Chapter 2. Closing
.
.
.
15 tahun kemudian..
.
Pemuda tampan itu akhirnya melangkahkan kakinya keluar bandara di Seoul, tak terasa beberapa tahun meninggalkan tanah kelahirannya untuk urusan bisnis sangat membuatnya rindu sekali dengan tempat ia berpijak. Dan ia kembali lagi, menghirup udara Korea yang tak terlupakan. Ia mengambil ponsel disaku celananya dan menekan beberapa angka disana.
.
.
"Ayah aku kembali, bagaimana keadaan ibu?"
"Datanglah ke rumah sakit" ucap dingin pria disebrang sana.
.
.
Pria tampan itu pun melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit. Ya, ibunya telah siuman 5 tahun lalu, namun butuh waktu untuk memulihkan kondisinya yang nyaris tidak pernah bergerak itu. Semua ini berkat dokter baru yang ditugaskan disana. Menurut informasi yang ia dapatkan dari Jackson, pelayan keluarganya, semenjak dokter tersebut menggantikan dokter seniornya, kondisi ibunya pun membaik dan akhirnya bisa siuman. Sahabatnya itu juga bilang bahwa dokter tersebut benar - benar merawat ibunya dengan baik. Ingin rasanya ia ikut merawat ibunya, namun ia tak bisa cepat - cepat meninggalkan pekerjaannya karena ayahnya memaksa untuk menyelesaikan pekerjaannya di Australia dan mengancamnya jika pulang ke Korea sebelum pekerjaannya selesai, ia tidak akan bisa bertemu dengan ibunya. Dan selama bertahun - tahun ia setia menunggu datangnya hari ini, hari dimana ia bisa menemui ibunya.
.
.
"Selamat pagi nyonya Kim, apa yang kau rasakan hari ini? Apa ada keluhan?" Pria berjas putih itu menyapa wanita paruh baya didepannya dengan senyuman manis.
"Oh astaga.. semakin lama kau semakin cantik saja dokter" ucap wanita itu.
"Saya ini laki - laki nyonya, jika anda lupa" canda pria tersebut. Ia memeriksa beberapa alat yang terpasang disana, mencatatnya dilembaran kertas ditangannya. Memeriksa sekilas kondisi wanita tersebut.
"Saya rasa dari pemeriksaan anda cukup memberikan kemajuan pesat.. bagaimana kondisi anda? Apa ada keluhan?"
"Tidak dok, tidak pernah sebaik sekarang ini" wanita itu tersenyum. Dokter itu pun duduk dikursi sebelah ranjang pasien tersebut.
"Syukurlah.. jika kondisi anda terus membaik, saya rasa tidak lama lagi nyonya bisa pulang ke rumah" wanita itu menggeleng.
"Aku menunggu anakku dulu baru aku akan pulang"
"Dan bolehkan saya tahu kenapa?"
"Karena saya akan sendirian dirumah" ucapnya lesu.
"Jika nyonya mau, saya bisa berkunjung sesekali ke rumah anda"
"Oh benarkah?" Dokter tersebut mengangguk mengiyakan.
"Aku akan mengenalkanmu pada anakku nanti, ohh ya! Aku lupa! Jackson bilang jika anakku pulang hari ini! Sudah lama sekali aku tak melihatnya!" Ucapnya antusias.
"Kalau begitu nyonya perlu memakai sedikit riasan agar terlihat semakin cantik"
"Ah.. kau bisa saja"
"Eum.. sebentar saya akan belikan beberapa riasan" pria tersebut keluar dari ruangan itu.
.
.
20 menit berlalu
.
.
Dokter tersebut membawa beberapa alat make up ditangannya.
"Saya sedikit belajar merias diri, semoga nantinya anda akan suka dengan hasilnya nyonya"
"Aku serahkan padamu dok" wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
.
Dokter tersebut merias wajah wanita itu dengan terampil mulai dari wajah keseluruhan, alis, mata, hidung, terakhir bibir wanita itu. Tak membutuhkan waktu lama baginya untuk memberikan sentuhan lembut disana.
.
"Nah selesai" Pria itu memberikan kaca kecil kepada pasiennya itu.
"Wah dok.. hasilnya bagus sekali! Tidak berlebihan.. tapi cukup elegan, kau ini dokter sekaligus perias ya? Hahaha" Canda wanita itu.
"Hahaha.. anda bisa saja, saya tetap seorang dokter.. nyonya"
"Heuh.. ngomong - ngomong.."
"Ya nyonya?"
"Apa kau tertarik dengan laki - laki? Ah.. Anakku laki - laki.. jadi.. jika kau mau.."
"A-apa?" Bibir itu kelu. Ia tahu dirinya memang lebih 'lembut' dibandingkan dengan pria lain. Tapi tak disangka apa yang jadi bahan candaannya dengan pasien itu jurtru dianggap serius olehnya.
"Ya.. jika kau tertarik, aku berniat untuk mengenalkanmu pada anakku.. anakku itu tampan"
"Eumm.. nyonya, saya tak bisa menjawabnya"
"Kenapa?"
"Bagi saya... sah - sah saja jika mencintai sesama, tapi mungkin saya yang terlalu fokus dengan pekerjaan dan tidak pernah mengurus hal semacam ini.. jadi saya tidak tahu" ucapnya dengan senyuman canggung.
"Ah.. nanti aku kenalkan! Kau pasti tertarik dengannya! Dia tampan sekali" wanita itu mengedipkan sebelah matanya membuat pria dihadapannya semakin kaku.
"Kalau begitu.. saya permisi dahulu nyonya, saya akan kembali siang nanti"
"Ahh.. baiklah"
.
.
Tampak pria tampan memasuki gedung rumah sakit, menelusuri koridor dan berdiri didepan pintu itu, ruangan yang sama. Ia menghela napasnya, diketuknya pintu itu dan dibukanya perlahan.
.
.
"OMO! NAMJOON-AH!"
Tidak, pria itu tidak salah lihat. Itu ibunya, ibu yang telah melahirkannya, ibu yang koma beberapa tahun, ibu yang ia tinggalkan karena ayahnya sekarang bis memanggil namanya lagi. Pria itu menghampiri ibunya langsung memeluk wanita itu dengan erat. Ia rindu, rindu akan suaranya, rindu akan pelukannya, rindu akan semuanya tentang wanita itu. Tak terasa air mata itu jatuh turun ke pipinya.
.
.
"Ibu.. syukurlah kau sudah sadar, aku pulang.. bagaimana kabarmu? Apa ayah menyakitimu lagi eoh? Maaf butuh waktu yang lama untuk bertemu denganmu" Wanita itu menggeleng, melepaskan pelukan itu.
"Bagaimana kabarmu sayang? Apa ayahmu bertindak kasar padamu lagi?" Sekarang giliran ibunya yang bertanya pada Namjoon.
"Aku rindu padamu bu"
"Ibu juga rindu padamu!"
"Lihatlah.. ibu tak terlihat bertambah tua, kau semakin cantik" ucap Namjoon.
"Ah.. dokter yang merawatku memberikan sedikit riasan, tangannya sangat terlatih" Namjoon mengerutkan dahinya.
"Kata Jackson, dokternya laki - laki?"
"Memang laki - laki" jawab ibunya santai.
"Tapi ia cantik Namjoon-ah.. ibu ingin mengenalkannya padamu!"
"Ibu.. aku sudah memiliki seseorang yang aku suka"
"Oh ya? Sejak kapan? Yang mana orangnya?"
"Orang itu.. terakhir kita terpisah karena urusan pendidikan.. dan aku tak mau mengganggunya" jawabnya lesu.
"Aku... takut akan melukainya jika aku memaksakan kehendakku" lanjut pria itu.
"Oh.. sayang.. siapa yang bisa menolakmu hah? Sudah jangan dipikirkan, belum tentu orang itu masih menyukaimu, aku akan mengenalkanmu pada dokter cantik itu! Pasti kau tidak bisa menolaknya"
'Tok! Tok! Tok!'
Pintu itu terbuka..
.
.
"Selamat siang Nyonya Kim, ini ada beberapa obat yang harus diminum siang ini sebelum makan" ucal dokter itu sambil melihat bawaan yang ia bawa
"Ah.. Dokter Kim! Ayo sini aku kenalkan anakku padamu" ucapnya.
Dokter itu mengangkat wajahnya mengarah ke sumber suara
'DEG'
"Kim Seokjin?!" / "Kim Namjoon?!" mereka berdua tekejut.
"Ah.. dari sorot mata kalian, pasti kalian sudah saling kenal ya?"
"E-eumm.." Namjoon tak bisa berkata apa - apa, sedangkan pria dihadapannya hanya bisa tersenyum manis.
"Sudah lama tak bertemu.. Namjoon-ah" ucap Seokjin
"Ah.. iya" jawab pria yang lebih tinggi canggung. Tidak, Namjoon tidak dapat menahan rasa rindunya lagi, ia langsung memeluk pria dihadapannya dengan posesif.
Jinseok.. Seokjin menjauhkan kepalanya dari dada bidang Namjoon dengan posisi dalam dekapan pria itu.
"Ya?" Jawab pria cantik itu.
"Kau tak keberatan jika ku peluk seperti ini?"
"Tidak"
"Biarkan seperti ini.. ku mohon.. sebentar saja" ucap Namjoon.
.
.
1 menit...
2 menit...
3 menit...
.
.
"Oh ya.. kalian bahkan melupakan aku disini?"
"A-ah.. nyonya, maafkan saya" Seokjin melepaskan pelukan pria dihadapannya dan langsung membungkuk.
"Eum.. dia yang aku bicarakan itu ibu"
Wanita paruh baya itu menyilangkan tangannya.
"Jadi kau yang menolak putraku ini dokter?"
"A-ah?" Seokjin tak mengerti.
"Ibu.."
"Oh, jangan bilang kau yang belum menyatakan perasaanmu Namjoon?" Tanya nya.
"Ah.. sudahlah.. nanti kita bicarakan lagi" putus Namjoon.
"Saya kira kalian butuh waktu berdua, kalau begitu saya permisi.. nyonya, tuan" pamit Seokjin.
"Tunggu.." sanggah Namjoon. Seokjin menghentikan langkahnya yang hampir sampai pintu keluar.
"Ya? Ada yang bisa saya bantu?"
"Jam berapa kau pulang?" Seokjin mengerutkan keningnya. Sedangkan wanita paruh baya itu tersenyum geli karena melihat anaknya itu begitu posesif.
"Hmm.. jam 8 malam"
"Sebelum kau pulang, kau harus kesini terlenih dahulu"
"Kalau boleh saya tahu, ada apa?"
"Datang saja" jawab Namjoon.
"Baiklah tuan"
"Oh tolong jangan seperti itu" ucap Namjoon tak suka.
"Baiklah.. Namjoon-ah" menyunggingkan senyumnya lalu berpamitan untuk kembali bekerja.
"Baiklah.. Kim Namjoon, aku butuh penjelasan"
"Ah... ibu.. itu.."
"Jelas sedikit, kau itu laki - laki"
"Bagian mana yang mau kau tanyakan?"
"Se-mu-a-nya" ucap ibu Namjoon dengan penekanan.
"Baiklah.." dan satu hal yang ia ingat dari ibunya dulu yang sampai sekarang tidak pernah berubah. Jika ibunya meminta penjelasan, ia tak akan berhenti untuk menanyakannya sampai ia puas mendapatkan jawaban yang lengkap. Yang artinya, Namjoon akan menceritakan seluruh masa - masa dirinya disekolah menengah keatas tersebut.
Flashback
- Namjoon POV -
.
.
Menjadi satu - satunya penerus Kim Corp merupakan suatu beban bagiku, awalnya kakak laki - lakiku yang akan mengambil perusahaan ayah jadi aku tak ambil pusing untuk ikut andil didalamnya, tapi Tuhan berkata lain. Pada saat liburan musim panas aku, kakakku, Kim Junmyeon, dan ibuku, Kim Yoona memutuskan untuk pergi ke busan, daerah asal ibuku. Kakakku mengendarai mobil, ibuku duduk disampingnya, sedangkan aku berada dibelakang kursi supir. Waktu itu terasa sangat cepat, aku melihat ibuku kakakku begitu lelah mungkin karena urusan perusahaan yang tak ada habisnya dan ia tetap bersikukuh untuk menemaniku dan ibu liburan.
.
.
"Hyung.. jika kau lelah, biar aku yang menggantimu untuk menyetir"
"Kau belum legal bocah"
"Tolonglah.. ibu sedang tidur tidak mungkin memarahimu, aku juga sudah bisa menyetir"
"Tidak ada pengecualian, biar aku saja yang menyetir"
.
.
Aku pun tidak meneruskan perdebatanku dengannya, takut jika mengganggu konsentrasinya jadi aku putuskan mengalihkan pandanganku kearah jendela melihat pemandangan. Dan tak terasa aku pun terlelap karena nyamannya.
'TINN! TIIINNN!
Aku terkaget bangun dari tidurku, ku lihat mobil didepan mencoba menghindar dari mobil yang kami tumpangi, kakakku ternyata membawa mobil yang kami tumpangi itu ke jalur yang berlawanan. Dan aku bisa melihat jika dirinya juga terkejut setelah sadar dari tidurnya.
"Junmyeon-ah!" Teriak ibuku.
Dan tiba - tiba semuanya gelap.
.
.
Aku terbangun diruangan serba putih dengan penerangan yang cukup tinggi bahkan membuat mataku sakit. Aku tidak sebodoh itu untuk bertanya aku berada dimana. Aku dirumah sakit.
Setelah aku sepenuhnya sadar dan sedikit pulih, dokter bicara padaku, ketika ia menyatakan bahwa kakakku meninggal dan ibuku koma dengan waktu yang tidak bisa ditentukan disaat itu juga duniaku hancur berkeping - keping.
Dan mulai dari sana, ayahku tambah membenciku. Ia tak pernah menganggapku dan ibuku. Ia hanya menganggap Junmyeon hyung karena kakakku merupakan penerusnya, selain itu? Jangan berharap lebih. Dan dengan terpaksa ia menekanku untuk melanjutkan perusahaannya, membuat hidupku sudah seperti didalam penjara. Tidak boleh melakukan ini, harus melakukan itu. Seperti boneka. Ia tak pernah menganggapku sebagai anak, aku hanya merasa ia menganggapku sebagai boneka mainannya.
Seminggu, aku diberikan waktu seminggu untuk berduka oleh ayahku. Setelahnya, aku harus melanjutkan pendidikanku ke sekolah menengah keatas dan sepulang dari sekolah aku harus belajar tentang perusahaan yang dimiliki oleh ayah.
Masa orientasi siswa baru bukan hal yang bagus untuk dilakukan, aku bahkan tidak berniat untuk ikut acara yang hanya memakan waktuku seperti ini. 8 jam aku harus sekolah, 2 jam pelajaran tambahan, 4 jam belajar tentang perusahaan dan pagi - pagi pukul 4 aku harus nersiap - siap pergi ke perusahaan agar nantinya dikenal oleh para karyawan. Tidakkah ada seseorang mengerti bahwa aku hanya memiliki waktu yang sedikit? Dan sudah aku duga, masa perkenalan ini hanya membuang - buang waktu. Jadi kuputuskan untuk pergi dari kumpulan siswa baru saat senior - senior itu sedang lengah.
Ku pilih koridor yang penuh loker disana, cukup sepi mengingat sekarang jam pelajaran. Dan saat itu.. aku melihat sosok cantik itu, rambut pendek berwarna hitam legam, kulit putih halus bak poselen, tubuh ramping namun tak terlalu kurus. Apakah dia laki - laki? Dia memang memakai celana sama sepertiku, Ah.. tidak mungkin ia laki - laki, apa ia tomboy? Aku hanya bisa menduga - duga.
.
.
"Yak! Kim Seokjin! Kau meninggalkanku lagi eoh?" Sosok itu mengarahkan pandangannya kesumber suara begitu pula denganku.
"Oh.. Jimin-ah.. maaf kau lama sekali berkenalan dengan murid baru itu"
"Wah.. Jin, irene itu sangat cantik.. hatiku jadi meleleh" apa - apaan pria itu?
"Jika kau suka kenapa tidak nyatakan saja padanya?"
"Karena aku masih bimbang" pria bernama Kim Seokjin itu menutup lokernya.
"Bimbang kenapa?"
"Aku harus menyatakan perasaanku padamu atau padanya"
"YAK! bodoh!" Pria itu memukul kepala temannya dengan buku tebalnya.
"Aku ini laki - laki! Kau- kejarlah perempuan itu" Aku sudah tahu kenyataannya, apakah aku peduli jika ia laki - laki atau perempuan? Jawabannya tidak. Dan sejak saat itu duniaku berubah, karena dirinya.
.
.
Aku hanya bisa menatapnya dari kejauhan, aku takut, jika dirinya juga tidak mengakui keberadaanku. Ingin rasanya aku mengajaknya bicara, menyatakan perasaanku padanya, setidaknya.. aku berharap, ia tidak menolak eksistensiku seperti ayah.
Seperti sekarang, aku menunggu semua anak kelasnya keluar untuk pergi makan siang, menyisakan dirinya disana sendiri. Ia selalu membawa bekal, tapi tak jarang juga temannya mengajaknya ke kantin. Dan aku bersyukur bahwa hari ini ia membawa bekalnya yang artinya ia akan mengisi tenaganya dikelas. Membuatku bisa melihatnya dari luar kelas. Ia cantik.. lembut.. halus.. dan aku menyukainya. Ia memberikan semangatku untuk hidup, untuk tetap bernapas.
.
.
"Joon!" Aku menolehkan kepalaku kesumber suara. Itu Yoongi dan Taehyung, temanku sejak kecil.
"Kau melihat siapa bung?" Taehyung melihat kedalam kelas dan menemukan Seokjin.
"Ah.. kurasa kau sudah jatuh terlalu dalam Joon" ucapnya, aku hanya bisa terdiam.
"Kau bahkan rajin ke sekolah sekarang, biasanya kau akan membolos" ucap Yoongi.
"Dan hebatnya lagi kau bisa ikut tes akselerasi! Man! Kau genius atau idiot?" Lanjutnya.
"Tentu karena ia ingin kelasnya disatu lantai dengan pria yang membuatnya bertingkah seperti ini Yoon!"
.
.
Ya, dipertengahan semester akan ada tes untuk akserelasi, itu artinya kau bisa loncat ke tingkat berikutnya jika kau bisa lulus dalam tes. Dan aku lulus, soalnya mudah sekali, bahkan ketika aku ikut ujian itu masih ada sisa waktu dan kugunakan untuk tidur saat ujian. Jangan alahkan aku karena jadwalku yang sulit membuat waktu tidurku tidak teratur.
Sebenarnya aku, Yoongi, Taehyung memang seharusnya dalam satu tingkat. Tapi ini semua karena kecelakan itu, kecelakaan yang membuat hyung-ku meninggal dan ibuku koma. Aku juga sempat tak sadarkan diri selama beberapa bulan. Rusukku patah, tulang femurku retak, dan aku juga sempat mengalami trauma. Dan waktu pemulihan tidaklah singkat, jadi aku harus menunggu tahun berikutnya untuk mendaftar sekolah menengah keatas. Dan untungnya, otakku masih bekerja jadi aku bisa ikut seleksi akselerasi itu dan kembali sekelas dengan Yoongi dan Taehyung.
Dan alasanku adalah... aku ingin sering melihat Seokjin.
Karena kelas siswa tingkat satu berada dilantai dua selantai dengan ruang guru sedangkan kelas siswa tingkat dua dan tiga ada dilantai tiga. Jadi, aku dengan mudah melihat Seokjin dari luar tiap harinya, dengan izin ke toilet pada guru. Toh jika guru yang mengajar mencariku aku masih ada di lantai yang sama dam tidak membuat namaku dicoret dari kertas absen.
Kadang aku suka berpikir, untuk apa aku melakukan ini? Dan telah ku temukan jawabannya. Karena Seokjin mengisi ruang kosong didalam diriku. Yoongi menepuk pundakku, menyadarkanku dari lamunan yang pasti tak kunjung selesai.
"Ayo kekantin, aku lapar" aku mengangguk mengikuti kedua temanku.
.
.
Hari ini, aku mencoba memberanikan diri untuk memberikan surat pada Seokjin untuk pertamakali. Tapi keberanianku seakan hilang begitu saja jika melihat dirinya. Dan kalian tahu apa yang aku pikirkan? Menggunakan kekuasaan ayahku. Aku meminjam kunci loker Seokjin pada security lalu membuat duplikatnya untuk diriku dan mengembalikannya pada security tersebut. Dan aku memasukan suratku kedalam lokernya. Sesederhana itu.
.
.
1 September 2017
Aku, Yoongi, Taehyung melangkahkan kaki ke kantin seperti biasa. Aku melebarkan mataku ketika aku melihat sosol itu duduk dimeja yang biasa aku dan temanku tempati. Kim Seokjin.
.
.
"Hey kau sedang apa disini?" Ucap Taehyung sambil mengodeku. Sial, aku tahu apa maksudnya.
"E-oh? Aku sedang menunggu temanku membeli makanan" jawab Seokjin.
"Kau tidak tahu kami siapa?" Sekarang giliran Yoongi untuk menggodaku.
"Eeumm.. dari badge kalian, siswa tahun kedua?"
"Hey Yoongi sepertinya dia sama sekali tidak mengenal kita" ucap Yoongi. Sedangkan aku hanya bisa diam menatapnya.
"Heuh.. kau tidak tahu? Ah tak masalah.. yang terpenting adalah.. ini tempat kami nona, dan kau menempatinya tanpa izin, Taehyung-ah.. mau kita apakan dia?" Aku bersumpah jika setelah ini tamat riwayatmu Min!
"Ah sudah! Merepotkan saja! Cepatlah minggir ini tempat kami" ucap Taehyung.
"Hey! Apa yang kalian lakukan eoh?!" Oh aku tahu dia, dia teman dekat Seokjin.
"Jimin?"
"Kau tak apa Jin?"
"A-aku tak apa"
"Hey! Kalian itu! Meja ini milik sekolah! Bukan milik kalian! Ya berarti bisa ditempati siapa saja
jika kosong! Jangan seenak jidat menyuruh orang pergi dari sini!"
"Jim.." aku melihat Seokjin mencoba menenangkan pria pendek itu.
"Tunggu sebentar.." Jimin melihat badge kami.
"Yak! Kalian bahkan berani kurang ajar pada kami yang lebih tua hah? Dimana sopan santun kepada yang lebih tua?!" Ucapnya meledak - ledak.
Yoongi mendekati Jimin, menepis jarak diantara mereka. Oh aku tahu sekali dia tertarik dengan pria berambut peach itu.
"Kau boleh duduk disini manis, tapi kau harus menjadi pelayanku terlebih dahulu" benarkan? Ia bahkan menggodanya terang - terangan.
Aku melihat pria pendek itu mengambil ancang - ancang untuk memukul Yoongj, namun tidak jadi karena aku menangkap tangannya lalu ku hempaskan begitu saja.
"Sudah cukup" putusku.
"Yoongi, Taehyung kita cari tempat lain" lanjutku.
"Oh ayolah Kim Namjoon, sejak kapan kau mengalah untuk orang lain?" Tanya Taehyung
"Aku bilang, kita cari tempat lain.. moodku sedang tidak bagus" sial, kalian benar - benar aku oastikan mati setelah menggodaku habis - habisan.
.
.
Hari ini sekolah dibubarkan karena ada rapat guru dan komite, tentu saja mereka berbohong. Karena rapat diadakan karena aku, Yoongi, dan Taehyung berkelahi lagi dengan siswa sekolah lain membuat gerombolan anak manja itu masuk ke rumah sakit. Dan hari itu juga, ayahku datang dengan penuh amarah, mengucapkan kata - kata yang sering ku dengar walaupu aku tak suka, memukulku lagi untuk kesekian kalinya, entah.. aku sudah tak menghitungnya.
.
.
"Hey.. kau tak apa?" Sosok itu menyadarkan lamunanku, aku mengarahkan pamdanganku ke arahnya, itu Kim Seokjin.
"Apa maumu?" Sial, kenapa malah kata itu yang terucap padanya?
"Kau tak apa?" Ia melihatku.
"Apa pedulimu?" Mati saja kau Kim Namjoon dengan mulut tajammu!
"Bibirmu berdarah" aku terpaku, tidak ada orang selain ibu yang memperhatikanku seperti ini, lembut sekali.
"..." bibirku kaku sekali untuk membuka.
Ia mengeluarkan P3K, membersihkan lukaku dan memberikan antiseptik agar tidak terjadi infeksi. Aku membiarkannya merawat sudur bibirku, jarak kami sangat dekat, aku bisa melihat wajahnya dengan sangat jelas. Apa ia manusia? Aku tidak percaya itu.
"Nah selesai! Jangan makan dulu ya nanti antiseptiknya termakan olehmu" ucap Seokjin.
"Ayo berdiri.. kakimu tak apa kan? Apa ada yang sakit lagi?" Ia merangkul bahuku untuk membantuku berdiri, memeriksa sekali lagi apa ada luka dibagian lain.
"Sepertinya sudah tak apa.. kalau begitu aku duluan ya, hati - hati dijalan" rasanya aku tak rela ia meninggalkanku, tapi kaki sialku tidak bisa bergerak dan kaku ditempat.
.
.
Hari ini aku melihatnya dengan seorang pria, teman kelasnya, Jung Hoseok. Aku tidak suka ia berdekatan dengan Hoseok entah kenapa, aku tidak suka Seokjin berdekatan dengannya. Tadi siang mereka berdua berbincang dan bercanda bahagia di gazebo. Dan sekarang apa? Pulang bersama? Sial! Aku membenci pria itu.
Keesokkannya seperti biasa, aku akan meletakkan surat diloker Seokjin untuk pagi hari, siang, dan sebelum pulang sekolah. Dan kebiasaanku adalah menunggunya membaca surat itu untuk melihat reaksinya. Setelah Seokjin membaca suratku dan pergi aku akan kembali ke lokernya untuk meletakkan surat berikutnya.
Ku buka lokernya, dan disana terdapat amplop berwarna biru, dan tanganku yang gatal tidak bisa untuk tidak membuka surat tersebut.
.
.
_To: Tuan tanpa nama
Hey, aku tidak tahu bagaimana aku membalas pesanmu, jadi aku coba untuk menulisnya disini. Dia Hoseok, temanku, aku dan dia kebetulan sekelompok untuk mengerjakan tugas dari Ms. Jessica'
.
.
Tak terasa senyuman itu aku sunggingkan dari bibirku, rasanya pipiku panas hanya dengan membaca suratnya. Ia tahu aku ada, itu membuatku cukup senang dan aku pun tidak bisa untuk tidak membalas suratnya.
.
.
_To: Jinseok
Baiklah aku percaya denganmu, kau harus hati - hati ya.. dan kau bisa memanggilku RM
.
.
Jam makan siang pun tiba, aku melihat Seokjin dan teman - temannya dibangku yang biasa aku, Yoongi, dan Taehyung gunakan. Awalnya Taehyung tak suka jika tempat kami diambil, sebenarnya aku akan membiarkan mereka duduk disitu. Tapi kata - kata Hoseok membuat darahku mendidih.
"Apa orang tua kalian tak pernah mengajari cara bersopan santun?"
Sial, aku sudah tidak tahan lagi. Ku angkat tanganku untuk meninjunya, namun aku masih kalah cepat dengan Seokjin yang kala itu ingin melerai kami. Seokjin terkena pukulanku, ia terluka, Seokjin-ku terluka. Ku rasa aku akan membunuh diriku sendiri setelah ini.
.
.
Ku langkahkan kakiku keruang UKS, tidak masuk, seperti biasa, melihatnya dari kejauhan. Sesekali ia meringis karena luka yang aku berikan, hatiku seakan diremas, ia yang terluka tapi mengapa aku yang sakit?
Aku ke lokerku untuk mengambil beberapa obat pereda nyeri, anti inflamasi, dan antiseptik. Obat - obat yang biasa aku gunakan tiap kali berurusan dengan anak sekolah lain. Aku ambil satu kantung obat itu. Lalu meletakkan di loker Seokjin, tak lupa suratnya.
Mungkin surat ini, surat terakhir yang akan aku berikan padanya. Aku tidak ingin menyakitinya, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak menunggu suratku dibaca olehnya. Terlalu takut, jika ia mengetahui identitasku.
Tapi rasanya tanganku terlali gatal untuk tidak menulis surat untuknya, dan setelah sekian lama aku menulis surat untuknya lagi. Tepat dihari kelulusannya.
.
.
_To: Jinseok
Selamat atas kelulusanmu Jinseok, aku dengar kau juga dapat beasiswa ya? Kau memang hebat.. aku senang mendengarnya. Maaf selama ini aku menganggumu terus dengan menulis surat ini terus menerus. Ku harap kau mau memaafkanku untuk ini, dan kesalahanku sebelumnya. Dan semoga kau sukses dikuliahmu nanti sampai kau menjadi apa yang kau inginkan. Te amo.. Jinseok"
.
.
Aku tak berniat untuk menunggunya untuk membuka surat yang kuberikan, tapi aku harus mengambil beberapa buku di loker karena sebentar lagi kelas akan dimulai dan itu kelas yang akan dimasuki kepala sekolah. Aku tak ingin mengambil resiko telat jika ujungnya si tua itu mengadukkan pada ayah. Dan, lokerku hanya berbeda 2 loker dengan loker Seokjin. Bahkan aku tidak sadar jika Seokjin sedang disana.
Namun tiba - tiba aku mendengar suara benda terjatuh. Aku bisa melihat Seokjin memungut beberapa kertas dan memasukkannya kedalam kotak. Aku hendak membantunya untuk mengambil kertas - kertas itu. Dan aku terkejut saat aku mengetahui bahwa semua itu adalah surat yang aku berikan pada Seokjin. Dia menyimpannya?
.
.
"Hey, kau.. Namjoon kan?" Aku tersadar dari lamunanku lalu mengangguk.
"A-ah.. terimakasih telah mengambilnya" aku memberikan amplop - amplop itu kepada Seokjin.
"Itu apa?" Tanyaku basa - basi.
"Eum.. surat?" Jawabnya.
"Surat apa?"
"Oh, itu rahasia" Dan aku melihat Seokjin tersenyum manis. Apa karena surat ini?
"Kau tidak membuangnya? Surat itu akan menjadi sampah juga nantinya"
"Tidak surat ini, yang ini sangat berharga untukku" senyum itu tak lepas dari wajahnya.
"M-maafkan aku" Ia mengarahkan pandangannya padaku.
"Untuk?"
"Aku memukulmu waktu itu" .
"Ah.. itu.. tak apa, sudah aku maafkan" oh Tuhan, apa kau tidak salah mengirimkan malaikan seperti Seokjin ke dunia?
"K-kau tak marah?" Tanyaku ragu.
"Untuk apa marah?" Seokjin menyunggingkan senyumnnya.
"Eumm..."
"Aku duluan tak apa?"
"Eum.. tak apa duluan saja.. hyung"
"Oke, kau lanjutkan kelasmu! Jangan membolos dan jangan berkelahi lagi jika kau ingin cepat - cepat lulus dari sini! Oh ya.. jangan menyakiti dirimu sendiri.. Namjoon" Aku terdiam.
"Bye!" Seokjin melambaikan tangannya kepadaku.
.
.
Malam ini adalah prom night bagi anak tingkat akhir yang telah lulus dari sekolah ini. Tapi acara ini membebaskan siapa saja untuk hadir, hanya anak sekolah disini tentunya. Aku mengarahkan pandanganku ke segala tempat untuk mencari Seokjin saat terdengar alunan musik lembut itu. Disana, aku meihat Seokjin duduk dikursi agak jauh dari keramaian dansa. Entah keberanian dari mana, aku mengulurkan tanganku kedepan Seokjin membuat dirinya sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihatku.
.
.
"Namjoon?"
"Kau sendiri hyung? Mau berdansa denganku?
"Aku tidak bisa berdansa"
"Tak apa, pelan - pelan saja"
.
.
Dengan ragu ia meraih uluran tanganku, sunggu aku bersumpah bahwa tangannya kasar tapi lembut, mengerti maksudku? Dari tangannya aku tahu bahwa ia pekerja keras.. namun tabgannya tetaplah lembut. Aku mengeratkan tangan kami agar tidak lepas menariknya lembut menuju pusat dansa disana. Aku membimbing malaikatku ini untuk berdansa mengikuti irama.
.
.
'Ddddrrrrrtttttt'
Aku melepaskan tangannya perlahan dari pinggang dan pundak Seokjin.
"Maaf hyung, sebentar"
Aku memeriksa ponselnya, terdapat panggilan masuk dari rumah sakit, pasti ibuku.
"Halo?" Ucap Namjoon.
"Namjoon-sshi, tolong segera ke rumah sakit sekarang.. ibu anda mengalami shock dan kejang" ucap suster Jung.
"Baiklah" Aku menutup sambungan telpon itu dengan tenang.
"Ada apa?" Hanya sebuah senyuman yang bisa aku lakukan untuk menjawabnya.
"Seokjin hyung.."
"Ya?"
Mengangkat wajahku sendiri menatap mata pria dihadapanku.
"Selamat atas kelulusanmu, aku dengar kau juga dapat beasiswa ya? Kau memang hebat.. aku senang mendengarnya"
"Ah.. iya, terima kasih" Seokjin tersenyum.
"Semoga kau sukses dikuliahmu nanti sampai kau menjadi apa yang kau inginkan"
"Heum.. ternyata kau sangat baik Namjoon" jawabnya.
"Aku tak bisa berlama - lama disini" Bisa kulihat dahi Seokjin mengerut.
"Kenapa? Apa ayahmu melarang?"
Aku mendekat kearah Seokjin, merangkul tubuh pria cantik itu dalam pelukanku, perlahan mengecup kening Seokjin sedikit lebih lama membuat sang empu dibuat terkejut kaku. Kemudian aku menatap mata Seokjin kembali sengan berat hati. Jadi.. perpisahan lagi kah?
"Te amo.. Jinseok" Membisikan kalimat itu kepada Seokjin.
Setelahnya aku menjauhkan diri dari Seokjin, menerobos kerumunan dibelakang dan pergi ke rumah sakit.
Sungguh, aku mencintainya. Tapi aku apa? Apa yang bisa ku perbuat? Aku bukan siapa - siapa, hanya seseorang yang kebetulan masuk kedalam ingatannya yang kapan pun bisa dilupakan. Aku akan dilupakannya.
Dan setelah semuanya berakhir, aku akan kembali menjadi boneka ayah yang kejam, dingin, dan tak pandang bulu.
Flashback Off
- Author POV -
.
.
"Maafkan ibu, Namjoon-ah.. karena ibu kau menjadi seperti ini" wanita itu memeluk anaknya.
"Jangan salahkan dirimu ibu, ini semua salahku"
"Ya! Ini juga salahmu! Kenapa kau tidak bicara langsung saja pada Seokjin eoh?"
"Aku takut dia tidak menyukaiku"
"Aku tidak yakin kalau kau pintar Namjoon-ah"
"Ibu.. ini anakmu jika kau lupa"
"Kau harus bilang padanya nanti"
"Baik-" ucapan Namjoon terpotong.
"Didepanku" lanjut ibunya.
.
.
'Tok! Tok! Tok!'
Pintu itu terbuka dan memperlihatkan sosok cantik yang Namjoon tunggu - tunggu dari tadi, Kim Seokjin.
.
.
"Maaf menganggu waktunya Tuan, Nyonya.. seperti perkataan Tuan tadi, ada yang bisa saya bantu?"
"Jangan seformal itu Jinseok" jawab Namjoon.
"Ah.. Seokjin-ah, anakku yang pe-ma-lu ini ingin bicara denganmu" ucap wanita itu.
"Ibu~" suara Namjoon menginterupsi.
"Ah.. baiklah.. baiklah.. kalian cepat bicara" ucapnya tak sabar.
"Eumm.. Jin, kau tahu.. aku yang mengirimimu surat selama di sekolah?" Seokjin mengangguk.
"Eumm.. apa kau punya kekasih? Tunangan? Suami? Istri?" Seokjin menggeleng.
"Eum... aku ingin mengatakan ini dari dulu.. Seokjin, apa kau mau jadi kekasihku?" Diam, semenit kemudian, Seokjin menggeleng.
"A-ah.. kau pasti tidak suka denganku, maafkan aku" ucap Namjoon lesu.
"Apa kau tidak bertanya apa aku ingin menikah denganmu? Umurku sudah cukup untuk menikah jika kau mau tahu" Seokjin akhirnya membuka suara membuat Namjoon dan ibunya terkejut.
"A-aapa.. kau mau menikah denganku? Menjadi istriku? Kim Seokjin?" Tanya Namjoon berkeringat dingjn.
"Te amo (I love you).. Kim Namjoon.. aku mau menikah denganmu" ia tersenyum.
"Sejak kapan? K-kau.."
"Sejak pertamakali kau memberikan surat itu" Seokjin tersenyum manis.
"Aku rindu suratmu" lanjutnya, seketika wajah kedua pria itu memerah. Seokjin tak tahu keberanian darimana ia menyatakan cinta dihadapan pasiennya.
"Te amo mucho tambiƩn (Love you too) tatapan Namjoon melembut, tersenyum pada pria dihadapannya.
Tanpa sadar, ibu Namjoon menyilangkan tangannya didepan dada dan tersenyum jahil.
"Lalu... kapan kalian menikah?"
"M-WO?!" / "M-WO?!" ucapnya bersamaan.
"Ibu..." ucap Namjoon.
"Apa?! Aku ingin cepat menimang cucu!" Tuntut wanita itu. Dan dihadiahi dengan tatapan kaku Seokjin.
"Tapi ayah menjodohkanku dengan Yeri karena hubungan perusahaan ayah dengan perusahaan ayahnya Yeri" Namjoon duduk dengan lemas.
"Oh itu tidak akan terjadi!" Ucap wanita itu bangga.
"Kenapa ibu bisa berpikir seperti itu?"
"Karena... walaupun ibu masih di rumah sakit, diam - diam ibu membeli saham perusahaan ayahmu dan sekarang.. ibu menjadi pemegang saham terbesar" Oke, Namjoon tidak bisa berkata apa - apa lagi.
"Dan ibu akan menentang perjodohan bodoh itu" lanjut wanita itu.
"Kau yang terbaik bu!" Ucap Namjoon bahagia.
"Lalu.. kapan kalian menikah?"
"Bulan besok bagaimana Jinseok?" Seokjin hanya bisa pasrah dan mengangguk setuju setidaknya setelah Namjoon bertemu dengan orang tuanya.
.
.
Love letters
.
Aku merasakan kehadiranmu, walaupun aku tidak tahu siapa dirimu. Tapi siapapun kau, aku mencintaimu. Jadi bisakah kau menampakkan dirimu dihadapanku? - Kim Seok Jin.
.
.
.
THE END
Vlienart
