Qtalita angst story

.

.

WonKyu

.

.

.

Ready

.

.

Kyuhyun memeluk lututnya, ia sudah berada di taman sejak mentari masih malu untuk menampakkan dirinya, ia benar-benar dalam keadaan berantakan jika harus pulang detik ini juga. Sejak semalam Kyuhyun tidak berhenti menangis, matanya membengkak, bahkan tidak juga membaik walau ia sudah menggunakan es sekalipun. Bukankah Siwon tidak boleh tahu jika ia menangis bukan? Lalu pilihan terakhir hanya seperti ini, berlari, menghindar.

"Hhhh…"

Kyuhyun menghela nafas lelah sambil merebahkan tubuhnya, ia juga mengantuk tapi tidur di tengah taman bukanlah hal bagus, bias saja ia dikira seorang tunawisma lalu dikirim ke kantor polisi.

"Aiissshhhh.."

Kyuhyun menggeleng, kembali bangun sambil memijit tengkuknya yang terasa kaku. Kepalanya sedikit pening karena terlalu lelah menangis.

"Aigoo Kyuhyun, lihat eoh? Kepalamu sakit lagi, ini pasti karena kau merelakan waktu tidurmu hanya dengan menangis, aissshhh.." monolognya.

Kyuhyun merebahkan kepalanya di kedua lututnya yang terlipat, matanya kembali memanas saat ingat Siwon sama sekali lupa dengan janjinya.

"Kyuhyun pabo!" Gertaknya pada diri sendiri saat liquid bening kembali mengaliri pipinya.

….

Siwon mengernyitkan dahinya pagi itu, tidak biasanya Kyuhyun meninggalkan apartemen tanpa memberitahunya terlebih dahulu, Siwon semakin bingung dengan sebuah note kecil yang tertempel di depan kamar Kyuhyun.

Dear Hyungie

Mian, hari ini aku harus berangkat lebih cepat hyung, maaf aku tidak membangunkanmu hehehe

Ps : Sarapan sudah siap kkkk..

Siwon hanya menggeleng-gelengkan kepalanya terhadap sikap kekanakan Kyuhyun, ia melengos ketika ia baru menyadari jika pagi ini harus sarapan sendiri, Kibum yang biasanya menjemput, hari ini harus menjalankan operasi di pagi buta.

Siwon menatap sepiring Waffle dengan madu diatasnya, dahinya terangkat. Kyuhyun benar-benar tahu dirinya sangat baik, Siwon kembali menghela nafas, ia teringat perjanjian yang telah ia dan Kyuhyun buat. Konyol! Hanya itu yang terlintas dibenaknya, bagaimana bisa Kyuhyun yang sudah resmi menjadi istrinya malah rela berbagi dengan Kibum? Ah bukan berbagi, toh dari awal Kyuhyun memang tidak pernah mendapat bagian lain hati Siwon, mereka hanya sedang bersandiwara.

Siwon menyuap setiap potongan waffle yang telah ia bagi kecil-kecil, matanya menatap kosong dapur di depannya, bayangan Kyuhyun melintas disana berulang kali, Siwon menggelengkan kepalanya. Ia terkekeh

"Aissshhh anak itu" Siwon secepatnya mengunyah sisa waffle dan menyesap kopinya hingga tandas, ia melirik sebentar jam di pergelangan tangannya, sudah saatnya ia berangkat jika tidak ingin terlambat.

…..

Donghae menatap heran sahabatnya yang hanya melamun sambil mengetuk-ngetuk gambar didepannya, Donghae berdecih lirih namun mampu membuat Kyuhyun sahabatnya berpaling.

"Uh?"

"Apa"

"Kau berdecih Hae hyung"

Kyuhyun kembali mengetuk gambarnya yang belum terjamah, Donghae semakin gemas.

"Kyu, kau ada masalah?"

Kyuhyun menggeleng, Donghae mengangkat bahunya bingung, ia kembali melanjutkan menarik garis-garis di lembaran kertas gambar miliknya.

"Hae hyung.."

"Hm?"

"Dia..melupakan janjinya"

Donghae terhenti, namun pandangannya masih lurus, menunduk. Donghae menarik nafas pelan sebelum kembali menggambar.

"Kau sudah seharusnya mewaspadai ini Kyu, sejak awal"

Kyuhyun meletakkan kepalanya datas meja, menghadap kearah Donghae.

"Ini konsekuensi Hyung, aku yang memilih"

"Lalu untuk apa kau kecewa?"

"Aku hanya ingin ia sedikit menghargai pengorbananku"

Donghae meletakkan penanya sedikit kasar, ia menatap Kyuhyun dengan pandangan sedikit marah.

"Hentikan semuanya Kyu!"

Kyuhyun terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi, menjelaskan pada Donghae hanya akan menyudutkannya untuk menghentikan semua ini, sementara hatinya tidak menginginkan itu, ia ingin selalu berada di samping Siwon, bersamanya, melihatnya, walaupun bukan ia yang akan Siwon lihat, bukan dirinya yang akan Siwon cintai, dan Bukan dirinya yang akan Siwon lindungi. Bukan.

Kyuhyun berdiri, mengemasi gambar-gambarnya, tugas-tugas kuliahnya. Memasukkan semuanya kedalam tabung, menghiraukan tatapan bertanya Donghae.

"Aku pulang duluan Hae hyung, Gomawo"

Ucapnya tanpa menunggu balasan Donghae, Donghae hanya menatap sayu punggung Kyuhyun yang menjauh darinya, ia sangat tidak rela sahabatnya menanggung derita seperti ini.

Kyuhyun berulang kali menubruk beberapa pejalan kaki, kepalanya semakin berdentum keras, bahkan sekarang pandangannya sedikit mengabur, langkah kakinya kadang terseok dan nyaris terjatuh.

Kyuhyun berjongkok di tepi jalan, menstabilkan nafasnya yang menjadi sesak, kepalanya semakin sakit dan..

Bruukk!

Kyuhyun terjatuh tidak sadarkan diri.

….

Siwon memeriksa beberapa data pasien di ruangannya, beberapa kali ia menghela nafas, ia merasa gelisah, sangat.

Siwon memutuskan untuk berhenti sejenak, ia melangkahkan kakinya menuju kafetaria rumah sakit, memesan segelas kopi lalu memilih duduk di sudut taman.

Siwon menyapu pandangannya, memperhatikan beberapa pasien yang mencari udara segar serta beberapa dokter dan perawat. Matanya tertuju pada seorang dokter disana, senyumnya mengembang saat Kibum, dokter itu, balik menatapnya.

Namja dengan senyum mematikannya itu berjalan menuju Siwon, duduk disampingnya dengan sedikit jarak, walau bagaimanapun ini tempat umum, semua orang tahu jika Siwon sudah menikah, pernikahannya dulu bias dikatakan pernikaha termegah, semua orang hebat hadir dalam pagelaran itu.

"Tidak ada pasien dokter Choi?"

Siwon tersenyum lantas menggeleng.

"Kau sendiri?"

Kibum ikut menggeleng, Siwon menepuk bahu Kibum lembut.

"Gwenchana?"

Siwon menaikkan sebelah alisnya saat Kibum mampu menebak perasaannya sekarang, jujur ia memang sedikit tidak enak, gelisah. Entahlah.

"Gwenchana Bummie, aku hanya sedikit gelisah"

"Mungkin kau butuh istirahat sedikit Wonnie"

Siwon mengangkat sebelah bahunya, lalu menatap Kibum, member senyum terbaiknya pada pemilik hatinya itu.

"Lebih baik kau pulang, biar aku antar"

Siwon tidak bias menolak lagi, apapun yang Kibum katakana tidak akan mampu ia tolak, toh apapun yang Kibum katakana adalah yang paling benar menurutnya.

Andai saja kau tahu Siwon..

….

Donghae menatap tajam Kyuhyun yang menunduk lemas di tempat tidurnya, merasa bersalah. Donghae kembali mencelupkan selembar handuk kecil kedalam air es, memerasnya hingga tidak terlalu basah, lalu kembali menempelkannya pada dahi Kyuhyun.

"Untung saja aku yang menemukanmu tadi"

"…"

"Andai saja itu orang lain bagaimana? Barang-barangmu bias saja habis"

"…"

"Aku sudah bilang berapa kali, jaga kesehatanmu"

Kyuhyun hanya mampu terdiam, semua yang dikatakan Donghae benar, ia terlalu keras kepala, untung saja saat tadi ia pingsan Donghae-lah yang menolongnya lalu mengantarnya ke rumah saat ia tahu Kyuhyun hanya terserang demam.

"Mianhe.."

Bisik Kyuhyun dengan suara serak. Donghae menghela nafas, ia menatap Kyuhyun lama, airmatanya menetes saat matanya beradu dengan mata bulat Kyuhyun yang sendu.

"Kau sahabat terbaikku Kyu, kau sudah hyung anggap sebagai Dongsaeng sendiri, kau tahu, aku menyayangimu lebih dari apapun, kau juga tahu, hyung-lah orang pertama yang akan tersakiti saat kau menderita, hyung-lah orang pertama yang akan tersenyum saat kau bahagia"

"Hyung.."

Kyuhyun menarik lengan Donghae lalu memeluk tubuhnya erat, dadanya terasa sesak, namun ia tidak menangis, ingat? Tangisnya hanya ada saat ia sendiri, tangisnya hanya untuk ia nikmati sendiri.

"Mianhe hyung, Mianhe.."

Donghae hanya mengangguk ia sudah tidak sanggup menjawab, airmatanya bahkan sudah menetes, membasahi bahu Kyuhyun.

"Aku mohon jangan menangis lagi ne"

Donghae kembali mengangguk.

Siwon membuka pintu mobilnya, lalu mempersilahkan Kibum untuk keluar. Mereka melangkah bersama menuju apartemennya, Siwon memperhatikan jam di tangannya, ini masih siang, namun Kyuhyun yang biasanya menghuni apartemen mereka sore hari kini sudah ada dirumah, Siwon bisa melihatnya dengan sepatu Kyuhyun dan sepasang sepatu lainnya di depan pintu.

Siwon berdiri di depan pintu apartemen mereka, Ia memandangi tong sampah yang mulai penuh dan menguarkan aroma kurang sedap. Dahi Siwon mengernyit, perasaan kemarin tong sampah itu masih dalam kondisi kosong, apa semalam Kyuhyun makan sebanyak itu?

"Ugh, kenapa petugas kebersihan tidak membersihkannya?"

Siwon berpaling, ia menutup pintunya kembali. Matanya memicing saat ia melihat pintu kamar Kyuhyun terbuka dan terdengar suara dari dalam.

Siwon mempersilahkan Kibum untuk duduk sebentar, dilangkahkan kakinya menuju kamar Kyuhyun sebelum ke kamarnya untuk berganti pakaian.

"Ehm"

Siwon berdehem, membuat Donghae dan Kyuhyun berbalik bersamaan, reaksi mereka berbeda-beda. Siwon mengerutkan alisnya ketika melihat dahi Kyuhyun yang tertutupi handuk basah, sementara Donghae menatap Siwon dengan pandangan menyelidik.

"Gwenchana Kyu? Kau terlihat pucat"

Kyuhyun melepas handuk kecil di dahinya, Kyuhyun memasang senyum terbaik yang ia miliki, walaupun kepalanya semakin berdentum setiap kali otot pipinya tertarik.

"Gwenchana hyung"

"Seharusnya sebagai seorang suami bahkan seorang dokter sudah bisa menebak bukan?" Sindir Donghae yang melihat tingkat kekhawatiran Siwon yang bahkan tidak Nampak sedikitpun. Siwon tergelak dengan tatapan menusuk Donghae.

Kyuhyun yang menyadari aura buruk disekitarnya mulai bertindak, dengan memegang kepalanya yang masih pening, Kyuhyun beranjak dari tempat tidur.

"Ah, Gwenchana hyung, Hae hyung hanya bercanda, iya Kan?" Kyuhyun melempar tatapan membunuhnya pada Donghae, Donghae hanya mendengus, lalu merapikan barang-barangnya.

"well, sepertinya tugasku sudah selesai disini, Cho Kyu ah Choi Kyu, aku harus pulang, aku harap namja ini bias merawatmu lebih baik"

Donghae menatap Kyuhyun dan Siwon bergantian dengan kerlingan menusuk, bahkan ia tampak sengaja menyenggol bahu Siwon sedikit keras ketika melewati namja tampan itu. Kyuhyun memutar matanya malas.

"Eoh? Ada masalah apa dengan temanmu itu Kyu?"

"Ah, Mianhe hyung, sepertinya dia sedang tertekan hehehehe"

Kyuhyun terkekeh namun sedetik kemudian wajahnya berubah, dahinya mengernyit, sakit di kepalanya terasa semakin mencengkram.

"Gwenchana?"

Kyuhyun menggeleng, ia kembali tersenyum.

"Hahahaha, Gwenchana hyung"

"Tapi kau sangat pucat, sebaiknya kau istirahat saja dulu" Siwon melangkah mendekati Kyuhyun, meraba dahinya.

"Kau juga masih sedikit demam? Appo?"

Kyuhyun menggeleng sambil menunduk, ia tidak pernah sedekat ini sebelumnya dengan Siwon, wajahnya memerah. Ugh, ia harus segera bergegas pergi dari tempat ini.

"Ah, hyung, kau datang bersama Kibummie hyung?"

Siwon mengangguk, namun masih menatap dalam Kyuhyun. Kyuhyun menjadi salah tingkah sendiri, ia tidak lagi mengingat sakit di kepalanya, langkahnya cepat keluar dari kamar yang menyisakan dirinya dan Siwon.

"Ck, tidak seharusnya kau membiarkan Bummie hyung sendirian diluar"

Ocehnya, Siwon hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kyuhyun mengetuk-ngetuk penanya, ia harus kembali focus pada beberapa tugas di depannya, setelah Siwon dan Kibum pergi beberapa jam lalu, Kyuhyun yang tidak ingin mati bosan akhirnya kembali berkutat dengan beberapa gambarnya.

Kyuhyun mengerang, kepalanya masih sangat berat,namun ini masih jauh lebih menyenangkan dibanding harus terkapar di kamar terkutuk itu lalu menangisi hidupnya yang sama sekali jauh dari kesan indah.

Kyuhyun menghela nafas, ia menyandarkan tubuhnya pada sofa dan membiarkan kakinya terjulur di atas karpet tebal. Ekor matanya tertarik memandang figura besar gambar pernikahannya. Ia terasa ingin menangis detik itu juga andai saja ia tidak mengingat perjanjian mereka. Bukankah ia yang meminta?

"Pabo kyu" Bentaknya pada diri sendiri, ia kembali menegakkan punggungnya, lengannya bertumpu pada meja dengan lembaran gambar-gambarnya.

Kyuhyun memicing, garis-garis lurus di depannya menjelma menjadi 2,3 ah puluhan garis lalu kembali lagi menjadi 1 garis. Dahi Kyuhyun mengernyit, ia mengucek matanya agak kasar.

"Aiissshh, apa aku harus menggunakan kacamata sekarang?"

"Ugh"

Kyuhyun mengerang saat ia merasa matanya seakan tertarik dan nyeri menyerang sekitar area matanya itu. Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya yang sempat gelap hingga akhirnya nyeri itu hilang dan matanya kembali terang.

"Sepertinya demamku tinggi lagi.." Keluh Kyuhyun meraba dahinya.

Kyuhyun meraih penanya, menarik garis menyambung gambarnya yang sudah setengah jadi, kepalanya masih sakit namun tidak separah siang tadi. Kyuhyun memutuskan menyelesaikan tugasnya itu malam ini juga, toh semakin cepat ia selesai, semakin cepat pula ia tertidur.

Tes..

Dahi Kyuhyun kembali berkerut, setetes cairan jatuh tepat di depan matanya, mengotori lembar gambarnya.

Tes..Tes..

Kyuhyun semakin tidak mengerti, cairan itu kembali menetes lebih banyak, meluber di kertasnya, Kyuhyun meraba hidungnya, sumber cairan berwarna merah pekat itu menetes. Nafas Kyuhyun tercekat, darah mengalir dari lubang hidungnya, Ia mencoba menengadah, mempraktekkan apa yang sudah ia baca dari buku milik Siwon.

"Uhuk..uhuk.."

Bukannya berhenti, cairan merah itu malah membuatnya nyaris tersedak, Kyuhyun menutup hidungnya menggunakan telapak tangan yang sudah penuh darah, ia juga terbatuk. Rasa asin meluber di tenggorokannya, Kyuhyun bergegas bangkit-

Cklek..

"Kyu.."

-Jika saja Siwon belum datang, Kyuhyun kembali duduk bersila di depan meja gambarnya, ia melipat kertas yang sudah berwarna merah di depannya, Kyuhyun menahan batuknya agar tidak keluar, telapak tangannya membekap mulutnya sendiri, cairan darah terlihat menetes dari sela jarinya, Kyuhyun menunduk.

"Kyu, kau belum tidur? Gwenchana?"

Langkah Siwon terdengar mendekat, Kyuhyun panic, Siwon tidak boleh melihatnya seperti ini, Kyuhyun meremas kertasnya yang sudah tercemar darah, menyeka mulut dan hidungnya, Kyuhyun merasa jika bibirnya lecet akibat kertas kasar yang beralih fungsi menjadi tissue dadakan itu menyentuh hidungnya.

"G-gwenchana hyung, kau baru pulang?"

Kyuhyun menunduk, ia tidak berani menatap Siwon, walau bagaimanapun darah masih menetes dari hidungnya, membasahi baju serta beberapa tetesnya mengotori karpet.

"Kau tidak apa-apa kyu? Suaramu?"

"hahahaha, Gwenchana hyung, kau b-berlebihan, a-aku sedang sibuk sekarang" Ucap Kyuhyun berusaha menyembunyikan kondisinya, Siwon berhenti melangkah, ia berdiri tepat di belakang Kyuhyun, di acaknya rambut Kyuhyun perlahan.

"ya sudah. Jangan terlalu lelah ok, kau baru saja terkena demam, hyung tidur dulu ne"

Kyuhyun mengangguk.

"Jaljayo Kyunnie" Teriak Siwon di ambang pintu kamarnya.

Cklek.

Sekenanya Kyuhyun segera bangkit menuju kamar mandi saat pintu kamar Siwon tertutup. Kyuhyun membilas tangan, hidung serta mulutnya yang penuh darah, jika saja ada orang yang melihatnya mungkin Kyuhyun akan disangkan sebagai seorang vampire.

Kyuhyun menghela nafas panjang, piyama putihnya terlihat berwarna merah di bagian depannya sekarang.

Kyuhyun menatap bayangannya di depan cermin, wajahnya lebih pucat dibanding biasanya, ia juga baru menyadari jika ada lingkaran hitam dalam di bawah matanya, pipinya juga lebih tirus. Disaat Kyuhyun sibuk memandangi wajahnya, bayangan di cermin Nampak kabur hingga Kyuhyun harus memicingkan matanya.

"Ugh"

Kyuhyun mengerang, sakit di matanya kambuh lagi.

"Uhuk..uhuk.."

Kyuhyun memukul pelan dadanya, yang terasa sakit, matanya ia pejamkan kuat-kuat. Sakitnya meradang hingga ke belakang lehernya, Kyuhyun merasa matanya seakan ditarik dengan kuat.

"Hoeeekkk.."

Kyuhyun muntah, dadanya yang sesak membawa perasaan mual padanya. Namun betapa kaget Kyuhyun ketika benda yang dikeluarkan mulutnya berwarna pekat, merah. Kyuhyun mengecap asin yang menjalar di seluruh permukaan mulutnya, ia kembali memuntahkan isi perutnya hingga ia benar-benar tidak merasa sakit lagi.

…..

Kyuhyun terduduk lemas di sofa ruang tengah, setelah berganti piyama dan membereskan hal-hal yang bisa membuat Siwon curiga, Kyuhyun hanya duduk diam di depan TV yang ia nyalakan, kantuk menyerang kepalanya, namun ia tidak ingin jatuh terlelap dan membiarkan hidungnya yang entah kenapa sekarang menjadi sebuah 'keran' tersendiri itu mengeluarkan 'cairannya' bahkan tanpa terasa sedikitpun.

Kyuhyun menggulung tissue di tangannya menjadi potongan-potongan kecil yang bias ia masukkan ke dalam lubang hidungnya.

"Tch.. apa demamku separah ini?" Gumamnya dengan suara parau.

Hhh, kita lihat saja Kyu, apa yang terjadi denganmu..

TBC..

TBC dengan tidak elitnya..

Hhhh, g tau sebenernya mau ngomong apa -_-

Pertama, Qai pengen minta maaf yang segede2nya buat para readers dan reviewers ataupun siders dimanapun kalian berada *kek pidato* maaf kalau Qai malah bikin ff angst kayak gini dan kemungkinan kecil (?) bakal ada airmata ke depannya *hiks..

Kedua, mian mian mian atas keleletan Qai dalam update ff ya teman-teman, SUER! Qai g pengen kayak gitu, tapi Qai dalam seharinya kudu pintar atur waktu, antara Kantor, Café n Ngajar.. so maaf maaf maaf bgt yaaa, tapi Qai usahain, beneran, bakal update minggu ini, *jumat libur kan?*

Ketiga, Thanks buat teman2 yang udah baca, udah like, udah fav, udah review n after all a wanna say thank u so so so much..

Love u guys

Qai..