Hinata adalah putri sulung generasi utama keluarga Hyuuga yang terhormat. Ia dikenal cantik, pintar, jujur dan sangat baik hati. Sosoknya yang lembut dan rapuh hanya bisa diibaratkan oleh sekuntum bunga yang hanya ada dalam dongeng. Bunga yang paling putih, bunga yang paling bersih, bunga tanpa setitik noda pun.
Sayangnya ia yang seperti itu tidak berguna bagi keluarga Hyuuga. Yang keluarganya butuhkan bukan seorang putri salju melainkan seorang Hyuuga berjiwa keras yang pandai menari dalam dunia politik. Hinata yang bahkan tidak bisa berbohong tentu tidak cocok terlibat dalam urusan kotor. Ia dengan mudah tersisih dan posisi sebagai penerus keluarga diberikan pada adiknya yang jauh lebih cakap.
Setelah posisinya dicabut, Hinata lalu dianggap seolah tidak ada. Mereka tidak peduli apa yang mau Hinata lakukan selama itu tidak menyebabkan pencitraan buruk bagi Hyuuga. Tapi meski diperlakukan begitu, sepertinya Hinata tidak terganggu. Ia tidak keberatan menerima keputusan apa pun yang keluarganya berikan. Kadang ia pikir mungkin dirinya memang bukan Hyuuga sungguhan. Misalnya saja seperti, tidak seperti anggota keluarganya yang lain, ia memilih gaya hidup jauh dari kemewahan. Ia mengenyam pendidikan di sekolah umum dan berbaur dengan orang kebanyakan. Ia bahkan berangkat dan pulang sekolah hanya dengan sepeda model lama. Ia sangat suka berhemat dan selalu tampil sederhana.
Ia mungkin memang bukan Hyuuga, karena semua anggota keluarganya berjenis alfa dan hanya ia yang lahir bukan sebagai alfa.
Satu waktu Hinata pulang terlambat dari seolah. Kala itu langit sudah gelap dan kawasan yang ia biasa lalui sudah sepi sekali. Sebagai putri keluarga Hyuuga, Hinata tahu betul apa arti dirinya di mata lawan politik keluarganya. Bahaya selalu ingin menjangkaunya tidak peduli dari arah mana. Sambil berhati-hati dan terus berwaspada, Hinata mengayuh pedal sepedanya perlahan. Ia melaju tanpa suara dan menyusuri area pertokoan yang sudah lama ditinggalkan.
Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba saja sosok seorang asing terlempar keluar dari salah satu gang yang gelap. Dia lalu menubruk Hinata hingga gadis itu jatuh bersama sepedanya. Hinata meringis pedih karena lututnya terluka, tapi perhatiannya segera terkalihkan pada sosok yang terlempar tersebut. Orang itu terluka parah dan darah yang berceceran di atas jalanan lapis beton jelas berasal darinya.
Orang itu atau tepatnya pemuda itu lantas bangkit kembali tanpa menyadari keberadaan Hinata. Ia tidak meminta maaf dan berdiri dengan gestur 'bring it on' yang kentara. Tidak tunggu lama, lima orang yakuza turut keluar dari gang tadi. Mereka membawa bermacam senjata dan menyeringai pongah. Satu dari mereka membawa pisau yang sepertinya jadi penyebab ceceran darah itu. Ia maju duluan bertindak sebagai pemimpin di depan kawanannya.
Diterangi cahaya lampu jalan, perkelahian yang tidak seimbang dimulai. Si pemuda yang terluka melawan dengan semua daya tanpa rasa takut. Tapi tetap saja kemungkinan dia menang sangat lah kecil. Ia bahkan nyaris tampak seperti bulan-bulanan saja. Belum lagi luka yang ia tanggung membuatnya sangat kesulitan.
Hinata tahu ini tidak baik untuknya. Jika ada kesempatan lari itu adalah sekarang. Mereka sepertinya tidak peduli aksi mereka menjadi tontonan, tapi bukan berarti setelah selesai nanti mereka akan membiarkannya pergi. Hinata lekas kembali naik ke sepeda. Ia segera mengayuh cepat-cepat dan menghindar, tapi rasa kemanusiaan yang tinggi dalam dirinya menahan ia pergi. Ia tidak sanggup memalingkan muka dan ingin menolong orang yang dianiaya itu.
Tidak peduli lagi, Hinata berlari meninggalkan sepedanya terbaring di jalan. Ia mengeluarkan stun gun dari balik roknya dan menyerang orang pertama yang bisa ia raih. Sontak dengan mudah, orang yang ia serang ambruk dan pingsan seketika. Untung saja ia baru mengisi baterai benda itu hingga cukup untuk menangani empat orang yang lain.
"Jangan bergerak, le-lepaskan dia atau aku juga akan melakukan ini padamu," ancam Hinata dengan suara merdu yang tergagap. Ia berdiri dengan gagah meski sebenarnya ia gemetar ketakutan.
Dua yakuza yang masih berdiri, saling melempar lirikan mata. Mereka memperhatikan Hinata baik-baik dan melihat senjata yang ditodongkan dengan dua tangannya. Entah karena mereka takut pada Hinata atau pada senjata itu, mereka menurut dan tidak bergerak dari tempatnya.
Hinata melangkah segan-segan tanpa melonggarkan kewaspadaan. Ia meraih lengan si korban keroyokan dan menariknya. Mereka berdua kemudian pergi sambil sesekali menoleh ke belakang. Hinata juga tidak lupa menuntun sepeda kesayangannya.
Setelah cukup jauh, mereka berhenti di salah satu bangku taman. Hinata membasahi saputangannya dengan air keran dan memberikannya pada orang yang ia tolong. Orang itu tampak ragu di awal, tapi ia kemudian menerimanya dan berterima kasih.
Apa begini saja sudah cukup?
Akan jauh lebih baik jika Hinata bisa membawa orang ini ke rumah sakit, tapi ia tidak bisa melakukan itu tanpa persetujuan si orangnya. Sehabis berpikir cukup lama untuk merangkai kalimat ajakan yang tepat, Hinata akhirnya membuka mulut dan bisa mengatakan, "maukah kau menemui dokter?"
Sambil menahan lukanya di perut kanan, pemuda itu memandang lama pada Hinata dengan tatapan redup. Ia terlihat sangat lelah dan suara nafasnya masih tersengal. Dia sepertinya juga harus berpikir lama untuk menerima atau menolak bantuan dari gadis asing. Tapi kemudian dia berdiri dan meninggalkan bangku taman sambil bertanya, "dimana?"
"Bi-biar ku antar!" wajah Hinata berseri seketika. Ternyata menangani orang ini tidak sesulit yang ia pikirkan. Hinata bergegas mengambil dan menuntun sepedanya. Ia lalu menyusul orang tadi dan bersikap selayaknya menunjukkan arah. Tapi baru saja mereka meninggalkan taman, Hinata mendengar suara jatuh di belakang. Dia lantas menoleh dan melihat orang itu sudah tidak lagi berdiri di atas tanah.
Naruto by Masashi Kishimoto
Naruto Fanfic by Ammie
The Alfa, Bagian Dua
Terima kasih yang sangat pada Michhazz untuk bantuannya.
Dalam mimpinya yang panjang, Sasuke merasa ia tengah tenggelam dalam kubangan yang sangat pekat. Samar-samar ia melihat berbagai cahaya warna-warni dan puluhan orang asing yang mengelilingi dan berusaha menyentuh tubuhnya. Sasuke tidak tahu apa yang tengah terjadi. Ia tidak bisa bergerak dan tergantung di tengah panggung berwarna merah. Tidak lama kemudian, bermacam mainan muncul dan terbang berputar-putar, lalu seorang anak serupa dirinya datang dan menunjuk pada sesuatu atau sosok seseorang yang mengintip dari celah shoji. Dia menatap tajam dari balik sana dengan cara yang membuat Sasuke kembali ke dunia nyata.
Mimpi apa itu?
Sasuke mengerjapkan mata dengan wajah tegang. Ia mengatur nafasnya yang memburu dan melempar pandangan ke sekitar. Yakin ia berada di tempat yang tidak dikenali, Sasuke pun berusaha bangkit. Ia memaksa tubuhnya bangun dan merasa linu di sekujur tubuhnya yang lemas.
Dimana ini?
Sasuke meraba perut kanannya yang telah dibalut kain kasa. Sepertinya mulai sekarang akan ada bekas luka jahitan di situ. Ukuran lukanya mungkin sepanjang jari telunjuk dan mengingat akibatnya, sepertinya cukup dalam juga. Anehnya ia tidak merasa sakit yang terlalu, maka jika ia tidak salah mengira, mungkin ada zat penghilang rasa sakit yang masuk ke tubuhnya.
Apakah sekarang ia sedang berada di tempat semacam rumah sakit?
Sasuke tidak pernah menduga ada rumah sakit seperti ini sebelumnya. Ruangan ini bergaya tradisional dan ia dibaringkan di atas futon. Tidak ada jendela di sana, tapi ada masing-masing dua panel shoji di kanan dan kiri ruangan. Dindingnya berwarna hijau pucat dan lantainya di alas empat petak tatami. Di sana juga tidak ada perabotan kecuali satu meja nampan, wadah air dan dua buah gelas. Ia juga tidak melihat pakaiannya di ruangan itu kemana pun ia melempar pandangan.
Sebelum mulai mencari pakaiannya yang telah digantikan yukata abu-abu, Sasuke mengambil segelas air dan minum terlebih dahulu. Dia lalu berdiri tertatih dan mencari pintu keluar kamar ini. Tepat saat pintu di buka, kebetulan seorang pemuda sebaya Sasuke berdiri di balik pintu. Dia membawa satu nampan hidangan khas untuk orang sakit.
"Dimana kemejaku?" tanya Sasuke tidak tunggu lagi. Ia terlihat marah karena pakaiannya diganti dan di bawa tanpa izin.
"Apa kau hanya butuh kemejamu sekarang?" kata orang itu balik bertanya. Ia membuka pintu lebih lebar dan masuk dengan gaya yang santai. "Apa itu hadiah pertama dari pacarmu, Sasuke?" tanyanya lagi sambil menaruh hidangan di dekat nampan air.
Sasuke tidak terkejut mendengar namanya di sebut. Di balik ujung kemeja itu memang ada namanya yang disulamkan. Sulaman itu berwarna jingga dan sebenarnya jahitannya jelek sekali, tapi itulah jejak terakhir yang diberikan kekasihnya yang membuat pakaian itu sangat berharga bagi Sasuke.
"Mana bajuku?" tanya Sasuke ketus sambil berjalan keluar. Ia akan mencari pakaiannya dan menggeledah seluruh bangunan ini jika perlu. Tapi sebelum itu, ia tiba-tiba menyadari sesuatu dan kembali ke kamar tadi.
Astaga, Sasuke tidak salah lihat. Walau tubuhnya di dibalut haori malas dan hakama longgar, Sasuke yakin dia itu laki-laki tulen dari ujung rambutnya yang panjang hingga ke ujung kaki. Padahal seingat Sasuke, orang yang menolongnya semalam adalah seorang perempuan berseragam sekolah. Apa mungkin mereka orang yang berbeda? Tapi wajah orang ini sama dengan gadis yang semalam itu meski sifatnya jadi sedikit berbeda. Kota besar ternyata lebih menakutkan dari yang Sasuke pikirkan.
.
"Namaku Hyuuga Neji, aku keponakan pemilik rumah ini. Setelah kau habiskan makananmu, kau tidak perlu berpikir untuk membalas budi dan segera lah pergi."
Sambil makan, Sasuke mendengarkan perkataan penolongnya dengan sopan. Tanpa diminta pun nanti dia juga akan pergi. Sasuke tidak bisa meninggalkan pekerjaan siang nanti. Ia harus kembali sebelum harus mencari pekerjaan baru yang tidak mudah didapatkan.
"Aku akan pergi, setelah kau memberikan pakaianku," kata Sasuke sambil menaruh kembali alat makannya dengan rapi. "Aku juga mengucapkan terima kasih banyak atas pertolonganmu tadi malam. Jika bukan karenamu, aku tidak akan berada di sini," katanya lagi sambil kemudian menghormat.
"Hm," Neji menggumam dan mengamati beberapa saat, "kau punya tata krama yang baik dan caramu makan sangat enak dilihat. Sepertinya kau bukan orang biasa, siapa namamu? Dari mana kau berasal?"
"Namaku Katou Sasuke, aku meninggalkan kampung halaman dan belum lama berada di sini..."
Belum selesai kalimat Sasuke, tiba-tiba seorang gadis berpakaian rok terusan putih muncul dan masuk. Dia membawakan pakaian Uchiha itu yang telah bersih dan rapi. Dia sepertinya agak terkejut melihat Neji juga berada di sini. Buru-buru ia memperbaiki sikapnya dan menundukkan kepala.
"Emm... Sasuke-san? Aku sudah mencuci dan memperbaiki pakaianmu," ujarnya sambil memberikan pakaian yang dia maksud. "Ba-bagaimana keadaanmu sekarang?" lanjutnya tidak lupa menanyakan keadaan Sasuke.
Sasuke menerima pakaiannya sambil menatap Hinata dengan sorot tajam. Dia kemudian menatap dengan cara yang sama juga pada Neji. Rupanya ada yang sedang bermain punya jasa di sini. Tapi Sasuke tidak peduli dan hanya ingin segera pergi sekarang.
"Terima kasih telah menolongku," kata Sasuke sesopan mungkin pada Hinata. "Sekarang, bisakah kau dan Nii-san mu biarkan aku sendiri sebentar. Aku ingin berganti pakaian sebelum pergi."
"Ka-kau akan pergi se-sekarang?" tanya Hinata gelagapan, "tapi keadaanmu masih..."
"Dia ingin segera pulang, tidak baik terus menahannya di sini, Hinata," sanggah Neji cepat sambil keluar meninggalkan kamar dan menarik gadis itu ikut bersamanya.
Tidak cukup sampai di luar kamar, Neji menarik Hinata sampai cukup jauh meninggalkan ruangan tempat Sasuke berada. Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan lain dan Neji mulai bicara, memperingatkan adik sepupunya.
Dia bilang, "Kita tidak boleh membiarkan orang itu terus di sini, ada yang tidak beres dengannya."
Hinata tercenung, ini pertama kalinya Neji harus bicara buruk mengenai orang asing dengan cara yang tergesa semacam ini. Rasanya tentu tidak baik mengesampingkan peringatan itu begitu saja. Hinata mengangguk tanda ia akan menurut. Walau begitu ia tetap bertanya agar setidaknya ia tahu ada alasan apa hingga Neji menaruh curiga.
"Memangnya kenapa dengan orang itu?" tanyanya.
Neji hampir membuka mulut untuk menjelaskan, tapi ia mengurungkan niatnya dan memilih menggeleng singkat, "ini bukan sesuatu yang bisa kau pahami," katanya.
"Apa Nii-san mengenalnya?"
"Tidak, tapi dia punya sesuatu yang ku kenali sebagai hal yang berbahaya."
Hinata kembali mengangguk tanda ia tidak akan bertanya lagi. Mereka lalu dengan kompak keluar dari sana dan kembali ke kamar Sasuke.
Di depan pintu keluar rumah besar keluarga Hyuuga, Hinata dan kakak sepupunya melepas Sasuke pergi. Mereka saling menukar kalimat perpisahan dan Uchiha itu lalu berjalan pergi. Hinata menatap punggung kokoh Sasuke dengan raut khawatir. Meski benar tidak ingin terlibat hal buruk seperti yang sepupunya maksud, ia masih cemas tentang apa Sasuke akan baik-baik saja.
Bagaimana jika lukanya ternyata tidak sembuh? Bagaimana jika dia terlibat perkelahian lagi? Lima yakuza tempo hari itu sepertinya tidak akan bertingkah cukup sampai di situ saja.
Tanpa meminta izin Neji, Hinata berlari menyusul Sasuke. Ia memanggil nama orang itu dan membuat si Uchiha menoleh.
"A-ambillah ini," pinta Hinata sambil menyerahkan stan gun yang selalu dibawanya kemana-mana. "Ja-jangan sungkan, aku masih punya banyak."
"Aku bukan gadis yang membutuhkan hal seperti ini," tolak Sasuke .
"Tapi kau tidak pandai berkelahi."
Sasuke tidak membantah. Ia memalingkan muka dan menerima pemberian Hinata dengan terpaksa.
"Jaga dirimu baik-baik dan berhati-hatilah," pesan Hinata untuk yang terakhir kali. Ia lalu berbalik dan kembali ke rumahnya, sebaliknya Sasuke malah masih berdiri di sana dan tidak kunjung pergi. Ia sepertinya tengah sibuk memperhatikan sesuatu di kejauhan.
Bruk!
Sasuke tiba-tiba mendorong Hinata hingga gadis itu tersungkur di permukaan jalanan beton . Perbuatannya itu tentu saja memancing kemarahan Neji. Tapi sebelum sepupu Hinata datang menghajar Uchiha itu, Sasuke juga ambruk pada hitungan sedetik kemudian.
Apa yang terjadi?
Suara tembakan meletus dan menyadarkan Hinata. Ia sontak berusaha melindungi kepalanya dan melihat Neji tengah menembaki sesuatu dengan pistol yang selalu dia bawa. Setelah menyadari apa yang tengah terjadi, Hinata menoleh ke belakang dan sekali lagi melihat Sasuke terbaring tidak sadarkan diri.
