Chapter 2 : Fever

Disclaimer : Boboiboy © Monsta Studio

Warning : AU , Boboiboy elemental and Yaya are sibling, Gaje, OOC , Humor garing, Alur kecepetan , No super power , de el el. disini aku pasang ratenya masih T.

Summary : Kejadian saat Halilintar sakit... sikapnya yang berubah 180 derajat.

.

.

Happy Reading and…. Don't like don't read this fanfiction !

Para Boboiboy bersaudara bersekolah di sebuah kompleks Sekolah Pulau Rintis yang disana ada berbagai jenjang pendidikan mulai dari TK sampai Universitas. Walau mereka ber-enam bersekolah di satu kompleks, tapi mereka jarang bertemu sehingga saat akhir pekan biasanya mereka habiskan waktu bersama.

Saat ini hujan lebat mengguyur Pulau Rintis disertai angina kencang dan petir yang menyambar-nyambar. Kelima Boboiboy bersaudara sedang berkumpul di ruang tengah. Seharusnya mereka menghabiskan waktu bersama sambil bercengkrama tapi walau hari sabtu sudah tiba, tapi beberapa dari mereka masih disibukkan dengan urusan sekolah. Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, harusnya mereka sudah makan malam tapi mereka sedang menunggu Halilintar yang belum pulang sekolah karena ada latihan wu shu untuk kompetisi . Sembari menunggu, mereka melakukan kegiatan masing-masing. Ice masih berkutat dengan laptopnya mengerjakan tugas , Taufan dan Gempa sedang bermain Black Jack (*) , Blaze sedang berhadapan dengan musuh bebuyutannya yaitu tugas Sains sementara si bungsu Yaya sedang membaca 10 komik yang baru dibelinya sepulang sekolah. Dan saat ini dia sedang membaca komik keenam.

" Yes aku menang lagi." Kata Gempa senang. Ia sudah menang 9 kali dari Taufan.

" Kau curang." Tuduh Taufan. Ia mulai kesal karena selalu kalah dari kakak kembarnya itu. Ia tak menyangka kalau Gempa itu master Black Jack.

"Heee, aku gak curang. " Kata Gempa membela diri.

"Cih, dah ah aku malas main lagi. Kalah terus dari Gempa." Kata Taufan sambil melempar kartu ditangannya.

"Hahaha bukannya tadi kamu yang nantangin main Black Jack? Kenapa sekarang kamu marah Cuma gara-gara kalah, hm?" kata Gempa sambil menyeringai.

'Huh aku kan gak tau dia seahli itu' Batin Taufan.

"Ugghhh." Erang Blaze mendadak membuat semua orang diruangan itu menatapnya.

"Kenapa kak?" Tanya Yaya yang duduk didekat Blaze.

"Entah, tiba-tiba kepalaku pusing rasanya aku mau muntah." Kata Blaze yang kemudian langsung lari kekamar mandi.

"Oh iya Hali belum pulang ya?" kata Ice menyadari ketidak hadiran adiknya itu.

"Iya tumben jam segini belum pulang." Jawab Gempa sambil melihat jam diruangan itu.

"Ugh." Blaze muncul dari kamar mandi. Jalannya sempoyongan.

"Kamu gak papa Blaze?" Tanya Taufan yang langsung memegangi Blaze.

"Kayaknya yang perlu kalian khawatirkan itu bukan aku deh, tapi-"

'BRAK'

Terdengar suara pintu depan terbanting memperlihatkan sosok Halilintar yang basah kuyup. Nafasnya memburu. Sepertinya dia lari dari sekolah menuju rumah yang lumayan jauh. Tak berapa lama tubuh Halilintar ambruk. Semua orang yang melihat itu panik.

"Hali!" Ice langsung berlari ketempat Halilintar. "Yaya ambilkan handuk, Gempa kamu siapin air hangat sama baju ganti. Taufan kamu tetep jagain Blaze." Perintah Ice yang langsung menggendong tubuh Halilintar menuju ke sofa. Tak lupa ia menutup pintu karena udara dingin dan air hujan mulai masuk kedalam rumah itu.

'Panas' Batin Ice saat ia merasakan suhu tubuh Halilintar.

"Kayaknya dia demam." Kata Ice sambil mengeringkan tubuh Halilintar dengan handuk yang diberikan Yaya.

"Pantes kepalaku pusing." Kata Blaze yang sudah duduk didekat Halilintar. Walau sifat mereka berdua bertolak belakang, tapi namanya anak kembar memang pada taraf tertentu bisa merasakan apa yang dirasakan satu sama lain.

"Kak aku udah siapin air hangat sama baju ganti di kamar Hali." Kata Gempa 20 menit kemudian.

"Bagus, Taufan bantu aku angkat Hali kekamar." Kata Ice yang langsung direspon oleh Taufan.

Setelah sampai dikamar Halilintar, Ice membasuh tubuh Halilintar dengan air hangat agar Halilintar tak masuk angin. Dia juga mengganti baju Halilintar. Walau sudah besar tapi tak ada rasa risih bagi Ice untuk melakukan semua itu. Karena dia anak sulung jadi Ice beranggapan dia juga harus merawat adik-adiknya selama kedua orangtua mereka tak dirumah. Setelah selesai, tak berapa lama Yaya masuk kekamar Halilintar.

"Kak supnya tadi udah aku panasin." Kata Yaya sambil membawa nampan berisi sup, segelas air putih dan obat penurun demam berbentuk sirup. Karena ia tau kakaknya itu tak bias minum obat yang berbentuk butiran.

"Makasih, kamu taruh di atas meja dulu aja." Kata Ice sambil menunjuk meja belajar yang ada disamping tempat tidur.

"Kamu sama yang lain makan dulu aja. Nanti aku nyusul." Lanjutnya.

"Iya." Kata Yaya yang kemudian keluar kamar.

"Ngghh." Halilintar perlahan membuka matanya. Ia mengrjap beberapa kali. Kepalanya terasa sakit saat dia berusaha duduk sambil dibantu Ice.

"Kak Ice." Kata Halilintar dengan suara serak.

"Ini kamu makan dulu terus minum obat." Kata Ice.

"Uggh, suapin." Kata Halilintar. Ice menghela nafas. Halilintar kalau sakit memang jadi manja terutama pada Ice dan Taufan .Ia lalu mengambil mangkuk sup dan mulai menyuapi Halilintar.

"Week pahit." Kata Halilintar saat dirasakan sup itu mulai melewati kerongkongannya.

"itu karena kamu lagi sakit." Kata Ice sambil terus menyuapi Halilintar.

"Udah kak aku gak mau lagi." Kata Halilintar cemberut setelah 3 sendok sup masuk kemulutnya. " Hali tak suka makanan pahit." Kata Halilintar kembali membaringkan tubuhnya.

"Haah, yaudah minum obat dulu nih baru tidur." Kata Ice menyodorkan botol obat dan gelas.

"nggak mau. Aku mau tidur aja." Kata Halilintar.

Sebuah perempatan imajiner muncul didahi Ice. Ia memijit keningnya. Ia lalu beranjak menuju pintu.

" TAUFAAAANNN." Panggil Ice dari kamar Halilintar. Padahal kamarnya ada dilantai dua. Tak berapa lama si empunya nama muncul.

"Kenapa kak?" Tanya Taufan panic. Tak biasanya kakak sulungnya itu mengeluarkan suara keras.

"Kamu paksa si Hali minum obat sana! Kepalaku pusing aku mau makan dulu. Kamu urusin Hali ya." Kata Ice yang kemudian turun kelantai 1.

"Huh kok aku sih." Kata Taufan dengan suara sangat kecil. Takut kakaknya itu dengar. 'Sepertinya kak Ice lagi bad mood karena banyak tugas' batin Taufan ia lalu menutup pintu dan mendekati ranjang Halilintar.

"Hali bangun minum obat dulu." Kata Taufan sambil mengguncangkan bahu adiknya itu.

Halilintar melirik melihat siapa yang membangunkannya. Saat ia melihat sosok Taufan….

'Bruk'

"Kak Upan~" kata Halilintar memeluk Taufan. Inilah yang membuat Taufan malas merawat Halilintar kalau sedang sakit.

"Ugh Hali lepasin, panas tau." Taufan paling benci dipeluk laki-laki walau itu adiknya sendiri.

"Nggak mau." Kata Halilintar dengan nada manja.

"Lepasin. Kamu harus minum obat dulu." Kata Taufan berusaha sekuat tenaga melepaskan jeratan maut Halilintar. Lalu tanpa diduga Halilintar mengecup pipi Taufan. Seketika bulu kuduk Taufan berdiri.

"GYAAAA" jeritnya mulai panic. "HALI LEPASIN." Lanjutnya mulai mendorong tubuh Halilintar. Dan langsung saja Halilintar terhempas kekasur. Wajah Taufan memerah, nafasnya tak teratur. Ia mulai menjauhi tempat tidur.

"Ugh kak Upan kok dorong Hali sih? Iks.. " kata Halilintar mulai terisak. Satu hal lagi kalau Halilintar sakit ia akan bersikap seperti anak kecil.

Taufan yang melihat Halilintar hampir menangis langsung mendekat. "Eh, maaf deh kakak gak sengaja, habisnya kamu sih. Nah ni minum obat dulu." Kata Taufan mengambil obat yang tegeletak di atas meja.

Halilintar hanya menatap botol obat dan Taufan secara bergantian. Lalu ia menunjuk mulutnya sendiri. Taufan bingung apa maksud Halilintar. Halilintar menggembungkan pipinya karena Taufan tak paham apa maksudnya.

"Apa?" Tanya Taufan masih belum paham.

"Suapin." Kata Halilintar.

"oh bilang kek dari tadi." Kata Taufan yang kemudian mengambil sendok yang ada didekat botol obat. Namun dengan sangat cepat Halilintar meraih sendok itu.

"Jangan pakai sendok." Kata Halilintar sambil tersenyum jahil. Sungguh Taufan kini mulai takut. Sepertinya adiknya itu bukan sakit demam. Mungkin otaknya harus diperiksa.

"Terus pakai apa!" kata Taufan mulai frustasi. Berbagai kemungkinan melintas dipikirannya. Dan satu kemungkinan membuatnya ngeri. Dia berharap bukan dengan cara itu ia harus menyuapi obat ke Halilintar.

Halilintar menyeringai dan dia kembali menunjuk bibirnya. 'Tuh kan' jerit Taufan dalam hati. Keringat dingin mulai menetes dari dahinya. Taufan menelan ludah kasar.

'Ya Allah, aku masih normal. Sungguh aku bukan seperti si landak ungu yang waktu itu tergila-gila liat Hali Ya Allah. ' Teriak Taufan dalam hati.

"U-ugh tutup mata kamu." Kata Taufan pasrah.

"Yeey." Lalu Halilintar menutup matanya, julutnya ia buka. Kepalanya ia miringkan sedikit. Taufan membuka tutup botol obat. Lalu…

'Glub'

Halilintar merasakan obatnya masuk kemulutnya lalu ia menelan obat itu. Tapi tunggu ada hal aneh yang ia rasakan. Ia membuka matanya dan mendapati sebuah sendok masuk kemulutnya. Entah sejak kapan Taufan sudah merebut sendok itu dari tangan Halilintar. Sebuah perasaan kecewa menghinggapi hatinya. Taufan tersenyum penuh kemenangan.

"nah sekarang tidur!" perintah Taufan. Ia lalu berdiri tapi Halilintar menahan tangan Taufan.

"temani aku tidur. " kata Halilintar memohon.

"Hali, kamu udah besar. Tidur sendiri lah." Kata Taufan lembut sambil membe;ai rambut adiknya itu.

"Yaaah setidaknya temani aku sampai aku tertidur kak kumohon." Kata Halilintar lagi. Kali ini Taufan tak menolak. Ia kemudian berbaring disamping Halilintar. Untung kasurnya itu lumayan besar jadi muat untuk berdua. Beberapa menit kemudian Halilintar sudah tertidur. Dan Taufan yang sudah lelah juga ketiduran.

Sementara itu tanpa Taufan dan Halilintar sadari pintu kamar sedikit terbuka dan disana ada Gempa dan Blaze. Ditangan Blaze terdapat sebuah kamera digital. Rupannya mereka berdua sedang merekam adegan antara Taufan dan Halilintar.

"Hihihi gimana Blaze?" Tanya Gempa saat menutup pintu kamar Halilintar.

"Bagus kak jelas banget." Kata Blaze dengan seringaian lebar. Lalu mereka berdua ber highfive ria.

~~~~Fever~~~~~~

Keesokkan paginya

"Ugh" halilintar membuka matanya. Kepalanya sudah tak sesakit kemarin. "Apa yang terjadi? Kemarin aku pulang kehujanan terus aku lari sampai rumah. Habis itu apa lagi ya?" katanya lebih kepada diri sendiri. Ia tak ingat apa-apa setelah sampai dirumah. Halilintar kemudian berjalan menuju kamar mandi. Ia mencuci mukannya. Matanya membelalak saat mendapati Taufan tengah tertidur di kasurnya.

"KAK TAUFAN NGAPAIN TIDUR DISINI HAH!" teriaknya.

"Haah, oh Hali udah bangun." Kata Taufan sambil menggaruk kepalanya.

"Kak Taufan ngapain tidur dikamar ku!" katanya panic. Berbagai pikiran muncul di kepalanya. Tiba-tiba ia jadi teringat si kepala duren ungu yang menyimpan fotonya saat lomba cosplay.

"Ngh kan kamu yang minta temenin tidur kemarin." Kata Taufan bangkit dan ia keluar kamar.

Halilintar hanya cengo mendengar jawaban dari kakaknya itu. Cepat-cepat ia menyingkirkan semua pikiran negative.

Setelah mandi, Halilintar turun ke lantai satu.

"Oh Hali gimana keadaanmu?" Tanya Ice sambil menyentuh dahi adiknya itu.

"Emang aku kenapa sih kak." Kata Halilintar bingung.

"kemarin kak Hali pingsan karena demam." Kata Yaya sambil menata sarapan diatas meja makan.

"Aku pingsan?"

"Iya. Kamu pingsan." Kata Gempa yang juga baru turun dari lantai dua.

"Eh Hali sini deh." Panggil Blaze yang baru muncul dari ruang tengah sambil membawa kamera digital.

"Apa?" Tanya Halilintar sambil mendekati kembarannya itu.

" coba kamu liat ini." Kata Blaze berusaha menahan tawanya.

Awalnya Halilintar merasa bingung. Lama-kelamaan wajahnya menjadi pucat.

"Ada apa?" Tanya Taufan yang baru selesai mandi. Ia mendekati Halilintar dan Blaze. Seketika Halilintar menjauhi Taufan dan langsung masuk kekamarnya lagi.

Taufan bingung dengan sikap Halilintar. Ia penasaran apa yang dilihat Halilintar sampai adiknya itu ketakutan.

1

2

3

4

5

"BLAZEEEEEE!" Taufan lalu mengejar Blaze yang sudah kabur.

"GYAAA AMPUN KAK ITU IDENYA KAK GEMPA!" teriak Blaze. Begini-begini Taufan itu jagoan klub tae kwon do. Sementara itu Gempa sudah menyelamatkan dirinya dengan mengunci diri dalam kamar. Walau itu percuma karena adik kembarnya itu mambu mendobrak pintu dengan sekali pukul.

Tak berapa lama terdengar juga teriakan Gempa. Ice dan Yaya hanya melanjutkan sarapan.

"Kak Ice gak melerai mereka?" Tanya Yaya menatap Ice.

"Biarin aja. Kamu panggil Halilintar sana." Perintah Ice yang langsung dilaksanakan Yaya.

Lama kelamaan Ice tak tahan dengan suara berisik dari adik-adiknya. Dengan aura membunuh yang sangat pekat ia naik kelantai dua.

Ice menarik nafas lalu "HOI KALIAN MAU SARAPAN ATAU GAK SIH! KALAU MAU BERANTEM SANA PERGI KE RAWA-RAWA!" teriaknya membuat ketiga adiknya bergidik ngeri. Sungguh hari itu Ice sedang badmood. Mereka berenam akhirnya kembali melanjutkan sarapan dengan tenang. Walau Halilintar masih enggan duduk dekat –dekat Taufan, Gempa mendapat ribuan deathglare dari Taufan dan Ice memakan sarapannya dengan aura membunuh. Hanya Yaya saja yang bias menikmati sarapan di minggu pagi yang cerah itu dengan santainya.

~~~~Fever End~~~~

FootNote

(*)Blackjack merupakan satu dari sebuah permainan kartu terbesar yang biasanya dilakukan di Kasino. Blackjack (atau lebih dikenal dengan Twenty-one, Vingt-et-un (Perancis untuk Twenty-one), atau Pontoon) merupakan satu dari sebuah permainan kartu terbesar yang biasanya dilakukan di Kasino.

Peraturan mainnya : Pemain memasang taruhannya di tengah-tengah lingkaran taruhan.

Kemudian pembagi kartu (dealer) akan membagi 2 kartu terbuka ke setiap pemain. Untuk dirinya sendiri diberikan 1 kartu terbuka dan 1 kartu tertutup.

Apabila 2 kartu pertama A dan 10/J/Q/K, maka pemain mendapatkan blackjack dan akan dibayar 1,5 kali taruhan; kecuali dealer atau pembagi kartu mendapat blackjack.

Pemain yang tidak mendapatkan blackjack boleh terus berupaya mendekati jumlah 21 dengan terus menambah kartu.

Jika jumlahnya ≥22, maka pemain tersebut gugur dan kehilangan taruhannya.

Dealer harus hit (tambah kartu) bila jumlah semua kartu ≤16.

Dealer harus stay (tidak tambah kartu) bila jumlah semua kartu bernilai ≥17. Itu salah satu bentuk permainan kasino.

Haiiiii minnaaaa Mizu kembali... nah ini stroy kedua dari kehidupan boboiboy bersaudara,,,, mizu harap kalian suka... ^^

nah Mizu gak mau panjang lebar..., akhir kata seperti biasa, mizu minta kritik, saran and RnR please...

Mizu