Happy Anniversary, hei kau yang di sana! XD
.
Our Anniversary
by ariadneLacie
.
Disclaimer
BLEACH by Kubo Tite
.
Warning : AU, OOC, Don't like? Review and tell me what's on your mind XD
.
- Dua
Berita bahwa Ichigo sudah bukan pacar Rukia lagi—begitu juga sebaliknya—menyebar dengan sangat cepat di lingkungan Karakura High School.
Untuk sekedar informasi, kedua pasangan itu memang langgeng. Tapi mereka sebenarnya diincar banyak orang. Momen ini adalah kesempatan yang sangat bagus bagi mereka yang sejak dulu mengincar mereka.
"Kuchiki-san! Maukah kau jadi pacarku?"
"Kuchiki-san... aku sudah sejak lamaa sekali menyukaimu. Bahkan sejak kau belum bertemu Kurosaki!"
"Kuchiki-san, apakah kau mau membalas perasaanku ini?"
Satu kata yang terlintas di pikiran Rukia adalah. Norak. Ia baru tahu selama ini ia bersekolah di sebuah sekolah yang penuh dengan orang-orang yang norak. Apa-apaan mereka itu? Apa yang mereka harapkan dari penembakan seperti itu?
.
.
.
"Kurosaki-kun! Terimalah cokelat beserta perasaanku ini..."
"Kurosaki-kun, akhirnya sekarang kau available juga!"
"Kurosaki-kun! Maukah kau menjadi pacarku?"
Ichigo mengencangkan volume headphone-nya, tetapi sia-sia. Musik dari headphone tersebut hanya berupa dengungan tidak jelas, sementara teriakan siswi-siswi 'pemuja'-nya itu terdengar lebih jernih dan jelas. Menyebalkan.
"Hei, Ichigo. Sedang mengalami masa-masa sulit?" Renji merangkul Ichigo dari belakang, lalu berjalan beriringan dengan Ichigo. Ichigo mengangguk frustasi.
"Ya, ternyata aku seterkenal ini ya. Tapi cara mereka itu norak," komentar Ichigo. Ia pun melepas headphone-nya dan membiarkannya menggantung di leher. Renji ternyata lebih efektif dari headphone untuk mengusir suara-suara di sekitarnya. Tetapi siapa tahu ia membutuhkannya lagi.
"Loh, jadi kalau caranya tidak norak kau mau merespon mereka?" goda Renji. Ichigo menjitaknya.
"Tentu saja tidak! Rukia-ku jauh lebih, lebih, dari mereka!" seru Ichigo lantang.
"Baiklah, baiklah... jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang? Menyusul ke kelasnya?"
"Hmmm... entah."
Renji menghentikan langkahnya. Sebenanrya ia mengikuti Ichigo untuk melihat apakah akan ada kejadian menarik. Tetapi ternyata sahabatnya itu bahkan belum memiliki rencana apapun...
"Tapi ya, Ichigo," celetuk Renji dengan intonasi serius.
"Hm?"
"Jika kau saja dikejar-kejar seperti ini. Apakah menurutmu Rukia juga dikejar-kejar seperti ini? Oleh fans-fans-nya," ujar Renji kalem. Ichigo melotot.
"... kau benar."
.
.
.
Sebuah pintu berwarna cokelat dengan tulisan 'XII IPA 7' di sisi kiri atas pintu terpampang di depan Rukia. Rukia sudah bersikeras untuk membukanya sejak semenit yang lalu, tetapi pintu tersebut bergeming. Ada apa ini sebenarnya.
"Rukia?"
Suara yang cukup familiar di telinga Rukia membuat Rukia menghentikan aktivitas membuka pintunya, lalu menoleh ke belakangnya. Sesosok laki-laki jangkung berdiri di belakangnya, berjarak sekitar satu meter. Rukia mengerutkan keningnya, lalu berdeham.
"Ada apa, Kaien-senpai?"
Shiba Kaien, alumni dari Karakura High School, pagi itu tiba-tiba muncul di belakang Rukia. Mengenakan pakaian rapi, kemeja putih bersih dan celana hitam. Wajar saja jika Rukia heran. Mau apa orang itu?
"Kudengar kau sudah putus dari Kurosaki," kata Kaien sambil menggaruk belakang kepalanya. Rukia mengangkat sebelah alisnya. Lantas?
"Umm, yah, bisa dibilang begitu," jawab Rukia seadanya. "Memangnya kenapa?"
Kaien terdiam sejenak, lalu ia berdeham. Rukia pikir setelah itu Kaien akan mengatakan sesuatu, tetapi nyatanya ia masih terdiam saja selama beberapa detik setelahnya. 'Oh, cepatlah selesaikan urusanmu agar aku bisa segera menjernihkan pikiranku ini,' batin Rukia.
"Aku hanya ingin mengatakan, bahwa aku masih menunggumu, Rukia," ujar Kaien. Ekspresinya yang semula gugup berubah menjadi agak lega, seperti sehabis melepaskan sebuah beban berat. Rukia nyaris melongo.
"A-Apa maksud senpai?" balasnya.
.
.
.
Langkah Ichigo yang baru saja berbelok menuju lorong kelas Rukia terhenti. Ia mundur lagi beberapa langkah, lalu mengintip dari belokan lorong. Sosok seseorang yang cukup ia kenal, dan tampak berbincang dengan Rukia, membuatnya penasaran. Sosok seseorang yang nekat. Shiba Kaien!
"Ada apa, Ichigo?" tanya Renji, yang masih mengekor di belakang Ichigo.
"Sst! Aku sedang menguping, kau diam dulu!" Ichigo menyikut Renji yang mulai curi-curi lirik pada dua sosok yang sedang dimata-matai oleh Ichigo.
"Oh, Kaien-senpai." Renji membentuk huruf O dengan mulutnya.
"You don't say, Ren." Ichigo mendengus kesal lalu kembali menajamkan pendengarannya. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?
.
.
.
"Ya, aku hanya ingin memberi tahu hal itu saja padamu," kata Kaien sambil tersenyum canggung.
Rukia terdiam. Sosok Ichigo sekilas terlintas dalam pikirannya. Setelah itu serangkaian kejadian masa lalu terlintas juga dalam kepalanya. Lama-lama ia merasakan dadanya dipenuhi dengan perasaan kesal.
"Lalu, aku harus apa, sekarang?" tanya Rukia, sorot matanya berubah. "Jujur saja, jika begini terus maka hal yang dulu akan terulang lagi."
Kaien terdiam. Rukia tidak dapat mengartikan ekspresi yang diperlihatkan Kaien saat ini, tetapi ia tidak terlalu mau ambil pusing.
"Aku tidak mau memperpanjang masalah, senpai. Sudah cukup dulu senpai menyalahkanku, dan aku terima saja tanpa terlalu memusingkan hal itu. Aku tidak terlalu suka berpisah dengan seseorang dalam keadaan yang tidak baik." Rukia menghela nafas lelah, lalu memalingkan pandangannya.
"Tapi, Rukia, kali ini aku serius. Aku masih menyukaimu. Sejak dulu, Rukia." Kaien bersikeras, kali ini ia melangkah maju, memperpendek jaraknya dengan Rukia. Rukia yang tidak menduga reaksi tersebut sontak mundur selangkah, nyaris menabrak pintu.
"Aku sudah berubah, Rukia. Aku tidak seperti dulu..." ujar Kaien lirih. Rukia menatap Kaien nanar. Apa yang harus ia lakukan? "Bahkan aku rela untuk telat datang di kuliah jam pertamaku hanya untuk melihatmu, Rukia. Tidakkah kau melihat kesungguhanku?"
"Senpai—"
"Diam di situ!"
Serempak Kaien dan Rukia menoleh ke arah sumber suara. Sesosok laki-laki dengan rambut oranye nyentrik tengah berjalan cepat ke arah mereka. Ekspresinya sulit ditebak, meskipun sebagian besar menyiratkan kemarahan. "Rukia is still mine, hey."
.
.
.
Kaien mematung. Rukia melongo. Renji geleng-geleng. Ichigo? Tidak usah ditanya. Dengan penuh percaya diri ia berdiri tegak di hadapan Kaien sekarang, membelakangi Rukia.
"Jangan dekati dia!" Ichigo mempertegas kalimatnya. Rukia semakin melongo.
"Heh, apa yang kau lakukan, Ichigo? Tidak usah bertindak sok heroik, begitu." Rukia mendorong Ichigo ke samping sambil geleng-geleng kepala. Pacar—oke, mantan—nya itu memang nekat. Dan terkadang norak.
"Tapi—"
"Dan kita sudah putus, Ichigo. Aku bukan milikmu lagi," lanjut Rukia. Hati Ichigo terasa ditusuk-tusuk begitu ia mendengar kalimat tersebut keluar dari mulut Rukia. Apa maksudnya itu?
"Kau dengar sendiri, kan?" Kaien angkat bicara. Ichigo menatap Kaien kesal.
"Begini, Kaien-senpai. Rukia akan menjadi milikku lagi, kekasihku, yang menerimaku apa adanya, jadi, aku tidak akan melepaskan Rukia, sampai kapanpun. Maaf, senpai." Ichigo berbalik, lalu menggenggam tangan Rukia tanpa aba-aba. Amethyst Rukia membulat sempurna menyaksikan perlakuan Ichigo itu, tetapi ia tidak berkutik. Ichigo tersenyum penuh kemenangan, lalu menarik Rukia yang masih dalam frozen stance itu.
Kaien menatap kejadian di depannya dengan ekspresi dan keadaan yang sama seperti Rukia. Frozen, membeku. Samar-samar ia melihat ada suatu kesenangan tersendiri dalam sorot mata terkejut Rukia tadi, dan juga semburat merah di pipi Rukia yang berwarna seputih porselen itu. Hah, memangnya apa yang ia harapkan?
"Kaien?"
Suara lembut seorang perempuan menyapa indra pendengaran Kaien. Ia menoleh, dan mendapati seorang perempuan dengan pakaian nyaris serupa dengan dirinya—kemeja putih bersih dan celana—memandangnya cemas. Kaien tersenyum lembut.
"Ya, Miyako?"
Miyako membalas senyuman Kaien dengan senyum yang tak kalah lembut, lalu menyikut Kaien. "Kau tidak sendiri, Kaien. Jangan sedih seperti itu," godanya sambil tertawa renyah.
Kaien termangu sejenak, lalu ikut tertawa juga. "Ya, kurasa kau benar, Miyako."
"Jadi, ke kampus sekarang?" Miyako melirik jam tangannya. Masih ada 30 menit lagi sebelum jam pertama kuliah dimulai.
"Tentu. Kau membawa helm?"
"Tentu saja, aku kan sudah punya ojek pribadi."
Kaien kembali tertawa. Miyako selalu dapat membuatnya senang disaat-saat seperti ini.
Mungkin Miyako memang benar. Ia tidak sendiri.
Ada Miyako di sisinya.
.
.
.
Tangan Ichigo masih menggenggam erat tangan Rukia, dan Rukia masih berjalan terseok-seok mengikuti langkah cepat Ichigo. Diam-diam Renji masih mengikuti Ichigo, hanya saja dalam jarak aman yaitu 5 meter di belakangnya.
Pemandangan janggal di mana pasangan yang sudah putus itu tiba-tiba berjalan bersama sambil bergandengan tangan berhasil menarik perhatian seisi sekolah. Beberapa perempuan menangis tersedu, karena berarti kesempatan mereka tertutup lagi. Sementara pihak laki-lakinya memukul-mukul dinding frustasi. Pemandangan lebay nan dramatis yang membuat Rukia memutar bola matanya.
"Ichigo, kau ingin membawaku ke mana, sih?" tanya Rukia, setelah cukup lama menahan rasa penasarannya.
"Kau akan tahu nanti," jawab Ichigo, tanpa melonggarkan genggamannya dan terus berjalan lurus, menyusuri koridor sekolah. Rukia mendengus kesal.
"Apa hakmu menarik-narikku seperti ini, heh?" Rukia mulai meronta-ronta kesal.
"Kau diam saja dan ikuti aku, nona." Masih tetap dengan nada santainya itu, Ichigo menarik Rukia. Nyaris seperti tersihir oleh kalimat tadi, Rukia berhenti meronta dan menurut saja.
Setelah melalui perjalanan yang dirasa cukup panjang, sepasang mantan kekasih ini sampai di pintu gerbang Karakura High School. Ichigo masih belum melepaskan genggaman tangannya pada Rukia, dan Rukia pun terlihat tidak terlalu keberatan.
Ichigo menarik keluar handphone dari saku seragamnya, lalu menekan salah satu nomor untuk menghubungkan handphone-nya secara dial speed. Tanpa harus menunggu lama, teleponnya langsung terjawab.
"Ya?"
"Jalankan sesuai rencana, Renji." Ichigo mengecilkan suaranya agar Rukia tidak dapat mendengarnya. Hening sejenak di seberang sana.
"Oke."
Ichigo menutup telepon, lalu kembali memasukan handphone-nya ke saku seragamnya. Senyum kemenangan tersungging di wajahnya.
"Nah, ayo kita pergi, nona!" serunya sambil kembali menarik Rukia, menyusuri jalan, keluar dari area Karakura High School.
"H-hei! Apakah kau niat membuatku bolos sekolah hari ini?!" Rukia memekik protes. Ichigo tampak santai saja mendengar fakta itu.
"Sudah kubilang, kau diam saja dan ikuti aku."
.
.
.
Renji yang sejak tadi menonton Ichigo dan Rukia dari jarak 5 meter di belakang mereka hanya geleng-geleng kepala. Telepon singkat dari Ichigo barusan menandakan bahwa Ichigo benar-benar akan melakukan rencana yang mereka rencanakan bersama secara singkat di perjalanan menuju kelas Rukia tadi. Benar-benar nekat.
"Baiklah, sesuai harapanmu, Ichigo. Semoga berhasil."
To be Continue
Fix bukan cuma 2 chapter... Hhh. Maafkan author labil ini. Tiba-tiba dapet ide plot kayak gini, sih. Hehehe, masih suasana lebaran kaaan? XD
Anyway, thanks for the review!
eghiserelaa , Cim-jee , ayaaa , Owwie Owl , Kken RukIno , Shin , Aiden ichiru , Nakamura Chiaki , beby-chan , gui gui M.I.T , HitadaSakura , dhiya chan , blingblingjh , Dewi Anggara Manis , Rukaga Nay .
Balasan sudah ada di PM masing-masing~ dan buat yang gak login :
Shin : thank you~
HitadaSakura : hehe, ini udah lanjut, nih! :3
blingblingjh : ini udah dilanjut~ tapi sepertinya rencana Ichigo masih misteri, hoho XD #plak
So, now, dear my readers...
mind to review? :3
