Haikyuu milik Furudate Haruichi
Warning : BL(of course), TsukixNeko!Noya, Typo(s), Gaje, berbelit-belit, dll.
By : Arina Ash
Saya menolak menyesali keberadaan fic ini.
OooOooO
Apapun yang terjadi, Kei menolak mentah-mentah jika dirinya sedang cemburu. Namun nyatanya dia tak bisa menahan diri untuk tidak melempar pandangan tidak suka pada interaksi Yu, dan Kiyoko-san yang kelewat dekat. Apalagi tingkah Yu yang terang-terangan menyukai Kiyoko-san. Jangan ingatkan Kei terhadap perlakuan kelas Yu pada pemuda itu. Beruntung Kei mengerti apa yang membuat mereka melakukan semua itu pada Yu. Dirinyapun tahu dia tak memiliki hak untuk menolak mereka, akan tetapi dirinya juga tak memiliki kendali pada apa yang dirasakannya.
Mengabaikan Yu yang menggerutu atas perintah seenaknya, Kei memasuki area cafetaria. Salahkan Yu yang menyuruh mereka untuk cepat berangkat sehingga melewatkan sarapan. Salahkan pagi yang masih terlalu dini yang membuat cafetaria begitu sepi tanpa pengunjung. Bahkan belum semua penjual yang sudah menggelar dagangan. Setidaknya Kei ingin mengambil sisi positif tentang tempat ini tak akan berisik, sekaligus makanannya masih tersisa banyak untuk dipilih.
Dia mendudukkan dirinya pada sebuah kursi, dan mulai mengambil buku tebal yang seharusnya dia tinggalkan hari ini. Tak lupa memasang headphone di telinganya, dan mendengarkan tracklist favorit. Seorang pelayan yang dikenalnya menghampirinya, dan tanpa melepas headphone Kei memesan secangkir coklat panas, dan memintanya mengantarkan dua sandwich ketika Yu datang nanti. Kei tak perlu repot-repot mendeskripsikan padanya siapa itu Yu, mereka sudah saling mengenal. Bahkan Kei mengetahui nama gadis ini dari kucing itu.
Bermenit-menit berlalu tanpa dirasa, setelah menulis pesanan pelayan pergi, dan datang lagi dengan cangkir yang mengepulkan asap panas, dan serbuan wangi coklat yang menggugah selera. Kei mengangguk sekilas, kemudian kembali meniti buku. Kei menikmati aktivitasnya hingga seseorang menepuk bahunya, dan mendudukkan diri di depan Kei tanpa permisi.
Awalnya Kei berharap itu adalah Yu, namun ketika mendapati siapa yang datang Kei mendengus, dan melepas headphone-nya demi menjawab salam.
"Selamat pagi, Tsukki."
Orang itu menunjukkan senyum ramah yang amat familiar.
"Hn ... kau menggangguku Yamaguchi."
Bukannya merasa tersinggung, sang penyapa malah tertawa kecil dan membalas, "Maaf Tsukki. Apa yang kau baca?" tanyanya ketika melihat buku tebal yang berada di atas tangan Kei. Kei bertanya-tanya apakah Yamaguchi benar-benar penasaran atau hanya basa-basi seperti biasa?
Dia mengangkat bukunya, menunjukkan judul yang mengisi sampul coklat yang telah kusam. Buku itu tak begitu besar, mungkin sebesar buku tulis, namun tebalnya mencapai 4 cm. Tentu saja Yamaguchi meneguk ludah paksa, berpikir ulang kali jika Kei mulai menawarinya untuk membaca. Oh dilihat dari manapun buku itu perlu pemahaman lebih, dan dengan tebalnya mungkin akan perlu waktu satu tahun bagi Yamaguchi untuk mengerti secara penuh. Dia tak sejenius Tsukishima Kei.
"Kau masih suka membaca rupanya," ucapnya berbasa-basi.
Kei mendenguskan sesuatu seperti berisik, atau sesuatu semacamnya. Namun Yamaguchi bukanlah orang yang baru beberapa hari berhubungan dengan Kei. Teman masa kecil bukan hanya isapan jepol belaka. Sudah kebal pula dia dengan segala ucap sakatik, dan tindak-tanduk Kei yang terkadang suka seenaknya sendiri. Atau mungkin sering seenaknya sendiri.
Yamaguchi menatap sekeliling. Merasa ada yang kurang. Kemudian menyuarakan pikirannya, "Dimana Noya-san?" tanyanya. "Biasanya kalian bersama?"
Satu halaman lagi dibalik, "Apa kau cemburu posisimu sebagai ekorku digantikan Yu?" dendang Kei dalam satu tarikan nafas rasa kesal. "Padahal kau sendiri yang memilih mundur setelah Yachi-san mengenalkan dirinya, dan menjadi pacarmu."
Yamaguchi mendramatisir dengan memutar bola matanya. Ia mengetuk-ngetuk meja, gelisah memilih antara merasa bersalah, atau malah merasa kesal dengan pernyataan sang teman masa kecil. "Kau tahu betul apa maksudku, Tsukki." Tapi nyatanya ia memilih untuk mengalihkan perhatian si pemuda kaca mata.
Kei memilih untuk menutup buku guna meladeni Yamaguchi yang mungkin akan memulai pembicaraan tentang kebohongan Kei dan Yu tentang hubungan mereka. Maksudnya, Kei tak bisa membohongi Yamaguchi yang notabene mengetahui seluk beluk keluarganya, dan tak ada satupun darah yang menghubungkan Tsukishima dan Nishinoya. Hanya ada Kei dan Yu dengan hubungan aneh mereka.
"Dia sedang bersama Kiyoko-san," jawab Kei dengan sedikit acuh yang dipaksakan. "Melakukan sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan clubnya kurasa."
Yamaguchi sendiri mengetahui bahwa Kei, dan Yu bukan hanya dua orang yang memilih untuk tinggal bersama. Kei bukan orang yang akan tinggal dengan orang lain dengan mudah. Sebagai contoh adalah dirinya. Mereka sama-sama melancong dari kampung halaman. Namun memilih untuk tinggal di gedung apartemen yang berbeda. Cukup jauh pula.
"Hei Tsukki," Kei menjawab dengan gumaman sambil menyeruput coklat panasnya, "Bagaimana perasaanmu dengan Noya-san?"
Sesaat Kei membelalakkan matanya, hanya sebuah keterkejutan kecil, tak sampai membuatnya menyemburkan coklat panas pesanannya. Kei meletakkan kembali cangkir putih bergagang itu pada alasnya. Kemudian menatap cairan itu, mencoba mencari jawaban dari sana. Namun ia hanya menghela nafas dan menjawab, "Aku tak tahu." Yamaguchi meloloskan helaan nafas. Ikut bersimpati dengan kebingungan sang sahabat semenjak kecil. "Lagi pula kami sama-sama laki-laki."
"Kurasa tak masalah," jawabnya, yang kemudian menggoyangkan tangannya merasa bersalah ketika Kei memberikan tatapan tajam andalannya, "Maksudku, Kageyama dan Hinata."
Kei mendengus. "Jangan samakan aku dengan mereka!"
"Maaf," gumam Yamaguchi, "Tapi—."
"Apa yang kalian bicarakan?"
Memotong pembicaraan Yamaguchi, Yu muncul dengan wajah polos, dan sedikit keringat. Kei menatap Yu dengan pandangan sebal, sambil berkata, "Kau terlambat 2 menit dari seharusnya."
Yang dibalas dengan dengusan, sambil meletakkan pantatnya pada kursi di antara Kei dan Yamaguchi, "Hanya 2 menit, jangan mempermasalahkan sesuatu yang sepele, Kei. Dan kau lagi-lagi membuatku meninggalkan Kiyoko-san ditengah kegiatan." Yu memilih untuk mengabaikan Kei dan fokus pada pertanyaan pertama yang dia lontarkan pada Yamaguchi, yang anehnya menjadi gugup, "Jadi apa yang kalian bicarakan?"
"I-Itu ..."
Yamaguchi tergagap, antara tak bisa menjawab, atau mungkin memang tak bisa membohongi wajah penuh tanya Nishinoya Yu. Yamaguchi sendiri tak pernah tega menipu wajah polos bersemangat yang bahkan lebih ekstrim dari pemuda matahari yang berada di kelas sebelah.
"Hanya hubungan Kageyama dan Hinata. Apakah hubungan mereka sama dengan Yamaguchi, dan Yachi-san."
Seolah menjadi penyelamat Kei menjawab dengan wajah acuh tak acuh menipu yang amat sempurna. Yu menepuk bahu Yamaguchi keras, tertawa lebar menertawakan gugupnya Yamaguchi hanya karena topik sedikit sakral tersebut. "Apa-apaan kegugupanmu hanya karena membicarakan hubungan mereka. Menurutku sih sama saja, toh mereka menikmati hubungan mereka jadi apa salahnya. Acuhkan saja apa kata orang."
"Benar-benar seperti seseorang yang amat kukenal," gumaman Kei dari balik telapak tangannya yang sedang membenarkan kaca mata, menarik sudut emosi milik Yu.
"Apa katamu, Tsukishima Kei?!"
"Cihh ..." Kei mendecih tak suka. "Berhenti memanggilku dengan nama itu, Yu!"
Diantara mereka berdua, Yamaguchi terkekeh menengahi. Rasanya lucu melihat mereka tak pernah akur, namun sama-sama mengerti satu sama lain. Namun di satu sisi Yamaguchi tak bisa melihat mereka berada dalam tipuan perasaan mereka sendiri. Yamaguchi mengerti bagaimana mereka saling membutuhkan, namun sama-sama tak bisa mengungkapkan.
OooOooO
Kelas dimulai lebih lambat dari biasanya. Setelah menghabiskan Sandwich—karena dipaksa Kei—Yu berangkat kekelasnya seorang diri. Karena dia dan Kei tidak berada di gedung yang sama. Sementara Kei ke kelasnya bersama Yamaguchi. Yu menelan bulat-bulat pelajaran yang disodorkan oleh guru di depan kelas, tanpa benar-benar mengerti. Nyatanya deretan angka yang guru itu bilang mudah begitu sulit dipahami. Yu lebih memilih untuk menatap kelas yang hening menatap papan.
Yu bukan orang yang dapat diterima dimanapun. Hanya saja dia bukan pula orang menyedihkan yang tak bisa beradaptasi. Wajahnya telah hafal bagaimana caranya berpura-pura baik-baik saja. Kelasnya menyambut kedatangannya dengan senang hati. Khususnya para remaja putri yang kerap mengacak rambutnya karena gemas. Namun bukan berarti dia diterima. Hanya Yu sebagai manusia lah yang menjadi bagian dari kelas ini. Bukan Yu yang merupakan setegah siluman.
Sekali waktu Yu sering merasa khawatir jika kecenderungannya sebagai kucing lah yang menarik perhatian para gadis. Mengingat mereka sering sekali menyebutnya imut, lucu, ataupun menggemaskan yang notabene adalah sebutan umum yang digunakan untuk memuji seekor hewan peliharaan khususnya kucing. Yu takut bila identitasnya terbongkar. Jika itu terjadi bukan hanya ia yang terkena imbas. Kei akan menerima hal yang sama. Dan Yu tak mau Kei mendapat pengalaman yang sama dengannya.
Yu meringis ketika sebuah penghapus papan tulis menghantam kepalanya ketika tidak mendengarkan penjelasan guru. Dan menemukannya telah tertidur di tengah pelajaran. Dia mengusap kepalanya dengan tawa geli temannya sebagai latar. Yu mengembangkan senyum bodohnya. Mengatakan "Maaf," dan meminta izin untuk ke toilet.
Dia menatap tampilan dirinya di toilet. Beruntung gurunya membangunkannya tepat waktu meski dengan cara ekstrim. Dan beruntung pula Toilet sedang sepi. Sehingga ia bisa meratapi telinga yang menyembul dari balik rambut jabriknya untuk lima menit kedepan.
Yu menghela nafasnya pelan. Menyentuh telinganya hati-hati, kemudian mengerang frustasi. Dia perlu menunggu sebelum dia bisa menyembunyikannya lagi. Dia juga tidak begitu mengerti unsur magis yang dibawa telinganya. Tak ada informasi yang akurat. Hanya praduganya, dan dia tak begitu memikirkan kemungkinan ia bisa menggunakan sesuatu yang bersikap magis. Bahkan menghindarinya, ia ingin menjadi sesuatu yang normal. Tapi dengan telinga ini, rasanya mustahil.
Ekornya bergerak tak nyaman dari balik celana panjangnya. Ekor bisa tersembunyi dengan mudah meski sangat tak nyaman, tapi telinga ini. Huh ... bagaimana jika dia hanya memiliki telinga normal, bukan telingan tambahan yang mencuat dari balik rambutnya? Apakah ia akan memiliki kehidupan normal, hangat, dan menyenangkan di antara keluarganya? Atau tetap menjadi dirinya yang tak bisa diterima dimanapun, dan yang paling buruk adalah tak bisa membuatnya bertemu dengan Kei? Yu tak ingin memikirkan apapun.
Saat seseorang masuk kedalam bilik toilet, beruntung telinga kucingnya telah bisa kembali di sembunyikan. Memang seperti ini. Yu hanya harus mendapatkan waktu untuk sendiri selama 5 menit, dan kembali menjadi dirinya yang semula. Yang penuh kepura-puraan. Dan Yu tak tahu sampai kapan kehidupannya akan berjalan seperti ini. Sesuai dengan keinginan kecilnya untuk di terima sebagai manusia meski palsu.
OooOooO
Ketika Yu kembali ke kelas, dia dihadiahi sebuah kabar gembira bahwa gurunya mendapat tugas dadakan. Dan beruntung rasanya ia akan memiliki waktu kosong lebih cepat. Para gadis mulai mengerubunginya dan memulai ritual mengusap rambutnya yang membuatnya sungguh kesal. Mungkin ini efek dari munculnya telinga, dan ekornya. Selalu seperti ini, menarik para gadis mendekat dan mengelus rambutnya. Membuatnya mati-matian menahan diri untuk tidak mendengkur, atau dia akan mengundang cekikikan kesenangan dari para gadis.
"Kau selalu menggemaskan, Noya-chan," salah satu dari mereka yang berambut coklat ikal menggeram tidak sabar. Mungkin dia ingin mencubit pipi Yu dengan gemas, atau melakukan hal yang serupa. "Seperti kucing di rumahku."
Tubuh Yu menegang ketika mendengarnya, kemudian berteriak, "Hei hentikan! Bisa kah aku menjadi populer sebagai seorang lelaki?"
Sementara yang lain menjawab dengan sedikit tawa geli, "Aku lebih berpikir Noya-san adalah adik menggemaskan kelas ini."
Yu menghela nafas frustasi. Sampai mereka puas, dia takkan bisa lepas dari situasi ini. Para lelaki disana hanya tertawa sembari berkata, "Wow Nishinoya yang populer."
"Aku sungguh tak berharap populer dengan cara ini, sialan."
Yu heran bahkan dengan mulutnya yang sedikit seenaknya, teman-temannya tetap menganggapnya sebagai kucing kecil peliharaan kelas. Huh meski secara harfiah begitulah perannya di dunia. Setelah beberapa usapan, wajah memerah, dan menahan rasa malu barulah ia bisa melepaskan nafas lega, dan kembali duduk diantara para lelaki yang membuatnya sungguh normal. Ow ... namun tidak dengan obrolan mereka.
Salah satu dari mereka menepuk bahu Yu, "Entah bagaimana pendapat yang lain, tapi aku setuju dengan para gadis."
"Toujo jangan mulai lagi," Yu mengerang tertahan. "Dengar! Entah apa yang mereka pikirkan. Aku adalah pria 17 tahun normal oke?"
Toujo yang yang lainnya tertawa mendengar penuturannya. Membuat Yu semakin kesal, dan berniat menendangnya jika saja Toujo tak menghentikan niatnya, "Baiklah baiklah aku percaya," namun jawabannya masih menyiratkan ketidak percayaan, "Hanya saja tubuh dan wajahmu sangat muda jadi well ... alami saja jika kami hampir tak percaya. Bisa jadi kau memalsukan identitasmu," ucapnya yang diamini oleh sekitarnya.
"Bagus," dengus Yu. "Memang apa alasannya sampai aku repot-repot melakukannya?"
Mereka tertawa atas segala respon Yu yang mereka anggap lucu. Bukan berarti Yu membencinya. Kehidupannya di sekolah cukup menyenangkan dengan adanya mereka. Kehidupan di apartemen Kei pun cukup membuatnya nyaman ketimbang rumahnya sendiri, asal lupakan saja sikap Kei yang sering keterlaluan jika menyangkut hubungannya. Tapi sekali lagi Yu tidak membencinya.
TBC
A/N
Terimakasih telah membaca.
Untuk bagian akhir akan kujelaskan. Kenapa Noya menjadi bulan-bulanan para gadis dikelas, karena Noya masih membawa aura kucingnya. Coba saja ada kucing yang mendekati kalian, tentu bakal bikin pengen mengusap kepalanya saking gemesnya. Secara pribadi saya sangat menyukai kucing. Karena itulah.
Dan well ... Noya terlihat kecewekan banget ya? G gomenasai. Saya mencoba membuatnya tetap terlihat laki-laki, tapi dengan segala keimutan seekor kucing, ah persetan mau jantan betina tetap saja kadar imutnya setara. Apalagi status Noya adalah Uke. Sangat berat untuk menjaga chara Noya yang berisik dan pengen populer. Eh rupanya dia menjadi populer dengan cara yang salah. Horee...
Dan Tsukishima ya ... si seme rada sulit di tulis. Gemes juga sama Tsukki, karena dia arogan tapi rada Tsundere dan posesif trus kacamataan. Aww mau satu dong buat dijadiin pacar /ahem lupakan
Errr... /Sejujurnya author tak bisa bilang 'errr'/dilarang curhat/
Maaf chapter kemarin ada sedikit revisi, Tsukki itu berumur 16 kenapa malah kutulis 17. Jadi ini chapter ku update di hari yang sama, biar cepet bisa di luruskan. Rada lambat karena chapter ini dikebut habis ulangan tadi.
Sekian dari saja
Kritik dan Saran akan sangat membantu keberlangsungan cerita.
