Ini dia Chapter kedua dari Alice Last Sacrifice. Terima kasih buat yang udah read'n review. Jadi Author makin semangat lanjutin cerita GaJe ini. Oh ya kalo ada efek yang mulai terasa dari Fict ini review ya! Biar Author makin tau gimana karakter para pembaca dan mencoba untuk membuat Fict yang lebih baik.

Disclaimer: Vocaloid, Alice Human Sacrifice milik Author kecuali kalo Yamaha mau memberikan secara cuma-cuma #Ngarep.

Warning: Mengandung OC, OOC, Typo, Gore, dan Bad End. Disarankan untuk membaca fict ini tidak lebih dari 3 kali sehari. Membaca fict ini bisa menghilangkan nafsu makan, mengganggu perederan darah dan merusak akal sehat.

Chapter 2 : Welcome to Wonderland

"Kartu Joker?" Vio terus melakukan 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) untuk mencari tahu apa arti kartu itu.

"Apa lelaki aneh itu mempermainkanku. Tapi itu tidak mungkin, semua uang ini nyata."

Lalu dia melihat sebuah lambang tersembunyi dibalik kostum joker tersebut. Lambang tersebut berbentuk huruf V.

"Huruf V. Sepertinya ini tidak asing." ucap gadis itu sambil terus berpikir.

"Aku ingat." Vio langsung berlari menuju halaman belakangnya. Lalu berdiri dihadapan sebuah pohon tua.

"Aku yakin pernah mengukir inisialku disini." Vio terus meraba-raba batang pohon tersebut

"Ah ini dia. Lambang yang sama dengan kartu ini." Vio menemukan ukiran berbentuk huruf V meskipun telah bewarna coklat sehingga sedikit sulit terlihat.

"Ah, Apa ini?" Vio kaget karena inisial itu mulai terlihat jelas seperti warna saat dia baru diukir. Namun ukiran itu tidak berbentuk huruf V namun berbentuk Huruf W (dua huruf V yang saling berdempetan).

Vio mulai merasa hal aneh disekitarnya. Dia merasa aroma lukisan dengan cat yang masih basah dimana-mana. Saat dia berbalik ternyata semuanya telah berubah.

"Di..dimana ini?" Vio kaget dengan apa yang sedang dilihatnya.

Vio telah memasuki sebuah dunia yang berbeda. Langitnya berwarna hijau dengan matahari berwarna jingga dan memiliki wajah. Dedaunan pohon bewarna pink seperti bunga sakura. Vio melihat sebuah kerajaan. Banyak sekali rumah penduduk namun tidak satupun tanda-tanda kehidupan. Lalu hanya ada satu jalan yang bewarna putih namun memiliki garis bewana merah. Jalan tersebut hanya mempunyai satu arah menuju sebuah istana yang besar.

"Aneh, tapi kenapa tempat ini sepertinya tidak asing." Vio mulai melangkah mengikuti arah jalan tersebut.

Vio mulai berjalan mengikuti jalan besar dengan garis merah. Garis merah itu bisa terlihat seperti karpet merah yang sangat panjang. Tapi garis itu juga terlihat seperti ceceran darah yang terus mengalir hingga ke Istana.

Saat ini Vio sangat gelisah. Bukan karena dia berada di tempat yang aneh. Tapi uangnya masih berserakan di kamarnya dan dia tidak sempat mengunci pintu. Bagaimana jika ada yang mengambil uang dan lukisannya?

Dia telah cukup lama berjalan namun masih belum sampai di Istana tersebut. Lalu dia melihat seorang lelaki bersyal dengan warna rambut biru berdiri di alun-alun kota. Mungkin dia tahu bagaimana cara keluar dari dunia aneh ini.

"Permisi, bisakah Kau menolongku." Sapa Vio dengan mata memelas (puppy eyes).

"Hei gadis muda, apa Kau tidak bisa mendengar kalau aku sedang bernyanyi." Jawab lelaki itu dengan kasar.

"Bernyanyi? Tapi aku tidak mendengar nyanyian apapun." balas Vio dengan heran.

"Aku Kaito penyanyi paling sempurna di kerajaan ini. Telingamu pasti tidak cocok untuk mendengar suara emasku." Jawab Lelaki itu dengan dingin.

Lelaki itu kemudian membuka dan menutup mulutnya seperti sedang bernyanyi. Tangan kirinya terlihat memegang secarik kertas dan tangan kanannya memegang setangkai mawar merah. Sedangkan kepalanya….

"Ke…ke…kepalamu?" Vio kaget menyadari ada sebuah lubang menganga di kepalanya. Lubang tersebut telihat seperti bekas tembakan. Darah menetes sedikit demi sedikit dari lubang itu. Namun darah tersebut langsung lenyap setelah menyentuh tanah.

"KYAAAAAAAAAAAAA!" Vio berteriak melihat lubang tersebut. Dia lalu belari sekuat tenaga mengikuti jalan bergaris merah tersebut.

"Aduh." Langkah Vio terhenti karena menabrak gerbang kerajaan yang masih tertutup. Ternyata ada seorang penjaga gerbang yang "tertempel" di gerbang tersebut.

"Berikan aku darah mu!" ucap penjaga tersebut dengan suara yang berat.

Vio yang masih kesakitan berusaha untuk menegakkan kepalanya.

"Mak…makhluk apa kau ini?" Vio kaget tak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Vio melihat sebuah gerbang dengan dua yang tertutup oleh tanaman rambat berduri. Seorang gadis terikat tepat di kedua pintu gerbang yang tertutup tersebut oleh tanaman berduri. Darah segar terlihat menetes di seluru bagian tubuhnya, sebuah pedang panjang juga tertusuk tepat ditengah perutnya dan darah segar jatuh dibawah kakinya. Tepat diakhir garis merah di jalan tersebut berakhir.

"Namaku Meiko. Jika kau ingin membuka gerbang ini kau harus memberikan darah mu."

"Kau bilang aku bodoh, kau bahkan tidak bisa bergerak. Bagaimana mungkin kau bisa membuka gerbang ini." Vio menggertak untuk mengurangi rasa takutnya.

"BERIKAN AKU DARAHMU!" bentak Meiko.

Vio sangat terkejut dengan bentakan Meiko. Tapi dia tidak lari. Ada keyakinan dalam dirinya bahwa gadis menakutkan ini tidak akan lepas dari gerbang itu. Apalagi pedang itu masih menancap.

"PEDANG. Aku bisa menyingkirkan tanaman berduri itu dengan pedang itu. Tapi jika aku lakukan, maka makhluk ini akan terlepas dan mengejarku. Satu-satunya cara adalah…." pikir Vio.

"AAAAAAWWWW." teriak Meiko saat Vio menyabut pedang itu dari perutnya. Darah pun mengalir deras dari perut Meiko namun dia tetap belum mati. Lalu keluar darah di mata Meiko seperti orang sedang menangis.

"Ma..maafkan aku tapi aku harus tetap masuk ke istana ini." Ucap Vio sambil mengangkat pedang itu tepat keatas kepala Meiko.

Vio tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Dia sangat ketakutan. Namun mengingat uangnya saat ini sedang sendirian…..

"AAAAAAAAAAAAAAAAA" teriak Meiko saat pedang itu mulai membelah kepalanya. Darah segar mengalir deras dari kepalanya. Lalu Vio menekan Pedang tersebut kebawah dan mulai membelah Meiko menjadi dua bagian.

Pintu gerbang terbuka setelah tubuh Meiko terbagi dua. Kedua bagian tubuh tersebut terpisah seiring dengan terbukanya gerbang tersebut. Vio pun mulai melangkahkan kaki ke halaman kerajaan.

"Selamat Vionel Reinee." Ucap sebuah siluet yang dikenalnya.

"Jonny Kermit?" kata Vio sambil melihat lelaki aneh tersebut berdiri tepat di depan pintu masuk Istana.

"WELCOME TO WONDERLAND"

TBC

Huh akhirnya selesai juga. Maaf kalo Gore'nya agak sadis. Apalagi kalo saat ini pembaca sedang makan. Heeheheh. Tapi jika banyak pembaca yang ingin Gore'nya dihentikan gak apa-apa. Silakan ungkapkan perasaan kalian dengan review Fict ini.

Selamat Makan Heeheheheheh.