Zitao terbangun dengan rasa sakit diseluruh bagian tubuhnya akibat Kris. Ia merintih pelan dengan mata cantiknya sesekali melirik Kris yang terbangun dari tidurnya.
"Sudah bangun?" Tanya pemuda itu dengan suara khas bangun tidur.
"Sialan kau" Zitao mengumpat, seolah-olah ia tidak rela jika keperawananya diambil padahal Zitao sudah kehilangan keperawananya saat anniv mereka yang ke dua bulan.
Kris bilang, mereka melakukan itu karena dasar cinta. Cinta yang diucapkan anak abege SMA yang mau ngelakuin apa aja buat orang yang dicintai. Tapi ini China, bung. Sudah bebas disana bukan seperti Indonesia yang anak sekolah kalau ketahuan ngga perawan bakalan jadi omongan atau dipanggil ke ruang BK.
Dengan penampilan berantakan layaknya singa yang baru bangun, dengan tertatih Zitao berjalan ke kamar mandi. Selangkangannya sakit banget dan Zitao sadar Kris sudah semakin 'liar' yang Zitao tebak pasti Kris minum obat penambah energy.
Setelah berkutat dikamar mandi, dengan tubuh yang sudah wangi yang sudah siap dipamerkan pada kekasih tampannya, Zitao keluar dengan baju ala musim panas.
Mata pandanya yang menggemaskan itu menatap sebuah gundukan besar yang ada diranjang mereka. Kebiasaan Kris kalau habis melakukan itu, dengan alasan ia malu jika bangun biasanya ia tidak akan menemukan boxernya. Alasan yang lebih konyol lagi Kris tidak ingin Zitao terangsang dengan melihat Kris tengah berjalan telanjang dengan sesuatu menggantung disana. Padahal Kris yang selalu kuat-kuat engga saat tengah melihat Zitao ketika pacarnya itu tengah mengenakan handuk yang panjangnya sepaha.
"Kris, bangun. Kamu harus berbelanja. Persedian kulkas kita kosong" ucapnya setengah berteriak,
Zitao meraih boxer Kris yang terdapat gambar logo madrid diujung tergeletak dilantai, "Ayo cepat pakai boxer mu" ujarnya lagi sambil melempar boxer putih itu tepat mengenai wajahnya Kris yang setengah menyembul keluar.
"Aku masih mengantuk, sayang" rengeknya manja dan itu terdengar menjijikan ditelinga Zitao.
"Yasudah, aku mau pulang" balas Zitao malas. Dirinya sudah dua minggu lebih tinggal di Apartment Kris. Selama tinggal bersama Kris dirinya mendapat nilai plus dan minus.
Plus nya, Zitao pasti tidak akan mengeluarkan biaya yang banyak untuk membayar bulanan sewa Apartmentnya. Minus nya, ia paling malas jika berurusan dengan sifat mesum Kris.
Zitao keluar dari kamar mereka menuju dapur yang sekiranya pasti ada roti dan selai anggur kesukaannya. Dan ia mendapati roti panggang yang sudah kadaluarsa.
Sedangkan dikamar yang sekarang dihuni oleh satu pemuda yang paling malas diseluruh kampusnya, Kris tengah menatap dirinya di depan cermin kamar mandi.
Ia tersenyum bangga ketika mendapati dirinya yang sudah mendapatkan sixpack diperutnya akibat belakangan ini ia rajin pergi ke Gym, "Huh, pasti semalam aku hot sekali" seringainya mirip sekali dengan om-om yang hobi memperawani gadis sekolah.
Setelah Kris mencuci muka dan menggosok giginya ia keluar dan segera memakai bajunya untuk bersiap menyusul Zitao yang berada dibawah.
Kris melihat kekasihnya tengah membereskan backpacknya yang berwarna biru dongker yang Kris beli sebagai barang Couple.
"Lho, mau kemana?" Tanyanya penasaran, kalau tidak salah ingat biasanya saat Weekend mereka akan pergi berbelanja bersama di Supermarket.
"Pulang. Tinggal bersamamu setiap hari membuat tubuhku seakan-akan tidak bisa lagi digunakan. Aku akan berkunjung setiap malam minggu saja" ujar Zitao final membuat kesepakatan yang sekiranya cukup bijak.
Mata Kris membola tidak terlalu lebar, "Seriusan? Bukankah kita sudah setuju untuk saling tinggal bersama?"
Si cantik menghembuskan nafas, itu mungkin saja hanya pemikiran sepihak Kris agar dirinya lebih leluasa untuk melakukan hal-hal yang dibatas kewajaran.
"Kris, sayangku. Apartment ku sepi mungkin sekarang udah banyak tikus, Apartment ku juga merindukan pemiliknya, bukan kamu saja. Nanti aku akan berkunjung kok" Zitao mengakhiri ucapannya dengan kecupan kilat dibibir.
Zitao paling tidak suka dibantah, jadi Kris mengiyakan saja ucapan pacarnya. Toh, dirinya bisa kapan saja berkunjung ke Apartment kekasihnya. Sekarang hari minggu, biasanya ia akan selalu nongkrong bersama temannya di tempat biasanya. Tapi tumben sekali Sosmed nya masih sepi.
Kris mengecek Line nya dan ia mendapatkan satu pesan dari Chanyeol yang menyuruhnya untuk berkumpul jam satu siang. Dan sekarang masih jam sepuluh, mungkin dengan waktu yang kosong ini akan ia habiskan untuk menonton Anime terbaru pemberian dari Kai. Yang katanya karakter wanitanya lebih Hot daripada penampilan Comeback Hyuna.
.
.
.
.
.
Jam satu Kris sudah siap untuk berkumpul dengan gengnya, tapi sejam yang lalu Zitao mengirim pesan via bbm bahwa Lampu kamar tidurnya mati. Dan disinilah Kris sekarang, di dalam lift yang menghantarkan dirinya untuk sampai di no 115 milik sang kekasih.
"Kris, lampu kamar ku mati" rengeknya manja yang bikin Kris gemes ingin sekali mencium kekasihnya sana-sini.
"Kok senyum mu aneh, ngelamunin jorok ya?" Tuding Zitao.
"Iya, bukankah semalam kita keren sekali?" Goda Kris seraya menaik turunkan alis tebalnya.
Zitao menonjok perut Kris, "Sialan, jangan bahas lagi" Zitao memanyukan bibirnya lucu, duduk menyilang di sofa. Pura-pura marah pada Kris padahal aslinya senang banget digoda seperti itu.
Kris ikut duduk disamping Zitao, memperhatikan sang putri yang tengah merajuk lucu. "Lihat, aku mendapatkan sixpack lagi yang lebih keras" tangannya membuka bajunya setengah, ia menarik telunjuk Zitao untuk ikut menekannya.
Zitao menatap Kris berbinar, "uh, aku suka sekali pria ber ABS" ucapnya yang kini tanpa ragu mengelus ABS Kris atau para pencinta oppa menyebutnya roti sobek.
Dulu, Zitao juga pecinta kpop. Ia suka oppa-oppa ber-ABS. Kim Woo Bin contohnya. Apalagi Siwon. Jaman SMP adalah masa-masa dirinya menjerit melihat penampilan oppa di panggung. Dan sekarang jaman kuliah adalah masa-masa dirinya menjerit melihat aksi Kris di ranjang.
Duh, pipi Zitao memanas.
"Muka mu merah, ngelamunin mesum ya?" Goda Kris. Dan sekarang mereka lupa tujuan awal untuk mengganti lampu kamar tidur Zitao.
Zitao mencibir, "enak aja" elaknya tak terima.
Kris terkekeh melihat raut perubahan Zitao yang belakangan ini sering berubah tak karuan. "Elus lagi dong" pintanya yang tentu saja langsung ditolak Zitao.
"Ngga. Aku manggil kamu kesini buat benerin lampu kamar ku yang mati bukan buat pamerin ABS kamu" elak Zitao.
Kris tertawa, dengan ancaman Zitao akhirnya ia bangun untuk mengecek ke kamar Zitao. Kamar Zitao sangat berbeda dengan kamar dirinya. Kamar Zitao terkesan feminim karena mungkin pemiliknya seorang perempuan.
Zitao menunjukkan kepada Kris lampu bagian mana yang mati, dan itu terletak di tengah ruangan. Kris menaiki kursi rias Zitao. Ia mengecek lampu itu dan ini bukan keahlian Kris. Cuman Kris tahu lampunya kebakar dan tidak bisa diganti. Pikirannya sok tahu sekali.
"Kalau ini sih Zi kayaknya udah rusak deh. Percuma kalau kamu ganti lampunya ngga bakal nyala lagi" sambil mengatakan itu Kris punya rencana agar Zitao tinggal dengannya lagi.
"Yah, terus gimana dong? Aku kan takut gelap Kris" adunya, Kris turun dan memegang tangan Zitao berusaha meyakinkan pacarnya bahwa tidak ada jalan keluar lagi untuk mengatasi hal seperti ini.
"Ya terpaksa deh kamu tinggal denganku saja" dan Kris udah berasumsi kalau Zitao tidak akan menolak.
"Harus banget yah?"
"Iya dong. Sekarang kamu pilih tinggal disini dalam kegelapan atau tinggal bareng kekasihmu?" Kris tersenyum meyakinkan sehingga membuat Zitao terpesona dengan bentuk wajah Kris yang tampan jika diliat dari tempatnya berdiri.
"Hm, oke deh"
.
.
.
.
.
Ya disinilah Zitao, kembali lagi di tempat Kris, tempat yang sebenarnya yang pengen ia jauhi untuk beberapa hari dengan alasan tertentu. Dan Kris tidak bisa menahan reaksi bahagia ketika sang kekasih akan tinggal seatap dirinya, walaupun pasangan lain tidak seheboh Kris.
Tidak ada kamar lagi selain kamar utama dan itu membuat Zitao menggeram rendah. Ternyata hidup berada jauh dengan orangtua tidaklah semenyenangkan pikirannya dulu, kecuali untuk Kris.
"Hm, aku lapar Kris, kamu tidak mau beli makanan buat aku?" Rajuknya manja, Zitao meletakan pantat seksinya dikala kaki panjang miliknya sudah lelah untuk digunakan berdiri.
Kris mendekat, "Kamu mau makan apa?" Tanyanya, untuk sekedar lelaki penuh karisma dan godaan Kris adalah rajanya. Disamping itu ia juga sosok kekasih yang pengertian.
"Pizza? Aku mau pizza, dua porsi" balas Zitao.
Kris membulatkan matanya saat Zitao yang belakangan ini menjaga berat badan dengan memakan makanan yang tidak berlebihan dan sekarang kekasih pandanya meminta dua porsi pizza.
"Baiklah. Aku pergi dulu"
"Okeh"
Tiga jam berlalu dan Kris mendapatkan apa yang Zitao mau. Ia mentengteng belanjaannya yang kebetulan mampir sebentar ke supermarket.
Ia melihat Zitao sedang menonton acara mingguan favoritnya. Ia mendekat dan menaruh belanjaannya.
Melihat kekasihnya sudah datang, Zitao menoleh. "Kenapa lama sih? Aku kan lapar banget"
Kris menghela nafas mendapati kekasihnya dalam mode manja layaknya anak kecil yang harus terus diperhatikan. Tapi bukan berarti Kris tidak perhatian terhadap Zitao.
"Yasudah, kalau gitu cepat makan pizza mu" ucapnya yang diangguki Zitao.
Sedangkan Kris sendiri ia membeli masakan korea yang disukainya.
Seminggu berlalu semenjak Zitao menetap ditempat Kris yang penuh dengan godaan tak kasat mata maupun secara kasat mata. Tingkah laku aneh dan menyebalkan Kris pun Zitao sudah tahan untuk menghadapi.
Pagi ini, Zitao terbangun tanpa Kris disisinya, tapi sesuatu bunyi ketikan terdengar dari ruang tamu. Seminggu belakangan ini Kris selalu dipenuhi oleh tugas-tugas kuliahnya hingga membuat Zitao menghela nafas bersyukur bahwa ia tidak perlu khawatir karena Kris tidak berbuat iya-iya lagi.
Tapi keanehan ia rasakan lagi pagi ini, perut rampingnya yang bagaikan model yang sering Kris sentuh sana sini, merasakan mual yang menyebabkan Zitao ingin memuntahkan sesuatu dari mulutnya. Maka dengan segera Zitao berlari untuk memuntahkan isinya.
Sudah tiga hari berturut-turut ia mengalami gejala seperti ini, Zitao berencana ia tidak ingin memberitahu Kris dengan keadaanya. Mengingat sikap Kris yang selalu overprotektif terhadap dirinya, ia pernah mengalami sakit Maag dan Kris dengan raut khawatiran memasukan dirinya ke UGD dengan didampingi dokter spesialis kandungan. Ia memang gila.
Alih-alih ia akan bercerita pada Kris, ia malah mengingat cerita Xiumin ketika wanita chubby itu bercerita padanya bahwa ia sering muntah pada pagi hari ketika ia baru mengetahui dirinya tengah mengandung.
Zitao merenung sejenak, "Mungkinkah aku hamil?" Tanyanya mendudukan diri pada sofa single.
Kepala cantiknya sudah berpikir iya, ia terdiam sejenak dan kemudian menyambar tasnya keluar dan melihat Kris masih berkutat pada Mcbooknya.
"Sayang, aku pergi dulu yah" Zitao berteriak untuk memastikan Kris mendengar panggilannya.
"Kemana?" Tanyanya yang tetap memfokuskan mata pada layar yang menampilkan tampilan Ms Office Words.
"Ngga lama kok, kumpul sama teman" by the way ini hari minggu jadi wajar para kaum hawa ingin memanjakan diri diluar sana.
Kali ini Kris berdiri, manghampiri Zitao yang tengah berdiri dibawah lampu. "Yasudah. Nanti pulang jangan kemalaman. Btw, aku udah kangen kamu banget nih" rajuk Kris terdengar ambigu di telinga Zitao.
Zitao memutar mata jengah, "aku ngga bakalan lama kok"
"Yasudah hati-hati"
.
.
.
.
.
.
Zitao tidak sepenuhnya berkumpul dengan temannya, ia tadi ke rumah Xiumin untuk membicarakan apa yang terjadi pada dirinya karena sejujurnya Xiumin adalah wanita berpengalaman.
Xiumin menyarankan pada dirinya untuk ke apotik dan membeli testpack dan Zitao membelinya. Ia sampai di Apartment Kris yang langsung disambut oleh si jangkung yang tengah menonton tayangan gosip favoritnya.
Menyadari kekasihnya pulang, Kris menoleh. "Baru pulang? Lama banget, aku lapar tau" adunya.
Zitao memutar matanya bosan menghadapi sikap kekanakan Kris muncul lagi. "Kalau lapar ya makan, emang aku ngga beri kamu makan?" Sewotnya.
"Kok sewot sih. Aku kan lapar dalam artian lain" balasnya sembari berjalan mendekati Zitao.
Zitao mengangkat tangannya ke udara untuk menyuruh Kris berhenti dan tidak mengikutinya. "Stop. Mulai hari ini kamu jangan sekali pun ngapa-ngapain aku dalam sembilan bulan, kecuali kalau aku mau" Zitao membuat peraturan sepihak, ia tidak peduli apa reaski yang akan Kris tunjukkan pada dirinya sekalipun lelaki itu memohon dirinya dengan memberikannya Black Cardnya untuk Zitao habiskan.
"Apa? Sembilan bulan? Kok lama sih Zi? Kamu nggak niat buat aku menderitakan?" Protes Kris tak terima. Karena sesungguhnya Kris adalah lelaki normal yang butuh sentuhan untuk memenuhi kebutuhan sekundernya.
Tidak memperdulikan rengekan manja Kris yang terdengar menjijikan ditelinganya, Zitao langsung memasuki ke kamar mereka tangan lentiknya merogoh tas selempangnya dan kemudian meraih benda panjang.
Ia menatap itu sekilas dan menghela nafas pelan kentara sekali bahwa dirinya merasakan sedikit takut. "Baiklah, Zitao ayo kita coba" monolognya.
Zitao memasuki kamar mandi dan kemudian mencoba benda itu seperti apa yang Xiumin ajarkan. Ia menunggu beberapa menit sebelum hasilnya keluar.
Dua garis merah.
Positif hamil.
Zitao membola kaget, "Sialan, Kris!"
.
.
.
.
.
Kini pemuda jangkung yang sudah seminggu tinggal seatap dengan Zitao itu tengah memainkan game online dikomputernya. Sedari tadi kekasih cantiknya belum juga keluar dari kamarnya. Ini sudah hampir memasuki jam makan malam dan Zitao belum juga membuka kunci pintu kamar mereka. Kris lapar dan ia tidak tahu apa yang terjadi didalam sana dengan Zitao.
BRAK!
Suara gebrakan pintu yang kencang menyadarkan Kris dari fantasinya. Ia menoleh dan mendapati kekasihnya yang tengah menatapnya dengan raut 'aku akan membunuhmu Kris' walau sebenarnya Zitao pasti tidak akan melakukannya.
"Ada apa?" Kris bertanya, takut-takut ada hantu yang merasuki jiwa Zitao. Namun tidak seperti dugaannya, Zitao malah berlari kearahnya dan setibanya langsung mendudukan pantat seksinya dipaha Kris. Kepala cantiknya ia tenggelamkan di ceruk leher Kris yang beraroma mint seperti lelaki gentleman yang membuat Zitao ingin menciumi leher Kris.
Dan Kris dibuat bingung olehnya, ia akui Zitao memang selalu berbuat diluar dugaan seperti sekarang. Ia tahu Zitao tengah merajuk pada dirinya paling-paling ia ingin membeli parfum favoritnya yang baru keluar atau baju-baju bermerk yang baru keluar dengan model terbaru tadi siang. Sedikit-sedikit Zitao berpindah gaya duduk yang membuat 'pisang' Kris cenat-cenut dengan rasa nikmat yang mendominasi. Sedikit mesum memang.
"Kriss" Zitao merengek dan belum juga menatap Kris.
"Iya sayang, ahh" dan Kris tak tahan untuk mendesah.
Mendengar erangan yang biasa Zitao dengar tiap malam ia baru mendongak dan menatap wajah Kris. "Kamu kenapa mendesah gitu?"
Kris membuka matanya yang tengah terpejam, "Kamu duduknya yang bener dong. Pantat kamu kena batang kesukaanmu nih"
Dan Zitao merona mendengar ucapan konyol kekasihnya.
"Ya! Aku marah tahu sama kamu!" Tidak ingin kehilangan image marahnya yang ia perlihatkan tadi, Zitao mulai berteriak.
"Kenapa? Kamu mau shopping? Entar aja okay?"
"Bukan itu! Aku sebal tahu sama kamu. Seharusnya kalau kamu mau ngelakuin itu harus pakai pengaman dong ngga usah seenaknya langsung sembur didalam!" Zitao membentak, ia menatap sebal Kris dan yang ditatap hanya melongo tidak jelas namun Zitao yakin Kris pasti tahu maksud ucapannya.
"Bukannya kamu suka ya kalau aku nyembur sperma aku dilubang kamu?" Dan Zitao memerah dengan ucapan frontal Kris.
Seingatnya ia tidak pernah mengutarakan fakta itu kepada Kris walau sebenarnya Zitao tidak nyaman jika Kris membungkus kejantanannya dengan pengaman. Tapi jika begini hasilnya lebih baik Zitao merasakan rasa tidak nyaman itu.
"Ya! Jangan ngomongin sperma dong" Zitao protes.
Kris memutar bola matanya jengah, "Bukannya kamu yang ngomongin duluan yah?"
Dengan perasaan emosi dicampur kesal, Zitao melempar testpack ke muka Kris namun segera ditangkap oleh pemuda itu sebelum benda panjang itu melukai wajah tampannya. Kris menatap sekilas, awalnya ia tidak mengerti tapi ingatannya pada masa SMA ia sering menonton drama yang alurnya si wanita hamil duluan dan memperlihatkan benda seperti ditangan Kris pada kekasih gelapnya.
Kris mengerjap, sedetik ia menatap Zitao. "Kamu hamil?" Tanyanya terkejut.
Zitao mendengus, kalau bukan Kris yang menghamilinya sudah dipastikan ia akan mencincang orang itu.
"Ini semua gara-gara kamu tahu! Lihat apa yang harus aku katakan pada orangtua ku dan apa yang terjadi dengan kuliahku? Ini gara-gara kamu sih pake ngatain Xiumin hamil diluar nikah segala kan sekarang imbasnya ke aku"
Alih-alih menjawab pertanyaan Kris, Zitao malah memarahi si jangkung. Ia membuang mukanya kesal, pikirannya campur aduk ia belum siap menjadi ibu di usianya yang masih muda. Disaat wanita lain berjalan ke mall dengan para rombongan dan menceritakan hobi favorit dan karir, Zitao malah berjalan ke mall dengan menggendong bayi dan bergabung dengan para ibu-ibu bersuami jutawan.
Dulu ia ingat saat Sekolah Menengah Atas, teman sekelasnya ada yang ketahuan tengah mengandung awalnya perempuan itu menolak dan berkata bahwa yang di perutnya adalah penyakit namun ketika ujian kelulusan datang perempuan itu malah dipergoki tengah melahirkan di toilet perempuan. Zitao bergidik membayangkannya.
"Ya kita omongin baik-baik ke keluarga kamu sama keluarga aku. Siapa tahu mereka akan cepat menyuruh kita menikah. Jangan takut Zitao aku akan menjagamu" bukan ucapan penenang yang keluar, Kris malah mengatakan perkataan ngawur yang membuat dirinya dipukul Zitao.
"Kamu enak banget ngomong nikah. Aku belum siap Kris buat ketemu orangtua kita. Kita jalanin dulu aja"
Kris meremas pundak Zitao yang masih duduk diatas paha seenaknya. Ia menatap manik hitam kelam itu yang selalu menatapnya penuh cinta tapi kali ini manik kelam itu berair karena dirinya.
"Terus kapan kita akan ketemu mereka?"
"Tunggu aku siap"
Kris mengalah, rupanya kehamilan membuat Zitao cemas. Beda dengan dirinya, ia sudah mempertimbangkan suatu saat Zitao pasti akan hamil jadi Kris mulai menabung dari bulan kemarin. Sejujurnya ia juga belum siap menjadi seorang Ayah, tapi mungkin seks benar-benar kebutuhan keduanya.
.
.
.
.
.
Sudah satu bulan berlalu semnjak Zitao hamil, kini kondisi dirinya masih saja memuntahkan isi perutnya tiap pagi namun ia tidak menemukan gejala ngidam layaknya ibu hamil lainnya melainkan Kris yang menjalani masa-masa itu.
Siang ini dirinya tengah berkumpul dengan teman sebayanya di tongkrongan biasa. Ia sengaja meninggalkan Kris sendiri dirumah yang biasanya setiap weekend ia selalu bersama Kris.
"Aw, senangnya mau punya momongan" Luhan berucap sebagai pujian yang mungkin tertuju pada Zitao dan Xiumin yang juga berada disana.
"Makanya kamu minta dong sama Sehun" Xiumin meledek yang dihadiahi tawa dari perempuan tomboy sahabat Tao, Amber Liu.
Luhan merengut, "Tapi Sehun selalu mengatakan bahwa ia tidak mau menodaiku" erangnya sebal terhadap kekasihnya dari Korea yang memiliki kulit putih pucat.
"Sok suci" Baekhyun menimpali.
Amber menengahi mereka saat Luhan akan mulai untuk berdebat dengan Baekhyun, "Jadi Zizi kamu belum juga memberitahu kepada orangtua kalian?" Tanyanya yang kali ini suasana berubah menjadi serius dan sedikit mencekam.
Zitao mengangguk sambil menurunkan Cappucino nya, "Belum, aku takut"
"Apa yang kamu takutkan?" Amber bertanya lagi.
"Aku takut mereka akan memarahiku dan menyuruhku menjauh dari Kris. Walaupun mereka sudah merestui kami tapi bisa saja kan dengan kondisiku yang hamil diluar nikah Baba dan Mama bisa saja menyuruhku menjauhi Kris" jawabnya mencoba untuk tidak menjatuhkan airmatanya dan berakhir dengan menangis dihadapan mereka.
"Tapi Kris sudah siapkan?" Kali ini Luhan yang bertanya.
"Dia selalu siap"
"Cobalah Zi kamu omongin sama orangtua kalian. Aku khawatir tiap aku melihatmu rasanya kamu seperti tertekan pada tanggapan orangtua kalian. Kamu omongin baik-baik sama Kris kamu juga harus coba ngomong sama orangtua kalian apapun tanggapan mereka pasti Kris bisa ngebujuk mereka kok. Aku takut kalau kamu kayak gini terus akan buat kamu tambah stres terus berujung ke calon bayi kamu" nasihat Amber. Ia memang bukan perempuan tulen namun ia mengerti masalah apa yang selalu para kaum hawa khawatirkan.
Amber benar, setidaknya Zitao harus mencoba walaupun hasilnya mungkin tidak seperti apa yang diingankannya. Lagipula pasti ibunya bakal mengerti. Ia akan mengobrol dulu dengan Kris untuk menemui orangtua mereka. Orangtua Zitao dan Kris berada di Guangzhou mereka akan segera membeli tiket penerbangan cepat.
.
.
.
.
.
TBC
Sorry updatenya telat dan lama soalnya author lagi kena syndrome males ngetik. Ini ngetik udah ngebut disela-sela kesibukan uts.
Masih banyak ff yang belum dilanjut tapi author malah santai-santai aja nonton drama.
Last, see you next chapter :*
