruangan kecilku tempat menerima "pasien" alias customer. Ruangan untuk "terapi" berada di lantai 4 sedangkan lantai 5 berguna sebagai tempat meeting dan sebagainya. Di lantai 4 juga ada 4 ruangan terapis lainnya, ruangan milik rekan-rekan seprofesiku. Total kami mempunyai 5 terapis disini.
Ngomong-ngomong, kau pasti heran dengan salam perkenalanku. Yes, aku adalah malaikat yang diturunkan ke bumi. Oleh Sang Waktu, aku diberi tugas membantu manusia menyelesaikan semua permasalahannya.
Aku pertama kali bertugas 28 tahun yang lalu. Jenisku selalu tetap: sebagai wanita berusia 28 tahun. Dari dulu sampai sekarang usia "manusia"-ku tidak akan berubah. Lalu berapa usia asliku?
Tanyakanlah pada Sang Waktu. Aku hanya bisa mengangkat bahu bila kau bertanya begitu.
Saat ini aku bertugas di Korea Selatan. Peranku sebagai konselor bernama Kim Jaejoong
Sudah tiga tahun aku bertugas disini, di kantor ini. Karena usiaku paling muda di antara keempat rekan kerjaku, aku diberi tugas untuk membantu klien yang berusia 13-30 tahun.
Mungkin kalian bertanya, apakah anak remaja bisa memiliki masalah yang membuatnya berkonsultasi? Tentu saja. Semua orang memiliki masalah.
Bulan lalu, klienku seorang yeoja berumur 15 tahun bernama Kim Ryeowook berusaha melakukan percobaan bunuh diri karena sering di-bully oleh teman-teman sekolahnya. Orangtuanya yang mengantarkan Ryeowook ke kantor kami. Sambil bercucuran airmata, Kim-ahjumma meminta pertolonganku. Si kecil Ryeowook yang manis, yang lengannya penuh bekas sayatan karena frustasi dan kesepian.
Ah manusia... Dalam jangka waktu 28 tahun ini aku masih juga sering terkaget-kaget dengan tingkah mereka.
.
.
Ketika pertama kali bertugas di Bumi, dalam 1-3 tahun pertama, aku hanya mengamati sekian juta manusia dalam bertingkah laku. Benar-benar mengamati, dalam artian aku hanya melihat dan membuat observasi pribadi. Aku mengamati bagaimana mereka berbicara, berinteraksi, berolahraga, bekerja, dan banyak lagi.
Aku juga mempelajari psikologi manusia dan berbagai sendi kehidupan mereka seperti budaya, teknologi, dan peradaban. Dengan kemampuan malaikat kami, semua itu bisa kuserap dalam sekejap. Dalam waktu 3 tahun itu aku belum menampakkan wujud manusiaku kepada mereka.
Perlu kau ketahui, malaikat sepertiku tidak mempunyai jenis kelamin. Di Langit kami netral.
Tapi jika sedang bertugas, aku selalu kebagian menjadi "wanita." Entahlah, hanya Sang Waktu yang tahu. Dan aku tidak pernah menanyakannya.
Kami malaikat tidak mempunyai hak untuk itu. Semua tugas yang diberikan harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.
.
Jam di ruanganku berdentang dan membuatku tersentak. Sudah setengah sepuluh. Sebelum pergi ke board room untuk meeting, aku sempatkan berkaca terlebih dahulu. Berdandan adalah salah satu hal yang kupelajari ketika menjadi wanita.
Cermin memantulkan bayangan seorang yeoja dengan rambut di-highlight pirang. Supaya tidak repot, rambut panjangku ini selalu kugelung ketika bekerja. Alisku melengkung dengan rapi. Ketika tersenyum, tampaklah sederetan gigi putih bersih hasil perawatan mahal. Bibirku berwarna merah merona dari aslinya, sehingga aku hanya cukup menambahkan lip gloss saja, tidak perlu lipstik yang terlalu tebal. Sebuah kacamata menambah kesan sebagai seorang profesional.
Cantik. Begitu beberapa rekan kerjaku pernah berkata dengan sedikit iri.
Tentu saja. Karena aku bisa memilih kondisi fisikku, aku tidak mungkin memilih menjadi itik buruk rupa. Memangnya aku bodoh.
Baiklah, kita lupakan saja kecantikanku. Aku sudah terlambat 2 menit ke board room di lantai 5.
Setelah sampai, aku menghempaskan tumpukan berkas yang kubawa ke atas meja. Keempat orang rekan konselor sudah ada disana. Direktur juga sudah datang. Hanya aku yang terlambat. Pertama kali dalam jangka waktu 3 tahun bekerja disini.
"Pagi, Jaejoong-ah."
Aku membungkuk kepada mereka semua. "Mianhae, saya terlambat."
"Ah, tidak apa-apa," sambut Direktur yang toleran ini. "Bisa kita mulai?" Semua mengangguk.
.
.
Hampir satu jam berlalu sejak meeting dimulai. Direktur mengatakan bahwa akan ada sedikit perubahan manajemen perusahaan. "Untuk beberapa minggu ini saya akan ada di luar negeri. Karena itu saya membutuhkan seorang supervisor untuk para konselor," ujarnya. Kami berlima hanya bisa ber-'oh' saja.
'Terserahlah,' sahutku dalam hati. 'Asalkan tidak mengganggu kinerjaku sebagai malaikat yang berwujud manusia.'
"Tidak sampai lima menit lagi pengawas yang baru akan tiba. Baik-baiklah dengannya. Jangan lupa mohon bimbingannya. Beliau masih mudah tapi prestasinya dimana-mana," tambah pak Direktur lagi.
Sambil menunggu tamu yang dimaksud datang, aku membuka-buka buku tentang konseling yang baru saja diberikan oleh Direktur. Sementara rekan-rekanku ada yang minum kopi dan mengobrol. Sebuah ketukan di pintu board room membuat kami menoleh. Sekretaris masuk ruangan sambil menundukkan tubuh. "Pak Direktur, pengawas yang baru sudah datang."
"Persilakan masuk."
Si sekretaris keluar lagi sambil berbicara dengan seseorang di luar ruangan. Aku yang duduk membelakangi meja hanya menunggu sampai pengawas memasuki board room.
"Ah, selamat datang," Pak Direktur mempersilakan pengawas tersebut berdiri di sebelah kursinya yang ada di ujung meja. "Semuanya, perkenalkan ini Jung Yunho-ssi."
"Yunho saja, ahjusshi," ralat si pengawas.
"Ah ya, kalian boleh memanggilnya Yunho-ssi saja."
.
.
Aku melongok menatap pengawas yang berdiri di sebelah Direktur. Entah kenapa, aku langsung tidak suka melihatnya. Dia bertubuh tinggi besar, mempunyai mata musang dengan sedikit luka yang tidak terlalu kentara di pipi kirinya. Dia mendekati kami satu persatu sambil memperkenalkan dirinya.
Tubuhku berkeringat dingin. Terasa ada hawa yang menekan. Aku tidak tahu apa ini! Aku benar-benar merasa aneh!
Merasa! Apa ini yang dinamakan merasakan?
Aku sedikit menundukkan kepala, berharap Yunho-ssi akan melewatiku dan tidak usah berkenalan denganku. Ah Jaejoong, itu pasti karena aura angkuh yang tergambar di wajahnya. 'Tenanglah, tidak apa-apa,' aku berusaha menenangkan diriku sendiri.
.
.
Masalahnya, selama 28 tahun hidup di Bumi, aku belum pernah merasakan hawa yang begitu menekan seperti ini. Ini lebih parah daripada hujan badai, angin puting beliung atau bencana apa pun yang pernah dialami umat manusia. Keringat dingin semakin mengalir deras menuruni punggungku.
"Nona Kim?"
Sebuah suara membuatku mendongakkan kepala. Pasti dia membaca name tag yang ada di jasku. "Atau saya panggil nyonya Kim?"
Suara Yunho-ssi yang berat terasa menembus otakku. Sekarang dia berdiri di depanku. Aku mendongak. Ternyata dia lebih tinggi dari perkiraanku semula. Aku hanya setinggi dagunya. Matanya memicing ketika melihatku. Sekarang aku benar-benar bisa melihat bekas luka di pipi kirinya.
Bisa kurasakan wajahku memanas karena ditatap olehnya. "Nona," jawabku otomatis. Hawa yang menekan itu masih terasa. Rasanya aku susah bernapas.
Merasakan...
Merasakan...
Merasakan...
Kenapa sekarang aku bisa merasakan sesuatu?
Demi Sang Waktu, apa yang terjadi denganku ?
"Mohon bantuannya, nona Kim. Saya akan menjadi pengawas anda," ujarnya. Matanya tak lepas memandangku.
Wajahku semakin memanas. Untuk menyembunyikan kegugupanku, aku membungkuk dalam-dalam. "Selamat datang, Yunho-ssi..." Ucapanku terputus karena kurasakan tubuhku ambruk dan sekitarku menjadi gelap
.
~ TBC ~
.
November.17.2013
-Nina-
