Holaaaaaaaa..
minna san..
saya balik bawa ff lanjutan Into the new worl chapter 1.
sebenernya nih F udah lama mau saya publish.
tapi entah mengapa rasa malas sedkit menyerang saya. haha.
mengingat banyak sekali pekerjaan saya yang menumpuk akhir akhir ini. ditambah lagi susah banget nyolong2 kesempatan buat lanjutin ngetik di kompi kantor saya mengingat kerjaan yang bejibun ini.
um.. sebelum Fic ini dimulai, saya akan bales beberapa review yang nongol di Ff INI. Saya berterimakasih sekali pada beberapa reviewer yg bersedia review fic abal ini. juga para silent readers. kalo bisa ya silahkan review untuk part ini. hehe
REPLY OF REVIEW:
Guest : iya.. ini dilanjut..
makasih udah jadi reviewer pertamaku ya.. :D
Cheese chan: haha.. iya. aku udah berusaha ngilangin typo di chapter ini. hehe.
ia. pair ini sweet banget. selamat membaca part ini. :) terimakasih udah baca part sebelumnya.
Hiromi Toshiko: iyah.. part ini semoga berkurang typonya. terimakasih udah baca. :)
dan untuk Evil Smirk of the Black Swan dan Melly Fullbuster karna udah nge fave dan alert ceritaku..
Nahh.. oke readers. tanpa banyak bacot lagi.. kupersembahkan *halah* fic abal ini. JENGG JENGG!
Title : Into The New World
Genre : Romance, Drama
Rate : T
Warning : OOC abis sangat, AU, POV ga jelas, typo bertebaran, newbie aneh
Length : Chapter
Summary : Ino dan Sakura. Dua orang berandal wanita yang hidup sengsara saat terpisah dengan orang tua mereka sejak kecil tiba tiba dikejutkan dengan keadatangan seorang pria misterius yang mengaku orang kepercayaan keluarga mereka. Menjemput mereka untuk kembali pada orang tua kandung mereka dan hidup bagai putri raja. Bertemu dengan dua orang pria yang seorang peramal mengatakan merekalah takdir mereka. Dan disinilah permainan takdir dimulai….
Disclaimer : NARUTO milik Tuan Masashi Kishimoto-halah-. Fic Into The New World milik saya ^.^
Pairing : Naruto x Sakura
Shikamaru x Ino
Sebelumnya di Into the new world…..
" Apakah benar anda nona Ino?" tanyanya. Raut mukanya begitu tegang. Ia bisa melihat keringat mengucur dari pelipis orang ini. Sepertinya ia tegang.
" Ya., saya. Anda siapa?" sekarang Ino malah curiga. Ia meningkatkan kewaspadaanya. Aneh sekali ada seseorang berpenampilan seperti orang terhormat bisa mengenalinya. Hey, ingat. Ia hanya seorang berandalan kampung yang tak memiliki arti dimata siapapun kecuali Sakura tentunya.
" Apa anda mengenal Nona Sakura?" tanya orang itu sekali lagi. Ino hanya mengangguk. Ia berpikir siapa tahu orang ini adalah suruhan Gaara yang akan menjemputnya. Padahal ia tadi sudah bilang pada Gaara agar ia tak usah menjemputnya.
Ekspresi orang tersebut sedetik kemudian melunak. Ia malah maju memeluk Ino. " Hei heiii! Siapa kau! Lepaskan aku." teriak Ino meronta- ronta. Membuat pintu yang tadinya hanya terbuka separuh kini terbuka sepenuhnya. Namun pelukan pria itu makin kuat. Dan Ino bisa merasakan orang itu menangis sekarang. Sedangkan Sakura hanya bisa terkejut tidak mengerti melihat apa yang ada didepannya sekarang.
" P - paman Iruka?" kata Naruto tiba-tiba. Membuat semua mata tertuju padanya. Entah sejak kapan ia dan Shikamaru telah keluar dari persembunyiannya di balik sofa bersama Shikamaru.
" N-Naruto." lelaki yang dipanggil Iruka tersebut menatap kaget pada Naruto. Sedangkan Sakura dan Ino hanya memandang tidak mengerti.
" Apalagi ini Tuhannn..." batin Ino tidak mengerti. Sepertinya ini semakin rumit.
Into The New World
CHAPTER 2 : Destiny?
"Jadi? Sebenarnya siapa kau ini?" Tanya Ino sambil berkacak pinggang pada lelaki yang baru saja datang kerumahnya beberapa saat yang lalu itu. Ia benar-benar sudah muak dengan semua yang terjadi hari ini. Ditabrak dua orang lelaki aneh. Ikut berlari dari pengejaran konyol mereka dan sekarang didatangi seorang lelaki aneh LAGI yang membuat Ino beserta Sakura semakin puyeng saja.
"Oh.. maafkan saya Ino-sama. Sakura-sama" Lelaki yang tadi diketahui bernama Iruka tersebut segera berdiri dan membungkukkan badannya pada Ino dan Sakura bergantian.
NGIKKK?
Ino dan Sakura segera cengo berjama'ah mendapati dirinya dipanggil dengan embel-embel 'sama'. Seumur-umur hidup dijalanan baru kali mereka mendapatkan julukan 'se-terhormat' itu.
"Errr.. sebelumnya… apa anda berdua benar benar tidak mengenali saya samasekali?" Tanya lelaki bercodet tersebut. Sedangkan Sakura dan Ino segera mengannguk mafhum. Dan lelaki tersebut mendapati reaksi Ino dan Sakura yang memang nampak tak mengenalinya tersebut malah mengambil napas berat.
"Perkenalkan. Nama saya Iruka. Saya adalah orang kepercayaan keluarga anda berdua nona nona." Katanya dengan raut sedih." Saya dulu adalah pengasuh anda berdua saat anda berdua masih kecil.. sebelum.. sebelum anda berdua menghilang nona.." kini lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Iruka tersebut menampakkan raut wajah sedih.
Kedua gadis itu nampak terkejut? Pengasuh? Mulai kecil? Apa-apaan ini, seingat mereka berdua tidak ada pengasuh selain Sarutobi yang mereka ingat. Ino dan Sakura saling berpandangan tak mengerti.
"Anda dulu sewaktu kecil pernah menghilang nona-nona. Apakah anda ingat." Sakura dan Ino kembali saling berpandangan. Menghilang? Sewaktu kecil? Mereka tentu saja ingat. Tersesat ditempat yang sama sekali tak mereka ingat. Takkan pernah mereka lupakan kenangan itu seumur hidup.
Lelaki tersebut lalu mengeluarkan sebuah foto dari kantong jasnya dan menunjukkannya pada Sakura dan Ino. Mereka terkejut. Disana ada ia dan Sakura sedang berfoto mengenakan Kimono. Wajah mereka tak tampak jauh berbeda dengan sekarang. Mereka tercekat dan saling melemparkan pandangan yang berarti -benarkah ini?-
Namun kedua gadis itu tidak begitu saja bisa percaya. Bisa saja lelaki didepan mereka ini membohonginya dan hanya berpura-pura.
"Apa yang bisa membuatku dan Ino percaya padamu?" Tanya Sakura. Ia benar-benar masih ragu.
"Saya tidak mungkin berbohong nona. Kalau tidak percaya anda berdua bisa ikut saya sekarang kerumah. Pulanglah nona. Kedua orang tua anda menunggu…" lanjut Iruka dengan tatapan memohon.
Orang tua…
Mendengar kata-kata orang tua membuat Ino da Sakura seakan membumbung tinggi ke awan. Sekian tahun hidup menggelandang dijalanan membuat mereka rindu akan kasih sayang orang tua. Sering kali mereka iri pada remaja lain yang dapat tumbuh bersama dengan kedua orang tuanya. Hidup normal dan tidak perlu repot-repot mencopet setiap hari hanya agar bisa makan.
"Baiklah. Kami akan ikut denganmu dulu utuk memastikan benar atau tidaknya apa yang kau katakan tadi itu tuan." Wajah Iruka nampak bersinar cerah mendengar persetujuan Ino barusan.
Sementara itu, Shikamaru dan Naruto yang sedari tadi hanya bisa menonton drama didepannya tanpa mengerti seuatu apapun mulai angkat bicara. "Paman Iruka? Apa sebenarnya semua ini? Kenapa terlihat rumit. Siapa sebenarnya dua wanita ini?" Naruto segera memberondong Iruka dengan berbagai macam pertanyaan yang ia pendam sedari tadi dalam hatinya. Namun yang ditanyai malah tersenyum. Dan Shikamaru yang kebetulan sedang menoleh mengerti apa arti senyuman Iruka tersebut. Senyuman penuh arti yang… err-mematikan.
"Anda akan tahu setelah ini." Sementara Iruka nampak mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Tak lama setelah suara sambungan telepon ditutup sekali lagi terdengar suara pintu gubuk Ino dan Sakura diketuk. Dan tanpa menunggu Ino atau Sakura membuka pintu, segerombolan orang yang Ino dan Sakura kenali adalah pengejar dua lelaki pembawa sial tadi langsung saja menerobos masuk. Sementara Shikamaru dan Naruto segera mundur teratur dari tempatnya berdiri sekarang.
"Ck! Mendokusaiii." Keluh Shikamaru saat orang- orang tersebut mulai menarik mereka keluar. Ia hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan.
Sementara ekspresi dari Naruto, sudah tidak perlu ditanya lagi. Dia segera berteriak histeris sekaligus dramatis. "Oh NOOOO! TIDAKKK! TUHAN TOLONG SELAMATKAN AKU DARI ORANG-ORANG TERKUTUK INI." Dan jangan heran bila Sakura, Ino dan Iruka langsung sweatdrop berjama'ah mendengar teriakan lebay Naruto.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu ditutup dengan debuman keras. Ino langsung menatap curiga pada Iruka. Jangan-jangan ia sudah ditipu. Dan Iruka yang sadar Ino da Sakura menatapnya penuh Tanya sekaligus penuh curiga segera memberikan penjelasannya.
"Jangan kuatir nona-nona. Saya tidak membohongi kalian. Dua pemuda tadi adalah sesuatu tidak terduga yang harus saya bereskan." Dan dua gadis tadi hanya mengangkat bahu tidak perduli. "Jadi.. bisakah kita pulang sekarang? Ada banyak orang yang menunggu anda." Kata Iruka sambil tersenyum tulus. Membuat Ino dan Sakura semakin berharap akan adanya keluarga. Yah… akankah mereka memiliki tempat untuk pulang setelah ini.
\(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/\(^,^)/
Ino dan Sakura tecengang melihat rumah besar dihadapanya ini. Padahal belum selesai keterkejutannya akan mobil mewah yang baru mereka kendarai tadi. Dihadapan mereka kini berdiri kokoh sebuah rumah bergaya Eropa klasik namun tetap terlihat modern dengan sentuhan disana sini. Juga taman bunga yang indah sebelum mereka masuk tadi. Tiba-tiba sebuah kerinduan menelusup masuk kedalam hati mereka berdua. Rasanya dejavu. Pernah dulu mereka mengalami hal ini. Namun entah kapan dan dimana mereka sudah tidak ingat.
Masih dengan tampang cengo-nya Sakura mengamati rumah didepannya kini. Antara takjub, kaget, tidak percaya dan ingin muntah saking groginya. Sampai pada akhirnya suara Iruka menyadarkan mereka.
"Silahkan masuk nona Ino. Selamat datang kembali di rumah…" kata Iruka sambil membuka pintu rumah besar itu. Dan rasanya Ino akan pinsan saat melihat betapa mewahnya isi rumah dihadapanya ini.
"I-ini rumahku?" Tanya Ino tidak percaya. Rasanya ia ingin ditampar dulu kali ini baru bisa percaya ini adalah rumahnya. Rumahnya.
"Benar nona." Iruka tersenyum manis.
Dan sepersekian detik kemudian seorang laki laki yang sudah berumur sekitar 40an keluar dari dalam sana. Ia memiliki rambut pirang pucat sama seperti Ino. Matanya. Garis wajahnya. Semuanya begitu sama. Dan orang tersebut segera menghampiri Ino untuk segera memeluknya.
"Ino.. kau pulang hime.. akhirnya kau kutemukan." Katanya sambil menangis. Dan sebuah kehangatan langsung menelusup masuk dalam hati Ino. Rasanya ia begitu familiar dengan pelukan ini. Kehangatan ini. Dan orang ini. Dan entah dorongan dari mana ia ikut menangis sambil membalas pelukannya.
"A-Ayah." Kata Ino spontan. Entah mengapa hatinya mengatakan pria didepannya ini adalah Ayahnya pastinya.
"Iya… ini Ayahmu hime. Ini Ayah. Jangan tinggalkan Ayahmu lagi. Jangan tinggalkan Ayah." Kata orang tersebut sambil semakin memeluk erat Ino.
"AYAH.. HIKS.." Ino benar benar tak dapat menahan air matanya. Ia benar-benar merindukan sosok ini. Sosok Ayahnya. Sosok yang begitu ia dambakan sejak dulu.
Namun keharuan itu tak berlangsung lama sampai sebuah suara cempreng seseorang menginterupsi keadaan tersebut. " Hei hei. Kalian. Jangan hanya menikmati kerinduan ini berdua saja. Tidakkah kalian ingat padaku juga, un." Ino segera melepaskan pelukannya dari orang yang baru ia ketahui 'Ayahnya' itu dan menoleh ke sumber suara. Dan disana. Tak jauh dari mereka berdiri. Seorang . Benar-benar replika dari Ino berjalan mendekati mereka. Ino masih cengo. Ia menatap orang dihadapannya ini dengan tidak percaya. Rambut pirang yang diikat ponytail. Raut wajah. Da semuanya. Mirip dengan Ino. Kecuali matanya tentu.
"Neesan?" Tanya Ino takut takut.
Nginggggggggggggggg-
Suasana mendadak hening. Orang yang dipanggil nee-san oleh Ino tersebut langsung melotot dan sweatdrop secara bersamaan.
DUAGGHH
Ino segera merasakan tangan seseorang menjitak kepalanya tanpa ampun.
"NEESAN? NEESAN KATAMU. AKU INI LAKI LAKI INO! AKU INI ANIKI MU BAKA! Kau ingin kuledakkan sekarang, un." katanya dengan emosi sampai kepulan asap nampak keluar dari atas kepalanya. Ino begidik ngeri mendengar kata ledakan yang keluar dari mulut orang ini. Ia dan Sakura segera melongo bersamaan. Ternyata yang dihadapannya ini adalah laki-laki. Bukan perempuan. Salahkanlah dandanannya yang terlihat…. Errr… Feminim itu.
Dan tak lama berselang suara debuman lain yang begitu dahsyat terdengar.
JDUAGHHH
BUGHH
PLAKKK
KLONTANG
DUORRRRRR
DARR DARRR
TUKKK
TUKKKK
NGIKKKKKKK
"Apa yang kau lakukan DEIDARA bodoh! Jangan menyakiti hime-ku tersayang seenaknya." Kata Ayah Ino dengan penuh emosi. Sementara orang yang dikenali bernama Deidara tersebut nampak sudah tersungkur 10 meter dari tempat Ino berdiri. Tersungkur dengan mengenaskan. Di bawah pohon cabe dengan sampah *yang entah dari mana* mengotori rambut indahnya (?)
"Ayaahhh.. apa yang kau lakukan. Kau mengotori rambutku yang indah. Tahukah kau aku harus setiap minggu ke salon untuk tetap menjaga keindahan rambut alamiku ini."
BUAGHHH
Bersamaan dengan berakhirnya celotehan panjang Deidara, sebuah sandal kayu khas jepang sukses mendarat dikepalaya.
"AYAAAAAAAAAHHHHHHHHHH!" teriak Deidara semakin kesal. Sementara para penonton-Ino, Sakura dan Iruka hanya bisa sweatdrop melihat kelakuan Ayah anak yang konyol ini.
Sakura sedikit tersenyum geli melihat keunikan keluarga sahaba kecilnya ini. Walaupun nampak sedikit konyol, namun mereka adalah keluarga yag hangat. Sakura jadi bertanya-tanya seperti apa keluarganya sebenarnya. Melihat Ino memiliki Ayah dan Kakak yang begitu hangat membuatnya begitu iri. Ia juga ingin merasakan kehangatan keluarga.
"Kau? Sakura-kan?" Tanya Inoichi tiba-tiba. Membuyarkan segala lamunan Sakura tentang bagaimana kah keluarganya nanti. Sakura hanya terseyum lembut lalu menjawab.
"Iya Paman."
"Wah…-"
Inoichi hendak mengatakan sesuatu saat tiba-tiba sebuah suara menginterupsinya.
"Sakura!"
Seruan tersebut sukses membuat semua mata yang ada disana menoleh ke sumber suara. Dan disana… berdiri seorang wanita paruh baya yang masih cantik. Sang wanita segera berlari kearah Sakura. Seorang wanita berambut blonde pendek seperti Ino. Ia sempat berpikir mungkin itu adalah Ibunya Ino. Tapi kenapa ia malah memanggil dan menghampiri Sakura? Bukannya Ino?
"Anakku!" serunya langsung memeluk Sakura.
"I-Ibu?" Tanya Sakura tak yakin. "Kau Ibuku?" Tanya Sakura tak percaya.
"Ini Ibumu sayang. Ini Ibumu." Serunya sambil terisak. Membuat Sakura langsung memeluknya erat.
"Kami merindukanmu nak." Sebuah suara yang lain membuat Sakura mendongak. Seorang laki-laki menatapnya begitu hangat. Rambutnya berwarna putih panjang dan ada tato yang memanjang dikedua pipinya. "Ini Ayahmu nak." Kata lelaki tersebut sambil meneteskan air mata ikut memeluk Sakura bersama Ibunya.
"Ayo pulang Hime.. Ibu merindukanmu."
\(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/\(^,^)/
Sakura dan Ino benar-benar tak pernah membayangkan ini. Mereka yag dulunya berandalan, sekarag hidup bergelimangan harta yang bisa dibilang… Err.. begitu melimpah. Semua hal yang dulunya hanya dapat mereka lihat sekarang bisa mereka dapatkan hanya dalam sekejap mata. Seperti saat ini. Entah mengapa, sifat lain Ino sekarang mulai muncul. Sakura juga hanya bisa melongo melihat sahabatnya yang satu itu. Ino menjadi sedikit… er… shopaholic. Dan Sakura sendiri agaknya begitu. Yah.. mungkin ini bisa disebut sebagai pelampiasan kemiskinan mereka saat ini.
"Bagaimana dengan yang ini Forehead?" Tanya Ino saat ia mencoba memilih-milih sebuah gaun disebuah butik ternama di kawasan ShIbuya.
Sakura yang juga sedang memilih-milih sebuah gaun berbalik menatap gaun yang Ino sebutkan. Ia melihat sebentar kearah baju yang di maksud Ino nampak menimbang-nimbang. Sedetik kemudian ia mengangguk.
Yaah… beginilah kegiatan Ino dan Sakura semenjak beberapa hari ini. Keliling dari satu mall ke mall yang lain. Dari satu butik ke butik lain. Dan berpindah-pindah ke berbagai gerai mahal yang mereka temui. Benar-benar hidup yang menyenangkan. Akhirnya, mimpi mereka selama ini menjadi wanita sesungguhnya terkabul juga.
Sakura dan Ino baru saja keluar dari butik dengan menenteng beberapa tas belanjaan ditangan mereka. Tampak mereka sesekali berbincang lalu tertawa. Nampaknya mereka sudah benar-benar menjadi seperti wanita pada umumnya sekarang ini. Bukannya dua orang pencuri pasar seperti dulu. Sekarang merekalah ratunya.
"Aku lapar Pig!" kata Sakura tiba-tiba saat mereka melewati sebuah foodcourt yang menyediakan berbagai makanan.
"Oke. Kita makan sekarang. Sepertinya ini juga sudah makan siang." Ino melirik jam tangan mewahnya yang melingkar manis di lengan putihnya.
Mereka lalu melangkah kedalam. Memilih tempat agak dipojok dan meletakkan tas –tas belanjaan mereka pada kursi kosong disamping mereka. Tak lama kemudian seorang pelayan datang menghampiri Ino dan Sakura lalu mencatat pesanan makanan mereka.
"Setelah ini, rencanamu akan kemana Pig?" Tanya Sakura sambil menunggu pesanan makanan mereka.
"Entahlah. Aku ingin pulang saja. Aku lelah. Seminggu ini kita sudah cukup pergi berbelanja Forehead. Bajuku sudah begitu banyak dirumah."
"Benar juga. Aku….-"
Drrttt.. drrrrttt…. Drrttttt…
Sebuah getaran panjang di ponsel Sakura menginterupsi percakapannya dengan Ino. Ia melongok pada smartphone pink yang baru beberapa hari lalu dibelinya itu. Sebuah panggilan masuk.
"Moshi-moshi….. Oh. Iya… Aku? Aku sedang bersama Ino, Ibu…kami sedang di mall Konoha….. iya. Kami sedang makan siang… oh begitu. Baiklah Ibu. Mungkin sekitar satu atau dua jam lagi kami sampai dirumah…baik Ibu." Sakura lalu mengakhiri pembicaraan singkat bersama Ibunya.
"Ada apa Forehead?" Ino menaikkan sebelah alisnya saat Sakura menutup ponselnya.
"Ibu menyuruh kita pulang, pig. Katanya ada makan malam yang harus kita datangi malam ini. Keluargaku dan keluargamu. Kata Ibu, kau disuruh ke rumah saja dan berangkat dari rumahku. Paman Inoichi dan Dei nii akan menyusul nanti malam." Jelasnya panjang lebar.
Ino kembali mengerutkan alisnya. Tidak biasanya mereka dilibatkan pada acara makan malam seperti ini. Ia sempat berpikir ada sesuatu yang tidak beres mungkin. Tapi ia segera menepis pikiran tersebut. Mungkin saja keluarga Sakura dan keluargaya akan memperkenalkan mereka pada para kolega bisnis atau keluarga lainnya.
\(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/\(^,^)/
" Bagaimana ini Shikamaru. Aku sudah lelah setiap hari harus kejar-kejaran dengan bodyguard keluargamu dan keluargaku." Keluh Naruto frustasi sambil mengacak-acak rambut pirangnya.
Shikamaru tak menjawab. Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Ia menidurkan diri pada sebuah ayunan gantung yang berada di sana. Sambil memandang langit seperti biasanya. Ia teringat beberapa waktu lalu Ayahnya menelpon menyuruhnya untuk menghadari acara perjodohan yang selama ini menjadi alasannya dan Naruto berlari pontang-panting kesana kemari untuk menghindarinya. Dan ancaman yang ditujukan pada Shikamaru dan Naruto tadi siang pun kembali terngiang di telinganya.
Yah. Dengan sangat cerdas, Ayahnya dan Ayah Naruto memutuskan untuk mengusir mereka dari rumah bila saja mereka tak menerima perjodohan kali ini. Dan ini akan sangat merepotkan bagi Shikamaru. Mengingat ia sangat benci pada hal-hal yang merepotkan tentunya. Setelah berpikir agak lama, ia akhirnya mengambil keputusan.
"Sepertinya kita harus mencoba menyetujui keinginan mereka sekali saja, Naruto. Aku tak ingin membuat Ibuku sedih. Mencoba tidak ada salahnya bukan. Bila mereka tidak cocok, kita bisa juga bekerja sama dengan mereka menggagalkan perjodohan ini bukan?" sebuah ide tiba-tiba terlintas dikepala Shikamaru.
Naruto bangkit dari kursi yang ia duduki dan berjalan kearah Shikamaru. Ia menarik napas panjang dan mengangguk. "Sepertinya itu bukan ide yang buruk" kataya lesu. Ia juga jadi teringat Ibunya yang mungkin saja bersedih karena sering membantahnya akhir-akhir ini. Meskipun Ibunya tak pernah nampak sedih dan rambut merahnya selalu berkibar-kibar bila sedang marah, tapi Naruto tahu, dalam hatinya, Kushina selalu besedih karena Naruto sering sekali membantahnya akhir-akhir ini.
Ia juga ingin menerima perjodohan ini saja, mengingat ia dan Hinata, pacar yang selama ini menjadi alasannya untuk menolak perjodohan ini meninggalkannya karena lebih memilih laki-laki lain dari pada dirinya. Dan buruknya lagi lelaki itu adalah Sasuke. Sahabatnya sendiri. Ia hanya bisa meringis pedih bila mengingat itu semua. Namun ia tak pernah menampakkan sakit hatinya pada Hinata maupun Sasuke. Ia tak ingin trelihat lemah. Ia adalah Naruto yang kuat. Yang selalu bisa mengatasi segala permasalahan dihidupnya. Ia harus tegar karena ia laki-laki.
Sementara ia berkutat dengan lukanya karena Hinata dan Sasuke, ia menoleh kearah Shikamaru. Ia jadi ingat, Shikamaru juga sedang patah hati. Benar-benar sebuah kebetulan yang aneh. Entah mengapa ia dan Shikamaru selalu saja bernasib hampir sama sejak kecil. Bahkan disaat-saat seperti ini. Naruto lalu tersenyum kecut. Permainan takdir benar-benar terasa menyakitkan baginya.
\(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/ \(^,^)/\(^,^)/
Sakura dan Ino turun dari sebuah mobil mewah milik keluarga Yamanaka yang menjemput mereka sore ini. Dengan wajah frustasi dan malas, mereka berjalan memasuki restoran mewah yang sudah dibooking oleh keluarga Yamanaka dan Haruno itu. Bagaimana tidak, saat mereka pulang tadi sore, orang tuanya mengabarkan bahwa ia dan Ino harus menemui jodoh yang telah dipilihkan oleh keluarga mereka. Dan rasanya seperti disambar petir saat itu juga. Baru saja ia merasakan indahnya hidup namun sekarang harus kembali menerima pil pahit bahwa mereka akan dijodohkan.
Mereka berdua jelas-jelas hendak menolak, namun mengingat penjelasan orang tua mereka bahwa bila mereka menolak perjodohan ini, maka perusahaan keluarga mereka akan bangkrut. Mereka butuh kucuran dana dan syaratnya adalah mereka harus bersedia menjodohkan anak masing-masing.
"Kau yakin Sakura?" Tanya Ino kesal saat mereka mulai memasuki restoran. Sebuah musik klasik yang tenang langsung menyapa pendengaran mereka. Benar-benar tipe restoran berkelas dan mahal.
"Tentu saja Pig. Mau bagaimana lagi." Jawab Sakura lesu. Ia ingin kabur dari acara ini sebenarnya. Namun meningat bagaimana ekspresi sedih orang tua mereka tadi, ia kembali harus memantapkan hatinya.
Seorang pelayan restoran nampak menghampiri mereka, setelah menyebutkan nomor pesanan ruangan yang mereka booking, pelayan tersebut mengantar mereka keruangan yang mereka tuju.
Rasa deg-deg an mulai merambati hati mereka saat pintu ruanga dIbuKakakan oleh sang pelayan restoran. Namun rasa itu segera hilang setelah mendapati hanya ada orang tua mereka yang duduk disana.
"Oh.. kalian sudah datang?" sambut Inoichi pada Ino dan Sakura saat mereka mulai memasuki ruangan. Mereka hanya tersenyum semanis yang mereka bisa. Wajah para orang tua nampak begitu sumringah.
"Selamat malam paman Jiraiya. Bibi Tsunade." Sapa Ino member salam saat ia hendak duduk. Entah mengapa kursi mewah dengan harga jutaan yen yang ia duduki saat ini lebih terasa seperti kursi panas menjelang eksekusi.
"Malam juga Ino. Kau nampak canti sekali malam ini" kata Jiraiya sambil tertawa terbahak bahak. Tsunade dan Sakura yang duduk disampingnya langsung bersamaan menyikut rusuk Jiraiya yang sukses mebuatnya merintih kesakitan.
"Ugghh. Dasar istri dan anak bertenaga monster." Gumamnya pelan. Namun tetap saja masih bisa didengar oleh Tsunade dan Sakura. Dan ia pun harus menghadapi kenyataan sebuah benjol 4 tingkat segera bersarang dikepalanya karena geplakan monster dari Sakura dan Tsunade, sang istri.
Sementara itu Ino dan Inoichi hanya bisa sweatdrop dengan kelakuan keluarga didepannya. Benar-benar keluarga yang aneh. Setelah keadaan dirasa kembali normal, dua keluarga tersebut nampak kembali berbincang. Ino dan Sakura hanya diam sambil sesekali tersenyum menanggapi guyonan yang dilontarkan para orang tua mereka.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu diketuk pelan. Sakura segera meneguk ludahnya. Penasaran akan bagaimana jodoh yang dipilihkan orangtuanya nanti. Ia melirik kearah Ino yang juga nampak tak kalah senewen darinya.
"Selamat malam. Maaf kami terlam…." Suara seorang wanita terdengar menyapa seluruh orang yang berda diruangan tersebut. Namun suaranya sempat terputus saat melihat seorang gadis berwarna soft pink yang duduk di sudut ruangan. "…bat"
"Bi… Bibi kushina?" ujar Sakura pelan dengan suara bergetar. Ia mematung. Sementara Kushina nampak menegang.
"Ada apa Sayang?" suara sesseorang yang lain terdengar. Seorang laki-laki berwajah tampan. Wajahnya memancarkan aura ketenangan. Wajah tampannya dibingkai rambut pirang dan ia memiliki warna mata sebiru langit sama dengan milik Ino.
"S..Sakura ?" semua orang langsung memandang bingung kearah Kushina dan Sakura.
Dan belum selesai keterkagetan mereka yang melihat sepertinya Sakura dan kushina saling mengenal, dua orang laki-laki lainnya masuk.
"Selamat malam. Maaf kami terlambat." Sapanya pada seluruh orang diruangan itu sambil menundukkan badan. "Ibu? Kenapa kau berdiri disini?" kata pemuda tersebut.
"Ada apa ini?" seorang pemuda bertampang malas masuk dan berdiri dibelakang keluarga Naruto namun wajahnya masih bisa dilihat dengan jelas oleh orang-orang yang duduk dikursi maka. Wajahnya langsung terperanjat begitu mendapati seorang gadis berambut pirang duduk diseberang sana.
"KAU?" kata Shikamaru dan Ino memekik bersamaaan.
Sekarang para mata tak lagi memandang Kushina dan Sakura. Melainkan pada Shikamaru dan Ino.
"Ck… mendokusai~" ujar Shikamaru menepuk jidatnya. Entah mengapa sebuah firasat buruk yang terasa merepotkan akan menyambangi hidupnya.
TBC-
nahhh... akhirnya selesai juga chapter dua ini. bagi yang bersedia silahkan review ya..
kritik, saran, flame dipersilahkan..
n terimakasih buat yang udah baca.
buat yang nunggu kelanjutannya mungkin dipublish seminggu lagi menjelang lebaran...
See u all *peluk readers satu satu*
