Prince Slytherin and Princess Gryffindor © atacchan
.
Harry Potter © J. K. Rowling
.
Summary : Permintaan pertama Draco sudah Ia katakan, lalu apa permintaan keduanya? Dan kenapa cincin Draco terasa pas dijarinya?
.
Warning : OOC mungkin, gaje, jelek, absurd, typo atau miss typo(s), dan kesalahan lainnya.
.
Timeline : Setelah perang berakhir. Tahun ketujuh di Hogwarts. Kalau kurang mengerti silahkan baca buku atau nonton filmnya terlebih dahulu karena saya malas menjelaskan hehe.
.
Don't Like? Don't Read!
.
Page Two :
OoO
Draco menatap lekat ke meja Gryyfindor tepatnya ke arah seorang wanita berambut coklat madu yang sedang menyatap hidangannya sambil sesekali tertawa.
Tadi pagi Hermione sudah meminta izin terlebih dahulu kepada Draco untuk ke Aula Besar dan Draco memberikan izin kepada Hermione. Draco sedikit merasa janggal terhadap permintaan pertamanya itu. Draco sendiri merasa sedikit bingung terhadap permintaannya. Tapi sudahlah.
Merasa sudah cukup mengisi perutnya dia mengajak Blaise dan Theodore menuju kelas mereka selanjutnya, yaitu kelas Tranfigurasi. Jadwal Tranfigurasi mereka akan digabung dengan jadwal Tranfigurasi murid-murid Gryffindor untuk tahun ajaran ke 7 mereka.
OoO
Kali ini Prof. McGonagall tidak perlu khawatir akan adanya lempar mantera ataupun perkelahian singkat antar murid beda asrama itu. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Bahkan ketika seorang murid Gryffindor menabrak seorang murid Slytherin, murid Slytherin ikut meminta maaf. Yah, itu adalah kejadian yang janggal jika saat itu Pangeran-Berkepala Botak-Tanpa Hidung-Senang Menyiksa masih hidup.
Prof. McGonagall menatap murid-murid yang mulai berinteraksi itu. Saat ini Prof. McGonagall memberikan tugas untuk mereka yaitu mentrafigurasikan benda mati menjadi benda hidup. Satu kelompok terdiri dari dua orang yang berbeda asrama.
Semuanya berjalan lancar meski terlihat perdebatan kecil antara murid-murid itu. Perdebatan kecil? Yeah, memang perdebatan kecil. Tanpa adanya matera atau pukulan. Hanya kata-kata. Hal yang tidak biasa jika Pangeran-Berkepala Botak-Tanpa Hidung-Senang Menyiksa masih berkuasa.
Bahkan, Hermione si Princess Gryffindor tidak bertengkar dengan si Draco berdarah dingin. Mereka melakukannya dengan lancar dan malah ber-high five ria ketika mereka berhasil. McGonagall memperhatikan hal itu. Dia yakin setahun kedepan ini akan menjadi tahun yang sangat berharga.
OoO
Hermione sedang mencari seseorang, siapalagi kalau bukan si Draco. Dia mau meminta izin ke perpustakan. Oh, mereka lama-kelamaan benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih. Hermione sudah berada di Ruang Rekreasi Asrama Ketua Murid sekarang. Dia mengarahkan manik coklat madunya untuk melihat ke arah pantri yang berada tidak jauh dari situ. Tidak ada tanda-tanda kehidupan.
Hermione beranjak ke depan kamar si Pangeran dan mengetuk pintu kamarnya. Sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap hening. Tiga kali, masih sepi. Hermione mulai merasa lelah dan mulai menggedor-gedor pintu kamar Draco. Tetap hening.
Menimbang keputusannya sembilan kali kemudian dia memberanikan diri membuka pintu kamar Draco. Terbuka. Kamar Draco tidak terkunci. Tidak biasanya.
Dia melihat si pirang Malfoy tertidur pulas dengan tenang. Dia mencoba mengguncang-guncang tubuh Draco. Tetap tidak ada respon. Dia mencoba mengingat cara terbaik membangunkan seorang Malfoy tanpa kekerasan.
A-ha. Mungkin cara ini bisa dicoba. Ibunya sering membangunkan dengan cara ini. Sedikit tidak yakin, Hermione mulai mendekatkan diri ke Draco. Hermione menaiki kasur itu dengan perlahan, membungkuk sedikit ke arah telinga Draco dan membisikkan sesuatu.
"Hei Drake, ayo bangun." Ucapnya dengan sangat lembut.
Setelah mengucapkan kata-kata konyol itu dia duduk di sebelah tubuh Draco dan mulai melihat pergerakan dari si Malfoy pirang.
OoO
Draco terbangun mendengar suara yang sangat lembut di dekat telinganya. Dia mulai membuka matanya dan menampilkan manik abu-abunya. Dia menggerakkan tubuhnya untuk bangun dan bersandar pada sandaran tempat tidurnya.
Dia melihat ke sebelahnya. Ada gadis dengan rambut coklat madu disampingnya. Dia menatap gadis itu sambil mengernyit.
"Mione?" tanyanya.
"Siapa lagi kalau bukan aku." Jawab gadis itu malas.
"Kau yang membangunkan ku barusan?" tanyanya tidak percaya.
"Yeah. Kenapa?" tanyanya Hermione melihat dahi Draco masih berkerut.
"Tak ada. Aku tidak tahu kau punya suara selembut itu." Draco tertawa renyah melihat Hermione cemberut.
"Ada apa?" tanya Draco setelah berhasil untuk menghilangkan tawanya.
"Aku mau ke perpustakaan. Ada tugas dari Profesor McGonagall yang belum aku kerjakan."
"Hum, bukankah ini sudah jam setengah delapan?" tanya Draco.
"Ya, memangnya kenapa?"
"Aku tahu perpustakaan masih akan buka sampai jam sembilan, tapi, apa kau serius?"
"Tentu saja Drake, aku tidak akan menemukan Dementor dalam perjalan ke sana." Jawab Hermione santai.
Draco berpikir sebentar dan kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik, tapi aku ikut.".
"Aku menunggu mu di Ruang Rekreasi Draco." Kata Hermione dan beranjak keluar.
OoO
Blaise menatap Theodore dan Theodore menatap balik Blaise. Mereka menyuarakan pertanyaan yang sama "Apa yang dilakukan Granger?".
Theo menjawab terlebih dahulu pertanyaan Blaise yang merupakan pertanyaannya juga "Entahlah, menurutmu Blaise?"
"Aku juga tidak tahu. Kita tadi tidak salah lihat kan? Memang si Granger yang mendekati Drake kan?" tanya Blaise.
"Mungkin, kita harus bertanya pada Draco."
OoO
Draco dan Hermione berjalan menyusuri koridor Hogwarts yang terlihat mencekam di malam hari. Semakin dekat ke perpustakaan Hermione semakin merapat kepada Draco. Hermione bukan seorang gadis penakut, tapi kalau diizinkan untuk dilindungi kenapa dia memilih melindungi?
Saat mereka sudah berjarak 25 meter lagi dari perpustakaan dua buah bayangan seakan mengejar mereka. Dengan spontan Hermione dan Draco menyiapkan tongkat. Mereka sudah mau memantrai kedua bayangan itu saat bayangan itu mulai terlihat jelas dan mengatakan sesuatu.
"Drake." Kata seseorang yang berkulit agak kecoklatan.
Draco menatap kearah sosok kedua orang pemilik dua bayangan itu. Dengan menghela nafas sebal dia melirik tajam pada Blaise dan Theo.
"Sedang apa kalian disini? Kalian sudah melanggar jam malam. Haruskah poin dari asrama ku potong?" tanyanya.
"Whoa, slow mate. Kami hanya ada urusan sedikit dengan mu." Jawab Theodore ringan.
Draco menaikkan sebelah alisnya sedangkan Hermione menatap Draco-Blaise-Theo bergantian.
"Pembicaraan antar lelaki Slytherin." Sahut Blaise.
Draco semakin menaikkan alisnya. "Untuk apa?"
"Menghilangkan rasa penasaran kami tentu saja. Oh ayolah mate." Jawab Blaise asal sedangkan Theo hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dua kali seakan-akan menyetujui perkataan Blaise.
Draco mengerling kearah Hermione sekilas. Blaise yang melihat itu langsung mengambil tindakan.
"Baiklah, kita antar Miss Granger kemana pun dia mau dan kau harus ikut dengan kami Drake. Kau bisa kembali ke Asrama sendiri kan Miss?" tanya Blaise yang langsung mendapat pelototan maut dari Draco.
"Baiklah. ..sekali." jawab Hermione dengan penekanan di beberapa kalimat.
"Terimakasih Miss."
OoO
Draco mendesah pelan. Dengan susah payah dia menyakinkan kedua temannya bahwa Hermione tidak melakukan apapun padanya. Pada akhirnya Blaise dan Theo pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalian terlihat dekat akhir-akhir ini. Apakah sebentar lagi akan ada perayaan?" tanya Theo dengan nada mengejek.
"Perayaan? Maksut mu?" tanya Draco.
"Oh, ayolah mate, tidak usah berpura-pura bodoh. Apa kalian sudah jadian?" tanya Blaise langsung tanpa tendeng aling-aling.
"Tidak. Kenapa kalian berpikir begitu?" tanyanya.
"Kalian cukup dekat akhir-akhir ini. Cukup untuk meyakinkan siapa saja bahwa ada sesuatu diantara kalian. Ya kan Theo?"
"Tentu Blaise."
"Kau yakin?" tanya Draco tidak percaya.
"Tentu saja mate."
"Apakah jika. ."
OoO
Pagi itu Hermione terbangun saat mendengar ketukan di pintunya. Dengan malas dia berjalan untuk membuka pintu.
Dia mengucek matanya sekali. Kemudian membuka pintu kamarnya. Begitu pintu itu terbuka terlihat ada Draco disana. Dia terlihat gelisah dan hampir tidak mengatakan apa-apa.
"Drake? Ada apa?" tanyanya.
"Um, Mione, sebenarnya, maukah kau membantu ku?" tanya Draco mengeluarkan sebuah cincin.
"Apa?" tanyanya.
"Coba kau pakai ini." kata Draco menyerahkan cincin itu.
Hermione mencobanya. Cincin itu terasa sangat pas dijarinya. Tidak kekecilan dan tidak kebesaran.
"Bagaimana?"
"Pas. Kenapa?" tanya Hermione heran.
"Kau masih ingat tidak bahwa kau masih punya hutang permintaan pada ku?" tanya Draco.
Hermione mulai merasa tidak enak. Ada yang tidak beres disini.
"Oh ayolah, haruskah?"
"Tentu saja. Aku hanya meminta tolong. Jadi begini . ."
OoO
TBC
.
Afterwords : Maaf terlalu pendek dan maaf juga atas keterlambatan chapter kedua ini. sudah aku baca dua kali dan ternyata isinya gaje sekali. Tapi yah sudahlah. Sebenarnya aku memutuskan untuk melanjutkannya bulan depan karena belum dapat feel yang pas untuk melanjutkannya. Akhir-akhir ini banyak tugas jadi *eh kok malah curhat?. Yaudah deh, aku balas review dulu ya ;)
Shizuku Mei-chan : terimakasih, ayo review lagi haha :D
Beatrixmalf : terimakasih, maaf karena konfliknya belum muncul. Tapi, tunggu ajadeh, pasti juga bakalan ada :D
Lily love snape reagan : maaf updatenya terlamnat banget. Terimakasih, tunggu aja di ceritanya ya ;)
Just Ana : Maaf, untuk CedMione kayaknya enggak mungkin hehe. Terimakasih sudah meriview ;)
Degrangefoy : Terimakasih, review lagi ya :D
Ridwid-wan : maaf terlambat, terimakasih sudah mau riview. Tunggu ajadeh, nanti juga ketahuan :) riview lagi ya :D
.
Sedikit pengumuman, untuk reader yang membaca fic naruto ku yang Love between us dan Love and life, aku minta maaf banget ya. Mungkin fic itu akan ku hapus karena aku tidak sempat untuk melanjutkannya. Terimakasih :)
.
Mind to Review?
.
