When Love Grows

-Start Thinking of You -

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Warning : OOC, semi-AU, Misstypo(s).

Genre : General(maybe change)

Matahari telah bergantung dengan manis tepat di atas kepala. Membawa panasnya yang begitu terik. Semua orang pun merasakannya termasuk hokage baru kita yang sedang bergulat dengan tumpukan dokumen yang harus dia periksa. Dengan setengah hati, hokage baru kita ini terus membaca memeriksa dokumen-dokumen itu, menjalankan tugasnya sebagai hokage. Dan tak lupa, sejak 2 jam yang lalu dia terus mengipas-ngipas tubuhnya, mencoba mendatangkan para angin untuk setidaknya mengurangi sedikit hawa panas yang menghampirinya..

"Ah.. musim panas yang menyebalkan." Kesalnya, matanya terus bergerak membaca dokumen-dokumen itu.

Hokage baru kita, Uzumaki Naruto atau bisa juga Namkaze Naruto, pria bermata safir dengan rambut sewarna bunga matahari. Naruto berhenti mengipasi tubuhnya, pegal sekali rasanya. Berhenti melakukan tugasnya sebentar, dia letakkan dokumen yang ada di tangannya dan bersandar di kursi yang sedang didudukinya. Naruto memejamkan matanya rasa kantuk yang sangat menghampiri dirinya.

Perlahan tapi pasti hokage muda kita mulai memasuki alam mimpinya, meninggalkan tumpukan dokumen di mejanya.

Toko bunga Yamanaka, itulah nama yang terlihat di mata emerald seorang gadis muda. Gadis berambut pink dengan kulit seputih porselen. Dia hanya diam di depan toko itu, memperhatikan beberapa orang yang masuk dan keluar. Sampai sebuah tangan berwarna putih agak pucat menepuk pundaknya.

"Sakura-chan.." Panggil pemilik tangan itu. Sakura, Haruno Sakura tepatnya pemilik mata emerald itu menoleh ke belakang, melihat siapa yang menepuk pundaknya.

"Hinata-chan…" Ucap Sakura, dia tersenyum ketika melihat siapa yang menepuk pundaknya.

Sebuah senyum pun terukir di wajah gadis ah wanita muda berambut indigo. Hyuuga Hinata, Uzumaki Hinata sekarang. Sekarang dia adalah istri dari seorang Uzumaki Naruto.

"Ne, apa yang Sakura-chan lakukan di sini?" Tanya Hinata, dalam pikirannya dia mencoba menebak apa yang akan Sakura lakukan.

"Hm.. aku hanya ingin membeli bunga lily." Ucap Sakura wajahnya terlihat agak sendu. Mengerti, Hinata hanya bisa melihat teman-nya ini sedih. Bunga lily, pasti Sakura mau ke makam 'dia'.

"Mau ku temani?" tawar Hinata wanita muda itu tersenyum lembut.

"Ah, Tidak usah Hinata-chan." Tolak sakura sambil tersenyum canggung.

"HInata-chan sendiri kenapa ke sini?" Tanya Sakura, Hinata tersenyum tipis.

"Hehehe, mau ketemu Ino-chan saja. Habis sejak saat itu.. kita jadi jarang bertemukan?" ujar Hinata, ada sorot kesedihan di mata violetnya yang tak berpupil.

"Kau benar. Kalau begitu ayo masuk." Ajak Sakura, Hinata mengangguk dan mereka masuk bersama ke toko bunga itu.

Begitu masuk bermacam-macam harum bunga memasuki indra penciuman mereka, mulai dari harum mawar, lily, dandelion, dan bunga lainnya. Sakura memperhatikan pengunjung yang ada di toko itu, hampir 90% pengunjung toko itu adalah perempuan.

"Hai, Hinata-chan, Sakura." Seorang gadis berambut pirang mendekati mereka berdua.

"Ino-chan," sapa Hinata dai tersenyum.

"hai." Ujar Sakura singkat. Perempuan yang bernama Ino itu berhenti tepat di depan Sakura dan Hinata

"Wah, tumben sekali kalian kesini, ada apa?" Tanya Ino, Sakura tersenyum tipis.

"Kau tidak suka kalau kami kemari?" ujar atau lebih tepatnya Tanya Sakura.

"Hee.." Hinata hanya tertawa pelan mendengarnya, kemudian tawa itu disambung oleh Sakura dan Ino.

"Ne, ne, aku mau beli bunga lily." Ucap Sakura setelah bisa mengendalikan dirinya.

"Oh.. kalau Hinata-chan?" Tanya Ino, Hinata hanya tersenyum..

"Hanya mau bicara denganmu, ada waktu tidak?" ujar Hinata, Ino hanya ber-ohh ria kemudian mengangguk senang.

Setelah sakura pergi dan membawa sebucket bunga lily, Ino mulai angkat suara.

"Bicara soal apa Hinata-chan?" Tanya Ino, Hinata menghela nafas pelan sebelum menyampaikan maksudnya.

"Soal Sakura.."

Rerumputan hijau itu terbentang luas dengan gundukkan-gundukkan yang berisi mereka yang telah meninggalkan dunia ini. Sebuah pohon oak raksasa berdiri tegak tepat di tengah pemakaman itu. Yah tempat itu, pemakaman, tempat yang sedang dipijak Sakura sekarang. Sakura berjalan perlahan mencari nisan orang terkasihnya, Uchiha Sasuke.

Kaki-kaki jenjangnya terus melangkah menyusuri tempat itu melewati beberapa gundukkan tanah, membaca satu persatu nisan yang terpasang. Sampai Sakura menemukannya, sebuah nisan bertuliskan nama Uchiha Sasuke, dia duduk di pinggir gundukan tanah itu, gundukkan tempat Sasuke tidur selamanya. Dia letakkan sebucket lily putih diatsa kuburan itu, dia pejamkan ke-2 kristal emerladnya.

'Sasuke-kun, semoga kau tenang disana.' Batinya, dia berdiri menuju pohon oak yang ada di makam itu, mencoba melindungi dirinya dari terik sang mentari. Tapi, sebenarnya bukan hanya itu tujuannya,

Sakura duduk di bawah pohon itu. Dari sana, Sakura bisa melihat makam Sasuke. Berharap pemuda terakhir Clan Uchiha itu bangun dari tidur abadinya.

Semilir angin membuat rambutnya yang berwarna soft pink agak berantakan, tapi Sakura tidak peduli akan hal itu. Dia menekuk lututnya kemudian memeluknya, menundukkan wajahnya dan menutup matanya.

Suara rerumputan yang saling bergesek terdengar begitu jelas di telinga Sakura, menandakan seseorang datang mendekatinya. Sakura tidak peduli, yah. Walaupun orang itu adalah orang yang disuruh untuk membunuhnya, toh kalau dia mati dia bisa bertemu dengan Sasuke lagi kan?

Sakura diam, ada seseorang yang sedang duduk di sebelahnya. Sakura yakin itu, walaupun tidak terlalu dekat tapi Sakura merasakannya. Dia mengangkat wajahnya mencoba tahu siapa yang duduk di sebelahnya, dan ketika itu sepasang emerald miliknya menangkap sosok yang tak pernah ia kira.

Hyuuga Neji.

Yah, Hyuuga Neji, pemuda brambut panjang dengan warna mata yang sama dengan Hinata. Sepupu Hinata, si jenius dari Clan Hyuuga.

Merasa diperhatikan, Neji menengok, violet dan emerlad bertemu, sangat kontras sekali. Entah kenapa sakura tak bisa mengalihkan pandangannya malah mencoba melihat lebih dalam pada mata violet itu. Neji..

Sakura mulai berfikir, Hyuuga Neji, pernah menjadi rival Sasuke, orang yang lebih dingin dari Sasuke, orang yang misterius dan tidak kalah diamnya dari Sasuke.

"Ah.. aku mengganggumu?" Tanya Neji, pemuda tampan dari Clan Hyuuga Itu berdiri.

Sakura terpaku sebentar kemudian menggeleng. "Tidak kok, lagi pula di sini sendirian juga tidak enak." Ujar sakura dan kembali pada posisi semula. Neji tetap berdiri di tempatnya memperhatikan gadis berambut soft pink itu.

Jarang-jarang dia bicara dengan gadis satu ini,ah bukan jarang lagi sangat jarang malah. Terakhir mereka bicara berdua itu, saat misi menjaga miko dari negeri iblis. Yah..itupun karena membahas strategi dan keadaan dan setelah itu hampir tidak pernah.

Keheningan menyapa mereka, sampai Sakura mulai buka suara.

"Neji-san kenapa ke sini?" Tanya Sakura pelan. Tak enak dengan posisinya Neji kembali mendudukkan dirinya.

"Ziarah ke makam ayahku." Lirih Neji, dia menatap dedaunan yang tumbuh di pohon oak itu, begitu lembut.

Neji menatap Sakura, dia sendiri jadi bingung harus bicara apa. Ingin bertanya balik, namun.. sudah jelaskan Sakura pasti pergi ke pemakaman untuk ziarah ke makam Sasuke.

"Neji-san." Panggil Sakura.

"Ya?" Jawab Neji tenang, meneliti keadaan pemakaman itu, sebenarnya hanya mengalihkan object perhatian.

"Sedang tidak ada misi ya?" Tanya Sakura.

"Iya," jawab Neji singkat.

"Lalu kenapa Neji-san tidak pulang ke rumah saja?" Tanya sakura lagi, kali ini dia menatap lawan bicaranya.

Sebuah helaan nafas pelan terdengar dari Neji. " Kau mengusirku?" Tanya Neji, Sakura menggeleng cepat.

"Hanya ingin di sini saja, lagi pula, di desa ramai. Dan aku sedang tidak ingin." Jawab Neji pelan.. sakura tersenyum pelan..

"Mau temani aku? Mungkin kau bisa ceritakan sesuatu saat kau misi? Kau kan sering keluar desa, Neji-san." Tawar Sakura. Dan entah kenapa sebuah senyum kecil muncul di wajah Neji.

Senja mulai datang, membuat sang mentari kembali ke peraduannya secara perlahan. Lampu-lampu di sekitar pertokoan dan rumah penduduk pun mulai di nyalakan. Namun Sakura dan Neji masih tetap berada di pemakaman tempat yang biasanya ditakuti orang kalau sudah menjelang malam.

"Neji-san arigatou." Ucap Sakura sopan. Bicara dan 'ngobrol' dengan Neji ternyata cukup menyenangkan, kakak sepupu Hinata ini mungkin memang orang yang tepat kalau di minta saran.

"Ne… do ita… lebih baik sekarang kita pulang." Ajak Neji dan Sakura hanya memberikan sebuah anggukan sambil tersenyum.

Sakura sampai di rumahnya ketika sang bulan telah menampakkan diri. Lelah dia langsung menjatuhkan diri ke tempat tidurnya.

"Hyuuga.. Neji." Entah kenapa mengingat percakapan mereka siang tadi membuatnya tersenyum.

"Hah…" perlahan gadis bermata emerald itu mulai menutup matanya, terbuai dalam alam mimpinya

Sesuatu yang kau pikir tak mungkin, bisa saja menjadi mungkin….

To Be Continued

buat yang udah review Apple and Cinnamon arigatou gozaimasu.. maaf kalau reviewnya gak dibales gomen ne .

dan untuk yang sudah review arigatou gozahimasu minna-san ^^

minna-san mohon reviewnya ^^ kritik, saran dan masukkan di terima :3

R

E

V

I

E

W

Please?

Yang udah baca dan review arigatou ^_^