Adalah Kagami Taiga, seorang samurai kesohor yang sedang sibuk mengayunkan bokken-nya dan menghantamkannya ke sebuah sand sack yang tergantung pada sebuah pohon. Tanpa memedulikan angin yang berhembus mulai kencang ataupun dedaunan yang sesekali mampir di kimono merah tuanya, ia terus mengayunkan pedangnya. Namun seolah mengikuti kecepatan angin, ayunannya semakin cepat dan semakin cepat, hingga akhirnya sand sack itu terbelah dan menyebabkan seluruh pasir pantai yang ada di dalamnya tumpah ruah hingga ke kaki sang samurai.

Ia menunduk hormat kepada sand sack itu. Bersyukur Dewa telah mengizinkannya ada hingga ia bisa menggunakannya untuk melatih tekhnik andalannya. Tekhnik yang amat ditakuti oleh musuh bahkan yang paling kuat sekalipun, Tebasan Cakar Harimau Timur.

"Oh, inikah tekhnik menyeramkan itu?"

Taiga terkesiap. Ia menoleh ke belakang dengan posisi siaga dan pedang teracung kepada seseorang berambut hitam dan berkacamata yang tersenyum licik sambil menatapnya dengan sepasang mata sipit yang tampak mengancam.

"Mau apa kamu kemari?!" raung Taiga keras begitu menyadari logo yang tercetak di kimono orang itu.

"Tenang, tenang. Satu harimau saja sudah sulit kutangani. Sebaiknya kamu jangan membangunkan seluruh kekeluargaanmu."

"Peduli apa aku?!"

"Oh, kamu seharusnya peduli. Karena bahkan kekeluargaan samurai terhebat pun takkan bisa menghadapi empat orang penembak jitu dengan senapan berpeluru paling cepat, ya kan?"

Taiga mendecih, lalu menurunkan pedangnya.

"Nah, itu baru bagus," kata Imayoshi Shouichi, kepala dari kekeluargaan samurai yang merupakan musuh besar dari kekeluargaan samurai tempat Taiga bernaung.

"Apa maumu?" tanya Taiga dengan suara pelan, namun bernada mengancam.

"Hanya memberikan ini padamu." Shouichi lalu membuka kerah kimono-nya untuk mengambil sebuah surat sekaligus sedikit 'memamerkan' luka melintang di dadanya.

Ia menyerahkannya pada Taiga dan Taiga mengambil surat itu.

"Oh, kamu boleh membacanya. Tapi yang pasti, surat itu harus kamu serahkan pada kepala kekeluargaanmu."

Taiga membuka surat itu, lalu membacanya, ketika Souichi mengucapkan salam padanya dan menembus semak-semak untuk kembali menghilang.

"Kamu pasti bercanda," kata Taiga sebelum mengambil pedang kayunya dan sisa-sisa sand sack-nya, kemudian masuk ke rumah besar tempat kekeluargaan samurai Sērin bernaung.


"KAMU PASTI BERCANDA!" amuk kepala kekeluargaan Sērin, Hyuuga Junpei.

"Saya pun berpikir demikian," kata Taiga datar.

"Kenapa kamu tidak membangunkan kami semua?" tanya Hyuuga Riko, istri sang kepala sekaligus pengatur strategi kekeluargaan terkuat sedataran Nippon itu.

"Dia mengancam akan menembak kita semua jika saya melakukannya."

"Berapa orang yang dibawanya?" tanya Junpei.

"Empat," kata Taiga.

Junpei dan Riko terdiam sejenak, lalu sesaat kemudian keduanya sama-sama menunjukkan wajah kaget. "Siapa yang berani?!" jerit mereka berdua bersamaan.

"Mohon maaf, tapi bolehkah saya tahu apa yang salah?" tanya Taiga.

"Lima tahun lalu, kami sudah menghancurkan kekeluargaan Tōō," kata Junpei.

"Saat itu kamu belum ada di sini, Kagami-dono," kata Riko, "waktu itu, hanya dengan sepuluh orang, kami menghancurkan kekeluargaan Tōō yang semula berisi seratus orang hingga tinggal empat orang, yaitu Imayoshi Souichi yang tadi kamu temui; kini menjabat sebagai kepala kekeluargaan, Susa Yoshinori yang kini menjabat sebagai ahli strategi, dan Wakamatsu Kousuke serta Ryou Sakurai. Tapi tadi, kamu bilang bahwa Imayoshi membawa empat orang bersamanya. Berarti, Imayoshi berani merekrut satu orang lagi."

Junpei menggeleng, "Atau ada satu orang yang cukup berani untuk masuk ke sana dan memaksa Imayoshi untuk menerima kehadirannya sebagai anggota kekeluargaan."

Taiga mengernyitkan dahinya. "Maaf, tapi kenapa Hyuuga-dono terus mengatakan bahwa ia 'berani'? Kenapa dia seharusnya takut? Maksud saya, walaupun mereka sudah kalah, tapi mereka kan tetap memiliki hak untuk merekrut orang lagi," katanya heran.

Junpei menggeleng. "Tidak. Kami sudah membuat perjanjian."

"Bahwa mereka tidak akan menambah anggota kekeluargaannya apapun yang terjadi," sambung Riko, "kami membuat mereka setuju bahwa kekeluargaan mereka akan punah dengan sendirinya."

Taiga masih tidak mengerti. "Apa yang membuat Anda yakin bahwa mereka tidak akan melanggarnya?"

Junpei berdeham. "Jika kalian semua bosan dan membutuhkan hiburan, apa yang kutawarkan kepada kalian?"

Taiga berpikir sejenak. Ia ingat bahwa kepala kekeluargaannya memang memberikan mereka fasilitas untuk menghilangkan kebosanan sekaligus menyalurkan keinginan duniawi mereka. Maka ia menjawab, "Perempuan."

"Nah. Kamu boleh saja lebih menyukai Alexandra, tapi seharusnya kamu memerhatikan bahwa ada perempuan lain di barak."

Barak di kekeluargaan mereka adalah sebuah kamar sempit yang berisi sebuah kasur susun usang yang ditinggali oleh dua orang perempuan penghibur mereka. Sementara para samurai anggota kekeluargaan Sērin tidur bertiga-tiga di kamar mewah, dengan kedua Hyuuga sebagai pengecualian dan salah satu samurai senior mereka, Kiyoshi Teppei.

"Satsuki ...?"

"Ya. Dia adalah tunangan Imayoshi. Dan dia adalah sandera kami."

"Sandera?" tanya Taiga, "maaf, tapi Anda membiarkannya tidur di barak. Saya mendengar dari Tsuchida-dono, bahwa yang tidur di barak hanyalah perempuan penghibur."

"Pernahkah kamu memerhatikan, berapa banyak orang yang berani mendekatinya?" tanya Junpei lagi.

"Kalau saya tidak salah, hanya Kuroko-dono-lah satu-satunya."

Riko mengangguk.

"Kami memang menyediakan Alexandra dan Satsuki di barak, tapi sebenarnya hanya Alexandra yang boleh kalian 'gunakan'. Toh dia tidak banyak protes soal itu." Riko mengibaskan rumbai kanzashi-nya, lalu melanjutkan, "Satsuki kami datangkan kemari sebelum kamu dan Kuroko-dono bergabung dengan kami. Seluruh anggota kekeluargaan yang lain sudah mengerti bahwa Satsuki adalah sandera, maka dari itu, tidak ada yang menggunakannya. Saat kamu dan Kuroko-dono datang, kami memang tidak memberitahu kalian; karena kami melihat bahwa kamu lebih memilih Alexandra ketimbang Satsuki."

"Tapi kami mengizinkan Kuroko mendekati Satsuki, karena Satsuki sendiri merasa senang berada di dekatnya. Kami harus memastikan bahwa Satsuki tetap hidup dan sehat. Kami membiarkan Satsuki mengirim surat kepada Imayoshi sekali setahun sebagai bukti bahwa ia masih hidup. Jika Satsuki mati, kekeluargaan Tōō akan kembali menyerang kami," terang Junpei panjang lebar.

Taiga hanya mengangguk. "Jadi apa langkah kita berikutnya?"

"Riko yang akan memikirkannya. Untuk sementara ini, aku akan menyiapkan yang lainnya. Kamu bisa beristirahat.

"Tapi saya ingin membantu, Hyuuga-dono!" kata Taiga keras kepala.

"Aku tahu kamu sudah berlatih sejak pagi. Jadi beristirahatlah. Staminamu memang di atas rata-rata, tapi kesehatanmu juga penting jika kita harus menghancurkan Tōō sekali lagi. Jadi beristirahatlah dan jangan membantah!"

Taiga terdiam di tempatnya sejenak, sebelum akhirnya berdiri dari duduknya dan menunduk hormat sebelum melangkah ke kamarnya yang ia bagi dengan Kuroko Tetsuya dan Fukuda Hiroshi.


"Tadi saya mendengar Hyuuga-dono berteriak. Ada apa?" tanya Tetsuya yang sedang merapikan tumpukan futon di pojok kamar.

"Hyuuga-dono berteriak hampir setiap hari. Kenapa baru kamu ributkan hari ini?" goda Hiroshi.

Tetsuya hanya mengangkat bahu. Tetsuya memang selalu pendiam. Ia tidak begitu pandai memainkan katana. Ia lebih sering bekerja di balik layar bersama Riko, membantu memikirkan strategi, dan seringkali ialah yang berhasil mengetahui kelemahan musuh-musuh kekeluargaan Sērin.

"Imayoshi-somewhat tadi datang dan memberikan surat tantangan padaku," jawab Taiga sambil membaringkan dirinya ke futon-nya untuk mencegah Tetsuya memberesi kain empuk itu.

"Tolong gunakan bahasa Jepang. Saya tidak mengerti apa itu sa-mu-wa-tto," kata Tetsuya.

Yah, jangan salahkan Taiga. Dia memang pernah berhadapan dengan orang-orang dari Barat dan sedikit mempelajari bahasa mereka.

"Itu somewhat. Artinya 'apalah itu'."

Tetsuya hanya mengangguk.

"Gila, Imayoshi yang itu?" tanya Hiroshi. Matanya membesar dan bibirnya sedikit terbuka mengekspresikan keterkejutannya.

"Dari Tōō, ya," kata Taiga, "memangnya ada lagi?"

"Apa maksudnya menantang kita? Bukankah Hyuuga-dono sudah melarangnya untuk mengusik kita?"

"Tadi dia berkata bahwa dia membawa empat orang bersamanya, —walaupun tidak ada bukti kehadiran keempat orang tersebut; dan Hyuuga-dono menjelaskan bahwa Imayoshi telah melanggar persetujuan mereka dengan menambah anggota kekeluargaannya. Yah, sesuatu seperti itu lah ... mungkin mereka merasa dengan tambahan satu orang, mereka bisa menang."

Hiroshi tertawa meremehkan. "Lucu. Bahkan dulu ketika mereka masih memiliki seratus anggota, kami yang hanya bersepuluh mampu mengalahkannya. Apa dia sudah gila? Hanya dengan tambahan satu orang? Mau mengalahkan kita?"

Tetsuya berjalan menuju pintu kamar. Langkahnya tampak sedikit menghentak, menunjukkan kegusarannya. "Fukuda-dono, saya sarankan Anda tidak terlalu sibuk tertawa. Sejauh yang saya tahu, kekeluargaan Tōō tidak pernah mengambil keputusan gegabah. Bahkan Hyuuga Riko-dono juga mengatakan hal yang sama. Bisa jadi mereka telah menemukan seseorang yang mampu memberikan mereka kekuatan lebih." Tetsuya lalu membuka pintu kamar, kemudian berujar sebelum menutup pintu, "saya akan meminta saran dari Kiyoshi-dono."

Taiga dan Hiroshi hanya bisa saling memandang. Sejak kehadirannya, Tetsuya selalu bicara dan meminta saran dari Teppei setiap kali ia merasa gusar.