Reminiscence
(Jungkook's side flashback)
.
.
By DiaMoon
.
.
TaeKook, VKook
T
Friendship, Romance, Hurt/Comfort
.
.
.
"Wah~ Rasanya sudah lama sekali" gumam Jungkook ketika kakinya memasuki kawasan gedung B. Gedung yang digunakan oleh siswa kelas 1 di SMA tersebut.
Jungkook tadi berpisah dengan Bambam di depan gedung A yang berisi ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang staf, ruang tamu serta front office karena Bambam ada perlu dengan beberapa guru, staf dan kepala sekolah. Jungkook memutuskan untuk tidak ikut dengan Bambam dan memilih untuk berjalan-jalan di sekitar sekolah sambil menunggu Bambam selesai dengan urusannya. Ingin bernostalgia katanya.
Jungkook mengamati gedung B dari koridor gedung A. Ia tersenyum saat matanya melihat ke arah sebuah pintu di sudut kanan atas gedung. Kelas pertamanya di sekolah ini. Kelas yang menjadi saksi bisu perkenalannya dengan Mingyu, Yugyeom dan...
"Taehyungie..." gumam Jungkook saat ia mengingat beberapa hal yang terjadi di kelas itu.
Flashback
Jungkook mengernyit bingung saat mendapati kelas itu nyaris penuh. Di deret bangku depan ada satu kursi kosong. Tidak ada tas siapapun disana. Tapi Jungkook ragu apakah ada yang duduk disana atau tidak karena Jungkook tidak bisa melihat bagian laci meja itu. Sementara itu di deret paling belakang ada dua kursi kosong di bagian tengah. Tapi Jungkook ragu untuk melangkah kesana karena beberapa anak laki-laki berwajah nakal sibuk bergulat ala wrestling dibelakang sana. Membuat Jungkook bergidik dengan wajah tak suka.
Jungkook bukannya takut. Ia bahkan pandai bela diri. Yang membuatnya tidak mau duduk disana adalah karena orang-orang disekitar bangkunya nanti pasti berisik dan pasti akan mengganggunya saat belajar nanti. Merepotkan.
"Hai"
Seorang laki-laki yang memiliki postur badan lebih tinggi dari Jungkook menyapa Jungkook dengan senyum ramah di wajahnya.
"Kau belum dapat tempat duduk?"
Jungkook mengangguk.
"Mau duduk denganku?" tawar laki-laki itu yang membuat Jungkook mengerutkan kening.
"Bolehkah?" ucap Jungkook tanpa sadar. Namun sedetik kemudian ia buru-buru meralat ucapannya. "Maksudku, apa kau belum punya teman duduk?"
Laki-laki itu menggeleng. "Kau mau kan? Ayo letakkan tasmu disini. Tasmu pasti berat"
Laki-laki itu lalu menuntun Jungkook ke kursi yang ia tawarkan. Kursi yang berada di deret paling depan yang dilihat oleh Jungkook tadi.
"Tidak apa-apa kan duduk paling depan? Kursi di deret tengah sudah penuh semua saat aku datang tadi. Padahal aku sudah datang pagi-pagi sekali"
Jungkook tersenyum lalu menggelengkan kepalanya sebelum meletakkan tasnya di atas meja. "Aku malah senang mendapat tempat duduk di deret paling depan"
"Wah~ Jarang sekali ada yang masih menginginkan tempat duduk paling depan di usia kita ini" ucap laki-laki itu yang membuat mereka berdua tertawa bersama.
"Duduk di depan membuat kita lebih fokus. Aku justru benci duduk paling belakang. Disana pasti berisik dan membuat konsentrasi belajar buyar"
Laki-laki itu tertawa. "Astaga~ Baru kali ini aku menemukan yang setipe denganku" ucapnya sebelum kembali mengurai tawa. "Oh iya, kita belum kenalan" Laki-laki itu mengulurkan tangannya pada Jungkook. "Namaku Yugyeom. Kim Yugyeom"
Jungkook membalas uluran tangan Yugyeom dan menjabatnya selama beberapa detik.
"Namaku Jungkook. Jeon Jungkook"
.
.
Tak membutuhkan waktu lama bagi Jungkook untuk bisa cepat akrab dengan Yugyeom. Karena seperti yang pernah Yugyeom katakan, mereka berdua itu setipe, jadi mereka cocok dalam hal apapun. Walaupun dalam beberapa hal mereka memiliki selera yang berbeda.
Tapi kebersamaan mereka yang selalu terasa nyaman dan tentram itu sedikit terusik saat Jungkook merasakan hal aneh disekitarnya. Ia merasa siswa dan siswi yang berasal dari kelas lain rajin keluar masuk kelasnya dan membuat hawa disekitarnya menjadi pengap.
"Apa perasaanku saja ya?" gumam Jungkook saat Yugyeom tengah asyik menceritakan tentang sekolah lamanya pada Jungkook.
"Kau bicara apa?" tanya Yugyeom dengan wajah ingin tahu. "Maaf tadi aku terlalu asyik bercerita. Disini juga sedikit berisik. Aku tidak mendengar ucapanmu"
Jungkook menggeleng. "Tidak. Hanya saja... Apa hanya perasaanku saja? Siswa dan siswi dari kelas lain akhir-akhir ini sepertinya rajin keluar masuk kelas ini. Hawa disekitar bangkuku juga sepertinya selalu pengap di jam istirahat"
Yugyeom tertawa pelan. "Astaga~ Kemana saja kau selama ini? Apa kau tidak bisa merasakannya? Padahal biang kerok dari semua ini duduk tepat dibelakangmu"
Jungkook menolehkan wajahnya ke arah belakangnya dengan dahi mengernyit. "Siswa yang berhasil masuk lewat jalur prestasi itu?"
Yugyeom menggeleng dengan raut prihatin di wajahnya. "Kau bahkan tidak tahu namanya. Astaga..."
Jungkook kembali mengalihkan atensinya pada Yugyeom sambil mengedikkan bahu. "Kita baru satu minggu belajar disini. Jangan salahkan aku jika aku tidak tahu beberapa nama di kelas ini. Aku yakin diantara teman-teman kita ada yang sepertiku. Menghapal nama 39 orang dalam satu minggu bukan hal yang mudah"
Yugyeom kembali menggelengkan kepalanya. "Iya tapi yang kau tahu sejauh ini hanya namaku, nama pengurus kelas dan nama teman-teman yang satu SMP denganmu. Yang lainnya kau tidak tahu dan sepertinya juga tidak mau tahu. Ckckck apatis sekali"
Jungkook mendelik kesal. "Bukannya apatis, tapi tidak sempat" Jungkook menunjuk buku matematikanya yang masih terbuka. "Kalau saja guru-guru itu tidak memberi kita banyak tugas aku pasti punya waktu untuk menghapal nama-nama mereka sambil mengingat wajahnya"
Yugyeom tergelak. "Aish... Kau ini lucu sekali" Yugyeom menangkup kedua pipi Jungkook dengan kedua telapak tangannya sebelum mencubit pipi chubby itu dengan gemas. "Orang sepertimu tidak seharusnya duduk di depan idola macam dia. Terkadang pembicaraan mereka sedikit absurd ewh~"
Jungkook mengernyit bingung. Namun ia tidak berusaha untuk menanyakannya pada Yugyeom karena ia yakin apa yang Yugyeom ucapkan itu adalah suatu hal yang tidak penting.
Brak!
Baik Jungkook maupun Yugyeom sama-sama terkesiap kaget. Pandangan mata keduanya kemudian beralih pada seorang laki-laki yang memiliki postur tubuh tak kalah tinggi dengan Yugyeom. Wajahnya juga tampan. Lebih tampan dari Yugyeom malah menurut Jungkook. Dia adalah wakil ketua kelas di kelas itu.
"Ya! Apa-apaan kau menggebrak meja seperti itu?" tanya laki-laki yang duduk tepat di belakang Jungkook.
"Kalian berisik!" sahut wakil ketua kelas itu sebelum atensinya beralih pada beberapa pasang mata yang membuatnya muak. "Apa telinga kalian tuli? Bel masuk sudah berbunyi 1 menit yang lalu. Kalian semua mau membolos hah?"
Beberapa siswa dan siswi yang tadi mengerubungi bangku yang berada tepat di belakang bangku Jungkook dan Yugyeom pun pergi dengan langkah setengah berlari setelah mendapat bentakan dari wakil ketua kelas itu. Membuat Yugyeom tertawa tertahan sambil mengucapkan kata 'rasakan!' dengan pelan.
"Kalian berdua, tolong maafkan teman sebangkuku ini ya. Mentang-mentang dia terkenal dia sampai mengabaikan kenyamanan kalian di bangku kalian sendiri"
Jungkook dan Yugyeom refleks menoleh saat merasa jika wakil ketua kelas itu sedang berbicara dengan mereka.
"Jungkook-ssi, Yugyeom-ssi tolong maafkan dia" Wakil ketua kelas itu menunjuk teman sebangkunya begitu Jungkook dan Yugyeom menatapnya.
"Apa-apaan kau ini? Aku tidak bersalah. Mereka sendiri yang datang padaku"
Jungkook menoleh pada orang tersebut. Dari wajah dan cara bicaranya Jungkook bisa menebak bagaimana perangai laki-laki itu. Sombong dan memuakkan.
"Gyeomie, siapa namanya?" bisik Jungkook pada Yugyeom. Menghiraukan adu mulut yang terjadi antara orang itu dengan si wakil ketua kelas.
"Wakil ketua kelas?"
"Bukan. Aku tahu nama wakil ketua kelas itu Kim Mingyu" sahut Jungkook. "Yang satunya. Anak jalur prestasi itu" tambahnya.
"Namanya Kim Taehyung"
.
.
Jungkook tidak tahu ini kesialan atau keberuntungan. Dia selalu saja berkelompok dengan Taehyung, Mingyu dan Yugyeom jika ada guru yang menyuruh mengerjakan tugas secara berkelompok. Dari interaksi mereka saat mereka berkelompok perlahan ia tahu bahwa laki-laki bernama Kim Taehyung itu tidak seburuk dugaannya. Seperti saat ini contohnya.
"Apa kau mengerti dengan soal itu?"
Jungkook mendongak menatap Taehyung yang duduk berhadapan dengannya. Laki-laki itu tadi iseng mencoret bukunya dengan pensil. Membuat Jungkook merengut tak suka.
"Mengerti. Tentu saja aku mengerti"
Jungkook mendengus sebelum kembali berkutat dengan coretan angka yang ia buat sejak 10 menit yang lalu.
"Dasar keras kepala!"
Taehyung merebut paksa buku Jungkook lalu menghadapkannya ke samping. Posisi yang membuat ia dan Jungkook sama-sama bisa membaca dan menulis pada buku itu.
"Rumus ini salah" Taehyung mencoret rumus yang Jungkook otak atik sejak tadi. "Kau seharusnya memakai rumus yang ini" Taehyung menuliskan rumus yang ia maksud disebelah deret rumus yang Jungkook buat.
"Mana ada rumus seperti itu? Seingatku Jung seonsaengnim tidak pernah mengajarkan rumus ini pada kita" celetuk Jungkook saat melihat rumus yang Taehyung tulis.
"Kalau ada jalan pintas kenapa kau harus memilih jalan memutar yang berbelit?" Taehyung menggeleng melihat ekspresi Jungkook yang sepertinya tidak mengerti dengan maksud ucapannya. "Ini namanya cara cepat. Kalau kau tidak percaya dengan rumus yang kubuat, aku akan menjelaskan rumus aslinya padamu dan membandingkan hasilnya dengan rumus ini"
Kedua pemuda itupun lalu larut dalam rumus dan pembahasan dari soal yang guru mereka berikan 15 menit yang lalu hingga mengabaikan eksistensi dua pemuda lain yang duduk di sebelah mereka. Yugyeom dan Mingyu.
Flashback end
Jungkook terkikik dengan kilasan masa lalunya. Ia kemudian tersadar jika ia telah melamun terlalu lama di tempat itu.
"Apa Bambam sudah selesai ya?" gumamnya sambil melihat ke arah pintu utama gedung A. Namun disana tidak ada siapapun.
"Kalau begitu aku mau jalan-jalan dulu saja. Jam istirahat juga masih satu jam lagi" ujarnya sambil melirik jam tangan yang dikenakannya.
.
.
Jungkook menyambangi halaman belakang sekolah. Tempat yang dulu digosipkan angker itu kini telah ditata dengan baik. Sekarang ada beberapa gazebo, taman kecil dan kolam berisi air mancur kecil. Pohon-pohon rindang yang menjadi saksi tiap kejadian yang Jungkook alami dulu di tempat ini masih ada sampai sekarang. Tidak ada satu pohon pun yang ditebang.
Flashback
Jungkook melewati koridor demi koridor dengan wajah tertekuk. Tadi ia dan beberapa teman sekelasnya membersihkan kelas mereka yang cukup kotor setelah acara festival tahunan sekolah. Mereka kekurangan tenaga karena sebagian teman-temannya sibuk dengan urusan pribadi masing-masing termasuk Mingyu dan Yugyeom.
Mingyu saat itu sedang sibuk mengikuti persiapan lomba karya tulis ilmiah sedangkan Yugyeom diminta oleh salah satu guru mata pelajaran kimia untuk mengikuti diklat persiapan lomba kimia. Beberapa temannya yang masuk dalam tim basket dan tim sepakbola sekolah sedang berlatih untuk turnamen bulan depan. Sebagian lagi sibuk mengikuti perlombaan antar kelas.
Tapi bukan itu yang menyebabkan wajah kusut Jungkook. Jungkook merasa kesal dan jengkel karena ada beberapa teman yang melarikan diri dari tanggung jawab membersihkan kelas. Termasuk...
"Ya! Kim Taehyung! Apa yang kau lakukan disini? Kami semua gotong royong membersihkan kelas tapi kau malah tiduran disini. Kau pikir kau siapa?"
Jungkook berkacak pinggang dihadapan Taehyung yang sedang merebahkan tubuhnya di atas rerumputan hijau nan empuk yang tumbuh di areal itu. Mata pemuda itu terpejam dengan earphone yang menyumbat kedua lubang telinganya. Terlihat begitu nyaman. Membuat Jungkook jengah.
"Bangun!"
Jungkook menendang kaki Taehyung cukup kuat. Membuat empunya seketika membuka kedua matanya dan melepas earphonenya.
"Ya! Kau ini kenapa?" Taehyung menatap Jungkook dengan wajah kesal. "Sopan santunmu dimana Jeon? Begini caramu membangunkan temanmu?"
"Iya! Mingyu pernah bilang jangan pernah membangunkanmu dengan cara lembut. Percuma. Dan aku sudah membuktikannya"
Taehyung mencebik kesal. "Kau selalu saja mengikuti ucapan Mingyu" gumamnya.
"Tentu saja. Saran dari Mingyu selalu ampuh. Tidak seperti kau" Jungkook melirik Taehyung sinis. "Apa-apaan kabur dari tugas membersihkan kelas. Padahal kau tahu sendiri kita kekurangan tenaga"
Taehyung merubah posisi tubuhnya menjadi duduk bersandar pada pohon seperti Jungkook.
"Sesekali lari dari tanggung jawab tidak apa kan? Mereka juga sering melakukannya, kenapa aku tidak boleh?" celetuk Taehyung. "Kau sendiri yang bodoh. Padahal tadi aku sudah mengajakmu tapi kau tidak mau"
Jungkook kembali menatap Taehyung dengan raut kesal. "Untungnya aku tidak mau ikut. Kalau aku ikut mungkin kita berdua sudah dihukum oleh Jung seonsaengnim di depan banyak orang. Kau harus berterima kasih padaku karena sudah sukarela mau berbohong untukmu"
Taehyung terkekeh sambil mengucapkan kata maaf.
"Lagipula ini markas rahasiaku. Kenapa kau jadi ikut-ikutan suka berada disini?"
"Karena aku bisa melihat hal-hal indah disini" Taehyung menyunggingkan senyum tipis sambil menunjuk ke atas. "Awannya selalu cantik. Bentuknya juga beragam"
Jungkook menggeleng. "Kau sudah seperti pujangga-pujangga jaman dulu. Aku tak percaya orang sepertimu memiliki old soul seperti ini"
"Biar. Daripada sok baik seperti dirimu. Merugikan diri sendiri" Taehyung menjulurkan lidahnya.
"Tidak. Aku tidak seperti itu. Aku hanya melakukan tanggung jawabku dan tidak ingin mencari masalah" bela Jungkook.
"Tidak. Menurutku kau ini pengecut"
Setelah itu perdebatan di antara mereka kembali terjadi untuk yang kesekian kalinya.
Flashback end
"Haah... Bodoh!" ucap Jungkook pelan.
Setelah itu dengan langkah perlahan Jungkook membawa dirinya menuju ke pohon yang selalu menjadi tempat favoritnya selama 2 setengah tahun perjalanannya menjadi siswa disana. Ia kemudian meneliti batang pohon itu. Seperti tengah mencari-cari sesuatu.
"Masih ada tidak ya?" gumamnya sambil meraba-raba batang kayu pohon itu.
Flashback
"Wah~ Tak kusangka kau bisa menggambar"
Taehyung kembali membolak balik buku agenda Jungkook dengan mata yang tak berhenti meneliti tiap goresan yang Jungkook pahatkan disana. Goresan yang membentuk gambar-gambar indah yang tak pernah Taehyung duga sebelumnya. Namun hal itu bukannya membuat Jungkook senang. Ia justru menampilkan wajah kesal.
"Berhenti membual Kim! Aku tahu dalam hatimu kau mengejek gambarku" Jungkook merebut buku agendanya dan segera menutupnya. Membuat Taehyung tertawa.
"Aku serius" ucap Taehyung sambil menunjukkan V sign dengan kedua tangannya. "Em... Yah... Meskipun aku melihat kelucuan disana. Gambar ketiga tadi... Emh... Aneh sekali bentuk tangannya"
Jungkook memukul lengan kiri Taehyung dengan buku agendanya. "Jangan meledek gambar itu! Sahabatku sudah susah payah menggambarnya"
"Sahabat?" Taehyung menaikkan satu alisnya. "Orang sepertimu punya sahabat Jeon?"
"Terserah apa katamu" Jungkook kembali melihat novel dipangkuannya. Berusaha untuk mengabaikan Taehyung dan kembali membaca novelnya.
"Mungkin sahabatmu tidak terlalu bisa menggambar. Tapi untuk ukuran orang yang seperti itu, gambarnya tadi sudah cukup bagus"
"Jangan mengomentari gambarnya seperti guru mata pelajaran seni rupa. Kau tidak tahu perjuanganku yang memaksanya untuk menggambarkan gambar itu untukku" sahut Jungkook tanpa melirik Taehyung sedikitpun.
"Kau melakukan drawing challenge bersama sahabatmu?"
Jungkook mengangguk. "Kami bertiga memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di sekolah yang berbeda. Karena itu aku dan sahabat-sahabatku melakukan itu sebagai kenang-kenangan untuk masa SMP"
Jungkook menutup novelnya dan kembali menaruh perhatiannya pada Taehyung.
"Kami masing-masing membuat 2 gambar yang berbeda lalu hasil gambarnya ditukar satu sama lain. Kami memutuskan untuk memakai kertas bergaris karena saat itu tidak ada seorangpun dari kami yang membawa kertas hvs"
Taehyung mengangguk. "Kalau begitu, mau bertukar gambar denganku?"
"Huh?" Jungkook mengerutkan kening.
"Besok beri aku satu gambarmu. Tidak ada penolakan"
"Tapi..."
Ucapan Jungkook terputus saat tangan Taehyung meraih tangannya dan menyisipkan sebuah pisau cutter kecil disana.
"Kenapa kau membawa benda seperti ini?" Jungkook menatap Taehyung dengan mata membelalak.
Taehyung terkekeh. "Hei... Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu? Jangan berpikiran negatif dulu"
Taehyung kemudian membalik tubuhnya. Tangannya seperti mencari-cari sesuatu di batang berkayu pohon yang sejak tadi menjadi tempat bersandar punggung lelah mereka. Begitu tangannya berhasil menemukannya, jemari panjang Taehyung berusaha menyibak dengan lembut bagian terluar batang berkayu tersebut. Membuat Jungkook kembali membelalak kaget.
"Kau mengukir disana? Whoa~"
Taehyung terkekeh melihat wajah takjub Jungkook. Ia kemudian menuntun tangan kanan Jungkook yang memegang pisau cutter miliknya dan mengarahkannya ke sisi kosong yang ada disebelah ukiran yang ia buat.
"Gambarlah sesuatu disini sebagai bukti perjanjian kita"
"Apa?" Jungkook seketika menoleh menatap Taehyung. "Ini pemaksaan namanya" Jungkook menatap Taehyung dengan wajah kesal. "Aku juga tidak bisa mengukir. Kenapa aku harus melakukannya?"
"Ukirlah apa saja disana. Tanggal lahirmu juga boleh. Pokoknya kau harus mau. Aku tidak mau tahu" Taehyung berucap tegas. "Gambarnya jangan lupa. Kalau kau tidak memberikan gambarmu padaku besok, kau harus mentraktirku jajangmyeon atau hamburger setiap hari jumat, sabtu dan minggu"
"Apa?" Kedua mata Jungkook melebar. "Kau pikir aku orang kaya?" Jungkook menggerung kesal. "Kalau aku tidak mau bagaimana?"
"Gampang" Taehyung menjentikkan jari. "Akan kusebar foto masa kecilmu, foto gambar-gambarmu, juga rahasiamu yang--"
"Hei! Apa-apaan kau ini!"
Taehyung tersenyum melihat wajah cemberut Jungkook. "Pokoknya harus mau. Lalu selama tanda ini masih ada, kau akan terus terikat padaku" ucap Taehyung sambil menepuk-nepuk ukiran di batang berkayu tersebut.
Flashback end
"Dasar bodoh!"
Jungkook meraba ukiran yang hampir hilang termakan usia itu dengan perlahan. Matanya menelisik ukiran itu dengan seksama. Mencoba memanggil ingatan tentang bagaimana rupa apik ukiran itu saat pertama kali ia melihatnya. Kemudian saat matanya beralih pada angka yang tertoreh di bagian bawah ukiran yang dibuat oleh Taehyung, mata Jungkook melebar.
Tanggal lahir Taehyung
Angka yang persis diukir disebelah tanggal lahir Jungkook.
Flashback
"Ini! Aku sudah menggambarnya dengan susah payah"
Jungkook menyerahkan sebuah map pada Taehyung yang sejak bel istirahat tadi sudah melarikan diri ke tempat ini.
Entah kenapa dua anak adam ini memperlakukan tempat ini seperti markas mereka. Para begundal sekolah pun terpaksa mencari markas baru untuk kegiatan terlarang mereka karena beberapa siswa mulai mendatangi tempat tersebut. Siswa-siswa tersebut tentu saja mencari Taehyung karena selama menuntut ilmu di sekolah ini Taehyung selalu menjadi idola 3 angkatan.
"Bagus, bagus" ucap Taehyung setelah ia melihat hasil gambar Jungkook.
"Lalu mana gambarmu?" Jungkook menadahkan tangannya.
"Gambarnya eum..."
Ding dong!
"...ah... Sudah bel masuk" Taehyung beranjak dari posisinya. "Ayo kita ke kelas sekarang" ajak Taehyung pada Jungkook sebelum keduanya berlari menuju kelas mereka.
Begitu sampai di kelas, Jungkook kembali menanyakan gambar milik Taehyung untuknya. Namun pemuda itu selalu saja mengelak dengan mengalihkan pembicaraan atau menyibukkan diri dengan sesuatu. Membuat Jungkook menggeram kesal dan membuat Yugyeom mengerutkan kening melihat ekspresi wajah Jungkook yang tidak biasa.
"Ada apa dengan wajahmu? Kau kenapa?"
Jungkook melirik Yugyeom sebelum menunjuk Taehyung dengan dagunya. "Dua hari ini dia merusak moodku. Kurang ajar!"
Yugyeom membelalak kaget. "Kau mengumpat? Whoah~ Siapa yang mengajarimu seperti ini?"
"Mingyu" sahut Jungkook enteng yang dibalas tatapan malas oleh Yugyeom.
"Astaga... Kau ini... Anak manis sepertimu jangan bergaul dengan setengah preman sepertinya. Tidak baik untuk otak--"
"Siapa yang kau sebut setengah preman?"
Yugyeom menoleh ke belakang sambil menampilkan senyum kikuknya. "Tidak... Aku tidak mengatakan apapun. Benar 'kan Jungkookie?"
Jungkook hanya mendengus sebelum membereskan buku-bukunya yang masih terbuka di atas meja. Membuat Yugyeom mencebik karena Jungkook tidak mau mendukungnya.
"Sudahlah" Mingyu mengibaskan tangannya. "Cepat kalian bereskan barang-barang kalian dan letakkan di atas meja yang ada di depan kelas. Kita harus mengerjakannya dengan cepat agar bisa cepat pulang"
"Eo? Memangnya kita mau apa?" Yugyeom mengerutkan keningnya. Sementara itu Jungkook yang mendengar pertanyaan Yugyeom membalikkan badannya menghadap ke belakang setelah ia selesai memasukkan seluruh barang-barang yang ia bawa ke dalam tas.
"Kalian berdua tidak dengar ya? Tadi Ahn seonsaengnim menyuruh kita untuk membersihkan kelas" sahut Taehyung yang memperhatikan mereka sejak Yugyeom ditegur oleh Mingyu tadi. "Ayo kelinci kecil! Kau dan aku mendapat bagian mengepel lantai. Ayo kita ambil airnya"
Taehyung menarik tangan Jungkook hingga pemuda itu berdiri dan menyerahkan salah satu dari dua ember yang dibawanya. Tetapi Jungkook hanya diam. Jungkook bahkan tidak protes saat Taehyung melempar salah satu kain pel padanya.
"Kau kenapa? Kau marah padaku?" tanya Taehyung saat mendapati sikap diam Jungkook yang tidak biasa.
"Tentu saja. Kau membuatku kesal sejak kemarin. Aku bahkan berdebat dengan ibuku karena aku mengabaikan panggilannya demi menyelesaikan gambar yang kuberikan padamu tadi"
Taehyung terkekeh sambil menepuk-nepuk kepala Jungkook. "Mianhae... Gambarnya pasti aku berikan. Tapi tidak sekarang" Taehyung lebih mendekatkan tubuhnya pada tubuh Jungkook dan berucap nyaris berbisik di dekat telinga Jungkook. "Bersabarlah hingga tahun depan. Aku akan memberikannya padamu pada tanggal 1 September"
Kedua mata Jungkook membelalak lebar.
"Supaya kita impas" lanjut Taehyung lagi. "Karena hari ini adalah..."
Taehyung tidak menjawab kelanjutannya. Pemuda itu melangkah keluar kelas dengan senyum tertahan dibibirnya. Membuat Jungkook mengerutkan kening sebelum suara riuh di depan kelas mereka membuat dirinya terkejut.
"Selamat ulang tahun, Taehyung!"
Flashback end
Jungkook terkejut saat setetes air mata jatuh dari masing-masing matanya ketika ia mengedip. Ia tak menyangka hanya dengan membayangkan masa lalunya dapat membuatnya menitikkan airmata secara tidak sadar.
"Jungkook-ah... Sejak tadi aku mencarimu, ternyata kau--Hei! Apa yang terjadi?"
Bambam berlari dengan wajah panik menghampiri Jungkook saat ia mendapati Jungkook mengusap kedua matanya.
"Bambam?" Jungkook tersentak kaget saat Bambam tiba-tiba memeluknya dari samping.
"Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi? Kenapa menangis?" ucap Bambam beruntun. Membuat Jungkook terkikik. "Ya! Aku mengkhawatirkanmu!" Bambam memukul pelan bahu Jungkook dengan wajah gemas.
"Tidak apa-apa. Aku hanya teringat masa lalu" Jungkook sekali lagi mengusap pipinya yang basah sebelum menunjukkan senyum terbaiknya pada Bambam. "Besok kita wisuda dan setelah itu aku akan pergi dari kota ini. Aku pasti akan sangat merindukan tempat ini"
Jungkook kembali mengedarkan pandangannya. Menatap lekat satu persatu hal-hal yang menjadi kenangannya saat ia masih mengenakan seragam SMA bersama tiga pemuda bermarga Kim.
"Kau tahu? Pohon itu adalah markas kami berempat" Jungkook menunjuk sebuah pohon yang paling rindang diantara pohon lainnya. "Disana kami makan siang bersama, mengerjakan tugas kelompok, saling bertukar cerita juga bercanda" jelas Jungkook. "Terkadang kami juga bertengkar. Tapi tidak pernah terlalu lama. Yang paling sering menjadi pemicu adalah saat Yugyeom atau Mingyu berebut makanan. Padahal makanan yang mereka perebutkan adalah makanan hasil curian dari kotak bekalku"
Bambam terkikik mendengarnya. "Menyedihkan sekali mereka berdua itu. Padahal uang mereka banyak. Mereka bisa membeli makan siang di kantin 'kan"
Jungkook tersenyum. "Ya. Tapi mereka bilang makanan buatanku dan buatan ibuku jauh lebih enak. Jadi mereka suka sekali mencuri makanan di kotak bekalku. Aku sampai membawa 3 kotak bekal jika aku bisa bangun lebih pagi lagi"
"Jahatnya" komentar Bambam. "Lalu kalau makananmu dicuri saat kau hanya membawa satu kotak bekal, kau makan apa?" tanya Bambam penasaran.
Raut wajah Jungkook berubah menyendu. Tetapi senyumnya tetap mengembang. "Taehyung akan memberikan kotak bekalnya padaku lalu dia akan pergi ke kantin untuk membeli sekotak susu dan sebungkus roti untuk dirinya sendiri"
Bambam terkejut. "Ma-maaf... Aku tidak bermaksud untuk menyinggung--"
"Tidak apa-apa. Karena sejak tadi pun aku lebih banyak mengingat kenanganku bersamanya bila dibandingkan dengan kenanganku bersama Yugyeom dan Mingyu"
Airmata Jungkook pun kembali menetes. Membuat Bambam kelabakan dan segera kembali memeluk tubuh Jungkook sambil mengusap bahunya yang naik turun tak teratur.
"Bambamie, bagaimana ini? Padahal dua hari lagi semuanya harus sudah berakhir. Aku sudah berjanji pada Mingyu. Yugyeom juga pasti kecewa jika aku seperti ini lagi" keluh Jungkook sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh Bambam.
"Tidak apa-apa. Keluarkan saja semuanya. Aku yakin Mingyu akan mengerti dan bisa menerimanya secara perlahan. Untuk Yugyeom kau jangan khawatir. Nanti biar aku yang mengurusnya"
Jungkook mengangguk dalam pelukan Bambam.
'Bagaimanapun caranya aku harus mengenyahkan perasaan ini. Karena 2 hari lagi aku akan memulai kehidupan yang baru. Selamat tinggal... Taehyungie...'
.
.
.
TBC
.
.
.
Halo~
Apa kabar semua?
Maaf baru bisa lanjutin sekarang karena saya harus memprioritaskan skripsi saya :')
Di chap ini flashback dulu ya biar ga penasaran sama masa lalunya Kookie n friends, setelah itu baru lanjut lagi hihihi
Semoga suka (n_n)
Selamat Natal bagi teman-teman yang merayakan. Semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan diberkati selalu
See ya~
