"Tak kusangka anak berambut biru itu adalah anggota hantu ke-6 bayangan!" Ujar Koganei bersemangat.
"Berisik, Koganei. Kita di perpustakaan, baka." Tegur Hyuga. Merasa lelah berdiri sekian lama, ia akhirnya menggeser bangku yang berada disebelah Riko dan duduk diatasnya, "Padahal sudah tiga bulan semenjak Kuroko gabung dengan tim basket kita. Tapi Sampai sekarang aku masih tidak bisa mempercayainya. Kalau kuperhatikan, dari tinggi dan fisiknya, ia sama sekali bukan kriteria pemain basket. Bahkan rasanya aku tidak pernah melihatnya jika aku menonton pertandingan dimana SMP Teikou bermain."
Izuki menghela nafas, "Dia memilki kemampuan langka, Hyuga. Misdirection."
Mitobe yang berdiri disamping Izuki mengangguk menyetujui.
Riko melihat ke-lima temannya termasuk Tsuchida yang sekarang berdiri di depannya, di depan meja pilihannya di perpustakaan SMA Seirin tersebut.
"Tapi…" Izuki kembali bersuara, "Bukankah ia terlihat manis?"
"HEH?!"
"KAU KENAPA, IZUKI?!" Teriak Koganei, horror.
"KUMOHON JANGAN BERTERIAK!" Terdengar teriakan keras, yang mereka ketahui betul kalau teguran barusan untuk mereka yang tentu saja dari ibu penjaga perpustakaan.
Hyuga memasang wajah terkejut, tidak percaya. "Kenapa kau berfikir seperti itu, Izuki?!" Kini Hyuga sedikit berbisik. Riko ikut memandang syok ke arah Izuki, begitu juga yang lainnya.
Izuki yang merasa tidak ada yang aneh dengan kata-katanya hanya mengangkat bahu, "Ntahlah? Aku hanya mengambil kesimpulan dari pendapatku semenjak aku pertama melihatnya."
"Seram…" Koganei berkomentar.
Izuki melihat Koganei dengan pandangan heran, "Memangnya salah jika aku mengatainya manis?"
Hyuga berdiri dan menunjuk Izuki tepat didepan muka, "Jangan bilang kalau kau menyukai satu sama La—"
Izuki menepis tangan Hyuga dengan kasar, "TIDAK, BODOH! JANGAN SALAH SANGKA!"
"SUDAH KUBILANG MOHON UNTUK TIDAK BERTERIAK!" suara wanita yang menegur kembali bergema didalam perpustakaan. Membuat yang ditegur menegang ketakutan.
Hyuga mengelus tangan kanannya, korban kekerasan Izuki, "Baiklah, baiklah…"
"Tapi menurutku, Kuroko-kun memang terlihat sangat manis." Tutur Riko.
"RI-RIKO?!/COACH?!" Teriak Hyuga, Koganei, Tsuchida berbarengan.
Mendengar itu Izuki langsung tersenyum senang karena akhirnya ada yang sependapat diantara mereka.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kuroko memasuki salah satu wc pada toilet khusus laki-laki di Seirin. Setelah menyuruh Kagami untuk bersedia menunggunya yang sepertinya akan agak lama di wc, Kuroko segera memasuki wc tersebut.
Pertama, Kuroko buang air kecil. Ya, buang air kecil. Tapi rasanya ia merasa janggal dengan salah satu bagian tubuhnya.
"Uh?"
Perlahan kedua tangan kecil pucatnya meraba kedua buah dadanya sendiri.
"Gawat…" Bisik Kuroko. Jangan sampai omongannya terdengar keluar. Bisa gawat.
Ya, Gawat. Ia merasakan kedua dadanya semakin tumbuh…besar saja. Kini ia berfikir bahwa membebat dadanya adalah bukan pilihan baik, justru berbahaya. Rasanya semakin lama semakin sesak. Gawat, benar-benar gawat. Baru 3 bulan masa SMA dan ia akan dipusingkan lagi oleh masalah penyamaran? Ayolah, Kuroko ingin mengikuti winter cup!
Dirabanya kembali kedua dadanya yang agak 'menyembul' walau sudah dibebat itu.
Dalam hati Kuroko berdo'a, "Kumohon jangan membesar…"
Sekali lagi, kalau dadanya membesar, ini gawat.
Penggunaan perban sebagai penutup dadanya selama ini tidak akan bisa bertahan lama. Apa yang harus ia lakukan?
Tak beberapa lama kemudian, Kuroko mendengar teriakan marah-marah dari Kagami yang menyuruhnya untuk cepat keluar dari wc.
.
.
.
.
.
DISGUISE
Anagata Lady Okita's Fanfiction
Kuroko no Basuke Tadatoshi Fujimaki.
OCs © Anagata Lady
AKASHI SEIJUUROU | KUROKO TETSUYA
WARN: OOC, TYPO(S), GENDER BENDER, etc..
(Disini Tinggi Kuroko 156 cm. Soalnya dia perempuan.)
FEM!KUROKO—YOU HAVE BEEN WARNED!
.
.
.
.
.
Jam menunjukan pukul 4 Sore. Kuroko berjalan sedikit gontai menuju rumahnya bersama Kagami Taiga, cahayanya yang baru. Setelah latihan basket tadi, Pemuda berambut merah tersebut memaksa untuk mengantar Kuroko sampai rumah. Namun tentu Kuroko tidak ingin itu terjadi. Ia takut setelah Kagami mengetahui rumahnya, Kagami mendatanginya kapan saja dan bisa saja disaat dia sedang memakai baju perempuan, pemuda dari Amerika tersebut akan melihatnnya. Maka Kuroko sudah berencana akan menghilang alias kabur di belokan pertigaan yang sudah terlihat dari posisisnya sekarang. Dimana ia dan Kagami berjalan.
"…Kuroko?" Kagami buka suara. Kedua matanya melirik ke arah Kuroko yang lumayan jauh lebih pendek darinya.
"Ya?" Kuroko mendongak, namun masih terus melangkah.
Kagami menggaruk bagian belakang lehernya, "Anu…itu loh. Rambutmu itu kenapa cepat sekali memanjang? Lihatlah rambutmu di kaca. Sudah memanjang sedikit."
Kuroko lantas segera meraba rambutnya bagian diatas ubun-ubun, "Benarkah?"
Kagami mengangguk.
Setelah meraba sedikit rambut birunya yang halus, Kuroko kembali melihat kedepan. Tidak ingin meneruskan pembicaraan tentang rambutnya yang memanjang lebih lanjut dengan Kagami. Di dalam hati Kuroko menggerutu. Pertama, masalah payudara miliknya. Kedua, rambutnya.
…Ia seperti baru puber saja. Dan 'puber'nya itu bisa mendatangkan masalah, yaitu membongkar identitasnya.
Dan itu adalah masalah. Rasanya Kuroko ingin menangis sekeras-kerasnya karena merasa bahwa masa SMA-nya tidak akan menjadi masa- masa yang baik. Ditambah dengan ancaman Akashi tentang menyuruhnya untuk masuk Rakuzan. Kuroko harus bersiap mendapatkan neraka kapan saja dari Akashi akibat tidak melaksanakan perintah absolute darinya.
Pertigaan semakin dekat, Kagami dan Kuroko akan segera mencapai pertigaan tersebut. Menyadari bahwa sudah dekat, Kuroko dengan misdirectionnya segera kabur. Menghilang secepat mungkin tanpa sepengatahuan Kagami.
"Rumahmu masih jauh, Kuroko?" Kagami menoleh ke arah samping kanannya, dan hilang. Kuroko telah menghilang.
"Sialan kau, Kuroko!" Tanpa sadar Kagami berteriak dan membuat anak kecil yang melewatinya menangis kencang. Mengundang tatapan maut ibunda dari sang anak mengarah tajam pada sosok Kagami yang sedang kesal.
.
.
.
.
"Hah…Hah…" Kuroko mengatur nafasnya yang berat karena sehabis berlari. Akhirnya ia telah sampai didepan gerbang besar rumahnya yang tertutup rapat. Akibat terlalu lelah sehabis berlari, tangan kiri Kuroko yang kecil itu memegang pagar besi kuat-kuat, sehingga tangan kanannya bersandar pada lututnya. Ia menunduk, benar-benar sedang berusaha mengatur nafasnya.
TIN TIN!
Kuroko menyipitkan matanya. Kini dibelakangnya terdapat sebuah mobil. Yang ia ketahui itu adalah mobil Otou-sannya.
"Suna-chan?! Kau baik-baik saja?!" Dengan cepat Kuroko Sougo keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Kuroko.
Pemilik surai bluenette tiba-tiba merasakan kedua telapak tangan besar memegang bahunya. Saat ia mendongak ia mendapati wajah Otou-sannya yang terlihat khawatir.
"Otou-san? Hah…Otousan kenapa pulang cepat?" Tanya Kuroko sambil masih dalam proses mengontrol nafasnya.
Kuroko Sougo menatap khawatir pada putri satu-satunya yang masih terlihat berusaha mengatur nafasnya. Tentu ia sangat khawatir. Mengetahui anaknya memiliki fisik yang lemah.
"Kau habis berlari? Apa kau dikejar-kejar seseorang? Kau tahu, Tou-san paling tidak suka melihatmu seperti ini. Cepat masuk kerumah. Lalu nanti ceritakan pada Tou-san dan Kaa-san apa yang sebenarnya terjadi." Ujar Kuroko Sougo berturut-turut. Benar-benar seorang Ayah yang peduli anaknya.
Kuroko merasakan nafasnya mulai teratur, "Tidak, Otou-san. Tadi aku hanya dikejar anjing." Jawab Kuroko asal dan tentu saja itu bohong. Kuroko segera membuka pagar lebar-lebar, agar bisa dimasuki mobil Otou-sannya, lalu berjalan menuju pintu berwarna putih yang merupakan pintu utama dari rumahnya yang lumayan besar tersebut. Sedangkan Tou-sannya kembali memasuki mobil sedan hitamnya dan segera memasukkan mobilnya kedalam halaman rumah dan memarkirkannya dengan rapi di bagasi.
Sebelum tangan kanan Kuroko menyentuh gagang pintu rumahnya, tiba-tiba pintu terbuka dan Kuroko langsung merasakan pelukan erat pada tubuhnya.
"Suna-chan~ kau pulang juga…" Seorang wanita yang memiliki warna rambut senada dengan Kuroko serta dengan iris dan warna kulit yang sama warna pula, memeluk erat putri kesayangannya alias Kuroko Tetsuna. Sedangkan yang dipeluk menghela nafas. Barusan itu pernyataan macam apa? Seperti Kuroko sudah tidak pulang selama bertahun-tahun saja.
Lama-kelamaan Kuroko merasakan pelukan Okaa-sannya semakin menguat, membuatnya kembali sulit bernafas, "Le-lepas, Okaa-san..."
"Oh!" Dengan cepat Kuroko Kagura melepaskan pelukan mautnya dari putri tercintanya, lalu memandang Putrinya lekat-lekat, lalu beralih kearah suaminya yang kini telah berdiri dibelakang Kuroko.
"Sou-kun?! Kau pulang cepat?"
Pria dewasa bersurai hitam dengan kedua iris berwarna hazel mengangguk pelan, " Ya, banyak rapat yang ditunda oleh beberapa klien."
"Ohya, Tadaima, Okaa-san." Kuroko tersenyum.
"Tadaima." Diikuti oleh Sougo.
"Okaeri~" Jawab Kagura dengan senyum mengembang dibibir pink-nya.
.
.
.
.
Setelah mandi dan mengganti pakaian dengan baju santai, Kuroko melangkahkan kakinya keluar kamar dan segera turun kelantai satu. Berniat mengikuti acara makan malam dengan Okaa-san dan Otou-sannya.
Baru Kuroko menampakkan batang hidungnya di ambang ruang makan, Kuroko Kagura memasang ekspresi cemberut. Melihat itu, Kuroko bertanya-tanya.
"Ada yang salah denganku, Okaa-san?" Tanya Kuroko sambil berjalan mendekati salah satu kursi kosong yang berada diseberang kursi yang diduduki Otou-sannya. Kini Otou-sannya itu sibuk sesekali menyeruput kopi hangatnya sambil menatap fokus pada iPad ditangan kirinya.
Kuroko Kagura mengambilkan beberapa sendok nasi dan meletakkannya pada piring Kuroko.
"Okaa-san masih risih melihatmu dengan rambut pendek seperti itu. Bayangkan, kau kini memakai celana pendek selutut dan kaus yang lumayan longgar. Kalau rambutmu sedikit panjang, kau pasti akan terlihat lucu dan manis sekali, Suna-chan. Tapi dengan rambutmu yang seperti laki-laki itu rasanya…" Kagura menggantungkan kalimatnya, tidak ada niatan untuk membereskan ucapannya. Lalu ia mengambil beberapa lauk juga untuk Kuroko.
Kuroko tidak menjawab. Ini bukan pertama kalinya Okaa-sannya berkata demikian kepada dirinya, mungkin ini sudah yang kesekian puluh kalinya. Dan biasanya Kuroko tidak meresponnya. Seperti tidak mendengar apa-apa.
Namun tiba-tiba Kagura tersenyum senang, "Tapi sebentar lagi, Suna-chan tidak perlu mendegar Okaa-san berkata seperti ini lagi."
"Eh?" Kuroko menatap heran pada Okaa-sannya.
"Baguslah kalau begitu, Okaa-san. Okaa-san memang seharusnya tidak banyak protes pada model rambutku ini." Ujar Kuroko kalem sambil mengambil potongan brokoli dengan sumpit dan memakannya pelan.
"Maksudku bukan itu, Suna-chan. Ah, sekarang adalah saatnya aku menceritakan yang sebenarnya padamu." Ujar Kagura. Ia menggeser sedikit kursinya dan mendekat kearah Kuroko. Namun Kuroko tidak mempedulikannya dan melanjutkan makan.
Sougo menghela nafas sebentar, "Ceritakan padanya dengan perlahan, Kagura. Jangan terlalu beruntut dan langsung ke-intinya sehingga membuatnya kaget. Bahkan sampai membuat Suna-chan pingsan."
"Hah?" Tanya Kuroko bingung.
Kagura mengibas-ngibaskan tangan kirinya, "Abaikan Otou-sanmu, Suna-chan. Dengarkan aku dulu."
Jeda sejenak sebelum Kagura kembali melanjutkan, "Besok kau akan masuk SMA Rakuzan."
"UHUK!" Kuroko terbatuk. Untunglah ia sedang tidak mengunyah. Kalau iya, bisa dipastikan beberapa butir nasi akan meloncat keluar dari mulut kecilnya. Namun tetap saja ia tersedak. Kuroko memukul dadanya, tiba-tiba dadanya terasa sakit.
Sougo segera meletakkan iPadnya diatas meja makan dan segera beranjak berpindah mendekati putri kesayangannya, "Kagura! Sudah kubilang jangan langsung bicara ke inti!" Tangan kiri Sougo sibuk mengelus-ngelus punggung Kuroko. Sedangkan Kuroko masih sibuk terbatuk.
Seperti tidak mendengar perkataan suaminya, ia kembali melanjutkan, "Tentu sebagai perempuan. Bukan laki-laki."
"UHUK! UHUK!" Batuk Kuroko semakin keras terdengar. Kuroko merasakan air mata berkumpul di pelupuk matanya. Rasa tersedaknya semakin menjadi.
"Dan kau akan bertunangan dengan Akashi Seijuu—"
Sebelum Kagura melanjutkan kata-katanya, Kuroko sudah jatuh pingsan pada dekapan Otou-sannya.
Kagura dan Sougo membelalakan kedua mata mereka, "SUNA-CHAN?!"
.
.
.
.
TBC
Review Kudasai?^^
