Disclaimer :

Naruto [Masashi Kishimoto] and High School DxD [Ichie Ishibumi]

Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang saya publish.

.

Queen of My King

Fantasy, Supernatural, Adventure, Romance, Friendship, Horror, Family and etc.

Rate : M

Type : Crossover

.

Warning! : OOC, OC, Typo(s), Miss-Type, AU, AR, AT, Lime, and many more!

.

Chapter 2 Penyamaran Iblis

.

.

Pagi yang cerah telah tiba. Sang mentari mulai beranjak ke singgasananya di atas langit dunia. Ramai sekali terdengar suara burung bersahutan, menandakan jika hari ini begitu ceria. Alam pun bernyanyi, bersenandung melalui dedauanan yang menyambut hangat sang angin. Seperti Sasuke yang telah bersiap menyambut sesuatu yang akan terjadi pada dirinya.

Dengan memakai jubah hitamnya, ia kemudian keluar dari penginapan. Meneruskan perjalanan—menunggangi Pegasus menuju pintu masuk hutan terlarang itu.

Tak ada yang aneh dan mencurigakan di sepanjang perjalanan Sasuke kala menuju ke arah pintu masuk hutan terlarang. Hingga dirinya tiba, kemudian melihat sebuah jimat yang banyak tergantung di atas pintu masuk hutan itu. Yang tergoyangkan oleh angin, yang berhembus dengan kencang.

Bunyi yang dihasilkan dari jimat tersebut kala tersapu angin seakan melakukan penyambutatan atas kedatangan ksatria yang satu ini. Dan juga ... hal ini merupakan pertanda untuk sang penunggu hutan agar segera mengadakan pesta penyambutan bagi tumbal selanjutnya.

"Begitu gelap hutan ini."

Sasuke segera mengaktifkan Sharingan-nya untuk berjaga-jaga jika ada serangan mendadak yang menuju kearahnya. Ia kemudian bersama Pegasus menyusuri jalan setapak yang ada di hutan tersebut.

Detik demi detik, menit demi menit yang dilalui Sasuke terasa biasa-biasa saja. Tak ada yang aneh. Namun tak lama berselang dari itu, tiba-tiba Pegasus meringkik dan tidak mau berjalan lagi.

"Pegasus! Tenangkan dirimu!"

Sasuke berusaha mengendalikan Pegasus, kuda putihnya yang tampak kehilangan kendali.

"Pegasus—"

Dan entah mengapa, Pegasus kemudian berlari cepat menuju ke suatu tempat. Sedang Sasuke tampak bersiaga dari hal-hal yang tidak diinginkan.

.

.

.

Beberapa menit kemudian, Pegasus berhenti di depan sebuah goa. Goa tersebut hampir tidak terlihat karena keadaan hutan yang sulit tertembus cahaya matahari. Dengan terus berjaga, Sasuke lalu menuruni kudanya sambil melihat keadaan sekitar.

"Pegasus, aku tahu jika ada sesuatu di dalam goa ini. Kau tunggulah di sini sampai aku keluar."

Sasuke berpesan kepada kudanya sebelum ia memasuki goa tersebut.

Pegasus sengaja tidak diikat oleh Sasuke agar jika terjadi sesuatu kuda itu dapat menyelamatkan diri. Mereka sudah saling mempercayai satu sama lain dan saling menjaga. Walaupun kenyataannya, hubungan di antara mereka hanyalah sebatas hubungan seekor kuda dengan majikannya.

Tapi tidak begitu bagi Sasuke. Ia memperlakukan Pegasus lebih dari itu. Pegasus bagi dirinya adalah seorang teman yang sangat baik baginya. Yang selalu bersedia—siap kapan saja untuk menemani Sasuke berkelana.

CLIK

Sasuke kemudian menghidupkan sebatang obor kecil untuk menemaninya memasuki goa itu. Lambat laun, semakin ia berjalan masuk ke dalam, perlahan-lahan semakin terdengar rintihan seorang wanita minta tolong.

Dengan mengendap-endap Sasuke terus masuk ke dalam goa tersebut. Tapi alangkah terkejutnya dirinya kala melihat seorang wanita berlumuran darah sedang terikat di sebuah tiang.

"To-tolong ..."

Wanita itu berambut merah panjang, banyak darah yang keluar dari mulutnya. Tubuhnya terlihat hanya terbalut yukata berwarna putih yang banyak bercak darah.

Melihat hal itu, tanpa merasa curiga sama sekali Sasuke segera menolong wanita tersebut.

"Nona!"

Ia bergerak cepat ke arah wanita itu lalu segera melepaskan semua ikatan yang membelenggu sang wanita.

"Bertahanlah."

Sasuke berusaha dengan cepat melepas semua ikatan pada wanita itu. Dan kemudian membawanya keluar dari dalam goa. Tentunya dengan Sharinggan yang masih aktif.

.

.

.

Sesampainya di luar goa. Sasuke segera mendudukkan wanita itu—menyandarkan pada tubuhnya. Ia kemudian memberikan air minumnya dan juga sepotong roti kepada wanita yang baru saja ia tolong.

"Minumlah, Nona. Dan makanlah sepotong roti ini. Aku tahu kau pasti lapar."

Sesungguhnya yang ditolong Sasuke bukanlah seorang wanita biasa. Dia adalah penunggu hutan tersebut yang sedang mencari tumbal selanjutnya. Dia adalah Rias, seekor Iblis yang melarikan diri dari neraka. Namun karena sihir yang Rias miliki, Sharinggan Sasuke tidak mampu menembus sihir tersebut. Sehingga Rias terlihat seperti wanita biasa pada umumnya.

"Terima kasih."

Rias tersenyum tipis lalu segera meneguk air minum yang Sasuke berikan dan juga memakan sepotong roti dengan lahapnya. Padahal sesungguhnya, Rias hanya meminum darah manusia dan memakan jasad manusia. Namun kali ini ia harus bersikap lain karena ia tengah merasakan kekuatan besar yang berada di hadapannya.

Akhirnya ... yang kutunggu datang.

Rias gembira bukan main saat merasakan cakra yang ada pada diri Sasuke. Yang mana dirinya mempunyai rencana lain untuk ksatria yang satu ini.

"Tuan, terima kasih."

Ia terus bersandiwara di depan Sasuke hingga sang pemilik Ameterasu ini merasa iba.

"Nona, bagaimana Anda bisa terikat di dalam goa ini?" tanya Sasuke sambil membangunkan Rias dari sandaran tubuhnya.

Riaspun duduk normal di hadapan Sasuke. Ia kemudian menceritakan skenario yang telah ia lakukan berulang kali kepada setiap ksatria yang datang—memasuki hutan terlarang ini.

"Aku berniat mencari tumbuh-tumbuhan di hutan ini untuk mengobati sakit yang aku rasakan. Namun tiba-tiba ada seseorang yang menyekapku, lalu memperkosaku. Dan meninggalkanku begitu saja di dalam doa dengan terikat."

Rias menceritakan hal yang masuk akal kepada Sasuke.

Karena merasa semuanya normal dan baik-baik saja, Sasuke lalu menon-aktifkan Sharinggannya. Dan hal itu segera dimanfaatkan Rias untuk menambah kekuatan sihirnya dalam mempengaruhi pikiran Sasuke.

"Aku turut berduka. Maaf jika pertanyaanku melukaimu. Lalu apa kau masih ingat di mana rumahmu, Nona?" tanya Sasuke lagi.

"Ak-aku ..."

Sejenak Rias terdiam, ia bergumam dalam hatinya sendiri.

Bagaimana mungkin pria ini sangat mudah untuk dibodohi. Padahal dia mempunyai cakra yang begitu besar. Siapa sebenarnya pria ini?

Entah mengapa Rias malah menjadi khawatir dengan kebaikkan Sasuke. Namun karena ambisinya untuk mendapatkan sesuatu dari diri Sasuke, Rias memutuskan untuk meneruskan rencananya.

"Aku sedikit ingat di mana rumahku, Tuan. Tapi aku takut jika harus pulang sendirian. Maukah Anda mengantarkanku pulang?"

Rias membuat perangkap untuk Sasuke agar mengantarkannya pulang ke sebuah tempat yang berada di dimensi lain. Tempat buatan dari sihir Rias sendiri.

Sasuke masih dapat berpikir dengan jernih kala ini. Namun karena ia sudah tidak mengaktifkan Sharinggannya lagi, sihir Rias itu dengan mudah mengelabui pikiran Sasuke. Sehingga Sasuke termakan oleh sandiwara yang Rias buat. Sedang di dalam pikirannya membenarkan jika yang tengah berada di hadapannya saat ini adalah benar-benar seorang manusia.

"Tuan, tolong aku. Aku sangat takut ..."

Permohonan dari Rias itu membuat Sasuke iba, terlebih Rias masih menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi pikiran Sasuke. Dan akhirnya, mau tak mau Sasuke terperangkap dalam bujuk—rayu Rias. Si iblis yang kala ini sedang melakukan penyamaran di hadapan Sasuke.

"Baiklah, Nona. Di mana rumahmu?" tanya Sasuke yang belum menyadari siapa yang berada di hadapannya kali ini.

"Rumahku sedikit jauh dari sini, Tuan. Namun aku masih ingat jalannya," jawab Rias pura-pura polos.

"Baiklah, aku akan mengantarkanmu. Pegasus!"

Sasuke kemudian memanggil Pegasus untuk mendekat kepadanya. Pegasus terlihat seperti enggan menuruti kemauan Sasuke dan Rias pun menyadari hal itu. Hanya dengan satu dentingan jari, Pegasus ikut terpengaruh sihir Rias. Ia kemudian segera mendekat ke arah Sasuke dan juga Rias.

Sasuke kemudian membantu Rias menaiki kudanya, setelahnya ia duduk di belakang Rias untuk menjaga wanita itu. Sehingga Rias dapat bersandar di badan Sasuke.

Kena, Kau!

Rias tersenyum tipis kala berhasil membuat Sasuke masuk ke dalam perangkapnya. Mereka kemudian menuju ke suatu tempat yang telah dipersiapkan oleh Rias. Sebuah tempat yang menjadi awal masalah besar terjadi.

.

.

.

Sementara itu...

"Heehhhh?"

Naruto terkagum kala melihat Akeno membuatkan sarapan untuk dirinya. Harum masakan itu begitu lezat dan menggoda selera.

Ya, itu benar. Aku tidak menyangka jika Akeno sangat pintar dalam memasak. Dalam waktu yang tak lama, dia mampu menghidangkan makanan yang banyak dan juga lezat untukku. Benar-benar sosok istri idaman.

"Akeno, bagaimana bisa?"

Aku duduk di depan meja makan lalu menoleh ke arahnya yang sedang membawakan semangkuk sup untukku. Mencoba bertanya, bagaimana bisa dia melakukan semua ini.

"Makanlah selagi hangat."

Ucapannya itu membuat diriku bak seorang raja yang diperhatikan oleh sang permainsuri. Siapa yang tak bahagia jika memakan masakan yang lezat ditemani seorang wanita yang cantik jelita, seksi dan menggoda.

Ah, mungkin hanya aku saja yang mengalaminya.

Aku pun kemudian mencicipi masakan itu satu persatu. Dan bukan main enaknya masakan buatan Akeno ini hingga aku cepat-cepat memakannya dengan lahap.

"Pelan-pelan, nanti tersedak."

Akeno kemudian duduk di dekatku—menemaniku menyantap masakan yang telah ia buat.

Sejujurnya, ada hal aneh yang kurasa saat aku menyantap masakannya. Akeno terlihat sama sekali tidak mempunyai hasrat untuk ikut mencicipi masakan yang telah dia hidangkan untukku.

Namun karena rasa lapar yang menerjang perutku, aku tidak mempedulikannya. Aku terus saja berupaya menghabiskan semua makanan yang telah dia masak untukku. Hingga akupun kekenyangan dan sebuah suara sendawa besar terdengar mengagetkan Akeno.

"Astaga, Naruto!"

Dia tampak terkejut kala mendengar suara sendawaku. Aku sendiri tertawa sambil memperhatikan ekspresi wajahnya yang sangat lucu.

"Maaf-maaf."

Karena merasa tak pantas, aku pun segera meminta maaf kepadanya akan sikapku yang tidak sopan ini.

"Baiklah, Akeno. Kau sudah berjanji bukan untuk menceritakan jati dirimu yang sebenarnya kepadaku. Maka ceritakanlah," ucapku kepada seorang wanita cantik yang duduk di dekatku ini.

Akeno kemudian menarik napasnya lalu segera membereskan sisa makanan dan juga piring kotor—bekas makanku. Ia membawanya ke dapur, memisahkannya lalu segera mencuci piring kotor tersebut.

Aneh bukan?

Akeno dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya ini.

"Akeno, katakan saja yang sebenarnya kepadaku. Dan tenanglah, aku akan menjaga dan melindungimu selama kau masih bersamaku di sini."

Entah apa yang ada di benakku. Kata-kata itu dengan mudah terlontar dari bibirku ini. Tanpa berpikir terlebih dahulu. Mungkin karena aku tengah merasa kekenyangan, sehingga ucapanku terdengar seperti menggampangkan sesuatu. Dan hal itu tidak disukai oleh Akeno. Tersirat dari wajahnya yang seperti ilfeel kepadaku.

"Naruto, apa kita masih dapat berteman setelah aku menceritakan semuanya kepadamu?"

"Eehhh, mengapa kau berkata demikian, Akeno?""

Aku sedikit heran dengan kata-kata yang dilontarkan oleh dirinya. Sepertinya dia belum dapat mempercayaiku seutuhnya.

Akeno kemudian kembali duduk di hadapanku setelah menyelesaikan pekerjaannya. Ia kemudian mulai menceritakan jati dirinya dan alasan apa yang membuatnya sampai di desa Yin ini.

.

.

.

"Naruto, hal apa yang pertama kali terlintas saat melihat diriku?"

Akeno mengawali pembicaraannya dengan sebuah pertanyaan yang seperti memancing pikiranku tentangnya.

"Em, yang kulihat pertama kali. Kau bukanlah seorang manusia melainkan bidadari. Karena sebelum pertemuan kita, aku melihat seberkas cahaya melaju begitu cepat. Terlebih saat kita berjalan pulang dan kau menolak untuk menaiki kudaku. Dan lebih memilih untuk terbang. Aku benar-benar bertambah yakin jika kau bukanlah seorang manusia. Apa benar begitu?" tanyaku tanpa banyak basa-basi.

Akeno mengangguk—mengiyakan ucapanku. Aku yang masih kekeyangan hanya dapat berusaha untuk menjawab setiap pertanyaan yang dia lontarkan kepadaku. Dan juga mendengarkan cerita dari dirinya dengan baik.

"Aku ... aku adalah seseorang yang diutus untuk menangkap seekor iblis yang melarikan diri dari neraka."

Akeno kemudian mengungkapkan siapa dirinya.

"A-ap-apa?!"

Tiba-tiba aku terkejut kala mendengar perkataannya. Yang entah mengapa membuat bulu kudukku merinding seketika saat dirinya mengucapkan kata iblis dan neraka.

"Hu-m, itu benar."

"Lalu ... kau ini ... malaikat atau bidadari?" tanyaku mulai serius.

"Kau bisa ... menyebutku dengan peri," jawabnya sambil terkekeh.

Rupanya Akeno menyadari ketakutan yang ada di dalam diriku. Sehingga dia segera berusaha untuk menetralkannya dengan tawa manis yang terlihat dari wajah cantiknya itu.

"Ah, tidak mungkin."

Aku menekuk wajahku. Merasa sedikit kesal karena Akeno seolah-olah menertawai kebodohanku ini.

Menyebalkan!

Aku menggerutu, lebih tepatnya pura-pura ngambek manja kepadanya. Berharap dia akan menyentuhku. Sungguh aku ingin sekali bersentuhan dengannya.

"Kalau begitu ... apa tugas utamamu sekarang, Akeno?" tanyaku lagi.

Akeno kemudian terdiam sejenak, seakan-akan dia ingin memperlihatkan sesuatu. Dan tak lama sebuah fatamorgana kulihat dari matanya.

Di gambaran itu, dijelaskan akan tugas Akeno untuk membawa kembali iblis yang melarikan diri dari neraka.

Akupun sejenak berpikir. Jika Akeno yang diperintahkan untuk membawa iblis itu kembali, maka dapat dipastikan kekuatan yang dimiliki oleh Akeno lebih besar dari kekuatan iblis itu. Dan rumor tentang batu permata berwarna merah delima, tentunya bukan menjadi hal penting jika Akeno sudah turun tangan dalam mengobati penyakit yang diderita para penduduk desa.

"Akeno."

Aku kemudian memanggilnya, berharap dia akan membantuku kali ini. Ia pun segera menyudahi pemandangan fatamorgana yang dia tunjukkan kepadaku.

"Apa kau tahu akan wabah penyakit yang diderita penduduk negeri air dan negeri api?" tanyaku serius.

"Em, ya. Aku sedikit mengetahui akan hal itu," jawabnya tanggap.

"Akeno, tetua desa menceritakan kepada kami jika hanya ada satu jalan keluar untuk menyelamatkan para penduduk dari wabah penyakit misterius ini. Yaitu dengan mendapatkan batu permata yang berwarna merah delima. Apa kau tahu tentang kekuatan batu itu?" tanyaku lagi.

Akeno kemudian beranjak berdiri dari duduknya, menuju pintu belakang rumah yang berada di dekat kami. Dia pun kemudian berdiri di teras belakang rumahku sambil menatap langit yang biru.

"Naruto ... sesungguhnya penyakit yang diderita para penduduk desa merupakan suatu sihir yang sengaja dibuat oleh Red dan Black Devil. Namun aku tidak mempunyai wewenang untuk hal ini. Karena tugasku hanya menangkap salah satu dari iblis tersebut."

Akeno menuturkan.

"Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan kepadaku. Tidak lebih, tidak kurang. Namun jika kau bertanya tentang kekuatan batu permata itu, aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu."

Akeno menoleh ke arahku yang masih duduk. Akupun kemudian ikut beranjak berdiri lalu berjalan mendekati Akeno.

"Akeno ... jika hal ini sulit bagimu, maka jangan kau melakukannya," tuturku yang tidak ingin memberatkan Akeno.

Kulihat kemudian senyuman manis yang tersirat dari wajah cantiknya. Ia kemudian menunjukkan sesuatu kepadaku. Sebuah batu permata yang berwarna putih, seputih salju.

"Aku mempunyai batu ini untuk digabungkan dengan batu permata merah delima itu. Penggabungan dari kedua batu ini akan menghasilkan obat untuk berbagai macam—jenis penyakit. Namun tentunya batu permata merah delima itu hanya dimiliki oleh Red Devil. Sedang aku tidak memilikinya. Maka ... jika kau ingin menyelamatkan penduduk desa dari wabah ini, kau harus mendapatkan batu pertama merah delima itu terlebih dahulu sesuai dengan pesan tetua desa. Namun aku yakin, seseorang akan berhasil membawa batu tersebut."

Akeno seolah-olah mengetahui apa yang akan terjadi nantinya. Ia pun tersenyum sambil menatap langit. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini. Namun aku percaya jika dia tidak akan berbohong padaku.

Semoga kau berhasil, Sasuke.

Batinku berdoa untuk Sasuke. Karena aku yakin hanya dirinyalah yang mampu mendapatkan batu itu. Terlebih Sasuke mempunyai cakra yang sangat besar. Pasti semua halangan dan rintangan yang menghadang dirinya akan berlalu begitu saja. Dan tidak akan berpengaruh sama sekali kepadanya.

Aku yakin itu...

.

.

.

TBC