"Tiasche," sebuah panggilan dari suara yang sudah begitu dikenalnya membuyarkan keasyikannya membaca buku. kepala coklat itu menolah, mendapati pamannya berjalan ke arahnya.

"Tiasche, segeralah bersiap. Kita akan menjamu keluarga Celestine sore ini," jelas sang paman setibanya di hadapan sang ponakan.

"HAAAA?!" Kekagetannya tak disembunyikan. Mau apa coba mereka? Melangsungkan pertunangan sekarang?

"Tapi, Father.."

"Kami akan menunggumu di ruang keluarga, ya?" Tak menunggu kata lain dari putra semata wayang kakaknya, Fea Kreuz melangkahkan kaki keluar pertpustakaan.

Tiasche pasrah. Dengan lunglai ia melangkah menuju kamarnya. Pakaian formalnya sudah disiapkan para pelayan di atas ranjangnya. Ia tinggal berganti baju, menunggu pelayan lain masuk untuk merapikan rambutnya dan lainnya, dan menemui keluarga-entah-siapa yang akan dijodohkan dengannya.

"Tsk!" ia berdecih saat tangannya mengambil baju putih lengan panjang yang akan ia pakai. Tapi terhenti saat sebuah ide mampir ke dalam otaknya.

"Siapa juga yang mau ditunangkan, heh."

Disclaimer :

07 GHOST © Yuki Amemiya - Yukino Ichihara

This Fiction © Wen desu (^^)

このフィクションから、僕は何も貰いません。これはただの個人満足なんです。

ごゆっくり。

Warning :

Positive AU!, Shounen-Ai, MaleXMale, OOC, Mistypos, dialog dengan bahasa jepang, etc.

"Selamat datang.." sambut Fea Kreuz pada 3 tamu undangan yang baru saja menjejakkan kaki di depan istana. Senyum ramah tak lepas dari wajah lembutnya.

"Oh.. Nak Kreuz.. apa kabar?" sapa satu-satunya tamu wanita hari itu.

"Saya baik, Nyonya Celestine.. Nyonya sekeluarga terlihat sehat.." balasnya. Tawa kecil lolos dari bibir sang wanita. "Dan Tuan Mikage terlihat berubah sejak terakhir kali bertemu."

"Begitulah.. Mikage ikut kegiatan olahraga di sekolahnya. Tubuhnya jadi berotot, lho. Hahaha.." bangga sang kepala keluarga. Sang anak hanya tersenyum saja.

"Mari masuk. Yang Mulia sudah menanti," ajaknya. Kakinya melangkah memasuki istana. Tiga pasang kaki lain mengikutinya. Mereka memasuki aula istana yang luas dengan pilar-pilar mengelilingi membentuk lingkaran. Setelahnya mereka memasuki satu lorong panjang hingga terlihat sebuah pintu berdaun dua di ujung lorong.

Dua pelayan masing-masing memegang daun pintu dan mendorongnya bersamaan, membukakan jalan untuk sang penasehat kerajaan beserta ketiga tamu kehormatan. Di balik pintu itu, sebuah ruangan luas terlihat. Satu meja panjang ditata di tengah ruangan dengan taplak seputih tulang menutupi bagian atasnya. Dua keranjang kecil dengan rangkaian bunga ditata teratur di atas meja itu. Satu kursi ditempatkan di ujung meja yang berlawanan dengan pintu. Dua kursi lain di sebelah kiri dan tiga lain berada di samping kanan meja. Di tiap sudut ruangan pun terlihat vas-vas berisi bunga yang telah dirangkai sedemikian rupa.

Fea Kreuz mempersilahkan keluarga itu duduk di kursi yang tersedia. Tak lama sang tuan rumah datang. Setelan lengan panjang dan celana panjang warna coklat muda melekat di tubuhnya yang jangkung, sedangkan jubah dengan model mirip pastur menjadi luarannya. Senyum hangatnya terpampang menyambut ketiga tamu undangannya.

"Bisa kau panggilkan Tiasche, Kreuz," titahnya yang dijawab anggukan oleh sang adik. Begitu mengundurkan diri, lelaki itu kembali ke aula istana, meniti tangga lebar yang menyambung ke lantai dua. Ia kembali melewati lorong-lorong yang ia kenal baik di luar kepala.

Berhenti di satu pintu yang sudah ia hapal siapa pemiliknya, ia mengetuk.

Tiga ketukan menggema dibarengi panggilan untuk sang pemilik ruangan. Tak ada jawaban. Diulangnya sekali lagi. Masih sunyi.

"Tiasche, paman masuk, " ujarnya sebelum membuka pintu di depannya. Pandangannya mengelilingi ruangan itu saat ia masuk, tapi irisnya tak menemukan ponakannya di dalam sana. Ia memanggil kembali napa sang ponakan.

Satu pintu lain di kamar itu—kamar mandi—ia buka. Masih tak menemukan Tiasche. Bingung, ia berniat keluar hingga bertemu seorang pelayan datang tergopoh-gopoh. Pelayan itulah yang harusnya mengurus semua kebutuhan Tiasche.

"Kreuz sama, maaf... saya tidak bisa menemukan Tiasche Oujisama dimanapun," lapornya dengan wajah panik. Fea Kreuz bingung.

"Apa maksudmu?"

"Saat saya datang hendak membantu Oujisama bersiap, kamarnya kosong. Saya lalu mencoba mencari, tapi tidak ketemu."

Shock dan khawatir langsung merambati hatinya. Setengah berlari ia kembali ke lantai satu, menemui sang Raja. Ekspresi sang raja yang mendengar berita hilangnya sang anak pun tak jauh berbeda dari ekspresi si pembawa berita. Hatinya langsung bertanya-tanya kemana anak semata wayangnya dan menyesal karena secara tidak langsung memaksakan kehendaknya tentang pertunangan ini hingga membuat pangeran lari.

"Kakak.. aku akan coba berkeliling distrik 5 untuk mencarinya.." pamit Fea Kreuz pada kakaknya sekaligus ketiga tamunya.

メメメメメ

Weldeschtein Krom Raggs berjalan menuju ruang kerjanya. Ia baru saja mengantar langsung ketiga tamunya sekaligus meminta maaf atas kejadian ini. Wajahnya terlihat letih. Kekhawatiran terpancar jelas dari raut mukanya.

Lelaki itu menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang di ruangannya. Menyandarkan punggung tegapnya. Berkali-kali ia menghela napas panjang. Pasalnya, ia sudah menyuruh pengawal pribadinya untuk ikut mencari keberadaan sang putra mahkota, tapi hingga saat ini belum ada kabar baik yang ia dengar.

Pintu ruangannya diketuk. Ia mempersilahkan sang tamu masuk.

"Bagaimana Kreuz?" tanyanya pada sang adik yang baru saja duduk di hadapannya.

"Saya tidak menemukannya, kak.." katanya sedih.

"Marc dan yang lainnya juga belum memberi kabar bagus..."

Raja Raggs kembali diam. Kekhawatiran sudah memenuhi hatinya. Dan di sisi lain ia juga merasa bersalah pada anaknya hingga membuat Tiasche menghilang entah kemana.

"Seandainya aku tak memaksanya," sesal Weldeschtein.

メメメメメ

Sehari berlalu, dan belum ada kabar baik yang diterima keluarga kerajaan. Baik para pelayan yang diperintahkan untuk mencari di seluruh istana, ataupun para prajurit yang mencari di seluruh distrik 5 belum menemukan sosok pangeran mereka. Kekhawatiran sang Raja pun tak bisa lagi disembunyikan.

Kreuz yang hari itu bertugas mengantar keluarga Calestine pulang ke distrik 3, dengan berat hati berpamitan kepada sang kakak.

"Saya akan sekalian meanyakan kepada Ayanami, kalau-kalau Tiasche mendatanginya, kak.." katanya sedikit mengutkan hati sang kakak.

"Ya.. Hati-hatilah di jalan, Kreuz."

Perjalanan menuju distrik 3 memakan waktu empat hari. Badai salju yang terjadi diperbatasan Raggs menuju distrik 4 membuat mereka harus menunda perjalanan. Kemudian, ketika Fea Kreuz telah menunaikan tugasnya mengantar keluarga Calestine, ia meminta supir mobilnya untuk mengunjungi tempat kerja sepupunya, Ayanami.

Tempat yang tak jauh dari kediaman Celestine itu segera dicapainya. Setelah meminta sang supir untuk menunggu, ia masuk ke dalam cafe yang tengah ramai pengunjung itu.

Seorang gadis berpakaian maid datang menyambutnya. Rambutnya yang dipotong pendek berwarna merah terayun ke depan ketika ia membungkuk.

"Irasshaimase, Goshujin sama. Meja untuk satu orang, bukan? Silahkan kemari," sambut si pegawai.

"Maaf, nona. Saya kemari untuk bertemu dengan Ayanami," sela Kreuz.

"Ayanami san?" gadis itu sempat memperlihatkan raut wajah bingung sebelum akhirnya mengangguk.

"Kalau begitu, tunggu sebentar."

Pelayan itu mendatangi sang petugas kasir, seorang lelaki tua yang kemudian mendatangi Fea Kreuz. Lelaki itu kemudian mengantarnya ke bagian dalam cafe, menuju salah satu ruang yang diketahui sebagai ruang kerja owner Black Hawks cafe.

Pintu berdaun satu itu diketuk dua kali. Suara Ayanami yang mempersilahkan masuk tamunya terdengar. Dua pasang kaki memasuki ruangan yang tak terlalu luas itu. Setelahnya sang kasir berpamitan kembali ke depan.

"Fea Kruez.."

"Hisashiburi, Ayanami kun." sapanya Kreuz. Ia mendudukkan dirinya di sofa setelah dipersilahkan oleh sepupunya.

"Ada angin apa, kau kesini?" sifatnya yang kata orang sedingin es, tercermin dari ucapannya. Kreuz yang tidak bermaksud menyembunyikan apapun, menghela napas panjang. Wajahnya yang tadi masih terlihat penuh wibawa, kini rautnya berubah. Penuh kesedihan dan kekhawatiran.

"Tiasche.. dia pergi dari istana.." Kreuz pun menceritakan semuanya. Ia juga menyampaikan pemikirannya bahwa mungkin Tiasche mendatangi sepupunya itu.

"Dia tidak kemari," kata Ayanami singkat.

"Souka..." Fea Kreuz mulai terlihat putus asa. Sepupunyalah satu-satunya orang yang ada di luar kerajaan, dan kalau anak baptisnya itu tidak ada di tempat ini...

Aaah.. Kreuz tak tahu lagi harus mencari kemana.

"Aku akan membantu mencari. Kalau dia kesini, aku akan memberi kabar," ucapnya yang tak tega juga melihat keluarga resah.

"Terima kasih. Kalau begitu aku pamit."

Lelaki berpakaian pastor itu keluar. Ayanami sengaja mengantarnya hingga pintu depan. Setelah mengucapkan salam perpisahan, lelaki bersurai putih itu kembali ke ruangannya.

メメメメメ

"Mereka menkhawatirkanmu," Ayanami berbicara pada gadis berkuncir ponytail di hadapannya. Gadis itu hanya mampu menunduk, merasa bersalah atas apa yang sudah diperbuatnya.

"Pulanglah." kata sang paman lagi.

Gadis itu masih menunduk. Berbagai perasaan berkecamuk dalam hatinya. Ia ingin pulang, tak ingin membuat khawatir ayah dan pamannya. Namun di sisi lain, ia takut sang ayah masih akan memaksakan pertunangannya.

"Aku... akan menulis surat burung saja. Aku tetap tidak ingin pulang, sampai Otou sama mengubah keputusannya," ujar si gadis.

.

.

.

つづく…


minna san, konnichiwaa~~~

yaa... akhirnya wen bisa mengapdet fic ini lagi setelah 2 tahun.. /plak

maafkan wen yang tiba-tiba nggak dapet ide buat ngelanjutin fic ini, minna... m(_ _)m

terima kasih yang udah baca chap 1nya, yang udah ngefav, yang udah follow, dan yang udah review..

minna ni kansha suru ssu yo...

ja, kali ini pun makasih udah baca...

review, please... hehe

^wen^