Title: Black Honey
Summary: "Dan sebagai penutup malam ini, kami persembahkan satu-satunya Black Honey!" seru si pria berambut merah. Tirai terbuka lalu dari belakang panggung muncul seorang pria berkulit pucat dalam balutan baju serba hitam yang sebentar lagi akan dia tanggalkan. Dan napas Aster tercekat.
Pairing: Rotten Egg
Rate: T untuk sedikit suggestive themes
Disclaimer: Bukan yang saia~!
Bacotan: Okeh, karena belajar fisika itu benar-benar menyakiti hati saia, saia lari dari kewajiban dan nulis chapter ini. Ahahah~
Enjoy~! :D
Kalau saja dia bisa, sudah dari dulu dia berteriak mengenai betapa dia membenci paparazzi. Tapi dia tidak bisa melakukan itu. Dia punya reputasi yang harus dia jaga. Lagipula, dia tidak yakin pihak agensi akan memaafkannya jika kali ini dia membuat skandal lagi (aneh, padahal agensi lain tampaknya tidak peduli jika artis mereka terlibat skandal).
Dulu dia pernah melempar kamera seorang paparazzi ke wajah orang itu sampai memar, dan hal itu membuatnya nyaris kehilangan kontrak. Dia pernah melempari tetangganya yang ribut dengan telur. Dia pernah mengecat tembok koridor apartemennya ketika mabuk (padahal dia masih di bawah umur waktu itu). Semua itu membuat wajahnya terpampang di halaman pertama kolom gosip selama beberapa minggu. Lalu setelah berapa tahun yang tenang, dia putus dengan Rosie Hudson dan wanita itu menyalahkannya; mengatakan bahwa dia selingkuh dan bersikap kasar pada wanita itu. Dia nyaris dikeluarkan dari agensi.
Sebenarnya, apa sih yang begitu menarik dari meliput kekurangan-kekurangan seorang artis? Sungguh, artis tidak ada bedanya dengan penduduk biasa.
Tapi apakah ada orang yang peduli dengan headline besar berjudul 'John Doe Ditemukan Di Sebuah Strip Club'? Tidak. Beda sekali jika headline itu berbunyi 'E. Aster Baskerville Dan Jack Frost Menikmati Penampilan Seorang Stripper'. Orang-orang pasti akan melempar keluar majalah atau koran apapun itu yang sedang mereka baca lalu berteriak seperti orang gila yang disiram air panas. Lalu mereka akan berteriak betapa mengerikannya berita pagi itu. Lalu akan ada surat fans yang dikirimkan padanya, yang paling-paling berisi; "Kenapa kau begitu rendah? Aster, kami kecewa!"
Apakah ada orang yang tertarik melihat foto seorang laki-laki membeli hot dog murahan di pinggir jalan? Tidak. Apa ada yang akan berteriak histeris ketika melihatnya atau Jack membeli hot dog murahan? Oh, sangat banyak.
Intinya?
Dia bisa mati kalau sampai ada paparazzi yang mengikutinya dan melihatnya memasuki sebuah klab malam bersama dengan Jack hanya karena Jack menyeretnya lagi malam itu.
"Honey, kau sudah siap? Hari ini kau menghibur dua orang spesial di Ruang Garnet."
Dia berbalik dan mengangguk pada wanita berambut hitam di belakangnya.
"Kau akan ditonton oleh Jack Frost dan Aster Baskerville," tambah wanita itu sambil menatapnya iri.
"Oh."
"Tidak bisakah kau terlihat sedikit tertarik? Kau tidak tahu siapa mereka?"
"Tidak."
"Ya, setidaknya kau sudah siap, kan? Klab ini klab mahal dan eksklusif. Tidak akan baik jika kau menjatuhkan reputasinya."
"Hm."
"Dan 'hm' itu aritnya kau sudah benar-benar siap, kan?"
Dia memandang sebentar wanita itu lalu mengangguk.
Sebenarnya dia ingin menggelengkan kepalanya dan terus bergeleng ketika ada yang bertanya apakah dia sudah siap atau belum. Dia sebenarnya tidak siap dan tidak akan pernah siap.
Dia tidak pernah siap untuk melangkah keluar dari ruang gantinya dengan pakaian minim. Dia tidak pernah siap untuk menerima perlakuan-perlakuan tidak sopan dari orang-orang yang dia hibur. Dia juga tidak pernah siap untuk berkali-kali kecewa karena dia tahu dia harus tetap melakukan hal yang dia benci.
"Lewat sini," ujar seorang pria berambut pirang sambil mengarahkan mereka berdua ke sebuah ruangan lain. Atau lebih tepatnya ke koridor dari ruangan-ruangan lain. Setidaknya sepuluh pintu berderet di koridor itu.
Pria itu lalu membukakan salah satu pintu dan menyuruh mereka masuk.
Di dalamnya adalah pria pucat yang kemarin. Dia memakai setelan rapi; sebuah kemeja kaku berwarna abu-abu, sebuah dasi hitam, dan celana panjang hitam, rambut hitamnya disisir rapi ke belakang, sebuah kacamata bertengger di hidungnya, dan ada buku di tangannya. "Kalian terlambat, tuan-tuan," desisnya sambil menutup bukunya dan meletakkannya ke meja.
Aster menelan ludahnya yang menggenang. Oh astaga, logat Inggris pria itu berhasil mengirimkan impuls litrik ke bawah sana.
Jack di sampingnya hanya menyengir lebar dan berkata, "Maaf, Pak Guru. Aster tidak bisa kubangunkan. Jadi salahnya aku terlambat. Apa tidak bisa dia saja yang kau hukum?"
"Jack!"
"Tuan Frost ada benarnya. Kurasa aku hanya harus menghukummu," ujar pria itu.
"Tunggu—" dia ingin protes tapi dia sudah di dorong ke sofa rendah yang empuk yang menempel dengan tembok. Pria di depannya mulai perlahan-lahan melepaskan kancing kemejanya sendiri perlahan sambil berjalan pelan dan duduk di pangkuannya, lalu membuka kancing kemeja Aster dengan cepat.
Dia harus membuat ini berhenti! Uh… namanya… uh… Black…
"Tunggu, Black Ho—"
"Oh, tidak sopan sekali, Tuan Baskerville. Kau tidak seharusnya memanggilku tanpa embel-embel, kau tahu?" pria pucat itu memotong kalimatnya dan mendecakkan lidahnya. "Tidak sopan… hmm… aku sangat suka pada anak-anak tidak sopan. Menghukum mereka sangat menyenangkan…" bisiknya di telinga Aster.
"Ugh…"
"Baiklah, untuk hukuman hari ini… kita mulai dengan pelajaran Biologi," desahnya pelan sambil mengusap dada Aster yang sudah agak terbuka. "Apa kau tahu bahwa cokelat adalah obat perangsang alami? Coba sebutkan makanan apa lagi yang merupakan perangsang alami, Tuan Baskerville."
"Huh?"
"Oh, kau benar-benar tidak sopan!" seru pria itu sambil tersenyum. "Kau tidak boleh bertanya balik pada gurumu ketika kau diberi pertanyaan," ujarnya sambil turun dari pangkuan Aster dan berjalan ke tiang di tengah ruangan. "Baiklah, melihat kau tidak begitu cerdas dalam soal-soal trivia, bagaimana kalau kita lewat saja dan kita mulai dengan… anggota gerak tubuh?"
Mata Aster terbelalak melihat celana panjang pria itu dibuka perlahan dan jatuh ke lantai, diikuti oleh kemeja abu-abunya. Tangan dan kakinya begitu panjang dan ramping dan jenjang dan mereka bergerak dengan indah sekali di tiang besi itu. Dan Aster ingin sekali menyentuhnya.
Tidak, tidak, tidak! Tidak! Dia tidak seharusnya merasa tergoda oleh pria di depannya ini! Dia harus mencari pengalih perhatian. Pilihannya jatuh pada Jack. Dia lalu memandang Jack yang sialnya hanya duduk tenang sambil menahan tawa melihat reaksinya.
"Apakah bab ini terlalu membosankan untukmu, Tuan Baskerville? Kau tampaknya tidak bisa fokus pada pelajaranku."
Aster kembali memandang si pria pucat yang tidak mau dipanggil dengan nama panggungnya. "Euh…" lidahnya kelu dan dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Bagaimana kalau kita pindah bab lagi saja? Hm… anatomi? Apakah cukup menarik?"
Dia lagi-lagi menelan ludahnya, apalagi ketika pria berlogat Inggris itu berjalan mendekatinya dan bersimpuh di antara kedua kakinya sambil meraih kancing celana panjangnya. "Nah, Tuan Baskerville… apa kau suka belajar tentang organ reproduksi manusia?"
Satu kalimat itu berhasil membuatnya gila.
"Tidak, terima kasih. Aku sudah cukup menikmati ini, aku pulang dulu," cerocos Aster sambil cepat-cepat berlari ke arah pintu.
Jack tertawa melihat temannya yang seperti kesetanan itu.
"A-apa aku melakukan kesalahan?" pria Inggris itu menatap Jack dengan takut. Suaranya langsung berubah.
Jack hanya tertawa. "Tidak. Kurasa justru kau melakukan terlalu banyak hal benar," jawab Jack sambil terus tertawa. "Wah, sepertinya aku harus sering-sering membawanya kesini," ujar Jack sambil menyerahkan uang pada si penari erotis.
"Tidak, kau sudah membayar pada—"
"Oh, ambil saja. Ini tip," balas Jack sambil berjalan keluar setelah dia menyimpan uangnya di meja.
Sungguh, menyiksa Aster seperti ini benar-benar menyenangkan.
"Asty~!" panggil Jack. Aster berjalan lebih cepat menuju mobilnya, tetapi Jack tetap bisa menangkapnya dan mbuatnya berhenti. "Kau mau meninggalkanku sendirian? Aku ga bawa mobil, Ast."
Dia menarik napas dan mebuangnya, berkali-kali. Lau dia menatap Jack dan mencengkram kedua bahu Jack. "Aku tidak tahu apa maksudmu, Jack. Tapi, sungguh, ini sudah keterlaluan," ujarnya, merasa sedikit terkejut karena dia tidak menyangka kalimatnya akan sekasar itu.
Jack memandangnya dengan mata birunya yang lebar. "Keterlaluan?" tanyanya sambil mulai menangis.
"Tidak, tidak! Jangan menangis! Argh! Jack, apa maksumu mebawaku ke tempat seperti ini? Dan dari semua orang, kenapa harus dia?"
Pemuda dengan rambut cokelat itu berhenti menangis dan menjawab dengan enteng, "Kau terlihat lebih menikmati pertunjukkannya dari yang lain, jadi aku minta dia untuk pertunjukkan pribadi." Dia diam lalu berpikir sedikit. "Dan menurutku, kau benar-benar butuh sedikit pengalih supaya kau bisa melupakan masalah Rosie."
"Aku tidak punya masalah, mate. Aku baik-baik saja."
Disini, Jack mengerlingkan matanya. "Oh, ya. Kau benar, kau baik-baik saja dan aku tidak tahu bahwa ada setidaknya dua belas botol scotch menghilang dari lemari rahasiamu."
"Kau apa? Bagaimana kau tahu? Lemari rahasia itu diberi nama seperti itu karena seharusnya rahasia…"
"Tidak, aku tidak tahu, kok. Sungguh. Aku juga ga tahu ada enam botol gin yang menghilang."
Rasanya Aster ingin berlari dan tidak pernah bertemu Jack lagi. "Baiklah, Jack. Aku menghargai… tidak juga sih, tapi, ya… terima kasih sudah mencoba. Hanya saja, ya… kau tahu ini tidak akan berhasil."
"Tidak berhasil? Apa aku harus menyewanya untuk datang ke apartemenmu saja?"
"Tidak, Jack. Ini sangat berhasil, aku bahkan tidak lagi mengingat wajah Rosie seperti apa," balasnya cepat. Ugh, dia bisa mati kalau pria itu sampai k apartemennya.
"Nah, apa aku tidak jenius, Asty?"
Dia ingin mencekik Jack sekarang juga. Sungguh.
Dia merogoh kantong celananya. Uh-oh. Kunci mobilnya. Apa jatuh di klab? Mungkin saja. Dan dia tidak akan sadar, dengan segala macam pemandangan-indah-yang-kalau-bisa-tidak-ingin-dia- ingat, bahwa kuncinya jatuh. Oh, ya ampun.
"Kau lama. Aku naik taksi saja, deh."
Benar. Dia ingin sekali mencekik Jack.
Baiklah, dia mungkin akan mencekik Jack setelah dia mengambil kunci mobilnya yang ketinggalan.
"Kau akan pulang sekarang, Honey?"
Suara itu mengagetkannya. Dia berbalik dan langsung menutupi tubuhnya yang masih belum ditutupi pakaian. "Ya, Reed. Tugasku hari ini hanya yang tadi, kan?"
Pria di ambang pintu mengangguk dan tetap menatapnya. "Kau bisa menjadi penutup acara lagi malam ini. Aku menikmati melihatmu menari."
"Tidak. Aku hanya dipanggil karena ada yang memesan." Tatapan dari pria di ambang pintu itu membuatnya risih dan dia ingin cepat-cepat berpakaian agar bisa pulang. "Kau bisa keluar dulu, Reed? Aku ingin ganti baju."
Reed tidak melakukan apa-apa selain diam di ambang pintu dan tetap memandangnya.
"Aku tidak bisa ganti baju kalau kau memandangiku seperti itu…"
"Apa bedanya dengan membiarkan ratusan penonton melihatmu menelanjangi dirimu sendiri?"
Karena mereka membayar dan itu memang tugasnya.
"Reed…"
"Baiklah, baiklah. Aku sadar keberadaanku tidak diinginkan."
Pria itu keluar dan meninggalkan ruangan tempat seorang Black Honey sekarang sedang mengganti baju. Oh, ya. Dia akan sangat menikmati teriakan pria pucat dengan logat Inggris ini ketika nanti dia mengejutkannya di gang belakang yang sepi.
End of Chapter 2
Tralalala~! Chappie 2~!
Euh, sexual innuendo-nya sudah cukup berat ya…
Mungkin dalam tiga chapter lagi, kita bisa gusur fic ini ke rate-M. X9
Minta ripiunya~! XD
Love and Honey
Shirasaka Konoe
