Okeh, Minna~!!

Aiko ni Tadaimaaa~~!! Let's answer the Review~!!

Opening: ~~~Nakagauchi Masataka & Baba Tooru -- SUMMER BREEZE~~~

Aiko: Konnichiwa minna-san! Aihara to moshimasu, konna ni mo aigatou sagemoshitaa~~

Hai' Ima wa, Aka-chan to issho ni, RajiFict o akettemasu~~~ XD

*psstt~ Indonesian woy!*

Oo~oh... Gomenne~ Yup~ Kita mulai lagi...

Hello semuanya, dengan Aihara di sini, walau seperti ini, tapi Terima kasih banyaakk~~~

Yak! Sekarang bersama Aka-chan~

Akaya: Konnichiwa!

Aiko: Aka-chan!!

Akaya: ups~ Selamat siang~

Aiko: Mari kita buka RajiFict~!!

~~~Opening again~~~

Aiko: Yaah~ jangan protes donk, selama ada RajiPuri, kenapa gak ada RajiFict?? *dicincang sm penyiar2 RajiPuri plus pembaca*

Akaya: RajiFict kali ini, akan membahas Review dari para pembaca 'Kazoku' yang beru kemarin terbit. Hai' douzo!

Aiko: Kami beri kehormatan pada AoRyuto-senpai sebagai yang pertama Repiu~~

*buka kertas*

Akaya: Karena beberapa review bersifat privasi, kami langsung jawab saja ya~

Aiko: untuk AoRyuto-senpai ~~

Pertama, saya ini jadi sepupunya Gen-nii hanya dalam cerita saja kok... ^^ Lagian, siapa juga yang mau pnya kakak sebodoh dia... *dipotong kecil-kecil sm Sanada terus dibuang ke laut*

Kedua, wah, Senpai suka lagu instrumen?? Saya juga lagi cinta lagu instrumen... apa aja, asal jangan instrumen senam... ^^;

Untuk sarannya, arigatou banget! Sangat membantu!! Umm... kenapa yaa?? Mungkin karena ini FanFic, jadi Aka-chan dapat berkata demikian. Ne~ Aka-chan??

Akaya: He?!

Aiko: Jangan bengong!! *jitak pake sendal* okeh, selanjutnya... Sepertinya Aoryuto-senpai sedang 'menjalani' sebuah fanfic juga, maka kami ucapkan, selamat berjuang! Selamat menempuh fanfic baru!! XDD

Akaya: Selanjutnya daru Sayu-senpai ~ douzo!

Aiko: *baca* Adewh~ Ojo bikin aku malu gitu tho senpai~ isin aku~ isin~ *bahasa jawa yg kacau*

Jadi malu, tapi... terima kasih untuk repiunyah, saya akan berusaha lebih baik lagi untuk selanjutnya!! Matur nuwuun~~~

Akaya: Dari Karupin-senpai ~~~ (nick: )

Aiko: Hai' Senpai~ Ini lanjutannya~ Silahkan dinikmati~

Jangan lupa untu review lagi yaaa~~ *bows*

Akaya: Dan yang terakhir~~~~

Aiko: Dari Frejahimitsu-san ! Saya baca yaa~~

Ahah, maafkan saya atas keterlambatannya~ tapi ini update'a douzo!

Silahkan review lagi yaa~~ ^^

Akaya: sekian balasan review dari kami~

Aiko: Yup! bagi para pengirim review barusan, akan kami kirimkan segulung tulisan penyemangat yang ditulis dengan tinta khusus dibuat oleh Sanada-san!! Hadiah akan dikirim ke alamatnya masing-masing lewat paket mimpi~ *digebokin sendal*

Akaya: sekian RajiFict kali ini, mungkin akan ada interview session~ tapi.. nanti yaaa~~~

Aiko: Ahh! Hai'! Kalau tugas sekolah dan 'ultimatum' editor saya sudah di selesaikan~

Akaya: Jaa~!! Sugi no FanFic ni.....

Aiko: ... mata aimasho~~~!!

Akaya - Aiko: Jaa nee~ *wave*

~~~Ending: Porno Grafitti - Koyoi Tsuki ga Miezu Tomo~~~



Title : Kazoku

Author: Aiko desu~!!XD

Disclaimer: Pak'de Konomi yang semalem pohon durennya sayah colong~ *digorok Konomi-sensei*

eehh... salah dink... Pak'de Konomi yang semalem saya dengerin suaranya sampe ketiduran~~ :3

Based On: Oyakodon Yello Version

Genre: Family

Theme Song: GACKT - Love Letter

Current Mood: Huweeee~~ Hikz~~ Hikz~~ :(

Note: Saya minta maaf yang sedalam-dalamnya pada Genichirou-sama... Karena apa?? Baca donk, ceritanya~~ XDD *huu~!! Promosi!!*

Warning: kesalahan timeline, pengetikan, de-es-be... mohon dimaklumi, karena saya ini amatiran... ^^;

~~~~~~~Douzo!~~~~~~~


----------------------- Kanagawa, akhir Mei ---------------------------

"Sampai jumpa besok yaa~"

Hari sudah sore saat burung-burung gereja tersebut mengalunkan nyanyiannya pada sang matahari yang tengah berendam di ufuk barat.

Di Himawari Gakuen ini, selalu ramai dengan pasangan orangtua-anak yang kembali ke rumahnya masing-masing setelah menjalani hari-hari mereka saat senja tiba.

"Besok datang lagi ya~" Niou melambaikan tangannya, lalu kembali ke dalam kelas -- pada sosok yang tengah terduduk menanti.

"Sabar ya, Aka-chan... Sebentar lagi Papa mu pasti datang," hibur Niou pada sang murid.
"Ttou-san selalu telat," jawab Akaya pendek -- ketus.

Tiba-tiba Niou teringat sesuatu. Lalu ia beranjak dari hadapan Akaya. Tak butuh waktu lama bagi Akaya untuk menunggu. Niou kembali dengan dua buah mangkok kecil seukuran puding.

"Aku punya yoghurt loh... Kau mau??" tawar Niou.
Akaya menjawab dengan anggukan kecil.
"Kau mau yang mana??" tanya Niou.
"Yang rasa anggur,"

Niou tersenyum melihat kepolosan murid satunya ini.

"Baiklah, aku yang rasa jeruk yaa,"

Lalu mereka berdua menikmati yoghurt tersebut dengan suasana hening senja.

"Ne~ Aka-chan... Memakan yoghurt itu bisa membantu pertumbuhan tubuh loh~" papar Niou.
"Sungguhkah??" Akaya terpancing topik pembicaraan sang guru.
"Yup! Lihatlah aku! Tinggi kan??" pamer Niou sambil berdiri.
Akaya takjub dengan tinggi Niou -- yang emang dasarnya keturunan jangkung, sepuluh kali lebih tinggi darinya.

(Kayak iklan Yoghurt jadinya... ==")

"Permisi," ada seorang pengganggu tiba-tiba muncul ditengah-tengah obrolan murid-guru ini.

Niou langsung beranjak menghampiri tamu tersebut, "ya, ada yang bisa saya bantu??"

"Saya ingin menjemput Aka-chan," senyumnya lembut sembari menoleh pada Akaya.

Akaya mengenali sosok tersebut. Tanpa dipanggil Niou-sensei pun, ia langsung menyambut sosok tesebut, "Okaa-chaaan~!!" Akaya langsung menggabruk sang mama.

"Aka-chan?? Sudah menunggu lama ya??" Seiichi tertawa saat melihat sang anak hanya bisa memeluk sebatas pahanya.

"Seiichi-san??" Niou takjub melihat sosok Seiichi yang ada dihadapannya.

"Ah, Niou-sensei... Terima kasih sudah menjaga Akaya selama ini,"
"Ah, sama-sama... Ano, apakah... Kesehatanmu sudah pulih?"
Seiichi tertawa, "sudah, terima kasih,"

Niou mengangguk, "jaa, Aka-chan... Ayo bereskan barangmu,"


Entah mengapa, perjalanan pulang kali ini terasa menyenangkan bagi Akaya. Walau hanya berjalan berdua dengan sang bunda, namun genggaman yang sekarang ia rasakan sehangat mentari sore itu.

"Tadi aku belajar melipat bunga loh, Kaa-chan," cerita Akaya sepanjang perjalanan pulang.
"Oia?? Coba kulihat,"
Akaya mengeluarkan sebuah origami berbentuk bunga lily.

Di ambilnya origami dari kertas orange buatan sang anak, "waaah... Cantiknya~" Seiichi mengagumi origami buatan sang anak yang masih gragas-greges sana sini.

"Tapi aku masih belajar kok, Kaa-chan,"
"Kalau begitu, nanti ajari mama untuk membuatnya yah,"


Suasana yang begitu tenang di kediaman Sanada. Seiichi baru saja menidurkan Akaya dalam pangkuannya sembari menunggu sang suami pulang di beranda belakang rumah yang menghadap ke taman kecil milik kediaman ini. Begitu damai... sampai...

"Akiko!"

Satu gebrakan pintu sempat membuat Akaya melenguh dalam tidurnya. Namun Seiichi segera menenangkannya untuk terlelap kembali.

"Gen-chan..." gumam Seiichi mengurut dada pelan.

Tiba-tiba terdengar pintu menuju beranda dibuka secara kasar. Seiichi menoleh kebelakang dan mendapati sang suami dengan wajah garangnya.

"Aki-chan sudah pulang, Gen-chan..." senyumnya sembari tangannya menyisiri rambut wakame sang anak.

"Seiichi??" bahu Genichirou turun perlahan -- amarahnya mulai reda tandanya.
"Okaeri, Gen-chan," Seiichi tersenyum hangat.
"Kau sudah pulang??" Genichirou memandang takjub sang Istri, "mengapa tidak bilang padaku?? Lalu kau pulang dengan siapa?? Lalu, bagaimana......" jari telunjuk yang Seiichi tempelkan pada bibir Genichirou menghentikan berondongan pertanyaannya.

"Daripada menanyakan kepulanganku, lebih baik bantu aku memindahkan Aka-chan ke kamarnya," pinta Seiichi karena pahanya sudah berasa kram karena Akaya makin lama makin berat.

Genichirou pun membawa sang anak diatas pundaknya menuju ke kamarnya. Ditidurkannya Akaya diatas ranjang putih tersebut. Seiichi memandang teduh wajah Akaya yang tidur dengan pulasnya. Akaya tertidur dengan Ayah-Ibu di kedua sisi kasur empuknya. Seiichi merebahkan dirinya disamping sang anak dengan suami yang tidur di sisi lain sang anak.

"Sudah lama ya, kita tidak seperti ini..." Seiichi memandang lekat wajah Akaya yang lebih mirip sang papa.
Seiichi menoleh pada sang suami saat sadar kalau jemari Genichirou tengah memainkan rambut birunya.

Seiichi tersenyum -- mengerti kalau masih ada pertanyaan sang suami yang belum dijawabnya.

"Aki-chan yang mengantarku pulang, Gen-chan~"
"Lalu mengapa tidak mengabariku??"
"Makanya... Rajin-rajin menjengukku donk,"

Genichirou terdiam; menunduk bersalah. Ia sadar, akhir-akhir kemarin, ia semakin jarang menjenguk sang istri.

"Aku bercanda Gen-chan~" diraihnya tangan sang suami, dan ditempelkannya telapak tangan itu di pipinya, "aku hanya ingin membuat kejutan untuk kalian..."

Genichirou merasakan sebuah perasaan hangat lebih dari mentari pagi yang menyinari dirinya saat latihan pagi -- sang istri tengah bersama dirinya dengan Akaya. Ia merasakan sebuah keluarga yang utuh.

"Mengapa tadi teriak-teriak??" ucapan sang istri membuyarkan fantasinya sejenak.
"Aku... khawatir sekali," wajah Genichirou bersemu merah.

Ada yang disembunyikan sang suami, Seiichi tahu itu, "khawatir kenapa??" senyumnya simpul.

"Sewaktu aku mampir ke tempat penitipan, penitipan sudah tutup. Biasanya penitipan akan selalu buka selama masih ada anak yang belum dijemput. Kupikir Akaya diajak Niou-sensei. Saat kutanya dia, Ia menjawab Akaya sudah di jemput dengan seseorang. Saat itu... saat itu aku takut kalau Akaya dibawa pergi seseorang," tutur Genichirou panjang lebar sama dengan luas.

"A~aaahh~ Gen-chan perhatian juga dengan Aka-chan~" Seiichi tersenyum menggoda sang suami.
"Tentu saja perhatian! Dia kan anak kita!!" semburat merah di pipi Genichirou makin nyata.

Seiichi menarik wajah sang suami dan didekatkan pada wajahnya, "terima kasih untuk bersusah-payah menjaga Aka-chan selama ini," ucapnya sesaat sebelum mengecup dahi Genichirou.

"Tidak usah berterima kasih... Karena... ada sebagian dirimu dalam Akaya... Dirimu yang begitu kucintai..."

(author: gombal luh!!
Sanada: yang nulis siapa?! *malu setengah mampus*)

Seiichi terpana dengan lantunan puisi polos yang diutarakan sang suami, "aih! Gen-chan!!" pekiknya sembari memeluk Genichirou, "lihat deh, Aka-chan selalu tidur sendirian~ kita berikan dia seorang adik yu~uk,"

"Seiichi, jangan di sini!!"

------------------------- Kanagawa, Mei 21st ------------------------------

Genichirou terbangun dengan tarikan lembut di yukata tidurnya. Akaya-lah yang menariknya saat dirinya membuka separuh matanya.

"Ada apa, Akaya??" Genichirou kembali menenggelamkan wajahnya dalam bantal.
"Ttou-san bangun deh..." pinta Akaya.

Genichirou mengerang, "tidak sekarang, Akaya... Papah masi ngantuk," Genichirou menutupi tubuhnya kembali dengan selimut tebal.

Nampaknya Akaya mengerti. Ia berhenti mengganggu sang Ayah dan pergi keluar kamar.

53 menit kemudian...

Genichirou terbangun dengan sinar mentari yang kian menyengat.

"Jam 9.18..." gumamnya saat melihat jam dinding yang terpaku diatas tempat tidurnya.

Hal pertama yang dilihatnya adalah sang istri yang tengah sibuk mengurus tanaman hiasnya. Kangen, mungkin, karena selama Ia di Rumah Sakit hanya pelayan-pelayannya yang mengurus tanaman-tanaman tersebut -- Akiko, terkadang, yang sibuk mempreteli daun-daun kuningnya dan menebar pupuk serta menyiramnya.

Genichirou memutar badan, hendak turun dari kasurnya dan mulai menjalani hari liburnya dengan tenang. Namun, ia menemukan sesuatu diatas meja yang Ia letakkan disamping tempat tidurnya tersebut.

Ia menemukan segelas teh yang tak lagi berasap -- sudah dingin tandanya, yang menindih secarik kertas. Untuk menjawab pertanyaan yang ada dalam kepalanya sekarang, Ia pun meraih gelas tersebut, dan membuka lipatan kertas tersebut.

"Selamat Ulang Tahun, Ttou-san..."

Huruf-huruf yang masih berbentuk hiragana tersebut ditulisnya dengan crayon warna-warni, dengan gambar seorang wanita dengan seorang pria yang tengah menggandeng seorang anak kecil ditengah-tengahnya. Rambut keriting anak tersebut mengingatkan Genichirou pada Akaya, sedang rambut biru wanita tersebut menggambarkan Seiichi dalam ingatannya. Hiragana yang masih acak-acakan dengan tanpa komposisi keindahan shodo di dalamnya, memvonis kalau ini asli coretan tangan Akaya.

Genichirou langsung bangkit dari kasurnya, dan mencari sang anak. Dari ujung koridor barat menuju ujung koridor timur. Dari depan kediaman Sanada hingga ke bagian belakang gudang. Namun sang anak tidak ditemukannya. Putus asa, akhirnya Genichirou memilih 'lapor' pada sang Istri yang tengah tenggelam dalam 'surga pribadinya' -- kebun bunga kecilnya.

"Mana Akaya??" tanyanya tanpa basa-basi.

"Lho?? Gen-chan tidak tahu??"

Genichirou menggeleng polos.

Seiichi takjub tak percaya, "sejam lalu, Aki datang kemari untuk mengajak Akaya bermain,"

"Lalu??"

"Lalu apa??" Seiichi berkacak pinggang.

"Lalu Akaya dimana??"

"Ya di rumah Aki-chan lah, Gen-gen~~"

(panggilan lama saya untuk Genichirou semasa saya masih cinta dengan Mas Kane. Walau sekarang pun masih cinta, namun nampaknya Ouji mendapatkan porsi hati saya lebih banyak dari Kane-tan. Tapi, Kane-chan~ kau tetap selingkuhan terbaikku~~~ *ditampol centong*)

Tanpa adu mulut lebih lanjut lagi, Genichirou langsung berniat langsung menjemput sang anak. Dengan mandi terlebih dahulu tentunya. "Kalau gak mandi~ awas ya mas~~~ tak cium koe~~" *niru gaya Aming* *disosot katana*

Butuh persiapan 15 menit untuk mandi dan segala macem sebelum akhirnya Genichirou menemukan kunci mobilnya yang selama 20 menit Ia cari-cari. (Jadi total waktu 35 menit dari sebelumnya. Jika dikalikan dengan detik, berarti menjadi..... *kok jadi hitung-hitungan sih???*)

Baru saja dirinya membuka pintu utama untuk live menuju muka rumah, dirinya sudah melihat kedua sosok yang barusan diceritakan sang istri nampak dari balik gerbang.

"Akaya??"

Sosok wakame kecil tersebut pun langsung melihat sang ayah yang masih belum sisiran.

(author: Iih~ Gen-gen seksi deh, kalo belum sisiran~~~

Sanada: *narik Katana*)

"Ttou-san!!" Akaya langsung berlari menghampiri sang Ayah dengan berlari. Nampak dibelakangnya sang adik sepupu tersenyum gemas melihat langkah kecil yang dititi sang keponakan.

"Selamat Ulang Tahun!!" Akaya langsung menggabruk dirinya walau hanya sampai sebatas lutut, "tadinya aku ingin mengucapkannya pagi-pagi sekali~ tapi Ttou-san masih mengantuk. Ya sudah~" bibir Akaya maju sesenti.

Mau tak mau Genichirou yang biasanya kaku, tersenyum pada sang anak. Lalu ia berlutut di hadapan sang anak -- mensejajarkan tinggi mereka, "terima kasih ya~"

"Un!!" Akaya kembali memeluk sang Ayah.

"A~ahh... setiap hari saja kulihat pemandangan seperti ini~~~" goda Akiko.

"Mau ku peluk kau??" Genichirou agaknya kembali ke tabiat awalnya.

"Tak mau. Yang ada, mungkin tulangku akan menjadi remuk kalau kau yang memeluknya... aku kan hamster imut~~~" Akiko merubah mimiknya dengan 'puppy eyes'

"Kau menjijikan," ucap genichirou setelah menutup kedua telinga Akaya -- agar tidak mendengar perang mulut murahan diantara mereka.

"Beraninya kau mengatai adik sepupu-mu sendiri 'menjijikan' hah?!"

"Ne~~ Neee~~ Jangan bertengkar di depan pintu ah. Masuk ke dalam yuk, aku sudah menyiapkan teh hangat," ucap Seiichi yang tiba-tiba muncul.


Sampailah mereka di ruang makan utama. Nampaklah sesuatu yang mungkin tak nampak pada hari-hari biasa -- sebuah kue tart ulang tahun.

"Aku yang membuatnya loohh~~" ucap Seiichi bangga.

Namun Akaya, Genichirou, dan tak lupa Akiko hanya bengong tak berdaya. Bukan tanpa masalah namun kue tart tersebut....

"masih polos," ucap Akiko menanggapi keganjilan tersebut.

Seiichi tertawa, "ah! Kalian ini tidak peka deh," dirinya berjalan ke arah kulkas dan mengeluarkan sekeranjang buah-buahan dan sesuatu yang berwarna-warni lainnya, "ayo, kita hias bersama,"

Akiko dan Akaya langsung menghambur ke arah Seiichi sementara Genichirou berdiri mematung.

"Seharusnya ini menjadi surprise untukku... mengapa aku jadi ikutan menghias??"

Saat Akaya asyik menghias tart bersama sang bibi, Seiichi menyadari kalau sang suami malah bengong...mematung...

"Ih, daripada melamun, lebih baik kita duduk-duduk di teras," Seiichi menarik sang suami ke teras belakang.

"Tapi..." Genichirou takut meninggalkan sang anak dengan adik sepupunya itu.

Bukan karena apa-apa. Hanya saja, Genichirou khawatir area ruang makannya yang penuh gaya artistik dan unik -- yang dirancangnya langsung, menjadi 'medan perang' Akaya-Akiko seperti halnya kebun mungil Seiichi yang tanpa dosa tersebut porak-poranda beberapa waktu lalu -- saat sang istri masih dirawat di rumah sakit.

Jadi, hingga detik ini Seiichi belum mengetahui kalau 'surga kecilnya' ini pernah luluh-lantak karena ulah kedua makhluk tersebut. Walhasil, 2 minggu dihabiskan Genichirou untuk mengawasi 'penataan ulang' kebun sang istri sekaligus mengharamkan anak dan adik sepupunya itu untuk saling bertemu.

(author: kayak Romeo dan Juliet...)

"Sudah, percaya saja pada mereka..."


"Ini tehnya," Seiichi menghidangkan teh hangat pada Genichirou yang duduk duluan di teras.

"Seiichi..." Genichirou membisikkan nama sang istri.

Dengan begitu, Seiichi pun menoleh, "hm??"
"Aku... Semakin tua ya??" gumamnya.
Seiichi malah mentertawai pengakuan sang suami.

"Sudah lima tahun kita bersama..." gumaman Genichirou selanjutnya membuat Seiichi terdiam, "apa kau bahagia hidup denganku??"

Sejenak mereka terdiam. Hening. Sesekali terdengar suara pekikan Akiko yang diselingi suara jeritan Akaya.

"Kenapa Gen-chan tanyakan itu??" tanya Seiichi dengan nada kecewa.
"Tidak apa-apa... Hanya... aku hanya merenungi ulang tahun ku saja. Apa yang selama ini telah kuberikan padamu...? Kesusahan? Atau......"

"Aku bahagia hidup dengan Gen-chan," Seiichi memotong langsung perkataan sang suami, ".... sangat bahagia," senyumnya.

Genichirou terpaku pada pendaran amethyst ungu yang ada dalam mata sang istri. Seiichi tersenyum dan memeluk sang suami. Didekatkan dagunya dengan kepala Genichirou yang menempel pada dadanya, "Genichirou adalah pemberian terindah dalam hidupku... Maka itu, jangan berpikir kau tak pernah membahagiakanku," bisiknya mesra.

Genichirou membalas ucapan sang istri dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Seiichi yang kecil, "terima kasih, Seiichi,"

"Selamat ulang tahun, Genichirou..." Seiichi mengecup dahi sang suami.

Begitu Seiichi menatap wajah Genichirou, yang ada ia mendapat protes dari sang suami dengan bibir Genichirou yang mengerucut, "hanya di dahi??" Genichirou ngambek.

Seiichi tersenyum mengerti, "iya... iya..."

Didekatkannya wajah mereka hingga terasa hembusan nafas mereka pada permukaan kulit wajah masing-masing.

5 senti...

3 senti...

1 senti...

0.5 senti...

Dan..........

"Seiichi-chaaaann~~~!! Aka-chan menghabiskan kue nyaaa~~!!" teriak Akiko tiba-tiba.
"Bohong! Aki-nee juga ikut menghabiskannya!!" teriak Akaya tidak mau kalah.
"Tapi aku kan hanya mencicipi!"
"Apaan?! Selai cokelatnya habis gara-gara Aki-nee tauk!!"
"Aka-chan juga menghabiskan buahnya!!"

Kedua suami-istri ini saling berpandangan setelah akhirnya menghela nafas panjang akibat ulah kedua makhluk itu.

"Biar kubereskan," Genichirou beranjak untuk menghukum para penghancur kue ulang tahunnya.

Seiichi shock terdiam. Kue polos yang dibelinya dengan uang belanja yang tadinya akan digunakan untuk membeli lipstik baru, ludes begitu saja sebelum dirinya ikut mencicip.

"Hentikan!!" satu bentakkan Genichirou menghentikan perang murahan tersebut.

Seiichi yang tiba-tiba datang, langsung mengusap bahu sang suami -- menghentikan hukuman Genichirou tingkat lanjut yang dapat menyebabkan Akaya menangis atau Akiko mengadu padanya sampai seharian.

"Ne~ Gen-chan, maafkan aku ya... Kue nya jadi rusak,"

Kalau begini urusannya, Genichirou tidak bisa marah.

"Aki, kau tunggu aku di ruang 'sadou'. Akaya, masuk kamar!"

Tanpa membantah Akiko dan sang keponakan langsung menuruti perintah kepala keluarga Sanada tersebut -- demi kedamaian hidup mereka di dunia dan akhirat.

Genichirou terduduk tanpa kata. Dipandanginya serpihan-serpihan cake nya. Seiichi masih tetap menempelkan tangannya pada bahu sang suami -- menenangkan Genichirou.

"Ah, sudahlah Seiichi... Coretan tangan Akaya, ucapan selamat pagi Akiko dan kecupanmu... sudah menjadi hadiah terbaik kali ini..." senyumnya.

Seiichi tidak kehabisan akal. Ia menemukan seutas pita merah di atas meja makan -- satu-satunya benda yang tidak dilahap oleh sang anak dan adik iparnya tersebut.

Genichirou terdiam mengamati hal yang diperbuat sang istri terhadap pita merah tersebut. Awalnya hanya ditatap dalam oleh sang istri. Namun akhirnya di lingkarkan dileher.... ditarik melewati rambut biru ikalnya... lalu ditautkan satu sama lainnya, daan...

"Bagaimana kalau aku sebagai hadiahnya??" ucap Seiichi dengan pita merah diatas kepalanya.

Genichirou tersenyum menahan tawa. Selalu ada saja hal yang diperbuat sang istri -- yang melampaui batas imajinasinya.

Genichirou beranjak dari duduknya, "aku akan 'memakanmu' nanti, aku masih ada persidangan untuk dilakukan..." bisiknya sambil berlalu menuju ruang 'sadou'

(author: Kalo Secchan main course-nyah, sayah dessert'a yah, Sacchan~~ XD

Sanada: Iye, dessert yang bakal gue pelototin terus dibuang ==")


"Seharusnya kau meminta maaf pada Seiichi, bukan aku," ceramah Genichirou, denga Akiko duduk bersimpuh dihadapannya.

"Iya, aku akan meminta maaf padanya..." Akiko tertunduk bersalah.

"Baguslah kalau kau sadar," Genichirou sedikit menurunkan bahunya, "nanti malam, aku berencana makan malam diluar dengan Seiichi, kau mau ikut??"

"Dengan Aka-chan kah??"

Genichirou mengangguk.

"Tidak, malam ini aku ada janji..." tolaknya dengan nada menyesal.

"Dengan.......???" Genichirou mulai bernada interogasi.

"Heeeii~~ Itu bukan urusanmu~~~~~"

"Setidaknya aku tahu siapa,"

"Aku ini sudah 20 tahun, Nii-saannn~~" ternyata, Genichirou selalu kalah dalam adu mulut, "jangan bersikap kolot deh,"

Genichirou hanya bisa 'rolling-eyes' menanggapi kelakuan ajaib adik sepupunya ini.

"Oia, selamat ulang tahun kakak..." Aki menyerahkan sekotak kecil berbungkus cokelat.


Genichirou kini menapaki lantai kayu menuju kamar sang anak -- sebelum akhirnya ke kamarnya untuk menemui sang istri, untuk berceramah bagian kedua.

--- SRAAKKK~!!

Pintu di buka dan....

"Seiichi??" Genichirou malah menemui sang istri di dalam kamar anaknya -- yang sedang didandani sang istri dengan pita merah dirambutnya.

"Akaya sedang diapain??" Genichirou sibuk menerjemahkan hal yang sedang dilakukan sang istri.

"Mama bilang, kita berdua saja yang menjadi hadiah ulang tahun Papa~"

Genichirou langsung melempar pandang pada sang istri yang tersenyum polos.

Satu nafas panang dihela olehnya, "aku... mau tidur siang saja," Genichirou ngambek karena tak berhasil menjadikan Seiichi hanya berduaan dengannya.

"Heee~~~ Gen-chaann~~ Ini masih jam sepuluh loohh~~~~"


Aiko no Note:

Huah, Minna~~!! Aiko desu!! XD *did u miss me??*

Kembali lagi saya melanjutkan seri Kazoku ini... X3

Maaf ya, agak lama... lagi masa-masanya frustasi niihh~~ _ *curhat colongan*

Maaf, kalo ceritanya jadi melankolis gene, terbawa suasana hati akhir-akhir ini seehh~~ ^^ *curhat lage~~*

Saya minta maaf pada Genichirou-sama, karena ultahnya saya cepetin~~ *ditabok raket nyamuk* Jadi, pas 21 Mei, gue udah utang lunas yeee~~ *utang lunas?? kayak nama perancang baju~~ itu Itang Yunaz, bodoh~* (kacau nih, si Iko...)

Jaa, sampai di sini dulu, silahkan Review... ^^

Lanjut? Ataukah selesai?? Tergantung pembaca yang menentukan ^^

Sebenernya sih, mau bkin cerita sampai Akaya umur 15-16 tahunan laahh~~

Nah, disitu akan terungkap, siapakah pacar Akiko~~ *jadi malu*

Tapi kalau gak lanjut, yaa... daijoubu~ berarti saya konsen ke editor ^^v

Ahahah, mata kondo kitto ganbarimasu!

Mata aimashou ne?

Minna no Review ga honto ni~ onegaishimasu!

With all my melancholy~

~Aiko~