"Apa sunbae tahu mimesis? Binatang yang seperti serangga berkamuflase untuk melindungi dirinya. Misalnya meniru cabang pohon, warna bunga dan lain-lain. Dulu sewaktu kecil aku suka sekali melihat foto-foto itu dan mencarinya. Binatang yang bisa meniru itu juga sepertinya punya dilema. Mereka bingung, apakah harus menyerang musuhnya atau diam saja … sunbae juga sama saja, Kau juga sedang melakukan "Mimesis" kan?"

.

Mimesis: Special Chapter

Cast:

EvilDragon aka Shim Changmin & Wu Yi Fan Kris

Genre: Romance/Frienship

Rated: M for this chapter

Waning: AU, crack pair(?) gila-gilaan, typo, alur cepat,

.

.

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

Berniat meneruskan? silahkan…

.

.

Kalau tidak suka tolong beranjak dan menjauh, Mizu gak mau ngotori fict Mizu dengan flame bodoh di fandom ini, Ok^^

.

.

Anda sudah diperingatkan dear

.

.

Wisuda Angkatan xxx tahun 20xx Sekolah Menengah Atas Cassiopeia

"Changmin-ah … selamat."

Shim Changmin seorang namja jangkung tampan yang bahkan mengalahkan MAX DongBangShinki itu tersenyum kecil menerima uluran tangan dari seorang namja tampan bermata musang yang langsung menepuk pundaknya sesaat ia turun dari podium,

"Sudah kuduga hanya hyung saja yang datang," ujar Changmin dengan wajah datar. Terbersit rasa kecewa di dadanya walau tak terlihat diwajahnya..

"Mau bagaimana lagi kau tahu bagaimana keadaan kedua orang tuamu."

"Aku tahu," ujar Changmin berjalan menjauhi kerumunan orang yang mulai larut dalam euforia hari ini. Tak sedikit sebenarnya yang mencoba mendekatinya walau ditanggapi acuh oleh Changmin. Siapa yang peduli dengan acara bodoh ini bahkan bila seorang Shim Changmin kembali menyabet juara umum untuk kesekian kali ditambah wujudnya yang kembali 'normal' membuat berpasang mata memandangnya kagum.

"Changmin hyung."

Brugh

Plak

"Apa yang kau lakukan Choi Minho?" Changmin menjitak Minho yang tiba-tiba menubruknya dari belakang. Mengutuk semua kelakuan absurb sang namja. Berharap Minho lebih baik bersikap dingin seperti dulu—di tahun kedua. Namun sejak Changmin berubah namja itu kembali mengekorinya seperti anak kucing. Terlebih kini Kyuhyun yang juga merupakan sepupu Minho sudah kembali membaik dan tinggal bersama hyung mereka di Jepang.

"Kau ada janji padaku, Hyung. Kau ingat saat di Kanada waktu itu kau bilang mau mengenalkan kakak iparku—uhmpp."

Changmin menutup kedua mulut Minho yang bagai kereta api menyerocos padanya. Ingin rasanya ia memasak namja kodok ditangannya ini saat ini juga.

"Diam Froggy Boy atau kau ingin aku menenggelamkan tubuhmu ke kolam sekolah?" deatglare Changmin yang sentak membuat Minho mengangguk patuh.

"Kakak ipar apa Shim Changmin?"

Sepertinya duo Min itu melupakan kehadiran Yunho yang sedari tadi ikut berjalan di dalam diam bersama Changmin. Jung Yunho wali Changmin di Korea sekaligus sepupu namja jangkung tersebut.

"Tak ada hyung. Minho hanya asal ngomong saja, Benarkah Choi Minho?" tanya Changmin tersenyum manis walau Minho tahu kalau senyuman itu mengandung racun. Membuat kepalanya refleks mengangguk bahkan dengan tangan Changmin yang masih membengkapnya.

"Terserah kau saja Min. Hanya saja lebih baik lepaskan Minho. Dia bisa mati kehabisan napas." Yunho menujuk wajah pucat Minho yang sepertinya mulai kehabisan oksigen—tangan namja itu bahkan sudah sedari tadi mencoba menarik tangan Changmin.

"Huwaaahhhh … oksigen. Kau kejam hyung. Kalau aku mati bagaimana?" cecar Minho sesaat Changmin melepaskannya. Mengutuk namja jangkung yang dengan santainya berjalan—mengacuhkannya—membuat namja pecinta katak itu pundung di sudut dengan Yunho yang menyemangatinya.

"Hyung." Changmin menghentikan langkahnya sesaat mereka berada di depan mobil audi milik Changmin.

"Ada apa?" tanya Yunho heran pada Changmin yang sedikit. Ia tahu kalau Changmin sedikit sedih karena kedua orang tuanya tak bisa hadir di tengah acara kelulusannya. Itulah mengapa Yunho yang diminta tolong untuk datang.

"Aku akan liburan ke China. Dan tolong katakan pada appa dan umma untuk pulang seminggu lagi."

"Kenapa?" Yunho semakin heran dengan permintaan Changmin. Sejak kapan namja berstatus adik sepupunya itu menginginkan orang tuanya. Bahkan dengan perusahaan yang semakin berkembang dan membuat orang tua Changmin sibuk di luar negeri. Tak sekali pun namja itu menyinggung ketidakhadiran orang tuanya di rumah.

"Ada sedikit kejutan untuk mereka."

"Changmin hyung hendak mengenalkan calon 'istrinya' hyung. Kau tahu namja kelebihan kalsium berambut blonde dari China," ujar Minho dengan seenak mulutnya menyambung perkataan Changmin. Mengacuhkan tatapan tajam yang melayang padanya saat ini. Minho sudah terlalu kebal dengan semua deathglare Changmin.

"Nam—ja?"

Dan Changmin hanya berlalu meninggalkan Yunho dengan keterkejutannya. Menjauh dari riuh sekolahnya ke arah utara. Membiarkan Minho yang menjadi sasaran hyungnya. Sedikit berdoa agar namja yang dianggapnya adik itu selamat. Yunho pasti akan mencecarnya habis-habisan, karena namja sepupunya itu terlalu lurus. Bahkan di usianya yang hampir masuk kepala tiga, Yunho masih melajang.

"Nah Kris. Kuharap kali ini tak ada 'sambutan kecil' seperti kemarin. Atau aku akan benar-benar mengurungmu di kamarku dengan rantai," bisik Changmin sembari membelah keramaian kota Seoul menuju satu arah—bandara Incheon.

.

.

.

Sepertinya Changmin mengenal baik sosok seorang Kris. Bahkan kini sang namja bersurai pirang itu tengah asyik bercumbu dengan seorang yeoja berpakaian minim di sebuah club malam.

"Hey, Kris tak ingin memesan kamar?" tanya seorang namja bersurai merah melihat apa yang dilakukan Kris di salah satu sofa dengan seorang yeoja yang mendesah di atas pahanya—jangan lupakan tangan Kris yang menelusup masuk ke dalam rok pendek sang yeoja.

"Uhmp? Tidak … aku hanya ingin sedikit bermain-main," jawab Kris di balik leher sang yeoja. Bermain di sana dengan senyum meremehkan. Senang dengan seorang yeoja yang kini terkulai pasrah dibahunya pasca sebuah permainan kecil. Merasakan cairan basah di jarinya di dalam sana.

"Tumben. Sejak pulang dari Kanada kau sedikit berubah. Kau tahu?"

"Ya. Aku tak mau membuat seorang karnivora evil memakanku hidup-hidup."

Kris mengangkat bahu menyadari wajah heran sahabatnya. Tersenyum manis sebelum meminta yeoja di pangkuannya untuk keluar dan meninggalkan ia bersama sang namja—Zhang Yi Xing.

Mengambil minuman di atas meja Kris meneguknya perlahan. Menyadarkan tubuhnya di samping Yi Xing. Bertanya melalui tatapan matanya saat Yi Xing masih melihatnya tanpa berkedip.

"Kau benar-benar Wu Fan? Rasanya aneh mendengar seorang player bajingan tobat? Itu menggelikan."

Kris tertawa mendengar kalimat frontal yang diberikan Yi Xing padanya. Tak marah pada apa yang dikatakannya tentang seorang Wu Fan. Karena itu memang benar setidaknya sebelum ia bertemu dengan seorang karnivora ganas berkedok namja nerd.

"Aku serius."

"Selamat kalau begitu. Aku jadi penasaran siapa yang bisa membuatnya berhenti menjadi 'pemburu' kurasa dia pawang yang cukup 'kuat'?"

"Yah kalau yang kau maksud kuat di atas ranjang mungkin iya. Dan untuk informasimu dia seorang namja."

Brussshhh

Yi Xing menyemburkan minumannya sendiri. Menggeleng dengan mulut Kris yang sebelas dua belas dengannya. Terlebih dengan kalimat tambahan dibelakangnya.

"Kenapa?"

"Kau bercanda? Kurasa otakmu semakin tak waras Kris. Apa Cuma itu yang ada di kepalamu?" decak Yi Xing kesal pada Kris yang malah mentertawainya. Sejak ia mengenal seorang Kris, Yi Xing sudah tahu dengan sifat Kris yang suka bermain dan mencari petualangan baru. Mengecap sesuatu yang membuat andrenalinnya bergejolak. Bahkan kalau ia tak salah hampir separuh yeoja di sekolah mereka berstatus mantan Kris. Tapi seingatnya tak terselip jenis namja—Yi Xing saja yang tak tahu kalau Kris juga seorang Bi.

"Tidak. Hanya saja dia terlalu menarik untuk diacuhkan seperti ulat yang bersembunyi di dalam kepompongnya."

"Jangan katakan kalau sebenarnya kau yang berniat memburunya namun berbalik diburu?"

"Ping … pong … kau benar," ujar Kris sembari berdiri. Menepuk pakaiannya sendiri sebelum hendak beranjak keluar, "sebaiknya aku pulang besok aku masih ada tes. Ah, tolong bayarkan sewa ruangan ini pada Zhoumi gege," tambah Kris meletakkan beberapa lembar dollar di atas meja. Berpamit pada Yi Xing yang menggeleng melihat kelakuan Kris padanya. Walau sebenarnya di dalam hati Yi Xing tersenyum karena pada akhirnya Kris memiliki—atau dimiliki—satu orang. Dan itu berarti pencarian Kris berakhir. Dan akan ada seseorang menghentikan langkahnya ke luar.

"Semoga kau bahagia Kris."

.

.

.

"Ternyata kau benar-benar tak berubah, Little Dragon."

Kris terkesiap sesaat tangannya menyentuh pintu mobilnya suara seseorang menyapa gendang telinganya. Jantungnya berpacu kencang mengenali suara sang namja. Bahkan tubuhnya tak bisa bergerak walau ada tangan yang kini memeluknya dengan satu tangan menelusup masuk pakaiannya.

"Changmin—ugh." Kris menggigit bibirnya sendiri merasakan jari sang namja menarik kuat putingnya mendorong tubuhnya hingga berbenturan dengan badan mobil. Sepertinya ia sudah memancing kemarahan seorang Shim Changmin.

"Mana. Kalimatku. Yang. Tak. Kau. Mengerti, Wu. Yi Fan?" ujar namja dibelakang Kris pelan. Mengacuhkan perlawanan yang dilakukan Kris padanya.

Kris menahan tangan Changmin yang hendak masuk ke dalam celananya.

What the hell! Apa namja ini hendak menelanjanginya di depan umum begini. Membuatnya mendesah dengan telinga orang-orang yang bisa mendengarnya kapan saja. Tidak akan.

"Hentikan Hyung. Kau tahu ini tempat umum," desis Kris menolehkan kepalanya dan menemukan sosok Shim Changmin yang berbeda. Seorang namja jangkung dengan wajah tampan dan rambut acak-acakan bersurai hitam. Berpakaian mahal yang mencetak tubuhnya yang terlihat mahal. Tak ada lagi kacamata bodoh yang menutupi mata pemburu yang disukai Kris. Seorang Lord Evil Shim Changmin Cassiopeia telah kembali.

"Lalu? Masalahnya dimana?" tanya Changmin ringan membalikkan tubuh Kris dan menghempaskannya untuk kedua kali ke badan mobil. Menulikan telinga dari lirih samar yang terdengar. Changmin sedang kesal saat ini, ia melihat semua yang dilakukan Kris di dalam sana. Namun Changmin lebih memilih menunggu di luar dari pada ia mengamuk di dalam sana.

Kris menarik napas pelan, ia tahu Changmin sedang malas saat ini. Tapi Kris sudah berjanji kalau ini akan jadi saat terakhirnya datang dan bermain-main. Karena ia tahu hari ini adalah hari kedatangan Changmin. Hari yang dijanjikan sang kekasih untuk menjemputnya.

Menangkup wajah Changmin dengan kedua tangannya, Kris tersenyum tipis. Senyum yang hanya pernah diperlihatkannya pada Changmin.

"Jadi predator ini cemburu karena buruannya bermain dengan yang lain?" seringai Kris pada Changmin yang menaikkan alisnya dengan perubahan drastis milik Kris. Seorang Wu Yi Fan tetaplah Wu Yi Fan. Dia adalah mangsa liar milik seorang Shim Changmin, "aku merindukanmu, Hyung. Jadi beginilah caraku membunuh waktu, setidaknya ini adalah kali terakhir bila kau benar-benar bisa menaklukanku—uhmpp."

Tak membutuhkan Kris menyelesaikan kalimatnya, Changmi sudah menciumnya paksa. Menahan kepala Kris tetap ditempatnya, dengan mulut namja itu yang sudah disusupinya.

Kris meremas surai hitam milik Changmin membuat rambut lembut itu semakin berantakan. Memaikan lidahnya keluar masuk bersama lidah Changmin yang membelitnya. Bercumbu panas di dalam mulutnya.

Keduanya tak memperdulikan beberapa pandang mata yang menatap aneh bahkan syok melihat dua orang anak manusia berkelamin sama tengah bergulat mulut di parkiran club.

"Hey, Bung. Carilah hotel. Kau bisa membuat semua tegang dengan desahan kekasihmu, ahahaha."

Menghentikan ciumannya sejenak, Kris melirik kesal pada sesosok namja langganan club yang sering ditemuinya tertawa bersama sekumpulan orang yang melihat mereka bagai tontonan gratis.

"Suit … suit … aku tak menyangka Kris ternyata pecinta sesama. Ini bisa jadi rekor baru. Kau membuat gadis-gadismu patah hati blonde." Tawa keras kembali terdengar dari orang-orang yang ternyata mengenal Kris. Beberapa namja dan juga yeoja yang melihatnya dengan pandangan remeh.

"Hentikan." Changmin menahan tangan Kris yang hendak menghajar mereka. Changmin tak bodoh untuk membiarkan kekasihnya terlihat perkelahian konyol ini—walau Changmin yakin Kris bisa membuat mereka babak belur.

Meminta kunci mobil Kris, Changmin meminta namja blonde itu untuk masuk ke sisi sebelah. Tersenyum dan meyakinkan kalau semua tak apa. Toh jumlah mereka hanya sedikit.

Berjalan mendekati sekumpulan orang itu Changmin menyeringai membuat beberapa namja itu memasang wajah waspada. Mereka tak mengenal Changmin tapi bukan bearti mereka tak menyadari aura bahaya dari namja jangkung ini.

"Apa?"

"Tidak. Hanya saja jangan buang waktu mengurusi urusan orang lain kalau kalian tak mau bertemu setan di neraka lebih cepat."

Buagh

"Arrrhhhghhh!"

Namja itu tampak kesakitan sesaat Changmin melayangkan sebuah pukulan telak di ulu hatinya.

"Itu peringatan kecil dariku," ujar Changmin membalikkan tubuhnya berjalam memasuki mobil Kris. Menjalankan mobil kekasihnya menjauhi segerombolan orang yang terdiam karena keberaniannya—menantang orang lain di negeri orang.

"Kenapa tak dikejar?"

"Tak usah. Dia berbahaya—neraka bahkan tak lebih pekat dari matanya."

.

.

.

Tak butuh waktu lama Changmin sampai di pekarangan milik keluarga Wu. Sedikit ragu untuk keluar karena selama perjalanan mereka hanya terdiam satu sama lain. Situasi yang benar-benar aneh.

"Turunlah hyung. Kau ingin menemui orang tuaku bukan?" Kris menutup pintu mobilnya pelan. Berjalan di depan Changmin yang mengikutinya memasuki kediaman miliknya.

Rumah keluarga Wu itu terlihat besar sama persis dengan rumah Changmin di Korea. Menujukkan strata keluarga Kris yang memang sama dengannya.

"Dad, Mom." Kris memeluk kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang tengah, dua orang berpakaian resmi yang sepertinya hendak keluar. Ia memang sudah memberitahu keduanya kalau ada tamu penting yang akan datang. Sebuah kejutan kecil untuk kedua orang tuanya. Itulah mengapa ia menahan kedua orang tuanya di sini.

"Siapa?" tanya seorang yeoja berambut hitam panjang cantik pada Kris. Wajah yeoja itu masih terlihat cantik di tengah usianya yang memiliki anak seusia Kris.

"Kekasihku. Shim Changmin. Aku sudah pernah mengatakannya bukan?"

Kedua orang tua Kris itu tak terlihat kaget dengan kedatangan Changmin di rumah mereka. Karena Kris sudah pernah mengatakannya saat sang ibu menginterogasi Kris sepulang mereka dari Kanada. Tentang Kris yang tak pulang seharian dan kembali dengan banyak hickey di lehernya.

"Changmin-ssi. Duduklah. Kami tak akan seburuk itu menyambut tamu. Terlebih kau adalah kekasih Kris."

Kikuk, Changmin tersenyum dan duduk di seberang keduanya. Memberi salam pada kedua orang tua Kris. Namun kegugupan Changmin menghilang dengan kehangatan keduanya. Kehangatan yang sama dari namja yang dicintainya.

"Mom … aku akan pindah ke Korea, semester depan," ujar Kris membuka pembicaraan serius di antara mereka. Menyeringai melihat tatapan heran Changmin padanya.

"Tapi Kris bukankah tahun depan kau juga akan menyelesaikannya. Apa tidak percuma."

"Kurasa tidak, toh bulan depan Dad dan Mom juga akan membuka cabang di luar negeri lagi. Dan rasanya membosankan kalau hanya di rumah sendirian."

Ayah dan ibu Kris itu saling berpandangan sebelum akhirnya mengangguk. Karena apa yang dikatakan Kris benar adanya. Mereka akan semakin sering meninggalkan anak semata wayang mereka dengan maid di rumah karena kepadatan jadwal perusahaan mereka. Itulah mengapa Kris sering keluar sekedar menghabiskan waktu.

"Baiklah. Dad akan mencarikan apartemen untukmu di Korea."

"Maafkan saya tuan Wu—"

"Dad … panggil saja Dad, Changmin-ah. Rasanya aneh kalau kau memanggil begitu." Pria paruh baya itu tertawa menepuk pundak Changmin.

"Ah baiklah, Dad. Bagaimana kalau Kris tinggal bersama saya saja. Toh keadaan kami serupa—orang tua saya sering bepergian juga."

"Bagus kalau begitu. Berarti Kris ada yang menjaganya. Anak ini sedikit liar kalau tak ada yang mengawasinya," canda Tuan Wu membuat Kris langsung menatap tajam sang ayah walau tak dipedulikan malah memancing tawa keluarga kecil itu.

"Tenang saja, saya bisa mengendalikannya." Changmin tertawa sembari bercanda walau di bawah sana Kris mencoba menendangnya.

"Ah baiklah kami harus pergi dulu. Silahkan beristirahat di rumah ini, Calon menantu."

"Tentu saja, Nyonya Wu—"

"Mom Changmin. Kau membuat hatiku terluka dengan panggilanmu."

"Maafkan saya, Mom. Saya akan mencoba membiaskannya," ujar Changmin tersenyum kecil ikut mengantar kedua orang tua Kris itu hingga ke pintu depan. Meninggalkan keduanya dengan senyum bahagia terukir di bibir.

.

.

.

"Aku tak menyangka kau sudah menyiapkannya sejauh itu," ujar Changmin saat mereka kini tengah berada di kolam belakang. Duduk di tepi kolam di temani cahaya rembulan yang bersinar terang.

"Bagaimana kalau seandainya aku tak jadi menjemputmu?"

"Mudah saja, aku tinggal datang ke Korea dan mencari mangsa baru," jawab Kris santai tak menyadari kalau Changmin menghela napas dengannya.

"Bercanda, Hyung. Mungkin aku hanya tinggal mencarimu dengan berpakaian seorang gadis dan mengaku hamil karenamu." Tawa Kris geli membayangkan dirinya sendiri, menyesap minumannya sendiri dengan kaki yang berada di dalam kolam.

"Kris."

Kris menoleh mendengar Changmin memanggilnya lirih, tersenyum kecil menyadari apa yang ingin dilakukan Changmin padanya. Menutup matanya perlahan, Kris menyambut sentuhan Changmin di bibirnya. Sebuah kecupan lembut yang berbeda dari biasanya—liar dan panas.

Byurrr …

Keduanya terjun ke dalam kolam renang dengan bibir yang masih bertaut. Lidah yang saling menggulung di dalam air dengan kecupan saliva yang kini bercampur dengan air kolam.

"Huwwwaaahh …" Kris menaikkan kepalanya sesaat ia merasakan kebutuhan oksigen yang mendesak. Mendorong jauh namja yang membuatnya mandi di malam hari dengan pakaian lengkap.

"Kau gila hyung!"

Changmin terkekeh, memajukan tubuhnya dengan Kris yang refleks mundur hingga akhirnya berhenti pada batas kolam. Memandang sayang pada namja yang menyumpah serapah dirinya kini.

Bila Kris sangat menyukai maniks gelapnya yang bagai predator liar, Changmin menyukai bibir merah muda Kris yang selalu bermulut manis—memaksanya melepas setiap pertahanan dirinya. Membuat seorang Shim Changmin menunjukkan taring akan kekuasaanya.

"Tunggu—kau tak bermaksud 'bermain' di dalam kolam kan hyung? Ingat ini musim gugur bahkan anginnya bisa membuat tulangku menggigil."

Tak peduli, Changmin memepet tubuh Kris hingga tanpa batas. Menggesek tubuhnya sendiri dengan namja yang mencoba berontak walau percuma. Saling berhimpitan dengan tubuh setengahnya basah oleh air kolam hingga batas dada. Changmin memang berniat memberi sedikit pelajaran tambahan pada seorang Wu Yi Fan miliknya.

"Aku serius," bisik Changmin di telinga Kris. Menjilati setiap lekuk daun teling sang namja dengan tiupan ringan yang membuat Kris merinding karenanya. Bila ada satu hal yang dibenci Kris adalah berenang di malam hari terlebih dengan pakaian lengkap seperti ini.

"Kau sudah kuperingatkan bukan."

"Aku tahu. Ini yang terakhir hyung. Aku tak melakukan hal lebih dari sebuah cumbuan. Dan menunggumu sendiri di sini itu membosankan—uhmppp."

Changmin kembali melumat bibir Kris kasar, menarik surai basah yang kini menutupi poni Kris keras. Membuat namja itu sedikit mendongak dengan lidah Changmin yang kini menyeruak masuk ke dalam rongga hangat milik Kris.

Menjatuhkan diri kedalam kolam, Changmin memaksa Kris bermain liar di dalam air. Bercumbu dengan lidah yang terus berpagut dan tangannya yang menelusup masuk ke dalam pakaian milik Kris. Menyapa benda merah yang kini berdiri tegang dan keras.

"Uhmpp—nghh—" Desahan Kris tertelan oleh air kolam. Mengikuti semua permainan lidah Changmin di dalam mulutnya. Lututnya sengaja menggesek benda di tengah selangkangan milik Changmin. Membalas setiap sentuhan kasar yang dilakukan namja itu dengan tubuhnya.

"Ah … ah …"

Desahan Kris nyaring terdengar saat setengahnya tubuhnya menyembul ke luar kolam tapi tidak dengan Changmin yang kini berada di dalam sana. Mencumbu dadanya dengan tangan yang meremas kasar kejantanan miliknya.

"Agh! Shit! ini sakit, Hyung." Kris mendesis merasakan gesekan celana miliknya dengan tangan Changmin yang tak berhenti bergerak kuat di bawah sana. Rasanya kejantanannya sedikit lecet.

"Tapi enak bukan?" goda Changmin merasakan kalau benda di tangannya semakin membesar dan tegang. Membuat Kris harus mengakui kalau setiap permainan Changmin selalu bisa membuatnya berdiri.

Membantu Kris untuk duduk di tepian kolam, Changmi melepaskan pakaian bawah milik namja itu tak peduli kalau ada maid yang tak sengaja lewat dan melihat anak majikan mereka tengah dilecehkan oleh seorang predator lapar.

Memasukkan milik Kris ke dalam mulutnya, Changmin menyeringai mendengar desahan tertahan dari mulut Kris. Sepertinya namja itu sedikit khawatir kalau-kalau ada yang mendengar suaranya. Namun jangan sebut nama Changmin kalau ia tak bisa membuat bibir itu melantunkan desahan yang disukainya.

"Argghhhhh!"

Teriakan Kris lepas keluar sesaat klimaksnya keluar di dalam mulut Changmin membuat tubuhnya terjatuh tepat ke arah bahu Changmin. Mengutuk lidah terlatih kekasihnya yang selalu bisa membuatnya tunduk.

"Jangan curang hyung," ujar Kris di sela menarik napas, ia melepask kancing baju milik Changmin. Menanggalkan semua pakaian di tubuh Changmin hingga sang namja sama telanjangnya dengan dirinya kini.

Masuk ke dalam kolam, Kris membalikkan tubuhnya menarik jari Changmin untuk masuk ke dalam lubangnya. Jari panjang yang kokoh untuk melonggarkan lubang miliknya.

"Gerakkan hyung. Apa kau mau merasuki tanpa persiapan sedikit pun?" bisik Kris merasakan jari Changmin yang tak bergerak dan hanya diam di dalam lubangnya. Membuat perutnya terasa begah.

"Tak ada pelonggaran untuk anak nakal, Kris."

Jleb

Tepat Changmin menarik keluar jarinya, kejantannyan besar miliknya langsung masuk menghujam lubang Kris tanpa ragu. Membuat namja blasteran itu berteriak lagi karena sakit. Terlebih dengan air kolam yang ikut masuk ke dalam sana.

"Shit! Brengsek! Apa kau tak bisa bermain lembut sesekali, Shim Changmin?" kutuk Kris pada namja yang kini terkekeh menciumi lehernya. Mengecap leher putih yang kini bermandikan kissmark yang sangat banyak.

"Lembut tak ada di dalam kamusku Kris. Terlebih untuk menjinakkan seorang Wu Yi Fan," ujar Changmin menggerakkan kejantanannya ke dalam lubang Kris. Cepat dan dalam membuat erangan dan desahan Kris mengudara di malam dingin

Dua anak manusia itu masuk terus bergerak di dalam kolam membuat air bergejolak seakan ada ombak. Ditemani sang rembulan yang mulai menahan malu melihatnya.

"Agh! Hyung! Agh!"

Kris tak peduli kalau ada yang mendengar atau bahkan melihat apa yang tengah dilakukannya. Ini terlalu nikmat untu diacuhkannya. Merasakan bagaimana benda tumpul besar berurat tengah menganiaya lubangnya. Menyodok tepat di prostatnya dengan rasa yang tak bisa digambarkan.

"Apa ada yang bisa memuaskan lubangmu selain milikku, Kris?"

Jleb

Jleb

"Hah … tidak hyung."

"Apa ada yang bisa membuatmu puas mendesah seperti kucing lapar seperti ini? Wu Yi Fan?"

Jleb

Jleb

"Tidak. Kau yang terbaik hyuuungggaaahhh!"

Kris menyemburkan spermanya lepas. Cairan berwarna putih yang kini bercampur dengan air kolam bahkan terapung di atasnya.

Tubuh Kris masih tersentak beberapa kali hingga dirasanya adanya cairan hangat yang mengisi lubangnya. Cairan hangat milik Changmin.

"Ssshhh … ini nikmati, Kris." Changmin menekurkan kepalanya pada bahu Kris. Membiarkan seluruh isi kejantananya penuh dan meluber di dalam lubang milik Kris. Merasakan bagaimana lubang Kris meremasnya karena kaget di isi penuh.

Menekurkan kepalanya pada tepian kolam, Kris mengistirahatkan jantungnya yang bekerja ekstra dengan kegiatan malam mereka. Tubuhnya mulai menggigil karena terlalu lama berada di dalam kolam.

Menyadari kalau Kris mulai mendingin, Changmin naik ke atas kolam. Mengulurkan tangannya pada Kris meminta namja itu untuk naik. Menopang tubuh Kris kembali masuk ke dalam rumah. Mengacuhkan beberapa maid yang terkejut melihat dua orang namja tampan masuk ke dalam rumah. Bahkan tanpa bisa berkata hanya bisa melihat keduanya menghilang ke dalam kamar sang putra majikan.

"Kau ini benar-benar kucing bangsawan," kekeh Changmin sesaat ia meletakan tubuh Kris ke ranjang, namja blonde itu langsung bergelung ke dalam selimutnya.

"Kalau kau kedinginan aku bisa menghangatkanmu lagi, YiFan."

Kris membuka matanya yang hampir terlelap, menatap tajam pada namja tampan yang kini benar-benar terlihat tampan dimatanya. Rambut hitam basah dengan wajah kekanakan menyembunyikan sifat aslinya. Jangan lupakan tubuh telanjang yang tercetak dengan indahnya.

"Kenapa?"

"Tidak. Kau terlihat seperti pria mesum sekarang ini dibandingkan dengan serangga predator," ejek Kris melepaskan selimut di tubuhnya, "bahkan aku tahu kalau kau selalu saja menatap lapar tubuhku bukan, Hyung-ie?"

Kris balik tertawa melihat wajah Changmin yang berubah kaget mendengar godaanya. Seorang Kris di sebut player bukan tanpa alasan bukan?

Changmin mendengus mendengarnya, ia tahu Kris sedang memancingnya.

"Sayangnya semua perkataanmu adalah benar, Kris. Dan lubang ini yang membuatku tertarik." Changmin tertawa merasakan bagaimana lima jarinya terhisap oleh lubang milik Kris dengan mudahnya, "hanya lubang lapar ini yang bisa membuatku mengejarnya dibandingkan yeoja di luar sana."

Kris meremas bahu telanjang Changmin, mencengkeram bahu itu hingga berbekas. Rasanya sakit saat tangan Changmn di dalam lubangnya bergerak tak beraturan—membuka lubangnya lebih lebar.

Tahu Kris kesakitan, Changmin menarik surai blonde itu kembali dalam sebuah ciuman. Memagut kasar bibir yang mulai membengkak karena ulahnya. Sedikit meredakan lirihan kesakitan Kris padanya.

Mengeluarkan jarinya dan merebahkan tubuhnya hingga menimpa tubuh Kris. Changmin memasukkan miliknya ke dalam lubang Kris. Menyentuh titik terdalam milik sang kekasih. Mengerangkan desahan setiap kali ia menyentuhnya lagi dan lagi.

Dua namja jangkung itu kembali bergerak beraturan memberi kepuasan dan kesenangan dunia bersama. Membuat sebuah komitmen baru di dalam hidup mereka. Meyakinkan kalau saat ini sosok yang tengah bersatu di dalam tubuh mereka adalah sosok yang tepat.

"Hyuuunggg!"

"Ssshhh … aku mencintaimu, Kris."

.

.

.

Seminggu kemudian Kris menginjakkan kakinya di negeri gingseng. Negara yang membuatnya bertemu dengan seorang Shim Changmin.

Mengulas sebuah senyum bahagia, namja tampan itu menaikkan kacamatanya berjalan dengan tatapan kagum dari penghuni bandara yang melihatnya. Tubuh tampan nan jangkung bak model.

"Apa yang kau lakukan, Kris. Kau lama."

Tatapan yang melayang pada sang namja model tampak terkejut saat seorang namja lainnya yang tak kalah tampan juga tak kalah jangkung menggamit tangan sang namja. Menariknya menuju arah luar dengan seribu pertanyaan di sekeliling mereka. Tepatny rasa kecewa karena sang namja sudah berpemilik bahkan di jari manisnya tersemat sebuah cincin perak. Cincin dengan nama sang pemilik di dalamnya.

"Changmin!"

Changmin melambaikan tangannya saat dua orang namja menyambutnya di bandara. Hyung dan dongsaeng setannya.

"Dia?"

"Perkenalkan hyung. Wu Yi Fan kekasihku."

Jung Yunho—sepupu Changmin itu terkejut melihat bagaimana tangan adiknya menggamit seorang namja tampan yang sama jangkungnya dengan Changmin.

Membuka kacamatanya, Kris tersenyum tipis menyambut uluran tangan sang hyung.

"Wi Yi Fan. Hyung bisa memanggilku Kris.

"Jung Yunho sepupu Changmin," ujar Yunho tersenyum sesaat ia bisa mengendalikan dirinya untuk tak terkena serangan jantung kalau apa yang dikatakan Minho adalah benar adanya—adiknya pecinta namja.

Omong-omong soal Minho, namja kodok itu tampak merengut kesal karena diacuhkan. Bahkan Changmin seakan tak peduli padanya saat ia menyapanya.

"Aku bercanda, Froggy Boy. Kris kenalkan ini bocah kodok adik Siwon hyung yang waktu itu," ujar Changmin tertawa pada Minho yang langsung meninju lengannya.

"Choi Minho, kita pernah bertemu dulu di ruang senat," jelas Minho karena Changmin tak meberikan namanya dengan benar.

"Salam kenal Minho. Dan maaf aku tak bisa memanggilmu hyung. Tinggimu bahkan tak melebihiku," ujar Kris santai membuat Changmin tertawa mendengar kalimat kasar kekasihnya. Tangannya yang sedari tadi tak lepas dari jari Kris semakin erat menggenggamnya. Membisikkan sesuatu ke telinga Kris, keduanya saling menyeringai mengerti.

"Ya dasar pasangan aneh. Kalian benar-benar cocok," teriak Minho mengejar keduanya yang sontak berlari saat dirinya hendak melayangkan pukulan.

Yunho yang melihatnya menggeleng maklum dengan kelakukan remaja labil yang kini menabrak beberapa penghuni bandara. Namun senyum di wajah Yunho menghilang mengingat apa yang dikatakan Changmin semalam di telepon.

"Aku tak peduli umma dan appa tak menerimanya. Aku akan tetap bersama Kris dibandingkan yeoja-yeoja bermake up tebal pilihan mereka. Karena aku mencintai Kris, Hyung. Kalau mereka tak setuju aku tinggal keluar dari rumah. Selesai kan hyung."

Cintakah?

Yunho menggeleng selama ini namja musang ini tak pernah merasakan cinta yang seperti diperlihatkan Changmin padanya. Hanya Changmin dan perusahaan mereka yang dipikirkannya. Padahal banyak yeoja yang menggilainya disekelilingnya.

Yang terpenting bagi Yunho ia akan selalu berada di sisi Changmin. Walau sang sepupu sedikit berbeda selamanya Changmin akan selalu menjadi adiknya. Dan Yunho akan selalu berada di samping sang namja.

Bruk

Yunho tak menyadari ada seseorang yang tengah berlari dan kini menubruknya hingga terjatuh. Bahkan beberapa barang tampak berjatuhan terdengar dari suara yang bertemu dengan lantai.

"Ah maafkan aku. Aku tak melihatmu. Aku buru-buru."

Gerakan tangan Yunho yang hendak mengambil dompet yang terjatuh saat telinganya mendengar suara yang begitu indah. Bahkan tubuhnya membeku merasakan tangan lembut yang berpapasan sesaat ia menyerahkan dompet di tangannya pada sang pemilik.

"Perkenalkan aku Kim Jaejoong. Dan maaf sudah menabrakmu ah—."

"Jung Yunho.

"Ah benar Yunho-ssi," ujar sang namja tersenyum manis tak menyadari kalau dunia sang namja tampan dihadapannya tengah menyenandungkan lonceng surga.

"Yunho hyung! Cepatlah atau kau kutinggal."

Suara teriakan Changmin membuat Yunho tersadar dari dunianya. Senyumnya terlihat begitu indah. Senyum yang sama yang pernah diperlihatkan Changmin padanya—senyum seorang yang jatuh cinta.

"Sampai jumpa lagi, Yunho-ssi." Menundukkan kepalanya sejenak namja cantik bersurai pirang itu berlalu dari hadapan Yunho. Meninggalkan sang namja yang kini berbunga-bunga dan tak berhenti menatapnya dari jauh. Berbisik melalui angin dengan lembut.

"Sampai jumpa lagi, Kim Jaejoong."

Dan seorang anak manusia lagi kini tengah jatuh cinta.

Kalau orang mengatakan cinta itu adalah buta itu tidak benar. Cinta hanya akan tiba pada orang-orang yang tepat. Tanpa memandang status, usia, gelar, masa lalu, bahkan mungkin jenis kelamin. Cinta adalah suci hanya sang pecinta yang kadang membuatnya menjadi ternoda. Percayahlah bahkan saat cinta itu datang kau bahkan tak akan pernah bisa menolaknya bukan? Jagalah cintamu bila kau yakin ia adalah sesuatu yang tepat untuk kau miliki selamanya.

.

The End

.

A/N:

Mimesis selesai yeaahahhhh …

Special thanks:

Abstrak| faomori| hyona21| ichigo song| minniechangkyu56| The Biggest fan of YunJae| miszshanty05| MimiJJW| Kyuni| hyunieeeh| Juli Constantine| kim Jaerin| ekasudaryadi| babyryou| MyMo viruz| theAKTF| Karuru-chan| Sholania| adilia taruni 7| all follower and Fav with sider in this ff|

Uhmp ada yang nanya kemarin kenapa Kris main-main padahal dirinya sendiri posesif ama Changmin? Disini karakternya sama-sama liar. Hubungan LDR itu resikonya paling banyak sih. Kris itu patuhnya kalau ada Changmin kalau gak yah senang-senang Changmin milik Kris, tapi Kris belum sepenuhnya milik CHangmin. Dan sekarang udah lihat kan kalau akhirnya Kris berubah.

Mizu baru tahu kalau reader MinKris pada yadong, Mizu absent masukin nc malah ditanya tumben*glare atu-atu* otak Mizu kan gak ituan semua isinya, masih polos begini juga*boong banget* haha ya udahlah. Selamat menikmati ff Mizu yang lain, ok^^ Mimesis Done.

.

Epilog

.

Sudah hampir satu tahun Kris tinggal di Korea. Banyak yang sudah terjadi setahun belakangan ini. Termasuk hubungan mereka. Hubungan yang awalnya ditentang oleh orang tua Changmin. Namun akhirnya kedua pasangan Shim itu menyerah dengan kekeras kepalaan anak mereka.

"Apa yang kau pikirkan?"

Kris tersenyum memandang ke depan. Tubuhnya bersandar pada sebatang pohon. Dan seorang lain yang barusan bersuara tengah melakukan hal yang sama.

"Hanya sedikit mengingat masa lalu hyung. Aku tak menyangka kalau aku benar-benar lulus dari sekolah ini."

"Tidak hanya lulus kau juga mendapatkan bonus mengejutkan bukan?"

Kris mengangguk, bonus menabjubkan diantara perjalan cinta mereka. Bila dulu banyak yang mencemohnya karena sudah mengambil sang evil kini berbalik menghormatinya saat ia yang melanjutkan semua prestasi Changmin.

Berjalan pelan menuju arah Kris, Changmin memutari pohon besar penuh kenangan mereka. Pohon dimana sang pemburu akhirnya jatuh ke dalam perangkapnya. Pohon yang sama di mana ia mengecap rasa seorang Wu Yi Fan untuk pertama kalinya. Pohon yang sama dimana ia merenung semua titik balik kehidupannya.

"Selamat untuk kelulusanmu, Wu Yi Fan."

Changmin mengacak rambut lembut Kris membuat namja itu memandangnya kesal.

"Jangan berwajah jelek begini, aku tak mau semua orang menganggap mempelaiku adalah seorang Dragon buruk rupa,"canda Changmin lagi.

Itu benar hari kelulusan Kris adalah hari pernikahan mereka. Hari dimana keduanya akan mengikat janji sehidup semati. Setidaknya Kris sudah mencoba untuk menjadi tunangan yang baik untuk Changmin.

"Aku mencintaimu, Hyung." Kris memajukan tubuhnya menarik bagian depan jas milik Changmin, mencium sang terkasih penuh sayang. Membiarkan rasa manis di dalam lidah itu berganti dengan rasa hangat yang begitu memabukkan.

"Hey kalian hanya akan membuat penghuni pohon itu menangis karena pelecehan yang kalian lakukan di kediamannya."

Changmin dan Kris sontak melepaskan ciuman mereka saat ada yang memergoki tindakan asusila yang mereka lakukan. Namun keduanya tersenyum melihat siapa yang datang mendekati. Minho, Yunho, dan seorang namja cantik yang menggenggam tangan sang hyung.

"Well … aku tak menyangka hyung cantik mau datang hari ini," goda Changmin sesaat mereka disisinya, menggoda sang namja cantik yang sontak menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Yunho. Namja cantik yang resmi menjadi kekasih hyungnya sejak dua bulan yang lalu. Tak menyangka kalau sang hyung bisa jatuh ke jurang yang sama.

"Jangan menggodanya Changmin. Apa kau tak lihat ada yang mulai mengeluarkan tanduknya saat ini?" ujar Yunho menunjuk pada sosok di samping Changmin yang hendak memakan hidup-hidup tunangannya sendiri.

"Hahahaha …" tawa ketiganya lepas saat melihat pasangan di depan mereka yang mulai adu mulut. Namun wajah ketiganya langsung berubah pias saat adu mulut itu kini benar-benar menjadi 'adu mulut' bonus suara-suara aneh.

"Hyung lebih baik kita pergi lebih dulu. Mereka tak akan selesai dengan cepat," ujar Minho memberi usul saat kepalanya sendiri mau pecah melihat adegan yang sama setiap kali berjumpa. Sementara ia sendiri memiliki kekasih yang tengah jauh di seberang sana.

"Kau benar ayo pergi. Kuharap mereka tak akan terlambat ke acara resepsi mereka sendiri nanti malam," ujar Yunho menggandeng kekasihnya menjauhi adik sepupunya yang kini asyik ke dalam dunianya sendiri. Pasangan aneh yang terlalu pencemburu tapi selalu memancing satu sama lain. Posesif dan liar. Sungguh kombinasi yang membuat keduanya tak pernah puas. Dalam artian menikmati waktu berdua.

"Semoga Yunnie tidak seperti Minnie ya," bisik sang namja cantik pada kekasihnya yang tertawa mendengarnya. Yah kau belum tahu saja Kim seorang Jung Yunho bahkan bisa lebih liar di atas ranjang. Cukup dengan menyentuh tombol yang tepat dan kau akan mendapatkan kenikmatan yang tak terhingga hingga kau tak bisa bersuara lagi.

Namun satu yang pasti mereka mencintai pasangan masing-masing selama jantung mereka berdetak dan bersahutan satu sama lainnya. Merangkul cinta yang dititipkan dihati mereka.

_Thanks for Reading_