.
.
-It Has to be You-
.
.
Aku sampai di rumah pukul setengah 4 sore. Sebelum aku masuk ke dalam kamarku, Jihyeon muncul di muka tangga, dan ia menatapku tajam.
"Apa benar kau pergi ke cafe bersama Yesung oppa tadi siang?" tanyanya masam.
"Hmm, ne.." jawabku singkat sambil melewatinya.
"Dasar kau! Gara-gara kau, aku dan Yesung oppa hampir saja gagal waktu ujian! Untung saja, Yesung oppa segera datang, kalau tidak.. Ahh, sudahlah..! Ini memang salahmu yang selalu saja mengganggu Yesung oppa!" bentaknya yang kemudian pergi ke kamarnya.
Aku masih tercengang. Memangnya apa salahku? Kenapa coba Jihyeon harus marah-marah begitu? Hari ini aku dimarahi terus, padahal bukan aku yang mengajak Yesung. Tapi, apa benar Yesung hampir saja gagal dalam ujian? Aku jadi khawatir, apa dia sudah pulang yah? Aku harus menanyakannya nanti. Saat aku mau masuk ke kamar, Minho datang dan melewatiku begitu saja. Menegurku pun tidak. Sepertinya ia benar-benar merajuk.
"Minho.." panggilku saat ia memegang gagang pintu kamar. Aku langsung mendekatinya. Ia menoleh ke belakang, tapi tidak mengatakan apa pun.
"Kau marah yah?" tanyaku sambil menatapnya. Tatapan Minho datar sekali. Mungkin aku bakal dimarahi lagi habis ini.
"Tidak." jawabnya singkat.
"Kau marah padaku?" tanyaku sekali lagi. "Maafkan aku soal tadi siang.."
"Aku tidak marah padamu.." jawabnya cepat.
"Tapi wajahmu seperti itu, bagaimana aku bisa percaya bahwa kau tidak marah padaku? Mianhaeyo, Minho.." kataku sambil menunduk sedih. Aku pura-pura sesenggukkan, supaya Minho mengira aku sedang menangis.
"Hei, heii! Sudahlah.. Aku kan bilang aku tidak marah padamu.. Jangan menangis..!" Minho terlihat panik, ia pun memegang bahuku.
"Benar kau tidak marah padaku?" tanyaku sambil menutupi wajahku.
"Aniiyo.." jawabnya lembut sambil memegang kepalaku. "Aku tidak mungkin marah padamu.. Hanya saja tadi.." perkataan Minho terputus.
"Mwo?" tanyaku penasaran sambil mengangkat kepalaku.
Minho terlihat agak malu-malu. Ia terus saja menggaruk-garuk kepalanya, dan tak mau melihat wajahku. "Hanya saja apa?" tanyaku tidak sabaran.
"Yahh, kau tahu.. Kalau kau sudah membicarakan orang itu, kau tidak pernah berhenti membelanya.. Itu.. Sangat menggangguku.." katanya sambil menoleh ke samping.
Melihat Minho seperti itu, aku pun tidak bisa menahan tawa. "Ohh, tentang Yesung? Kau ini lucu sekali, dia kan temanmu, kenapa kau bisa tidak suka dengannya sampai seperti itu?"
"Kau jangan mengejekku yah..! Atau aku akan benar-benar marah padamu.." ancam Minho.
"Hei, heii.. Mianhaeyo.. Aku kan hanya penasaran.. Jangan marah.." kataku memelas.
"Kau ini membuatku kesal terus, bagaimana aku tidak marah padamu?"
"Katamu kau tidak mungkin marah padaku?" jawabku menggoda Minho. "Kau temanku yang sangat berharga, aku tidak mau teman terbaikku hilang ketampanannya karna terus-terusan merasa kesal.."
Minho menguurkan tangannya dan ingin mengacak-acak rambutku. Aku mengelak, tapi ia tetap bisa meraihku. Ia pun menertawakanku karna rambutku yang berantakan. Aku sedikit merajuk dan mengerucutkan bibirku sambil merapikan rambutku. Minho lalu berhenti tertawa dan membantu merapikan rambutku kemudian mengelusnya perlahan, "Sudah cantik.." katanya sambil tersenyum manis padaku.
"Apaaaaa?" pekik Jihyeon mengagetkanku. Ada apa sih Jihyeon pagi-pagi sudah meracau seperti itu? Aku baru saja turun dari lantai 2 untuk sarapan, dan langsung disambut teriakan Jihyeon. "Wae, Jihyeon-ah ?" tanyaku penasaran.
"Kau yakin oppa tidak mampir walau sedetik?" Jihyeon menghiraukanku dan melontarkan pertanyaan lagi pada Bibi Han, asisten rumah tangga disini.
"Tidak, aku menunggunya sampai larut malam, tapi tidak ada telpon atau apa pun, jadi aku langsung mengunci pintu dan tidur." Bibi Han menjawab pertanyaan Jihyeon dan kemudian pergi.
"Aah, kenapa oppa tidak pulang kemarin?" gumam Jihyeon.
"Siapa yang tidak pulang?" tanyaku sekali lagi sambil mengunyah roti panggang.
"Apa kau? Daritadi bertanya terus!" Jihyeon menatapku dengan matanya yang tajam. "Lagi pula pertanyaanmu itu aneh sekali! Di rumah ini hanya ada 4 orang, dan menurutmu siapa yang tidak ikut makan malam kemarin?"
"Yesungg!" teriakku baru sadar siapa yang daritadi diributkan Jihyeon.
"Ada apa dengan Yesung?" tiba-tiba Minho muncul dari muka tangga dan menghampiri kami di meja makan.
"Minho, cepat hubungi Yesung! Ia tidak pulang semalam!" sahutku panik.
"Jinjaa?" sahut Minho santai.
"Kau ini, ayo telpon dulu!" kataku kesal sambil mengambil roti yang baru saja ingin dimakan Minho.
"Hei, sarapan dulu!" Minho merebut kembali rotinya dari tanganku.
"Percuma saja, daritadi aku sudah menghubungi oppa, tapi handphonenya tidak aktif." Jihyeon melipat kedua tangannya didepan dada.
"Mwo? Lalu kita harus bagaimana?" tanyaku bingung.
"Kita?" Jihyeon mendengus pelan. "Sudahlah.. Kau tidak perlu memusingkan oppa! Kau pikir karena siapa oppa sampai tidak pulang semalam, hah? Biar aku saja yang mencarinya!" sahut Jihyeon kesal sambil meninggalkan kami. Aku kembali duduk. Selera makanku hilang gara-gara Yesung. Ia tidak pernah sampai tidak pulang. Kalau pun telat, ia pasti menghubungi Minho, atau mungkin Jihyeon. Aku sangat khawatir. Setelah aku tahu masalah Yesung kemarin, aku jadi berpikir apa karena masalah itu Yesung pergi?
"Makanlah dulu.. Kalau kau melamun seperti itu, Yesung juga tidak akan langsung ketemu.." Minho membuyarkan lamunanku.
"Aku jadi tidak tenang.. Aku juga ingin mencari Yesung.." jawabku masih sambil melamun.
"Dia hanya tidak pulang semalam, bukannya seminggu. Lagi pula ia sudah besar, kau seperti ibunya saja.."
"Apa Yesung baik-baik saja yah?"
"Hm, dia pasti baik-baik saja.. Tenanglah.. Setelah ini, kita akan mencarinya.."
Aku langsung menoleh ke arah Minho, "Geudae?"
"Ne.." jawabnya mantap. "Tapi, kau sarapan dulu.." lanjut Minho sambil menyodorkan roti panggangnya.
"Baiklahh.." kataku sambil tersenyum.
Aku dan Minho mengitari 1 demi 1 lantai di gedung Fakultas Kedokteran, tapi tak juga menemukan di mana Yesung berada. Tak banyak yang datang ke kampus dihari Sabtu, tempat ini jadi sepi sekali. Hanya ada beberapa mahasiswa yang memakai jas putih seperti yang biasa dipakai seorang dokter.
"Mian, apakah kalian mengenal Yesung?" tanyaku pada 2 orang yang sedang melewati kami.
"Ne.." jawab keduanya sambil mengangguk.
"Kalian melihatnya tadi?" tanya Minho.
"Tidak.. Aku tidak melihatnya.." jawab salah seorang diantaranya.
"Hari ini biasanya hanya mahasiswa semester atas yang datang ke kampus untuk bimbingan dan latihan praktek. Jadi kemungkinan besar, ia tidak ada di kampus sekarang.." lanjut yang 1 nya.
Aku mengangguk, "Oh.. Baiklah.. Gamsahamnida.." kataku sambil membungkuk.
"Coba kau hubungi Yesung!" perintah Minho.
"Tapi tadi Jihyeon sudah menghubunginya, dan tidak bisa.."
"Coba dulu, siapa tahu kali ini tersambung.."
Dengan ragu-ragu kuhubungi nomer Yesung yang tertera di layar. Sudah dering yang ketiga, tapi tidak ada yang mengangkat, padahal nomernya aktif. Ketika kupikir telpon ini akan berakhir, seseorang diujung sana menjawab, "Wae?!" suara orang itu terdengar berat, dan yang pasti itu bukan suara Yesung.
"Mianhae, bisa bicara dengan Yesung?" kataku agak takut.
"Siapa ini? Ada perlu apa?" orang itu balik bertanya.
"Saya Park Hyerin, teman Yesung.." kataku pelan.
Hening sebentar, dan samar-samar suara orang itu terdengar lagi tapi seperti marah-marah.
"Yobboseo.." Yesung menjawab dari ujung sana!
"Yesung-ahh.. Kau di mana?" tanyaku semangat.
"Hyerin? Aku di rumah.." jawabnya agak bingung.
"Di rumahmu? Apa kau baik-baik saja?" aku menoleh pada Minho. "Aku, Minho dan Jihyeon sangat mengkhawatirkanmu.."
"Ne, aku baik-baik saja. Maaf aku tidak memberitahu kalau kemarin aku tidak pulang.."
"Gwanchanayo.. Yang penting kau baik-baik saja.." kataku lembut.
"Gomawo.. Maaf karena membuat kalian khawatir.. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali, tapi tenang saja, kalian tidak perlu menungguku.."
"Hm, baiklah.." kataku pelan. "Aku takut terjadi sesuatu padamu, karena kudengar ujianmu kemarin tidak berjalan lancar.. Kau yakin kau baik-baik saja?" tanyaku lagi.
"Yah, ada sedikit masalah, tapi sekarang aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Ayahku.. Seperti katamu, apa yang aku suka, akan aku lakukan, dan yang tidak aku suka, maka akan aku katakan.."
"Lalu Ayahmu? Kau harus memikirkannya lebih dahulu.. Kata-kataku kemarin hanya asal saja.."
"Mungkin ini akan jadi bencana kalau sampai Ayahku mengamuk, dan memarahiku, tapi aku sudah memutuskannya.. Kau benar, kita tidak akan bahagia kalau kita hanya melakukan apa yang tidak kita suka.." suara Yesung terdengar lirih.
Aku bingung harus berkata apa, Yesung terdengar sangat sedih, aku jadi takut ia akan dimarahi oleh Ayahnya.
"Hyerin-ah, aku harus menutup telponmu sekarang. Aku tidak tahu kapan handphone ini akan aktif kembali, jadi kau tidak perlu menghubungiku.." Yesung terdengar sangat buru-buru.
"Ya, baiklah.."
"Oh iya, tolong sampaikan pada Jihyeon bahwa aku baik-baik saja, ia tidak perlu menghubungiku, aku pasti segera kembali.."
"Ne, akan aku sampaikan padanya.."
"Dan sampaikan salamku pada Minho.. Annyeong.." dan berakhirlah telpon tersebut sebelum aku menjawabnya. Tubuhku jadi lemas, aku kembali menatap layar handphoneku, dan berharap Yesung menghubungiku.
"Bagaimana? Yesung di mana?" Minho membuyarkan lamunanku.
"Ia di rumahnya.." jawabku pelan.
"Rumahnya? Apa dia baik-baik saja?" Minho agak kaget.
"Ne, ia menitipkan salam untukmu.."
"Lalu, kapan ia kembali?" tanya Minho lagi.
"Entahlah.. Ia bilang tidak usah menunggunya, ia pasti kembali.."
Minho lalu menepuk bahuku, "Ya, sudahlah.. Kita kembali saja, lagi pula Yesung sudah mengatakan kalau ia baik-baik saja.."
Aku mengangguk pelan. Minho lalu menggandeng tanganku, dan pulang kembali ke rumah.
To be continue..
