Ini balesan review~ :3

KiddoUle: hai~ salam kenal! Makasih udah baca n review~ ini udah di lanjut ^^ nanti juga terjawab, hehe

celindazifan: udah lanjut nih. Baby Tao ga depresi, cuma trauma *beda ga sih? ._.* plak

Aiko Michishige: ini udah lanjut~ yosh! Arigatou~ *hug*

Ammi Gummy: iya panjang *nangis haru* #eh ini aja masih proses pembuatan part yang kesekian -_-)d

deveach: ini udah lanjut~

Muhammad365: udah lanjut nih :3

munakyumin137: hai~ salam kenal! Makasih udah baca n review~ ga ada PHP kok di cerita ini *peace*

buttao: udah di lanjut~

Re-Panda68: ga ada yang bikin nangis bombay kok, paling cuma nangis haru, wkwkwk

Rich L. Khalifa: nih udah lanjut :3

LVenge: iya, kan trauma yang membuat orang sampai depresi/stress juga butuh pengobatan melalui obat2an juga ^^

HyuieYunnie: nanti bakal ke jawab di part2 selanjutnya kenapa Tao bisa ada di RSJ :3

Kirei Thelittlethieves: udah~

ZITAO00: hai~ salam kenal! Makasih udah baca n review~ ga ada yang bikin broken hearted kok, tenang aja, paling cuma nangis haru #nyengir

Firdha858: sip! Udah lanjut ^^

JungSooHee: makin lama makin sweet kok :Dd

aldif.63: roger! Udah lanjut ^^

BabyZi: di epilog mereka deket, soalnya kan itu mereka udah lama 'bersama' di Rumah Sakit, jadi prolog yang kemaren itu sepotong kecil keadaan mereka, di akhir cerita bakal lebih lengkap lagi dari prolog kemaren ^^. Nanti kejawab kenapa Tao bisa trauma nyaris gila ^^ daddy ny Yifan gay, tapi nikah ma mommy ny cewe, karena harus punya keturunan, soalnya juga mommy ny ga tau soal itu sebelumnya,bakal ada penjelasan di part2 selanjutnya :3

Dandeliona96: hai~ salam kenal! Makasih udah baca n review~ ini udah lanjut ^^

Flywithbaek: emang abis darimana kok balik? xD Dust Grains juga mau aku update kok ^^

ang always: hai~ salam kenal! Makasih udah baca n review~ sesuatu jang jarang(?) biasanya menarik emang xD #pede #digeplakmasal

Harumi Shiba0068: yeay! Ini udah lanjut! :3

Karena gw seneng banget sama review positif kalian, jadi gw update chapter 2 :3 makasih semuanya~ sini ge peluk cium atu2 :3 #duagh

.

.

Chapter 2 is up! Di part ini ada guest yang bukan artis K-pop, dan semoga readers sekalian ga keberatan kalo gw masukin chara dari artis Jepang.

Namanya Hyde, seorang bapak2 mungil titisan orochimaru #plak (nih orang ga keliatan tua padahal udah umur 42). Di ff2 Jepang gw, dia selalu jadi Dr, Guru, Bapak2. And karena gw lagi kangen sama tuh bapak2 atu, jadi gw masukin(?) namanya di fic ini, semoga ga keberatan ya *wink*

So enjoy!

.

.

ADORE

By: Skylar.K

Pair: Kristao(maybe with other couple)

Cast in this part: Wu Yi Fan, Park Chanyeol, Kim Joonmyun, Do Kyungsoo, featuring: Hyde(from VAMPS and L'arc~en~Ciel)

Genre: Drama Romance, Fluff, with little bit of Psychological

Rating: T

Warning: TYPO(S) everywhere!

Disclaimer: they are not mine, but this story its mine. Cerita ini mengandung unsur konten tertentu, dan fokus pada tema tersebut, jika merasa tidak cocok mohon segera tinggalkan cerita ini.

.

.

.

Youthere, crouched downas ifinto thecoldwalllayer. Frightened, screamingmelancholy, as if Iwasthe angel of death.

.

.

Spring...

Nami Island, dam Cheongpyeong, Chuncheon-si, Gangwon-do- South Korea, 06.00 am.

Awal musim semi di pulau indah berbentuk bulan sabit yang terbentuk karena bendungan Cheongpyeong. Pulau indah yang sangat terkenal di Korea Selatan ini sangat indah dengan warna hijau segar dedaunan yang mendominasi, serta warna-warni berbagai jenis bunga yang tersebar apik di berbagai titik.

Udara masih terasa agak dingin, menyisakan hembusan angin musim dingin yang tertinggal, serta serpihan salju yang bertebaran di sisi kiri-kanan jalan setapak yang di pagari oleh sederet pepohonan tinggi yang rindang. Memberi kesan hangat, sejuk, serta damai. Terlebih suasana pulau yang cukup sepi, karena belum banyak pengunjung yang datang.

Segar. Itulah udara di pulau kecil tersebut, meski hanya perlu menempuh waktu 1,5 jam saja dari ibukota Korea Selatan, Seoul.

Sesuatu hal yang jarang di temui orang kota, bahkan banyak yang mendambakannya. Dan memang udara sejuk dan pemandangan indah di pulau kecil itu membuat siapa saja akan betah berlama-lama tinggal disana. Termasuk seorang pria dengan tinggi badan hampir mencapai 190cm, dengan wajah yang rupawan, yang kini telah siap berdiri di hadapan cermin besar yang bersandar tepat di dekat lemari pakaian.

Pria bersurai hitam kelam itu tampak rapih dengan pakaian serba hitamnya, kemeja lengan panjang hitam, celana hitam, sepatu hitam, terkecuali sepasang iris coklat gelapnya yang tajam. Ia sedang menyemprotkan parfum di sekitar lehernya, saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.

Tanpa repot harus menyahut, pria tampan beralis tebal itu meletakkan botol parfumnya ke sebuah meja yang menyimpan peralatan 'bersolek'nya, tepat di dekat cermin, lalu menyambar tas kerjanya yang tergeletak diatas tempat tidur, dan tak lupa meraih sebuah jas putih yang tergantung rapih pada hanger, tepat di belakang pintu kamarnya.

Cklek

"Ada apa?" suara beratnya yang dingin terdengar setelah membuka pintu kamar. Menatap datar pada pria tampan bersurai coklat gelap yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan senyuman lebar yang teramat bodoh.

"Aku minta pasta gigi, milik ku habis" ujarnya, tersenyum makin lebar.

"Pakai saja, aku duluan" kata si pemilik kamar, membuka pintu kamarnya lebih lebar dan melangkah keluar.

"Ah! Yifan!" pria pemilik senyum lima jari yang hendak masuk ke dalam kamar menghentikan langkah panjang si pemilik kamar.

Yi Fan. Wu Yi Fan, pria berpakaian serba hitam yang tampan.

"Apa lagi Yeol?" tanyanya bosan. Terpaksa menghentikan kakinya, menatap malas teman seprofesinya itu.

"Aku juga minta parfum mu ya? Aku lupa tidak membeli parfum saat pulang kemarin"

Yi Fan memutar bola matanya malas. "Terserah. Asal tidak kau buat untuk menggosok gigi saja"

"Kau pikir aku ingin mati eh?"

"Cepatlah, kalau kau tidak ingin mendapat sangsi dari Hyde-euisanim"

"Aku akan menyelesaikan mandi ku dengan cepat!"

Yi Fan mengabaikan seruan teman yang tinggal dengan satu atap dengannya itu, sambil memakai jas putih yang ia lipat di tangan kirinya, dan angin musim semi yang dingin menyapa kulit wajahnya yang putih tanpa cacat ketika membuka pintu depan.

"Udaranya masih dingin~" gumamnya, dan menggosok-nggosokkan telapak tangannya.

Pria tampan bertubuh tegap itu mulai melangkahkan kaki panjangnya, kepalanya bergerak ke kanan-kiri, melihat suasana blok cottage yang selalu sepi. Karena memang hanya orang-orang berkepentingan saja yang tinggal di sederet blok cottage ini.

Di temani semilir angin awal musim semi, ia menyusupkan satu tangannya di saku jas putihnya, tak lupa membalas sapaan beberapa orang yang mengenakkan jas yang sama seperti dirinya, beserta name tag berwarna keemasan yang tersemat di dada jas sebelah kanan.

Tujuan mereka sama. Yaitu sebuah bangunan sederhana yang bercat putih bersih, berpagar besi rendah yang di cat berwarna hijau muda, dimana letaknya hanya sekitar 100 meter dari blok cottage yang mereka tinggali. Sebuah bangunan yang menjadi alasan mereka rela bekerja di pulau 'terpencil', karena sebenarnya tidak banyak orang yang tahu jika di Pulau Nami yang indah ini terdapat sebuah Rumah Sakit khusus yang cukup tersohor di kalangan tertentu.

Stay Happy Hospital.

Sesuai dengan namanya yang unik. Rumah Sakit sederhana itu memang mengajarkan kesabaran baik untuk para Dokter, perawat, serta petugas lainnya. Mereka di tuntut untuk bekerja dengan perasaan senang karena pasien yang mereka hadapi adalah pasien yang spesial. Dalam artian yang sebenarnya.

Yi Fan terpaksa harus mengerem langkah kakinya ketika melihat seekor anjing kecil berjenis pudel dengan bulu coklat muda duduk tak jauh di jalurnya. Anjing kecil itu melemparkan kilau matanya yang lugu, dengan lidah terjulur.

Satu-satunya makhluk yang bisa membuat seorang Wu Yi Fan mengulum senyum saat melihatnya.

Well, siapa yang tidak akan tersenyum jika di tatap dengan sepasang bola mata yang berbinar dari anjing selucu itu?

"Hai choco" sapanya seraya membungkuk, mengusap kecil puncak kepala si anjing pudel. Choco menyalak kecil membalas sapaannya.

Namun sebuah tepukan di salah satu bahunya, membuat Yi Fan memutar kepalanya ke samping kanannya.

"Kita harus cepat sebelum Hyde-euisanim memberi pengarahan pagi" Chanyeol berujar. Yi Fan pun menghentikan acara 'mengusap kepala Choco'. Sepertinya Yi Fan kembali mendengar kalimat yang sama seperti saat di cottage.

Pria tampan yang mendapat julukan Happy Virus itu kini berpenampilan sama dengan Yi Fan. Jas putih, menenteng tas kerja, dan sepatu mengkilat. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung Rumah Sakit yang sederhana.

Masih tergolong sangat pagi, dan suasana di dalam Rumah Sakit masih cukup kondusif tanpa keributan yang sebentar lagi akan terdengar di seluruh penjuru tempat. Yi Fan dan Chanyeol menuju Ruangan pribadi mereka, yang berada di lorong kedua sebelah kanan, dari pintu depan Rumah Sakit.

Mereka harus menyimpan tas kerja mereka terlebih dahulu, lalu keluar menuju ke ruangan depanーtepatnya di ruang tunggu, dimana para pekerja serta beberapa Dokter berkumpul untuk pengarahan pagi yang rutin di adakan di hari senin. Dan suara ketukan sepatu yang menapak lantai Rumah Sakit, menjadi perhatian mereka.

Yi Fan dan Chanyeol berdiri di barisan paling depan, saat pria bertubuh mungil dengan jas putih sama seperti mereka berdiri di depan barisan. Pria berwajah manis yang murah senyum, memperhatikan satu persatu wajah disana.

"Annyeong~" suara lembutnya yang ringan terdengar sangat bersahabat. Sapaan hangat itu di balas serempak oleh semua orang yang berbaris rapih di ruang tunggu.

"Saya harap bukan saya saja yang merasa malas bangun pagi hari ini" senyumnya masih melekat di bibirnya yang tipis. Chanyeol mengangguk-angguk setuju.

"Musim semi, saya harap kita semua bisa bekerja lebih baik dan giat lagi. Saya tidak ingin terlalu banyak bicara, kalian pasti sudah hafal diluar kepala bukan? Jadi, saya hanya ingin menyampaikan jika kita berada disini tidak semata karena pekerjaan dan gaji. Gunakan hati dan nurani, maka pekerjaan yang terasa berat akan menjadi ringan, dan jangan lupa untuk tersenyum" jeda sejenak. "Baiklah, selamat bekerja" ia tersenyum lagi.

Para pekerja sempat membungkukkan tubuh mereka sejenak, lalu beranjak dari ruang tunggu tersebut. Tak terkecuali Chanyeol dan Yi Fan yang akan kembali ke ruangan masing-masing, anda saja pria mungil yang menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit itu tidak memanggil salah satunya.

"Ah ya! Yi Fan-ssi!" suaranya yang merdu memanggil pria yang lebih tinggi darinya. Yi Fan harus mengerem langkah di tumitnya, dan berbalik melihat sang atasan yang berjalan mendekatinya.

"Ada yang bisa saya bantu euisa?" tanyanya sopan. Meski tetap saja suara baritone nya itu terdengar angkuh.

"Ada yang ingin saya bicarakan, datanglah ke ruangan saya setelah selesai pemeriksaan pagi" kata Hyde.

"Baik, nanti saya segera kesana"

Hyde tersenyum, lalu menepuk kecil pundak Yi Fan. Dan terlihat lucu karena tinggi badan mereka yang sangat mencolok.

Tepat pukul 9 pagi. Yi Fan selesai berkeliling untuk memeriksa kondisi para pasiennya yang spesial. Dan percayalah, butuh waktu berjam-jam hanya untuk melaksanakan pekerjaannya sebagai Dokter meski hanya 4-5 pasien yang di tanganinya saat ini. Dan selama itu pula dirinya harus bersabar dengan segala tingkah dan reaksi yang di tunjukan pasien-pasiennya.

Pria tampan bermarga Wu itu tergolong Dokter yang penyabar meski wajahnya tak sedikitpun menunjukkan hal itu. Banyak perawat dan pegawai yang salah paham saat pertama kali ia menginjakkan kaki di Rumah Sakit ini. Karena memang Yi Fan bukan seseorang yang suka bicara seperti Chanyeol, tapi jika berhadapan dengan pasien-pasiennya, ia akan menjelma sebagai sosok yang hangat.

Dan jangan salahkan wajah tampannya yang sering kali malah mendapatkan pelecehan kecil yang di lakukan para pasien Rumah Sakit yang memang pengecualian. Bagaimana mungkin dirinya marah pada orang yang sakit bukan?

Definisi sakit di tempat ini adalah bukan sakit secara fisik. Tapi benar-benar 'sakit' yang tak terlihat. Yang ada dirinya akan di cap sebagai Dokter gila yang melibatkan emosi menghadapi sekumpulan pasien sakit jiwa.

Ah! Apakah tidak ada yang menyebutkan jika Rumah Sakit tempat si tampan Yi Fan dan si tukang senyum Chanyeol ini adalah Rumah Sakit jiwa?

Mereka berdua adalah salah satu yang terbaik di Rumah Sakit tersebut, dan memang rata-rata Dokter yang bekerja pun masih muda. Namun meskipun mereka bekerja di Rumah Sakit jiwa, jangan meremehkannya. Karena Rumah Sakit ini tergolong elit, mengingat letaknya saja berada di Pulau Nami. Dan hanya segelintir orang yang tahu.

Yi Fan baru saja mengambil gelas kertas miliknya dari dispenser yang menyediakan kopi panas, yang letaknya di dekat Ruang Santai pasien, saat sebuah tangan terulur meletakkan gelas kertas yang masih kosong di dispenser tersebut.

Ia pun refleks menoleh dengan kedua tangan memegang gelas kertas yang cukup menghangatkan telapak tangannya yang dingin.

"Awal musim semi yang melelahkan bukan?" suara lembut dari pria bertubuh tanggung yang berdiri di samping kirinya itu memecah keheningan.

Yi Fan mengangguk kecil, menyeruput pelan cairan hitam pekat di gelas kertasnya. "Tidak hanya awal musim semi saja kurasa" ucapnya kemudian.

Pria berwajah angelic di sampingnya itu tersenyum miring sambil mengangguk-angguk kecil, kemudian menekan tombol stop pada dispenser karena gelas kertasnya sudah terisi penuh.

"Aku duluan, Hyde-euisanim menunggu ku di ruangannya" kata Yi Fan. Pria di sampingnya itu menaikkan satu alisnya.

"Aku juga di panggil kesana" ucapnya.

"Mungkin ada yang penting"

"Yah, mungkin"

Tanpa sebuah ajakan yang harus di ucap, baik Yi Fan dan pria bernama Kim Joonmyun itu melangkahkan kaki beranjak dari lorong yang mulai ramai akan para perawat yang sibuk menemani pasien-pasien. Dengan segelas kopi hangat di tanganーberkat udara awal musim semi yang masih dingin dengan cepat mengubah suhu cairan hitam pekat itu, mereka berjalan beriringan menuju ruangan Kepala Rumah Sakit.

Ketukan kecil di pintu dengan plakat 'Head Hospital' di sahuti dari dalam. Yi Fan membuka pintu tersebut, kemudian menutupnya kembali setelah Joonmyun masuk ke dalam ruangan.

"Anda memanggil saya euisanim?" tanya Joonmyun. Hyde yang sibuk memeriksa beberapa berkas mengangguk.

"Silahkan duduk" ucapnya, mengangkat wajah dan tersenyum simpul pada kedua Dokter muda yang berdiri di depan meja kerjanya.

Yi Fan dan Joonmyun mendudukan tubuh mereka pada masing-masing kursi ergonomic berwarna biru muda, dan meletakkan gelas kopi masing-masing diatas meja. Hyde menutup berkas yang tengah di bacanya, dan menatap kedua Dokter di hadapannya.

"Saya ingin menyampaikan jika dalam waktu dekat saya harus kembali ke Jepang untuk beberapa hari" Hyde berujar, mengutarakan tujuannya.

"Kenapa mendadak sekali euisanim?" Joonmyun tampak terkejut.

"Yah, saya harus mengurus perceraian yang menggantung disana. Jadi selama saya pergi beberapa hari, Joonmyun-ssi akan menggantikan posisi saya"

"Oh, ah, baik. Apakah anda pergi cukup lama?"

"Tidak. Mungkin hanya 2 atau 3 hari kalau semuanya berjalan lancar"

"Saya mengerti" Joonmyun mengangguk kecil. Memang sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit sudah sewajarnya dirinya menggantikan posisi Hyde yang harus pergi untuk sejenak.

"Dan untuk anda, Yi Fan-ssi" Hyde mengarahkan tatapannya pada sosok tampan Yi Fan. "Saya ada pasien baru untuk anda" ia tersenyum.

Satu alis Yi Fan terangkat tipis, kini memperhatikan si Kepala Rumah Sakit bertubuh mungil yang meraih sebuah map berwarna magenta, dan meletakkan map itu tepat di hadapannya.

"Itu datanya, dan saya minta anda mempelajarinya terlebih dahulu" Hyde menambahi. Yi Fan meraih map tersebut, dan membukanya.

Sepasang iris tajamnya membaca secara acak pemaparan riwayat hidup calon pasien barunya, dan cukup jelas membaca huruf kapital serta huruf China nama sang pasien.

"Saya berharap besar pada anda Yi Fan-ssi. Calon pasien baru anda itu memiliki riwayat yang mengejutkan, dan saya percaya dengan sepak terjang anda selama bekerja disini, anda bisa menanganinya"

Si tampan bersurai hitam itu mengangguk. "Saya mengerti. Akan saya pelajari lebih lanjut riwayatnya"

"Itu harus. Dan saya rasa calon pasien anda itu sudah tiba di Rumah Sakit ini pukul 8 pagi, jadi tugas anda akan di mulai saat pemeriksaan siang.." Hyde menilik jam tangannya. "Sekitar 2 jam lagi, atau mungkin datang lebih cepat" lanjutnya kembali menatap Yi Fan.

"Saya mengerti"

"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan"

"Kalai begitu saya permisi euisanim" kata Joonmyun, seraya bangkit berdiri.

"Saya juga" Yi Fan mengikuti. Hyde mengangguk kecil.

"Semoga hari anda berdua menyenangkan~"

Joonmyun dan Yi Fan membawa gelas kopinya kembali, membungkukkan tubuh sedikit, tak lupa membalas senyum hangat si Kepala Rumah Sakit, dan keluar dari ruangan itu. Mereka pun berpisah di depan ruangan Hyde, Joonmyun harus menemui pasien nya yang lain, sedangkan Yi Fan harus kembali ke ruangannya untuk mempelajari riwayat hidup pasien barunya.

Pria tampan itu berjalan santai sambil menikmati kopinya yang hampir mendingin, dengan tatapan mengawasi ke sekitar. Beberapa kali ia harus membalas sapaan para perawat wanita yang sudah bukan rahasia lagi jika banyak yang menaruh hati padanya. Namun saat ia akan berbalik di ujung lorong, langkahnya terhenti melihat beberapa perawat yang tampak sibuk akan sesuatu, dan ia mengenal salah satunya.

"Kenapa ribut sekali Kyungsoo-ssi?" tanya Yi Fan, memperhatikan 2 perawat wanita lain yang sibuk membawa sebuah tas besar dan beberapa perlengkapan.

Do Kyungsoo, salah satu perawat pria yamg cukup lama bekerja di Rumah Sakit tersebut menoleh, ketika melintas di depan Yi Fan. Pria bertubuh mungil itu terpaksa mengurungkan niatnya untuk beranjak.

"Oh, eiusa. Ini, ada pasien baru yang baru saja masuk" pemuda bermata bulat itu menjawab.

"Pasien baru? Apakah pasien ku?" Yi Fan mengarahkan tatapannya pada Kyungsoo.

"Entah, mungkin saja"

"Dimana dia di tempatkan?"

"Ah, di kamar cinnamon nomor 4. Tapi pasien masih berada di mobil angkut"

"Kenapa belum di pindahkan?" Yi Fan mengernyit.

"Susah sekali membujuknya eusia. Kurasa pasien kali ini sedikit berbeda, dia masih memiliki kesadaran, tapi selalu histeris dan ketakutan jika ada yang mendekatinya"

"Aku akan kesana"

"Tentu. Saya juga harus permisi"

Yi Fan memanuver langkah kakinya, sedikit tergesa menghabiskan tegukan terkahir kopinya, lalu membuang gelas kertas itu ke tempat sampah dengan label dry garbage. Kaki panjangnya melangkah lebar menyusuri lorong Rumah Sakit, menuju ke bagian depan bangunan. Dan dirinya melihat mobil bercat putih polos berjenis mini van yang telah di modifikasi pada bagian kursi belakang sampai ke bagasi.

Dirinya sudah tahu betul jika menghadapi pasien dengan gangguan kejiwaan sangat sulit dan melelahkan, jadi dirinya tidak heran melihat 2 perawat yang berdiri di belakang mobil dengan pintu yang terbuka lebar. Kedua perawat itu tampak melindungi diri dari lemparan brutal yang berasal dari dalam mobil. Benda-benda seperti tas, dan buku beterbangan tanpa ampun memborbardir kedua perawat itu.

Dan Yi Fan harus melindungi kepalanya dengan mengangkat map yang di bawanya saat berdiri diantara kedua perawat itu.

"Tolong ambilkan obat penenang" ujarnya, menoleh pada seorang perawat, yang langsung di jawab anggukan cepat oleh sang perawat.

"PERGI! JANGAN MENDEKAT! PERGI DARIKU!" usiran histeris suara sengau dan serak yang berasal dari dalam mobil tersirat sebuah ketakutan yang amat sangat.

Yi Fan yang merasa tidak ada lagi benda yang terlempar perlahan mulai menurunkan tameng map yang di melindungi kepalanya, dan saat benda berwarna magenta itu tak lagi menghalangi pandangannya, auburn coklat gelapnya tertuju pada sesosok pemuda bersurai hitam legam yang duduk meringkuk di sudut mobil, dengan tubuh gemetar hebat, wajah pucat pasi, dan mata yang berair.

Mata itu. Dengan bulatan hitam sekelam langit malam, memancarkan ketakutan yang amat sangat, bibirnya bergetar seperti menggigil, dan Yi Fan merasa ulu hatinya tertohok sesuatu yang membuat dadanya seketika nyeri melihat sosok mengenaskan si pemuda yang meringkuk di sudut mobil. Diantara pembatas antara bagian depan dan belakang mobil.

Sepasang kelereng Onyx itu menuntutnya untuk tak melepaskan pandangannya.

"Ini obat penenangnya euisanim!" seorang perawat wanita datang dengan heboh membawa sebuah alat suntik dan botol transparan kecil.

Yi Fan menoleh seperti orang ling-lung. Tapi ia dapat dengan mudah menguasai diri, dan lebih dulu menitipkan map yang di bawanya pada si perawat, lalu mengambil alih kedua benda tersebut. Ia segera mengisikan cairan bening di dalam botol ke alat suntik, dan tak bisa menahan diri untuk melirik pada si pemuda yang kini duduk meringkuk menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya diatas lutut.

Tubuh ringkih itu gemetar hebat.

Yi Fan memasukkan botol kecil yang telah kosong tersebut ke dalam saku jasnya, lalu hendak naik keatas mobil saat tiba-tiba dirinya di kejutkan dengan teriakan pilu si pemuda yang mendadak membuat dadanya terasa ngilu.

Tanpa kata. Pemuda bersurai legam itu menyerukan ketakutannya dengan sangat jelas, serta pancaran luka di Onyx indahnya, dan sorot memohon yang membuatnya terdiam cukup lama.

To be continue

Gimana? Gimana? Gimana? Jelek kan? Dan pwease~ jangan bunuh gw soalnya disini baby panda gw buat jadi pasien rumah sakit jiwa xD #ketawaiblis

Ada yang ga tau cottage itu apa? Itu sejenis rumah penginapan seperti villa, cuma bangunannya lebih cenderung seperti bungalow dan berblok2.

Buat siapapun yang baca, thanks! And pwease don't forget for give your review, cause your review make me soooo happy! Muah! *terbang naik naga man*

©Skylar.K