The Secret of Boy
By Fan_dio
Cast : Do Kyungsoo, Kim Jongin, Exo member, Kpop, Kdrama dan Kmovie
Genre : Drama and Romance
Warning : This is Yaoi (BL) , Author newbie, maaf kalau Typo berserakan
= Selamat Membaca =
o…o…o…o…o…o…o…o…o…
Author note :
Sebentar lagi Dio akan menggunakan nama aslinya, yaitu Do Kyungsoo. Mohon reviewnya setelah baca chap ini
o…o…o…o…o…o…o…o…o…
.
.
Di sekolah anyang high school,
Dio membuatkan teh untuk para guru-guru disekolah tempat dia bekerja, dengan telaten dia menyeduhnya dan segera mengantarkannya keruang guru.
"aku turut berduka cita atas kematian appa mu, kamu yang sabar" ujar salah seorang guru bahasa inggris bernama Victoria, ketika Dio melintas diruang guru
"terima kasih saem, aku pasti akan sabar" ucap Dio sembari tersenyum simpul, namun ada duka dalam senyumannya itu
"kalau boleh tahu, marga kamu apa? Setahu saya kakek Shindong tidak pernah memberitahukan marganya, dan dia memang menutup diri semenjak kematian istrinya beberapa tahun silam" Tanya Victoria dengan mimik sedih, sudah lama dia ingin menanyakan pertanyaan ini kepada Dio sebagai anak angkat penjaga sekolah, dan baru kali ini dia memberanikan diri bertanya langsung
"hmm… aku tidak mempunyai marga saem, sejak kecil appa hanya memberitahu namaku adalah Dio, nama yang singkat dan lucu dan aku menerima nama itu, namun ketika margaku yang aku tanyakan kepada appa, dia selalu mengalihkan perhatian dan berlalu" sedih Dio seraya menundukkan kepalanya.
"maaf jika pertanyaan ini menyakitimu" sesal Victoria
"tidak mengapa saem, kalau begitu aku permisi ke dapur dapur, masih ada yang harus ku kerjakan" ujar dio lalu membungkukkan badan dan lekas berlalu, Victoria hanya menggangguk sebagai jawaban.
Dio berjalan melewati dapur, tujuannya sebenarnya ingin menuju kamar sempitnya dibelakang sekolah. Dio ingin menangis lagi karena mengingat kematian ayah angkatnya. Dia membuka pintu kamarnya dengan perlahan dan bunyi derit pintu yang telah karatan menyambutnya, dia telah terbiasa dengan bunyi tersebut, bertahun-tahun dia lalui ditempat ini. Dan dia berterima kasih kepada Lee sooman sang kepala sekolah abadi, sekaligus pemilik sekolah swasta tersebut. Sebenarnya si sooman ini ingin menyekolahkan Dio secara penuh dan menggratiskan biaya sekolahnya, namun Dio menolak secara halus tawaran tersebut dengan alasan dia sudah cukup bersyukur tinggal di rumah atau tempat ini dan tidak perlu melanjutkan sekolahnya. dia bersikeras menyewa tempat tersebut dan tidak ingin diberikan secara percuma. Dia membayar sewa tersebut dengan gajinya sebagai penjaga sekolah. Maka dari itu sooman memberikan sewa yang sangat murah untuk dio dan dio juga setuju dengan hal tersebut.
Dio menatap tumpukan barang-barang ayahnya yang selalu rapi tersebut, tidak terasa air matanya meleleh juga, dia teringat kenangan bersama ayah angkatnya itu, yang selalu ada untuknya, membesarkannya sewaktu masih umur 2 tahun, memberikan kasih sayang seorang ayah sekaligus menjadi ibu baginya. Dio beranjak untuk membuka laci lemari bagian bawah, disana terdapat barang-barang pribadi ayahnya yang tidak pernah dia sentuh, kali ini dia berani membuka laci itu untuk melihat dan membereskannya. ada berbagai macam tumpukan kertas, piagam yang sudah usang, potongan koran bekas, beberapa lembaran uang won yang sudah tidak berlaku lagi dan sebuah amplop. Dio menatap amplop itu lekat-lekat. Tertulis disampul depan amplop itu 'untuk anakku tersayang'. Apakah ini untuk dirinya? Batin dio. Dengan bersemangat dia membuka amplop putih itu yang warnanya tidak sepenuhnya putih lagi, terlihat noda kekuningan disana sini, yang menandakan amplop dan isinya telah lama ditulis. Dio menarik kertas yang hanya selembar itu dan membaca isinya dengan seksama
Untuk anakku
Yang tersayang
'Mungkin ketika kamu membaca surat dari appa ini, appa sudah tidak ada lagi didunia ini. Appa akan memberitahukan beberapa hal mengenai masa lalu mu, namun sebelum itu yang harus kamu ketahui, appa sangat mencintai dan menyayangi kamu, appa harap kamu juga menyayangi appa dan rasa sayangmu itu tidak berubah ketika membaca surat appa ini. Nama asli kamu adalah Do Kyungsoo. Informasi ini appa peroleh dari rumah sakit tempat appa dan omma kandungmu dirawat sebelum meninggal. Jika kamu berkenan, kamu bisa menemui seseorang yang bernama Lee Seunggi. Dia bekerja sebagai seorang dokter dirumah sakit itu, kamu bisa mencari tahu mengenai masa lalu dan keluargamu kepadanya. Dan appa harap setelah ini, kamu akan menggunakan nama Do Kyungsoo, margamu adalah Do. Appa mohon maaf, karena selama ini tidak jujur kepadamu mengenai masa lalumu, appa belum siap akan hal ini. Appa takut kamu akan meninggalkan appa saat kamu mengetahui margamu sebenarnya. Hanya kamu satu-satunya yang appa punya. Sekali lagi maafkan appa. Appa tahu penyakit asma akut yang appa derita tidak lama lagi mengambil nyawa appa dan disaat appa pergi, appa mohon jalani hidup dengan normal dan appa sekali lagi memohon maaf tidak meninggalkan harta untukmu. Akhirnya appa hanya bisa mendoakanmu bila appa sudah sampai kesurga nanti dan jangan lupa gunakan nama asli mu, DO Kyungsoo'
Dari appa yang mencintai mu…
Air mata Dio tidak bisa terbendung lagi, tadi sebelumnya dia menangis dan kini dia menangis lagi, tangisannya malah semakin keras dan pilu. Namun dia bersyukur ayahnya telah jujur kepada dirinya. Dan detik ini dia bertekad menggunakan nama aslinya Do Kyungsoo, sesuai dengan permintaan ayahnya. Kyungsoo melipat kembali surat itu dan memasukkannya kedalam amplop kembali. Dia menyeka air matanya, pikirannya masih gundah dan kalut. Apakah dia akan mencari seseorang yang bernama seunggi itu ataukah mengurungkan keinginannya mengetahui siapa orang tua kandungnya, walau memang orang tua kandungnya telah meninggal, paling tidak dia bisa melihat foto atau mengetahui nama asli orang tuanya.
.
.
o…o…o…o…o…o…o…o…
Sesi pelajaran sekolah telah lama berakhir, yang tertinggal hanya anak-anak yang mengikuti eskul olahraga, seperti volley dan basket. Pekerjaan rutin kyungsoo juga telah selesai. Seperti biasa Kyungsoo menginjakkan kakinya keluar pekarangan sekolah untuk membeli bahan makanannya untuk beberapa hari, dia berharap dengan keluar sejenak kesedihannya bisa lebih berkurang. dia menggunakan sepeda buntutnya kali ini dan tidak lupa dia memakai topi dan kacamata sebagai samaran atas penampilannya. Kali ini kyungsso waspada, pengalaman mengajarinya, diluar sana siapa yang tahu, bila pria-pria berbaju hitam akan mengejar kembali. Kyungsoo tidak habis pikir, untuk apa dia di incar, sudah tiga kali dia mengalami adegan pemburuan, serasa seperti kancil saja dirinya yang diburu oleh pemburu liar.
Kyungsoo mengayuh sepedanya sambil bersiul dan menyanyikan lagu berjudul 'what is love', milik penyanyi favoritnya. Setelah sampai dan memarkir sepedanya, dia bergegas masuk kedalam minimarket didepannya. Dia memilih berbagai jenis bahan makanan dengan harga murah tentunya dan juga es krim favoritnya. Kyungsoo keluar sambil membawa belanjaannya yang memang tidak banyak itu, mengambil sepedanya dan mengayuhnya dengan tempo yang sedang. Namun tanpa sadar, dia tidak memperhatikan mobil yang melaju di depannya dan sial dia menabrak mobil itu atau jelasnya mobil itu menabrak sepedanya, kyungsoo terpelanting jatuh dan sepedanya penyok tidak berbentuk. Kyungsoo meringis kesakitan dan memegang telapak tangannya yang sakit mencium aspal dengan lumayan keras.
"maaf, aku tidak sengaja" seru si pemilik mobil yang menabrak kyungsoo, dia bergegas keluar dari mobil untuk membantu kyungsoo berdiri.
"kamu tidak apa-apa?" ujarnya lagi seraya memegang lengan kyungsoo.
"aku tidak apa-apa" jawab kyungsoo lirih, dia kaget dengan insiden yang tiba-tiba ini, dia melirik belanjaannya, Hatinya kecut melihat telur yang dia beli sudah pecah dan menyatu dengan pasir diaspal, dan jangan lupakan dengan minyak goreng curahnya yang sudah tumpah, ditambah lagi dengan es krimnya yang ber say goodbye padanya.
"aku akan mengganti semua belanjaanmu yang terjatuh itu" ujar si pemilik mobil seakan tahu kesedihan hati orang yang ditabraknya.
"eh.. tidak usah, aku yang salah, tidak lihat-lihat jalan" ujar kyungsoo merasa risih, karena terus dipandangi oleh orang tersebut.
"dahi kamu berdarah, mari aku bawa kerumah sakit, nanti infeksi"
"benarkah" kyungsoo memegang dahinya, yang memang mengeluarkan darah, ternyata dia tergores ranting tajam ketika terjatuh dengan pose menelungkup.
Kyungsoo membuka topinya dengan iringan angin yang memberikan efek slow motion, setelah topi terbuka, nampaklah rambutnya yang lembut terjatuh, mata yang berbinar bulat serta indah dan efek ini membuat orang yang memandangnya bisa mimisan (?), tak terkecuali si pemilik mobil penabraknya yang begitu terpesona dengan wajah manis dan lugu pria didepannya ini. Dan saat ini orang itu mungkin rela untuk menukar mobilnya atau seluruh kekayaan orang tuanya untuk memiliki namja didepannya.
"wooww…" tanpa sadar si namja pemilik mobil berseru dengan kerasnya
"kenapa?" Tanya kyungsoo bingung dengan ekspresi tak terduga lawan bicaranya
"O..oo..oohh, tidak apa-apa, oh iya, perkenalkan nama ku Jongin, Kim Jongin
"Namaku Kyungso, Do Kyungsoo" balas kyungsoo sambil membungkukkan badan, dia sadar bahwa kacamatanya tadi juga ikut terjatuh, dia menoleh kesana kemari dan tampak olehnya kacamata yang sudah retak tergeletak tidak jauh dari telur-telur pecahnya, maklumlah kacamata itu murahan.
"Do kyungsoo, kyungsoo. nama yang indah, seindah orangnya" gumam jongin sembari memelankan kalimat terakhirnya.
"apa? Kamu bilang apa?
"ah tidak, sebaiknya kita kerumah sakit saja, setelah itu kita ke supermarket untuk membeli belanjaanmu yang terjatuh itu, ibumu pasti akan marah, ayo" ujar jongin sambil memegang dan sedikit menarik tangan kyungsoo. Kyungsoo yang diperlakukan seperti itu, hanya malu-malu dan membiarkan tangannya dipegang
"ahh, tidak usah. ini bukan salahmu sepenuhnya, sebaiknya aku membersihkan lukaku saja ditoilet, itu sudah cukup dan jangan berlebihan" desah kyungsoo dan menarik sedikit tangannya yang masih digenggam oleh jongin.
Kyungsoo bergegas berlari menuju toilet umum yang memang berdekatan dengan insiden jatuhnya. Dia cepat-cepat mengambil air dan mengusap luka didahinya, rupanya luka itu tidak dalam dan hanya sedikit perih saja. Kyungsoo masih sibuk membersihkan lukanya dan pada saat bersamaan jongin datang dan membawa sesuatu yaitu saputangan bersih (yang mirip handuk kecil), obat merah dan plester luka.
"jangan bergerak, aku akan membersihkan lukamu dengan ini dan menempelkan plester luka" jongin langsung saja membersihkan luka kyungsoo tanpa persetujuannya, dia dengan lembut mengusap luka itu, meneteskan obat merah dan menutup lukanya dengan plester luka. Kyungsoo hanya diam saja, tapi yang jelas mukanya sekarang ini menjadi merah padam dan malu, dia diperlakukan dengan lembut oleh orang asing yang baru saja dia kenal, layaknya sepasang kekasih.
"jangan pasang tampang 'cengo' begitu, ini aku ambil di mobilku sendiri, di mobilku memang tersedia kotak P3K sebagai antisipasi kejadian seperti ini"
"…."
"kenapa diam saja?"
"jadi aku harus bagaimana?"
"sesekali bicara, atau apalah. Beres. Lukamu sudah tertutup sempurna"
"terima kasih"
"sama-sama, baiklah kalau begitu ayo kita ke supermarket, tanggungjawabku belum selesai"
"aku bilang tidak usah, aku langsung mau pulang saja, lagipula masih ada belanjaan yang tersisa dan masih bisa dibawah pulang"
"apa ibumu tidak marah?"
"aku tidak punya i….. ah, eee.. ibuku orangnya pengertian dan dia tidak mungkin marah dengan hal seperti ini..he..he" kyungsoo tertawa kaku
"kenapa kau selalu menolak? Aku bukan orang jahat"
"kamu juga kenapa selalu memaksa? Aku kan bilang tidak apa-apa"
"aish.. kamu ini keras kepala"
"sudah ya, aku mau pulang, selamat tinggal jongin" kyungsoo lantas berlari kecil menuju arah letak sepeda dan belanjaannya yang berhamburan. Hatinya mendongkol mendapati sepedanya sudah penyok dan tidak mungkin bisa dikendarai lagi. Akhirnya dia hanya bisa memunguti barang-barang yang masih utuh untuk dibawa kerumahnya.
"biar aku antar, sepedamu sudah rusak. Nanti aku belikan yang baru" sambar jongin dan menarik paksa lengan kyungsoo menuju mobilnya, kyungsoo sayangnya hanya bisa membiarkan tubuhnya ditarik menuju mobil jongin. Kyungsoo terduduk dengan manis disamping kemudi. Dan jongin juga lekas melangkah masuk kemobilnya dan si mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
"rumahmu arah mana, soo"
"sejak kapan kamu memanggilku soo?
"sejak saat ini, eh umur kamu berapa? Aku 19 tahun"
"aku lebih tua setahun, aku 20. Aku itu lebih tua darimu dan sopanlah"
"eh, maaf hyung, aku tidak tau bila hyung itu lebih tua dari aku..he..he.."
"tidak usah pake embel-embel hyung segala, panggil nama saja, aku tidak terbiasa dengan hal itu"
"Ok.. soo kalau itu mau mu"
"Soo lagi.. so lagi…Soomay' kyungsoo agak jengkel dengan panggilan itu. Dan jongin hanya terkekeh geli, dia merasa beruntung bertemu dengan kyungsoo. Orang itu telah memberi warna dalam hidupnya, walaupun pertemuan ini baru hampir sejam. Dia bertekad akan menaklukkan hati si namja itu bermata bulat indah itu, orang pertama yang dia sukai
"belok ke kiri itu, rumahku di dekat SMA Anyang High School"
"baiklah kalau begitu"
Jongin melajukan mobilnya dengan kecepatan rendah menuju SMA yang dimaksud kyungsoo, jongin belum pernah masuk sekalipun kedaerah ini. Maklumlah wilayah bermain kim jongin adalah Mall, Cafe, tempat karaoke dan kadang diskotik atau tempat mewah lainnya. dia juga sering berkunjung keluar negeri, misalnya untuk menambah koleksi pakaian, topi, jas, sepatu dan sebagainya.
"ya.. disini saja, biar aku turun disini, terima kasih tumpangannya" kungsoo bergegas membuka pintu mobil dan secepat kilat melangkahkan kakinya turun dan berlari masuk menuju SMA rumahnya.
"sampai jumpa lagi chagi, ehh.. soo baby" teriak jongin nista, namun teriakan ini agak terdengar samar-samar oleh kyungsoo yang mulai menjauh.
"kamu akan segera menjadi milikku" desah jongin dan melihat lekat-lekat SMA tempat kyungsoo itu. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senang dan semenit kemudian menancapkan gas dan berlalu dari tempat tersebut dengan kecepatan diatas rata-rata.
.
.
o...o…o…o…o…o…o…
Jongin memarkir mobilnya sambil bersiul gembira, tak lupa dia melantunkan lagu 'Angel' milik penyanyi favoritnya. Langkah kakinya terus mengarah menuju ruang depan rumahnya yang terbilang sangat luas tersebut. Perabot yang ada disini semuanya kelas 1, berbagai macam guci mewah, pigura yang mahal, lemari kaca dengan sederet buku bersampul yang antik, tak lupa juga dengan sebuah jam raksasa bersepuhkan emas terpajang apik dan elegan. Jongin melihat kesana kemari dan berbicara kepada salah seorang pelayan yang melintas diruangan itu
"Yeom, appaku belum pulang?
"belum tuan muda, appa tuan menurut infomasi dari asisten tuan besar, katanya ada pertemuan di daerah gangnam, sepertinya masalah bisnis lagi"
"Minah kemana?"
"Nyonya Minah belum pulang tuan muda"
"baiklah kalau begitu, lanjutkan tugasmu"
"baik tuan muda" si Yeom sang pelayanpun segera membungkukkan badan dan berlalu
Jongin lagi-lagi mengeluh, untuk kesekian kalinya dia tidak bisa bertemu dengan Ayahnya sendiri. Ayahnya hanya sibuk bisnis, bisnis dan bisnis. Padahal ada hal penting yang ingin jongin sampaikan langsung kepada ayahnya itu. Jongin menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan setelahnya merogoh saku untuk mengambil handphone keluaran terbarunya. Dia berniat menelfon ayahnya sendiri, namun niat itu dia urungkan. Jongin akan sabar dan menunggu untuk berbicara empat mata dengan ayahnya malam nanti.
'aduh, harusnya tadi aku minta nomor telfon soo baby ya, bodohnya aku' batin jongin dalam hati, merutuki dirinya yang terlambat sadar sesuatu yang penting. Pikiran jongin terus melayang, hingga telfon yang digenggamnya berbunyi dan menampilkan nama ayahnya
"hallo appa, appa dimana?
"seharusnya appa yang bertanya kepadamu, kamu dimana? Appa sekarang sedang ada pertemuan relasi dan sebentar lagi appa akan pulang" jawab ayah jongin diseberang telfon
"aku dirumah….appa, ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada Appa"
"appa juga ada hal penting yang ingin appa sampaikan kepadamu"
"itu tidak penting appa, yang penting sekarang adalah hal yang ingin aku sampaikan dan aku akan menyampaikannya lewat telefon saja dan appa harus setuju, ok…."
"nampaknya ini penting sekali, apa yang ingin kamu sampaikan?"
"appa, aku ingin pindah sekolah, pindah ke SMA Anyang High School"
"apa?"
.
.
.
.
.
To Be Continued
o…o…o…o…o…o…o…o…o…
TBC dulu. Ini chapter 2. Terima kasih untuk reader yang sudah baca dan mau memberikan review FF Republish ini. Untuk yang pernah baca dan review, aku mohon maaf, karena kesalahan teknis dan FF ini terhapus, jadi terpaksa mulai dari awal lagi. Tidak lama lagi akan dipublish chapter 3-nya, maka dari itu Review ya dikotak bawah… salam EXO-L
By Fan_Dio
