Note:
Sebenarnya saya ga mau spoiler tapi karena ada yang nanya 'masa mereka humu humu kan disini ceritanya mereka orang Indo/Minang?' nah maka terpaksa saya beberkan bahwa fic ini nggak berakhir bahagia untuk shipper Rivaere/Ereri ahahaha ;;3;; Bittersweet, mungkin. Pengen sekali-kali bikin cerita yg rada realistis problematika per-humu-annya. Dan genrenya saya rubah ke Drama-Romance. Main pairingnya tetap Eren-Rivaille (platonic/one-sided), eventual RivaillexPetra dan JeanxEren. Yah-suatu saat nanti saja bikin Rivaere/Ereri bergenre humor deh :'D

Oya, cerita ini panjaaaaang banget, semoga ga bosen ditengah jalan.

Dan kalo ga bisa ngebayangin Rivaille mendadak Minang bayangin aja Uztad Rifa'i /*ditimpuk peci*

Eniwei saya harap readers tetep enjoy baca fic ini \(TTwTT)/

.

.

.

.

Dichotomy, a Shingeki no Kyojin Fanfiction
Chapter 2: Gubuk dan Istana

.

.

.

.

Semburat emas sinar mentari mengintip dari balik gumpalan awan putih, menembus selimut kabut yang menyelubungi atmosfir. Helaian daun pepohonan di taman mulai menguning, jatuh berguguran tersapu semilir angin dingin. Satu per satu mereka jatuh membentuk permadani keemasan di atas mata tajam bilah rerumputan. Kota itu bagai terbingkai figura emas.

Petra membuka lebar jendela kamarnya, menikmati kedamaian panorama pagi hari kota Malden. Tumben-tumbenan ia bisa menyaksikan detik-detik sang fajar diarak kereta kencana untuk menduduki singasananya di kaki timur langit. Biasanya ia bangun dengan muka sepat setelah berkali-kali memencet tombol 'snooze' alarm telepon genggamnya, lalu disapa riuh derak derik lantai kayu rumahnya, pertanda kakaknya telah lebih dulu bangun dan tengah menyiapkan sarapan di dapur. Namun pagi ini berbeda. Ia terbangun oleh ritme biologisnya. Tanpa interfensi dunia luar.

Setengah enggan meninggalkan kenyamanan kasur hangatnya, gadis itu membalutkan selimut ke pundak layaknya jubah royal seorang raja. Ujung jubahnya terseret menyapu lantai ketika ia berjinjit keluar. Aroma manis sirup maple tercium dari ujung lorong, menarik tangannya untuk melangkah lebih cepat.

"Pagi, Pat. Tumben sekali kau bangun pagi," kakaknya, Hanji, tengah asyik menuang adonan pancake ke panggangan.

Petra mengerjab ketika semerbak gurih telur dan mentega menggelitik hidungnya. Dengan tangan terbungkus selimut ia menarik salah satu kursi di sekeliling meja makan. Ia menguap lebar, "Tapi tetap aku nggak bisa bangun lebih dulu darimu."

Pinggiran pancake mulai berubah coklat keemasan. Penuh kehati-hatian Hanji mencongkel kue pipih itu dengan spatula dan menatanya di piring, menimpa lembaran-lembaran pancake yang sudah lebih dulu matang. Diletakkannya piring itu di hadapan Petra yang sudah tak sabar ingin menenggelamkan sarapannya dalam lautan sirup maple kental.

Dengan pipi gembul dipenuhi bongkahan pancake, Petra berujar, "Feeling-ku bilang hari ini akan menjadi hari keberuntunganku. Apalagi dimulai dengan pancake dan sirup maple."

"Siapa tau kau akan bertemu jodohmu hari ini," celetuk Hanji.

"Ufft—"

Petra tersedak. Sepotong besar pancake menyangkut di kerongkongan. Panik, disambarnya segelas teh yang baru diseduh. Sontak lidahnya terbakar. Disemburkannya cairan panas itu dari mulut sembari menjerit, "Hanji!"

Kakaknya hanya tertawa ringan, "Oh, maaf. Aku lupa—kau 'kan sudah bertemu jodohmu, hanya saja kau terlalu takut untuk mendekatinya. Siapa namanya, Rivaille?"

"Hanji!"

Yang diteriaki menyeringai lebar, "Kau harus mengenalkannya padaku."

"Nggak. Nanti kau pasti bakal cerita macam-macam!"

"Seperti hobi anehmu masuk ke kamarnya untuk menghirup aroma bantalnya?"

"Ugh, jangan membuatku terdengar seperti stalker gila! Aku cuma membantu menejer memeriksa kebersihan kamar!"

Hanji tergelak melihat adiknya cemberut. Mungkin suatu saat ia harus mengetuk pintu kamar 401 untuk melihat sosok pria seperti apa yang membuat adiknya terobsesi. Tiap sore, tiap Petra pulang kerja, obrolannya pasti "Rivaille ini" atau "Rivaille itu". Berkat celotehan si adik, Hanji sudah punya banyak klu visual mengenai penampakan sang pujaan hati—pendek, wajah Oriental, kulit pucat, mata sipit—tapi melihatnya vis-a-vis pasti lebih greget.

Bunyi 'thud' pelan mengiring ketika Hanji meletakkan piringnya di meja. Tak lama dering jernih dari telepon genggam Petra menyusul. Petra menggapai teleponnya dan melotot melihat nama penelpon: Rivaille.

"Ri-Rivaille menelpon!" ia menatap kakaknya dengan dua bola mata biru membelalak. Petra mendengar kakaknya bergumam kecil "Wow, ini memang hari keberuntunganmu," sebelum ia memencet tombol 'angkat' dan menyapa, "Halo?"

"Petra," suara Rivaille yang biasanya tipis terdengar berat, serak. "Maaf aku mengganggu pagi-pagi begini. Apa aku membangunkanmu?"

"Nggak, kok. Tumben, hari ini aku bangun cepat."

"Oh. Baguslah. Aku... aku sedang dalam masalah. Aku ditahan. Di pos polisi."

Petra tertegun, "Kau ditahan?"

Hanji mendekati adiknya, ingin menguping pembicaraan mereka. Dari speaker telepon genggam mengiang suara serak, "Ceritanya panjang."

"Ceritakan saja. Aku sedang senggang."

Kedua kakak beradik itu bisa membayangkan gaya sarkastik Rivaille memutar bola matanya di ujung saluran. "Aku lupa membawa kartu identitas saat masuk ke klab dan petugas security mengira aku bocah SMP. Eren muncul lalu menggebuk mereka."

"Eren?!"

"Ya. Idola Youtube-mu. Si bocah dari kamar 401. Gara-gara dia aku ikut terseret ke pos polisi."

Petra dan Hanji saling menatap. Si adik mendelik melihat ujung bibir Hanji berkedut-kedut menahan tawa.

Rivaille melanjutkan, "Kalau kau nggak keberatan, aku butuh bantuanmu."

"Tentu aja aku nggak keberatan!"

"Pfft," Hanji menutup mulutnya dengan kedua tangan. Sulit untuk tak terkikik melihat ekspresi penuh harap Petra.

"Bisakah kau mengambil paspor, visa, dan kartu mahasiswaku di kamarku dengan kunci duplikat yang dipegang menejer? Aku menyimpannya di laci teratas meja belajar. Dua teman Eren akan menjemputnya jam delapan pagi ini dan mengantarkannya ke pos polisi tempat aku ditahan sekarang, di Boston. Itu satu-satunya cara agar aku bisa keluar." Jeda sebentar. Kecanggungan menyelip, "Dan—sekali lagi kalau kau tak keberatan—tolong ambilkan selembar celana di lemariku."

Petra tersedak ludahnya sendiri. Ia diijinkan mengaduk isi lemari Rivaille?

"O-oke."

Hembusan nafas lega, lalu, "Kau benar-benar malaikatku, Petra. Terimakasih."

"Uhm, ah. Sama-sama."

Percakapan berakhir. Petra menatap layar telepon genggamnya, bola mata safir itu penuh ketidakpercayaan. Hanji bersiul menggoda, "Bangun sendiri, sarapan pancake dengan sirup maple, ditelpon cowok yang kau taksir, dan kini kau diundang masuk ke kamarnya. Wow. Ucapkan terimakasih pada bintang keberuntunganmu, Pat."

"Aku cuma diminta mengambil barang! Aku nggak akan melakukan hal-hal aneh!"

"Kalau kau defensif gitu aku makin curiga lho~"

Petra mesem-mesem. Garpunya ditancap-tancapkan ke pancake seperti anak kecil ngambek, sementara batinnya mengumpat sang kakak yang selalu bisa menebak pikirannya.

.

.

.

"Ugh..."

Eren mendengar dirinya mengaduh. Ia berusaha mengangkat kepala, namun sulit sekali. Tulang lehernya tak mampu menahan berat kepala. Yang bisa ia lakukan hanya menoleh ke kiri dan kanan. Pandangannya kabur, tapi ia bisa memastikan ini bukan kamarnya. Ruangan sempit tanpa furnitur itu dikelilingi tembok putih dan sebentang jeruji besi. Tunggu—jeruji besi? Kepalanya mendadak sakit, layaknya dihujam berkali-kali oleh martil tak terlihat. Ada dengungan di telinganya, tinggi dan memekakkan.

"Ini... dimana?"

Sepasang bola hijau-hazel memindai ruangan itu lagi dan menemukan sosok kecil berkepala pelontos menggulung diri dalam posisi janin dalam rahim. Kedua kaki dan tangan ditekuk, bibir nyaris mencium lutut. "Connie?" suaranya parau ketika ia memanggil nama teman sekelasnya itu. Yang dipanggil tak menyahut, makin erat melipat tubuh.

Menyangga berat badan pada siku kanan, Eren mengangkat torsonya. Saat itulah ia melihat sosok lain. Laki-laki bersurai hitam legam, dengan bola mata yang sama kelamnya, menatap kosong tanpa ekspresi seperti mata ikan mati. Tubuhnya hanya sedikit lebih tinggi dari Connie yang mentok di angka 158 cm. Tulang-tulang wajahnya kecil landai, bersembunyi di balik selimut kulit pucat. Tunggu—rasanya ia pernah melihat orang ini sebelumnya. Tak begitu familiar seperti Connie, tapi juga tidak terlalu asing. Ia berusaha berpikir lagi namun denyut menyakitkan menghentikannya.

"Selamat pagi, Sleeping Beauty. Nyenyak tidurnya?"

Ah. Ah! Nada sinis itu, sudah pasti—

"Rivaille?"

"Senang kau masih mengenaliku."

Kabut yang menyelimuti pandangan Eren perlahan memudar, dan kini ia bisa memperhatikan tetangganya itu lebih seksama. Lelaki nyaris seperempat abad itu duduk meringkuk di pinggir ruangan dengan kedua tangan di belakang punggung—diborgol?—dan ada noda basah di ujung celana dan sepatunya. Noda yang juga mengotori baju mahal Eren. Bau tengik mengudara dari sana, memaksa Eren megap-megap mencari udara segar.

"Kita... ada dimana?" si brunette mengangkat tubuhnya ke posisi duduk. Rentetan bunyi 'krak' tercipta dari sendi-sendi kakunya. Rivaille menimpali suara-suara itu dengan memelintir leher ke kiri. Eren merinding, takut jikalau tulang leher Rivaille patah karena suara 'krak' miliknya begitu kuat.

Leher Rivaille tampaknya oke-oke saja. Kepala mahasiswa itu bisa berputar ke posisi awal. Lengking baritonnya terdengar tak kalah serak ketika ia menjawab, "Pos polisi Boston. Kita dapat tiket menginap gratis setelah kau menggebuk petugas security semalam."

Sial.

Sialsialsialsialsialsial! Batin Eren menjerit. Ingatan akan kemarin malam merangkak dalam benaknya. Sebotol Jaegermeister yang disodorkan Connie, tendangan maut Rivaille yang telak menghantam betisnya, gigi ompong seorang pria berseragam petugas security... adegan-adegan itu muncul silih berganti bak slideshow tanpa tombol berhenti. Ia menggeliat tak nyaman, merasakan metal dingin mengekang pergelangan tangan.

"Kita... dikurung dan diborgol sekaligus?"

"Kurasa polisi nggak ingin kita saling mencekik."

"Haha," jawaban pria itu membuat urat humor buruk Eren terkitik. "Borgol tangan nggak ada gunanya. Kalau kau benar-benar ingin membunuhku, kau tinggal menendang leherku sampai patah."

Rivaille menatapnya sebentar, seperti tengah menimbang-nimbang. "Boleh juga idemu."

"...aku cuma bercanda."

Bibir Rivaille mengeriting. Tiba-tiba sebuah tawa menyeruak, menembus barikade barisan rapat gigi dan bibir. Gelegar tawa Rivaille membuat si brunet bergidik ngeri. Ini pertama kalinya ia mendengar tawa renyah sang 'abang sekampung', tapi raut muka pemuda bertubuh minimalis itu sama sekali tak sinkron dengan gelak cerianya. Tanpa sadar Eren mengesot menjauh, melotot horor pada kaki kiri Rivaille yang sedikit diangkat.

"Oh, ngomong-ngomong, kau muntah seperti banjir bandang," Rivaille mengangkat kakinya lebih tinggi, memperlihatkan ujung celana dan tapak sepatu yang kotor tersiram sisa makanan dan minuman setengah tercerna. Remaja berambut kecoklatan itu terhenyak. Seberapa mabuk ia sampai nekat menyembur Rivaille—sang ibilis galak dari dasar tergelap neraka jahanam—dengan muntahan makan malamnya?

"Aku—aku minta maaf," ia menundukkan kepalanya, seperti pasrah menyerahkan jidatnya untuk ditempel tapak sepatu Rivaille. "Kalau kau mau, bisa bertukar celana dan sepatu..."

"...itu saran teridiot yang pernah kudengar."

Benar juga. Dengan kondisi tangan terborgol, bagaimana mereka bisa melepas artikel pakaian? Jangan lupa ukuran celana dan sepatu Eren terlalu besar untuk kaki pendek dan telapak kecil Rivaille. Dan, jelas saja, melepas celana untuk berganti pakaian di depan umum bukan hal lumrah. Memalukan, malah.

Eren tak patah arang, terus menawarkan alternatif, "Aku bisa menggantinya dengan yang baru."

"Bayar biaya laundry saja sudah cukup. Lagipula aku sudah minta tolong ke kedua temanmu untuk membawakan pakaian ganti untukku."

"Maksudmu, Reiner dan Bertholdt?"

"Ya, mereka menjenguk sejam yang lalu. Mereka juga sudah menghubungi ayahmu."

Segala warna luntur dari wajah Eren, "Mampus."

"Kenapa pucat begitu? Bukannya tadi malam kau bilang, ayahmu akan mengeluarkan kita bertiga dari sini?"

"Dia akan mengeluarkan kita, tapi. Tapi. Tapi aku pasti dibantai habis-habisan..."

"Positif saja. Ambil nilai moralnya. Lain waktu kau ingin mengengak minuman keras, ingat akibatnya. Ingat hari ini. Ini pelajaran bagimu."

Ironis sekali Rivaille menyuruhnya berpikiran positif dengan ekspresi wajah yang menunjukkan segala bentuk emosi negatif. Eren mengangguk patuh, kepala tertunduk rendah. Ahh. Tak ada harapan bisa berbaikan dengan tetangga satu apartemennya itu. Tak ada harapan bisa minta diajari mengolah makanan ala chef. Semua gara-gara kebodohannya, menerima tantangan Connie untuk meneguk minuman keras yang dicuri dari kabinet penyimpanan bir ayahnya. Ia melayangkan tatapan kesal pada figur mungil si botak.

Merasakan tatapan tajam menusuk punggung, Connie terbangun, menguap lebar. Tampaknya hangover Connie tak separah Eren. Ia hanya sedikit meringis merasakan kedut nadi di sepanjang pelipis. Penuh semangat ia berkata, "Ah, tadi malam asyik sekali. Kita harus lebih sering mabuk!"

Eren dan Rivaille kompak menamparnya dengan sorot mata bengis.

.

.

.

.

Deg-deg-deg.

Jantung Petra berdegup kencang menghujam rusuk. Ini bukan pertama kalinya ia masuk ke kamar Rivaille, namun pancuran adrenalin tak kunjung mereda. Perlahan ia memutar kunci. Pintu kayu berderit, terayun pelan.

Denah kamar itu sudah tercetak di belakang kepalanya. Di ujung kanan bidang berukuran 6x5 meter itu, tepat di depan jendela tinggi bertirai vertical blind kelabu, terdapat kasur single berbungkuskan sprei katun putih bersih. Dua bantal ditumpuk rapi, menyandar di kepala kasur. Separuh kasur ditutupi selimut elektrik tebal—Rivaille tak tahan dingin, Petra ingat betul—yang dilipat rapi. Geser sedikit ke kiri, dan ia menemukan meja kecil. Lampu baca bertengger di sana, berbagi tempat dengan beberapa novel ringan yang setia menemani ketika sang empunya sedang sulit memejamkan mata. Dua lemari menjulang di sisi kiri kamar. Satu berisi pakaian, sementara yang lain dipenuhi berbagai judul buku teks tebal, jurnal, dan diklat. Diantara keduanya terdapat meja belajar berbahan kayu. Laptop, buku tulis, pena dan beberapa lembar kertas tersusun rapi di permukaan.

Petra mendekati meja itu, menarik laci teratas. Merogoh-rogoh mencari paspor, visa, dan kartu mahasiswa diantara lautan kertas. Ah—ini dia. Menggenggam ketiga dokumen penting itu di tangan, ia berjingkat ke samping. Aroma mint shampo samar tercium dari kamar mandi yang berjarak beberapa kaki saja dari lemari baju. Ditariknya kenop lemari, lalu berdecak kagum. Pakaian-pakaian Rivaille tersusun begitu rapi. Tidak—'rapi' belum cukup untuk menjabarkan keteraturan itu. Tiap helai dilipat dengan ukuran seragam—sekitar 40 x 30 cm—lalu disusun vertikal menurut gradasi warna. Di bilik sebelah, beberapa jaket dan celana panjang digantung, lagi-lagi diurut berdasarkan spektrum.

Agaknya laki-laki itu sedikit mengidap OCD. Obsessive compulsive disorder.

Bola mata safir Petra bergerak-gerak memindai lemari. Celana mana yang harus ia ambil? Tak penting, sebenarnya, karena semuanya hampir sama. Jeans model pipa. Gadis itu menjatuhkan pilihannya pada jeans hitam di pinggir terkiri gantungan, yang tampaknya sudah terpakai.

Entah jin apa yang merasuki, Petra mendekatkan ujung kaki jeans itu ke hidung, menghirup dalam-dalam aroma lemon yang merebak diantara serat kain.

"Ugh. Bahaya, bahaya. Lama-lama aku bisa jadi stalker beneran."

Digulungnya jeans itu, lalu dimasukkannya ke tas kertas bersama barang pesanan lainnya. Kedua teman Eren sudah menunggu di luar. Ia tak bisa berlama-lama, meskipun sebagian lobus otaknya memaksa ingin berguling di kasur sambil membaca novel, menikmati suasana tenang kamar ini sejenak lebih lama.

"Ini, aku sudah memasukkan barang-barang Rivaille disini," Petra menyodorkan tas kertas itu pada Reiner dan Bertholdt. Ia melengkungkan bibir berpoles lipbalm plum membentuk satu senyuman manis. Kedua remaja di hadapannya terkesima. Eren tak bohong saat ia berkata bahwa resepsionis apartemen itu adalah seorang malaikat. Lihatlah wajah cantik itu. Bola mata sejernih air danau yang terbingkai bulu mata panjang nan lentik. Alisnya yang rapi. Tak seperti kebanyakan gadis yang mencabut alis mereka untuk mendapatkan garis tipis melengkung tinggi, ia membiarkan rambut halus di atas kelopak mata itu tumbuh alami. Rambutnya, jangan lupa rambutnya. Lurus tergerai menyentuh pundak. Ingin sekali mereka menyentuhnya, hanya untuk meyakinkan diri apa helai-helai keemasan itu lembut sesuai perkiraannya.

Malang beribu malang, Eren juga tak bohong soal hobi menguntit Petra.

Sulit menjaga ekspresi wajah tetap netral setelah kedua remaja itu mengintip ke dalam dan mendapati Petra tengah suka cita mengendus celana jeans sang pemilik kamar.

"Baiklah. Kami akan mengantarkannya sekarang," Bertholdt membalas senyuman Petra seraya meraih tas kertas itu.

Petra mengangguk, "Terimakasih. Semoga masalahnya cepat kelar."

Satu anggukan lalu Reiner dan Bertholdt melangkah pergi. Sepuluh langkah kemudian mereka serempak menoleh ke belakang. Yep, tepat seperti dugaan, Petra berdendang riang masuk ke kamar 301. Terdengar bunyi gedebuk kecil. Sepertinya gadis itu menjatuhkan diri ke ranjang kosong Rivaille. Pekikan maniak bernada tinggi menggelegar, "Hyaaaa! Kamar Rivaille!"

Agaknya Petra lupa akan tipisnya dinding apartemen.

"Demi apa, gadis itu menakutkan," Bertholdt berbisik.

Reiner melengos saja.

Setibanya di luar apartemen, kedua pemuda tanggung itu melompat ke Chervolet '98 milik Bertholdt. Cepat melesat di sepanjang jalanan menuju Boston. Selang setengah jam kemudian keduanya tiba di depan pos polisi lokasi temannya ditahan. Mereka memarkir kendaraan di samping Porsche hitam mewah—kontras dengan mobil kesayangan Bertholdt yang peyok sana-sini, terkelupas sana-sini. Mobil itu tampak familiar. Ah, ya. Mereka pernah melihat mobil itu terparkir di garasi rumah Eren. Itu mobil ayahnya.

Dugaan mereka tepat lagi. Sosok Erwin Schdmith, ayah Eren, tampak mencolok diantara dua opsir yang bertugas menjaga pos. Tubuh tinggi tegapnya erat dibalut setelan jas abu-abu, dilengkapi dasi merah yang membujur di tengah kemeja hitam. Rambut pirangnya disisir klimis ke belakang. Bertholdt dan Reiner bisa melihat dari mana Eren mewarisi perawakan tampan saat Mr. Schdmith memutar kepalanya. Sinar matahari pagi yang memantul di sudut-sudut wajah mempertegas tulang pipi dan rahangnya. Keriput mulai terpatri namun justru menambah kewibawaan pria berkepala empat itu. Masa bodoh dengan trend kosmetik anti-aging, pria yang satu itu justru makin tampan seiring bertambahnya usia.

Ekor mata Mr. Schdmith mengikuti gerak langkah kedua sahabat dekat anaknya. Begitu sepatu kets mereka menapaki lantai pos polisi, ia menyapa, "Bertholdt, Reiner."

"Pagi, Mr. Schdmith."

"Maaf anak idiotku menyulitkan kalian. Lagi."

Bukan sekali dua kali ia meminta maaf—sejak Eren masuk SMA, entah berapa kali ia berbuat onar hingga menyeret teman-temannya dalam pusaran masalah. Ada saja kelakuannya. Dari ikut tawuran sampai mengutil. Semuanya dilakukan atas dasar iseng atau karena ditantang teman, terutama Connie si biang kerok. Bertholdt dan Reiner, yang sedikit lebih dewasa dibanding sepasang bocah ingusan—Eren dan Connie—berakhir sebagai 'petugas kebersihan' yang merapikan kehancuran hasil perbuatan bodoh mereka. Seperti kali ini. Melapor ke Erwin, memberi keterangan ke polisi, bahkan jauh-jauh berkendara pulang-pergi ke Boston-Malden untuk mengambil dokumen seorang mahasiswa Harvard yang tersangkut dalam keributan antara Eren, Connie, dan petugas security RISE.

Bertholdt menggeleng, helai rambut hitamnya bergoyang kiri-kanan. "Nggak masalah, Sir."

"Erwin saja," pria itu menyela, tersenyum ramah.

"Ah, oke. Erwin."

Selagi Bertholdt memulai percakapan kecil dengan Mr. Schdmith, Reiner menyerahkan paspor, visa, dan kartu mahasiswa milik Rivaille ke seorang opsir. Ia mencuri pandang. Rivaille, laki-laki, 28 Agustus 1989. Berarti benar usianya sudah 24 tahun. Lebih tua dari perkiraan. Kalau boleh jujur, Reiner tak kaget saat petugas security menganggap Rivaille anak di bawah umur. Wajahnya memang agak kekanakan, dengan tulang wajah landai meruncing di dagu dan sedikit sisa baby fat di menutupi sudut belulang pipi. Ia pernah dengar kalau ras Asia memang cenderung memiliki baby-face, tapi kasus Rivaille agak keterlaluan juga. Dia terlihat seperti teman selentingan Connie. Sesama bocah.

Sehabis meneliti dokumen-dokumen seksama, sang polisi membuka gembok. Pintu berjeruji diayun membuka, membuat engsel besi berdecit. Ketiga penghuni sel melangkah gontai keluar, menyerahkan tangan-tangan terborgol untuk dibuka. Sang polisi mewanti-wanti, "Lain kali jangan bikin kegaduhan lagi, oke?"

Ketiganya mengangguk pelan, walau Connie tampak terlalu ceria untuk ukuran orang yang baru saja ditahan.

"Rivaille, tangkap," Reiner melemparkan tas kertas yang sigap disambut Rivaille.

Rivaille melirik isi tas itu, "Syukurlah. Aku nggak tahan mencium aroma isi lambungmu, Eren."

Erwin menangkap kata-katanya, "Apa yang anakku lakukan?"

"Dia muntah. Di kakiku."

Semuanya mengerucutkan wajah mereka.

"Aku udah minta maaf, kok! Aku akan bayar biaya laundry-nya!" Eren membela diri. Kedua tangan mengapung di udara. "Aku mabuk, oke? Nggak akan terjadi lagi. Sumpah!"

"Mungkin Ayah harus mengevaluasi keputusan untuk mengijinkanmu tinggal sendiri."

"Jangan!" Eren merengek.

Erwin mengalihkan perhatian ke pemuda Asia yang baru pertama kali ia kenal. Ia mengulurkan tangan sembari mengumbar senyum profesionalnya. Senyum khas yang dipakai bussinessman untuk melancarkan lobi-lobi. "Erwin Schdmith. Maaf anakku melibatkanmu dalam aksi bodohnya."

Rivaille menerima uluran itu, "Rivaille."

"Kau tinggal dimana, Rivaille? Kau kelihatan lelah. Biar kuantar pulang."

"Aku tinggal di apartemen yang sama dengan Eren. Nggak perlu repot-repot, aku bisa naik kereta."

"Aku nggak kerepotan."

Terlalu capek untuk berargumen, Rivaille menhembuskan nafas sambil menggumamkan kata 'baiklah'. Membiarkan dirinya digiring ke mobil mewah bercat hitam metalik. Eren mengekor di belakang, disusul ketiga temannya yang melompat ke Chervolet tua Bertholdt. Ia membuka pintu kiri untuk duduk di samping kemudi sementara Rivaille berselonjor di bangku belakang. Ah, nyaman sekali. Ingin ia membenamkan diri dalam permukaan empuk kursi mobil itu.

"Ah. Aku lupa tukar celana," Rivaille menepuk jidat lebarnya.

"Tukar saja disini," adalah saran bodoh Eren.

Untung sang ayah memiliki ide yang lebih baik, "Kita akan singgah di restoran. Kau bisa menukarnya disana. Kau belum makan sejak kemarin malam, kan? Kau ingin apa? McDonald, Wendy's? Atau kita ke rumahku dan meminta juru masak membuatkan sarapan untukmu. Kau juga bisa mandi dan beristirahat, kalau mau. Bagaimana kedengarannya?"

"Terserah Anda saja," Rivaille mengangkat bahu. Ia agak kesal diperlakukan seperti anak-anak oleh ayah Eren—dimanjakan seperti anak-anak—tapi mau bagaimana lagi. Kulit kakinya gatal dan cacing-cacing di perutnya sudah asyik berdendang keroncong. Harga diri harus berkompromi.

Sepanjang perjalanan, Rivaille tak henti-hentinya berkontemplasi, mengatur siasat balas dendam. Eren tak boleh melenggang bebas begitu saja. Ia harus mengganti akhir pekan Rivaille yang hancur lebur akibat aksi nekatnya. Ia pun menyortir beberapa ide. Mengirim sepiring ayam panggang cabai hijau yang sudah dilumuri pencahar—modusnya, bilang saja sebagai balasan atas rendang daging buatan ibu Eren—terdengar cukup sadis. Namun ia teringat bahwa remaja blasteran itu tinggal di lantai atas kamarnya. Ia tak ingin terbangun di tengah malam mendengar erangan nista Eren dari kamar mandi. Ide selanjutnya, meminta nomor ponsel atau e-mail Eren lewat Petra, lalu mempostingnya di Craiglist, seolah Eren adalah berondong 'jarang dibelai' yang sedang mencari tante-tante. Atau om-om, biar lebih greget. Dia pasti ketakutan setengah mampus jika ada om-om yang menelponnya dengan nada genit. Tapi, ah—terdengar berbahaya. Sebenci-bencinya Rivaille pada 'adik sekampung'-nya itu, ia tak tega membayangkan apa jadinya jika ada om-tante yang bertindak nekat. Melarikan Eren, misalnya. Ia banyak mendengar kasus seperti itu terjadi di Indonesia, perkenalan online yang berakhir penculikan. Jika benar terjadi, ia pasti ikut terjerat. Bisa dituduh sebagai muncikari anak dibawah umur. Ugh. Hancurlah impiannya menjadi hakim agung. Hm, bagaimana kalau ia menyelinap ke dalam kamar Eren dan menukar isi shamponya dengan oli? Terlalu kekanakan? Ya, Rivaille juga berpikir begitu.

Ah, ya sudahlah. Biar Erwin saja yang menghukum Eren. Ia memejamkan matanya yang perih melotot semalaman, mencari ketenangan diantara alunan musik klasik dari speaker mobil.

.

.

.

.

Erwin menyebutnya rumah, tapi di mata Rivaille bangunan kolosal tingkat enam itu lebih pantas disebut istana. Bangunan berasitektur klasik itu berdiri kokoh di 74 Beacon Steet, kawasan elit Beacon Hill, Boston. Didominasi warna putih pada dinding, hitam dari pagar, pintu, dan kusen, serta coklat kemerahan dari lantai hardwood. Jenjang granit berbingkai pegangan hitam membentang di depan pintu utama. Di tiap jendela tinggi berventilasi setengah lingkaran terdapat balkoni kecil berisi pot-pot bunga, menambah asri suasana hunian di sepantaran Taman Publik Boston tersebut.

"Jangan sungkan, anggap saja rumah sendiri," pria paruh baya itu masih mengenakan senyum bisnisnya saat menyilakan tamunya masuk. Rivaille merasa begitu kecil, terserap menjadi titik tak berarti dalam bentang bangunan megah seluas 8.450 kaki persegi milik keluarga Schdmith. Pelan melangkah ke ruang utama bernuansa putih-cokelat, menuju sofa besar nan empuk yang berjejer di depan empat jendela raksasa bertiraikan sutera.

"Kau bisa mandi selagi koki menyiapkan makanan. Eren, tunjukkan kamarnya."

"Ayo," Eren meloyor duluan.

Ada enam kamar di rumah—istana—tersebut, masing-masing dilengkapi satu kamar mandi yang ukurannya tak tanggung-tanggung, seluas kamar Rivaille di Malden. Sarana hunian itu lengkap. Rivaille tak lagi harus melipat lengan kedinginan karena semua lantai dilengkapi sistem penghangat ruangan, plus delapan perapian yang masih berfungsi baik. Gym, elevator, perpustakaan, ruang media, game center, bahkan ruang penyimpanan anggur tua nan langka, semua ada. Layaknya buah cherry di atas krim, untuk melengkapi kesempurnaan hunian, di atap dibangun kolam renang berpinggiran dek kayu mahogani, dimana penghuni bisa berdendam dalam air hangat sembari menikmati indahnya horizon tak bertepi Massacussets.

Yang kurang dari istana itu justru penghuninya. Sepi sekali. Rivaille tak melihat siapapun di dalam kecuali beberapa pembantu yang lalu-lalang merapikan ruangan. "Aku nggak melihat ibumu." Sebuah statemen, namun penuh tanya. Eren menghentikan langkah di depan sebuah kamar.

"Ibuku nggak tinggal disini," gumaman remaja tujuh belas tahun itu terdengar parau, berat. "Orangtuaku bercerai lima tahun yang lalu."

"Ah. Maaf."

Eren mengangkat bahu bidangnya, "Nggak apa-apa."

"Lalu... ayahmu tinggal sendiri?"

"Pembantu kepala dan juru masak juga tinggal disini."

"Kau sendiri, kenapa pindah ke Malden?" Rivaille tahu Eren tampak agak tak nyaman diinterogasi, namun rasa ingin tahu mendesakknya untuk terus bertanya. "Maksudku, kalau aku nggak salah temanmu bilang kau bersekolah di Boston Latin. Kenapa jauh-jauh ke Malden? Belum lagi apartemen yang kau tinggali sekarang kelihatan seperti gubuk reyot kalau dibandingkan dengan rumahmu."

Eren mengambil jeda sebentar. Menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal. "Aku pernah bilang, kan. Aku lahir dan besar di Boston. Rumah ini seperti kampung halamanku." Jeda lagi. Remaja berkulit kecoklatan itu membuka pintu dan langsung mendaratkan tubuh di sofa, berusaha membuat dirinya nyaman di bawah sorot 'mata ikan mati' Rivaille. "Aku hanya ingin pergi dari kampung halamanku. Kau tahu, merantau. Walau hanya belasan mil, aku ingin pergi dan mencicipi bagaimana rasanya merindukan tanah kelahiran. Entahlah."

Jawaban siswa SMA itu membuat Rivaille menaikkan kedua alisnya, "Kau memang berdarah Minang."

"Memang," Eren menaikkan kedua bahunya lagi, "Lagipula aku ingin mandiri. Aku nggak ingin sekedar mewarisi kekayaan ayahku. Aku ingin mengumpulkan uang sendiri, membangun hidup sendiri. Seperti itulah."

"Heh. Ternyata kau cukup dewasa untuk ukuran bocah ingusan."

Eren melihat ujung bibir Rivaille naik beberapa mili—bukan, mikrometer. Wajahnya masih sedatar teflon, namun ia yakin ada senyuman tak kasat mata disana.

"Pfft. Thanks." Ia tersenyum, bangga pada dirinya yang bisa membuat Rivaille mengeluarkan satu dari beberapa pujian langkanya. Yah, walaupun masih ada ejekan menyelip di ujung. "Oh, Ngomong-ngomong, ini kamarku. Kau bisa memakai kamar mandinya. Kalau butuh baju ganti cari saja di lemari. Mungkin aku masih menyimpan baju-baju saat aku masih bocah."

"Baiklah."

Tumben sekali Rivaille tidak melotot saat ada yang menyinggung ukuran badan, topik sensitif baginya. Sepertinya ia sudah tak sabar ingin menggosok noda lengket berbau asam di kulit kakinya. Sementara anak tunggal sang pemilik rumah merebahkan tubuh di pelukan sofa, ia membuka pintu kamar mandi.

'...orang macam apa yang memasang televisi mahalebar dan konsol game di depan bathtub?'

.

.

.

.

- to be continued -

.

.

.

.

PETRA MAAFKAN DIRIKU MEMBUATMU JADI STALKER GAJELAS GITU UHUHUHUUUU /*ditebas cutter blade*

Yak makasih buat yang nyempatin diri untuk membaca dan meninggalkan ripiu chapter datar nan membosankan ini orz

Btw, kalo penasaran pengen liat rumah si Eren bisa gugel map alamatnya X'D Ato gugel aja Benjamin Mansion www lagi dijual tuh sama empunya ada yg minat?

See you at next chapter!