A/N:
Saengil Chukkae Kris Wu~
Dedicated for born day of Wu YiFan aka Kris Wu.
.
Enjoy it^^ baca author note di bawah ya Dear :D
.
"Kenapa aku harus membantumu lagi, Min?"
"Harus, Kyu. Ayolah hanya kau yang bisa ku andalkan."
"Hanya aku yang memiliki otak evil sama sepertimu begitu kan maksudmu?"
Changmin tertawa menepuk pundak Kyuhyun. Sahabat evilnya itu sedang kesal karena diganggu di tengah malam buta karena kedatangan seorang evil yang mengganggu tidurnya. Seorang Shim Changmin yang mengendap-endap masuk ke dalam dorm Suju.
"Jadi bagaimana, Kyu?"
"Memang aku bisa mengatakan tidak? Tapi kali ini bayarannya tak murah."
"Hahaha tenang saja bukankah aku selalu menepati janjiku," ujar Changmin santai membuat Kyuhyun berniat memutilasi anak YunJae ini jika tidak mengingat akibatnya. Asal kalian tahu saja bayaran yang diberikan Changmin itu benar-benar diluar dugaan.
"Aku kan sudah memberikan bayaran yang bagus, Anak panda itu lucu kan?"
Plak
Kyuhyun menepuk kepala Changmin, menggeleng dengan semua isi otak namja pecinta makana tersebut. Belum puas memiliki leader EXO-M, Changmin bahkan mengumpankannya dengan sang baby panda kesayangan Kris tersebut. Sehingga Changmin kini bebas hanya berdua dengan dragon miliknya.
"Baiklah. Sekarang katakan padaku. Kau tahu aku benar-benar ngatuk, Voldemin Pabbo." Kyuhyun mendeathglare Changmin yang memasang seringaian padanya. Semoga kau masih baik-baik saja nanti, Kris.
.
.
Our Wedding
(Sekuel Our Story)
Cast:
EvilDragon aka Shim Changmin & Wu Yi Fan Kris
Genre: Romance/Frienship
Rated: Safe for this chapter
Waning: AU, crack pair(?) gila-gilaan, typo, alur cepat,
.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Berniat meneruskan? silahkan…
.
.
Kalau tidak suka tolong beranjak dan menjauh, Mizu gak mau ngotori fict Mizu dengan flame bodoh di fandom ini, Ok^^
.
.
Anda sudah diperingatkan dear
.
.
Wu YiFan aka Kris Wu tampak sedang gusar di kamarnya di dorm EXO di Korea. Wajah namja tampan itu tampak tertekuk kesal. Berkali-kali ia memandang ponselnya di tangannya namun apa yang diharapkannya tak muncul bahkan sejak berjam-jam yang lalu.
"Kemana kau hyung?"
Selepas pertemuan mereka bulan lalu, Kris seakan kehilangan kontak dengan kekasihnya. Seorang Shim Changmin seakan tenggelam entah kemana. Bukan berarti Kris tak bisa melihatnya hanya saja mereka bagai orang asing. Selepas SMTown kemarin mereka memang sempat keluar bersama namun bukan dalam artian berdua akan tetapi EXO dan TVXQ! Membuat Kris hanya bisa mengacuhkan sang namja mengingat betapa banyak orang disekeliling mereka.
Tak ada yang bisa dilakukannya kalau begini. Karena bagaimana pun juga mereka sudah sepakat. Mereka hanya sunbae dan hoobae apabila ada orang lain disekitar mereka walau pun hanya satu orang.
Dan sekarang sepertinya Kris baru merasakan kalau semua benar-benar tak menyenangkan karena selama ini pesan dari Changmin tak pernah absent dari ponselnya. Sejauh apa pun jarak mereka.
"Apa kau masih marah soal lamaran itu, Hyung?"
Kris menghempaskan tubuhnya pada ranjang miliknya. Maniks gelapnya menatap pada lingkaran kalender yang tergantung di kamarnya. Lingkaran dengan spidol merah pada tanggal kelahirannya.
Enam november. Hari ulang tahunnya sekaligus comeback special EXO. Juga satu janji yang seharusnya ditepati oleh seseorang.
"Hah … sudahlah toh, pasti akan sama dengan tahun lalu. Kau pasti akan tak akan datang hyung. Lagi-lagi aku akan merayakan ulang tahunku sendiri."
Tak sepenuhnya sendiri karena Kris akan merayakannya dengan membernya di dorm. Melakukan hal gila semalam suntuk dan menghancurkan dorm dengan sampah-sampah makanan hingga keesokan harinya.
"Masih ada fansku yang akan merayakannya bersama." Bathin Kris mengingat kalau hari kelahirannya tahun ini bertepatan dengan perayaan EXO dan mereka mungkin sudah mempersiapkan kejutan kecil untuknya.
"Stupid Evil."
.
.
.
Seorang namja jangkung tampak tengah melepas pakaiannya sendiri hingga bertelanjang dada. Tak memperdulikan angin malam yang masuk ke dalam kamarnya namja itu membiarkan dadanya tanpa sehelai benang pun. Mengambil ponselnya dan menghidupkannya—menghubungi seseorang.
Lama ia mendapati suara di seberang sana menjawabnya. Hingga akhirnya seseorang mengangkat panggilanya. Tak membutuhkan basa-basi namja tampan itu langsung bertanya.
"Bagaimana Kyu?"
"Aissshh … berisik Min. kau benar-benar membuatku pusing dengan semua permintaanmu. Kenapa kau tak meminta bantuan YunJae hyung saja, mereka yang lebih berpengalaman kalau di negara itu."
"Tidak, karena Jaejoong hyung sedang sibuk mempersipkan konsernya dan kurasa Yunho hyung pasti bersamanya," ujar Changmin menempelkan ponselnya dengan bantuan bahunya sedangkan tangannya sedang membuka botol minuman dari kulkas.
"Kau benar-benar mengacuhkannya sebulan ini? Dia pasti akan menghajarmu, Min."
Menaruh botol minumannya, Changmin beranjak menuju balkon masih dengan ponsel yang melekat di telinganya.
"Aku tahu, karena itu aku mau semua sempurna. Dan dia harus menerimanya kali ini."
"Aku jadi heran kenapa Kris bisa menolakmu sampai empat kali. Makanya seriuslah sedikit, Min."
"Berisik Kyu. Aku pasti memastikan kalau dia akan mengangguk kali ini."
"Jangan katakan kau akan memaksanya."
"Yah sedikit paksaan mungkin tak mengapa bukan yang penting tujuanku tercapai."
"Hah, sudah kuduga. Ya sudah, jangan menghubungi kalau bukan aku yang menghubungimu. Tao terus menggangguku sejak ia tak sengaja memergokiku menelponmu. Padahal kau mengacuhkan panggilan Kris untukmu."
"Aku tahu, Sankyu Kyu. Kuharap semua selesai tepat waktunya."
Changmin menutup ponselnya dan kembali mematikan ponselnya. Ia menggunakan nomor lain untuk hyung dan pekerjaanya. Nomor baru yang dipakainya dengan dalih nomor lamanya hilang.
Jika saja Changmin tak sibuk dengan pekerjaannya ia akan melakukan sendiri semua kejutan yang akan diberikannya untuk Kris. Hanya saja ia rela meminta pertolongan agar janji yang diucapkannya bisa menjadi kenyataan. Cukup dua tahun ia melewatkan ulang tahun Kris dengan hanya pesan singkat untuk namja tersebut. Dan Changmin memastikan tahun ini akan menjadi tahun yang berbeda.
.
.
.
"Gege~"
Kris terperajat saat Tao tiba-tiba menubruknya. Beruntung ia tengah duduk di kursi dan tubuh jangkungnya terhempas ke sofa empuk.
"Ada apa, Baby?" tanya Kris mengelus surai pirang milik Tao. Sedari tadi ia memang hanya memandang kosong televisi yang tengah hidup namun pikirannya melayang entah kemana-mana. Bila selama latihan ia bisa mengalihkan semua bebannya tidak bila ia tengah seorang diri seperti ini.
"Wae?" ulang Kris lagi menyadari Tao hanya menatapnya sedari tadi.
"Gege kenapa? Apa televisi menayangkan acara yang buruk hingga gege terlihat tak menyukainya?" tanya Tao berbalik berpikir kalau apa yang sedang terjadi pada gege kesayangannya karena televisi yang menayangkan sebuah acara membosankan baginya.
"Bukan, Tao—"
"—tapi wajah gege terlihat buruk," cibir Tao menjauhkan tubuhnya dari Kris dan duduk di samping sang namja. Menyambar satu dari makanan yang berada di atas meja, "rasanya Tao tahu kenapa."
"Bukan baby, sudah jangan berpikiran buruk seperti itu lagi," ujar Kris tersenyum kecil, menjauhkan Tao dari semua pikiran jeleknya. Ia masih ingat terakhir kali ia berwajah seperti ini dan berakhir dengan Tao yang mengerjai kekasihnya. Membuat namja itu harus bolak balik ke kamar mandi karena sakit perut seharian.
"Benarkah? Baguslah. Awas saja kalau sunbae seram itu menyakiti gege. Obat pencahar milik umma Tao masih banyak," ujar Tao tertawa mengingat apa yang diceritakan Kyuhyun padanya di hari ia mengerjai kekasih gegenya.
Keduanya tak berbicara lagi sesaat acara menayangkan acara kesukaan Tao. Namja panda itu tampak asyik dan melupakan keberadaan Kris sendiri yang tak keberatan. Daripada ia harus menjawab semua pertanyaan Tao dengan kebohongan.
"Oh, ya Tao lupa. Lusa Gege ulang tahun bukan? Gege mau Tao belikan apa?" tanya sang panda EXO-M itu tampak berbalik arah.
"Apa saja baby, akan gege terima dengan senang hati."
"Gege tidak asyik. Gege selalu memberikan apa yang Tao mau, kenapa selalu saja seperti ini, gege tak pernah mau mengatakan apa keinginan gege."
Kris tahu Tao tengah merajuk padanya. Mengerucutkan bibirnya kesal padanya. Tapi Tao tak akan pernah bisa mengabulkan apa yang diinginkannya saat ini. Tak akan bisa.
"Maafkan gege, Baby. Baiklah gege rasa jam tangan baru juga tak buruk. Apa kau mau memberikannya untuk gege?"
"Baiklah. Sekarang ayo keluar ge, Tao baru ingat kalau diminta Lay-umma memanggiil gege," ujar Tao menarik tangan Kris. Ia baru ingat alasannya mencari Kris. Semuanya berencana keluar sebentar, setelah lelah dengan semua persiapan mereka nanti yang bertepatan dengan ulang tahun sang leader EXO-M. Namun menemukan wajah sedih sang gege membuatnya melupakan pesan ummanya.
"Ne gege. Tadi Kui Xian gege menitipkan pesan pada Tao. Katanya "kalau kali ini juga tidak berhasil silahkan tenggelamkan saja evil pabbo itu ke sungai Han" memang siapa yang dimaksud Kui Xian gege? Apa kita punya kenalan 'setan?'" tanya Tao sembari mereka berjalan keluar dorm.
"Sudah tak usah dipikirkan," ujar Kris menggandeng tangan Tao, memasang kembali topengnya saat menemukan membernya di dalam van. Tertawa menyembunyikan keresahannya sendiri.
'Harusnya aku yang ingin tenggelam ke sungai Han, Hyung. Kau membuatku bingung.'
.
.
.
"Gege suka ini tidak?" tanya Tao saat mereka tengah memasuki salah satu toko jam besar di Korea. Setelah berpencar dengan membernya yang lain, Tao segera menarik Kris ke salah satu pertokoan. Kapan lagi ia bisa mencari hadian untuk Kris kalau bukan sekarang. Mereka pasti akan semakin sibuk menjelang lusa.
"Yang mana saja Baby."
"Sekali lagi gege mengatakan hal begitu, Tao benar-benar akan mengirim kue berisi obat pencahar pada Changmin sunbae lagi," ancam Tao pada Kris. Mana mungkin ia rela menyakiti gege kesayangannya, dan lebih baik menjadikan seorang Changmin menjadi pelampiasannya. Ketakutannya sudah semakin berkurang pada seorang Voldemin terlebih ada seorang Kris yang akan selalu membelanya.
"Kau ini keras kepala sekali," ujar Kris mendekati etalesa toko dimana berjejer jam dengan berbagai mode keluaran terbaru. Maniks gelapnya menelisik satu persatu yang mana menarik hatinya. Pilihan Kris jatuh pada sebuah jam berwarna berantai silver di sudut kiri, "yang itu saja," tunjuknya.
"Baiklah, gege pintar." Tao tertawa melihat Kris menggeleng padanya. Meminta sang pelayan toko membungkuskan hadiahnya padahal yang bersangkutan ikut bersamanya, "tunggu lusa baru Tao berikan ini untuk gege."
Kris tak menyadari kalau ada lengkung senyum Tao padanya. Walau sepolos apa pun seorang Huang Zi Tao, sang baby panda itu tahu ada yang disembunyikan gegenya. Terlebih melihat seorang Kris kembali memasang topeng disekitarnya. Senyum Kris yang sebenarnya terlihat lebih baik. Dan sepertinya ia berhasil mengembalikan senyum itu.
"Itu SuLay gege," tunjuk Tao sesaat mereka keluar dari sebuah restoran menemukan sang leader bersama kekasihnya tengah beristirahat di bawah pohon. Sedikit tersembunyi dari kerumunan orang walau penyamaran mereka sempurna di bawah matahari terik ini.
"Umma~" Tao berteriak memanggil Lay yang menoleh padanya. Mengayunkan tangannya meminta Tao dan Kris mendekati mereka.
"Kalian benar-benar menikmati sisa hari ini ya?" ujar Kris melihat banyaknya kantong belanjaan di samping Suho. Sepertinya mereka habis berbelanja banyak.
Lay yang menyadari tatapan Kris sedikit mencondongkan tubuhnya menyembunyikan apa yang baru saja mereka beli. Membuat Kris memandang curiga pada ulah sang umma baby pandanya.
"Ah, bukan apa-apa duizzhang sayang, kau habis membeli apa Tao?" tanya Lay mengalihkan perhatian Kris padanya. Mereka tak mungkin mengatakan pada Kris kalau sedang mencari barang-barang untuk malam ulang tahun Kris bukan. Kejutan tak kan menarik kalau orang bersangkutan mengetahuinya.
"Hanya membeli hadiah buat gege, Umma. Bukankah lusa gege ulang tahun? Umma tak membelikan gege hadiah?"
"Lebih baik kita kembali saja, yang lain pasti menunggu hyung," ujar Suho akhirnya menyadari sandi tunangannya yang meminat pertolongan sebelum bibir polos Tao membeberkan semua kejutan mereka.
Kejutan untuk sang duizzhang yang menggenanpi usianya menjadi dua puluh tiga tahun ini.
.
.
.
"Aihsssshhh … kemana kau hyung!"
Kris membanting ponselnya sendiri ke ranjang saat berulang kali ia mendial nomor yang sama namun hanya mailbox yang menjawabnya.
Ingin rasanya ia menelpon salah satu hyung Changmin untuk mencari tahu, namun baru seminggu yang lalu Kris bertanya dan keduanya tak tahu kemana Changmin pergi. Namja itu selalu keluar dari dormnya seorang diri bila sedang tak ada syuting. Dan Kris tak enak bila selalu menyusahkan kedua sunbaenya bila harus mencari tahu keberadaan kekasihnya sendiri.
"Apa kau menginginkan semua ini berakhir dengan sendirinya hyung?" Kris menatap nanar langit-langit kamarnya. Tak ada seorang pun yang menemaninya di dalam kamar ini karena ia sengaja meminta untuk sendiri yang disanggupi membernya.
"Enam november hyung? Kali ini lagi-lagi kau mengingkari janjimu." Kris melirik jam weker di kamarnya menunjukkan pukul tepat pergantian hari. Berharap Changmin menjadi yang pertama namun ternyata didahului orang lain. Terlihat dari display handphonenya yang mulai berkedip menandakan pesan yang masuk dan jumlahnya tak sedikit.
Bukan Kris tak pernah mau menunjukkan perasaanya. Bukan ia tak ingin menjadi milik Changmin seutuhnya. Seharusnya Changmin menyadari semua isyarat dari tubuhnya kalau hanya namja itu yang kini memenuhi hatinya.
"Jangan katakan kau ingin mengakhiri hubungan kita di hari kelahiranku, Hyung."
Tepat satu bulan hari ini komunikasi mereka terputus. Tanpa pesan tanpa suara, Kris bahkan tak ingat kapan mereka saling menyapa. Kesibukan yang semakin naik membuat ia menganggap acuh semua berpikir kalau ini hanyalah hal yang biasa dan Changmin akan menghubungi di kemudian hari.
Kris baru sadar kalau ia selalu menaikkan garis bibirnya sedikit saat menemukan nama yang sama masuk ke ponselnya. Tahu kalau sang kekasih masih peduli walau ia acap kali mengacuhkannya.
Menjangkau ponselnya sendiri, Kris mengetikan nama Changmin di sana dan ribuan search muncul di sana.
"Lihat … bahkan fasmu lebih mengetahui dimana kau berada dibandingkanku."
Di sana Kris melihat foto-foto yang tertanggal hari ini dimana Changmin tengah syuting untuk drama terbarunya. Tertawa dalam balutan seragam berbanding terbalik dirinya yang menggila karena ketidakpastian di sini.
"Apa kau lelah hyung … menghadapiku?"
Kris menutup matanya sendiri, mematikan ponselnya tak menyadari ada pesan yang masuk ke sana dengan nama seseorang yang dinantikannya. EvilMin.
.
"Kuharap kau akan senang nanti, Kris." Ucapnya menutup ponselnya dan kembali melanjutkan kejutan kecilnya. Berharap semua akan berjalan sesuai rencana tana tahu kalau sang waktu masih betak mempermainkan keduanya.
.
"Kamsahamnida."
Kris membungkuk berkali-kali pada ratusan fans yang memberikan kejutan kecil untuknya. Hatinya menghangat merasakan acara mereka yang sukses bahkan ia mendapatkan bonus dengan sebuah perayaan ulang tahun untuknya.
Kris menonjok pelan bahu Suho, ia tahu kalau sang leader EXO-K itu yang menjadi otak semua ini bahkan Kris sejenak melupakan seseorang yang membuatnya harus memasang topeng lebih erat.
"Gege~ selamat ulang tahun." Tao memeluk erat tubuh Kris sembari memberikan kado berpola panda walau sebenarnya Kris sudah tahu apa isinya. Menerjang tubuh jangkung itu sesaat mereka meninggalkan panggung dan masuk backstage.
"Gomawo, Tao."
Kris menerima hadiah Tao dengan senyum juga ucapan selamat dari rekannya. Dan mereka mengatakan kalau hadiah kecil untuknya ada di dorm. Padahal Kris tak butuh hadiah apa pun, cukup ada 'keluarga' besarnya ini maka semua akan terasa lebih baik.
"Kris."
Kris menolehkan kepalanya menemukan sunbaenya berharap kalau itu adalah dia namun senyum bahagianya memudar saat menemukan kalau itu adalah Kyuhyun. Sahabat Shim Changmin.
"Hadiah untukmu."
Kris menerima amplop yang disodorkan Kyuhyun. Mengernyit heran menemukan benda yang familiar dipegangnya. Tiket pesawat.
"Jepang? Apa ini Kyuhyun hyung?"
"Lebih baik kau segera pergi kalau tak ingin ketinggalan pesawat, Kris Wu. Dan kau kehilangan dia untuk selamanya," ujar Kyuhyun menepuk pelan pundak Kris tanpa memberi penjelasan apa pun. Berjalan menjauhi Kris menuju satu sudt dimana kekasihnya tengah bercanda dengan teman-temannya.
"Kau akan tahu nanti, Kris."
Hanya sebait itu yang ditinggalkan Kyuhyun saat melewatinya. Membuat Kris bingung apa yang harus dilakukannya.
"Mungkinkah?"
Tak membuang waktu, Kris berlari menuju pintu belakang menghindari para fans dengan segera menaiki taksi. Tak memperdulikan kalau beberapa orang menatapnya heran. Ia akan bertaruh kali ini.
"Kui Xian ge, apa yang gege berikan untuk Kris ge?" tanya Tao pada Kyuhyun, sesaat ia melihat Kyuhyun memberikan sesuatu sebelum sang gege melarikan diri entah kemana.
"Sihir kecil untuk sang dragon, Baby." Kyuhyun tersenyum tipis menggenggam tangan Tao walau sang empu masih menatap heran, "kau akan tahu besok. Itu pun kalau Kris bisa pulang ke Korea dengan selamat."
Kyuhyun terpaksa datang ke tempat ini karena ternyata amplop yang dikirimkan Changmin ke dorm SUJU masih belum sampai pada empunya. Padahal Changmin mengatakan ia sudah memberitahu Kris untuk mengambilnya di sana.
'Kau harus membayar mahal kali ini, Shim Changmin.'
.
.
.
"Permisi … pesawat menuju Jepang dengan nomor penerbangan xxx masih belum berangkat kan?" Kris bertanya dengan napas yang sedikit memburu, berlari dari luar hingga ke dalam area bandara.
"Pesawat itu sebentar lagi berangkat, anda salah satu penumpangnya? Bisa saya lihat paspor dan tikenya?"
Kris terhenyak, ia melupakan paspornya karena langsung berlari dari gedung menuju bandara. Tapi senyum Kris kembali merekah saat melihat benda yang terselip di dalam amplop. Paspornya—dan entah bagaimana Kyuhyun mendapatkan barangnya.
Sejenak memeriksanya petugas bandara itu mengantarkan Kris menuju pesawat yang sebenarnya satu menit lagi berangkat beruntung Kris bisa mengejarnya tepat waktu dan kini duduk manis di dalam pesawat.
"Kupastikan aku akan mencekikmu, Hyung. Seenaknya saja mengacuhkanku dan sekrang tiba-tiba memintaku ke Jepang." Kris meremas sisa amplop di tangannya. Amplop berisikan paspor dan tiketnya juga sebuat kartu kecil yang seharusnya berisi ucapan selamat malah berisikan tantangan.
"Temukan aku kalau kau bisa, Little Dragon. Atau kita akan berakhir sampai di sini."
.
.
.
"Tuan Kris?"
Kris menatap curiga pada seseorang yang tiba-tiba menyambutnya sesaat ia keluar dari gerbang kedatangan. Seorang namja berpakaian serba hitam dengan tubuh tegap.
"Saya Kawamura. Tuan Shim Changmin meminta saya untuk menjemput anda dan membawa anda ke penginapan."
Sang namja setengah baya itu tersenyum mengerti akan kecurigaan Kris. Siapa juga yang tak akan curiga bila didatangi seseorang tak dikenal di negeri asing seperti ini.
"Jika anda tidak percaya silahkan hubungi tuan Shim."
Ah, Shit! Kris meninggalkan ponselnya di ranjang bahkan sejak dimatikannya semalam ia tak mengingatnya lagi.
"Aku akan ikut," ujar Kris akhirnya, toh ia tak memiliki tujuan kecuali menemukan evil yang menyebabkannya terdampar di negeri orang.
"Mari ikut saya."
Kris mengikuti sang namja menuju salah satu mobil yang sudah terparkir di luar. Masuk dan duduk di dalamnya tanpa suara.
Hanya menekurkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang terbuka. Menikmati pemandangan malam kota paling sibuk di Jepang.
"Kita akan kemana?" tanya Kris heran saat menatapi jalanan yang semakin sepi. Sepertinya mereka ke arah berlawanan dengan pusat kota.
"Anda akan tahu nanti, bersabarlah ini akan sedikit lama, kita akan sampai sekitar satu jam lagi."
Kris membuka kado yang diberikan Tao sekedar melihat pukul berapa sekarang. Pukul sepuluh lewat empat puluh lima menit. Dan itu berarti Kris akan sampai di penginapan yang dikatakan sang penjemput pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Itu pun kalau perjalanan mereka semulus dipikirannya.
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya hyung? Kalau hanya ingin mengakhiri hubungan kita kau tak perlu repot melakukan ini semua."
Kris mengepalkan tangannya kuat, rasanya ia bodoh serasa dipermainkan dengan mudah oleh seorang Shim Changmin. Mengikuti semua perintah namja itu.
"Kita sudah sampai, Tuan Kris," ujar sang pamam membukakan pintu memberikan ruang gerak pada Kris untuk keluar dan mendapati dirinya di depan sebuah penginapan di tengah gunung.
"Silahkan masuk dan anda akan menemukan tuan Shim di dalam sana."
Sang paman membungkuk sejenak sebelum menghilang dari hadapan Kris. Membuat namja blonde itu menatap bingung apa yang harus dilakukannya bahkan saat ia tak merasakan kehadiran siap pun di penginapan dengan model minimalis tersebut.
Melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Kris tak menemukan siapa pun. Bahkan seseorang yang harus berjaga di depan penginapan.
Kertas?
"Selamat litte dragon akhirnya kau sampai di tempat ini. Kita ada sebuah permainan kecil. Ikutilah. Jawablah semua pertanyaan ini dan kau akan menemukanku. Pertanyaan pertama. Apa kau merindukanku? Jika ya langkahkan kakimu ke dalam jika tidak berbaliklah."
"apa-apaan ini?" geram Kris pada ulah kekanakan Changmin padanya. Apa maksudnya jika tidak ia harus keluar dan pulang ke Korea dengan berjalan kaki.
"Kubunuh kau nanti Hyung." Dan Kris melangkahkan kaki ke dalam penginapan yang ternyata bersambung langsung ke ruang besar seperti tempat makan bersama. Dan lagi-lagi Kris menemukan satu lembar kertas di sana.
"Manisnya … jadi little dragonku merindukan kekasihnya yang tampan ini?" Kris berjanji akan menguliti Shim Changmin nantinya, tidak bila ia masih harus menemukan keberadaan namja ini dan ia harus menahan keinginannya itu.
"Aku bercanda Kris, satu pertanyaan lagi. Jika aku memiliki seorang calon hidup apa yang akan kau lakukan padaku? Apa kau akan melepaskanku? Jika ya ambillah tiket yang ada di balik taplak meja. Bila kau akan mempertahankanku, berjalanlah ke arah kanan dan ikuti jalan kecil yang ada disana."
Hampir saja Kris meremukkan kertas ditangannya membaca kalimat yang tercetak di sana. Sepertinya Changmin harus berhati-hati setelah ini karena ternyata evil seorang Shim Changmin itu menular terbukti dengan wajah Kris yang kini menyeringai padanya.
"Aku akan mempertahankanmu untuk kusiksa seumur hidup, Evil Pabbo."
Kris memilih berjalan menuju arah kanan seperti yang ditunjukkan Changmin. Sesaat ia merobek tiket yang ditemukannya. Niatnya untuk memutilasi seorang Shim Changmin semakin kuat.
Setelah sebulan lamanya mengacuhkannya dan sekarang mengatakan memiliki kekasih lain. Apa mengkebiri juniornya cukup sebagai hukuman? Rasanya tidak … menjauhkan Changmin dari cinta abadinya sepertinya lebih cocok dan membuat namja jangkung itu berguling-guling seperti balita. Itu menarik bila ia merekamnya dan menyebarkannya pada semua fans kekasihnya tersebut.
Kris menatap tabjub pada jalan kecil yang dilaluinya. Jalan ini berbeda dengan penginapan yang terang benderang. Tempat sekelilingnya gelap gulita dan hanya diterangi cahaya lilin sepanjang jalan ini saja. Orang gila mana yang menyiapkan semua ini di tengah gunung dengan angin yang mungkin bisa memadamkannya.
Duk …
Kaki Kris tak sengaja menabrak sebuah boneka di tengah jalan. Boneka berbulu putih dengan sebuah gantungan amplop kecil dilehernya. Boneka yang sangat dikenalnya. Hanya saja ada yang berbeda saat kepala sang boneka tertutup sapu tangan putih.
"Ace?" Kris mengeryit heran bagaiaman boneka kesayangannya berada di sini. Sepertinya ia harus mengiterogasi membernya karena menyebabkan benda-benda pribadinya keluar dari wilayah yang seharusnya.
"Sudah kuduga kau akan mempertahankanku walau aku sangsi apa alasanmu, Kris. Jangan katakan untuk membunuhku … kau mencintai kekasih tampanmu ini bukan? Dunia bisa menangis bila kehilangan seorang Voldemin yang Agung."
'Narsis,' bathin Kris lama-lama melihat kelakukan Changmin yang tertulis di kertas-kertas di tangannya.
"Tapi aku tahu kalau seorang Kris sangat mencintaiku sepenuh hatinya. Jadi bisakah aku meminta satu hal. Tutuplah matamu dengan sapu tangan di kepala Ace. Dan berjalanlah lurus ke depan."
'Kenapa aku harus melakukannya?' tanya Kris di dalam hati melihat jalanan gelap yang ada didepannya. Tak ada lagi penerangan di sana. Mungkin saja ada bahaya yang akan menghampirinya. Namun niatnya berubah membaca pesan di sana seutuhnya.
"Bukankah kau ingin menemuiku dan calonku, Kris."
Kris mengambil sapu tangan dari bonekanya. Memasangkannya di matanya sendiri dan mulai berjalan lurus dengan membawa ace ikut serta. Mana mau ia meninggalkan 'anaknya'sendiri di sana.
Langkah kaki Kris semakin tak menentu karena tak tahu kemana ia melangkah namun suara yang memanggil namanya membuat Kris terus berjalan menuju arah suara tersebut berasal.
"Selamat ulang tahun, Wu YiFan."
Dhuar … Dhuar …
Tepat sesaat seseorang melepaskan sapu tangan dari matanya. Ratusan kembang api muncul di langit gelap. Membentuk kembang api indah di udara. Maniks Kris semakin melebar saat satu tulisan besar berada di sana.
"Will You Marry Me."
"Hyung!"
Kris membalikkan tubuhnya dan menemukan sosok yang sejak beberapa waktu lalu dicarinya sosok yang seharusnya memenuhi janjinya.
Buagh
"Ouch … apa yang kau lakukan, Kris?"Changmin mengusap sudut bibirnya yang terluka. Tak menyangka kalau kepalan tangan Kris yang menyambutnya dengan semua kejutan kecil yang sudah disiapkannya.
"Kemana saja kau hyung! Dan apa-apaan semua ini. Masa calonmu itu biar kugulingkan ke bawah gunung!"
Tawa Changmin pecah mendengarnya, memeluk perutnya sendiri yang sangat kram. Kenapa otak kekasihnya bisa selemot ini bahkan mengalahkan Junsu hyungnya. Tak sadarkah kalau kembang api itu tertuju hanya untuknya.
"Kau benar-benar mau berkenalan?" Changmin berjalan mendekati kris. Mengambil tangan Kris, memasangkan sesuatu di jari manis sang namja.
"Perkenalkan calon istriku, Wu YiFan. Leader EXO-M milik yang sudah menjadi milik seorang Magnae DB5K."
Kris tak bisa mengatakan apa pun saat ini. Sesaat ia bisa melihat sebuah meja makan dengan makanan dan wine di atasnya. Caddle light dinner di atas gunung. Benar-benar khas seorang Shim Changmin.
"Aku belum terlambat kan? Selamat ulang tahun Wu YiFan."
Dhuar … dhuar …
Kembang api kembali mengisi langit malam dan Kris bisa melihat jam ditangannya berganti tepat sesaat kembang api itu mengudara untuk kedua kali. Ini adalah kejutan untuknya, kejutan ulang tahunnya.
"Jadi bagaimana? Apa kau menerimaku, Kris? Atau kau akan menolakku lagi? Aku akan pergi jika kau melakukannya. Kurasa kau sudah terbiasa dengen ketidakhadiranku sebulan ini kan?"
Kris mengutuk senyum di wajah Changmin. Bukankan ini artinya ia tak memiliki pilihan selain 'ya'. Kekasihnya ini benar-benar membuatnya tak berkutik. Membuatnya merasakan arti kesepian dan memberikan pilihan yang membuatnya harus mengiyakannya bila tak ingin kehilangan seorang Changmin untuk kedua kali.
"Kupastikan lamaranku yang ke lima kau pasti akan menerimanya, little dragon."
"Aku akan melakukan apa pun dan memastikan kau menjawab hanya dengan 'ya' pada tanggal enam november nanti."
Kris teringat dengan perkataan Changmin waktu itu. Namja itu melakukannya dengan baik terbukti dengan mulut Kris yang akhirnya bersuara.
"Kau tahu jawabanku, Hyung."
"Tidak. Aku menginginkan kata yang jelas keluar dari bibir ini," ujar Changmin mengusap bibir Kris dengan jari jempolnya. Candu yang ditahannya untuk membuat rencananya berhasil.
"I will Shim Changmin," ujar Kris tersenyum kecil mengusap bekas pukulan di bibir Changmin yang sedikit pecah, "sakitkah hyung?"
Changmin menggeleng, mengecup singkat bibir Kris. Sejenak menggantikan nyeri kecil dengan rasa manis milik sang namja. Memeluknya sebentar sebelum menarik tangan Kris untuk duduk di salah satu kursi yang sudah dipersiapkannya.
"Perayaan ulang tahunmu dan juga keberhasilanku malam ini," ujar Changmin menjelaskan melihat wajah bingung Kris. Menyodorkan satu gelas berisi wine.
"Cherrrss …"
Dan kedua namja itu bersulang menikmati waktu di malam buta hanya berdua. Tertawa bersama sejenak menghabiskan waktu berdua.
"Hyung … kenapa kau menyewa penginapan tanpa pegawai di tengah gunung begini?" tanya Kris di sela acara makan tengah malam mereka.
Changmin menaikkan lengkung bibirnya sebelum ia membuat Kris harus bergidik merasakan firasat buruk.
"Kau tak berpikir kita hanya makan di sini kan, Kris?"
"Jangan katakan kalau—"
"Tentu saja … kita akan menghabiskan waktu seminggu penuh untuk bercinta semalam suntuk di penginapan ini," ujar Changmin menyeringai pada Kris membuat namja blonde itu menghentikan gerakan tangannya yang hendak menyuap makanan.
"Aku menolak!"
"Terserah kalau kau bisa pulang tanpa tiket dan paspormu," ujar Changmin memainkan dua benda yang dicurinya dari kantong celana Kris sesaat ia memeluknya tadi.
"Kau! Aku membencimu Shim Changmin."
"Daisuki mo, Wu YiFan." Changmin hanya tertawa melihat wajah frustasi Kris padanya, tertawa setan dengan emosi yang kini ditunjukan Kris padanya.
"AKU MEMBENCIMU EVIL BRENGSEK!"
.
The End (?)
,
A/N:
Our Weeding as Purpose done^^~
Special thanks for chapter before:
Abstrak| Re Suka| Alika Malik| Aspirerainbow| MinnieChangkyu56| MimiJJW| Reeeee| miszshanty05| The Biggest Fan of YunJae| MagnaeKyu| Hyunieeh| Kim Eun Seob| Juli Constantine| Kim Jaerin| Ekasudaryadi| Loli93| Bluefire0805| Ryeocha| the AKTF| hyona21| Karuru-chan| AngelGie Hantaoris| Zheyra Sky| myuu myuu| adilia taruni 7| All sider in this ff
Buat yang nanyain KyuTao, mian Mizu gak bakal publish side story nya di FFN. Cukup dengan MinKris adja, Mizu hampir nangis kemarin gegara ada yang jelekin ngatain yang gak2. Mizu ga mau nyari ribut lagi dear ini cuma fanfict ga suka ga usah baca. Kalau ff Mizu yang buruk silahkan saja tapi tidak dengan copelnya.
Kalau ada yang mau ff KyuTao nya mungkin bakal Mizu publish d WP Mizu slight YunJae rated M (yang minta YJ NC kemarin siapa? xDD). Mian banget soal ini. Cuma MinKris, crack copel yang ada di FFN yang lain bakal ada di WP Mizu. Gak mau ribut ama shipper yang terlalu fanatik ampe ngebash ff orang lain dikiranya Mizu ga bakal tahu walau dia di luar ffn ngomonginnya, I Know Dear*bow*
.
.
.
Epilog
Drrrrttt …
"Hyung, ponselmu." Kris yang masih setengah mengantuk mendorong bahu Changmin yang berada di sampingnya. Meminta sang namja menjawab ponsel yang sedari tadi tak berhenti bergetar di meja nakas.
"Biarkan saja."
"Angkat hyung, siapa tahu penting," ujar Kris mendorong tubuh Changmin untuk bangun sedangkan ia kembali menarik selimut putih yang melorot ke bawah. Menutupi seluruh tubuh telanjangnya. Matanya masih mengantuk bila ia bahkan baru bisa memejamkan matanya tiga jam yang lalu. Salahkan Changmin yang bermain tidak kira-kira.
Mengusap matanya pelan, Changmin duduk di samping ranjang membelakangi Kris. Menjangkau ponsel silver yang terus berkedip dengan panggilan dari seseorang.
Bahkan dengan kesadaran yang masih belum terkumpul semuanya Changmin mengangkat panggilan tersebut.
"SHIM CHANGMIN PABBO. KEMBALIKAN KRIS KE KOREA SEKARANG JUGA!"
Sontak maniks Changmin melebar mendengar teriakan keras dari ujung sana. Jantungnya langsung bekerja kencang, membuat kesadarannya langsung kembali. Changmin mengutuk siapa pun yang berani membentaknya, namun nyalinya menciut melihat nama yang tertera di sana.
"Jaejoong hyung?"
"Kembali ke Korea hari ini juga. Kris ada jadwal nanti malam begitu pun juga kau, Magnae. Kalau kau tak sampai kemari secepatnya ucapkan selamat tinggal pada kulkas di dormmu."
Shit! Changmin mengutuk kalau ia melupakan satu jadwalnya padahal seminggu ke depan ia akan bebas. Benar-benar menyebalkan.
"Kenapa hyung?" tanya Kris mendongakkan kepalanya melalui bahu Changmin. Suara keras Jaejoong tadi membuat kantuknya juga menghilang dengan segera.
"Tidak," jawab Changmin pelan, ia masih tak rela acaranya hancur berantakan hanya karena satu jadwal konyol itu tak menyadari kalau tangan Kris menelusup mengelus perutnya—menggoda Changmin.
"Ssshhh … apa yang kau lakukan, Kris?"
"Menurutmu Hyung?" balik Kris bertanya sedangkan tangannya mulai turun ke bawah menyentuh benda yang semalam membuat lubangnya kini kesakitan.
"Aku mau bertanya hyung, kapan kita akan menikah?"tanya Kris santai padahal Changmin bersusah payah menahan tangannya yang sedang mengerjai milik Changmin.
"Lima tahun lagi."
"Kau bercanda Hyung?" Kris tak sengaja menggenggam erat milik Changmin membuat namja itu mendeliknya kesal. Salahkan mulut asal Changmin padanya.
Brugh
Changmin berbalik berpura-pura kesal pada Kris yang tertawa tanpa rasa bersalah padanya. Memasang wajah tajam walau sesaat berubah lembut pada Kris.
"Aku bercanda Kris. Tak lama lagi. Tunggu saja aku menculikmu lagi untuk berdiri di kapel."
"Kau benar-benar suka menculikku ya, Hyung?" sindir Kris menarik kepala Changmin, mengecup bibir sang namja dan mengajaknya dalam sebuah ciuman hangat. Tak butuh waktu lama hingga erangan dan desahan kembali terdengar di sebuah kamar penginapan tanpa penguni kecuali mereka tersebut.
"Ya, Shim Changmin matikan ponselmu dulu sebelum melakukan hal mesum begitu, Pabbo! Dan kau harus pulang siang ini juga."
Klek
Changmin dan Kris hanya tertawa mendengar teriakan Jaejoong lagi. Sengaja menggoda sang umma yang kini wajahnya merona malu di Korea sana.
"Jahil."
"Kau yang mengajariku, Hyung."
Changmin mengecup singkat dahi Kris. Membagi semua kebahagiaanya pada namja blonde itu.
"Tunggulah, Kris. Kupastikan kau akan berdiri tak lama lagi di kapel bersamaku."
"Yah, asal jangan menculikku lagi, Hyung. Kau harus meminta izin dengan benar kali ini," ujar Kris memeluk tubuh Changmin. Menyamankan dirinya di lengan Changmin.
"Aku tahu." Changmin menarik kepala Kris dalam sebuah ciuman lembut lainnya. Sejenak menghabiskan waktu hingga mereka harus kembali ke dunia yang berbeda. Dunia yang membuat mereka hanya bisa tersenyum hambar satu sama lainnya. Di saat sang Dragon mengenakan cincin dari seorang Evil Magnae di jari manisnya. Changmin tahu waktu itu akan segera tiba, waktu dimana ia benar -benar'menculik' Kris untuk tinggal selamanya disisinya. Tak akan lama lagi, pasti.
.
See You in Next Chapter
Or
Next side Story? xD
.
