Troublesome You
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: Shikamaru, Temari
Romance/Friendship; T
Canon
"Hei, bangun! Shikamaru.. Ayo bangun!" teriak Temari sambil terus mengguncang tubuh Shikamaru yang masih saja tidak bergerak. "Kenapa? Aku.. Maaf.. Maafkan aku.. Kumohon bangunlah.." air mata Temari masih belum berhenti menetes, membuat vest jounin Shikamaru semakin basah. Lama, tetapi tak ada respon dari Shikamaru, isakannya semakin menjadi. Ia kembali menangis di atas dada Shikamaru.
"Kh.. Dasar bodoh. Bisa – bisanya kau menangis di atasku seperti itu dengan kondisi es – es ini masih menancap di punggungku. Kau mau membuat lukaku semakin dalam, heh?" ucap Shikamaru yang sudah tersadar. Ia mencoba duduk, mengabaikan tubuh Temari yang berada di atasnya. Mata Temari membulat. Air mata masih menggenangi matanya, tetapi senyum bahagia telah terpasang di wajahnya.
"Shikamaru.." teriak Temari sambil menghambur memeluk Shikamaru, membuat Shikamaru kaget dan salah tingkah. "Kau bodoh! Kenapa kau tidak bangun – bangun, hah? Kau sengaja ingin membuatku cemas? Kau akan membuatku hidup dalam penyesalan dan rasa bersalah mendalam kalau kau sampai tidak bangun! Kupikir tadi.. Kupikir kau.. Ku.. Kupikir…" Temari kembali terisak. Ia tidak mampu menyelesaikan perkataannya.
"Apa? Kaupikir aku sudah mati? Kau yang bodoh. Mana mungkin aku membiarkan rekan setimku dalam bahaya! Kau tahu aku sudah pernah hampir kehilangan teman – temanku, kau tahu aku sudah kehilangan guruku. Dan sekarang, apa kau pikir aku akan membiarkan kesalahan – kesalahan itu terulang kembali?" ucap Shikamaru datar sambil meringis menahan sakit di punggungnya. Temari melepaskan pelukannya, menatap sosok yang baru saja dipeluknya itu. Shikamaru melirik Temari, sehingga mereka berdua saling menatap.
"Ada apa?" tanya Shikamaru, menyadari tatapan agak aneh yang diberikan Temari padanya. Temari hanya menggeleng. Ia membantu Shikamaru melepaskan bongkahan – bongkahan es yang menancap di punggungnya.
"Di mana musuh kita yang sebenarnya?" tanya Shikamaru setelah selesai mencabut bongkahan – bongkahan es di punggungnya.
"Aku tidak tahu. Kemungkinan besar dia berada di balik pohon atau semak - semak. Tidak ada tempat persembunyian lain di sini." jawab Temari.
POFT! Tangan yang tadi tersembul di balik semak menghilang.
"Heh.. Ternyata yang tadi hanya bunshin. Sial! Baru berhadapan dengan bunshin saja aku sudah terluka seperti ini." umpat Shikamaru.
"Kalian mencariku, heh?" tanya seseorang yang tiba – tiba muncul dari balik pohon besar. Shikamaru dan Temari menoleh ke arah sumber suara. Temari dan Shikamaru yang sudah berdiri memasang kuda – kuda dan bersiap apabila seseorang yang terlihat seperti shinobi itu menyerang mereka lagi.
"Khukhukhu… Shinobi Konoha dan shinobi Suna.. Kupikir bermain – main dengan kalian akan menyenangkan, ternyata hanya dengan bunshinku saja satu orang sudah tumbang." katanya dengan seringai lebar. Shikamaru dan Temari hanya diam, mereka tidak merespon apa yang dikatakan orang itu. "Lumayan juga, kukira tadi sudah mati." lanjutnya. Shikamaru masih terlihat tenang, tetapi Temari sudah mulai menampakkan raut tidak sabarnya. "Tidak sabar rupanya.." shinobi laki – laki itu maju beberapa langkah, membuat Shikamaru dan Temari semakin bersiaga.
"Siapa kau? Apa maumu?" akhirnya Temari mau buka suara.
"Khukhukhu.. Akhirnya kau mau buka suara juga. Siapa aku? Kurasa itu tidak penting. Aku hanyalah shinobi dari negara kecil, yang bahkan meski kusebutkan negaraku, kalian tidak akan mengetahuinya. Tetapi baiklah, aku akan memperkenalkan diriku. Namaku Samui. Dan, kita memiliki tujuan yang sama. Aku juga mencari tanaman yang juga kalian cari.." jawabnya, seringai licik masih belum lepas dari wajahnya.
"Dari mana kau tahu tujuan kita sama?" kali ini Shikamaru yang bertanya.
"Daerah ini daerah yang cukup berbahaya. Curah hujan di daerah ini lebih tinggi dari daerah lain di Amegakure. Selain itu, di daerah ini, tepatnya di lembah di bagian barat, ada tanaman yang dicari – cari semua negara. Dan ini adalah satu – satunya jalan meuju lembah itu. Tidak ada orang yang melintasi daerah ini selain untuk mencari tanaman itu, mengingat berbahayanya daerah ini. Tentu saja orang – orang tersesat adalah pengecualian. Tetapi kurasa, shinobi seperti kalian tidak termasuk orang tersesat, heh? Banyak shinobi hebat dikirim untuk mencarinya, tetapi kebanyakan gagal karena letak dari tanaman itu yang sangat tidak memungkinkan untuk diraih. Tanaman itu disebut tanaman abadi, karena sejak zaman dahulu sampai sekarang hanya ada satu buah dan ukurannya tidak pernah bertambah. Tapi sayang sekali, seperti yang kukatakan, banyak shinobi gagal mendapatkannya, dan kebanyakan pencarian mereka berakhir dengan kematian." jawab Samui panjang lebar.
"Heh, kalau kau tahu sampai sejauh itu, kenapa kau masih menginginkan tanaman itu? Asal kau tahu, kami bukan shinobi bodoh yang bisa dibohongi dengan cerita seperti itu. Lagipula penjelasanmu itu tidak menjawab pertanyaanku." ucap Shikamaru.
"Khukhukhu.. Baiklah.. Aku akan jujur pada kalian. Aku sudah menyadari keberadaan kalian sejak kalian berada di sungai. Ternyata kalian tidak peka, karena kalian tidak menyadari keberadaanku di dalam air." kata Samui. "Dan, aku tidak akan membiarkan kalian mendapatkan apa yang kalian inginkan. Tanaman itu milikku." lanjutnya.
"Cih, seenaknya saja kau bicara. Kau belum tahu dengan siapa kau bicara." kata Temari kesal.
"Khukhukhu.. Sudahlah.. Kusarankan kalian kembali saja ke desa kalian, daripada kalian mati sia – sia demi mendapatkan bunga itu." ucap Samui dengan seringai licik di wajahnya.
"Cih, bagaimana kalau kau saja yang kembali ke desamu? Kamaitachi!" Temari menggerakkan kipasnya dan mengeluarkan salah satu jurus andalannya. Angin kencang yang muncul langsung membabat habis pepohonan di hutan itu dalam radius puluhan meter, tetapi Samui yang menjadi target justru bisa bergeming. Sebuah balon yang terbuat dari air menutupi seluruh tubuhnya dan melindunginya dari angin kencang Temari.
"Jangan keras kepala begitu, Nona.. Kau masih muda dan manis, sayang sekali kalau kau harus mati. Lagipula, kau membutuhkan chakra yang besar untuk mendaki lembah, itu kalau kau berhasil selamat dan mengalahkanku. Tapi sepertinya mustahil.." ucap Samui lagi. Balon air yang tadi melindungi tubuhnya sudah hilang.
"Jangan banyak bicara! Pikirkan saja keselamatanmu dulu sebelum kau memikirkan tentang bunga itu! Kamaitachi!" Temari kembali menggerakkan kipasnya. Angin kencang kembali muncul, tetapi lagi – lagi Samui terlindungi oleh balon air yang kembali terbentuk.
"Jangan membuang – buang chakramu untuk melawanku, Nona.. Sebenarnya aku tidak berniat melawanmu dan temanmu saat ini, jadi jangan memaksaku melakukannya atau kau akan menyesal.." kata Samui.
"Pikirkan juga chakramu sebelum kau menasihatiku!" bentak Temari.
"Khukhukhu.. Sepertinya kau belum menyadari sesuatu, Nona.. Aku tidak bertarung menggunakan chakra.. Aku bertarung menggunakan air yang ada di dalam tanah. Air tidak akan ada habisnya, sementara chakra pasti ada batasnya. Karena itu, kusarankan kau untuk menyerah saja." balas Samui. "Ah, perlu kau ketahui, aku juga shinobi, sama seperti kalian, meski aku tidak menggunakan hitai ateku. Jadi, jangan pernah meremehkanku." tambahnya.
"Shikamaru! Kenapa kau diam saja? Lakukanlah sesuatu! Bukannya kau ingin misi ini cepat selesai?" tanya Temari kesal, menyadari sejak tadi hanya dirinya yang bertarung, sementara Shikamaru hanya menjadi penonton setia.
"Ck, diamlah, Temari! Aku sedang berpikir!" jawab Shikamaru. Mendengar jawaban Shikamaru, Temari terdiam. Ia merasa sedikit tenang. Ia yakin Shikamaru yang terkenal memiliki kecerdasan di atas rata – rata bisa menemukan strategi yang tepat untuk mengalahkan musuh di hadapan mereka.
"Jika musuh menggunakan air, tentu saja area pertarungan ini sangat menguntungkannya. Hutan ini banyak memiliki pohon, sehingga cadangan air dalam tanah tentu sangat besar. Kalau hanya mengndalkan ninjutsu biasa, pasti aku dan Temari akan kalah. Aku harus menyusun rencana. Ada dua cara yang bisa kugunakan, tetapi aku masih harus menentukan mana cara yang paling efektif." kata Shikamaru dalam hati. Tangan Shikamaru sudah memegang pisau chakra peninggalan Asuma dulu. "Sepertinya itu adalah cara yang paling cocok." Shikamaru menyeringai. Chakranya sudah mengaliri pisau di kedua tangannya.
"Ekspresinya.. berubah. Apakah dia sudah menemukan strategi yang tepat?" tanya Temari dalam hati.
"Hei, Temari! Kemarilah!" Shikamaru membisikkan sesuatu di telinga Temari. Setelah Shikamaru menyelesaikan kalimatnya, seringai juga muncul di wajah Temari.
"Apa yang sedang kalian rundingkan? Kalian merencanakan sesuatu, eh? Aku tidak suka diabaikan.." tanya Samui mereka.
"Tenang saja, kami tidak akan mengabaikanmu. Bersiaplah untuk kalah! Kamaitachi!" untuk kesekian kalinya Temari menggerakkan kipasnya dan menghasilkan angin yang sangat kencang. Samui yang kembali menjadi target utama hanya menyeringai. Perlahan – lahan air mulai naik membentuk balon air untuk melindungi shinobi itu, tetapi sebelum balon terbentuk sempurna, sebuah kunai melesat dari atas menuju kepala Samui, sehingga mau tidak mau ia melompat dan berpindah tempat, dan ia harus rela tubuhnya terpental cukup jauh karena angin yang diciptakan Temari.
"Kagemane no jutsu!" Shikamaru merapal jurus ketika Samui hampir mendarat di tanah. Bayangannya sudah hampir menangkap bayangan shinobi musuh ketika tiba – tiba sebuah benteng berbentuk es muncul dari dalam tanah.
"A.. Apa yang terjadi? Aku tidak bisa bergerak.." ucap Shikamaru ketika menyadari tubuhnya tidak bisa digerakkan, seperti terikat oleh suatu… jurus bayangan?
"Bagaimana rasanya terkena jurusmu sendiri, Tuan?" tanya Samui. "Harus kuakui rencana yang kau lakukan cukup berhasil. Kau pasti bukan shinobi sembarangan."
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Temari geram.
"Aku tidak melakukan apa – apa padanya. Dia sendiri yang menyebabkan dirinya terkena jurus yang dia gunakan. Asal kalian tahu saja, benteng es itu bertindak seperti cermin yang akan memantulkan jurus yang mengenainya. Dan sepertinya kau tidak akan bisa lepas dari jurusmu sendiri kecuali es itu diruntuhkan." jawab Samui.
"Heh, lihat saja apa yang bisa kulakukan dengan benteng esmu itu. Kirikiri mai no jutsu!" kali ini angin yang ditimbulkan kipas Temari semakin kencang. Pohon – pohon dalam radius beberapa kilometer tumbang terkena angin puyuh yang tercipta. Tetapi benteng es, dan tentu saja Samui sama sekali tidak terpengaruh dengan angin puyuh Temari.
"Ba.. Bagaimana bisa?" ucap Temari heran.
"Khukhukhu.. Tidak semudah itu menghancurkan benteng esku, Nona.. Angin mungkin bisa mengalahkan air, tetapi angin tidak bisa mengalahkan es.." kata Samui dengan seringai puas di wajanya.
"Temari! Larilah! Misi ini lebih penting! Kau bisa mencari bunga itu tanpa bantuanku!" teriak Shikamaru dari balik es. "Sial! Aku sama sekali tidak bisa bergerak!" umpat Shikamaru dalam hati.
Temari menunduk mendengar teriakan Shikamaru. "Bodoh!" teriak Temari.
"Apa?" mata Shikamaru agak terbelalak karena heran.
"Apa yang baru saja kau katakan, hah? Kau menyuruhku menyelesaikan misi ini tanpamu? Aku memang bisa menyelesaikan misi ini sendiri, tanpa bantuanmu sekalipun." Temari melompat, dan kini ia ada di depan benteng es yang memisahkan ia dan Shikamaru. "Tetapi, aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri menghadapi musuh menyebalkan sepertinya! Apalagi kau dalam keadaan terdesak seperti itu! Berhentilah bersikap sok keren di hadapanku, Shikamaru! Aku sudah berhutang nyawa padamu, jadi biarkan aku membayarnya.. saat ini juga!" ucap Temari penuh keyakinan, membuat mata Shikamaru membelalak mendengar ucapannya. Temari bersiap menggerakkan kipasnya lagi.
"Sudah cukup. Sejak tadi kau terus saja mengeluarkan jurusmu. Sekarang giliranku menyerang. Tenang saja, Nona, aku tidak akan menyakiti perempuan." Samui mulai merapal jutsu. "Ucapkan selamat tinggal pada anak rusa, ah, Shikamarumu.. Khukhukhu.."
"Tak akan kubiarkan kau menyentuhnya lagi! Kirikiri mai no…"
JDUAR!
"AGH!" Benteng es yang memisahkan ia dan Shikamaru runtuh. Matanya membulat sempurna, air matanya kembali mengalir menyaksikan apa yang dilihatnya di balik reruntuhan es itu. Ia melihat bongkahan – bongkahan es berujung runcing yang muncul dari dalam tanah menusuk tubuh Shikamaru. Dua bongkahan besar es berhasil menembus dada dan perut shinobi Konoha itu. Mulut Shikamaru mengeluarkan darah, dan ia ambruk ke tanah.
"Shikamaru!" Temari menghampiri Shikamaru yang tubuhnya sudah dipenuhi darah. Ia memeluk Shikamaru, mencoba mencari detak jantungnya. Tubuhnya melemas ketika merasakan detak jantung Shikamaru semakin melemah. "Jangan.. Kumohon jangan lagi.. Sudah cukup.. Bangun.. Kita.. Kita selesaikan misi ini.. Hei.. Jangan membuatku khawatir, dasar bodoh!" tangis Temari pecah. Beberapa lama ia menangis. Kebencian timbul ketika ia kembali ke alam sadarnya. Ia mengusap air matanya, dan secara tak sengaja ia menyentuh bunga yang ternodai darah Shikamaru. Tatapannya kembali sayu. "Hinganbana.. bahasa bunganya.. berarti.. tidak pernah bertemu lagi.."
"Sudah kukatakan untuk mengucapkan selamat tinggal pada anak rusamu tadi, heh?" kalimat itu lebih dari cukup untuk kembali menyulut kebencian dan amarah dalam diri Temari.
"Aku tidak akan melepaskanmu.."
To be Continued
Haiiiii :D
Chapter 2 updated! Adakah yang menunggu? Gomenasai kalau ceritanya aneh, dan bahasanya rumit.. Ah iya, Samui adalah tokoh imajinasi Author, tidak ada dalam cerita asli Naruto, baik dalam manga ataupun animenya. Dan, apa ada yang heran kenapa seorang Temari bisa mengerti bahasa bunga? Check out in next chapters!
Well, as usual..
Thanks so much for reading, and thanks so damn much for reviewing :*
