REMEMBER ME, HANA!
By
QiQi Airin
HunxHan
GS, Romance, Hurt
Disclaimer : semua tokoh milik orang tua mereka masing-masing. Sementara semua kejadian dalam cerita ini adalah murni hasil imajinajis saya :v
Happy Reading :D
_HunxHan_
Chapter 2
Preview : Mereka berdua saling melempar pandang, tanpa kata. Hening. Sehun sendiri tak mampu berkedip. Wajah di hadapannya itu tak asing, walau ia baru sekali bertemu. Pertemuan yang tak sengaja kemarin. Gadis aneh itu. Gadis cantik berwajah datar. Gadis yang mendapat peran Sadako. Luhan.
.
_HunxHan_
.
"Jangan lupa siapkan makan siang untuknya. Dia belum makan sama sekali, bahkan seragamnya tidak diganti dari kemarin."
Sehun menelan ludah. Dalam hati ia merutuki Oh Hyuk karena telah menyuruhnya ini itu tanpa mempertimbangkan perasaannya, tanpa peduli bagaimana ia dan Luhan yang tak berucap sepatah kata pun saat di mobil tadi.
Gadis Sadako itu sungguh di luar dugaan, pikir Sehun. Sesaat tadi, ketika mereka saling memandang dalam kondisi terkejut –atau lebih tepatnya hanya Sehun yang terkejut— Luhan sama sekali tak bicara apa-apa. Ia hanya memandang Sehun sebentar, lalu kembali memandang foto mendiang ibunya yang cantik itu. Luhan seperti tak mengenal Sehun, 'hero' yang memberinya izin meninggalkan peran Sadako kemarin.
Namun, terlepas dari kejadian kemarin, sikap Luhan yang seperti tak mengenal Sehun sangatlah tidak wajah –masih menurut Sehun. Bukannya sombong, tapi semua penghuni EXO High School tak ada yang tidak mengenal Sehun. Ia juga cukup populer di kalangan adik dan kakak kelas. Bukan karena ketampanannya –walau sebenarnya faktor itu yang sangat mendominasi—. Di sekolah manapun, ketua OSIS pasti akan dikenal oleh semua siswa.
Tapi si Sadako itu. . .
Bahkan setibanya mereka di depan rumah Sehun, Luhan masih beku.
Mungkin dia terlalu sedih kehilangan ibunya, makanya sampai lupa padaku.
Sehun mencoba berpikir positif. Kehilangan seorang ibu memang bukan hal sepele. Sosok yang selalu mendukung kita, memberi topangan ketika kita hendak roboh, menatap dengan kobaran semangat di saat kita putus asa, siapa lagi kalau bukan ibu? Dan ketika sosok itu menghilang, bukankah itu sangat menyakitkan? Sehun pernah merasakan 'neraka' itu. Dan bekas rasa sakitnya sampai sekarang masih terasa.
Tapi si Sadako itu. . .
Pikiran positif Sehun mendadak runtuh ketika menoleh pada gadis yang berdiri di belakangnya untuk mempersilahkannya masuk. Wajah datar itu masih sama. Tak tampak sedih. Wajah itu sama, ketika ia sedang dimarahi Baek Hae kemarin, ketika sedang menatap foto mendiang ibunya, ketika mereka bertemu tadi. Sama sekali tak berubah. Wajah datar yang hanya memandang lurus ke depan, dengan bibir terkatup rapat. Benarkah ia sedang sedih, atau marah? Entahlah, Sehun tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Luhan.
"Masuklah!" Sehun mempersilahkan setelah lama mereka berdiri di depan pintu.
"Aku mau pulang ke rumahku," jawab Luhan, kalimat pertamanya. Ya, kalimat pertama setelah beberapa jam mereka lalui dalam diam sejak di rumah duka hingga ke rumah ini.
"Mulai sekarang ini rumahmu juga."
Sehun kembali mundur karena Luhan ternyata tak mengikuti langkahnya masuk ke rumah. Gadis itu malah mematung di depan pintu. Wajah datarnya tampak sedang kebingungan. Dan kali ini Sehun bisa menebak.
"Luhan-ah, apa Aboeji sudah mengatakan semuanya padamu?" tanya Sehun.
"Aboeji itu, apakah paman yang tadi?" Luhan balik bertanya. Sehun cepat mengangguk. Gadis ini bahkan sepertinya belum mengenal ayahnya.
Setelah agak lama terdiam, Luhan menggeleng. Respon menjengkelkan bagi Sehun. Ia geram, bukan pada Luhan, melainkan pada ayahnya yang tidak jelas itu. Bagai pahlawan menolong seorang gadis yang baru kehilangan ibu, tapi malah belum mengenalkan dirinya. Sehun jadi tak sabar ingin bertemu Oh Hyuk yang langsung melesat pergi setelah mengantar mereka berdua. Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Asal-usul si Luhan ini pun masih belum jelas.
Dan si Sadako ini, kenapa juga dia mau ikut orang yang tak dikenalnya?
Tiba-tiba, rasa penasaran terlintas di benak Sehun, mengenai identitas dirinya di mata salah satu adik kelasnya. Dan semoga kali ini tak mengecewakan.
"Anu, Luhan, apa kau mengenalku?" Sehun bertanya sambil menunjuk hidungnya, berharap-harap cemas. Dan tentu saja Luhan menggeleng.
"Kau serius?"
Gadis itu mengangguk lagi.
Ya ampuuunn,, apa dia benar-benar melupakan orang yang menyelamatkannya kemarin? Sehun membatin sambil membuang nafas sebal. Bahkan aku tahu namamu tapi kau tak kenal si Sehun yang populer ini!
"Ah, sudahlah! Sekarang kau masuk," Sehun mulai tak sabar dan menarik lengan tangan Luhan, menuntunnya masuk ke rumah. Ia bukan emosi. Hanya sedikit jengkel saja. "Nanti saja kenalannya. Yang perlu kau ingat sekarang hanyalah aku adalah kakakmu, dan orang yang mengantar kita tadi, dia ayahku, juga ayahmu. Mengerti?!"
Aboeji brengsek! Bukankah kau yang seharusnya menjelaskan semua pada si Sadako ini!
Mendadak Luhan menghentikan langkahnya. Otomatis langkah Sehun pun ikut berhenti. Ia menoleh ke belakang, gadis itu sedang menatapnya lekat. Mata Sehun membola.
Luhan tak berkedip memandang wajahnya. Mendengar kata kakak tadi, pikirannya mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu lelaki aneh cerewet ini.
"Kau. . . Bukankah kau Sunbae yang kemarin?"
Darah Sehun langsung berdesir. Akhirnyaaa. . . . Ia tersenyum tak jelas.
"Tentu saja itu aku. Kenapa kau baru ingat sekarang?" Sehun mulai bersemangat.
"Kenapa Sunbae bisa menjadi kakakku?" tanya Luhan lagi. Sehun tersenyum. Gadis ini mulai banyak bicara, walau wajah datarnya sama sekali tak berekspresi.
"Aku sendiri belum menemukan jawaban itu," jawab Sehun. "Kau benar-benar tak mengenal ayahku?"
Luhan terdiam. Ia menggigit bibir bawahnya. Memorinya berputar, mencoba menemukan wajah ahjusshi yang mengantarnya tadi di antara kepingan-kepingan ingatan yang tersisa. Dan ternyata, ia tak menemukan wajah itu.
"Entahlah. Mungkin paman itu mengenal mamaku," jawab Luhan.
"Ya sudah. Sekarang kau tunggu disini sebentar. Aku akan membereskan kamar. Setelah itu kau istirahat dan aku akan menyiapkan makan."
Luhan mengangguk patuh.
_HunxHan_
"Huaahhhh!"
Sehun meletakkan kardus terakhir. Ia menegakkan tubuhnya sambil menepuk-nepuk punggungnya yang terasa nyeri setelah bolak-balik dari kamarnya menuju kamar sebelahnya, dengan membawa serta barang-barangnya. Boyongan. Sesuai perintah ayahnya yang tak bisa ia tolak.
Jangan lupa bereskan kamarmu. Kau pindahlah ke kamar sebelahnya.
Aboeji—
Jangan manja. Kau punya adik sekarang.
Sehun mendengus kesal mengingat ucapan ayahnya itu. Bahkan aku tak bisa bernafas di kamar sempit ini, keluhnya dalam hati.
Kamar itu memang lebih kecil dibandingkan kamar Sehun sebelumnya. Tempat tidur yang hanya cukup satu orang, satu set meja belajar, dan lemari di sudut. Tadinya kamar ini ditujukan untuk tamu yang menginap, tapi sekarang Sehun resmi menjadi penghuni kamar ini untuk seterusnya.
"Sunbae!"
Sehun terlonjak kaget mendengar suara pelan menakutkan itu. Rasa kagetnya bertambah dua kali lipat begitu menoleh ke pintu. Gelapnya kamar berhasil membuat sosok ditengah pintu itu bagai bayangan hitam. Wajahnya gelap, tertutup bayangan rambutnya yang terurai menjulur ke bawah di sisi kanan kirinya. Sementara poni yang panjang itu menambah keseraman tatapan matanya. Dengan tubuh gemetar, Sehun beranjak menghidupkan lampu. Sebenarnya ia sudah tahu siapa sosok bersuara halus itu. Namun nuansa kematian masih terasa di benaknya. Ia takut yang berdiri di situ adalah arwah wanita di bingkai foto di rumah duka tadi. Mama Luhan. Wajah mereka pun tak jauh beda.
"Y—Ya! Kenapa kau tak mengikat rambutmu yang seperti hantu itu!" omel Sehun sambil bernafas lega, setidaknya wanita yang berdiri di hadapannya benar-benar Luhan.
Luhan tak menjawab. Ia hanya memandang Sehun dalam diamnya. Sesaat kemudian, ia mengangkat tangannya, mengarahkan ke Sehun. Ada suatu benda yang tergantung di tangannya.
Mata Sehun langsung terbelalak melihat benda itu. Baru saja rasa terkejutnya hilang, kini Luhan malah memberinya kejutan baru. Secepat kilat Sehun menyambar benda itu dan menyembunyikannya ke balik punggungnya.
"Ya! K-kenapa kau membawa-bawa boxerku?!" omelnya lagi. Ia mencoba bersikap biasa. Padahal sekuat mungkin Sehun sedang menahan rasa malunya. Barang yang paling privasi miliknya disentuh, dibawa, bahkan diayun-ayunkan oleh gadis di hadapannya. Sehun malu, walau wajah di depannya sama sekali tak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Aku mencium aroma tak sedap saat mau tidur, lalu menemukan itu di bawah kasur," jawab Luhan santai dengan nada datarnya yang khas.
Sehun terperangah dengan mata melototnya yang hampir loncat keluar. Gadis Sadako itu benar-benar tanpa beban saat menjawab pertanyaannya. Rasa geram yang ditimbulkan Luhan pada diri Sehun melebihi rasa malunya.
"Y-ya! Kau tahu benda apa ini?" pertanyaan itu refleks muncul, seiring dengan tangan Sehun yang mengayunkan boxer yang ia sembunyikan tadi tepat ke depan wajah Luhan. Ia geram sekali karena Luhan sepertinya tak tahu benda apa yang barusan dibawanya, dan seberapa penting dan privasinya benda itu bagi Sehun.
"Boxer."
Padat, singkat, jelas. Jawaban Luhan cukup membuat tubuh Sehun membeku seketika. Rasa malu, jengkel, kesal, dan lain-lainnya, bercampur aduk mengocok perut Sehun, hingga ia tak tahu lagi apa yang sedang ia rasakan. Bibirnya yang menganga mulai bergerak-gerak tak tentu arah. Tak tahu harus berkata apa lagi. Akhirnya, ia pun masuk kamar dan menutup pintu.
Sehun mengelus-elus dadanya, sementara tangannya yang sebelah lagi masih memegang boxer yang menjadi pemicu masalah. Tak disangka, gerakan singkat menutup pintu barusan cukup menguras tenaganya, membuatnya terengah-engah. Sambil bersandar di pintu, ia memperhatikan boxer berwana biru miliknya itu. Celaka, walau sudah terjadi. Ia baru ingat, beberapa minggu lalu Sehun menyembunyikan boxernya yang kotor ke bawah tempat tidur. Joon Myeon dan Baek Hyun mendadak datang ke rumahnya, dan kamarnya dalam keadaan berantakan waktu itu.
Mengingat perkataan Luhan tadi, Sehun jadi mendekatkan boxer ajaibnya itu ke hidungnya. Gerakan mengendus itu tak cukup sekali dilakukan Sehun. Dan ternyata, aromanya tidak sebau yang dikatakan Luhan tadi. Bahkan mungkin baunya sudah hilang karena terlalu lama disimpan.
Sebenarnya siapa gadis ini?
Batin Sehun kebingungan. Tak hanya kejadian barusan, kejadian sebelumnya pun cukup membingungkan Sehun.
Luhan sama sekali tak membantunya memindahkan barang.
Ya. Walaupun gadis itu berada di luar kamar saat Sehun sedang pontang-panting memindahkan barang-barangnya. Bukannya Sehun mengharapkan bantuan. Ia sendiri menyuruh Luhan untuk menunggu di bawah, walau gadis itu ternyata menyusul langkahnya ke atas. Tapi tak ada basa basi untuk membantunya sama sekali.
Logikanya, seseorang yang melihat orang lain sedang sibuk, tanpa ada yang membantu, pasti akan menawarkan bantuan, walau hanya sekedar basa-basi.
Tapi gadis Sadako itu tidak.
Dan pada akhirnya Sehun hanya bisa kembali berpikir positif. Luhan mungkin kelelahan. Kesedihan batin akibat kematian ibunya juga berdampak pada fisiknya. Dan Luhan menungguinya karena ingin segera beristirahat.
"Lalu kau mengganggu istirahatnya!" omel Sehun pada boxer yang terayun-ayun di tangannya.
_HunxHan_
"Luhan-ah!"
Sehun mengetuk pelan pintu kamarnya, yang kini sudah menjadi milik Luhan. Makan malam yang seharusnya menjadi makan siang tadi baru saja selesai ia siapkan. Jangan kaget, Sehun sudah terbiasa dengan tugasnya mengurus rumah. Mulai dari memasak, mencuci alat dapur, hingga membersihkan rumah. Semua itu ia lakukan sejak ibunya tiada.
"Luhan-ah, aku masuk," Sehun membuka pintu kamar Luhan setelah beberapa kali ia mengetuk namun tak ada jawaban.
Ternyata Luhan sedang tidur, dalam keadaan lampu menyala. Ia bahkan tak mengganti seragamnya. Padahal Sehun sudah menyiapkan piyama milik ibunya di atas meja.
Sehun berjalan mendekati tempat tidur. Luhan tampak sangat damai dalam tidurnya. Wajah datarnya tampak polos, seperti tanpa dosa. Sehun tersenyum. Melihat Luhan yang terpejam, rasa jengkelnya mengenai insiden boxer tadi lenyap seketika. Ia lalu menarik selimut dan menutupi tubuh Luhan sampai batas lehernya.
Kau bahkan belum mandi, belum makan, belum ganti baju.
Bel tiba-tiba berbunyi ketika Sehun keluar dari kamar Luhan. Malam-malam begini. Sehun bergegas turun. Mungkin Joon Myeon yang datang. Festival hari pertama ini pasti baru usai.
Pintu dibuka. Mereka berdua sama-sama terkejut.
"Sunbae?!"
Temannya Luhan?
Di sela terkejutnya, Kyung Soo malah berjalan mundur kembali ke gerbang, lalu melihat tulisan di tiang samping gerbang. Nama Oh Hyuk tertera di sana. Mungkinkah ia salah alamat? Kyung Soo pun kembali ke hadapan Sehun yang masih terheran-heran melihatnya. Pertanyaannya tak jadi terlontar begitu melihat siapa yang tiba-tiba ada di belakang Sehun.
"Luhan-ah," Kyung Soo menyerobot masuk menghampiri Luhan. "Kwencana?"
"Kung Soo. . ."
Luhan menatap Kyung Soo dengan tatapan lemah. Bibirnya gemetar. Sesaat kemudian tangisnya pecah, diiringi isakan yang halus. Kyung Soo langsung memeluk tubuh Luhan dan mengusap-ngusap kepalanya. Seperti adik kakak.
Sehun melongo.
Luhan terlihat begitu rapuh. Tubuhnya berguncang hebat dalam pelukan Kyung Soo. Isakannya pun semakin kencang. Seharian ini ia tak merasakan Luhan yang begitu. Luhan datar, Luhan menyebalkan, Luhan menyeramkan. Hanya itu yang ia rasakan. Tapi sekarang, Luhan benar-benar rapuh, serapuh dirinya saat kehilangan sang ibu. Dan itu baru terlihat saat Kyung Soo, sahabatnya, datang. Apakah seharian ini ia menahan kesedihannya?. Sebegitu kuatkah Luhan menutup diri di hadapan Sehun dan orang lain? Rasa penasaran Sehun akan Luhan semakin bertambah, membuatnya tak sabar ingin segera bertemu ayahnya.
Dan ia hanya bisa mematung melihat dua gadis di hadapannya.
"Maaf aku baru bisa menemuimu, Luhan-ah. Baek Hae benar-benar menahanku sampai festival usai," ucap Kyung Soo penuh sesal. Ia melepas pelukan Luhan dan mengusap air matanya.
Festival. Bahkan Sehun tak bisa menikmati hari pertama festival di sekolah, kecuali penampilan pidato pembukanya tadi yang disambut meriah oleh para siswa.
"Mama,,, mamaku sudah tiada," isak Luhan terbata-bata.
"Tenanglah, kau tak akan sendiri. Aku akan selalu bersamamu," Kyung Soo menenangkan Luhan yang masih terisak-isak.
_HunxHan_
"Dia sudah tidur?"
Kyung Soo mengangguk. Ia mengambil posisi di hadapan Sehun. "Kasihan sekali Luhan," ucapnya dengan nada simpati. Luhan masih menangis saat Kyung Soo menemaninya mandi, makan, dan tidur. Sampai akhirnya gadis rapuh itu benar-benar tertidur.
"Kalian akrab sekali. Gadis itu sama sekali tak terlihat sedih di depanku," ucap Sehun kembali mengenang satu harinya bersama Luhan.
Kyung Soo tersenyum. "Luhan memang begitu. Dia orang yang tertutup, apalagi pada orang yang baru dikenal," jawab gadis berkaca mata itu. "Jadi, bisakah Sunbae menceritakan padaku, mengapa Luhan ada disini? Apa sebenarnya kau sudah mengenal Luhan?" berondong Kyung Soo. Rasa penasarannya itu menghilang sejenak saat mendapati Luhan berurai air mata tadi.
Kronologinya, sore tadi Luhan mengirimkan alamat padanya melalui pesan singkat. Alamat tempat Luhan berada sekarang. Sayangnya Kyung Soo baru bisa menemui Luhan saat festival sekolah usai, padahal ia sangat ingin menemani sahabatnya itu.
"Aku juga belum tahu pasti. Namun yang sudah pasti adalah, Luhan akan menjadi bagian dari keluargaku," jawab Sehun.
Kyung Soo kaget mendengarnya. Belum sempat ia bertanya lagi, Sehun langsung menyelanya.
"Ayahku belum menceritakan semuanya. Ia akan mengadopsi Luhan, entah karena sebelumnya ia ingin menikahi ibu Luhan, atau ibu Luhan meminta ayahku untuk mengadopsi Luhan, karena dia tahu hidupnya tak akan lama."
"Aku rasa tak seperti itu," bantah Kyung Soo cepat. Sehun langsung memandangnya penuh tanda tanya. "Aku tahu tak ada seorang pria dalam kehidupan Bibi Miwa. Artinya Bibi Miwa itu tak punya kekasih. Lagipula, kematian Bibi Miwa sangat mendadak. Dia pingsan karena pendarahan otak beberapa hari lalu," jelas Kyung Soo panjang lebar.
Sehun mengangguk-angguk. Masuk akal juga. Kunci dari pertanyaan mereka hanyalah ayah Sehun yang sampai sekarang belum muncul batang hidungnya. Sedangkan Luhan pun tak tahu apa-apa mengenai hubungan ibunya dengan ayah Sehun.
"Kau sangat mengenal keluarga Luhan, Kung Soo-yah. Apa dia tidak punya sanak lain?"
Kyung Soo memajukan kepalanya. Alisnya berkerut. "Sunbae, kau memanggilku apa?" tanyanya, mengabaikan pertanyaan Sehun.
Sehun menatapnya heran. "Bukankah Luhan tadi menyebutmu begitu?"
Kyung Soo menghela nafas. Ia menegakkan duduknya dan menyandarkan punggungnya ke bahu kursi. "Namaku Kyung Soo. Do Kyung Soo. Luhan hanya tak bisa melafalkan namaku dengan sempurna. Sebenarnya ia bisa, tapi ia sudah biasa memanggilku Kung Soo. Lagipula aku tak keberatan."
Sehun manggut-manggut. Penjelasan Kyung Soo menyadarkannya akan keanehan lain pada diri Luhan. Logat bicaranya aneh, dan kadang terbata-bata.
"Iya, Luhan pindah kewarganegaraan dari Jepang ke Korea," Kyung Soo menjawab pertanyaan Sehun yang belum terlontar. "Dia pindah kesini saat kelas satu SMP. Kami satu sekolah dulu."
"Jepang?" ulang Sehun dengan sepasang alisnya terangkat. Bukankah Sadako juga hantu dari Jepang? Pikiran usil itu tiba-tiba terlintas. Sehun lalu terbahak tanpa sadar, geli dengan pikirannya sendiri. Kebetulan yang menggelikan.
"Kau kenapa, Sunbae?" tanya Kyung Soo heran.
"Tidak-tidak. Aku hanya teringat sesuatu yang lucu," jawabnya masih sambil tertawa. Tawanya baru berhenti ketika tiba-tiba Kyung Soo bangkit dari kursinya dan pamit pulang.
"Oh ya, Kyung Soo-ya, bisakah kau merahasiakan status Luhan dalam keluargaku? Hanya untuk sementara," pinta Sehun saat Kyung Soo baru melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Kenapa? Kau malu Luhan menjadi adikmu?"
"Tidak, bukan begitu. Jangan salah sangka. Aku hanya tak ingin semua menjadi heboh."
Kyung Soo mendengus. "Tapi kau harus berjanji akan menjaga Luhan."
Sehun mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Dia kan adikku."
.
_HunxHan_
.
Festival telah berakhir. Ditutup dengan api unggun dan kembang api. Sehun baru bisa bernafas lega. Hari ini pun dia pulang agak malam. Dua hari festival yang melelahkan, setelah satu hari sebelumnya ia kelelahan dengan urusan sang adik baru.
Setiba di rumah Sehun langsung melangkah menuju dapur. Rumahnya gelap, seperti biasa. Bertambahnya satu anggota keluarga lagi pun tak terasa berbeda. Sehun hampir melupakan keberadaan Luhan di rumahnya, karena kesibukannya itu. Luhan memang tak ke sekolah selama festival. Oh Hyuk tak mengizinkan, karena ia masih dalam keadaan duka.
Sehun beranjak menaiki tangga ke lantai dua. Kamarnya dan Luhan bersebelahan. Lampu kamar Luhan masih menyala saat ia melintas. Malam-malam sebelumnya pun lampunya selalu menyala. Awalnya Sehun tak terlalu peduli. Tapi malam ini ia penasaran apakah gadis itu tidur dalam keadaan lampu menyala.
"Luhan-ah!" Sehun mengetuk pintu beberapa kali. Tak ada jawaban. Sehun pun memberanikan diri membuka pintu. Benar saja. Tubuh Luhan tenggelam dalam selimut. "Tidur dalam lampu menyala tidak bagus untuk otakmu," omelnya sambil mematikan lampu. Lalu ia pun keluar menuju kamarnya.
Baru saja tangan Sehun memutar handel pintu, samar-samar ia mendengar suara rintihan. Sehun tertegun. Kupingnya mencoba menangkap suara itu dengan jelas. Dan suara rintihan itu semakin jelas, menjelma menjadi suara jeritan.
Dari kamar Luhan.
Sontak Sehun berlari menuju kamar Luhan. Tangannya cepat membuka pintu dan menyalakan lampu. Posisi Luhan tak setenang tadi. Selimutnya terlempar ke bawah. Tubuh Luhan meronta-ronta dalam keadaan duduk, namun matanya terpejam. Tangannya melambai-lambai dengan kasar, seolah sedang menepis sesuatu. Kakinya tak henti-hentinya menendang. Bibirnya berteriak-teriak dalam bahasa yang tak dimengerti Sehun.
"TASUKETTE! TASUKETTE! MAMAA!"
Sehun berlari menghampiri tubuh Luhan yang tak karu-karuan itu. Ia menggenggam lengan Luhan yang masih menepis 'sesuatu.'
"Luhan-ah, sadar! Kau kenapa?"
Mata Luhan masih belum terbuka. Jeritannya pun belum berhenti.
"Luhan-ah!" kali ini Sehun menghentak bahu Luhan sedikit keras. Usahanya berhasil. Mata Luhan langsung terbuka. Nafasnya terengah-engah. Begitu melihat Sehun, Luhan langsung menepis tangan Sehun yang masih di bahunya dan mundur hingga punggungnya menabrak dinding.
Sehun keheranan. Luhan seperti takut melihatnya. Apa mimpinya seburuk itu?
"Tenang, Luhan. Ini aku," perlahan Sehun mendekat ke arah Luhan. Luhan masih terengah-engah. Bulir-bulir keringat memenuhi wajahnya.
"S-Sunbae," ucapnya lirih. Matanya membola, memastikan apakah lelaki dihadapannya itu benar-benar Sehun.
"Iya, ini aku. Kau mimpi apa sampai wajahmu pucat begitu?" tanya Sehun. Luhan tak menjawab. Ia tenggelam dalam tunduknya. Tangannya melingkari lututnya.
Sehun menghela nafas. Ia berdiri. Tangannya mengusap pelan kepala Luhan. "Baiklah. Teruskan tidurmu. Besok kau sudah mulai sekolah," ucapnya, mencoba bersikap sebagai kakak yang baik, karena dua hari ini ia sedikit mengabaikan Luhan.
Sampai Sehun berjalan ke pintu, Luhan masih dalam tunduknya.
"Jangan matikan lampu!" teriak Luhan tepat saat tangan Sehun menyentuh saklar. "Aku tak suka," kali ini suaranya rendah.
"Baiklah terserah kau saja."
Sehun kembali menuju kamarnya. Sebuah tanda tanya besar menggelantung di atas kepalanya. Apa sebenarnya yang dimimpikan Luhan? Apakah duka kehilangan ibunya masih sangat membekas hingga ia bermimpi sampai begitu?
Tentu saja. Rasa sakit kehilangan seorang ibu tak mudah disembuhkan begitu saja. Begitu juga dengan Sehun yang masih merasakan rasa perih itu. Ketika ibunya meninggal akibat keracunan alkohol. Sehun masih SMP saat itu. Bayangan ibunya yang kejang-kejang di kamar masih teringat jelas di memorinya.
_HunxHan_
Langkah Sehun mendadak terhenti di depan dapur saat ia hendak ke kamar mandi. Terdengar suara khas perdapuran. Sebenarnya Sehun sudah tahu siapa itu. Tapi instingnya sebagai anak menuntunnya untuk memberi salam pada ayah yang bagai siluman itu.
"Aboeji, kapan kau pulang?" Sehun berjalan menuju kulkas. Tenggorokan keringnya ingin segera dibasahi air dingin.
"Semalam. Kau sudah tidur," jawab Oh Hyuk. Tangannya sibuk mengocok telur dan menuangkannya ke wajan.
"Aboeji," Sehun meletakkan gelas dan berjalan mendekati Oh Hyuk, "kau belum menjelaskan tentang Luhan," nada suara Sehun menuntut. Semenjak Luhan tinggal disini dan Sehun sendiri pun sudah beberapa kali bertemu Oh Hyuk, baru kali ini ia punya kesempatan menanyakan hal itu.
"Aku harus menjelaskan apa? Ibu Luhan dan aku dulu berteman baik saat kuliah. Kau tahu kan ayahmu ini kuliah di Jepang dulu."
"Bagaimana dengan ayahnya?"
Oh Hyuk terdiam. Ujung bola matanya bergerak melirik Sehun, lalu kembali fokus pada masakannya. "Entahlah. Miwa, ibunya Luhan, tak pernah bercerita tentang ayah Luhan."
"Apa dia tak punya keluarga lain?" Sehun masih terus memburu.
"Di Korea ini tidak ada. Aku tidak bisa menghubungi keluarganya di Jepang," Oh Hyuk mengangkat telurnya yang sudah matang dan mematikan kompor. "Sehun-ah, apa kau tak suka Luhan tinggal disini? Apa kau tak kasihan dia hidup sebatang kara?"
"Bukan begitu. Aboeji tahu, Luhan sama sekali tak mengenal kita. Kan lebih baik jika dia tinggal bersama orang yang dia kenal."
"Itu bukan masalah. Lama-kelamaan dia akan terbiasa dengan kita."
Sehun akhirnya mengalah. Sebenarnya ia ingin menceritakan keanehan Luhan pada Oh Hyuk. Tapi sepertinya tak ada gunanya. Sepertinya ayahnya sangat menyukai Luhan, atau mungkin ayahnya memiliki keinginan mempunyai seorang putri, seperti dirinya yang ingin punya adik. Lagipula, sifat pendiamnya Luhan itu sudah terjawab oleh sepenggal cerita Kyung Soo. Karena Luhan murid pindahan lintas negara. Hanya saja, wajah datarnya itu yang sangat mengganggu Sehun.
_HunxHan_
"Yo, Sehun-ah! Sang Ketua OSIS yang populer!"
Joon Myeon tiba-tiba saja muncul dari belakangnya ketika Sehun baru beberapa langkah turun dari bis.
"Sehun-ah, mengapa si Sadako itu turun dari bis yang sama denganmu?" tanya Joon Myeon. Sehun mengikuti arah mata Joon Myeon yang sedang memandang Luhan yang juga baru turun dari bis.
"Maksudmu Luhan?" tanya Sehun tepat ketika Luhan melintas di sampingnya. Ia hanya lewat begitu saja, tanpa menyapa. Sehun tersenyum. Luhan dapat dipercaya.
"Aku ingin hubungan kita di sekolah sama seperti sebelumnya—kakak dan adik kelas yang tak saling mengenal. Kau tahu kan aku cukup populer di sekolah, jadi aku hanya tak ingin ada kehebohan. Tapi tenang saja, dimana pun kau berada, kau tetaplah adikku. Aku akan menjagamu."
Sebenarnya tak ada jawaban memuaskan dari Luhan saat Sehun meminta itu semua. Anggukannya tak cukup meyakinkan hati Sehun. Ia bahkan tak berkomentar apa-apa. Wajah datarnya itu menegaskan ia tak peduli dengan hubungan kakak adik yang baru mereka jalankan.
"Waaahhh, kau bahkan mengingat namanya," ledek Joon Myeon. Sehun mendengus.
"Selamat pagi!"
Baek Hyun tiba-tiba muncul di antara Sehun dan Joon Myeon. Tanpa canggung ia merangkul bahu dua namja itu.
"O Baek Hyun-ah," Sehun membalas sapaan Baek Hyun.
"Kau ini jangan membuat hancur hati para gadis di sekolah ini," tegur Joon Myeon dengan nada bercanda, setengah berbisik. Matanya bergantian melirik para siswa yang sedang menyaksikan mereka. "Apa kau sadar sedang menggandeng dua cowok populer di sekolah ini," sambungnya lagi.
Baek Hyun tertawa. Ia langsung menurunkan tangannya. Sehun hanya bisa geleng-geleng kepala.
_HunxHan_
"Baek Hyun itu menyukaimu."
"Kau ini bicara apa!"
"Aku serius. Kau saja yang tidak peka. Oh ya, bagaimana dengan adikmu? Apa kalian sudah bertemu?"
"Oh, Joon Myeon-ah, sepertinya ayahku pulang. Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa besok!"
Tuuutt.
Sehun mengakhiri pembicaraannya dengan Joon Myeon. Ia bangun dan duduk di tepi kasur setelah melempar ponselnya ke bantal. Setiap kali Joon Myeon bertanya tentang sang adik, Sehun selalu enggan menjawab. Ia masih belum ingin mempublikasikan identitas asli adiknya.
Adik, ya?!
Sehun menghela nafas. Sudah hampir sebulan, tapi tak ada yang berubah dengan kehidupannya. Dalam rumah ini seolah hanya ada dirinya, dan ayahnya yang bagai siluman—kadang ada kadang tidak. Dan Luhan yang jelas-jelas berada dalam satu atap dengannya ternyata lebih dari sekedar siluman. Sehun hampir tak pernah melihat wujud Luhan saat ia pulang sekolah. Saat jam makan malam pun gadis itu tak muncul. Setiap pagi Sehun mengecek meja dapur, dan makan malam sudah lenyap. Entah jam berapa Luhan turun makan malam.
Sehun bertemu Luhan hanya dua kali dalam sehari. Menjelang berangkat sekolah, dan sesekali berpapasan di sekolah. Itu pun mereka tak saling sapa, karena rules yang sudah dibuat Sehun, dan Luhan menyetujuinya.
Sehun kembali merebahkan tubuhnya. Matanya menatap asbes kamarnya yang gelap. Dulu ia pikir punya adik itu menyenangkan. Ada seseorang yang harus dilindungi, ada seseorang yang selalu berlindung dibalik punggungnya, ada seseorang tempatnya bercerita, ada seseorang yang akan membuatnya tertawa, marah, menangis.
Sehun sadar, pertemuannya dengan Luhan, adiknya, terjadi setelah mereka sama-sama besar, tanpa mengenal satu sama lain sebelumnya. Sebenarnya, jika Sehun mau berusaha sedikit, ia dan Luhan bisa akrab layaknya saudara. Tapi setiap kali melihat wajah Luhan, Sehun langsung mengurungkan niatnya. Wajah itu seperti tak ingin menerima orang baru. Luhan seperti memiliki dunianya sendiri.
Sial!
Sehun mendadak bangkit dari kasur. Tergesa-gesa ia berjalan ke luar kamar. Kantung kemihnya serasa ingin meledak setelah ia menahannya tadi, saat Joon Myeon menelpon. Entah sudah berapa kotak susu pisang kesukaannya yang ia habiskan tadi sore.
Perasaan lega menyelimuti Sehun begitu ia melihat toilet di ujung koridor, di bawah tangga. Tanpa buang waktu lagi ia langsung memutar handel dan masuk.
Namun, Sehun tercekat begitu menyadari 'isi' di dalam toilet. Rasa ingin buang airnya mendadak lenyap. Ia bahkan hampir berteriak. Anehnya, dalam keadaan seperti itu, justru tubuh Sehun seolah susah digerakkan. Otaknya memerintahkannya untuk segera keluar, tapi ia malah melongo.
Sepasang mata di balik poni itu juga sedang menatapnya, namun ekspresinya tak sekaget Sehun.
"Yyyy—YAAA!"
Teriakan kencang Sehun baru keluar setelah Luhan tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya yang tenang di atas closet. Kesadaran Sehun yang sempat raib kembali datang. Ia langsung keluar dan menutup pintu toilet dengan kasar.
"Kenapa kau tak mengunci pintu!" omel Sehun masih sambil berteriak. Ia menggigit bibir, berkacak pinggang, memijit-mijit jidatnya, mondar-mandir di depan pintu. Semua gerakan itu ia lakukan untuk menghilangkan gemetaran di tubuhnya. Tak hanya tubuhnya, jantungnya pun berdetak cepat. Memang benar ia sudah keluar dari toilet, tapi bayangan itu masih terus bergerak-gerak di depan matanya. Luhan yang awalnya duduk, lalu tiba-tiba berdiri dengan celananya yang tergantung manis di bawah lutut.
Luhan keluar dengan wajah santai, seolah tak terjadi apapun. Ia bahkan menutup pintu dengan sangat pelan.
"Ya! Apa kau tidak malu?! Bagaimana jika tadi aboeji yang masuk, hah?" Sehun langsung menyambutnya dengan omelan.
"Dasar mesum!" ejek Luhan dengan nada datar.
Sehun langsung terbelalak. "Mesum? Kau sendiri yang tak mengunci pintu!"
"Kau melihatku sampai ke bawah, dasar mesum!"
Sehun menelan ludah. Ia memutar kembali kejadian yang sebenarnya tak ingin ia ingat. Tidak. Sehun menggeleng. Ia yakin tak melihat ke tubuh Luhan setelah gadis itu berdiri. Tapi, bagaimana mungkin ia bisa mengingat posisi celana Luhan jika ia tak melihatnya tadi?
Ya ampuunnn. . .
Sehun mulai kalut dengan pikirannya.
"K-kau yang tiba-tiba berdiri! jangan salahkan aku yang melihat celana dalam kuningmu itu!" omel Sehun. Sesaat kemudian ia menyadari kalimat terakhir yang ia ucapkan dan langsung menutup mulutnya.
Luhan memicingkan mata. Ia melangkah maju ke hadapan Sehun. Sehun kelabakan. Satu langkah maju Luhan adalah satu langkah mundur Sehun. Sampai akhirnya ia terpojok di dinding. Mata Luhan terlihat jelas. Mata memicing itu lebih seram, membuat Sehun bergidik.
"Sunbae, apa kau semesum itu, sampai mengingat warna celana dalamku?" tanya Luhan penuh selidik.
"Kemanhaeeee!" Sehun berteriak, menerobos tubuh Luhan dan melesat masuk ke toilet. Nafasnya setengah-setengah. Rasanya seperti hampir pingsan. Ia memaki-maki sambil menendang angin. Tangannya mengacak-ngacak rambut, seolah gerakan itu bisa menghilangkan bayangan kejadian tadi. Dan entah kenapa, Sehun sama sekali tak bisa menghilangkan sedikit pun bayangan kejadian tadi. Celakanya, ia masih sangat ingat pergerakan Luhan mulai saat ia masuk toilet sampai keluar dengan histeris.
_HunxHan_
"Sunbae . . ."
Sehun langsung membuka matanya mendengar suara lembut mendayu. Ia tahu itu suara milik Luhan. Tapi kenapa sedekat ini?
Setengah badan Sehun terangkat. Tangannya menopang ke kasur. Matanya yang masih setengah melek langsung terbuka lebar.
Luhan berada di ujung kasur, tengah merangkak ke arahnya. Satu tangannya terangkat, mengayun-ayunkan celana dalam berwarna kuning. Wajahnya tak sepenuhnya mendangak, namun seringaiannya terlihat jelas. Rambut panjangnya terurai ke kanan kiri bahunya. Dan layaknya adegan di drama, ada angin sepoi-sepoi yang menerbangkan helai-helai rambut hitam panjang itu.
"L-Luhan-ah," Sehun mencoba mundur, tapi dinding di belakangnya tak mungkin bisa roboh. Satu-satunya cara yang bisa ia lakukan adalah menyadarkan Luhan. Ya, Luhan tak seperti biasanya. Wajahnya bahkan berekspresi. Tapi sayang ekspresinya itu malah membuat Sehun ketakutan. Luhan sepertinya sedang kerasukan sesuatu. Mungkinkah Sadako?
"L-Luhan-ah, kita harus berangkat sekolah," Sehun masih berusaha, sementara Luhan semakin dekat ke arahnya. Sehun bergantian menatap Luhan dan benda yang tergantung di tangan Luhan.
"Sunbae, kakakku yang mesum, kau pasti masih ingat ini kan?"
Sehun menggeleng-geleng. Tidak. Itu tidak mungkin Luhan. Walau kesurupan sekalipun Luhan tak mungkin seperti ini. Sehun bergegas ingin lari dari kasur. Celakanya tangan Luhan sudah lebih dulu menangkap kakinya.
"Sehun, Oh Sehun!"
Luhan bahkan menyebut namanya.
TO BE CONTINUED
N/B : akhirnya chap dua berhasil update (fiuuuuuhhhhhhhhh—sambil nyeka keringat). Mudah-mudahan ada yang baca dan nungguin chap selanjutnya, hehe. Tapi kalaupun nggak ada yang nunggu :'( saya akan tetap ngepost lanjutan cerita ini, itung-itung buat ngembangin bakat nulis juga (Loh loh inikan kalimat cuap-cuap di chap satu kemarin "-_-).
Btw, ini ceritanya belum masuk konflik. Chap selanjutnya nanti ada konflik Luhan dengan Baek Hae, yang mana konflik itu membuat Sehun bimbang dengan rulesnya ke Luhan -_- (hehehe).
Oh iya, Qi2 mau ngucapin terimakasih buat para readers yg nyempetin review ffnya Qi2 ヽ()/
LSaber, dpramestidewi, Seravin509, yuanita, ino, guest1, salmalulu, misslah, samiyatuara09 : makasih ya udah minta nextnya Qi2 semangat bgt klo ada yg minta next. Ini nextnya udah Qi2 up, mudah2an kalian suka dan minta next lagi :v
mydeer : maunya Luhan jd pacarnya aja ya, bukannya adek, hehehee. Tp kita masih belom tau gimana nantinya. Makasih kak reviewnya, jgn lupa minta next lg yaa :v
guest 2 : waaahhh masukannya banyak bgt, berarti emang banyak yg perlu dibenahi di ff ini. Makasih banyak kak, jgn sungkan2 ngasih kritik dan saran lagi. Dan sepertinya, ane tau ini siapa :v
auliaMRQ : anggap aja wajah Luhan mirip Kuronuma Sawako, heheheheheee.
At last, saya ucapkan beribu-ribu terimakasih bagi yang sudah read, favoritin, ngasih kritik dan saran, apalagi yang koment minta nextnya, hehehe XD (Nah ini juga kayaknya kata-kata chap kemarin -_-)
