Diary Depresiku
by effacelethalfuzzy
Oh Sehun and Xi Luhan
With other pairings
Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu, Last Child – Diary Depresiku
.
.
.
Chapter 1
Dengan sebotol soju di genggaman tangan kanannya, pemuda bersurai cokelat itu menikmati udara malam dipinggir sungai Han. Sesekali ia mengamati lalu lalang orang dengan berbagai macam perasaan. Apalagi saat sebuah keluarga harmonis lewat, ia mengulas senyum dengan sedikit perasaan iri kala membandingkan dengan hidupnya yang sekarang. Senyumnya masih berlangsung sampai pandangannya jatuh pada tiga pemuda yang berdiri dekat –terlalu dekat baginya- ditepi sungai Han. Ketiganya tengah guyonan sambil sesekali saling beradu pukul. Dari tempatnya, ia melihat si pemuda yang paling hitam diantara mereka sesekali menyenggol lengan pemuda yang paling tinggi. Tak lama kemudian mereka mengulas smirk dan menyenggol tubuh si pemuda berkulit putih hingga oleng.
'Byurr..'
Si pemuda berkulit putih terjatuh di sungai sedangkan keduanya tengah tertawa dari tempat mereka berdiri. Tawa mereka padam setelah melihat pemuda berkulit putih tampak timbul-tenggelam dipermukaan sungai.
"Ya! Oh Sehun! Berhenti bercanda! Kami tahu kau pandai berenang!" Si pemuda berkulit hitam berteriak. Pemuda tinggi terlihat kebingungan, ragu apakah ia harus turun dan menyelamatkan si pemuda putih itu. Namun mereka kalah cepat saat dengan pasti pemuda bersurai cokelat masuk kedalam air, meraih tubuh Sehun dan membawanya kepinggir sungai sambil sesekali meringis sakit.
"Sehun! Sehun!" Keduanya bergegas membantu dengan membawa tubuh Sehun yang tak sadarkan diri ke pinggir.
"Dasar bodoh!" umpat si pemuda bersurai cokelat. "Disana ada banyak bebatuan, temanmu pasti tak sadarkan diri karena terantuk salah satu batu."
Mengabaikan umpatan yang baru saja dilayangkan, mereka segera memeriksa tubuh Sehun. Dan benar saja, di lutut dan pergelangan kaki Sehun terdapat luka sobek yang sedikit parah.
"Chanyeol hyung, cepat lakukan sesuatu!" tukas pemuda yang paling hitam.
"Ya, Kai! Kau yang mendorongnya, kau yang harusnya bertanggung jawab." Si pemuda tinggi –Chanyeol menyahut.
"Payah!" Umpat si pemuda bersurai cokelat lagi. Ia menyingkirkan Chanyeol dan segera melakukan CPR.
"Uwaaahh!"
"C-ciuman pertama..."
Tak lama Sehun sadar sambil terbatuk dan mengeluarkan air.
"Ssshh.." Sehun mendesis saat merasakan ngilu pada lutut dan kakinya.
"Sehun! Astaga naga! Kupikir kami akan kehilangan teman paling putih yang kami punya." Chanyeol berujar ria sambil memeluk Sehun yang menggeliat risih.
"Apa-apaan kalian ini!?" Sehun berteriak marah dan tak terima.
"Maafkan kami, Sehun. Kami hanya ingin mengerjaimu karena ini hari ulang tahunmu."
"Gila!"
"Hey, tunggu!" Sehun berseru saat pemuda bersurai cokelat itu melangkah pergi. "Terima kas- hey! Lututmu berdarah!"
"Dan kau pikir karena siapa aku seperti ini?"
"Maafkan aku. Ikutlah kami, aku akan memberimu baju dan mengobati lututmu."
Si pemuda bersurai cokelat tertawa.
"Urusi saja lukamu, tidak perlu memperdulikan aku. Ku anggap ini hari sialku."
"Ya! Mukamu saja yang cantik kenapa bibirmu jelek sekali?" Kai berteriak tidak terima akan tingkah pemuda bersurai cokelat.
"Namamu?"
"Apa?"
"Setidaknya beritahu aku namamu."
Si pemuda bersurai cokelat menggigit bibirnya ragu. Namun menjawab dengan mantab kemudian. "Mako."
"Mako?" ulang Sehun sambil mengernyitkan dahinya.
"Seperti pernah dengar." Celetuk Chanyeol.
"LUHAN!" Teriakan itu memecah keheningan disaat ketiganya tengah terdiam berpikir. Pemuda bersurai cokelat menekuk wajahnya sambil mengumpat pelan.
"LUHAN! AYO CEPAT!"
"Sial!" Luhan yang ketahuan berbohong segera melarikan diri dan mengutuk temannya yang tengah meneriakkan namanya dengan lantang.
"AHA! JADI TEMANMU ITU BOLIN YAH? LALU APA KAU JUGA BERKENCAN DENGAN ASAMI DAN KORRA?" Kai berteriak ke arah Luhan yang melarikan diri. Sebelum benar-benar menghilang Luhan memberikan jari tengahnya tanpa melihat kebelakang.
Sehun terkikik kecil lalu menggumam. "Luhan..." Ia memandang kearah Luhan yang perlahan menghilang. "...manis." tambahnya seraya tersenyum tampan.
.
.
.
.
Dua minggu berlalu sejak kejadian di sungai Han, namun Sehun masih suka mesem-mesem tak jelas saat mengingatnya. Satu sosok yang dirasanya lucu namun terlihat tangguh untuk ditaklukan. Menyusur jalan menuju kompleks apartemen miliknya, ia dihadang empat orang pria yang berdandan ala preman pasaran.
"Keluarkan dompetmu!" satu dari mereka menggertak. Sehun mendegus jengah, hanya ia pandangi keempatnya dengan pandangan datar dan malas. Mereka geram dan melancarkan aksi, tapi Sehun tak semudah yang mereka pikir dapat kalahkan. Mereka bundas disana sini, sedang Sehun hanya mendapat luka sobek ringan disudut bibirnya. Tapi seakan dewi fortuna tak memihak Sehun, ia tersungkur dan berkunang saat satu diantara mereka mengayunkan kayu balok pada tengkuknya. Mereka pun main keroyokan pada tubuh Sehun yang terbujur di jalanan beraspal. Tapi itu tak berselang lama karena seseorang datang dan menghajar keempatnya dengan membabi buta. Mereka sempat melawan dan terlibat adu pukul sebelum salah satu diantaranya meyadari siapa lawan mereka dan terkejut. Mereka merapal ampun dan maaf sembari sempoyongan melarikan diri dari orang tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" Sehun berdiri dengan bantuan orang tersebut.
"Luhan!?"
.
.
"Sshh.. aahh..ahh.. pelan-pelan, bodoh!" Luhan mengumpat saat luka-lukanya dibubuhi cairan antiseptik. Sehun tersenyum geli. Luhan yang mengumpat dengan mata berkaca-kaca terlihat sangat lucu dimatanya. "Kenapa aku selalu bonyok saat bertemu dengamu? Dasar sial!" maki Luhan. Sehun berhenti mengobatinya dan memandang Luhan dalam diam.
"Apa lihat-lihat!?" Luhan bertanya galak saat Sehun terlampau diam saat memandanginya.
"Kai benar." Sehun terkekeh. "Bibirmu terlampau kurang ajar untuk ukuran pria cantik sepertimu."
Luhan mendamprat kepala Sehun dengan kepalan tangannya. "Siapa yang kau bilang cantik?" geramnya tak terima.
Sehun tertawa. Ia mengulurkan kedua tangannya, Luhan memandangnya tak mengerti. "Aku ingin berkenalan dengan tepat padamu, Luhan. Mengingat pertemuan tak terduga kita selalu terjadi dengan tak elitnya. Luhan memandangnya sejenak, kemudian menyambut uluran tangan Sehun.
"Oh Sehun."
"Luhan."
"Bukan Mako?" Sehun bertanya geli, mengingatkan Luhan pada kejadian lalu.
"YA!"
"Hahahaha..." Sehun tertawa. "Terima kasih, Luhan." ucapnya tulus. Luhan hanya menanggapinya sekena hati.
'Kruyuukk..'
"Kau lapar?" Sehun bertanya sesaat setelah mendengar perut Luhan berbunyi. "Baiklah, karena kau sudah menolongku lagi, aku akan mentraktirmu makan. Bagaimana dengan jjangmyun? Atau kau mau ramen?"
Luhan terlihat menimbang sesaat sebelum menyetujui tawaran Sehun. Dan dengan tak tahu malu Luhan menjawab. "Karena dua kali aku menolongmu, aku ingin jjangmyun dan ramen sekaligus."
"Jadi kau tak ikhlas menolongku?"
"Ck! Jika kau juga tak ikhlas tak usah menawari." Luhan hendak berlalu tapi Sehun meraih pergelangan tangannya.
"Kkajja!"
.
.
Setelah membeli beberapa makanan dan minuman, Sehun mengajak Luhan datang kembali ke sungai Han. Menikmati makan dan semilir angin malam disana. Sehun mengamati Luhan yang makan dengan lahap. Ia terkekeh kecil saat melihat betapa brutalnya Luhan memakan jjangmyun dan ramennya.
"Astaga, nikmatnya.." Luhan berseru setelah bersendawa cukup keras, sama sekali tak canggung dengan adanya Sehun didekatnya.
"Sepertinya kau sangat kelaparan sekali, haruskah aku selalu membelikanmu makan malam karena sekarang kau menjadi temanku?" Sehun bergurau.
"Apa teman-temanmu selalu meminta jatah makan padamu?" Luhan bertanya.
"Tidak selalu. Tetapi Chanyeol dan Kai memang sering datang saat perut mereka menjerit meminta makan." Sehun terkekeh diakhir kalimat. Luhan terdiam sesaat namun kemudian kembali meminum soft drink miliknya.
"Kenapa tidak kau habiskan makanmu?" Luhan bertanya saat melihat cup ramen Sehun yang masih berisi setengah namun tak lagi disentuh pemiliknya.
"Aku kenyang. Sejujurnya aku baru saja makan malam bersama Kai dan Chanyeol."
Luhan mendengus lalu mengambil cup ramen milik Sehun dan memakannya. Sehun terkejut dan hendak merebut cup ramen itu tapi Luhan menjauhkannya.
"Luhan itu sisa." Sehun masih berusaha merebutnya.
"Tidak apa-apa. Jangan membuang makanan, Sehun. Kau belum merasakan bagaimana rasanya kelaparan. Lagipula aku sudah biasa memakan makanan sisa."
Sehun bertambah terkejut. Apa maksud dari perkataan Luhan barusan? Sehun semakin penasaran dengan sosok Luhan. Sehun sangat yakin jika sikap dan sifat Luhan yang saat ini bukanlah kepribadian aslinya.
"Dimana kau tinggal Luhan?"
"Dimanapun." Sahut Luhan enteng. Sehun terdiam dan berpikir, memikirkan sebuah kemungkinan. Sehun memandang Luhan yang tengah menyantap sisa ramen miliknya dan tanpa sadar Sehun berujar-
"Maukah kau tinggal bersamaku?"
-yang membuat Luhan tersedak dan melotot garang padanya.
.
.
.
Minal aidzin wal faidzin ya.. Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan.
NB : Ada kemungkinan naik rating
