Disclaimer Fujimaki Tadatoshi

WARNING: OOC, AU, Typo

o

o

o

Taiga menghela napas bosan sambil memencet-mencet remote televisi. Sudah setengah jam dia mengganti-ganti saluran televisi tapi masih tidak menemukan acara yang bagus yang ingin ditontonnya. Dia melongokkan kepalanya dan melihat lelaki dengan tinggi rata-rata berambut biru yang sedang duduk di depan laptop-nya dan mengetik dengan cepat. Taiga menghela napas lagi dan mengambil smartphone-nya dari sakunya dan melihat pesan-pesan yang memenuhi media sosialnya. Kerugian menjadi orang terpopuler di sekolahnya, dia harus selalu meladeni penggemar-penggemarnya yang setiap hari selalu mengiriminya pesan, entah itu mengajaknya keluar, mengajaknya makan bersama, atau hanya ingin basa-basi pedekate ke Taiga dan Taiga harus membalasi mereka satu-satu karena dia ingin menjaga image sebagai primadona maji tenshi pujaan semua orang.

Ketika Taiga sudah sangat putus asa untuk mendapatkan uang dengan cepat dan mudah tanpa MLM, dia memikirkan lagi advis Alex untuk mencari orang yang mau memenuhi kebutuhannya secara cuma-cuma. Karena Taiga adalah remaja hits yang kekinian, dia tahu di mana tempat-tempat orang berduit sering hangout. Malam itu, dia mengenakan bajunya yang paling bagus dan mahal, memakai parfumnya yang paling wangi dan mahal, dan mendandani dirinya sendiri sehingga dia terlihat irresistible kemudian pergi ke sebuah klub mahal. Dia tidak bisa memesan taksi karena ayahnya benar-benar berhenti mengiriminya uang jadi dia minta diantarkan oleh salah satu teman sekelasnya yang sudah mempunyai mobil sendiri. Temannya itu sebenarnya ingin masuk dengan Taiga tapi dengan segera Kagami menolaknya karena Taiga harus terlihat sendirian agar ada yang "nyantol" dengannya. Tapi ternyata Taiga menjadi terlalu irresistible sampai dia mendapat tidak hanya satu, tapi sampai enam orang yang mau dengannya.

Korban(?) pertama adalah Kuroko Tetsuya, seorang pemuda unyu yang adalah novelis terkenal yang novel-novelnya selalu menjadi best seller. Bahkan Taiga yang bukan tipe orang yang suka menyentuh buku dalam jenis apapun, mengetahui Kuroko bahkan pernah membaca salah satu novelnya yang dia dapat sebagai hadiah ulang tahun dari salah satu temannya. Tapi tentu saja Kagami tidak sampai selesai membaca novel itu karena dia tidak suka berdiam di tempat dengan buku di tangannya dan novel best seller Kuroko sudah menjadi sarang laba-laba di apartemennya.

Taiga awalnya menganggap Kuroko agak-agak aneh karena dia tiba-tiba berbicara tentang cahaya dan bayangan dan dia ingin Taiga menjadi cahayanya. Taiga awalnya mengira Kuroko berbicara tentang fisika bab cermin dan cahaya makanya dia tidak mengerti maksudnya. Tapi ternyata karena Kuroko adalah penulis dan dia sering merangkai kata-kata puitis, itu adalah cara Kuroko mengungkapkan rasa sukanya kepada seseorang. Taiga tentu saja langsung menerima Kuroko karena satu novelnya Kuroko saja harganya sudah uang jajan Taiga sehari jadi bayangkan berapa royalti yang Kuroko dapatkan kalau novelnya laku keras dan menjadi best seller sampai diterjemahkan ke bahasa lain. Dan lebih dari satu novelnya yang menjadi best seller jadi Taiga bayangkan Kuroko mempunyai dompet yang tebal.

Setelah membalas semua pesan penggemarnya dan menunggu pesan-pesan lain yang pasti akan datang lagi, Taiga melihat iklan di televisi yang menampilkan smartphone terkemuka yang mengeluarkan tipe terbarunya.

"Seriously? Mereka sudah membuat yang baru?" gumam Taiga. Smartphone-nya yang sekarang adalah smartphone merek yang sama dengan yang ada di iklan sekarang sekarang tapi tipe sebelum tipe yang baru dikeluarkan. Dia masih ingat dia membelinya kurang lebih enam bulan yang lalu dan sekarang mereka sudah mengeluarkan tipe yang baru lagi. Karena dia mempunyai reputasi sebagai remaja kekinian, tentu saja Taiga harus segera mempunyai smartphone terbaru ini untuk menjaga reputasinya. Taiga kemudian melihat Kuroko yang masih betah di depan laptop-nya dan menghela napas. Setelah menjemput Taiga di sekolahnya tadi, Kuroko bilang kalau dia akan sibuk karena deadline novel terbarunya sebentar lagi dan dia sudah diteror oleh editornya untuk segera menyerahkan bab terakhir novelnya jadi dia daritadi mengabaikan Taiga.

Taiga kemudian tersenyum dan menghampiri Kuroko. Mungkin Kuroko akan membelikannya smartphone baru kalau Taiga meminta dengan manis. Setelah sampai di belakang Kuroko, Taiga langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Kuroko.

"Kuroko,"

"Ya, Kagami-kun?" jawab Kuroko tapi matanya masih fokus ke pekerjaan di depannya.

"Kau belum selesai?" tanya Taiga dan mengeratkan pelukannya di leher Kuroko.

"Maaf, belum." jawab Kuroko pendek.

"Hmm..." gumam Taiga dan mencoba melihat apa yang sedang dikerjakan Kuroko. "Hey Kuroko, maaf kalau nanti aku tidak bisa menjawab telepon atau chat-mu."

"Kenapa?"

"Umm... hapeku rusak." kata Taiga berbohong dan mencoba terdengar memelas.

"Oh, kenapa?" tanya Kuroko dan berhenti mengetik untuk fokus ke Taiga.

"Tidak tahu..." jawab Taiga dan meletakkan kepalanya di pundak Kuroko. "Um... tapi tadi aku melihat iklan smartphone baru dan itu sangat bagus."

"Oh," balas Kuroko dan mencium tangan Taiga. "Besok aku tidak ada kerjaan jadi mungkin kita bisa membelinya."

"Benarkah?"

"Ya."

"Terima kasih, Kuroko." seru Taiga gembira dan mencium pipi Kuroko.

"Sama-sama," balas Kuroko sambil tersenyum. "Tapi Kagami-kun harus menginap malam ini."

"Oke..." Taiga menjawab pelan. Semoga Kuroko tidak berbuat yang macam-macam karena besok dia masih harus sekolah.

o

o

o

Taiga langsung berdiri dari bangkunya ketika bel pulang sekolah berdering nyaring. Dia kemudian bergegas keluar kelasnya dan mengambil smartphone barunya untuk menghubungi seseorang.

"Taiga-chan," Taiga tidak jadi menelepon ketika ada yang memanggil namanya setelah dia sampai di gerbang depan sekolahnya. Ternyata itu adalah kakak kelasnya yang mulai Taiga masuk sebagai murid baru sampai sekarang kakak kelas itu sudah bingung memilih pelajaran untuk ujian nasional sebentar lagi, dia masih tetap bersikukuh mengejar-ngejar Taiga. Taiga mengernyit mendengar panggilan sok akrab kakak kelasnya itu tapi dia tetap memasang senyum malaikat.

"Ada apa, Senpai?"

"Mau nggak keluar? Aku punya kupon buat makan di Purple jadi Taiga-chan bisa makan sepuasnya." tawar senpai-nya itu dan merangkul pundak Taiga.

Najis, makan masih pakai kupon, nggak usah sok ngajakin keluar kalau nggak punya duit, Taiga nyinyir di dalam hati tapi masih mempertahankan senyumannya. "Maaf Senpai, tapi aku sudah punya janji sekarang."

"Oh oke, lain kali kalau begitu," senpai-nya itu kemudian mencium pipi Taiga dan melepaskan pelukannya. "Sampai bertemu besok, Taiga-chan."

Taiga mengernyit lagi dan memegang pipinya yang seenaknya dicium sembarangan. Dia lalu mencoba menghubungi lagi korban(?) keduanya agar segera dijemput agar dia tidak digoda-goda lagi.

Setelah beberapa lama, akhirnya mobil hitam BMW berhenti di depan Taiga. Taiga masih cemberut ketika seorang lelaki tinggi dengan rambut pirang dan berkacamata hitam menghampiri Taiga.

"Kagamicchi~" sapa orang itu sambil cengengesan.

"Kau telat!" balas Taiga dan menyilangkan tangannya di depan dada.

"Maafkan aku, ssu, aku tiba-tiba ada kerjaan mendadak tadi." katanya dan memegang tangan Taiga.

Taiga mendengus jengkel kemudian memasuki mobil.

Oom-oom(?) kedua adalah seorang model dan aktor papan atas yang sangat terkenal: Kise Ryouta. Dan karena Kise adalah public figure yang super-super-super terkenal, makanya kalau keluar dengan Kagami, Kise harus menggunakan penyamaran agar tidak ada fangirls-nya yang mengenalinya dan mengerubunginya atau yang paling parah menyerang Kagami kalau sampai mereka tahu idol mereka sudah tidak single dan sudah bukan punya mereka lagi. Tapi meskipun begitu, Kise itu adalah orang paling alay yang pernah Taiga kenal. Dan kalau Kise tidak tampan dan tidak mempunyai uang banyak, mungkin Taiga tidak akan mau dengannya. Waktu awal-awalan, Kise sudah sering memberi pesan ke Taiga dengan kata-kata alay seperti "gi ngaps?" "kagamicchi kawaii (/)/~" "dah maem lum?" dan foto-foto di media sosialnya mirip dengan foto-foto remaja ABG yang masih labil.

"Kagamicchi habis ini mau ke mana, ssu?" tanya Kise setelah mereka sampai di restoran bintang lima untuk makan siang sebelum mereka melanjutkan kencan mereka.

"Um... aku sudah kehabisan baju yang bisa aku pakai," jawab Taiga. Meskipun bajunya sudah memenuhi lemari bajunya, Taiga tidak mungkin sampai memakai baju yang sama dua kali untuk menunjukkan kalau dia punya uang banyak dan baju yang berganti-ganti.

"Oh ayo membelikanmu baju baru kalau begitu." kata Kise dengan gembira.

Taiga mengangguk dan melanjutkan makan siangnya. Kalau Kise yang membelikannya baju, maka jaminan baju-bajunya akan yang branded dengan kualitas terbaik. Dan karena mereka kurang lebih mempunyai ukuran yang sama, Kise juga sering memberinya baju-baju dari perancang terkenal yang didapatkannya ketika dia menjadi model untuk brand-brand tersebut.

Beberapa saat kemudian, Taiga sedang berada di ruang ganti di salah satu clothing store langganan Kise dan sedang mencoba blazer yang akan dibelinya. Hmm... dia terlihat bagus juga memakai blazer berwarna biru ini. Ketika Taiga sedang mengangumi dirinya sendiri di kaca setengah badan di depannya, tiba-tiba Kise ikut memasuki ruang gantinya.

"Kise!" Taiga langsung berbalik untuk melihat Kise.

"Kagamicchi, kau terlihat bagus, ssu." pekik Kise dan mendekap Taiga dengan erat.

"K-Kise, aku tidak bisa bernapas!" kata Taiga dan mencoba melepaskan dirinya dari Kise dengan pipi yang memerah.

"Oh maaf," Kise lalu melepaskan Taiga tapi lengannya masih memegangi tubuh Taiga.

"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Taiga.

"Aku juga ingin mencoba baju, ssu."

"Kenapa kau mencoba di sini? Memang tidak ada changing room lainnya?"

"Aku ingin berganti denganmu." jawab Kise dan menyeringai kemudian mencium Taiga. Mungkin tidak banyak yang tahu dengan sisi "gelap" Kise yang seperti ini. Kise yang sangat dominan dan ingin selalu mendapatkan yang dia inginkan, bukan Kise yang bersinar-sinar seperti yang sering dia tunjukkan di depan kamera.

"K-Kise..." Taiga mencoba untuk menghentikan ciuman Kise karena sekarang mereka sedang berada di ruang publik dan siapa saja bisa memergoki mereka. Tapi bukannya berhenti, Kise malah semakin mendorong Taiga dengan tubuhnya dan menciumnya lebih dalam. Kise menekan kejantanan Taiga dengan lututnya yang membuat Taiga membuka mulutnya untuk mendesah. Ketika Taiga membuka mulutnya, itu memberikan Kise kesempatan untuk memasukkan lidahnya ke mulut Taiga dan mengeksplor mulut remaja berambut merah itu. Taiga menangkup wajah Kise dan menelengkan kepalanya untuk mencium Kise lebih dalam.

"Ahhn..." Taiga mendesah dan menelusupkan jari-jarinya ke helaian rambut kuning Kise yang lembut.

TOK TOK TOK

Mereka kemudian segera memisahkan diri ketika mendengar suara pintu ruang ganti ada yang mengetuk. Taiga membelalakkan matanya dengan pipi yang memerah sementara Kise mendekati pintu.

"Maaf, ada orangnya." kata Kise tanpa membuka pintu.

"Maaf Tuan, tapi Tuan sudah di dalam lama sekali, apa Tuan tidak apa-apa?" ternyata seorang pegawai wanita yang mengetuk pintu dan menginterupsi kegiatan mereka sebelumnya.

"Uh... ya, sebentar lagi aku akan keluar."

Kise lalu menatap Taiga dan tersenyum memperlihatkan gigi-gigi putihnya. "Sepertinya kita harus melanjutkan di tempat lain Kagamicchi~"

"Siapa yang mau melanjutkan!" seru Taiga masih dengan wajahnya yang memerah dan keluar dengan menghentakkan kakinya meninggalkan Kise.

"Kagamicchi, tunggu aku, ssu!"

o

o

o

Taiga mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja secara bosan. Sudah sejak sejam yang lalu dia mencoba mengerjakan pekerjaan rumah kimia yang diberikan gurunya tadi. Tapi dari lima soal yang diberikan, dia baru bisa mengerjakan satu soal meskipun dia sudah menggunakan pensil keberuntungan Rolling Pencil yang kata orangnya dapat memberikan keberuntungan pada siapapun yang menggunakannya. Dan satu soal itu juga dikerjakan oleh lelaki yang sedang berhubungan dengannya yang sekarang sedang duduk di sofa dengan membaca sesuatu. Taiga melihat lelaki berkacamata yang dari tadi masih tetap tenang di tempatnya membaca buku. Taiga menghela napas dan meletakkan kepalanya ke meja dan menindihi buku tulisnya.

Midorima Shintarou, seorang dokter muda di rumah sakit swasta paling terkenal di kota mereka. Taiga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai berada di situasi sekarang yaitu menjalin hubungan dengan Midorima, orang yang sangat kaku dan tidak asyik menurut Taiga. Tapi dibalik sifat bawaan dari lahirnya yang tsundere, ternyata Midorima bisa sangat romantis dan sangat mengayomi(?). Hanya seminggu setelah mereka memutuskan untuk menjalani kehidupan baru bersama, Midorima sudah memberikan surprise ke Taiga dengan mengajaknya liburan akhir minggu bersama di daerah sejuk perbukitan meskipun Midorima sangat sibuk dengan pekerjaannya.

"Midorima,"

"Hn." hanya gumaman yang diberikan Midorima untuk menjawab panggilan Taiga dan dia masih tetap membaca buku di tangannya.

"Aku tidak bisa menjawab soal ini," kata Taiga.

"Hm? Coba lihat," Midorima menjulurkan tangannya sehingga Taiga bisa memberikan bukunya ke Midorima. Midorima melihat buku Taiga sebentar sebelum kemudian memberikan lagi ke Taiga.

"Caranya sama dengan yang nomor satu, coba dulu." kata Midorima lalu kembali membaca bukunya.

Taiga mengangguk dan mencoba memfokuskan pikirannya ke angka-angka dan rumus-rumus di depan matanya. Tapi setelah lima belas menit, Taiga kembali menyerah dan menutup bukunya. Dia kemudian menghela napas dan membuka smartphone-nya untuk membuat status di media sosialnya biar kekinian. Tak berapa lama, sudah banyak yang mengomentari dan menyukai statusnya. Ada satu komentar yang menarik perhatian Taiga, dari salah satu sumber uangnya(?) yang mengajak Taiga untuk ketemuan dan tentu saja Taiga langsung mengiyakan ajakan tersebut.

Karena bosan dan sudah malas mengerjakan pekerjaan rumahnya, Taiga memilih untuk menyudahi belajarnya dan akan "membujuk" Midorima agar dia mau mengerjakan PR-nya. Taiga yang sebelumnya duduk di bawah berdiri kemudian menghampiri Midorima yang duduk dengan menyelonjorkan kakinya yang panjang. Taiga kemudian mengambil buku yang dibaca Midorima dan meletakkannya di atas meja bergabung dengan buku kimianya.

"Hey," Midorima protes tapi langsung menutup mulutnya ketika Taiga langsung duduk di pangkuannya.

"Midorima, aku tidak bisa mengerjakan kimianya," kata Taiga manis manja dan memelukkan kedua kakinya ke pinggang Midorima.

"Bukankah kau sudah diajari di sekolah?" tanya Midorima yang secara refleks memegang pinggang Taiga.

"Tapi aku masih tidak mengerti..." jawab Taiga dan tangannya bermain-main dengan kerah kemeja yang dikenakan Midorima. "Mungkin kalau kau yang mengajariku, aku bisa mengerjakannya."

"Oke, aku akan mengajarimu, nanodayo." Midorima berkata.

"Hmm... tapi sekarang aku masih capek," balas Taiga dan dengan sengaja menggesekan bokongnya ke tonjolan di celana Midorima dan menempelkan bibirnya ke bibir lelaki berambut hijau itu. "Bagaimana kalau kita istirahat dulu di kamar?"

Taiga menarik napas kaget ketika tiba-tiba Midorima berdiri yang membuat Taiga harus mengeratkan pelukan tangannya di leher Midorima dan kakinya di pinggang Midorima agar dia tidak jatuh.

"Aku akan mengajarimu nanti." kata Midorima sebelum mulutnya menutupi mulut Taiga.

Dan Taiga yakin kalau nilai kimianya bisa aman.

o

o

o

A/N: chapter dua yay~

Chapter selanjutnya bakan dilanjutin sama sisa pelangi(?) yang belum

Maaf ya kalau misalnya ada yang nge-ship KuroKa kalau misalnya adegan sama Kuroko-nya nggak terlalu anu(?) sama kayak yang lain, soalnya aku ngelihat hubungannya mereka itu kayak saudara, jadi mau bikin yang romantis-romantis gitu rasanya ada yang kurang XD

Silakan komen kalau berkenan :)