.
The Last 2 Percent
.
.
HunKai
.
KKaiOlaf
.
.
Warn!
GS Genderswitch! , typo, Cerita ini remake novel milik Kim Rang dengan judul yang sama, Ini juga pernah di remake oleh author Yunjae. Don't Like Don't Read
.
.
Happy Reading ^^
.
.
.
.
Bab 1
.
.
Jongin masih belum bisa melupakan perbuatan Kris padanya, tapi hari dimana ia harus pergi ke Hotel Arizona semakin dekat. Satu hari sesudah Jongin melihat Kris bersama perempuan lain itu, Kris mencoba menghubunginya tapi diabaikan oleh Jongin.
Bahkan, ia langsung mengubah kontak nama Kris menjadi 'Si brengsek Kris'.
Jongin selalu menggertakkan giginya setiap melihat nama itu muncul di layar ponselnya. Sebenarnya ia ingin menerima telepon itu dan memaki Kris dengan kata-kata kasar, tapi Taehyung bilang mengeluarkan kata-kata kasar untuk orang seperti dia hanya akan membuang buang waktu dan energi.
Jadi sebaiknya ia menghindar. Ia juga sempat berpikir untuk mengganti nomor teleponnya, tapi tentu saja itu lebih merepotkan. Karena, artinya Jongin harus mengumumkan nomor barunya pada lebih dari puluhan orang hanya karena satu bajingan itu.
"Seharusnya aku meninjunya dan menamparnya aku sangat menyesal membiarkannya pergi begitu saja"
Taehyung pun menjadi 'tempat curhat' Jongin selama kurang lebih empat hari. Tentu Jongin tidak bercerita bahwa ia mengajak Kris bermalam di hotel bersamanya. Kalau Taehyung tahu, dia pasti akan langsung melaporkannya ke Rumah Beras. Dan itu tidak boleh terjadi.
"Sebenarnya memang sayang karena kau tidak berhasil memukulnya, tapi good job kau berhasil menahan diri untuk tidak melakukan hal itu" puji Taehyung.
"Hah? Maksudmu?"
"Karena kalau kau memukulnya, yang akan menanggung malu bukan hanya dia kau juga"
'Benar juga..'
"Lalu perasaanmu sekarang padanya sudah semakin jelas kan?" Taehyung bertanya lagi.
"Tentu saja, apa kau khawatir kalau aku masih menyukainya?"
"Bukan begitu, terkadang aku tidak mengerti wanita. Aku sering bertanya-tanya kenapa mereka suka pria yang jelas jelas bajingan. Apalagi kadang rasa suka mereka terlihat sangat berlebihan"
"Hei! Aku tidak seperti itu!"
"Menurutmu kau tidak berlebihan? Dasar bodoh..."
"Sudahlah, aku tidak sampai sebodoh itu kan?"
"Iya.. Hei kau mau ramyeon?" Taehyung mengambil dua bungkus ramyeon dari lemari.
"Kau tidak punya nasi? Sejak empat hari yang lalu aku belum makan nasi sedikitpun. Kalau aku makan ramyeon lagi sepertinya pencernaanku akan terganggu"
"Ya sudah, kita makan nasi saja. Lagipula untuk apa kau mengurangi makan nasi hanya karena bajingan itu?"
Taehyung mengembalikan ramyeon yang diambilnya tadi ke tempat semula, lalu mengambil beras untuk dimasak.
"Aku memang tidak berselera.. dan untuk apa aku melakukan itu demi dia?"
"By the way, kau tidak pernah memberinya apa-apa kan? Uang mungkin.."
"Tidak pernah!" raut wajah Jongin berubah.
"Kalau begitu, apa yang pernah kau berikan padanya?" Taehyung melirik tajam, ia curiga Jongin sudah memberikan sesuatu.
"Hmm.. hanya.. mp3 player yang pernah aku menangkan"
"Dasar wanita bodoh.."
"Iya aku memang bodoh.. Apa menurutmu harus mp3 player itu kuminta kembali?"
"Untuk apa kau meminta kembali barang yang sudah dipakainya?" Taehyung berkata seolah Kris akan membuat mereka alergi atau semacamnya.
Well.. Jongin sekarang menyesal.
Tak lama setelah mereka bicara, Taehyung pun selesai menyiapkan makanan dan mereka makan bersama. Jongin terus saja memperhatikan Taehyung sambil menopang dagu dan menatapnya penuh selidik.
"Taehyung ah.."
"Hm?"
"Apa kau juga baru patah hati?"
"Apa? Siapa yang patah hati?" tanya Taehyung kaget hampir tersedak makanan yang baru disuapnya.
"Wajahmu terlihat seperti orang yang baru patah hati."
"Tidak!"
"Kau dihianati wanita?"
"Tidak"
"Putus cinta?"
"Tidak."
Hmm Jongin ingat.. di tahun pertama mereka kuliah, ada seorang senior satu jurusan yang benar-benar menyukai Taehyung. Meski senior tapi usia mereka sama. Dia terlihat sangat menyukai sampai sampai sering terlihat sedih. Sebenarnya Taehyung juga memiliki perasaan yang sama
Tapi setelah Taehyung menyelesaikan wajib militernya, hubungan mereka putus tanpa banyak yang tahu alasannya. Taehyung pun tak pernah memberi penjelasan. Ketika ditanya apakah perasaannya berubah selama menjalani wajib militer, jawabannya bukan karena itu. Dan Taehyung tetap pada pendiriannya.
Dia tak menjawab pertanyaan tentang alasan mengapa hubungan mereka berakhir. Bahkan, ketika ditanya apakah penyebabnya adalah orang ketiga Taehyung akan diam saja.
"Sebaiknya kau jangan terlalu lama sendirian.. Bagaimana kalau ku jodohkan dengan Krystal? Dia itu wanita yang baik. Kau akan merasa beruntung kalau berhasil mendapatkannya!"
Mendengar perkataan Jongin, Taehyung tertawa. Sudah lebih dari lima kali Jongin menyuruhnya berpacaran dengan Krystal.
Sikap Taehyung yang seperti ini sebenarnya bukan hal baru kadang ia tiba-tiba serius, sikap yang menurut Jongin tidak sesuai. Tapi bukan berarti setiap hari ia bersikap tidak peduli.
"Memangnya kau tidak khawatir?" tanya Jongin.
"Tidak"
"Serius?"
"Sudahlah, makan lagi.. Kau mau ku siapkan untuk makan malam juga?" Taehyung mengalihkan pembicaraan.
"Mauuu.. ye Taetae terbaik"
Jongin keluar dari apartemen Taehyung dan ketika menuju kamarnya sendiri, ponselnya kembali berdering.
Sesuai dugaannya.
Kris
"Terus saja hubungi aku! Aku tidak akan mengangkatnya!" Sambil menggerutu, Jongin meneruskan langkahnya
Gadis itu mencoba menggali berbagai nama yang bisa ia ajak untuk menginap di Hotel Arizona. Dari sekian banyak teman perempuan, hanya Krystal dan Irene yang belum menikah.
Krystal sedang mengerjakan proyek mini seri nya di Jeju. Irene? Jongin sama sekali tak ingin mengajaknya. Tak akan pernah.
'Irene.. Si Perempuan jahat.'
Nama itu bisa menyulut kemarahan Jongin.
Bagi Jongin, Irene adalah perempuan yang jahat, entah kapan Jongin bisa melupakan kejadian itu.. ia akan mengingat terus penghianatan Irene padanya.
Kim Jongin ingin menjadi penulis naskah. Dia ingin menjalani hidup dengan menjadi penulis naskah dengan tekad yang bulat. Jongin bahkan memilih untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja dan bergabung di Pusat Penyiaran Budaya.
Uang iuran yang harus dibayarkan memang tidak sedikit, tapi demi masa depannya ia menganggap uang yang ia keluarkan adalah suatu investasi.
Di tempat itulah Jongin bertemu dengan Krystal dan Irene.
Mereka bertiga akhirnya akrab satu sama lain karena selain memiliki pemikiran yang sama, hobi dan selera mereka pun hampir sama. Selain itu, mereka pun saling memberi kritik dan masukan atas naskah yang sedang mereka kerjakan, atau sekedar berbagi ide. Sama sekali tidak terlintas di pikirannya bahwa akan ada pengkhianatan.
Waktu itu ada lomba menulis skenario drama dengan hadiah yang sangat menggiurkan. Mereka bertiga menyiapkan plot masing-masing dan sudah beberapa kali mendiskusikan karya mereka. Hasilnya, hanya Irene seorang yang berhasil diantara mereka. Irene berhasil menang. Tanpa rasa curiga, Jongin dan Krystal memberi selamat pada Irene.
Masalah muncul saat skenario buatan Irene diwujudkan dalam bentuk film dan film itu terbilang sukses. Dan Jongin terkejut bukan main.
Jongin dan Krystal merasa ada sesuatu yang aneh, mereka tidak menerima undangan untuk menyaksikan preview film itu. Bahkan Irene memberi alasan saat diajak nonton bersama. Jadilah Jongin dan Krystal hanya pergi berdua.
Tidak sampai tiga puluh menit menyaksikan awal film, Jongin dan Krystal terbelalak dan kadang saling tatap seolah mengerti maksud tatapan satu sama lain. Ternyata Irene menjadi pemenang atas naskah skenarionya yang dibuat berdasarkan naskah milik Jongin. Bahasa kasarnya, Irene telah mencuri idenya.
Wanita itu menusuk Jongin dari belakang. Pengkhianat.
Keduanya segera menghubungi Irene ketika film itu berakhir, tapi tentu saja ia tidak mengangkatnya dan sekitar tiga hari kemudian nomor ponsel Irene resmi tidak aktif lagi.
Tak ada kata-kata yang dapat menggambarkan kekecewaan mereka terhadap Irene. Apalagi Jongin..
Jongin tak sanggup menahan emosinya. Ia ingin menangkap Irene dengan tangannya sendiri, karena itu ia mendatangi perusahaan yang mempublikasi film karya Irene untuk meminta nomor perempuan itu. Sayangnya perusahaan menolak memberi tahu dengan alasan hal itu bersifat pribadi.
Jongin bisa membayangkan wajah bahagia Irene yang merasa dilindungi berbagai pihak.
Putus asa, akhirnya Jongin memberitahu bahwa ialah pemilik asli skenario itu dan Irene telah mencurinya. Tapi perusahaan itu justru mengatakan agar Jongin membuat naskah yang lebih baik lagi. Ketika Jongin tak menyerah, mereka bahkan meminta bukti-bukti otentik dan memperlakukan Jongin seperti seorang tersangka penipuan.
"Kalau anda tidak memiliki bukti, kami tidak bisa melakukan apa apa. Tolong jangan membuat keributan lagi karena bisa saja kami menindak lanjuti anda secara hukum" Mendengar jawaban itu Jongin yakin kalau sebaiknya ia menyerah.
Gadis itu tak bisa menghilangkan kemarahan dan kekecewaan mendalamnya pada Irene.
'Perempuan Pencuri' itu sebutan yang Taehyung buat untuk Irene. Laki-laki itu juga tahu betul karena hanya ada dua orang yang pernah membaca naskah milik Jongin.
Hanya ia dan Krystal.
Jongin pun bertemu kembali dengan Irene secara tidak sengaja.
Saat itu Krystal mentraktirnya karena karyanya di angkat ke layar televisi untuk pertama kalinya. Jongin tak tahu bahwa Irene juga ada di restoran Jepang itu sampai akhirnya mereka bertemu di toilet.
Irene awalnya berpura-pura tak mengenalnya dan Jongin memutuskan untuk menyapanya duluan.
"Haii.. Irene"
Irene terlihat pura-pura terkaget
"Oh! Jongin.. Ternyata kau!"
Jongin hanya tersenyum sinis saat itu, "Bagaimana kabarmu?" Ia hanya berbasa-basi tanpa peduli kabar Irene yang sebenarnya.
Ingin sekali ia melabrak perempuan pencuri itu. Tapi akhirnya mereka hanya saling melempar kata-kata sindiran.
Sebelum perempuan itu benar-benar meninggalkannya, Jongin mengatakan hal itu juga.
"Oh ya, film mu kali ini tidak dibuat berdasarkan karya orang lain kan?" Jongin bisa melihat wajah Irene yang berubah menjadi pucat pasi saat mendengar itu.
"Apa maksudmu?"
"Apa kau benar-benar tidak tahu apa yang ku katakan?"
"Hati-hati dengan ucapanmu! Aku bisa saja menuntutmu!"
Haha Ia ketakutan rupanya.
"Memangnya kau tidak sadar kalau yang membuatmu menang waktu itu adalah hasil dari karyaku?" Jongin semakin gencar menekan Irene, namun tentu saja perempuan pencuri itu tidak menyerah.
"Jangan bicara macam macam.. Apa kau punya bukti hah?" Jongin mendesis geram mendengarnya.
"Tentu saja aku tidak bisa membuktikannya, tapi seharusnya kau merasa bersalah! Kecuali Kalau kau memang tak tahu diri!" Jongin menubruk bahu Irene sebelum pergi.
"Awas saja kalau kau melakukannya lagi.. perempuan pencuri!"
Yah Jongin puas. Ia mampu menahan diri untuk tidak meludahi wajah Irene saat itu. Krystal bahkan memuji Jongin saat gadis itu menceritakan perbuatannya pada Irene.
.
'Akh! Kepalaku sakit sekali!'
Jongin berusaha mencari nama lain yang bisa ia ajak bermalam di hotel. Sempat terpikir olehnya untuk memberi voucher itu pada temannya yang sudah menikah.
Tapi untuk apa? Mereka bahkan bisa melewati malam yang 'panas' kapan pun dan dimana pun kan? Jadi rasanya tak perlu ke hotel segala.
'Atau kuberikan pada Appa Eomma saja ya?'
Ia pun setuju dengan ide itu.
Appa dan umma Jongin tinggal di Rumah Beras, di Chungnam. Mereka tidak terlalu mati matian bekerja karena akhir-akhir ini mereka sibuk berwisata.
Jongin pun tahu kalau orang tuanya banyak pergi berwisata. Hmm.. rasanya cocok juga kalau voucher ini dihadiahkan pada kedua orangtuanya.
Tanpa menunda-nunda, Jongin segera menghubungi Rumah Beras.
"Halo Appa?.. Ini aku"
"Iya Jongin. Ada apa? Kau ada masalah?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan disana?"
"Disini juga tidak ada masalah apa-apa"
"Appa, aku baru saja memenangkan voucher menginap di hotel!"
"Voucher menginap?"
Appa Jongin cukup tahu kalau anak bungsunya itu seorang 'Ratu undian'.
"Iya, aku ingin memberikannya pada appa dan umma sebagai hadiah bagaimana?"
"Dimana? Seoul?"
"Iya.. Hotel ini yang terbagus di seluruh penjuru Korea appa.."
"Kau saja yang pergi"
"Hmm, aku malas jika pergi sendirian.."
"Kalau begitu, ajak temanmu"
"Sudahlah appa.. Aku ingin memberi ini pada appa dan umma sebagai bentuk rasa cintaku dan baktiku juga .."
"Saat ini juga kau sudah banyak berbakti pada kami.. Memangnya itu untuk tanggal berapa?"
"Waktunya hanya sampai akhir pekan ini."
"Akhir pekan? Kalau begitu appa dan umma tidak bisa, kami mau pergi ke gunung Geumgang haha maaf sayang"
'Gunung Geumgang? Astaga, bahkan mereka berwisata sampai ke Korea Utara?'
"Kalau begitu di hari kerja saja"
"Mana bisa appa meninggalkan toko di hari kerja? Sudahlah Kau saja yang pergi"
"Baiklah"
Akhirnya Jongin menyerah karena merasa sudah tidak bisa memaksa ayahnya. Gadis itu menutup sambungan setelah berpamitan dan berkata bahwa ia akan mengatasinya.
Tadinya Jongin akan memanfaatkan voucher itu untuk bersenang-senang, tapi entah kenapa sekarang ia merasa voucher itu tidak ada gunanya.
Jongin pun mencoba menghubungi beberapa teman prianya.
"Halo? Taemin? Ini aku Jongin"
"Iya, ada apa Jongin ah?"
"Apa akhir pekan ini kau ada acara?"
"Hmm.. Aku ada pelatihan, ada apa?"
"Oh.. hmm tak jadi kalau begitu hehe. Ya sudah hati-hati kalau begitu."
.
"Halo? Taeyong-ah.. Kau menganggapku sebagai apa?"
"Tentu saja teman baikku, memangnya kenapa?"
"Akhir minggu ini kau ada acara?"
"Oh? Memangnya kau belum tahu kalau akhir pekan ini aku akan menikah?"
'Argh! Sial!'
.
"Halo? Myungsoo?"
"Ya?"
"Kau mau tidur denganku? Aku sudah menyiapkan kamar hotelnya."
"Ya! Kau sudah gila?!"
"Iya, aku memang sudah gila."
.
.
.
Jongin memasuki kamar hotel sendirian dan meletakkan barang bawaannya.
Benar-benar sendirian tanpa teman.
Ia sendiri tidak menyangka sama sekali jika kamar yang akan ia tempati selama akhir pekan ternyata begini luas.
Penasaran, Jongin mencoba mengelilingi kamar itu dan mengamati apapun yang ada disana. Ada kasur empuk yang rasanya bisa ditempati delapan orang Televisi yang entah berapa inch, juga sebuah sofa empuk yang kini ia duduki.
Ia berjalan menuju pintu kaca yang menghubungkan ke balkon, membuka tirai transparan disana dan melihat sebuah jalan setapak yang begitu panjang di bawah sana.
Pandangannya lalu beralih pada kulkas besar yang terisi penuh camilan dan minuman. Beralih ke kamar mandi, ada bathtub besar disana dan Jongin tak sabar ingin mencobanya.
'Hotel ini luar biasa.. Semua yang kuinginkan ada disini..'
Tidak bisa di pungkiri, tempat ini terlihat sempurna. Hanya satu yang kurang, Jongin berdiri di tengah-tengah kamar itu.
Sendirian.
Ia berharap ada pria yang jatuh dari langit untuknya. Hah.. sngat mustahil.
Ia pun mencoba berpikir apa yang akan ia lakukan disana, pasalnya ia hanya akan tinggal satu malam dan ia tak membawa banyak barang.
Perempuan bermarga Kim itu mengambil brosur hotel yang diselipi beberapa voucher fasilitas lain.
'Voucher Kolam renang dan Gym..'
Karena Jongin tidak begitu suka olahraga, jadi ia lebih tertarik pada voucher berenang. Tapi ia ingat tak membawa baju renang. Dan begitu, kedua voucher itu pun terasa sia sia.
Jongin kembali tak tahu harus melakukan apa sambil menunggu waktu makan malam yang nyatanya masih sekitar empat jam lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk membuka laptopnya.
'Ah mungkin sebaiknya aku menulis saja...'
Karena saat ini Krystal juga sedang merampungkan mini serinya jadi Jongin juga tidak ingin berdiam diri saja. Ia sebenarnya sedang mempersiapkan sebuah naskah.
Jongin selalu menganggap pekerjaannya ini adalah tantangan dan ia menikmatinya. Sudah empat tahun ia menyelami dunia menulis dan di usianya yang ke dua puluh enam ini, ia belum memikirkan pernikahan secara serius.
Ia justru ingin menjadikan profesi ini sebagai tujuan baru dalam hidupnya.
Untungnya appa menerima keputusan Jongin sambil berkata "Lakukanlah sesukamu kau selalu menuruti perintah appa dan ummamu sampai kau lulus kuliah. Sekarang.. Lakukan apapun yang kau mau."
Jongin tentu sangat bahagia ketika kedua orang tuanya mengerti apa yang ia inginkan.
'Kali ini harus berhasil, aku pasti bisa membuat karya yang menakjubkan!' Gadis itu memang punya semangat tinggi jika mengenai pekerjaannya.
Ia yakin kali ini ia akan berhasil.
Kalimat demi kalimat mengalir dengan mudah dari kepalanya. Tidak ada yang bisa menghalangi Jongin saat ini, akhirnya ia bisa melanjutkan tulisannya yang selama kurang lebih sepuluh hari tidak ada kemajuan.
Tentu saja hal ini membuatnya semangat.
.
.
Dan tak terasa, lima jam sudah ia mengetik dengan non stop membuat bahunya pegal. Tapi ia merasa puas dengan apa yang baru saja ia kerjakan.
Seandainya saja ia bisa menulis dengan baik seperti ini ia pasti tak harus bermusuhan dengan deadline.
'Kalau saja uangku banyak, aku pasti akan sering-sering datang ke tempat sebagus ini hanya untuk menulis..' pikirnya sambil menelisik sekitar ruangannya.
Bagaimanapun, uang tetaplah berbicara. Ia tak mungkin punya uang sebanyak itu. Hari mulai gelap dan Jongin memutuskan untuk menyalakan lampu kamarnya sambil merenggangkan otot tubuhnya.
Tiba-tiba ia teringat Taehyung.
'Kira-kira Taehyung mau tidak ya datang kesini?'
Tidak ada salahnya meminta Taehyung menemaninya karena mereka memang sudah berteman sejak kecil.
Taehyung juga selalu ada di sisinya selama ia tinggal di Seoul. Mereka sudah seperti saudara kandung yang tidak pernah merasa direpotkan satu sama lain.
Jongin pun segera menyambar ponselnya, dan menghubungi nomor Taehyung.
"Halo Jongin? Ada apa?"
"Kau sudah selesai kerja kan?"
Taehyung bekerja di sebuah pabrik mobil dan shift kerja nya selalu berganti setiap satu minggu.
"Sudah.. Ada apa?"
"Datanglah kesini.. Aku di hotel kesepian"
"Tidak bisa, aku sedang menuju Busan"
"Eh? Busan ? Untuk apa?"
"..Tidak ada"
"Ahh.. Kau mau bertemu seseorang? berkencan? "
"Ini urusan kerja, Nini" Taehyung terlihat gemas dari nada bicaranya.
"Lalu, kapan kau kembali?"
"Besok malam"
Besok malam? berarti ia sudah pulang.
"Oh, baiklah, Hati hati ya" Jongin pun memutus sambungan dengan kecewa.
Sambil melihat layar ponselnya, ia terus bertanya-tanya. Ada urusan apa Taehyung sampai harus pergi ke Busan?
Tapi hal itu tak berlangsung lama ketika layar ponsel Jongin kembali menyala karena sebuah panggilan masuk.
Si brengsek Kris.
'Ya ampun.. Rupanya dia tidak menyerah'
Kali ini justru Jongin mengangkat panggilan itu. Karena ia tak boleh melarikan diri terus dan harus membalas si brengsek itu.
"Halo?"
"Jongin ah?!"
Jongin menjawab dengan nada datar dan terkesan malas "Hmm" Lalu ia berjalan menuju balkonnya.
"Yah Kenapa sulit sekali menghubungimu? Aku menelponmu beberapa kali!"
"Oh ya? Aku memang sedang sangat sibuk."
"Kau dimana sekarang?!"
"Dimana? Hmm.. Omong-omong, ada apa kau menghubungiku?"
"Bukankah waktu itu kau mengajakku ke sebuah tempat?"
"Ke mana?"
"Hotel Arizona"
"Oh yang itu.."
"..."
"Hm.. Aku pergi sendiri akhirnya"
"Apa? Kau sudah kesana? Kau sedang disana? Apa aku harus menyusulmu?"
'Jangan coba-coba datang ke sini!'
"Kau tidak perlu datang kemari! Jangan pernah datang kemari!"
"Hah? Kenapa memangnya?" Kris bertanya dengan nada kecewadan agak marah.
"Karena aku tidak sendirian"
Ada jeda di pembicaraan itu.
"Kau bersama Krystal?"
"Tidak" Lewat nada bicaranya ia seperti ingin mengatakan 'Memangnya aku sudah gila pergi ke sini dengan Krystal?'
"Kalau begitu, kau bersama siapa?"
"Bersama seorang pria" Jongin menjawab dengan begitu sombong.
"Apa? Pria? Jangan bercanda?!" nada bicara Kris meninggi.
Jongin menyandarkan punggungnya ke pagar balkon, membelakangi pemandangan malam. Hei ini menarik!
"Ya aku memang datang dengan pria lain."
"Siapa dia?!"
"Ahh.. Perlukah ku.. Katakan... Mhmm.. Aish, aku kan sedang menelpon sayang... Mhmm..."
"Yah! Siapa dia? Jangan bercanda, kau membuatku marah!"
'Cih. Marah? Untuk apa?'
"Aku tidak bercanda"
"Kau benar benar datang dengan seorang pria?!"
"Ya, tidak mungkin kan aku mengisi kamar sebesar ini sendirian."
"Kenapa kau melakukan ini? Sebenarnya ada apa denganmu?!"
Jongin menarik ujung bibirnya menjadi sebuah senyum sinis sambil memutar bola matanya. Ia tak percaya, bagaimana bisa ada bajingan macam ini di dunia.
"Kau tidak akan mengerti kalaupun aku jelaskan!"
"Seberapa hebat dia, huh?"
"Seberapa hebat? Dia tampan, dan luar biasa.. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.. Bahkan jatuh cinta pada sentuhannya.."
"KIM JONGIN! Apa maksudmu?! Apa yang kau lakukan dengannya?!"
"Kau yakin ingin tahu?" Jawab Jongin tanpa ragu.
"Menurutmu apa yang akan di lakukan seorang wanita dan pria dewasa di dalam satu kamar hotel yang sama? Kau kan pria kau pasti tahu jawabannya.. Oh iya, dia bahkan lebih hebat dari yang ku bayangkan."
"YAA! Bagaimana bisa kau melakukan itu?!"
Jongin tersenyum senang.
"Dia bahkan langsung menyeretku menuju tempat tidur dan tidak melepaskanku sejak siang tadi."
Jongin meneruskan bicaranya, kali ini ia membuat suaranya sedikit sengau.
"Omo! Ahh.. mmhmm.. ahh"
Jongin mencium punggung tangannya sendiri dan mengeluarkan desahan yang begitu menggoda. Berakting seolah olah ia sedang menerima sebuah ciuman ganas dari seorang pria.
Dan bila ada yang mendengar desahan Jongin tentu mereka akan mengira ia memang sedang tidur dengan seseorang karena desahannya terdengar begitu nyata.
"Mnhhh.. Ah.. Mmm.." Jongin meneruskan aktingnya.
"Lagi? Tapi kan.. Anghh.." Ia begitu mendalami perannya sampai ia benar-benar membayangkan ada seorang pria yang akan menyeretnya ke tempat tidur. Kau memang gila Kim Jongin.
Kris memutus sambungan.
Jongin mendecih, menyayangi hal itu karena sebenarnya ia masih ingin memberi pertunjukan lain pada Kris.
Ia awalnya memandang kesal pada ponselnya.. namun begitu mengingat desahannya sendiri dan membayangkan ekspresi Kris, ia pun terkekeh geli.
Jongin baru saja akan masuk ke kamar lagi saat matanya bertemu tatap dengan seorang pria yang berada di balkon kamar sebelah. Menatapnya dengan tatapan bingung sekaligus penasaran.
Jongin terbelalak.
'Astaga!'
Jongin buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
'Ahhhh Memalukan sekali!' Ia menutup wajahnya sendiri karena ia malu bukan main. Masalahnya pria itu hanya terpaut beberapa meter darinya, dan ia terlihat menikmati pertunjukan Jongin. Sudah pasti suara desahannya terdengar kan?
Jongin merutuki dirinya sendiri karena tidak sadar bahwa ada orang lain disana sejak tadi. Dasar bodoh.
"Ah tidak apa-apa tidak apa apa.. Dia kan bukan siapa-siapa.. aku tidak mengenalnya dan tak akan bertemu dengannya" Jongin mencoba menghibur dirinya sendiri yang sejujurnya ia malu bukan main.
Pada akhirnya ia butuh setengah jam untuk menenangkan dirinya sendiri dan sadar kalau jam makan malam sudah lewat.
Bagaimanapun ia harus makan. Jadi ia mengendap endap saat membuka pintu, ia memastikan kalau tak ada siapa siapa di pintu kamar sebelah, setelah yakin bahwa koridor itu sepi Jongin buru-buru masuk ke dalam lift yang ada di ujung lorong hotel itu.
Berhasil menekan tombol tutup pintu pada lift , tiba tiba Jongin teringat akan wajah pria tadi. Mata tajam, rahang yang runcing, kulit putih, hidung terukir sempurna, tinggi, dan bibir yang kelihatan menggoda.
Ia tersenyum sendiri "Tampan..." bisiknya.
.
.
.
.
To be Continued
.
.
.
