Sweet Thing that He Does by AMEUMA

Disclaimer Tadatoshi Fujimaki

#2

"KANPAI!" sorak semuanya bersamaan.

Hari ini adalah hari kelulusan anak-anak kelas 3 SMA. Miyaji, Ootsubo dan Kimura menyulangkan isi minuman mereka. Tidak lupa dua adik kelas kesayangan mereka yang turut memerayakan kelulusan para senior tim basket Shuutoku tersebut.

"Selamat, senpaitachi!" sorak yang berponi belah, mengangkat minumannya yang telah disulangkan bersama ketiga senpainya tersebut. Ketiga lelaki yang diselamati pun melihat kearah sosok yang memiliki hawk eyes tersebut. Miyaji, selaku senpai yang paling disayangi pun mengusap surai hitam yang duduk tepat dihadapannya tersebut. Mereka pun tertawa bersama-sama. Namun satu sosok yang mengenakan kacamata hanya berdiam diri, mengerutkan alisnya.

"Aaaah, sepertinya aku akan kangen dengan kalian," ucap Miyaji setelah mengusap kepala Takao. Ia lalu menyesap minumannya—teh oolong.

"Kalian kan bisa berkunjung kalau kangen," ucap Takao, melipat tangannya diatas meja dan terkekeh pelan.

"Aku tak yakin punya waktu luang untuk berkunjung. Kau tahu kan dunia perkuliahan," ucap Ootsubo sambil menaruh beberapa daging sapi diatas teppan yang berada ditengah meja yang mereka lingkari tersebut.

Takao membaringkan kepalanya diatas meja, menatap pada lelaki yang terakhir berbicara.

"Oh iya, kalian akan kuliah. Aku jadi khawatir," ucap Takao kemudian, mengangkat kepalanya karena merasakan hawa panas ketika kepalanya ia tidurkan diatas meja.

"Aku malah lebih khawatir padamu, Takao," ucap Miyaji setelah selesai menyesap tehnya hingga setengah gelas. Matanya pun beralih pada sosok hijau yang duduk disebelah Takao.

"Aku khawatir kalau meninggalkanmu dengan lelaki antisosial macam Midorima," ucap Miyaji. Yang disebut namanya menatap sang senpai yang menyebutnya antisosial tersebut.

"Shin-can tidak antisosial, senpai. Dia hanya sedikit tsundere," ucap Takao kemudian.

"Terus saja membicarakanku-nanodayo," ujar Midorima pada akhirnya karena kesal mendapatkan cibiran langsung dari senpai dan partnernya tersebut.

"Jangan tersinggung, Midorima. Lagian benar juga kan kau itu antisosial, temanmu tidak banyak," ucap Kimura yang sedang mengambil sayuran untuk dipanggang.

"Aku tidak antisosial-nanodayo," Midorima mendengus.

"Iya, senpai. Shin-chan tidak antisosial, dia hanya tsundere," ucap Takao kembali.

"Siapa yang kau sebut tsundere, Bakao?"

"Kau, Shin-chan~"

"Sudah kalian hentikan pertikaian tidak penting macam itu. Sekarang hari kelulusan kami, setidaknya kau memberi ucapan, Midorima," ucap Ootsubo, menghentikan pertikaian antara kedua kohainya.

"Selamat-nanodayo," ucap Midorima dengan wajah datar, tidak ada nada kegembiraan dari kalimat yang diucapkan Midorima tersebut. Hanya datar.

Semua mata pun menatap Midorima.

"Pftt—ucapan macam apa itu," Takao tertawa membahana, membuat seisi restoran melihat kearah mereka.

"Kalau kau tidak ikhlas, lebih baik tidak usah mengucapkan, Midorima," ucap Miyaji yang kesal dengan ucapan selamat yang dilontarkan Midorima.

"Aku tak menyangka akan mendapatkan selamat yang sedatar itu," ujar Kimura yang sempat menjatuhkan bawang Bombay yang hendak ia panggang.

"Apa kau tidak bisa mengekspresikan sebuah kegembiraan atau rasa senang ketika mengucapkan itu, Midorima?" tanya Ootsubo.

"Coba pikirkan sesuatu yang menyenangkan dan coba kembali mengucapkannya dengan ekspresi yang lebih berwarna," lanjut Ootsubo kemudian, memberi saran.

Midorima mendengus, alisnya ia tautkan. Memang mengucapkan selamat itu harus pakai ekspresi segala? Ditambah lagi memikirkan sesuatu yang menyenangkan…. Midorima kurang mahfum.

Ia pun melirik lelaki yang masih tertawa disebelahnya. Sebenarnya Takao itu merupakan sumber yang menyenangkan dipikirannya. Midorima pun memutuskan untuk memikirkan Takao dan kembali mengucapkan kata selamat.

"Selamat atas kelulusan kalian-nanodayo," ucap Midorima dengan senyum.

"Kuharap kalian lolos di universitas yang kalian inginkan," lanjutnya kembali.

Takao yang asalnya tertawa seketika cengo mendengar ucapan yang baru dilontarkan Midorima. Sementara ketiga senpaitachi tak bergeming ketika mendapat ucapan selamat dan harapan yang diucapkan oleh kohainya tersebut.

"Kau benar-benar Midorima?" tanya Miyaji, meraba-raba wajah adik kelasnya tersebut.

"Shin-chan, kau tadi makan apa?" Takao khawatir dan memeriksa isi cawan Midorima yang masih bersih.

"Sekarang aku malah jadi takut," ucap Kimura, peluh menghiasi keningnya.

"Setidaknya dia sudah mengucapkannya dengan benar," Ootsubo berusaha positive thinking.

"Jadi hal menyenangkan apa yang kau pikirkan tadi sehingga bisa mengucapkannya dengan ekspresi seperti itu?" tanya Ootsubo kemudian.

Semuanya pun menatap Midorima, penasaran akan hal menyenangkan bagi sosok berkacamata tersebut.

"Aku memikirkan Takao-nodayo."

"Hah?"

"Eh, aku?" yang disebut namanya menunjukkan telunjuknya pada dirinya sendiri.

"Ya, kau adalah sosok menyenangkan yang selalu hinggap dipikiranku-nodayo," ucap Midorima, membenarkan kacamatanya. Setelahnya, telapak tangan besarnya mengusap surai hitam disebelahnya.

Takao bersemu merah, tak disangka dia akan menjadi sosok penting bagi Midorima.

"Sekarang Midorima sudah tidak antisosial lagi ternyata," ucap Kimura.

"Ya. Dan sekarang dia juga sudah bisa menggombal," sambung Miyaji.

:::::::::::::::::::::::

Awalnya mau buat yang menjurus ke arah tim basketnya. Tapi kenapa jadi ngomongin antisosial. /lol

Dibuat ketika saya seharusnya buat ppt tapi jadinya malah buat fic yang gak saya yakin ini bisa disebut sweet karena 80% berisi percakapan senpai(?).

Terima kasih reviewnya untuk Anitayei dan Shin!

Omg saya dinotais Shin, aaaaa, terimakasih Q/Q /duh salting

Terima kasih juga untuk Fujita Mari dan Shin karena sudah fav dan follow fic saya ini Q/Q /duh jadi malu

Terima kasih sekaiiiiiii! /paan

#AMEUMA