"Perkenalkan, dia adalah guru matematika yang magang dan masih bersekolah di Universitas Konoha yang akan menggantikan pak Asuma karena mulai hari ini pak Asuma mengajar kelas 12."
Senyap. Seluruh kelas menahan napas.
"Saya Uchiha Sasuke. Silakan panggil saya Sasuke. mulai hari ini saya menggantikan pak Asuma untuk mengajar mata pelajaran matematika sekaligus menjadi pembina olimpiade matematika. Salam kenal dan mohon bantuannya."
Walaupun samar dan tipis, gue melihatnya menyeringai.
Uh-Oh. Apa nih?
.
.
.
.
Naruto & All characters belongs to Masashi Kishimoto
Warning : ooc, typos, bahasa tidak baku dan disarankan untuk membaca Pak Ganteng! Dulu.
if you're not mind to read this story just get away from my play ground.
.
.
.
.
.
"It would be mortifying to the feelings of many ladies, could they be made to understand how little the heart of a man is affected by what is costly or new in their attire... Woman is fine for her own satisfaction alone. No man will admire her the more, no woman will like her the better for it. Neatness and fashion are enough for the former, and a something of shabbiness or impropriety will be most endearing to the latter."
―Jane Austen,Northanger Abbey
.
.
.
Gue merutuki penampilan gue hari ini. Memang, karena semalam tidak bisa tidur gue jadi dressing unattractive gini. Biasa banget cuma dengan vintage leather satchel bag-nya Topshop last season yang seharusnya sudah didaur ulang, blue navy cardigan G.A.P, Mm6 black shoesnya Maison Martin Margiela demi menutupi kecacatan seragam sekolah yang oh-so boring banget. Seragam KHS yang tidak jelas, semacam sailor kuno warna biru dan plated skirt selutut yang membuat siapapun melihat memutar mata bosan, ga terkecuali dengan gue. Dan oh, tentu saja gue tidak segila itu membiarkan rok lipit tua menutupi lutut indah ini. Gue membiarkannya menggantung sekitar 10cm diatas lutut.
Sekali lagi, gue merutuki penampilan gue yang tidak se-stunning biasanya.
Pak Sasuke sekarang tengah mengabsen satu persatu murid. Gue sedang mempersiapkan diri gue demi 2 detik penyebutan nama, dan 2 detik untuk mengacungkan tangan. I'm seriously stupid. Ada apa sih dengan gue? Ga biasanya gue salting ga jelas begini.
"Haruno.. Sakura?" Pak Sasuke memanggil nama gue.
"Hadir."
1 detik, 2 detik, 3 detik… gue melihat seringai tipisnya. Uh-oh.
Selanjutnya, pak Sasuke mulai menuliskan rumus trigonometri beserta contoh soal dan menjelaskannya. Kalau sudah begini, biasanya gue hanya akan memasang bluetooth headset dan memutar playlist favorite gue. Tapi kali ini tidak. Gue benci mengakuinya, tapi suara baritone pak Sasuke terdengar sangat maskulin.
"Ada yang bisa mengerjakan soal ini?"
Gue segera mengacungkan tangan.
"Silakan."
Saat itu gue menyadari, soal ini bukan soal yang levelnya setara dengan buku paket kelas sepuluh. Ini soal olimpiade. Sorry to say, but still. Terlalu mudah untuk gue. Setelah selesai menuliskan jawaban, gue mengembalikan spidol padanya.
"Cepat sekali."
Gue bingung harus jawab apa. Dia mengecek jawaban gue.
"Ini benar, Haruno. Bagus."
Gue berjalan kembali ke tempat duduk Uh-oh. Dia mengingat nama gue? Tenten nyaris ketiduran saat gue kembali duduk. Nyaris sampai gue mencubit kecil lengannya.
"What's your problem?" Tenten menghardik ganas.
"You." Dia memutar mata bosan.
"Sekarang semua kerjakan text book halaman 189."
Semua berdecih dan mulai membuka buku masing-masing. Kurang dari 10 menit gue telah mengerjakan 20 soal itu. Nyaris saja gue pergi ke alam mimpi saat mendengar..
Teng-Teng-Teng
"Baik. Jam selesai, lanjutkan dirumah. Ditambah dengan halaman 192. Itu tugas kalian untuk lusa."
"Baik, pak."
"Dan-oh, adakah disini yang lolos seleksi olimpiade matematika putaran kedua?"
Shikamaru dan gue mengacungkan tangan. Sekilas gue melihat pak Sasuke menaikan satu alisnya.
"Mulai minggu depan, saya adalah pembina kalian menggantikan pak Asuma."
"Baik, pak." Shikamaru menjawab. Dia melihat gue lalu meneruskan,
"Apa kau ada masalah dengan itu, Haruno?"
"Tidak."
"Bagus." Pak Sasuke melangkah keluar dari kelas. Kemudian suasana menjadi ramai. Cewek-cewek membicarakan pak Sasuke dan berteriak histeris. Sebagian lagi yang masih waras, termasuk gue dan Tenten, memilih untuk makan di kafetaria.
.
.
.
.
"You can never be overdressed or overeducated."
―Oscar Wilde
Gue melirik Stella Roman Numeral Watch-nya Juicy Couture yang melekat manis di tangan gue, ternyata sudah pukul 4 sore saat gue melangkahkan kaki ke parkiran.
"Oh, look who's here?" Suigetsu tersenyum
"Gimana kabar lo?" Sebenarnya, gue sedang malas berbasa-basi.
"Ummm.. good. By the way, lo dateng ke private party nanti malam?" Ini dia.
"Tidak tahu. Ada beberapa proyek yang masih belum selesai." Suigetsu Hozuki merupakan anak dari Haru Hozuki. ibunya adalah rekan bisnis tou-san yang juga teman sosialitanya kaa-san.
Did I tell you?
Kaa-san adalah seorang aristokrat Rusia, seorang sosialita dan pemilik butik online terkenal. Sedangkan Tou-san adalah pemilik bisnis real-estate dan property di Konoha. Adik gue? Shion, seorang rokes yang hidupnya paling bebas seperti tidak ada beban, dia cukup pintar tapik sayang sekali tidak sepenuhnya menuruni kecerdasan tou-san yang sepenuhnya turun ke gue. Entah hanya perasaan saja, ataukah dia memang sering merasa tidak adil tiap kali tou-san pulang dan memuji gue. Keluarga Haruno sering kali menganggap dia abnormal, dan tentu saja artinya itu normal di kalangan masyarakat.
Terdengar sempurna?
Sebaliknya, gue selalu merasa keluarga ini mengalami disfungsi keluarga. Dimana peran anggota keluarga tak lagi sebagaimana layaknya; orang tua gue tidak tidur seranjang karena keduanya entah pergi kemana tidak jelas, dan di rumah gue lebih sering dilayani pelayan.
Pekerjaan tou-san lah yang membuat credit card gue tidak pernah menunggak. I might be wearing everything new in every season but believe it or not, gue lebih sering menggunakan uang hasil review blog, rancangan kolaborasi dengan beberapa designer pemula dan pemberian teman-teman 'in-cast' brand yang membuat gue memiliki barang-barang this season selangkah lebih cepat dari mereka yang tidak memiliki koneksi seperti gue. And this way, keluarga gue lebih dari kata 'berkecukupan' dalam segi finansial, but still tidak se-kaya pengusaha tambang emas uchiha :)
"Bareng Kushina ya? Blog lo makin terkenal. Gue juga sering dengar perkembangan clothing line lo sama dia."
"Se-terkenal itu kah?" Gue tertawa.
"Ga ada yang lebih terkenal selain blog yang selalu dapet perhatiannya Vogue Teen dan Elegant."
"Berlebihan." Percakapan ini terasa seperti seorang perempuan yang sedang kissing ass; mencoba menjadi model untuk di post ke blog gue, menggelikan.
"I'm always waiting for you to come, darl." Suigetsu memberikan air kiss dan langsung masuk ke mobilnya.
What the heck.
.
.
.
Gue mengangkat telepon dengan kemalasan tingkat dewa.
"Jam 8 di Rouge, honey."
"Males ah, kayak nya gue ga dateng Kush."
"Ayo dong, ini private party paling kewl." Wanita rambut merah berusia 21 tahun ini menggunakan senjata terbaiknya; merajuk.
"Yaudah, yaudah."
"Yes! This is my girl. Gue nungguin outfit paling fab malem ini."
"Im always fabuolus."
Sip, nasi udah jadi dubur. Eh bubur. Gue udah terlanjur nyetujuin.
Lets see what to wear:
Silk-chiffon, lace and tulle gown-nya Oscar De La Renta, check
Alexander Wang Nika woven leather sandal, check
Chanel rouge allure velvet luminous matte lip color, check
Stunning make-up by MAC, check
Alexander McQueen Leather Union Jack Box Clutch, check
Dan terakhir.. I will not go wrong by smelling wrong, Thierry Mugler Angel Midnight Star Extrait de Parfum, check.
Setelah iPhone dan LV mini wallet telah masuk dalam jack box clutch gue, apa yang kurang?
Umm.. sepertinya gue sedang tidak ingin menyetir dove black camry gue sendirian.
Would rather to go with pak Hayate then.
.
.
.
"Dress shabbily and they remember the dress; dress impeccably and they remember the woman."
― Coco Chanel
Rouge sudah jadi tempat paling crowded malam ini. Gue segera ke bar dan mencari Kushina. Sambil lalu, gue ber-air kiss ria dengan beautiful people yang mengenakan outfit-outfit juicy. Tapi tetap saja, gue yang paling fab disini.
Ah itu dia, rambut merahnya memang kedua yang mencolok setelah rambut pink gue. "Hey, honey." "Yeah." Gue membalas sekenanya.
"What's in? Oscar de la renta? Astaga." Ah. Reaksi lebay.
"Kan gue udah bilang, gue yang paling fabulous."
"Percaya kok. USD $10.000 nempel di badan lo."
"Ralat, lebih."
Gue memandang orang-orang dalam Rouge bosan. Selalu kaya gini. Ga adakah yang jenuh?
Sekali lagi, gue menyapukan pandangan ke sekeliling sampai gue menemukan─Uh-oh
"Kush! Kush!"
"Apasih?"
"Itu tamu reguler butik HauteCouture lo bukan?" Gue mengarahkan telunjuk gue pada seorang pria tampan berambut panjang yang mengenakan kemeja hitam.
"Oh, itu Itachi Uchiha. Kenapa?"
"Bener tamu reguler elo?"
"Ibunya tamu reguler, dia sih enggak. Kadang dateng ke launching new brand. Gue kenal dia kok, tapi tumben banget dateng ke private party." Nah, ini dia. "O-oh" Itachi berjalan kearah bar. "Ga biasanya lo kepo."
"Gue tidak pernah kepo."
Itachi mendekat. Pura-pura sibuk dengan iPhone ternyata tidak membantu. Itachi datang.
"Itachi. Apa kabar? Cepat sekali, sudah kembali dari Suna."
"Cukup baik. Ah ya, memang urusan disana sudah di handle tou-san. Kau sendiri?"
"Seperti biasa. Kenalkan, ini sahabat sekaligus partner 2nd brand gue, Heltern. Haruno Sakura."
Astaga.
Sepertinya, tidak ada yang bisa mengalahkan pesona kakak-beradik ini.
つづく
Balasan review
Lily kensei : okedeh, di chapter2 depan. Sekarang lagi fokus ke hidupnya sakura
Nadialovely : udah di pm yaaa wks~ XD
Karimahbgz : iya makasih kalo suka, jadi enak XD
Hime kazekhawa : ini udah update kilat wksss~ XD
Mako-chan : iyaaa baca terus yaaaah XD
[a/n : sebenarnya saya tidak terlalu peduli dengan berapa review yang masuk ke kotak review saya. Tapi kalau melihat jumlah views di story saya rasanya sedih sekali karena begitu banyak yang membaca tapi tidak meninggalkan feedback apapun. Maukah anda sedikit menghargai saya dengan meninggalkan sepatah-dua patah kata review? ]
