NARUTO BELONG LEK KISHI

JUST WANT YOU

OOC, ABAL,ANEH,GAK NYAMBUNG,GAJE.

musim panas yang ditunggu akhirnya datang juga, meskipun masih awal musim tapi mampu membuat semangat semua orang naik, ya, jika musim panas sudah datang itu berarti libur panjang juga akan segeta datang, itulah yang membuat semua murid bersemangat apalagi festival yang mereka tunggu akan datang juga, entah festival sekolah maupun festival Hanabi.

DUK

"Wah~ apa ini!Malaikat jatuh?" ucap seseorang yang tak lain adalah Naruto.

Dengan tampang mengejek Naruto melihat orang yang tersungkur didepannya yang dia sandung di koridor sekolahan saat ini.

Hinata hanya bisa meringis merasakan lututnya yang sakit karna ulah Naruto.

'urusan kita belum selesai, Hyuuga!'

Hinata langsung teringat dengan perkataan atau lebih tepatnya bisikan Naruto kemarin sebelum Naruto meninggalkanya.

"Ya ampun" gumam Hinata sambil berusaha berdiri tanpa memperlihatkan wajah kesakitannya.

"Oh~ Namikaze! Apa kabar?" Naruto hanya mengeryitkan dahi dengan sikap wanita di depannya ini.

"Kau tetap terlihat mempesona didepan para murid perempuan disini ya, kecuali aku!" kata Hinata dengan senyum mengejeknya.

GREB

'lukaku'

Naruto benar-benar tak menyukai wanita yang rahangnya dia cengkram saat ini, apa wanita ini tidak tau siapa dia, Naruto bisa saja menendang wanita yang ada dihadapanya ini dari sekolah ini dengan sangat mudah jika dia mau, apa dia tak tau itu.

"Apa ini! Kau menyembunyikan tanda yang ku berikan padamu kamarin dengan bedak!" dengan nada mengejek Naruto sedikit mengeraskan cengkramannya, untuk melihat wajah kesakitan wanita didepannya ini tapi sayang itu tak terjadi.

"Kau membuatku sedih, Hyuuga! Kenapa kau menyembunyikan tanda yang kuberikan padamu dengan susah payah ini, hmm" dengan Nada yang dibuat sedih Naruto mengesek pipi Hinata yang dia pukul kemarin menggunakan jempolnya.

'sakit sekali'

TAP

Hinata segera menepis tangan Naruto karna dia sudah tidak bisa menahan ekspresinya lebih lama lagi dan juga demi segera menghilangkan penderitaan pada pipinya yang diberikan pada Naruto padanya.

"Oh~ maafkan aku Namikaze, tapi aku tidak ingin membuat para siswi disini merasa iri karna hanya aku yang kau beri tanda ini!" ucap Hinata dengan nada menyesal yang dibuat-buat tapi benar-benar terdengar memuakan ditelinga Naruto.

"Oh, benarkah? Tapi aku yakin mereka tak akan iri Hyuuga, mereka pasti senang karna hanya kau yang aku beri tanda ini" kembali Naruto menunjukan wajah mengejeknya.

"Oh, benarkah? Lihat apa itu!" tunjuk Hinata keatas atap, yang otomatis membuat Naruto mengikuti arah telunjuk Hinata.

"Tidak ada_

Hinata sudah pergi meninggalkan Naruto yang malah menunjukan seringai liciknya.

Lagi pula mereka satu kelas, kan. Jika Naruto masih ingin meneruskan pertengkaran mereka dia bisa melanjutkannya di sana.

Hinata malu jika dia bertengkar dan dilihat banyak orang, bagaimana jika guru yang mengajar disana tahu dan memberi tahukan kelakuannya di sekolah pada Ibunya, Ibunya pasti akan marah besar.

"Ya, pergilah, karna ada yang menanti dikelas kita" ucap Naruto yang masih setia mengeluarkan seringaiannya.

.

Niat hati ingin membantu orang yang sedang ditindas oleh teman sekelasnya seperti yang diajarkan oleh Ibunya pada dirinya, tapi dia tak tau jika dia harus berakhir seperti ini.

Dengan langkah yang ogah-ogahan Hinata menuju kelas yang sekarang entah kenapa terlihat seperti Neraka saat ini, apalagi ada Malaikat penunggu Neraka yang siap menyiksanya nanti.

BYUURRR

Bukannya ucapan selamat pagi dari teman sekelasnya yang dia dapat tapi malah guyuran air dari atas yang membuatnya terkejut.

'bocor?'

"Hahaha... sepertinya ada seseorang yang belum mandi disini!" tawa Naruto yang entah sejak kapan sudah berada dibelakang Hinata.

"Ya ampun Hyuuga, jika kau ingin mandi seharusnya kau pergi kekamar mandi, bukannya malah mandi disini" ejek Naruto. Naruto benar-benar puas melihat mangsanya basah kuyup saat ini, mangsanya benar-benar seperti kucing kedinginan yang disiram karna ulahnya sendiri.

Hinata berlalu begitu saja meninggalkan kelas, tapi sebelum dia benar-benar pergi dia harus memberi tahukan sesuatu pada seseorang yang telah memberikan kejutan pada dirinya pagi ini.

"Sepertinya kau harus membersihkan kelas karna ulahmu ini, Namikaze!" ucap Hinata sambil menunjuk kearah Naruto, ah tidak lebih tepatnya menunjuk kearah orang yang ada dibelakang Naruto.

Naruto menoleh kebelakang dan langsung membelalakan matanya dengan apa yang dilihat disana.

"Kakashi-sensei" gumam Naruto menyebut nama guru yang berjalan santai menuju kelas mereka.

Kakashi seorang guru di KHS yang tak segan-segan memberikan hukuman pada siapapun termasuk si konglomerak Namikaze Naruto Karna dia sudah mendapat ijin Dari orang tua Naruto untuk melakukan apa saja pada anak mereka.

Naruto menoleh kembali kearah Hinata tapi gadis itu sudah tidak ada lagi disana.

"Dia"

"Kekacauan apa ini!"

Naruto terjengkit kaget karna tiba-tiba dia merasakan aura yang sangat menakutkan dari belakangnya.

"K-kakashi-sensei!" ucap Naruto ketakutan.

"Kenapa lantainya bisa basah seperti ini!" kata Kakashi mengintimidasi meminta penjelasan dari siapapun yang mau menjelaskan tentang kekacauan ini.

"Naruto!"

"Ya" jawab Naruto cepat, harap-harap cemas dengan tatapan Kakashi padanya, keringatnya sudah bercucuran dimana-mana.

"Apa atapnya bocor!" ucap Kakashi sambil memasukkan sebagian tubuhnya kedalam kelas dan mendongakkan kepalanya keatas.

Mengingat kelas ini bertempat dikelas paling atas mungkin atapnya ada yang bocor, pikir Kakashi.

"Eh"

"Jika bocor aku harus memberi tahukan ini pada Tsunade-sama!" gumam Kakashi.

"Ah, ya sepertinya atapnya memang bocor Sensei, kurasa orang yang membangun kelas ini kurang ahli dalam bidang bangunan" bela Naruto untuk menyelamatkan dirinya. Mana mungkin sekolah elit seperti ini mengerjakan tukang bangunan yang amatir Naruto.

"Benarkah? Kurasa memang bangunannya yang sudah lama" Hello, Kakashi kau kira ini sekolah kalangan bawah yang bangunannya tak terlalu diurus.

"K-kurasa juga seperti itu" ucap Naruto sambil tertawa garing.

"Baiklah semua! bersihkan kelas ini dan pangil aku jika kalian sudah selesai" perintah Kakashi yang sudah berbalik kembali keruangannya sebelum murid-murid disana menjawab.

"Waktu yang tepat untuk melanjutkan membacaku!" kata Kakashi yang hanya dia yang mendengarnya.

.

Dan disini lah Hinata berada, atap sekolah. Tempat yang sepi mengingat bel masuk sudah berbunyi beberapa menit lalu.

Dia merentangkan tangannya bukan untuk merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya tapi melainkan untuk menjemur seragamnya beserta tubuhnya yang basah kuyub karna ulah si Namikaze penguasa itu.

'urusan kita belum selesai, Hyuuga' Hinata teringat kembali perkataan Naruto kemarin.

"Tapi aku ingin ini berakhir, Namikaze!" gumam Hinata.

.

.

.

Namikaze Naruto anak dari pengusaha sukses yang kekayaannya tak kan habis sampai keturunan terakhir dan juga donatur terbesar disekolahan yang dia sekolahi saat ini. Dia penguasa disekolah ini memanfaat kekayaan orang tuannya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan dan juga kesenangannnya. Dia sombong, angkuh, keras kepala, ingin menang sendiri, sok tampan tapi dia memang tampan. tapi dia memiliki rahasia yang sangat besar yang hanya sahabatnya, Sasuke, yang mengetahuinya, rahasia yang juga melibatkan dirinya.

Hyuuga Hinata anak dari orang yang tak sekaya keluarga Namikaze, Uchiha dan lain sebagainya, diajarkan untuk hidup sedehana, Ayahnya harus dipindah tugaskan diluar negeri yang membuatnya harus berpisah dengan Ayah dan Adik yang ikut Ayahnya dan bersekolah disana, dia tinggal bersama Ibu yang selalu merawatnya dengan baik, mengajarkan padanya untuk hidup saling menolong tanpa pamrih, yang membuat dirinya berani menolong siapapun meskipun dia akan terluka, tapi dibalik sikapnya yang baik hati dan suka menolong itu dia memiliki masa lalu yang sangat berbeda dengannya dirinya saat ini.

.

Namikaze Naruto pemuda sombong yang bagai Negara api yang siap menyerang Hyuuga Hinata gadis baik yang bagai kutub utara.

Hinata tidak tau jika apa yang dia lakukan waktu itu untuk menolong seseorang bisa mengubah kehidupannya yang tenang tanpa gangguan dengan kehidupan yang penuh gangguan dari orang yang bernama Namikaze Naruto.

Naruto sudah terlanjur membenci Hinata sampai mendarah daging, jadi dia takkan membiarkan gadis itu untuk merasakan hidup tenang sampai dia puas melihat gadis itu menderita.

Tapi jika Hinata mau menjilati sepatu Naruto, dia akan memaafkan Hinata saat itu juga. Ingin menangnya sendiri. Tapi Hinata takkan melakukan itu. Sayang sekali.

.

.

.

Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, dan hari berganti dengan bulan. Meskipun semua berubah tapi tidak dengan Hinata, setiap hari dia mendapatkan penyiksaan dari Naruto.

Seperti bangkunya yang tiba-tiba berada diatap sekolah, bekalnya yang penuh sampah, loker yang penuh dengan makanan, roknya yang tertempeli permen karet, lengan baju dan celana olahraganya yang terpotong setengah dan saat dia sudah memiliki seragam olahraga yang baru, seragam umumnya berubah compang-camping.

Hinata tak mengerti kenapa Naruto sampai seperti ini, kesalahan yang dia buat hanya sekali kenapa balasannya begitu banyak sekali, apa ini yang dinamakan dengan 'mati satu tumbuh seribu!'. Tapi meskipun seperti itu Hinata tak menyesal telah menolong orang itu dulu dan entah mengapa dia sedikit menikmati setiap permainan yang Naruto berikan padanya.

Selama ini dia tak pernah memiliki teman, dia selalu diabaikan, dia selalu sendirian. Tapi setelah Naruto memulai permainannya dia mearasa tak sendirian lagi, dia merasa memiliki teman saat ini, itulah mengapa dia selalu mengikuti permainan yang Naruto buat untuknya, meskipun dia juga berharap Naruto segera mengakhiri permainan ini dan mereka bisa berteman seperti biasa.

.

Ujian semester pertama sedang berlangsung saat ini, semua sedang fokus dengan kertas yang ada disetiap meja mereka, fokus untuk mendapatkan nilai terbaik.

Guru pengawas sedang berkeliling, berjalan mengitari kelas untuk mengawasi setiap murid jika ada murid yang mencoba berbuat curang.

"Milik siapa ini" ucap guru pengawas yang memiliki julukan Medusa-sensei atau yang biasa dikenal dengan Anko-sensei, guru paling killer disekolah ini, Sedang mengangkat tangannya dengan selembar kertas ditangannya. Kertas keramat, kertas paling berharga setelah uang, kertas yang akan menentukan masa depan, kertas yang akan menunjukan jalan termudah, kertas contekan.

Semua orang diam entah merasa tak memilikinya atau merasa takut jika mengaku.

"Kutanya sekali lagi! Milik siapa ini!" ucap Anko garang

"Itu milik Hyuuga Hinata, Sensei!" semua orang langsung melihat orang yang mengucapkan itu, dia Naruto. Tapi setelah itu mereka menoleh kearah Hinata yang sedang menunduk.

"Tadi aku melihatnya melemparkan keras itu" imbuh Naruto.

BRAK

Suara gebrakan meja yang mampu mengagetkan semua orang diruangan itu. Pemilik meja yang digebrak itu langsung terlonjak kaget yang langsung membuatnya berdiri.

"Hyuuga, ini milikmu" kata Anko sambil menyodorkan itu tepat didepan wajah Hinata.

Hinata yang masih ling-lung tidak tau apa yang terjadi hanya bisa diam saja, dia tak tau apa itu karna dia ketiduran tadi.

"Hyuuga! Jawab aku!" Hinata melihat sekeliling dan disana dia melihat seringai itu, seringai yang akhir-akhir ini selalu menghiasi harinya.

'kapan ini akan berakhir'

"Hyuuga!"

"Ya" jawab Hinata tak sengaja.

"jadi ini milikmu!"

"Ya" jawab Hinata ling-lung. Dia baru bangun tidur.

"Apa kau lupa dengan peraturan saat aku yang menjadi pengawas!"

"Apa?" sepertinya Hinata belum sadar sepenuhnya.

"Kau!" Anko menghembuskan napasnya untuk mengurangi emosinya saat ini.

"Tidak boleh memberikan contekan dalam bentuk apapun siapapun yang berani melanggar aturanku akan mendapatkan hukuman dari ku" Anko sedikit berteriak untuk mengingatkan semuannya tentang aturan saat berada dikelasnya.

"Kalian mengerti!"

"Mengerti" jawab semua muris dikelas itu serentak.

"Nah, mari kita lihat hukuman apa yang pantas untuk orang yang suka melanggar aturanku"

KRIEK

Soal yang sudah penuh dengan jawaban milik Hinata dirobek begitu saja oleh Anko dengan memasang wajah killer.

Hinata hanya bisa diam saat dia melihat soalnya yang sudah dia jawab dengan susah payah dirobek oleh guru killer itu.

"Dan satu lagi saat pulang sekolah kau harus membersihkan kelas ini sendirian"

"Baik"

"Siapapun yang piket hari ini biarkan Nona Hyuuga ini yang mengerjakannya dan satu lagi kau juga harus menguras kolam renang saat pulang sekolah nanti, kau menerti!"

"Saya mengerti"

"Kembali duduk, dan untuk semuannya kembali kerjakan soal kalian"

"Baik"

Naruto yang melihat semuannya langsung menyeringai senang menghadap Hinata yang sedang melihat pemandangan diluar jendela.

"Akhirnya kau membuat sejarah baru Hinata, kau mendapatkan nilai nol" gumam Hinata.

.

.

.

Hari sudah mulai mengelap, matahari sudah tak terlihat tapi jejaknya masih terlihat dengan menyisakan warna orange dilangit.

Hinata sudah selesai dengan hukumannya dan sekarang tinggal menunggu air kolam renang penuh, dia duduk dikursi pingir kolam renang dengan mengenakan seragam olah raga lengkapnya sambil mendongak melihat langit yang mulai mengelap.

"Ah. Bintangnya mulai muncul, tapi sayang, aku tidak bisa melihatmu besok"

TBC