Interrogation


2 Weeks Later.

"Kalau kau masih tak mau bicara, aku punya hak untuk membuatmu buka mulut secara paksa. Percaya padaku, tubuh kecilmu itu tak akan tahan menghadapinya." Detektif Kwon memandang si lelaki mungil dengan raut mengintimidasi, namun nyatanya si rambut abu-abu gelap itu tidak bereaksi sedikitpun. Kepalanya dimiringkan dan dia menatap detektif berpakaian casual itu dengan pandangan kosong.

Pikirannya bukan tertuju pada ancaman yang lima menit ke depan akan dijalankan untuknya—tapi pada sesuatu yang lain.

Si detektif merasa kesal karena bocah ingusan pembuat onar yang jadi diduga sebagai aktor utama kasus pembunuhan dan pemerkosaan empat minggu lalu itu hanya diam. Byun Baekhyun adalah kunci dari kasus ini—apalagi berdasarkan kesaksian yang diberi Do Kyungsoo, salah satu korban. Satu pengakuan dari Baekhyun akan membuat kasus ini terselesaikan dengan mudah.

Pihak kepolisian sudah mengumpulkan bukti dan keterangan dari murid kedua sekolah. Begitu juga dari orang-orang yang wajahnya diingat Kyungsoo malam itu—kesimpulannya, kesaksian mereka semua berbelit-belit. Apalagi Yongguk, salah satu dari pemerkosa itu tewas saat tawuran hebat dua minggu lalu. Byun Baekhyun juga baru bisa dimintai keterangan karena sempat sakit selama satu minggu. Karena itulah interogasi ulang untuk semua saksi kembali dilaksanakan.

Kyungsoo bilang mereka jelas-jelas murid Yungjin—jumlahnya sekitar enam orang. Lelaki itu juga bilang sempat mencium bau alkohol dari pria-pria yang memperkosanya. Kejadiannya berlangsung selama dua jam—saat itu Rose masih hidup ketika para pelaku meninggalkan mereka di bawah jembatan. Tak lama berselang, Baekhyun datang bersama Kai dan Sehun.

Mereka memperkosa Rose secara bergantian.

Kyungsoo pingsan setelah menyaksikan Byun Baekhyun menusukkan pisau ke perut teman wanitanya itu. Lelaki itu bersumpah bahwa dia melihat seluruh kejadiannya.

Braaaak.

Kwon sepertinya sampai pada batas kesabarannya. Bahkan caranya membanting berkas-berkas dengan keras di atas meja tak membuat Baekhyun bergeming sedikitpun. Lelaki itu masih sibuk dengan pikirannya sendiri.

Detektif muda itu melirik ke samping kanan dan memberi pandangan meminta persetujuan. Di balik cermin dua arah itu, sesi interogasi seluruhnya diamati oleh kepala detektif dan seorang psikolog. Sang kepala detektif mengatakan sesuatu melalui mikropon yang tersambung pada earpiece di telinga si Kwon—membuat pria itu mengangguk singkat dan kembali mengalihkan perhatian pada Baekhyun.

"Baiklah, sepertinya kau perlu diberi pelajaran sedikit—Byun Baekhyun."

Sementara itu di koridor depan ruang interogasi...

Empat orang pemuda duduk di bangku jingga yang berjejer panjang di depan ruang interogasi. Beragam ekspresi ditampakkan wajah keempatnya, mungkin hanya Oh Sehun yang terlihat santai. Tak ada yang tahu, dia sangat mengkhawatirkan Baekhyun yang masih berada di dalam sana sejak dua jam lalu. Sahabatnya, Kim Kai, berulang kali melirik sinis ke arah kiri dimana perwakilan dari SMA Yungnam duduk dengan jarak tiga bangku. Kyungsoo gemetar ketakutan dan Chanyeol dengan sigap langsung menggenggam tangan pemuda itu.

"Tenanglah, Kyung—para polisi akan membantu kita menyelesaikan masalah ini. Kau tak perlu takut." Lelaki itu balas menatap Kai dengan tak kalah sinisnya.

"Bagaimana kalau mereka membunuhku juga, Yeol?" Cicit Kyungsoo ketakutan. Jelas saja si pria bermata besar itu berpikir demikian—salah satu minion Baekhyun terus saja melontarkan tatapan kebencian untuknya sedari tadi.

"Ini kantor polisi, Kyung. Tak akan ada yang berani menyakitimu." Sebenarnya Chanyeol merasa jengah juga dengan raut sinis yang murid Yungjin itu berikan, mengingat selama ini hubungan mereka bisa dikatakan sangat tidak baik. Sehun dan Kai adalah sahabat sekaligus antek-antek Baekhyun yang terus menempeli pria itu kemanapun dia pergi—termasuk mem-bully Chanyeol setiap ada kesempatan.

Braaaaaak.

Kyungsoo memekik ketakutan saat pintu ruang interogasi terdobrak dari dalam dan detektif Kwon jatuh tersungkur di dekat kaki mereka. Hanya berselang dua detik, Byun Baekhyun keluar dari ruangan dan langsung menarik kerah kaos si Kwon dengan kasar.

Chanyeol membelalak saat si tubuh mungil memojokkan detektif yang tubuhnya lebih besar itu ke dinding dan melayangkan sebuah tinju di pipinya. Kyungsoo mencicit ketakutan dan Chanyeol langsung menyembunyikan tubuh mungilnya di balik punggung.

"Jangan. Pernah. Gunakan. Anna. Untuk. Mengancamku." Desis si rambut abu dengan marah. Matanya berkilat merah dan tinjunya terkepal di udara, siap mendarat di wajah ketakutan itu lagi.

"Am-ampun! A-aku..."

"Aku sudah bilang kami tidak terlibat dan kau terus saja memaksaku..." Kepalan tangan Baekhyun tampak bergetar tapi pemuda itu sebisa mungkin menahan agar tidak menghancurkan wajah si detektif sok tahu.

Sehun dan Kai baru menyadari keadaan saat tiga orang anggota kepolisian berlari tergopoh-gopoh menuju koridor ruang interogasi. Mereka menodongkan pistol ke arah Baekhyun dan dua minion lelaki itu langsung saja berdiri menghalangi. Di belakang mereka, kepala detektif dan seorang wanita berjas putih ikut menyusul.

"Apa-apaan ini?" Bentak Kai sambil bergantian melirik Baekhyun dan para polisi yang baru tiba. "Kalian berjanji hanya ingin menanyainya—lalu bagaimana bisa pelipisnya berdarah seperti itu?"

Kepala detektif tampak gusar tapi pria paruh baya itu berusaha menguasai keadaan. "Turunkan senjata kalian." Perintahnya pada tiga polisi yang masih menodongkan pistol. "Maafkan kami—tapi ini memang sudah prosedurnya karena dia terus saja mengelak..."

"Mengelak katamu? Bukankah tadi kami sudah menjelaskan semuanya? Kalian tidak bisa menjadikan kesaksian orang itu sebagai satu-satunya acuan kalau Baekhyun adalah pembunuhnya! Kupikir kalian sudah mendapat laporan dari ahli forensik—ini yang kalian sebut prosedur?" Kyungsoo mengkerut ketakutan saat Kai menunjuknya dengan wajah penuh emosi.

Si kepala detektif meneguk ludah karena semua perkataan murid SMA itu memang benar. Sebenarnya kasus ini tidak lebih sulit daripada kasus yang melibatkan gembong narkoba, hanya saja, seperti ada bagian yang hilang dan itu membuat perkara ini terlihat lebih rumit.

"Bukankah sudah jelas kalau tak ada DNA kami bertiga dari sisa-sisa sperma yang kalian periksa? Oke, mungkin sidik jari Baekhyun memang ditemukan di pisau itu—tapi apa itu sudah cukup untuk membuktikan kalau dia menikam Rose? Lalu apa kata CCTV? Kalian bilang di sekitar tempat itu tidak ada CCTV-nya—apa kalian sudah memeriksa CCTV dari gedung-gedung di sekitar?"

Kepala detektif itu bertukar pandang dengan anggotanya yang lain, merasa tersindir dengan ucapan Kai. Seolah-olah bocah ingusan itu baru saja mengatakan dengan telak kalau mereka tidak becus sama sekali.

"Bagaimana kalau sebenarnya dia yang bohong?" Kai kembali melirik Kyungsoo dengan senyum remeh. Mata lebar Kyungsoo membelalak dan kepalanya menggeleng dengan cepat.

"Seharusnya kalian juga memeriksanya lebih lanjut. Bisa jadi dia mengurangi atau bahkan melebihkan cerita yang sebenarnya."

"Tidak! Aku bersumpah aku jujur! Semua yang kukatakan jujur! Aku..."

Sehun memutar mata dan membiarkan Kai yang mengurus para polisi itu. Si kulit cemerlang berbalik dan menghampiri Baekhyun yang hampir memukul Kwon untuk kesekian kalinya.

"Baek, hentikan."

Baekhyun tersentak saat tangan Sehun menahan tinjunya di udara. Si lelaki mungil menurunkan tangannya yang gemetar dan sesaat kemudian Kwon langsung merosot jatuh di bawah mereka. Pria itu tak kalah berantakannya, lebam dimana-mana dengan lubang hidung yang mengucurkan darah.

"Di-dia...mengancamku, Sehuna. Dia membawa-bawa Anna..."

Sehun menarik pemuda itu ke dalam pelukan dan mengernyit ketika mendapati darah di jarinya yang mengelus rambut Baekhyun. Kaki panjangnya menendang tulang kering si Kwon yang malang karena kesal—tak seharusnya Baekhyun dipukuli seperti ini.

Chanyeol hanya diam memandangi semua itu. Kyungsoo, Kai dan pihak kepolisian terus berdebat sedangkan Sehun masih memeluk Baekhyun yang berusaha menenangkan dirinya sendiri. Pandangan mereka bertemu. Lelaki yang dua minggu lalu menjadi pelampiasan amarahnya itu menatap dirinya dengan raut terluka. Wajahnya tampak lugu seakan-akan dia bukanlah preman sekolah yang paling ditakuti.

Dan rasanya aneh.

Chanyeol bertanya-tanya dalam hati apa yang tadi Kwon lakukan pada Baekhyun di dalam sana. Pelipis berandal kecil itu terluka dan darahnya mengalir sampai ke leher, menodai kerah kemeja putih yang ia kenakan.

"Dia juga korban pelecehan! Kenapa tak satupun dari kalian yang mengusut hal itu?" Chanyeol tersentak kaget saat Kai berteriak marah. Pelecehan Baekhyun—dialah pelakunya. Baekhyun memutuskan kontak mata mereka dan memeluk Sehun lebih erat.

"Bukankah ini tidak adil untuk Baekhyun?" Kai masih terus berargumen, Chanyeol mengakui kalau lelaki itu pintar memanipulasi pikiran orang lain. Baru beberapa menit tadi Baekhyun menjadi tertuduh dan sekarang Kai berhasil membuatnya seolah-olah jadi korban utama.

"Seharusnya kalian juga mencari orang yang sudah melecehkan Byun Baekhyun. Kurasa kalian sudah tahu kan dia itu berasal dari keluarga mana? Dia bisa menghancurkan kalian hanya dengan sekali tunjuk. Atau—apa jangan-jangan seseorang sudah membayar kalian dengan mahal hanya untuk membuat Baekhyun tersudut?"

Kai terkekeh ketika melihat anggota kepolisian saling lirik dengan canggung. Sebenarnya lelaki itu tidak bermaksud menunjukkan seberapa kuatnya keluarga Byun, hanya saja pihak kepolisian seperti sengaja mencari-cari alasan untuk memojokkan sahabatnya.

Dalam hati Kai merutuki Baekhyun yang bersikeras tidak mau merekrut seorang kuasa hukum untuk mengurus masalah ini. Kalau tidak, pasti semuanya akan menjadi lebih mudah.

"Kau sudah tenang? Ayo pulang—biar kuobati lukamu." Chanyeol mendengar Sehun berbicara pelan pada pemuda di pelukannya. Baekhyun melepaskan pelukannya kemudian mengangguk.

"Aku pulang ke tempatmu saja, Sehuna."

Sehun tersenyum sambil merangkul lelaki cantik itu. "Hei kalian, minta maaf padanya sebelum kepala kalian kubuat bocor juga."

Seluruh anggota kepolisian saling pandang kemudian membungkuk satu-persatu. "Ma-maafkan kami, Tuan Muda Byun."

Chanyeol tahu kalau keluarga Byun itu kaya raya, dia hanya tidak tahu saja bagaimana bisa anggota kepolisian yang tadinya memperlakukan pria mungil itu dengan buruk sekarang berubah drastis seperti itu?

Sedrastis perubahan ekspresi muka Baekhyun.

"Aku berubah pikiran, Sehuna. Aku akan mengirimkan kuasa hukumku segera—dan..." Baekhyun menarik sudut bibirnya sebelah. Persis pemeran antagonis di drama yang pernah Chanyeol tonton.

"...kalian harus menemukan orang yang sudah berani melecehkanku."

Chanyeol berani bersumpah kalau baru saja Baekhyun meliriknya dengan senyum remeh sarat ancaman. Bahkan pemuda mungil itu menaikkan alisnya dengan gaya menyebalkan.

"Ka-kami akan mencarinya, Baekhyun, Sir."

"Memang itulah yang seharusnya kalian lakukan..." Baekhyun berbicara lamat-lamat, "...dan beri dia hukuman seberat-beratnya."

Baekhyun berjalan melewati Chanyeol yang masih berdiri mematung dengan Sehun yang masih setia merangkulnya. Kepala detektif membungkuk hormat saat mereka lewat—pria itu langsung menatap tajam pada Kwon yang masih terduduk dengan wajah bingung.

Kai sempat berbisik di telinga Kyungsoo sebelum bergabung dengan dua sahabatnya untuk pergi dari sana. Chanyeol tidak tahu apa yang pria itu katakan, yang jelas bisikan itu membuat dua mata lebar Kyungsoo terbuka makin lebar.

"Berhentilah berakting, Do Kyungsoo—jangan buat aku muak."

Kai tersenyum miring kemudian berlalu dari sana.

Sebenarnya tak hanya pihak kepolisian yang merasa terintimidasi oleh Baekhyun—Chanyeol juga. Baekhyun jelas-jelas mengancamnya tepat di depan mata, padahal pria itu tahu pasti siapa yang sudah memperkosanya hari itu. Chanyeol bingung kenapa Baekhyun seolah ingin bermain-main dulu ketimbang langsung melaporkannya pada polisi. Semua itu pasti mudah saja bagi si bungsu Byun.

Chanyeol hanya terlalu kalut sampai-sampai dia tidak menyadari wajah ketakutan Kyungsoo berubah menjadi seringai mengerikan setelah ketiga siswa Yungjin itu benar-benar pergi.


8


Hal pertama yang kulakukan setelah bangun tidur pagi ini adalah mengambil spidol merah dari dalam laci dan melingkari angka 12 di kalender. Hari ini mood-ku benar-benar baik—aku tak henti-hentinya tersenyum sambil mengelus perutku yang makin buncit. Usia janinku bertambah satu bulan hari ini.

"Sudah delapan bulan? Wah—bulan depan dia akan lahir ternyata. Tak terasa, ya?"

Aku menoleh ke belakang dan mendapati suamiku tersenyum manis. Chanyeol yang baru bangun tidur adalah salah satu hal favoritku, dia tampak berkali lipat lebih tampan dengan rambut berantakan seperti itu soalnya. Mungkin hanya dia yang terlihat tampan saat bangun. Ah, oke—selain aku, Sehun dan Kai tentunya.

"Chan~" Aku berusaha memeluknya tapi terhalang perutku yang besar. Dia terkekeh karena lenganku tak bisa menjangkaunya dengan sempurna. Tubuhku kemudian dibalik dan dia memelukku dari belakang.

"Terima kasih karena sudah menjaganya dengan baik, Baek. Bulan depan kita akan resmi jadi orangtua. Aku akan jadi ayah." Dari nada suaranya, aku tahu kalau Chanyeol sangat antusias.

Perasaan haru sekaligus bahagia membuncah dari hatiku. Inilah yang kuimpikan selama ini—memiliki keluarga kecil yang saling menyayangi meski hidup sederhana. Tapi perasaan itu seketika luntur—mood-ku terganggu.

"Ada apa?" Chanyeol mengernyit bingung saat aku melepaskan pelukannya. "Hei, kenapa murung begitu?"

Chanyeol merunduk untuk melihat mataku lebih jelas. Sebenarnya aku benci seperti ini—suasana hati yang masih sering berubah-ubah meski kandunganku sudah tua. Atau ini memanglah sifatku yang asli?

"Aku—aku takut, Chan."

"Ha? Takut apa, Sayang? Katakan yang jelas biar aku mengerti."

Aku menggigit bibirku karena malu mengatakannya. Perasaan seperti ini, apakah orang hamil lain merasakannya juga?

"Aku takut Baby tidak menyukaiku dan lebih menyukaimu."

Baby adalah nama panggilan kami untuk bayi yang sedang bertumbuh di perutku. "Bagaimana kalau Baby adalah bayi perempuan yang genit dan dia lebih suka pria tampan daripada aku? Bagaimana kalau dia hanya menyayangimu dan tidak mau kupeluk? Dia akan memanggilmu ayah tapi tak mau memanggilku ibu."

Chanyeol membuka mulutnya sedikit tapi kemudian menghela nafas berat.

"Atau bisa jadi dia adalah bayi laki-laki—yang nakal. Bagaimana kalau dia jadi anak pembangkang, Chan? Kita akan kewalahan mengatasinya karena dia terus memukuli teman-temannya di sekolah. Atau dia akan memimpin tawuran dengan sekolah lain dan..."

Wow, itu terdengar sangat aku sekali.

"Aku takut, Chan. Aku pasti tidak bisa jadi ibu yang baik...Dan—aku juga takut mati saat melahirkannya nanti. Bagaimana kalau biusnya tidak mempan, atau pisaunya berkarat atau dokternya pingsan saat mengoperasiku..."

Kepalaku tertunduk dan airmataku jatuh begitu saja di lantai. Aku ini sedang hamil, oke? Jadi biarkan saja aku menangis seperti bayi cengeng.

Aku tak pernah tahu kalau mantan musuh terbesarku ini adalah lelaki yang pengertian dan penyayang. Dia kembali membalik tubuhku dan memelukku dari belakang dengan lengan kokoh dan panjangnya itu.

"Ketakutanmu tak berdasar, Baek. Kau hanya terlalu banyak berpikir."

Chanyeol meletakkan dagunya di pundakku sambil mengecupi leherku sesekali. "Dia akan lahir dengan selamat, Sayangku. Dia akan jadi bayi yang paling menakjubkan yang pernah kulihat—aku tak peduli dia perempuan atau laki-laki. Dia akan jadi anak yang baik, penurut dan pintar, karena dia punya ibu yang hebat seperti dirimu."

Airmataku menetes lagi.

"Kau akan jadi ibu terbaik yang pernah ada—dan aku akan jadi pria paling beruntung di muka bumi."

Dia ini—aku tak pernah tahu sejak kapan dia berubah jadi sok romantis.

"Apa kau yakin aku bisa melakukannya? Apa selama ini aku sudah jadi istri yang baik untukmu?" Tanyaku sambil menoleh sedikit dan menyandarkan tubuhku di dadanya. Priaku itu mengangguk sehingga lesung pipi cantiknya terlihat.

"Satu-satunya hal terbaik dalam hidupku adalah dirimu, Baekhyun. Oh, Baby kita juga. Jadi jangan khawatir, oke? Kita akan melakukannya bersama-sama—merawat, mendidik dan membesarkannya. Aku tak bisa melakukannya sendirian, aku butuh bantuanmu. Aku akan bekerja lebih giat lagi agar bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk kalian."

Terima kasih, moodku kembali bagus.

"Chan~ kenapa kau membuatku makin jatuh cinta seperti ini, hah? Kau jahat sekali..." Aku mengecup bibirnya dengan singkat kemudian malu sendiri karena sudah melakukannya. Entah kenapa, kami sudah sering bercinta dan berbagi ciuman atau pelukan—tapi tetap saja, pipiku ini selalu merona dan dadaku berdegup kencang.

"Karena kau yang mulai duluan, Baek. Kau yang lebih jahat karena sudah membuatku jatuh cinta setiap detik. Aku tersiksa, kau tahu." Dan sekarang bibirku yang diserangnya.

Ugh—what a sensual morning kiss.

Ciuman kami nyaris saja berubah jadi seks pagi yang kilat dan menggairahkan. Chanyeol baru ingat kalau hari ini bosnya akan datang meninjau proyek, jadi dia harus berangkat pagi-pagi sekali.

Chanyeol sekarang bekerja sebagai buruh kasar di sebuah proyek bangunan di pinggir kota. Baru seminggu sih—dia terpaksa mengundurkan diri dari live music café tempat dia bekerja sebelumnya.

Itu karena aku cemburu melihat penyanyi wanita sok centil yang dia iringi dengan permainan gitarnya tiap malam. Aku marah-marah sambil mengancam tak akan mau melahirkan bayiku setelah melihat wanita bangsat itu mengecup pipi Chanyeol saat mereka selesai tampil.

"Biarkan saja dia tetap di dalam perutku sampai bertahun-tahun, Park! Aku tak mau anakku punya ayah yang tukang selingkuh seperti kau!"

"Demi Tuhan, Baek. Aku tidak selingkuh!"

Sudahlah, aku malu sendiri kalau ingat tingkah kekanak-kanakanku saat itu.


Pregnant


Sebenarnya aku tak pernah menyangka kami akan berakhir seperti sekarang ini. Maksudku jadi suami-istri yang terkadang sok romantis—padahal dulunya hubungan kami luar biasa buruk. Oh, dia pernah menolak bayiku dulu saat kuberitahu padanya tentang kehamilanku.

Aku muntah-muntah hebat suatu malam berhujan dan Anna menemukanku pingsan di dalam kamar mandi. Anna itu adalah kakak ketigaku—my angel. Dia melompat turun dari kursi rodanya dan berteriak memanggil pelayan—itu kata Pak Shin sih, kepala pelayan di rumah kami.

"Baekkie—hiks, kata dokter kau hamil." Anna berlinangan airmata saat aku siuman. Aku tak bisa berpikir apapun saat itu. Bagaimana kalau ayah dan dua kakak setanku yang lain tahu? Bagaimana mungkin aku bisa membesarkan benda asing di tubuhku itu sendirian?

Malam itu, aku dan Anna menangis sambil pelukan.

Sebenarnya aku sudah menduga akan seperti ini kejadiannya. Si Park bajingan yang sekarang sudah jadi suamiku itu memperkosaku seenaknya, meninggalkanku sendirian setelah dia selesai, aku sakit selama seminggu penuh dan kemudian boom—aku hamil empat minggu. Hebat juga sperma si Park itu, bisa langsung jadi bayi meski kami baru melakukannya sekali.

Kalau ingat itu, ingin rasanya aku menjambaki rambut si Park seharian. Oh, kalian kira perjuanganku untuk bisa diakui oleh si Park itu berlangsung mulus? Suamiku itu memang sedikit sialan—aku akan menceritakan selengkapnya nanti saja.

Intinya, masalah pemerkosaan dan pembunuhan Rose itu selesai tepat sebelum hari kelulusan. Terima kasih pada pengacaraku yang hebat, pihak kepolisian yang akhirnya berhasil mengungkap kejadian sebenarnya dan dua sahabat terbaikku yang setia membelaku di depan siapa saja.

Besoknya, saat SMA Yungnam sedang asyik melakukan upacara wisuda, aku menerobos masuk ke aula mereka dan menghampiri kursi seseorang. Do Kyungsoo, musuh besarku yang lain, mengernyit tidak suka saat aku datang. Anak ini—seharusnya dia berterima kasih karena aku tidak menjebloskan dia ke penjara.

"Ikut aku, brengsek."

Tanpa memperdulikan teriakan kepala sekolah Yungnam yang konyol atau pekik ketakutan murid-murid saat melihatku masuk—aku menarik kerah Chanyeol yang duduk di sebelah Kyungsoo dan menyeretnya keluar.

"Malam ini kau menginap di penjara, Park. Selamat ya, kuharap tidurmu nyenyak."

Chanyeol menghempaskan tanganku dan kami berdiri dengan tubuh saling berhadapan. Mata besarnya menyipit dan dia berusaha mengintimidasiku—sayangnya aku tidak takut.

"Maksudmu?"

Aku terkekeh, "Mananya yang kurang jelas? Aku melaporkanmu atas tindakan pe-mer-ko-sa-an."

Sebenarnya aku tidak berniat memenjarakan lelaki itu sih. Ucapanku di kantor polisi tempo hari itu hanya ancaman. Tapi aku berubah pikiran setelah mengetahui kehamilanku. Aku tak mau menderita sendiri, setidaknya Park itu juga harus ikut tersiksa bersamaku.

Apalagi aku dan kedua sahabatku tidak terbukti bersalah dalam kasus Rose. Ini semua kan karena mulut besar si mata burung hantu itu. Sudahlah, lupakan.

Chanyeol memejamkan matanya dan aku bisa melihat keningnya berkerut. "Baiklah—ayo ke kantor polisi sekarang. Tanpa kau suruh juga aku sebenarnya mau menyerahkan diri." Wajahnya terlihat pasrah dan letih.


Interested


Dan karena aku tidak bawa mobil ke sekolah –aku selalu menumpang sahabatku soalnya—kami berangkat ke kantor polisi naik bus. Park yang minta sih. Aku malu mengakui, tapi sepertinya disitulah aku mulai tertarik pada si Park sialan.

Betapa hinanya aku karena tertarik pada musuhku sendiri. Musuhku yang sudah sembarangan menitipkan benihnya di tubuhku.

"Kau ini bodoh sekali. Duduk di sebelahku saja, Byun—bahkan tanganmu tak cukup panjang untuk meraihnya." Ujar Park sambil menunjuk pegangan yang tergantung di lorong bus. Aku diam saja meski sebenarnya sudah gatal ingin mendaratkan pantatku di sana. Satu-satunya yang kosong hanya di sana memang—dan satu-satunya yang berdiri adalah aku.

"Diamlah—kau berisik sekali." Aku sok cuek meski penumpang lainnya ada yang menatapku dengan aneh. Dan tiba-tiba saja si Park itu menarik blazer-ku sampai aku jatuh terduduk di pangkuannya. Pantatku mengenai gembungan selangkangannya dan pipiku tiba-tiba saja merona hebat.

Memalukan.

Kami terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar karena aku menjambak rambutnya saat itu juga.

"Makanya jangan keras kepala." Dia menggeser tubuh dan menyuruhku duduk di tempatnya tadi. Saat itu aku benar-benar kesal—tapi kesal yang dihiasi kupu-kupu. Rasanya sialan sekali, kalau kalian ingin tahu.

Tapi hari itu kami batal pergi ke kantor polisi karena tiba-tiba saja si Park menerima panggilan darurat dari ayahnya. Aku sempat melirik ponsel murah ketinggalan jaman yang ia pakai, mungkin ponsel dari jaman batu—wajah Park tampak panik dan dia buru-buru turun di pemberhentian terdekat.

Dia meninggalkanku tanpa bilang apapun, sama seperti waktu dia memperkosaku.

Tentu saja aku ini bukan sejenis wanita lemah yang akan menangis karena ditinggalkan—meski hamil begini aku juga laki-laki, ingat? Aku ikut turun tanpa sepengetahuan Park dan mengekorinya.

Rasa tertarik yang sempat kurasakan di bus tadi berubah jadi simpati dan iba saat melihat apa yang terjadi di depan mataku. Aku pernah melihat Park bekerja paruh waktu di beberapa tempat sebelumnya, jadi bisa kusimpulkan kalau dia sedikit susah dalam hal finansial. Meski awalnya tidak yakin sih karena—well, wajahnya yang tampan? Iya, aku mengakui kalau dia tampan.

Tapi sekarang aku yakin.

Segerombolan pria berjas hitam menghancurkan tenda kecil tempat keluarganya berjualan jajanan. Kursi dan meja plastik yang ditata rapi semuanya berubah berantakan. Tteokbokki dan makanan lain yang ditusuk pakai potongan bambu kecil—aku belum pernah makan yang seperti itu sebelumnya—tampak berserakan di pinggir jalan. Orang-orang itu membuang semua dagangan mereka lalu menginjak-injaknya tanpa belas kasihan.

Park melawan dan memukuli mereka, tapi tidak imbang tentu saja. Tanganku terkepal erat saat melihat dia dipukuli. Papa Park yang sudah tua tampak menenangkan istrinya yang menangis ketakutan—sudahlah, pemandangan itu membuat hatiku teriris sampai sekarang. Sejahat-jahatnya aku, ternyata aku ini masih bisa merasa kasihan pada orang lain.

"Kalau sampai tiga hari lagi kalian belum melunasinya juga, siap-siap saja." Salah satu dari mereka membuat gerakan memotong leher dan itu membuatku benar-benar kesal. Berani sekali mereka mengancam orang tua seperti itu.

Kalian pikir aku membantu Park saat itu?—tidak. Haha. Karena ayahku yang mengerikan itu memaksaku pulang untuk menghadapnya saat itu juga.

Mereka sudah mengetahui kehamilanku.


Chased Out


Oh, aku belum memperkenalkan keluargaku.

Plak.

Yang baru saja menamparku itu adalah The Great Byun Senior. Kalian bisa saja mengagung-agungkan ayah kalian, tapi maaf saja, aku benci pria ini. Sama besarnya seperti kebencianku pada ibuku yang sudah pergi lebih dulu itu.

Heish, aku benci semua orang di keluarga ini kecuali Anna.

"Kau benar-benar mau dihapus dari garis keturunanku, ya? Jawab!" Byun Tua mendorongku sampai jatuh dan—jariku gemetaran saat menyadari aku sedang hamil muda. Anna menangis di kursi rodanya, tapi dia tak bisa apa-apa.

Aku berdoa semoga calon bayiku baik-baik saja. Aku merasakan perutku sedikit sakit soalnya.

"Jadi berandalan, pembunuh, dan sekarang mau jadi pelacur? Setelah ini kau mau jadi apa, hah?"

Aku tersenyum sinis kemudian bangkit berdiri. "Aku memang berandalan. Tapi aku bukan pembunuh, apalagi pelacur. Lagipula, sejak kapan ayah peduli padaku?" Dia hendak menamparku lagi tapi segera kutahan. Sudah cukuplah selama ini dia memukuliku sesuka hatinya. Aku tidak melawan karena jujur saja—aku takut. Aku membiarkan saja dia menyiksaku sampai puas, setelahnya aku akan lari ke rumah Sehun atau Kai lalu melakukan hal-hal gila semalaman.

Tapi tubuhku ini sekarang bukan hanya milikku. Ada bayiku di dalam sana—sedang berusaha tumbuh dan meminta perlindungan. Tak ada yang bisa melindungi bayi lemahku yang malang kecuali aku.

"Dan jangan pernah berpikir untuk memukulku lagi—ayah belum tahu kan, aku bisa lebih sadis dari siapapun."

"Mulai berani melawan kau ternyata. Apa seperti ini aku mendidikmu, Baekhyun?" Mata tuanya berkilat marah dan aku langsung terkekeh geli melihatnya. "Mendidik? Ayah pernah mendidikku? Didikan macam apa memangnya?"

Pria tua itu semakin marah.

"Aku akan memaafkanmu kalau kau gugurkan kandunganmu itu, Baekhyun. Kau masih bisa jadi pewarisku kalau kau melakukannya. Jangan sampai keluarga Choi tahu kalau kau hamil. Dan aku juga akan mempercepat pernikahan kalian."

Sial. Pertunangan brengsek dengan pria yang tak kalah brengseknya pula.

Tujuh puluh persen saham berjumlah fantastis milik Byun adalah atas namaku. Ketiga saudaraku mendapat jatah masing-masing sepuluh persen dan itu membuat dua di antara mereka membenciku habis-habisan. Apalagi statusku yang sudah dijodohkan dengan si milyarder Choi Siwon sejak kelas tiga SMP. Siapa yang tak mau dinikahkan dengan Choi?—aku tentu saja.

Oh, baru saja aku teringat dan orangnya sudah datang. Aku tak pernah punya hubungan yang baik dengan mereka berdua, seingatku. Byun Yoona dan Byun Soojung—mereka memasuki ruang tamu dengan tampang sok polos tak tahu apa-apa yang tampak dibuat-buat sekali.

Mereka memang selalu seperti itu, mencari muka di depan ayah.

"Menggugurkannya? Seperti yang kalian lakukan pada Anna dulu? Maaf, aku tak akan melakukannya."

Rahang ayah tampak mengeras dan tangannya gemetar hebat di sisi tubuh. Byun Anna—saudariku yang cantik tapi terlahir hanya dengan sebelah kaki. Ayahku sangat menginginkan anak lelaki dulu, tapi sangat kecewa karena mereka hanya diberi anak perempuan. Saat ibuku mengandung Anna, mereka kecewa berat setelah mengetahui jenis kelaminnya. Ibuku mengkonsumsi obat-obatan untuk menggugurkan Anna, tapi malaikatku itu bertahan hidup.

Dia terlahir dengan anggota tubuh tidak lengkap dan beberapa penyakit bawaan. Seumur hidupnya dihabiskan di atas kursi roda, kecuali kalau sudah waktunya tidur.

Dua tahun setelah Anna lahir, ibuku hamil lagi dan keinginan Byun Tua terkabul. Sayangnya dia kecewa karena aku terlahir istimewa—berjenis kelamin pria tapi punya rahim layaknya wanita.

Aku mungkinlah berandalan tak tahu aturan, tapi aku tak akan pernah menggugurkan bayiku. Aku tak ingin ada Anna-Anna lain di dunia ini setelah kakakku yang malang itu.

"Baiklah, kalau itu keinginanmu. Mulai sekarang kau bukanlah anggota keluarga Byun. Buang margamu itu."

Anna terisak di sudut sana sedangkan kedua bitches itu tersenyum senang diam-diam. "Jangan pernah injakkan kaki di rumahku lagi. Semua fasilitasmu dicabut dan kalian bertiga—"Ayahku menatap kakak-kakakku bergantian.

"—jangan ada yang membantu anak ini sedikitpun. Aku akan memberi hukuman kalau kalian melanggarnya. Apalagi kau, Byun Anna—bantu dia maka aku akan membuatmu menyesal."

Amarahku seperti mencapai ubun-ubun.

"Jangan. Pernah. Ancam. Anna, Tuan Byun yang Terhormat." Ujarku lancang. "Aku akan pergi dari sini. Aku bisa menghidupi diriku sendiri, jadi aku tak butuh hartamu."

"Tidak, Baekkie..." Anna meraung dan berusaha loncat dari kursinya lagi. Seorang butler memegangi kursinya erat-erat dari belakang. Yoona dan Soojung tersenyum bahagia dan aku tahu mereka luar biasa senang sekarang. Persetan dengan saham dan tunanganku yang akan mereka rebut setelahnya.

"Baguslah—aku juga akan menghukum sahabat-sahabatmu kalau sampai kau minta bantuan pada mereka. Aku punya kuasa atas itu, ingat? Aku bisa menghancurkan keluarga mereka sampai ke akar-akarnya." Dasar Byun setan. Aku tak percaya lelaki ini adalah ayahku.

"Oke. Aku pergi—tapi dengan satu syarat."

Tuan Byun yang kubenci itu mengepalkan tangannya semakin erat. "Jangan sakiti Anna selagi aku tidak ada. Sedikit saja kalian menyakitinya, maka aku akan membunuh kalian semua—tanpa sisa."

Dan hari itu, aku meninggalkan kediaman Byun tanpa membawa uang sepeserpun. Hanya dompet tipis yang berisi kartu identitasku dan foto Anna yang sedang menciumku. Kakakku itu menjerit histeris saat aku pergi—mungkin setelah itu dia pingsan lagi.

Baiklah, nanti aku akan cerita lagi tentang bagaimana sulitnya perjuanganku untuk membuat si Park sialan mengakui bayiku yang malang ini. Oh—aku juga bekerja jadi joki balap liar, ikut taruhan bilyard dan tukang cuci piring di tempat bekerja paruh waktu si Park itu untuk mendapatkan uang. Ehm, dan sekalian untuk mendapatkan sedikit perhatian si brengsek kesayanganku itu sebenarnya.

Nanti saja ya, suamiku sudah pulang kerja soalnya.


Wound


"Chanyeoool~" Aku berteriak senang dari ruang tamu saat melihat dia muncul di depan pintu rumah kami yang lapuk. Sumpah, aku rindu sekali padanya—padahal kami hanya berpisah kurang dari dua belas jam. Dia tersenyum lebar meski wajahnya terlihat letih. Dua tangannya direntangkan dan ada bungkusan putih di tangan kanannya.

"Tebak aku bawa apa? Cake stroberi dan es krim untuk istri tercintaku! Kau pasti suka." Ujarnya tak kalah sumringah.

Senyum lebarnya menipis perlahan seiring perubahan ekspresiku yang tiba-tiba. Tangannya dijatuhkan dan dia berjalan pelan ke arahku. "Kenapa lagi, sih? Kau selalu saja berteriak girang tapi setelahnya kembali cemberut."

Aku tetap diam padahal tadinya aku ingin sekali memeluknya berlama-lama. Tubuh Chanyeol yang berkeringat adalah salah satu hal favoritku di dunia ini.

"Eoh? Bahkan kau tak menjawab pertanyaanku. Padahal aku sudah cepat-cepat pulang karena tak sabar ingin melihatmu memakan ini."

Aku menelan ludah kasar kemudian merebut bungkusan yang ia pegang. "Sini, biar kuhabiskan."

Chanyeol masih kebingungan saat aku memakan kue yang ia bawakan dalam diam. Kue ini enak sekali, salah satu makanan kesukaanku sepanjang masa—setelah jajanan yang dijual di tempat Mama Park sih. Biasanya, kalau Chanyeol membawakan kue dan es krim untukku, itu artinya dia baru gajian.

Anak ini, dia selalu saja mementingkanku melebihi apapun.

"Sayang, ada apa? Beritahu aku, please. Apa sesuatu terjadi saat aku tidak di rumah?" Dia duduk di kursi seberangku setelah meletakkan jaketnya dengan asal. Aku tak menjawab karena mulutku sibuk mengunyah potongan kue yang kumasukkan besar-besar.

"Astaga, Baekhyun. Jangan buat aku khawatir."

Chanyeol semakin panik saat aku mengunyah kue dengan airmata yang jatuh perlahan-lahan. Aku ini memang sedikit membingungkan. Sejak hamil dan menikah dengan si brengsek kesayanganku ini, aku jadi agak cengeng dan manja.

"Mulai besok berhenti bekerja di sana, Chan. Aku lebih memilih kelaparan sepanjang hari daripada melihatmu pulang dengan tangan seperti itu."

Chanyeol melirik tangan kirinya yang diperban lalu mendesah panjang. Akhirnya dia sadar apa yang membuatku seperti ini.

"Baekhyun—ini..."

"Berjanjilah untuk berhenti bekerja di sana. Kalau tidak, jangan harap kau bisa menimang bayimu bulan depan. Aku tak mau melahirkannya sebelum kau berjanji terlebih dahulu."

Suamiku itu menghela nafas panjang sekali lagi. "Gaji di sana lebih besar dari di tempat sebelumnya, Sayang. Kita kan butuh uang untuk biaya operasimu bulan depan. Kita juga belum belanja keperluan bayi satu pun. Bagaimana kalau..."

"Tapi tanganmu terluka! Kau pikir aku bisa tenang begitu saja?"

"Baekhyun—tanganku hanya tertimpa batu, bukan hal besar sama sekali."

"Hari ini tanganmu yang tertimpa. Mungkin saja besok kepalamu yang kena dan—bagaimana kalau kau mati karena tembok yang kalian bangun tiba-tiba saja roboh?" Aku mulai berteriak dengan panik.

"Baekhyun, ini semua kulakukan demi kalian. Aku baik-baik saja, sumpah. Ini sama sekali tidak sakit. Lihat!" Chanyeol menggerak-gerakkan tangan kirinya yang diperban.

"Hiks—aku benci kau, Park Chanyeol. Berhenti atau kau tak akan mendapatkan bayimu sampai kapanpun!"

Chanyeol memijat pelipisnya dengan tangan kanan kemudian mengangguk lesu. "Jangan menangis lagi, Baekhyun. Oke, aku akan berhenti. Janji."

"Benarkah?" Ucapku ragu. Dia mengangguk sambil tersenyum. "Dan itu artinya kita akan kelaparan sepanjang hari. Kau tahu, cari pekerjaan itu susah, Baek. Aku ini cuma tamatan SMA—sulit untuk dapat pekerjaan dengan gaji lumayan."

"Aku lebih suka kelaparan asal kau bersamaku sepanjang hari. Aku bisa kenyang hanya dengan melihat wajah tampanmu itu seharian. Kalau aku lapar, aku tinggal menjilati wajahmu sampai puas."

Tadinya aku menangis, tapi sekarang moodku sudah kembali ceria. Chanyeol masih cemberut karena aku kembali menyuruhnya mundur dari pekerjaannya, tapi sudut mulutnya tertarik ke atas setelah aku mengoleskan krim kue di bibirnya lalu menjilati tempat itu dengan gaya sensual.

"Kalau begitu, ada harga yang harus kau bayar, my love." Lelaki kecintaanku itu melepas kaosnya yang kotor dan berkeringat. Aku terpaku saat melihat dadanya yang semakin bidang dan abs-nya yang semakin terbentuk itu. Apalagi kulitnya yang berkilauan karena tertimpa cahaya dari lampu dapur—keringatnya membuat dia terlihat semakin seksi.

Oke, kami mau bercinta dulu.

Bicara soal seks—Chanyeol sempat ketakutan saat akan menyetubuhiku di awal pernikahan kami dulu. Dia itu sedikit aneh, menurutku. Aku yang diperkosa, tapi dia yang trauma. Untuk menciumku saja dia sangat takut. Tapi lama kelamaan, kami berdua menikmatinya.

"Akhhh—Chan, pelan sedikit..."

"Maaf, Sayang. Kau terlalu nikmat, aku jadi lupa diri."

"Akkhhnn ngghhhh..."

"Ouchh—enak sekali, Baekhyunku..."

Di usia kandunganku yang semakin tua ini, sulit untuk mencari posisi bercinta yang pas. Aku juga semakin sulit bergerak karena perutku yang besar. Tapi kalau lubang nakalku ini sudah dimasuki penis besar berurat kesayanganku itu, aku jadi tak peduli pada apapun.

"Ahhhhhhnnn... Chaaaan~"

"Ah Sayang, terima ini—ahhhh..."

Dan sperma panasnya menyembur di dalam tubuhku. Mungkin bayiku di dalam sana merasa kalau dia terkena hujan lokal, haha—maaf baby. Itu bukan hujan lokal, itu milik ayahmu.

Chanyeol memelukku dari belakang dan kami berbaring dengan tubuh yang dibanjiri keringat. Aku suka sekali momen-momen sehabis bercinta seperti ini. Chanyeol akan menciumiku lalu kami akan berbicara tentang apa saja. Aku juga suka menggodanya dan kami akan berakhir dengan percintaan panas sepanjang malam.


Negotiation


"Chan, aku berubah pikiran..." Ujarku saat dia mulai menciumi bahuku yang telanjang.

"Tentang? Pekerjaanku?"

Aku meraih jemarinya yang sedang memainkan pusarku yang menonjol. Chanyeol bilang pusarku lucu saat hamil seperti ini, dan aku akan selalu cemberut kalau dia mengatakannya.

"Aku berubah pikiran tentang ingin hidup susah bersamamu selamanya."

Chanyeol menghentikan semua aktivitasnya lalu membalikkan tubuhku secara paksa. Matanya bersinar ketakutan dan dia memandangku dengan wajah tak percaya.

"Ma-maksudmu, apa kita akan berpisah? Kau mau menceraikanku?"

Aku tersenyum dan menikmati ini semua. Hal favoritku yang lain adalah melihat wajah Park Chanyeol yang berubah panik seperti ini.

"Kau bilang kau tak peduli dengan statusku yang miskin, Baek. Kau bilang kau bisa menerimaku yang seperti ini. Kau bilang..."

"Heish, kau ini berisik sekali." Aku mengecup bibirnya kemudian mencoba duduk bersandar di kepala tempat tidur dengan susah payah.

"Aku memang bilang begitu dulu. Tapi aku berubah pikiran. Chan—saat kubilang aku diusir ayah tanpa membawa uang sepeserpun, apa kau percaya begitu saja?"

Mata indahnya masih menatapku dengan bingung.

"Aku tak sepenuhnya jujur. Kau tahu, ayah memang mencabut semua fasilitasku—termasuk ATM dan yang lain-lain. Aku juga sudah bukan anggota keluarga Byun saat ini. Tapi dia tak pernah tahu kalau aku punya simpanan lain dalam bentuk yang berbeda."

"Ma-maksudmu?"

"Yah, aku memang anak nakal—tapi aku sudah memikirkan tentang masa depanku jauh-jauh hari. Semua ini berkat Kai dan Sehun."

Raut Chanyeol terlihat semakin kelam dan dia hampir menangis ketakutan. Aku menggenggam tangan besarnya dan mendorongnya agar ikut bersandar.

"Kai mengajariku cara bermain saham sejak aku kelas satu. Kau tahu, aku menanam saham di beberapa perusahaan meski jumlahnya baru sedikit. Sehun juga mengajariku berinvestasi dalam bentuk lain—rumah, tanah dan emas. Yah, jumlahnya jauh lebih sedikit dari warisanku sebenarnya—tapi menurutku lumayan. Yang lebih penting lagi, semua itu milikku tanpa campur tangan keluarga Byun sedikitpun."

"Baekhyun, apa yang..."

"Chan, kau kan pernah berjanji akan menuruti semua permintaanku dulu. Aku menagih janjimu itu sekarang."

Chanyeol menggigit bibirnya yang selalu kukulum saat bercinta itu. Tuh, aku jadi horny lagi. Tapi sekarang bukan saatnya untuk itu, ada sesuatu yang lebih penting.

"Aku punya rumah di daerah Cheongdamdong, milikku sendiri—sekarang sedang disewakan sih. Tapi bulan ini kontraknya akan berakhir. Ayo kita pindah ke sana. Dan..."

"Baekhyun..." Raut Chanyeol berubah datar. "Aku bisa tersinggung kalau kau melakukan ini."

Heish, dasar.

"Aku menikahimu bukan karena kau kaya dan punya segala macam, tapi..."

"Biarkan aku selesai bicara, oke? Kau ini, kenapa sensitif sekali sih?" Sebelum Chanyeol merajuk, aku mengeluarkan jurus merajuk terlebih dahulu. Selalu berhasil, seperti sekarang. Dia hanya menghembuskan nafas berat kemudian mengalah.

"Aku punya harta meski tidak banyak. Dengan harta itu, kita bisa hidup lebih baik, Chan. Aku tidak bermaksud merendahkanmu atau apa. Lihatlah, perutku buncit seperti ini dan aku tak bisa bergerak banyak. Bulan depan aku akan melahirkan dan kau baru saja kehilangan pekerjaan karena aku..."

Sebenarnya aku hanya bicara omong kosong, haha. Aku tahu Chanyeol akan menuruti segala permintaanku. "Semua yang menjadi milikmu adalah milikku juga. Bahkan roti yang seharusnya jadi bagianmu malah kau beri untukku. Lalu kenapa semua yang jadi milikku tidak bisa jadi milikmu juga?"

Aku mengelus pipinya dengan sayang. "Aku akan menjual sebagian hartaku—mungkin tanah yang di Gangnam atau simpanan emasku di bank. Aku ingin sekali melihatmu lanjut kuliah, Chan. Dengan begitu, kita akan punya modal untuk membangun perusahaan sendiri. Bukankah katamu kau punya cita-cita ingin mendirikan perusahaan game?"

Mata Chanyeol berlinang dan setetes airmata mulai jatuh.

"Ayolah~ aku bukannya mau menghinamu atau apa. Kandunganku sudah masuk bulan-bulan terakhir dan aku bisa melahirkan kapan saja. Aku ingin kau berada di sisiku sepanjang waktu tanpa harus memikirkan darimana kita akan dapat uang atau apa—kita tinggal menjual beberapa batang emas milikku dan semuanya akan lebih mudah."

Aku ikut menangis saat mengatakannya.

"Kita juga bisa menyuruh appa dan eomma untuk tinggal bersama kita di Cheongdamdong sana. Mereka tidak perlu berjualan di kampung seperti sekarang ini. Ayolah~ kau mau kan, Chan?"

"Apa...apa kau malu punya suami miskin sepertiku, Baek?"

"Ya ampun—darimana kau bisa membuat kesimpulan seperti itu, Chan? Aku tidak malu, sungguh."

"Lalu kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?"

Susah sekali memang berbicara dengan si keras kepala Park Chanyeol.

"Aku kan sudah janji akan bekerja lebih giat untuk membuat hidup yang lebih baik buat kalian. Tidak harus seperti ini, Baek."

"Dan kau tak harus melukai tubuhmu sendiri, pergi kesana kemari, pulang kerja dalam keadaan capek—kau tinggal mengatakan iya dan semuanya akan lebih mudah." Nada suaraku mulai meninggi.

"Aku ini milikmu, Chan. Semua yang ada padaku adalah milikmu. Apa artinya aku punya simpanan harta tapi tak bisa digunakan sedikitpun? Berhenti protes dan turuti saja yang kukatakan. Aku melakukan ini demi kita semua."

Chanyeol menepis tanganku dan bangkit dari ranjang. Wajahnya terlihat kecewa, aku tahu itu. Apa menurut kalian aku keterlaluan? Sungguh, aku tidak ada maksud ingin menyinggung perasaannya atau apa.

"Atau kau tak akan melihat bayimu sampai kapanpun." Aku mengeluarkan jurus ancamanku yang tingkat keberhasilannya nyaris mencapai seratus persen.

Dia memakai celananya dan menatapku datar. "Kau selalu saja mengancamku, Baek. Aku bisa apa?"

Aku tersenyum lebar kemudian duduk di tepi ranjang. "Aku menang, kan? Kita akan pindah kan?"

Chanyeol menarik risletingnya lalu menatapku tajam. "Kau menang, Baek. Memangnya sejak kapan aku bisa mengalahkanmu?"

Aku menarik pinggangnya dan memeluk perutnya erat-erat. "Terimakasih, Chan. Aku mencintaimu."

Chanyeol menekankan kepalaku di perutnya sambil mengelus tengkukku dengan lembut. "Aku minta maaf karena memberikan hidup yang susah untukmu, Baek."

Aku menggeleng-gelengkan kepala di perut kerasnya. "Tidak, Chan. Aku malah bersyukur atas itu. Hanya saja, sudah saatnya aku yang mengambil alih."

"Terserahmu saja. Aku janji akan membalas semuanya suatu hari nanti."

"Hm, tentu saja. Kuliahlah yang giat dan cepat dirikan perusahaan game itu—apa namanya? Dalcomsoft? Kau betulan ingin memberi nama itu untuk perusahaan kita nantinya? Bagaimana dengan ChanBaek Corporation saja?"

Chanyeol melepas pelukanku dan menarik daguku agar mendongak. "Harus dengan cara apa aku membalas semuanya, Baek?"

Dia meneteskan airmata lagi dan cairan itu jatuh tepat di pipiku. "Aku ini terlalu miskin dan hidupku susah sejak kecil. Kenapa Tuhan harus mengirimkan malaikat sebaik dirimu untukku? Betapa jahatnya aku selama ini karena sudah membuat malaikatku hidup susah."

"CK—berhentilah bicara seperti itu, Park. Kau ini sok mellow sekali. Kau lupa, kau dulu sering menyebutku iblis."

Aku menyeka pipinya yang basah lalu menciumnya dengan cepat. "Ayo ke dapur dan masakkan aku sesuatu—sebelum aku memakanmu lagi."

Yah, begitulah.

Aku juga bingung sendiri dengan apa yang kuceritakan. Yang penting hidup kami bahagia meski serba kekurangan. Oh, sebentar lagi mungkin akan berubah sedikit—aku ini masih kaya, ingat? Aku tak sabar melihat bagaimana reaksi Byun Tua beserta dua bitches yang sedang memperebutkan jatah warisanku kalau mereka tahu aku tidak semiskin yang mereka duga.

Kita tunggu saja.

"Ahhh—Chan,"

"Kenapa, Sayang?"

"Barusan Baby menendang perutku dari dalam. Katanya dia senang dengan keputusanmu. Dia juga minta dibelikan perlengkapan bayi yang banyak."

"Kau sedang memperalatku, kan?"

"Iya, haha. Kita akan pergi belanja, kan?"

"Terserahmu saja... memangnya aku bisa menolak?"


Haha, aku tahu scene yang di kantor polisi rada aneh, abaikan aja yah. Aku gak tau apa2 soal gituan, jadinya cuma ngarang aja.

Dan-yah, begitulah. Semoga gak bingung sama alurnya yang maju mundur patah patah.

Makasih buat readers semua, yang uda pollo sama paporitin, sama ripiu-Love u all.

See ya next chap.