Chapter 2 update! Maaf updatenya agak lama, soalnya aku lagi berjuang memperbaiki nilai-nilaiku di sekolah n juga latihan buat ujian piano minggu mendatang… ^_^'
Tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi selain ini, langsung aja kita ke disclaimer, yo?
Disclaimer: Vocaloid Yamaha
Warning: Yuri/Shoujo-Ai
She is Perfect and I'm Just a Loser
"Kau? Yang tadi pagi menabrakku?"
"Kau? Yang tadi pagi memakiku?"
.
.
.
.
.
"Eh? Ada hubungan apa anak baru itu dengan si Luka ya?" "Mereka sudah saling kenal ya?" "Mencurigakan sekali" bisik teman-teman dalam kelas mengomentari jeritan Miku dan Luka yang menggelegar hingga ke sudut-sudut ruangan kelas.
"Err… Hatsune-san, Megurine-san, mungkin kalian memang sudah saling mengenal satu sama lain, tapi tolong jangan berteriak keras-keras dalam kelas. Ini sudah saatnya memulai pelajaran, ingat?" Tegur sensei.
Seketika itu Miku dan Luka langsung menyadari kehilafan mereka.
"H-hai, sensei…"
"Se-sensei, boleh aku pindah tempat lagi?" tanya Miku yang sekarang berkeringat dingin.
"Hmm… sayang tidak, Hatsune-san. Kau hanya diberi kesempatan memilih tempat duduk sekali. Lagipula bukankah bagus bila kau dan Megurine-san duduk sebangku?" jawab sensei.
'Ugh… Bete deh,' batin Miku.
"Ahaha… benar juga ya. Terima kasih sensei," ujar Miku berbohong dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya. Ia pun mau tidak mau duduk di sebelah Luka.
Setelah itu kegiatan belajar mengajar dilangsungkan seperti biasa.
Saat semua murid sedang asyik mencatat, dengan rasa penasaran Miku pun angkat bicara, membahas persoalan sepele pagi itu.
"Psst… jadi benar kau itu orang yang tadi pagi…" bisik Miku.
"Iya. Kau juga tadi memakiku dengan kasar… Kenapa sih orang sepertimu bisa berada di satu sekolah yang sama denganku? Satu kelas lagi…" Luka berbisik membalas.
"Mana kutahu! Memang apa masalahmu jika aku pindah sekolah ke sekolah ini?"
"Tidak… hanya saja, aku heran dengan anak-anak zaman sekarang. Hanya karena sebuah masalah kecil dan sudah diminta maaf malah dibalas dengan bentakan kasar. Istilahnya, kesenggol dikit langsung marah gitu…" sindir Luka.
"Jangan sok bijak deh… gaya bicaramu itu seperti orang tua!" Akibat perkataan Luka barusan, emosi Miku makin meningkat. Volume suara Miku sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Tapi benar kan apa yang kubilang? Buktinya tuh… disindir sedikit saja langsung emosi." Begitu pula dengan volume suara Luka.
"Kau memang bodoh, ceroboh, dan menyebalkan! Dasar pinky bodoh!" Miku mengepalkan tangannya, menahan amarahnya.
"Sudah ah. Percuma meladeni orang sepertimu. Buang-buang waktu saja…" ujar Luka sambil melanjutkan aktivitas catat-mencatatnya. Begitu pula dengan Miku.
Miku terus bersumpah serapah dalam hatinya saking sebalnya ia pada gadis berambut merah muda di sebelahnya.
Saat sensei mereka pergi ke belakang sebentar, suasana kelas mendadak berubah drastis menjadi seperti pasar. Termasuk di daerah sekitar tempat duduk Miku.
"Ahh, Miku-san kok daritadi ngobrolnya sama Luka saja? Nggak seru kan? Mendingan ngobrol sama kita-kita…" tegur seorang gadis berambut pirang panjang yang duduk di depannya.
"Iya betul tuh kata Lily-tan. Ngomong-ngomong, kita kenalan yuk! Namaku Furukawa Miki. Panggilannya Miki. Salam kenal!" ujar teman sebangku gadis pirang tersebut memperkenalkan diri.
"Dan namaku Masuda Lily. Panggil saja Lily. Salam kenal!" ujar si gadis pirang turut memperkenalkan diri.
"Oh yah… Salam kenal juga. Senang bertemu kalian," balas Miku.
"Ahh… Miku-san ya? Kenalkan namaku Megumi Nakajima. Panggilannya Gumi. Senang bertemu denganmu, Miku-san!" ujar seorang yang lainnya dengan ramah.
"Salam kenal Gumi-san."
"Sepertinya dulu aku pernah melihatmu juga… Oh! Kau Hatsune Miku-chan kan? Penyanyi cilik yang dulu sempat ngetop…" terka Gumi. "Aku penggemar beratmu saat itu!"
"Tepat sekali! Aku memang dulu seorang penyanyi. Wah, aku senang sekali masih ada fans yang masih ingat dengan aku walaupun sudah berhenti di bidang tarik suara."
"Benarkah itu, Gumi-chan? Kalau begitu Miku-chan hebat banget donk? Ah, aku jadi makin suka sama Miku-chan!" goda Miki.
"Ahaha… tidak juga kok, Miki-san…" Miku tersipu.
"Miku-san juga cantik sekali walaupun nggak dandan! Bikin iri deh," puji Lily.
"Ahaha… Lily-san juga kok."
"Ah, masa? Makasih Miku-san…" ujar Lily berbunga-bunga.
"Ih, Miku-chan jangan mau memuji Lily-tan! Dia itu setiap hari dandanannya medok, norak!" cibir Miki yang kemudian dibalas dengan cubitan kecil dari Lily. Mereka berempat tertawa dan bercanda bersama, sedangkan Luka yang berada dekat dengan mereka seakan tidak dianggap ada. Baginya, mereka hanya sedang menguji kesabarannya.
Sampai akhirnya sensei mereka kembali lagi kedalam kelas, seisi kelas menjadi hening kembali.
Jam pelajaran demi jam pelajaran pun terlalui. Dan di setiap jeda pelajaran pasti Miku menjadi pusat sorot perhatian. Dalam sekejap nama Miku menjadi semakin populer di kelas. Bahkan sampai satu sekolah. Miku adalah seorang gadis yang teramat sempurna di mata mereka. Sudah cantik, suaranya bagus, cerdas, kehidupannya mewah, mudah bergaul, murah senyum pula. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa Miku bisa sepopuler itu karena ternyata dahulu ia adalah seorang penyanyi cilik yang cukup terkenal pada saat itu. Tapi Luka tidak pernah menyadari hal itu, sebab sejak kecil Luka tidak pernah memanjakan dirinya di depan televisi. Ia lebih suka memanjakan diri dengan buku-buku ensiklopedia dan novel. Bagi anak kecil yang seumuran dia waktu itu, buku-buku tersebut pastianya sangat membosankan. Tapi memang itulah hobi aneh Luka. Sepertinya hanya Luka seorang yang diperlakukan secara tidak ramah oleh Miku.
Luka ingin sekali menjadi sepopuler Miku. Namun baginya hal itu mustahil bisa terjadi.
-Saat pulang sekolah-
Ding Dong Ding Dong…
Bel tanda akhir pelajaran sekolah sudah berbunyi. Semua murid sudah menggendong tas masing-masing dan berhamburan keluar kelas.
Tatkala Miku hendak melangkahkan kakinya keluar kelas, Luka menyelaknya dengan kasar lalu berjalan menyentak-nyentak menuju ke toilet wanita. Miku pun turut ikut mendengus, membuang muka dan pergi ke arah lain.
-Di dalam Toilet-
Luka membuka keran wastafel dan mencuci mukanya dengan air bersih.
Sesaat mukanya berubah menjadi merah padam dan kemudian ia berteriak sekeras-kerasnya.
"AKU BENCI HATSUNE MIKU!"
Karena kebetulan di dalam toilet tidak ada siapa-siapa, jadi ia merasa begitu puas setelah ia mengatakan hal yang sedari tadi ingin ia lontarkan tersebut. Setelah itu, ia pun berjalan keluar dari toilet.
"Kyaaa! Jangan dekati aku!"
Baru saja ia keluar dari tempat itu, tiba-tiba terdengar sebuah jeritan familiar yang berasal dari ruang musik.
Sementara itu, kita lihat apa yang sebenarnya terjadi. Sebuah genk berisi anak-anak lelaki berpenampilan berandal dengan seragam lusuh tengah mengepung seorang Hatsune Miku yang terlihat panik.
Ya. Saat ini Miku sedang terkunci di ruangan musik bersama para "school bully" yang hendak memangsanya tersebut dan karena suasana di sekolah sudah sepi, maka mudah saja bagi mereka untuk memangsa Miku yang sedang lengah.
"Hey, hey, cewek… Anak baru ya? Kenalan donk sama kita-kita. Sombong amat sih mentang-mentang anak batu kita nggak disapa…" ujar salah seorang diantara mereka yang ia duga sebagai ketua genk tersebut.
"M-mau apa kalian?" ucap Miku gemetaran.
"Jangan takut, manis… kami disini cuma mau bersenang-senang kok sama kamu," ujar pemuda berambut cokelat tersebut. Kemudian dengan lancangnya ia mengangkat dagu Miku dan menatap lekat mata emerald greennya.
"Ternyata kalau diperhatikan dari dekat kamu memang manis ya?"
Miku memandang tatapan itu sebagai tatapan kotor yang merendahkan seakan ia hanya seekor tikus kecil di tengah gerombolan kucing yang sedang kelaparan. Ia mencoba menjauhi tatapan itu, tapi pemuda tersebut malah mencengkram dagu Miku makin kuat sehingga ia tidak bisa menghindari tatapannya.
"Kumohon, lepaskan aku…" pinta Miku yang semakin bergemetar hebat. Tanpa ia sadari air mata sudah membasahi matanya.
"Kau pikir hatiku akan tergerak melihat air matamu? Jangan mimpi! Aku tidak akan pernah melepaskanmu sebelum merasa puas. Hahaha…" Pemuda itu tersenyum licik. Disamping itu, kedua tangan dan kaki Miku diikat kuat-kuat oleh dua orang pemuda lainnya. Tangan kotor ketua genk itu pun mulai menjamah rok Miku dan mengamati pakaian dalamnya dengan tatapan penuh nafsu.
"Lepaskan! Kalian licik! Kalian semua biadab!" Miku meronta-ronta sambil menangis. Namun apa daya? Kedua tangan dan kakinya bahkan tak bisa ia gerakan lagi.
BRUAKK!
Tiba-tiba saja ada seseorang yang mendobrak pintu ruangan musik.
"Lepaskan dia sekarang juga!" bentak orang itu.
"Bos, sepertinya ada yang mencoba menghalangi kita!" ujar salah satu anggota genk.
"Lu-Luka?" Menyadari siapa orang yang telah medobrak pintu tersebut, Miku langsung syok dan terkejut. Siapa yang akan mengira bahwa Luka, orang yang paling membuat Miku jengkel pada hari itu, datang untuk menyelamatkannya?
"A-apa yang kau lakukan disini?"
"Kau diam saja, Hatsune Miku. Aku bisa sampai kesini karena mendengar jeritanmu itu tahu!" jawab Luka.
"Dan kalian! Jangan beraninya hanya sama anak baru saja! Lawan aku kalau berani!" Ia pun menantang para bully tersebut.
"Khukhukhu… ternyata kau nekat juga ya, pecundang? Kau mau jadi pahlawan disini, huh?" Sang ketua genk langsung mendorong Miku hingga jatuh ke tanah dan segera membentuk kuda-kuda.
"Semuanya, serang dia!" ia menunjuk Luka sebagai target serangan genk-nya.
"Yosh!" Mereka maju serentak, hendak menghajar gadis berambut merah muda di hadapan mereka.
DUAK! BUK! BAK! BRUK! SRAK! BRAK!
"Luka!"
.
.
.
.
.
Luka ingin menyelamatkan Miku dan melawan para bully berandal itu sendirian? Apakah ia akan baik-baik saja?
Kelanjutannya akan ada di chapter selanjutnya!
~~~To Be Continued~~~
Chapter 2 segini dulu. Ide di kepalaku lagi macet nih, jadi mohon maaf ya kalau ceritanya gaje atau alur cerita rada berantakan gitu.
BTW, kira-kira ada nggak yang bisa nebak siapa ketua genk berambut cokelat itu? Jawabannya bakal kukasih tau juga di chapter ! XD
Akhir kata, seperti biasa; RnR please! :D
