Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto dan Harry Potter milik J.K. Rowling
Warning : OOC, Gaje, Humor Garing (if not strange), Typo(s), dll
"Aku mendapatkan ini tadi pagi. Seekor burung hantu masuk melalui 'jendela' tenda dengan gulungan dikakinya. Gulungan itu adalah surat permintaan untuk meminta bantuan Konoha." Tsunade memulai. "Pengirim surat itu meminta Konoha untuk mengikuti sebuah turnamen ditempat mereka. Yang berhasil memenangkan turnamen akan mendapatkan hadiah yang sangat besar."
Kakashi menaikkan alisnya, "Sangat aneh kalau ada yang mengadakan turnamen setelah perang berakhir. Bukankah seharusnya prioritas utama adalah pemulihan wilayah?" Kakashi mengeluarkan pendapatnya.
"Kusarankan kalian membaca suratnya terlebih dahulu." Ia menyerahkan gulungan itu pada Kakashi yang duduk disampingnya.
"Ngomong-ngomong siapa pengirimnya?" tanya Naruto.
"Albus Dumbledore."
"Namanya aneh sekali," komentar Naruto.
"Dia tidak berasal dari sini, Naruto. Dia bahkan tidak berasal dari Negeri Elemental."
. . . . .
"Haaa?!" teriak Naruto tidak percaya. Yang lain memandang Tsunade dengan alis terangkat.
"Bukankah Negeri Elemental tertutup dari dunia luar? Bagaiman ia bisa tahu keberadaan Negeri Elemental, bahkan Konoha?"
"Memang benar, Rikudo Sennin telah memasang barrier untuk memisahkan kita dari dunia luar. Diperlukan teknik yang hebat untuk dapat mengontak kita. Tapi kuberitahu satu hal, bukan kita satu-satunya yang dapat menggunakan chakra."
Penjelasan Tsunade lagi-lagi membuat mereka terkejut.
"Kalian tentu tahu Rikudo Sennin, dewa yang menciptakan dunia shinobi, bukan?"
Semua orang mengangguk mengiyakan.
"Dahulu, Rikudo Sennin berkeliling dunia mengajarkan ninshuu pada orang-orang. Tujuannya adalah untuk menghubungkan energi spiritual antar sesama manusia agar mereka dapat memahami perasaan mereka satu sama lain. Ia berharap agar ninshuu digunakan untuk menuntun manusia ke era yang lebih baik dan damai. Namun, ninshuu yang diajarkannya tidak digunakan untuk menyatukan hati manusia, namun untuk menyatukan energi spiritual dan energi fisik yang sekarang kita kenal sebagai chakra dan mengubahnya menjadi ninjutsu. Pada akhirnya mereka mengunakan chakra untuk berperang, seperti yang dilakukan ibunya, Putri Kaguya. Rikudo Sannin tidak ingin penyalahgunaan chakra menyebar lebih luas, jadi dia memutuskan untuk memisahkan Negeri Elemental dari dunia luar," terang Tsunade.
Penjelasan Tsunade membuat mereka termenung selama beberapa waktu. Mereka butuh waktu untuk mencerna kenyataan yang selama ini tidak pernah terpikirkan dibenak mereka. "Darimana anda tahu semua ini, Tsunade-sama?" tanya Shikamaru dengan nada serius.
"Sensei memberitahuku setelah Perang Dunia Shinobi Pertama berakhir, ketika ia baru saja dilantik menjadi Hokage. Dia mengetahui semua itu setelah ia keluar dari barrier."
"Tidak mungkin!" Kurama yang ikut mendengarkan Tsunade juga ikut terkejut. "Tidak ada yang bisa menembus barrier Rikudo Sennin, bahkan bijuu sekalipun."
Naruto mengerutkan keningnya mendengar pernyataan Kurama, namun tidak berkomentar apa-apa.
"Secara tidak sengaja ia terlempar dari Negeri Elemental dan mendarat di suatu tempat bernama Inggris. Dia bertemu seseorang yang dapat memanipulasi chakra, namun agak berbeda. Orang itulah yang tidak sengaja memanggil Sensei ke dunia luar. Orang itu menyebutnya energi yang dimilikinya dengan sihir, dan orang yang dapat menggunakan sihir disebut penyihir. Tidak seperti kita yang dapat menggunakan chakra dengan segel tangan, penyihir membutuhkan tongkat sihir agar dapat dengan leluasa memanipulasi sihir.
"Selama di Inggris, Sensei mempelajari tentang sihir dibantu oleh penyihir yang ditemuinya pertama kali. Mereka saling bertukar pengetahuan mengenai shinobi dan penyihir. Sensei terkejut karena disana terdapat legenda mengenai Rikudo Sennin, meskipun tidak begitu terkenal seperti disini. Selama beberapa bulan penelitian, mereka akhirnya menemukan cara untuk mengembalikan Sensei ke Negeri Elemental. Sensei sempat menuliskan pengalamannya di dunia luar, namun aku tidak tahu dimana ia menyimpannya. Apalagi setelah perang ini, banyak sekali buku-buku dan gulungan di Konoha yang ikut hancur," jelas Tsunade panjang lebar.
Semua yang ada diruang itu mendengarkan penjelasan Tsunade dengan seksama, termasuk Kurama.
"Penyihir itu pasti sangat hebat," gumam Naruto takjub.
"Jadi bagaimana menurut kalian tentang surat itu?" lanjut Tsunade sambil menatap ketiga orang didepannya dengan serius.
"Eh, tunggu dulu. Aku belum membacanya," protes Naruto.
"Bukankah kau sudah memegang surat itu dari tadi?" tanya Shikamaru jengkel.
"Hehehe, mendengar cerita Nenek Tsunade, aku jadi tidak bisa konsentrasi membaca."
"Cepat baca surat itu, Naruto. Kita akan membahasnya bersama nanti."
Naruto mulai membaca surat didalam gulungan itu. Huruf-hurufnya kurus dan ditulis dengan tinta hijau.
Kepada Senju Tsunade
Hokage Konohagakure no Sato
Perkenalkan, saya Albus Dumbledore, Kepala Sekolah Sihir Hogwarts. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu dengan seseorang yang berasal dari tempat anda karena kecelakaan yang disebabkan oleh saya. Orang itu bernama Sarutobi Hiruzen. Selama beberapa waktu kami bekerjasama untuk menemukan cara untuk mengembalikan Sarutobi kembali ke tempat asalnya. Selama waktu itu, kami juga membicarakan banyak hal. Dalam perbincangan kami, saya merasa tertarik dengan Negeri Elemental dan chakra yang kalian gunakan. Untuk itu, saya bermaksud mengundang Anda untuk mengikuti turnamen yang diadakan di sekolah kami untuk memperkenalkan Negeri Elemental pada komunitas kami.
Turnamen Triwizard akan diadakan pada bulan Oktober di Hogwarts dan berlangsung selama satu tahun. Turnamen akan diikuti tiga sekolah sihir; yaitu Hogwarts, Durmstrang dan Beauxbatons.
Pada tahun ini, kami bermaksud untuk mengikutsertakan perwakilan Negeri Elemental, yaitu Konoha untuk mengikuti turnamen. Kami memilih Konoha karena Konoha adalah satu-satunya desa yang dapat kami hubungi, mengingat Sarutobi berasal dari desa ini. Menteri Sihir Inggris sebagai Pemimpin Tertinggi Komunitas Sihir Inggris, Cornelius Fudge telah bertemu Daimyo Negara Api dan telah meminta izin atas keikutsertaan Konoha dalam turnamen.
Kami sangat mengharapkan kerjasama dari Anda, mengingat ini adalah ajang untuk memperkenalkan Negeri Elemental pada komunitas sihir dan sebagai langkah awal untuk membangun kerjasama dan persahabatan antara penyihir dan shinobi.
Tertanda,
Albus Dumbledore
Order of Merlin Kelas Satu
"Bagaimana?" tanya Tsunade kepada Naruto.
"Jadi, dia adalah penyihir yang ditemui Kakek Hokage?"
Tsunade mengangguk mengiyakan. Naruto menghela nafas, "Ini semua terlalu tiba-tiba. Dan juga banyak bagian yang janggal dan tidak aku mengerti. Aku tidak tahu harus memulai darimana."
"Tsunade-sama, apa yang Anda tahu tentang Albus Dumbledore?" tanya Kakashi.
"Sensei tidak bercerita banyak mengenai orang itu. Tapi aku bisa mengatakan bahwa dia adalah orang yang memiliki pandangan dan keinginan yang sama seperti Sensei. Sensei juga pernah mengatakan bahwa ia ingin suatu hari penyihir dan shinobi dapat bertemu dan bekerjasama."
"Jika demikian berarti Kakek Hokage terlibat dalam hal ini. Turnamen itu adalah bukti kesungguhan mereka untuk menyatukan penyihir dan shinobi." Naruto menyimpulkan.
Shikamaru mulai merasa ada sesuatu yang ganjil. "Tapi bukankah Sandaime-sama sudah lama meninggal? Kenapa Albus-san baru menghubungi kita sekarang?"
Semua orang terdiam memikirkan pertanyaan Shikamaru, sebelum akhirnya Kakashi menyuarakan pendapatnya, "Karena ia tahu perang akan datang. Dia menunggu perang berakhir dan kemudian menghubungi kita." Jawaban Kakashi yang mengejutkan membuat semua orang mengalihkan pandangannya kepada Kakashi. Dari tatapan mereka Kakashi tahu bahwa mereka menuntut penjelasan lebih darinya.
Kakashi menghela nafas, "Tsunade-sama mengatakan bahwa Sandaime Hokage dan Albus-san adalah orang yang memiliki idealitas yang sama. Itu artinya cara berpikir mereka juga tidak jauh berbeda. Sandaime-sama adalah orang yang selalu berpikir kedepan. Beliau dan Albus-san pasti sudah memikirkan barbagai kemungkinan mengenai kejadian di masa depan. Mereka membuat beberapa skenario jika ada hal yang bisa mengagalkan usaha mereka untuk menyatukan shinobi dan penyihir. Aku yakin, setelah pertemuan mereka di Inggris, Sandaime-sama dan Albus-san pasti masih tetap berkomunikasi. Dengan bantuan Sandaime-sama, akan lebih mudah bagi Dumbledore untuk memantau perkembangan disini. Namun setelah kematian Sandaime-sama, akan sulit bagi Albus-san untuk melanjutkan aksinya. Puncaknya adalah pecahnya perang dunia ke-empat, dimana ia tidak bisa lagi melihat kondisi Negeri Elemental," jelas Kakashi.
"Dan dia kemudian menunggu sampai perang berakhir untuk kembali mengintai kita."
"Yah, tepatnya menunggu alasan agar ia dapat mengontak Konoha."
Naruto mengernyit, "Undangan Turnamen Triwizard," katanya pelan. Yang lain mengangguk menyetujui.
"Tapi bukankah seharusnya dia tahu kalau aku bukan lagi Hokage? Yah, meskipun Naruto baru empat bulan menjabat sih, tapi tetap saja," kata Tsunade heran. Di dunia shinobi, informasi sangatlah penting dan tidak boleh dilewatkan sedikitpun. Karena itulah, informasi dapat diperjual belikan. Banyak shinobi kelas S memiliki jaringan mata-matanya sendiri, seperti Jiraiya dan Sasori. Dengan kontak yang mereka miliki di hampir setiap desa dan kota di Negeri Elemental, informasi sekecil apapun tak bisa lepas dari telinga mereka.
"Aku rasa itu bisa dimaklumi. Dia hanyalah penduduk sipil, dia tidak memiliki keahlian untuk mengumpulkan informasi seperti shinobi. Lagipula, di Negeri Elemental pun aku yakin belum banyak yang mengetahui mengenai Hokage baru kita," kata Shikamaru sambil melirik pada Naruto.
Kakashi kemudian ikut menambahkan, "Itu benar. Selain itu, mengirimkan kontak pada masa perang akan sangat beresiko, karena pada masa itu setiap negara akan meningkatkan kewaspadaanya pada mata-mata. Mungkin dia mengirimkan kontak hanya untuk melihat situasi saja, sehingga begitu perang sudah selesai dia bisa langsung menghubungi Konoha," Kakashi berpendapat.
"Aku setuju dengan Kakashi-sensei. Kurasa kontak yang ia kirimkan selama waktu perang adalah semacam pengamat, karena tidak terlalu menimbulkan kecurigaan." Shikamaru menambahkan.
"Apa maksudmu?" tanya Naruto yang masih belum mengerti.
"Maksudku komunikasi satu arah. Dumbledore menggunakan alat atau benda atau apapun yang bisa melihat situasi disini, namun tidak bisa membuat kontak atau komunikasi antar dua tempat."
"Tapi jika dia memang benar-benar mempunyai alat seperti itu, dia sudah cukup hebat. Kemampuan itu hampir sama seperti kemampuan klan Aburame dengan menggunakan kikaichu milik mereka."
"Bicara tentang alat aneh, aku jadi teringat dengan bola kristal milik Sensei yang biasa digunakan beliau untuk mengawasi orang-orang tertentu tanpa diketahui orang tersebut," ujar Tsunade setelah lama terdiam.
Mata Kakashi melebar begitu mendengar pernyataan Tsunade. Dulu ia sering melihat Sandaime menggunakan bola kristal itu untuk melihat dan mengawasi Naruto, mengingat anak itu cenderung menjadi magnet masalah. "Dimana bola kristal itu sekarang, Tsunade-sama?" tanya Kakashi dengan nada serius.
"Aku tidak tahu pasti. Sensei dulu biasa memajang benda itu di mejanya. Ketika aku menjadi Hokage, aku meminta Shizune untuk memindahkan benda itu. Bola kaca itu tidak berguna untukku, karena aku tidak bisa menggunakannya. Tapi, karena itu adalah artifak milik Hokage, jadi kurasa Shizune menyimpan benda itu disekitar kantor Hokage. Apa menurutmu bola itu adalah alat milik Dumbledore yang kau maksud, Kakashi?"
"Saya sembilan puluh persen yakin, benda itulah yang memungkinkan Dumbledore untuk mengetahui kondisi disini. Saya selalu merasa aneh setiap kali Sandaime-sama menggunakan benda itu, karena saya sama sekali tidak merasakan adanya chakra yang digunakan. Meskipun saya tidak menggunakan sharingan, namun saya bisa merasakan adanya energi lain yang keluar setiap kali Sandaime-sama menggunakannya."
Dahi Shikamaru mengernyit mendengar pendapat Kakashi. Dia sendiri memang belum pernah melihat benda misterius yang sedang mereka bicarakan, namun dari apa yang dijelaskan Kakashi, semuanya memang cocok. Energi aneh yang dibicarakan Kakashi pastilah manifestasi lain dari ninshu, yaitu sihir. Jika begitu, alat itu pasti diberikan oleh Dumbledore kepada Sandaime. Dan mengingat julukan Sandaime yaitu Sang Profesor, pasti beliau juga pasti belajar satu atau dua trik sihir semasa kunjungannya di Inggris. Itu menjelaskan kenapa Godaime tidak bisa menggunakannya, karena wanita itu tidak bisa menggunakan sihir.
Shikamaru juga setuju dengan pendapat Kakashi sebelumnya yang menyebutkan bahwa Sandaime dan Dumbledore masih saling berkomunikasi. Dengan menggunakan bola kristal itu, mereka berdua pasti bisa saling berbagi informasi mengenai Negeri Elemental dan Dunia Sihir.
"Kurasa semuanya sudah mulai jelas. Dumbledore menggunakan bola kristal milik Sandaime untuk memata-matai Konoha. Sekarang yang menjadi pertanyaan: Dimana kita bisa menemukan benda itu? Menara Hokage hancur setelah penyerangan Pain ke Konoha dan banyak sekali barang-barang di dalamnya yang ikut hancur atau terbakar. Kecil kemungkinan kita bisa menemukan benda itu lagi." Semuanya diam setelah mendengar perkataan Shikamaru.
"Aku akan memerintahkan beberapa ANBU untuk menyelidiki hal ini. Seharusnya benda itu masih ada disuatu tempat . . ." ucap Naruto lambat-lambat. Di saat yang bersamaan, seorang ANBU bertopeng elang muncul di belakang Naruto. Semua orang di dalam tenda tanpa sadar meningkatkan kewaspadaan mereka.
"Ada apa?" tanya Naruto serius.
"Ada kiriman surat dari Daimyo-sama untuk anda, Hokage-sama," ketegangan langsung mencair begitu mereka mendengar jawaban tersebut.
Naruto segera mengambil surat tersebut dan memberi kode pada ANBU untuk keluar. Perlahan Naruto membuka gulungan dan membacanya. Air mukanya semakin serius ketika ia selesai membaca surat tersebut.
Tsunade, Kakashi, dan Shikamaru memandang Naruto dengan intens, bersiap mendengar kabar dari Daimyo.
"Daimyo menyetujui Konoha mengikuti turnamen di Hogwarts. Ia mengatakan bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk menjalin kerjasama dengan negara lain di luar Negeri Elemental. Karena keadaan kita saat ini sedang terpuruk, bantuan dari mereka akan sangat dibutuhkan. Apabila diajang ini Konoha dapat memberi kesan yang bagus pada komunitas sihir, kemungkinan kerjasama internasional akan terbentuk. Dengan begitu kita dapat menyewakan shinobi kita pada komunitas sihir yang tentu saja akan meningkatkan devisa negara. Dengan meningkatnya perekonomian, pemulihan negara akan selesai lebih cepat. Selain itu, beliau berpendapat mungkin kita bisa mempelajari kehidupan mereka yang 'damai' dan menerapkannya di sini. Dan jika kita dapat menggunakan chakra, maka kemungkinan kita juga dapat menggunakan sihir karena pada dasarnya chakra dan sihir berasal dari ajaran yang sama, yaitu ninshuu. Sihir dalam beberapa hal memiliki keuntungan untuk memudahkan kehidupan kita, karena tidak seperti chakra yang cenderung kita gunakan untuk keperluan berperang, sihir dapat digunakan untuk hampir segala hal." jelas Naruto. Ia kemudian memandang tiga orang didepannya. "Bagaimana menurut kalian?"
Shikamaru yang pertama menyuarakan pendapatnya, "Sebagai kepala sekolah, Albus Dumbledore terlalu berpengaruh dalam dunia sihir di Inggris. Dia bahkan ikut serta dalam diplomasi dengan Daimyo."
"Itu karena dia adalah salah satu penyihir hebat disana. Memanggil Sandaime Hokage keluar dari barrier dan memulangkannya kembali bukanlah perkara yang mudah," Kakashi menanggapi.
Shikamaru mengernyit, terlihat tidak yakin, "Mungkin kau benar," katanya lambat-lambat.
"Kita kembali ke permasalahan utama; Apakah kita harus menyetujui tawaran mereka?" Naruto mencoba meluruskan diskusi mereka.
"Jika itu adalah turnamen internasional, dapat dipastikan banyak penyihir yang datang melihatnya. Keikutsertaan Konoha juga pasti akan menarik perhatian mereka, karena kemampuan kita yang berbeda dari penyihir. Selama kita tidak membuat masalah disana, kerjasama menguntungkan dengan penyihir dapat terbentuk." Kakashi memberi pendapat.
"Aku setuju. Untuk ukuran ajang internasional, pasti hadiah yang disediakan sangat besar. Lumayan untuk kita jadikan devisa sementara. Bukankah saat ini ekonomi kita belum berjalan, Naruto?" Tsunade menyetujui usul Kakashi.
"Memang benar. Tapi aku merasa ada yang aneh dengan kepala sekolah itu. Aku tidak tahu apa, tapi instingku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan orang itu." Naruto kemudian memejamkan matanya, mencoba berpikir. Yang lain juga mulai memikirkan perkataan Naruto.
"Aku setuju denganmu, Naruto," ujar Kurama yang juga merasa aneh dengan kejadian tiba-tiba ini. "Bagaimana kalau kau mengundang orang ini langsung ke Konoha? mungkin dengan berbicara langsung dengannya kita dapat mengetahui apa yang salah dengan orang itu."
'Ide bagus, Kurama.' ucap Naruto didalam mindscape-nya sembari mengacungkan jempol pada Kurama.
Naruto kemudian membuka matanya, membuat semua perhatian teralih padanya. "Kurama juga setuju denganku. Kurasa mengundang Albus Dumbledore ke Konoha adalah ide yang bagus. Dengan begitu mungkin kita akan tahu apa yang dia sembunyikan. Tapi kurasa, akan lebih baik jika dia menganggap Tsunade masih menjadi Hokage," usul Naruto.
Pandangan semua orang langsung tertuju pada Naruto. Raut muka mereka seolah mengatakan 'Apa maksudmu?'. Naruto mengangkat bahu, "Hanya berjaga-jaga. Aku tidak percaya pada orang itu."
"Baiklah. Aku akan segera kirim surat balasan ke Dumbledore. Aku akan bernegosiasi dengannya. Dan kalian berdua," Tsunade memandang Naruto dan Shikamaru, "ikut aku menemuinya. Aku akan mengatur pertemuannya besok lusa di Menara Hokage."
"Dimengerti."
Dua hari kemudian, di Menara Hokage
Tsunade memandang dengan takjub pria tua dihadapannya. Jubah birunya yang bermotif bulan bintang menutupi seluruh tubuhnya yang kurus. Topi kerucutnya menjulang tinggi hampir mencapai langit-langit ruangan. Jenggotnya yang keperakan menjuntai hingga ke lutut. Mata biru elektrik yang terlindungi oleh kacamata bulan separonya memandang dengan tertarik semua yang disekitarnya.
Dibelakangnya Naruto dan Shikamaru juga tak kalah takjubnya. Mata Shikamaru melebar melihat seseorang yang penampilannya lebih eksentrik dari duo go green Konoha. Sementara Naruto tidak bisa menutup mulutnya begitu ia melihat Dumbledore.
"Ah, senang akhirnya bisa ke Konoha." Kata Dumbledore memandang Tsunade, matanya berkerlip tertarik.
Tsunade segera memperbaiki sikapnya, "Terimakasih atas kunjungan Anda, Dumbledore-san. Saya senang bisa menemui anda secara langsung. Maaf atas penyambutan kami yang kurang nyaman, kami baru saja keluar dari masa-masa sulit. Dan sekarang kami sedang berusaha memulihkan kembali Konoha kembali ke masa-masa jayanya." Tsunade mengeluarkan sikap profesionalnya. Naruto dan Shikamaru hanya memutar bola mata mereka.
'Mendengar Nenek bicara seperti itu membuatku merinding,' batin Naruto.
"Saya bisa melihat itu, Hokage-sama. Saya yakin itu pasti tidak akan lama lagi." Matanya kembali menyapu seisi ruangan. Ia terlihat sedikit bingung dengan kehadiran Naruto dan Shikamaru, namun tidak mengatakan apa-apa. Sementara Dumbledore memandangnya, Naruto merasa penyihir eksentrik itu memandangnya seper sepuluh detik lebih lama dari Shikamaru.
"Saya berharap Anda tidak keberatan dengan kehadiran mereka. Mereka adalah orang-orang kepercayaanku." Tsunade memberi isyarat kepada Shikamaru dan Naruto.
"Tentu saja tidak, Hokage-sama." Dumbledore kembali memandang Naruto dan Shikamaru dengan tertarik. "Kalau boleh saya tahu, apakah mereka yang akan mengikuti turnamen nanti?"
"Tentang turnamen itu," Tsunade memotong tajam, "kami masih belum memutuskan tentang keikutsertaan Konoha."
Dumbledore manaikkan alis. "Kami ingin memastikan beberapa hal sebelum kami memutuskan," lanjut Tsunade.
Dumbledore tampak bingung, namun wajahnya kembali cerah sedetik kemudian. "Ah, saya akan dengan senang hati membantu Anda, Hokage-sama."
"Pertama, bisakah Anda ceritakan tentang Turnamen ini secara lebih mendetail?"
"Tentu saja." Dumbledore mengangguk menyanggupi. "Seperti yang sudah Anda ketahui, Turnamen Triwizard adalah turnamen bagi para pelajar tiga sekolah sihir yaitu Hogwarts, Durmstrang dan Beauxbatons untuk mempererat persahabatan antar pelajar. Turnamen ini pertama kali diadakan tujuh ratus tahun yang lalu dan diadakan setiap lima tahun sekali. Selama lebih dari seratus tahun, turnamen ini dihentikan karena jumlah kematian yang meningkat. Namun tahun ini kami berhasil mengadakan turnamen bersejarah ini kembali dan mengubah aturannya untuk memastikan tidak akan terjadi kematian lagi.
"Tiap sekolah akan mengirimkan sepuluh murid pilihannya untuk mengikuti seleksi untuk menjadi wakil sekolah. Sesuai dengan peraturan yang baru, peserta turnamen harus berusia lebih dari tujuh belas tahun. Penyeleksian peserta akan dilakukan oleh juri yang tidak memihak, yaitu Piala Api. Tiap-tiap perwakilan kemudian akan menghadapi tiga tantangan dan pemenang turnamen ini akan mendapatkan hadiah sebesar seribu Galleon. Saya tidak tahu seberapa besar nilai Galleon di Konoha, tapi Galleon kami terbuat dari emas murni."
"APAAA?!"
"Berisik, bocah!" bentak Tsunade sambil memegangi telinganya yang berdengung akibat teriakan cempreng Naruto. Sementara Dumbledore hanya tersenyum.
Tsunade memandang Dumbledore dengan mata berkilat. "Saya mulai tertarik, Dumbledore-san." Kata Tsunade dengan senyum misterius. Shikamaru hanya menghela nafas.
'Dasar nenek tua mata duitan. Aku harap dia sadar kalau uang itu akan digunakan untuk kepentingan Konoha nantinya.' Naruto mengumpat dalam hati.
Naruto mulai kehilangan minat dengan 'diskusi' antara Tsunade dan Dumbledore. Ia mencoba membuka percakapan dengan Kurama.
'Kau menemukan sesuatu, Kurama?' Meskipun kemampuan Naruto untuk mendeteksi emosi sudah bisa dikatakan hebat, namun Kurama sebagai pemilik asli kemampuan ini mempunyai jangkauan dan keakurasian deteksi yang jauh lebih hebat daripada Naruto. Jadi untuk kesempatan ini ia menyerahkan semuanya pada Kurama.
Terdengar desahan pelan dari sang Ekor Sembilan. "Nihil. Aku benar-benar tidak bisa membaca orang itu."
'Apakah kita salah telah mencurigai orang itu?'
"Tidak." kata Kurama sedikit menggeram. "Orang biasa masih memiliki emosi negatif yang bisa kurasakan, seperti rasa takut, cemas, khawatir atau marah. Namun berbeda dengan dia, aku benar-benar tidak bisa mengetahui apa yang sedang dia rasakan. Bahkan Kaguya pun tidak bisa menutupi emosinya seperti itu."
'Begitukah?' Naruto menyipitkan matanya. Dia semakin tidak mempercayai Dumbledore.
"Kalau begitu saya pamit dulu, Hokage-sama. Minggu depan saya akan mengirim seseorang untuk menjemput perwakilan Konoha."
Naruto kembali membawa pikirannya ke kenyataan. Ia menatap Dumbbedore dengan tajam. Dilihatnya Dumbledore yang sedang membungkuk memberi salam kepada Tsunade. Begitu ia tegak kembali, tak disangkanya mata biru elektrik dibalik kacamata bulan separo itu balas memandangnya. Sebuah senyum misterius terpasang dibibirnya sebelum ia menghilang dengan suara pop pelan.
Tiga hari kemudian di Menara Hokage
"Ini laporan yang kau minta."
Naruto menaikan alis ketika melihat setumpuk dokumen yang disodorkan Shikamaru padanya. Sambil menyenderkan punggungnya di kursi, ia membawa laporan itu kedepan wajahnya dan mulai membaca, membuat wajahnya tak terlihat oleh Shikamaru.
"Kami sudah mencari sisa-sisa shinobi yang ada disekitar Negara Api. Kebanyakan dari mereka berasal dari klan ninja dari desa-desa kecil, sebagian merupakan mantan shinobi dari desa-desa ninja kecil yang hancur akibat perang, dan sisanya merupakan ninja pelarian. Kami sudah mencatat ada 28 klan ninja, 2 desa ninja dan lebih dari 400 ninja pelarian yang bergerak secara soliter maupun berkelompok yang ada di Negara Api. Untuk klan ninja, mereka lebih mudah diajak bergabung dengan Konoha, namun agak sulit untuk yang lain. Para shinobi yang sudah tidak memiliki desa itu sebagian masih memakai hitai-ate mereka. Mereka masih ingin mempertahankan desa mereka dan berniat untuk membangunnya kembali, walaupun mereka sangat kekurangan sumber daya. Selain itu, sebagian besar kelompok shinobi itu tidak memiliki pemimpin, membuat mereka terpecah menjadi beberapa kelompok.
"Untuk para ninja pelarian itu sendiri. . ." Shikamaru berpikir sejenak, "mereka hanya menginginkan kehidupan yang bebas. Alasan mereka pergi mengkhianati desa adalah karena mereka muak dan kecewa pada desa mereka sendiri. Kau tahu sendiri, setiap desa memiliki rahasia kelamnya sendiri. Yah, walaupun tidak semua ninja pelarian seperti itu. Terkadang tindakan mereka memang diluar batas kemanusiaan."
'Aku sendiri ragu apakah shinobi masih memiliki kemanusiaan.' batin Shikamaru kecut.
"Intinya, cukup banyak shinobi yang tertarik pada tawaran kita. Ditengah krisis seperti ini sangat sulit untuk bertahan dengan keadaan yang memprihatinkan seperti itu. Penjarahan dan kerusuhan rawan sekali terjadi. Untuk itu mereka membutuhkan perlindungan untuk bisa bertahan hidup. Selain itu, mereka sudah lelah jika harus terus menerus berpindah tempat untuk mencari makanan dan menghindari serangan kelompok ninja lain. Mereka ingin menetap disuatu tempat yang memberi jaminan keselamatan mereka.
"Kami tidak mencari diluar perbatasan Negara Api, tapi kami rasa banyak shinobi diluar Negara Api yang mendengar rumor dan tertarik bergabung dengan Konoha." Dengan hembusan nafas yang panjang, Shikamaru mengakhiri laporannya yang panjang nan lebar.
'Merepotkan. Kenapa aku harus repot-repot bicara sebanyak ini sih?' batin Shikamaru malas.
Beberapa menit berlalu, tidak ada tanggapan dari Naruto. Shikamaru mulai tidak sabar, "Hoi Naruto, bagaimana menurutmu?" tanyanya sambil mendekati meja Naruto.
Srak. . .srak. . .
Tiba-tiba saja kertas-kertas yang ada di genggaman Naruto terjatuh. Menampilkan wajahnya di balik kertas-kertas tadi. Mata Naruto tampak tertutup rapat dengan mulut yang sedikit terbuka.
Twitch. . .
Alis mata Shikamaru berkedut. 'Dasar, jadi dari tadi aku ngomong percuma', batinnya kesal. Ia menghela nafas dalam, "Kau memang merepotkan, Naruto." Sebenarnya ia tidak tega juga membangunkan Naruto, mengingat Naruto sudah beberapa hari ini lembur untuk menyelesaikan urusan desa. Namun apa boleh buat, ada hal penting yang harus ia bicarakan dengannya.
'Bagaimana aku membangunkannya?' Otak jeniusnya mulai berpikir.
Yoshino style.
"BANGUN KAU PEMALAAAAS!"
KLONTANG! Sebuah wajan mendarat sempurna di kepala Shikamaru. "Dasar, kau dan Shikaku sama saja! Sekali-kali lakukanlah sesuatu yang berguna, dasar anak jaman sekarang!"
Shikamaru merinding sendiri membayangkan keganasan ibunya.
Ino style.
"BAAAANGUUUUNNN BODOOOOOHH! Gara-gara kau aku jadi ketinggalan nonton tayangan perdana film Princes Gale! Menyebalkan! Sekarang cepat kau bangun dan temani aku belanja. Kemudian traktir aku di Yakiniku-Q, lalu temani aku membeli hadiah untuk Sai, dan kau juga harus membantuku untuk merawat bunga-bunga di kebun Yamanaka. Jangan protes!"
'Hm, merepotkan. Aku malas harus berbicara sebanyak itu.'
Temari style.
"DASAR NANAS TIDAK BERGUNA! HEH, RASAKAN INI."
SWOOOSH. Dengan satu kali ayunan kipas raksasa Temari, Shikamaru terlempar ke angkasa, terbang bersama awan-awan yang selalu dilihatnya setiap hari.
Shikamaru kembali menghela nafas. 'Merepotkan. Kalau begitu cara ini saja.'
"A-ano Naruto-kun. Ini, aku bawakan ramen untukmu." Terdengar suara manis Hinata di telinga Naruto.
"Benarkah?" Kedua mata Naruto langsung terbuka lebar. Tanpa pikir panjang lagi ia segera meraih mangkuk ramen yang masih berada di tangan sang gadis manis itu. "Makasih banyak Hinata-chan! Kau memang yang terbaik!"
Poof!
"Eh?" Naruto hanya bisa cengo ketika mangkuk ramennya hilang entah kemana bersamaan dengan kepulan asap. Ia kemudian menatap sosok didepannya. Wajah gadis manis bermarga Hyuuga itu telah berganti menjadi wajah Shikamaru yang balas menatapnya bosan.
"Baguslah kau masih hidup." Kata Shikamaru dengan tak menyembunyikan nada jengkel dalam suaranya.
"Eh, Shikamaru? Kenapa kau ada disini? Mana Hinata-chan? Ramennya?" Racau Naruto linglung. Matanya kemudian melebar, seperti menyadari apa yang telah terjadi. Ia kemudian kembali menatap Shikamaru, kali ini sorot kemarahan terpancar dikedua safir itu. "Ha, aku tahu! Kau kan yang memakan ramen dari Hinata-chan tadi?! Ayo ngaku saja, nanas jelek! Cepat kembalikan ramenku kalau kau tidak ingin lembur di hari libur!"
TWITCH!
Shikamaru tidak bisa menahan emosinya lagi. Bisa-bisanya ia dulu merekomendasikan si bodoh ini menjadi hokage. Mungkin gara-gara ibunya dan Ino terlalu sering memukul kepalanya membuat otak jeniusnya lama-lama jadi korslet.
"Lupakan ramennya! Akan kuberikan kupon makan di Ichiraku sepuasnya nanti jika Kondo Isao dan Shimura Tae sudah pacaran! Ada hal yang harus kubicarakan denganmu sekarang."
Naruto kaget ketika Shikamaru yang biasanya hemat energi untuk ngomong kini malah mencak-mencak didepannya. Ia sempat berpikir mungkin Shikamaru sedang marah padanya, karena ia bisa merasakan aura merah gelap dari pemuda didepannya. Tapi tidak mungkin kan, kalau orang marah malah memberikan hadiah? Maa, apapun itu, ia berharap Kondo-san dan Shimura-san secepatnya jadian. Kesempatan makan gratis di Ichiraku tidak boleh dilewatkan. Siapa tahu jika nanti Sasuke tiba-tiba bangkrut dan tidak bisa mentraktirnya lagi.
"Baiklah, Shikamaru-kun! Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, hm? Ceritakan semuanya pada Kakak. Ayo, jangan malu-malu~," kata Naruto riang, tidak sadar dengan aura Shikamaru yang bertambah gelap.
Shikamaru menghela nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan emosinya. Bisa-bisa ia sudah kena penyakit darah tinggi di umur dua puluh jika seperti ini terus.
"Apa kau sudah memutuskan siapa saja yang akan ikut Triwizard, Naruto?" tanya Shikamaru langsung ke inti.
"Pak Tua itu bilang peserta harus berumur diatas tujuh belas tahun. Tapi karena ini turnamen untuk murid sekolah, kupikir pesertanya juga tidak bisa lebih dari dua puluh tahun. Kupikir, lebih baik angkatan kita saja yang ikut, Shikamaru. Selain karena angkatan kita memiliki banyak shinobi dari keturunan klan, kita semua juga sudah jonin."
Shikamaru terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya menjawab dengan nada datar. "Perlu kuingatkan, Naruto. Kau itu masih Ge-Nin."
Wajah Naruto yang tadinya dihiasi dengan senyum kini berganti dekorasi menjadi seperti wajah orang yang baru saja menjadi korban NTR. "Urgh. K-kau diam saja, Nanas. Lagipula, Sasuke juga masih genin! Ha! Lulusan terbaik di akademi ternyata masih genin. Dan lihat aku. Seorang deadlast ternyata bisa menjadi Hokage. Yeah! Aku memang luar biasa. Tidak perlu repot-repot ikut ujian chunin dan jonin agar bisa menjadi shinobi terbaik di Konoha! Hahahahaha."
Shikamaru menatap datar Naruto yang kini tersedak air liurnya sendiri. "Geez, merepotkan. Aku benar-benar menyesal memilihmu mejadi Hokage dulu," gumamnya pelan.
"Eh, kau mengatakan sesuatu, Shikamaru?" tanya Naruto yang telah sembuh dari batuk tak elitnya.
"Tidak ada," balas Shikamaru cepat. "Ngomong-ngomong, Naruto, kau bilang angkatan kita. Apa kau juga berniat untuk ikut?"
"Yah, begitulah. Aku sangat penasaran dengan sihir mereka."
'Aku juga ingin lebih tahu mengenai Pak Tua nyentrik itu.' tambahnya dalam hati.
"Apa tidak akan menimbulkan masalah nantinya?" tanya Shikamaru penasaran. Pasalnya Naruto adalah Hokage, simbol kekuatan Konoha. Akan timbul berbagai pertanyaan nantinya jika tiba-tiba Naruto lenyap, terutama pertanyaan dari desa-desa sekutu Konoha.
Naruto hanya menyeringai lebar mendengar pertanyaan Shikamaru. "Nah, itulah sebabnya aku memintamu untuk mengatur pertemuan dewan sore ini. Ada banyak hal yang harus kita bahas nanti."
Shikamaru mendengus kesal mendengar perintah baru yang diberikan padanya. Tadinya ia berharap bisa pulang lebih awal dan mengistirahatkan kepalanya dibantal jika ia mengerjakan laporan itu lebih awal. Tapi ternyata Naruto bisa benar-benar menjadi tak berperi-pekerja-an jika ia mau. Tanpa berkata apapun, ia segera berbalik, tidak tahan melihat seringaian di wajah Naruto yang semakin lebar saja setiap detiknya.
"Oi, Shikamaru. Sebagai kepala klan Nara kau juga harus hadir dalam pertemuan. Jangan lupa itu," kata Naruto disertai tawa kecil. Tawanya semakin keras ketika ia mendengar suara pintu yang dibanting, ungkapan kekesalan Shikamaru.
AN:
Omatase simashita.
Karena ini saya jadikan sebagai side-project, jadi untuk kedepannya saya tidak bisa terlalu sering meng-update cerita ini. Sorry.
Saya sengaja meniadakan language barrier di cerita ini. Saya anggap tidak ada bahasa Jepang atau bahasa Inggris disini. Semua tokoh dari kedua fandom menggunakan bahasa Indonesia, kecuali untuk nama jutsu (dan translate-nya).
Untuk pair di Naruto akan tetap canon, dan di HP tetap belum ada pair. Though I do enjoy some sho-ai stories, I still couldn't bring myself to write that particular story. It still gave me an uncomfortable feeling every time I try to wrote those plot. Maybe some hints, but it just for the sake of amusements only.
Saya berterima kasih bagi yang sudah menyempatkan diri memberikan review, sudah mem-fave dan mem-follow. Saya juga berterima kasih bagi yang sudah membaca cerita ini.
I hope ya all enjoy this chapter!
X
Jika ada saran, kritik, atau pertanyaan, silahkan review!
